Setelah mengerjakan ujian, nge-galau seminggu tanpa alasan sekaligus mendaki gunung, melewati lembah macam ninja Hattori(?), dan membujuk author fandom sebelah, akhirnya saya balik meng-update fic nista satu ini. Sebelum beralih ke cerita, bales review dulu, yuk!

Chaachulie247 : Berarti anda kasihan sama saya, dong. Soalnya itu pengalaman pribadi saya#pundung. Tapi jangan pusing dulu, ntar kalo saya sudah punya kotak P3K sendiri (maksud loe?).

AkamakiKyuu : Waha... Di sini memang SasoDei, rencananya. Entah apa saya ubah saja setelah menimbang wajah, berat dan makanan per harinya Sasori sampai dia bertampang kayak uke, ya? Itu urusan nanti...(setelah adikku berhasil nge-gaet doi-nya...). Masalah Akami saya sendiri juga belum tau sampai saat ini, dikarenakan buku hariannya sodariku kucolong sebelum dia menulis siapa sebenarnya Akami#ngaku nyolong. Sasuke kalo bilang dia bangsawan memang bisa jadi awesome, tapi dia bakal dibalikin Naruto ke rumahnya dan ketemu ortunya (secara, dia sudah buat ayahnya kecewa dan takut disembur ayahnya kalo pulang).

: Suka sama Kyuu, ya? Sama#ketawa sinting. Shika sama Kiba? Hmm... Lihat saja nanti, ya! Mau saya timbang dulu berat mereka(?).

Kishu Mars : Salam kenal juga. Iya, ini memang kisah Author dan saudara-saudaranya yang awkward#dibantai sodara sendiri. ItaKyuu memang favorit saya. Sayang, kisah saya tak mewakili Kyuu sama sekali... T.T .

hatakehanahungry : Anda tidak bodoh, kok. Memang kisah saya saja nista, tapi selama fic ini berlangsung anda akan mengetahui kehidupan saya, kok. Deidara memang ke Konoha dan Sasori refreshing ke Suna (ada di jurnal adikku, sih...). Kiba? Oh... Dia bakal menunggu, karena saya lagi sekamar asrama sama dia! (seneng bisa nulis derita orang). Kuil, ya... Sudah saya duga seharusnya di-skip saja...#pundung.

Hime Chan : Hehe.. Kayaknya nyebur ke danau nggak bakal manjur membuatnya masuk angin. Dia kan awesome (bukan Sasuke, tapi yang asli sama saya#di-chidori). Kilat, ya? Saya tak menjamin, tapi saya usahakan asalkan temen sekamar dan sodari saya sering keluar asrama (satu nentang yaoi, satunya masih kucolong diary –nya).

Capricorn Sejati : Hai juga! Boleh-boleh saja, itu kan hak anda untuk memanggil saya apa ^.^ Saya sulit juga menjawabnya. Papa dan Mama saya orang Cina asli semua, tapi karena Papa tinggal di Indonesia setelah diadopsi, saya punya kewarganegaraan Indonesia deh gara-gara lahir di negara awesome ini#bangga. Kalau Jepang, sekarang saya lagi belajar di KIU (Kyoto lho, bukan Konoha). Fic siapa?#kaget. Wah... saya benar-benar merasa seperti plagiat nih...#pundung lagi. Tenang, selama buku harian ini ada di tangan saya, kisah ItaKyuu nggak akan hilang. Hehehe..

iztha dark neko : Mereka akan selalu bersama karena Sasuke sudah menyamar jadi guide –nya Naruto (poor Sasuke#dilempar fuma shuriken).

Wahh... Nggak nyangka ada juga yang me-review fic aneh ini. Thanks semuanya, yang sudah review dan membaca fic ini. Lanjut, yuk!

A Naruto fanfiction titled "Love Sweepers"

Disclaimination : The Great Masashi Kishimoto –sensei

Author : Fengtian Mai & Fengtian Lou and little helped by Miseta Harumi Kitara

Rated : M walau sekarang belum ada Lemon... Jadi T dulu.

Warning : Yaoi, BL, ajaib, aneh, alur sumpah nggak jelas, gaje, author newbie, Miss typos, bukan Miss Indonesia atau Miss Internasional(?)dan hal-hal yang dapat menyebabkan pingsan di tempat, membaca fic gaje ini dapat menyebabkan kanker, reumatik, hipertensi, gangguan kehamilan dan janin(?). Fic yang berdasarkan pengalaman dan kisah nyata author sinting ini (tentu saja pengalaman authornya bukan yaoi dan tidak terlalu eksplisit). OOC abis. Nggak suka, tombol back silakan ditekan. Suka? Ingat jarak mata dengan layar komputer/hp minimal 3 km karena radiasi yang melebihi radiasi nuklir Fukushima.

Pairing : SasuNaru, ItaKyuu, SasoDei dan entahlah siapa lagi... XP.

Summary : Si Kembar Namikaze tengah liburan ke Konoha. Apa jadinya ketika mereka masuk ke dalam kehidupan para penerus keluarga Uchiha yang notabene adalah rival keluarga Namikaze?

.

Happy Reading, minna!

.

.

Don't like, don't read

.

.

Chapter 3 : Kyuubi Comes!

Konoha Grand Mall, Konohagakure.

Sasuke membawa (baca: menarik) Naruto menuju mall kota. Selama perjalanan itu pula, mereka ditatap aneh setiap pasang mata yang ada. Sasuke sebenarnya ingin membentak orang-orang tak bersalah itu, tapi kalau dia melakukannya, sama saja memperparah keadaan. Yang dapat dilakukannya saat ini adalah menatap tajam semua orang yang lewat. Mereka memasuki kawasan boutique dan masuk ke dalam salah satunya.

Naruto melihat-lihat pakaian yang ada di boutique itu. "HAH? MAHAL BANGET SEMUA BAJU DI SINI! DE-DELAPAN RATUS RIBU YEN?," Naruto ber-inner ria hampir pingsan, melihat harga sebuah kemeja yang sangat bagus. Kalau dihitung olehnya, uang delapan ratus ribu yen itu sama dengan honor sang guide yang dengan santainya memilih baju super mahal di sana.

Ditariknya lengan Sasuke sedikit kasar, sambil berbisik. "Hei, teme! Kamu yakin mau beli baju di sini? Mahal banget..."

Uchiha bungsu dengan santainya memutar bola mata onyx –nya. "Dobe... Kalau aku bawa kau ke tempat ini, berarti aku yakin seratus persen aku akan beli pakaian di sini...," jelasnya dengan sedikit membentak. Sebenarnya ada satu lagi alasannya membawa sang Namikaze ke tempat ini. Selain untuk mengganti baju yang basah kuyup, dia juga tau boutique ini adalah tempat termahal dan terbaik untuk membeli pakaian. Dengan kata lain: mengembalikan image sebagai idola para wanita dan waria(?).

Sasuke mengambil sebuah kaus hitam lengan panjang plus celana jeans hitam selutut dan berjalan menuju kasir. Memang bukan pilihan yang tepat untuk musim panas macam ini. Tapi yang dia tau, kaus itu cukup nyaman dipakai dalam segala musim. Sebelum dia sampai di sana, dia berbalik dan bertanya, "Kau tidak mau membeli baju, dobe? Bajumu basah... Ingat, masih banyak para gay di kota ini..."

Naruto langsung mencari pakaian yang cocok untukya setelah mendengar pertanyaan atau lebih bisa disebut ancaman Sasuke. Diambilnya kaus sporty casual lengkap dengan celana jeans dan jamper biru tua. Dia setengah berlari menuju kasir dan langsung meletakkan pakaian itu di atas meja kasir. Setelah sang wanita di balik meja kasir itu menghitung total harganya, Sasuke langsung menyuruh Naruto untuk masuk ke kamar pas dan mengganti pakaian.

Awalnya Naruto ngotot mau membayar semua pakaian itu, tapi Sasuke malah menyuruhnya berganti pakaian dulu. "Sudah, ganti dulu bajumu. Aku yang bayar semuanya...," ucap pemuda berambut pantat ayam itu santai sekali. Sang Namikaze sulung hanya bisa menghela napas berat dan mengikuti perintah Sasuke.

"Kau yakin akan membayarnya?"

"Ya. Sudah sana!"

Naruto bungkam dan memasuki kamar pas. Selama berganti pakaian, dia sangat heran dengan guide –nya yang satu ini. Seharusnya, dia yang membelikan sang guide pakaian ini, kenapa jadi dia yang dibelikan? "Ah. Dia mungkin sadar aku basah gara-gara dia!," ujar Naruto santai pada diri sendiri. Rupanya anak ini tidak sadar bahwa dirinyalah yang membuat duo ini basah-basahan, readers sekalian!

Setelah selesai menganti pakaian, Naruto langsung keluar dan menemukan Sasuke dengan pakaian yang sudah berubah (kayak Power Ranger?#plak!). Mata biru sapphire pemuda Namikaze ini menatap heran pada wajah Sasuke yeng cuek dan terlihat bosan. "Setengah jam untuk mengganti pakaian? Kau lama sekali, dobe!,"sindir Sasuke dengan nada super kesal. Naruto hanya menyengir lebar. Gini-gini dia melebihi wanita dan waria dalam urusan berdandan!

Mereka melenggang meninggalkan boutique super mahal itu. OK, sebelumnya Author akan bertanya untuk mengungkapkan sebuah rahasia si Uchiha bungsu dalam membeli pakaian di tempat itu. Tau nggak, readers sekalian? Tau? Tau?

Nggak ada yang tau, ya?(Readers: Gak tertarik!). Ya sudahlah, Author jawab sendiri. Sasuke memilih tempat itu yang disebut boutique termahal dan terbaik itu bukan hanya untuk mendongkrak kharismanya, tapi juga karena toko itu adalah milik Itachi Uchiha. OK, Author ulangi, toko itu milik Itachi Uchiha. ITACHI UCHIHA. Dengan kata lain, toko super mahal itu miliknya juga, bukan? Ngapain buang-buang uang, kalo bisa ngambil sesuka hati di tokonya sendiri? Ck.. ck.. ck... Catatan Author nomor tiga untuk SasuNaru: Jangan buang uang kalau punya aset yang dapat mendongkrak kharisma kita!

-Tian Mai & Tian Lou-

Kediaman Namikaze Pein, Konohagakure.

Deidara dan Nagato tengah asyik-asyiknya memainkan petasan-petasan yang mirip sosis daging itu. Benda mudah meledak itu terus berloncatan di dalam panci. Mereka terus menertawai panci malang milik Sai itu―tentunya Sai tidak tau. Nagato mendengar suara lonceng rumah dibunyikan berkali-kali samar-samar.

Saat Deidara hampir menyulut api untuk memulai aksi ledak-ledakannya, Nagato langsung menarik sang paman menuju pintu depan. Kini suara lonceng terdengar sangat jelas. Orang yang berada di balik pintu gerbang itu pastilah orang yang tidak sabaran. Buktinya, lonceng terus berdentang seperti lonceng gereja yang menandakan ada orang yang sedang menikah.

Sebenarnya Nagato mau menyalahkan ayahnya yang membuat lonceng rumah sebesar itu, tapi tidak jadi saat dia tau pemilik ide lonceng rumah itu adalah ibunya. Sebagai anak manja, Nagato tidak mau membuat ibunya marah―dia tidak tau apa yang bakal terjadi dengan mainannya yang segunung. Deidara yang terus menerus ditarik keponakannya inipun menepis tangan Nagato.

"Sakit, Naga-chan!"

"Ada orang di luar..."

"Kenapa nggak Sai yang bukain?"

"Sai masih belanja. Nggak mungkin kan itu Sai? Itu pasti tamu!"

"Aku tau. Tapi nggak rambutku yang awesome ini juga kan yang kau tarik?"

Nagato sweatdrop sejenak mendengar kalimat yang terlalu 'awesome' dari paman ketiganya. Pamannya satu ini memang yang paling ngasal dalam bicara dan narsis plus childish dalam bertindak. Setelah sempat terhenyak sebentar, keduanya melanjutkan perjalanan panjang menuju pintu gerbang―sekarang Nagato benar-benar menyalahkan ayahnya yang membuat tempat ini bak labirin yang luas.

.

.

.

Kyuubi terus menerus menarik tali panjang yang menjuntai itu tanpa jeda. Sebenarnya pegal juga menarik tali lonceng raksasa itu, tapi lumayan seru bagi Kyuubi. Dia tak pernah menyangka, sepupunya Pein bakal membuat lonceng rumah sebesar lonceng gereja. Itachi yang bersandar di mobilnya hanya bisa menatap Kyuubi yang terus menerus membunyikan lonceng.

Dua orang pemuda yang lebih muda dari Kyuubi akhirnya membukakan pintu gerbang. Sepertinya mereka kewalahan membuka pintu gerbang yang besar itu. "Kyuu-nii!," seru pemuda berambut pirang dengan sangat ceria. Kyuubi hanya menatap tak percaya pemuda di depannya. "Dei?"

Anak yang dipanggil Dei itu langsung berhambur hendak memeluk Kyuubi. Namun sayang, Kyuubi sudah meletakkan tangannya di depan wajah anak pirang itu. "Kenapa kamu bisa ada di sini?," tanya Kyuubi lumayan ketus. Anak pirang itu mengembungkan pipinya, "Aku juga mau sekolah di Konoha! Kyuu-nii dan Naru-nii curang! Aku nggak diajak!"

"Deidara Namikaze...," Kyuubi berbicara dengan nada tinggi, "Kau tau sendiri kan, betapa rentannya dirimu pada penyakit asmamu. Dan bicara soal sekolah, bukankah tahun ajaran baru dimulai bulan April, tuan Namikaze?"

"Niichan juga! Universitas dimulai Maret, kan? Ujian akhir kedua masih Februari, kan? Kok Kyuu-nii dan Naru-nii ke Konoha?"

Kali ini Kyuubi dipojokkan adiknya sendiri. "Karena ini liburan musim panas!," bentak Kyuubi malah mengakui dirinya sedang refreshing ujian akhir pertama. Deidara menunjuk kakaknya dengan tidak sopan, "Ha! Ketahuan! Kalian nggak ngajak aku! Curang!" Kyuubi gelagapan mendengar tuduhan sang adik yang seratus persen benar. Sebenarnya dia hanya tidak ingin direpotkan dengan kehadiran anak ini di hadapannya, jadi dia tinggal saja di rumah.

Tapi memang sepertinya Tuhan tidak pernah menyayangi Kyuubi. Dari tadi sial dan gagal terus. Mulai dari insiden pagi hari, insiden diary, insiden ciuman sampai harus berurusan dengan anak manja yang kalau dihitung ada tiga―Naruto, Deidara dan Nagato. Pusing juga Kyuubi memikirkannya. Oh, kelupaan! Ditambah lagi rasa pusingnya dengan hadirnya Itachi Uchiha yang rasanya tidak akan dapat dia hindari.

Nagato melirik ke arah Itachi yang masih mematung sambil menyandar ke mobilnya. "Lho? Kak Sasuke? Kenapa ada di sini?," tanya Nagato lengkap dengan wajah polos kekanak-kanakannya. Itachi yang mendengar nama adik yang disebut-sebut pemuda berambut merah itu langsung mengedarkan pandangan ke segala arah untuk mencari sang adik.

"Lho? Bukan kak Sasuke, ya?," tanya Nagato setelah melihat tingkah laku Itachi yang kayak kebingungan. Kalau dilihat lebih detail sih, yang ini lebih keriputan, beda dengan Sasuke yang punya wajah mulus(ditonjok Itachi, dipuji Sasuke). Kini Itachi tau siapa yang dimaksud Sasuke oleh anak ini. Tapi dia belum pernah bertemu anak ini sebelumnya. Kenapa anak ini kenal sama Sasuke? Dua buah kesimpulan muncul dibenak Itachi. Anak ini memang kenal adiknya, atau mungkin ada orang lain dengan nama Sasuke. "Anak ini pasti kenal Touto-ku... Kalo memang ada orang lain bernama Sasuke, dia tidak mungkin setampan dan se-awesome diriku ini, anak Uchiha yang paling dibanggakan, pinter, baik hati dan tidak sombong...," batin Itachi sungguh narsis kagak ketulungan. "Emang bener kan, Author?," tanya Itachi pada Author.

Tentu saja, Itachi-sama yang paling Author demenin jadi pacar Author...

"Bukan. Aku bukan Sasuke. Aku lebih baik darinya...,"ucap Itachi dengan percaya diri setinggi gunung tertinggi di surga sana, setelah hampir muntah gara-gara mimpi Author yang kejauhan mau jadi pacarnya. Nagato menatap Itachi dalam, orang ini memang lebih tua, kata otaknya yang lumayan itu (errornya#plak!). "Oh, maaf. Nama paman siapa?," tanya Nagato masih innocent.

Jangkrik bersenandung ria.

Gagak iseng lewat.

Itachi cengo.

Kyuubi tertawa.

Deidara menghitung petasan.

"Salah ya, paman?," tanya Nagato sekali lagi masih dengan tampang polosnya, membuat Kyuubi semakin tertawa berguling-guling di tanah. Itachi menyamakan pandangannya dengan pemuda berambut merah di hadapannya. "Adik yang baik...," ucapnya lembut, "Kenapa nggak panggil kakek aja sekalian?" Itachi mencoba mengintimidasi dengan kalimat ironinya. Sungguh, darahnya sudah mendidih di atas kepalanya. Nagato masih menatapnya polos, tak terpengaruh. "Baik, kakek..."

Krik.

Krik.

Krik.

Kr―

Itachi melempar batu kepada jangkrik yang membuat mood –nya makin jatuh. "Sialan tuh, jangkrik!," batin Itachi benar-benar benci pada jangkrik sialan yang membuatnya semakin badmood. Dilain pihak, Nagato masih tidak melepas tatapan polosnya, malah menambahnya dengan tatapan penasaran. Sedangkan Kyuubi, sedang mengubrak-abrik tasnya dan mencari alat bantu pernapasan gara-gara nggak bisa berhenti tertawa. Deidara? Jangan khawatir, dia masih menghitung petasannya.

"Kenapa kakek marah-marah? Nanti cepat tua dan semakin banyak keriputnya, lho!," kritik Nagato dengan sangat polos seperti kemampuan ayahnya. Itachi tidak tahan untuk mengetok kepala anak itu dengan kepalanya sendiri. Tapi dia masih ingat, dia berhadapan dengan anak kecil. "Adik kecil... Aku masih 22 tahun, tau..."

"Kenapa? Paman Kyuubi umurnya baru 18! Kenapa aku nggak boleh panggil paman?"

Itachi sedikit bingung sebenarnya. Kyuubi? Paman? Berarti bener dong, dia memang seorang paman mesum, sok, belagu pula! Itachi tersenyum sendiri, walaupun senyumannya cukup membuat Kyuubi merinding disko di tempat. "Paman? Nama paman siapa? Aku Nagato Namikaze..," ucap Nagato menginterupsi. Pandangan Itachi kembali pada anak berambut merah di hadapannya. "Itachi... Uchiha Itachi. Aku kakak Uchiha Sasuke," sahut Itachi dengan senyuman yang menurutnya menawan untuk seorang anak kecil nan manja.

"Oh... Kakaknya kak Sasuke, ya! Pantas mirip!," seru Nagato. Itachi hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kamu kok bisa kenal Sasuke?," tanya Itachi baru ingat apa yang mau ditanyakan dari tadi. "Aku? Dia kan gu―"

Sebuah mobil Roll Royce dengan mulusnya berhenti di depan rumah dan menginterupsi percakapan anak-anak muda itu. Seorang pria berambut orange cerah dengan beberapa tindikan di wajah dan telinganya turun secara dramatis dari mobil mahalnya. Disusul kemudian seorang wanita cantik dengan bunga mawar yang terselip manis di rambutnya, wajahnya terlihat sangat senang melihat anak semata wayangnya. "Ibu! Ayah!," seru Nagato senang setengah mati seraya berlari menuju ibunya. Konan langsung memeluk Nagato, walaupun anaknya sudah berumur 13 tahun. "Bagaimana liburanmu, sayang?," tanyanya penuh kasih sayang.

"Lihat, bu! Aku punya banyak teman di sini! Paman Kyuubi, paman Deidara, ada juga paman Naruto, paman Itachi dan kak Sasuke!," ucap Nagato dengan sangat senang. Konan mengalihkan pandangannya pada pemuda yang dipanggil anaknya Itachi itu. Dia benar-benar tak menyangka, Uchiha sulung berada dihadapannya.

"Sudah lama tak bertemu, Uchiha...," sapa Pein dengan sedikit ketegangan tak mengenakkan. Itachi memutar bola matanya malas. Wah, dia benar-benar harus menghadapi Namikaze rupanya. Atau bisa dibilang, Namikaze yang bukan Namikaze. "Baik-baik saja, Yahiko-sensei...," sahutnya dengan sedikit malas. Pein mengernyitkan dahinya. "Mau cari masalah, ya?," batinnya merasa tersinggung jika dipanggil dengan nama aslinya.

"Aku sedang tidak ingin mencari masalah di sini. Aku hanya ingin mengantar Kyuubi ke sini...," ucap Itachi seperti sudah tau apa yang ada dalam pikiran Pein. "Kenapa kau mengantarnya?," tanya Pein masih dengan nada awas level 3. Dia harus hati-hati dengan Itachi, bisa-bisa Nagato tau masa lalunya dan kecewa padanya.

Itachi tau jika dia sudah menyebut nama mantan sensei karate-nya dengan nama aslinya, sama saja cari mati. Tapi bisa juga jadi senjata ampuh baginya. "Kyuubi tersesat dan aku membantunya...," ujarnya menjelaskan segalanya dengan malas, "Ah, aku masih ada rapat hari ini. Jaa~"

Pemuda Uchiha itu memasuki mobil Ford hitam miliknya dan mulai menjalankan mobil itu, melesat pergi entah kemana. Namun ada satu hal yang masih Kyuubi dapat lihat saat Itachi berlalu, dia masih melihat Itachi berbisik. "Bye, Kyuu-koi!"

Kyuubi merinding ngeri jika Itachi benar-benar mengatakan hal itu. Benar-benar mengerikan jika terjadi! Dipandangi adiknya, dia malah salting dan bersikap layaknya bapak-bapak yang punya hutang segudang (mondar-mandir kebingungan dengan tangan dibelakang dan kepala tertunduk serta memejamkan mata). Mencoba menghiraukan sang kakak, Deidara meninggalkan Kyuubi di luar dan ikut masuk dengan keluarga sepupunya yang sudah sedari tadi masuk ke dalam rumah.

-Tian Mai & Tian Lou-

Konoha Grand Mall, Konohagakure.

Sasuke terus mengajak Naruto berkeliling mall. Sengaja dirinya melakukan itu agar bisa cuci mata dan pamer sekaligus. Mereka berhenti di sebuah stand es krim yang besar. Berbagai macam rasa es krim disediakan di sana. Mulai dari rasa vanilla, cokelat, strawberry, pistacio, sampai tomat dan vegetable pun ada! Naruto sampai bingung mau es krim rasa apa. Dia sangat suka es krim di samping ramen pastinya. Setelah lama menimbang rasa apa dan menimbang berat penjaga tempat itu beserta pengunjungnya(?), Naruto akhirnya mencoba rasa jeruk dan vanilla. Sedangkan Sasuke, jangan tanya. Pasti semua sudah tau...

Mereka duduk di salah satu tempat yang sudah di sediakan. Naruto benar-benar senang, tempat ini surganya es krim. Semua rasa yang nggak terbayangin aja ada di sini. Dan dia berharap bakalan ada es krim rasa ramen(?) nantinya di tempat ini. Sasuke yang menyendok es krim rasa tomatnya, mulai berpkir sekaligus penasaran dengan Naruto Namikaze yang dia tidak tau siapa sebenarnya. Kalian mengerti kan, jika ada orang yang menarikmu dan mengira kau adalah guide –nya tanpa kau tau siapa dia. Anehnya, Sasuke kok mau saja padahal dia bisa bilang pada Naruto dan pergi ke Kirigakure? Hanya Tuhan yang tau ke-error-an otak seorang Sasuke Uchiha...

"Hei, dobe... Keluargamu itu sebenarnya seperti apa sih?"

"Kenapa? Kau mulai tertarik dengan keluargaku?"

Sasuke mendesah pelan. "Hanya bertanya...," ucapnya santai. Naruto tersenyum kecil. Ternyata pemuda yang selalu pasang tampang stoic trademark Uchiha ini juga bisa penasaran. "Yeah... Kau kan tau, aku tinggal di Uzumakikagure dengan keluargaku. Selain Kyuubi, aku punya adik namanya Deidara..."

"Lalu, Nagato itu siapamu?"

"Dia keponakanku. Walau tidak bisa disebut keponakan sih..."

"Kenapa?"

Naruto mengaduk es krim yang setengah meleleh dalam gelas kaca itu perlahan. "Ayahku anak angkat. Dia diadopsi kakekku karena pamanku, Jiraiya sudah dewasa dan memilih menikahi bibi Tsunade. Sedangkan kakekku ingin rumah lebih ramai dengan adanya anak kecil, jadi... Kau tau, kan?," jelas Naruto dengan sedikit memberi teka-teki. Sasuke mengangguk kecil. "Ayah Nagato adalah anak paman Jiraiya, otomatis Nagato keponakanku... Begitu!"

Sasuke mencoba mengingat-ingat nama yang baru saja di sebut Naruto. "Kalau boleh aku tau, siapa nama orang tuamu?," tanyanya penasaran.

"Oh. Minato Namikaze dan Kushina..."

Mata onyx Sasuke melebar sempurna saat kedua nama itu disebut. Sebagai penerus perusahaan keluarganya, Sasuke mengenal betul saingan keluarganya. Dan dia tidak menyangka bisa bertemu dan berjalan-jalan dengan anak yang akan menjadi rivalnya kelak. "Dia tidak terlihat begitu bisa menguasai bisnis dan tidak terlihat mengenaliku... Apa dia tidak tau?," batin Sasuke benar-benar tidak percaya Naruto tidak tau menahu tentang perusahaan keluarganya.

Biarlah. Setidaknya saat ini dia dapat memanfaatkan liburan ini untuk mengenal lebih jauh pemuda Namikaze dihadapannya.

"Sasu-teme? Aku juga penasaran sama keluargamu..."

Sasuke tersentak mendengar pertanyaan sang Namikaze sulung. OK, dia bisa saja bilang kalau dia sebenarnya bukan guide atau pemilik jasa pariwisata macam itu. Dia juga bisa bilang kalau dia adalah penerus perusahaan Uchiha Corp. dan bangsawan Konoha sekaligus pria paling dikagumi dan dipuja seluruh wanita, pria maupun waria di Konoha.

Please, Sasuke... Jangan pandangin Author kayak gitu, jadi malu nih...

Setelah menyekap Author di gudang cleaning servis, Sasuke kembali menyendoki es krim tomatnya. "Hm... Bagaimana, ya? Yeah... aku sama sepertimu, tinggal bersama orang tuaku," ucap Sasuke santai. Es krim itu mulai mencair dan berwarna merah, membuat Sasuke seperti memakan es krim darah. "Kau punya saudara?," tanya Naruto masih penasaran, tidak begitu peduli Sasuke sudah terlihat seperti vampire.

"Punya."

"Namanya?"

"Baka Aniki..."

Naruto cengo sejenak, mendengar nama kakak Sasuke. "Nama yang aneh...," batin Naruto masih belum mengerti maksud Sasuke. "Namanya bukan baka aniki... Tapi Itachi Uchiha...," ujar Sasuke dengan sweatdrop, mampu membaca isi kepala sang Namikaze sulung. Ternyata dia salah ketemu orang. Bukan penerus perusahaan rivalnya, tapi hanya anak dobe yang nggak tau apa-apa. Naruto ber-oh panjang, baru sadar kalau nama baka aniki itu nggak akan pernah ada di KTP orang.

Pandangan Naruto teralih pada gelas es krim tomat Sasuke. Rupanya dia baru sadar, es krim merah itu membuat orang di hadapannya seperti vampire yang tengah menyantap makanannya. Naruto meneguk air liurnya sendiri, miris. Dicabutnya harapan stand itu akan menjual es krim ramen. Bisa-bisa orang yang makan es krim ramen itu terlihat seperti memakan... Ehem! Ah, nggak perlu dibahas.

Sasuke menghabiskan es krimnya dan langsung mengajak Naruto mengelilingi mall. Naruto sebenarnya sedikit heran dengan Sasuke, dari tadi Sasuke seperti tidak mengeluarkan uang atau kartu kredit maupun dompetnya. Namun Sasuke bisa membeli es krim dan baju super mahal. OK, Naruto tidak tau atau lebih tepatnya tidak menyadari, bahwa kedai es krim tadi berlabel Uchiha di bawah pimpinan Itachi Uchiha.

Dan itu menjelaskan sekali lagi, bahwa Sasuke tidak suka menghamburkan uang dan lebih memilih menggunakan produk dari kakaknya dengan cuma-cuma. Coba kita ulangi sekali lagi. Baju, tokonya punya kakaknya. Es krim, juga punya kakaknya walau dia juga yang menginspirasi Itachi untuk membuat es krim tomat dengan jaminan dirinya akan menjadi pelanggan es krim tomatnya.

Sebenarnya kamu mau hemat apa memang nggak punya uang sih, Sasuke?

Sasuke hanya memutar bola matanya mendengar pertanyaan Author. Dia punya banyak uang dan tabungan, tentu. Tapi kalo ada yang gratis? Siapa yang menolak?

-Tian Mai & Tian Lou-

Kediaman Sabaku, Sunagakure.

Temari tengah mengemasi barang-barang bawaannya yang akan digunakannya selama di Konoha. Dia benar-benar tidak sabar, walaupun Sasori masih belum mau kembali ke Konoha. Pemuda itu dengan santainya makan kue mochi di depan televisi, menonton siaran komedi gaje di sana. Sedangkan Kankurou? Dia hilang ditelan bumi. Nggak, bohong. Dia lagi menjemput Gaara dari les piano.

Sebenarnya Gaara dan Kankurou sekolah di KIU Academy. Tapi karena ini liburan musim panas, mereka pulang ke Suna untuk menemani sang gadis Sabaku. Gadis ikat empat itu terus mondar-mandir layaknya seterika, mengganggu konsentrasi Sasori pada televisi. "Temari! Minggir, dong! Seru, nih!," protes Sasori pada sepupu wanitanya. Temari hanya mendengus kesal, tetap melakukan acara kemas mengemasnya.

Sasori mulai bosan pada televisi, maupun pada Temari. Mata cokelatnya memandang jendela kosong. Ah, melihat banyak orang di luar sana jadi mengingatkan dirinya akan sesuatu entah apa. Kali ini dia menatap langit-langit yang kelihatannya sangat menarik untuk dilihat. Dia mencoba mengingat sesuatu yang mengganjal pikirannya. Nggak ada jadwal shuting, nggak ada jadwal pemotretan, semuanya dikosongkannya selama liburan ini. Tapi kok rasanya ada yang kurang baginya.

Dilihatnya jendela lagi. Masih sama, orang-orang berlalu lalang di jalanan. Namun melihat banyak orang jadi mengingatkannya pada festival tahunan di Konoha. AH! Dia ingat, dia sudah janji akan membantu Itachi menyiapkan acara tahunan itu. Keluarga Uchiha adalah keluarga bangsawan terhormat di Konoha, mereka selalu menampilkan barang-barang berharga peninggalan nenek moyangnya setahun sekali dalam festival itu. Dan itu tepat tanggal 1 Juli sampai 30 Juli. Sebut saja acara itu dengan nama Gion Matsuri.

Sasori langsung melirik ke arah kalender yang tergantung tak jauh darinya. Hari ini tanggal 29 Juni. Berarti prosesi Kippu Iri tanda mulainya Gion Matsuri tinggal dua hari lagi. Diambilnya ponsel miliknya dan menekan nomor Itachi dengan cepat. Jangan bilang kalau sang Uchiha lupa acara tahunan ini...

"Ada apa?" Suara yang sangat familiar itu menyapa Sasori dengan nada lumayan ketus. Sasori menghela napasnya sejenak, bisa-bisa dia kena sembur Itachi gara-gara lupa mengingatkannya akan festival itu. "Tachi? Kau tidak lupa tanggal 1, bukan?," tanyanya masih berbasa basi. Itachi mengernyitakan dahi di Konoha, masih belum mengerti maksud Sabaku satu ini. Dia mencoba mengingat-ingat hari apa yang sepertinya terlihat penting pada tanggal satu. Satu Juli, ya...

"Kippu Iri?," tebak Itachi dengan santainya. Sabaku mengangguk cepat, walaupun percuma karena yang diajak bicara di seberang sana. "Tenang saja... Yoiyoiyoiyama masih tanggal 14 Juli... Kau tidak perlu mengingatkanku...," ujar Itachi santai sekali. Sebenarnya dia tidak peduli, toh Sasuke juga yang akan mengurusi sebagai penerus perusahaan Uchiha Corp.

Sasori cengo medengar kalimat dari Uchiha sulung. Hei, bukannya dia yang waktu itu mengancamnya untuk mengingatkannya festival itu? Sasori tak mau disalahkan oleh sahabatnyapun menyahut, "Kau yang bilang minta diingatkan! Lagipula kau juga berpengaruh dalam ekonomi Konoha..."

"Aku tidak mau meneruskan Uchiha Corp. walaupun aku seorang Uchiha..."

"Tapi kau punya banyak aset bisnis yang berkembang pesat, Tachi..."

"Sudahlah. Biar tahun ini Sasuke yang mengurusnya..."

Sasori mendengus kesal. Dulu dia diancam kalau sampai lupa, sekarang yang ngancam nggak peduli sama festivalnya. Namun sebuah informasi membuat tingkahnya kali ini tidak akan sia-sia. "Sasuke kan ada di Kirigakure...," ujarnya mencoba mengetes sekali lagi kesungguhan Itachi melupakan festival itu. Itachi berpikir sejenak. Benar juga. Sasuke sudah bilang padanya sebelum liburan musim dingin, dia akan ikut Summer Camp ke Kirigakure untuk makan tomat segar.

"Dia akan pulang..."

"Kau lupa seberapa posesifnya dia pada tomat?"

Itachi mendesah pelan. Duh, dia tidak mau mengurusi matsuri tahunan itu kali ini. Dia kan butuh liburan juga... Mana Sasuke egois banget meninggalkannya di Konoha. Orang tuanya pada pergi ke Australia dengan alasan yang dia nggak tau apa. Akhirnya dia menyerah juga. "OK. Kau akan membantuku, dan bla..bla..bla..."

Sasori tersenyum kemenangan. Kalau saja ada Itachi di sana, Uchiha satu itu pasti akan langsung menggertaknya karena senyumannya itu. Sabaku muda ini menutup teleponnya sebelum semburan Itachi keluar. Sasori langsung menatap Temari yang masih sibuk mondar-mandir mengemasi barangnya.

"Temari?"

"Hm?" Temari terus menjejalkan koper yang sudah penuh barang entah apa yang dia masukkan. "Kita berangkat besok. Siap-siap, ya!," ujar Sasori dengan senyuman yang sungguh bisa membuat wajahnya bertampang uke 200 kali lipat. Temari memutar kedua bola matanya. Please, deh! Dia sedang berkemas sekarang dan sudah hampir 100% siap pergi saat itu juga. Gadis itu bertolak pinggang setelah bangkit di hadapan sepupunya, "Mau kutelepon Gaara dan Kankuro, jadi kita berangkat bersama?"

"Tidak," Sasori menggeleng pelan lalu memberi sebuah senyuman lebar yang lebih mirip dengan cengiran, "Maksudku siap-siap bertemu dengan Itachi yang marah-marah..."

Dan Temaripun menggubrak dengan tidak elit ke lantai.

-Tian Mai & Tian Lou-

Konoha Square, Konohagakure.

Naruto menatap kucing Turky Van itu dengan intens. Sebenarnya dia tidak terlalu menyukai hewan, tapi Sasuke malah mengajaknya ke pet shop macam ini. Mata birunya memandang seluruh hewan yang ada di sana. Ada anjing, kucing, hamster dan beberapa hewan peliharaan yang cukup lucu dan unik untuk dipelihara di sana. Matanya menatap seekor burung kecil berwarna kuning cerah yang berada di sangkarnya.

Burung itu berkicau merdu, nyaring sekali. Entah apa yang membuat Namikaze sulung ini tertarik akan burung kuning itu. Tubuhnya gemuk dengan bulu kuning terang, paruhnya terlihat orange dan kecil, sungguh menggemaskan. Namun mata burung itu yang biru cerah seperti manik sang Namikaze yang tengah menatapnya itulah daya tariknya. Naruto terus memperhatikan burung kecil itu. Bukannya dia tengah berpikir, dia hanya tidak bisa bersiul untuk menyahut kicauan burung. Dia bahkan belum pernah bersiul pada gadis seseksi apapun.

Setelah memperhatikan burung kecil itu cukup lama, Naruto akhirnya memutuskan untuk membelinya. "Hei, Sasuke! Sasuke... Sasuke?" Naruto mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru toko, namun tak ditemukannya sang Uchiha berambut model pantat ayam itu. Apa karena di sini toko hewan, jadi rambut Sasuke beradaptasi menyerupai pantat ayam yang sesungguhnya? Dicarinya Uchiha itu, mulai dari bagian reptil, kucing, anjing, counter (takut-takut Sasuke menggoda gadis di balik counter), maupun di dalam mesin kasir(?), namun tak ada tanda-tanda kehidupan pemuda berwajah stoic itu.

Kemana? Kemana? Kemana? Kuharus mencari kemana?

OK, theme song –nya kurang awesome untuk kondisi macam ini. Sebelum Author dibantai kekuatan Kung Fu Durian milik Naruto, sang Namikaze sulung itu langsung mencari sang Uchiha di luar toko. Mungkin saja ada segerombolan gadis seksi lewat dan Sasuke menggodanya, iya kan?

.

.

.

Sasuke meninggalkan Naruto begitu saja dari toko hewan itu dan berpindah ke toko buku di sebelahnya. Bukannya kenapa, tapi sang kakak sudah meneleponnya sedari tadi dengan tidak sabar. "Halo?," ucap Sasuke setelah dia mengangkat telepon itu. "Hei, Touto. Kau cepat pulang dan urusi festival itu..."

Sasuke mengernyitkan dahinya. Apa-apaan kakaknya ini? Baru saja menelpon sudah memerintah macam itu. Mana festival pula yang diurusi. Mending ngurusin liburannya di Kiri yang tertunda, bang! Sasuke yang hendak menutup teleponnya itu sudah diinterupsi oleh sang kakak, "Jangan coba-coba menutup teleponnya, Sasuke!"

"Lalu kau mau menarikku dari Kirigakure sampai ke Konoha, dan menyuruhku melakukan hal-hal yang seharusnya jadi tanggunganmu sedangkan kau berleha-leha di bar, iya?," tanya Sasuke ketus. Please, deh! Jangankan mengurusi festival sialan itu, ke Kiri saja dia tak bisa. "Sasuke...," ujar Itachi dengan nada tertekan, "Ada dua hal yang salah dari ucapanmu..."

Sasuke masih menanti dengan malas kalimat mengantung sang kakak. "Pertama, aku tidak pernah bertanggung jawab tentang perusahaan dan urusan kebangsawanan atau apalah itu yang ada pada keluarga kita. Dan yang kedua, aku tidak mungkin ke bar, meneguk wine saja aku tak mampu!," jelas Itachi setengah berseru agar sang adik tak memprotes lagi. Dua orang sudah menaikkan tingkat ke-badmood-annya menjadi tujuh puluh persen. Oh, ternyata bukan hanya dua, tapi ada empat―jika kalian ingat dengan Kyuubi dan Nagato.

Sasuke memijat kepalanya. Jika dia pergi mengurusi festival sialan itu, Naruto akan tau semua tentang kebohongannya selama ini. Kebohongan akan dirinya yang menyamar menjadi guide, menutupi kebangsawanannya, mengakui memiliki jasa pariwisata namun nyatanya memiliki perusahaan besar nan sukses, dan menutupi bahwa dirinya sungguh narsis melebihi siapapun di muka bumi ini.

OK, yang terakhir mari kita abaikan.

Ada sebuah perasaan bersalah jika akhirnya Naruto tau bahwa dirinya hanya seorang penipu yang awesome, baik hati, keren, dipuja siapapun, seme yang mampu memuaskan para―.

OK. OK, Sasuke... Abaikan kalimat Author tadi... Author lagi galau!

Sasuke mendengus kecil. Bukan hanya perasaan bersalah saja, tetapi ada sebuah perasaan yang mampu membuat kupu-kupu beterbangan menuju hatinya. Oh My God! Bahkan, Jashin-sama pun tak tau apakah Sasuke yang terkenal sebagai―skip aja kata-kata gajenya― sekarang sedang jatuh cinta pada pemuda yang bego semacam Naruto Namikaze? It's awesome...

Hening, Sasuke tidak mapu membalas maupun merespon kalimat sang kakak. Ditutupnya matanya erat. Tidak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya pada Naruto, bukan? Namun tekatnya bulat sebulat okonomiyaki yang ada di kedai sebelah, dia akan tetap besama Naruto sampai maut kan menjelang.

OK. Itu terlalu lebay dan ngaco. Dia hanya akan bersama Namikaze sulung sampai sang Namikaze sendiri yang mengetahui jati dirinya. Dibukanya mulut yang sempat terkatup selama beberapa menit itu dan berkata, "Aku tidak bisa... Aku akan tetap di sini sampai tugasku selesai." Dan sebelum Itachi sempat memprotesnya, dia memutuskan panggilan bahkan mematikan handphone –nya.

Sasuke keluar dari toko buku setelah membeli sebuah majalah entah apa dan memberi senyuman charming pada gadis di balik counter (berharap mendapatkan diskon, mungkin...). Setelah itu, dia keluar dari toko itu dan menemukan sang Namikaze tengah menunggunya dengan wajah khawatir setengah mati. "Kau dari mana saja, teme?," omel Naruto setelah melihat sosok berambut model pantat ayam yang dicarinya sedari tadi.

"Beli majalah...," jawab Sasuke santai. Diperlihatkannya majalah yang baru saja dibelinya pada pemuda pirang di hadapannya. Ekspresi Naruto pertama kali adalah wajah kaget, malu dan geram menjadi satu. "GOSH! TEMEEE!KAU BELI MAJALAH APAAN, SIH?," sembur Naruto tiba-tiba setelah melihat majalah yang dibeli Sasuke. Sasuke yang tak tau apa-apa hanya mengernyitkan dahinya, tidak mengerti. Dilihatnya sampul majalah yang tak diperhatikannya dari tadi. Dia benar-benar terkejut saat melihat cover –nya adalah dua lelaki yang setengah telanjang saling berpelukan mesra.

Sasuke cengo. Pantas saja gadis di balik counter itu menatapnya heran lalu tersenyum malu padanya. Rupanya majalah inilah penyebabnya, bukan karena dirinya yang awesome. Haduh... Benar-benar malu dirinya telah membeli majalah gay dan menunjukkan pada orang yang dia harapkan juga seorang gay.

Naruto menggulung majalah itu dan menatap Sasuke marah. "Karena kau menunjukkan hal yang tak pantas padaku, jadi majalah ini kusita!," ucap Naruto dengan sangat tegas. Sasuke mengernyitkan dahinya sekali lagi. Kenapa disita? Bukannya lebih baik dibuang saja?

"Kenapa harus disita? Buang saja..."

"Tidak, aku tidak suka membuang barang yang baru saja dibeli..."

"Berikan saja padaku. Aku sudah 18 kok..."

"Aku bilang aku yang simpan dan ini jadi milikku!"

Sasuke semakin bingung pada anak di hadapannya ini. Nah, lho! Kok sekarang dia mau menyimpan barang macam itu? Naruto menyengir lebar padanya. "Ini tambang surga, tau nggak? Aku fudanshi tingkat akut...," ucap Naruto mengakui kegilaannya akan yaoi. Dan Naruto mojok bareng majalah gay itu sambil memekik kata 'hot', meninggalkan Sasuke jawdrop tak tertahankan.

-Tian Mai & Tian Lou-

Kediaman Namikaze Pein, Konohagakure.

Pein tengah menyesapi teh hijau yangsudah dibuatkan secara tradisional oleh Sai. Matanya sesekali memandang anak semata wayangnya yang tengah bercanda dengan paman-pamannya. Deidara dan Kyuubi, berarti Naruto tidak ada di sini. Kemanakah sang pirang cerewet, sok ngatur namun bego itu? Hohoho... Pein tak bermaksud menghina Naruto sebegitunya juga, tapi memang kenyataannya begitu, kan?(#dimarahin Naruto dan Author).

Konan yang baru saja datang itu, menatap curiga pada suaminya yang senyum-senyum sendiri. Awalnya tersenyum, lalu terkekeh pelan dan berakhir dengan gelak tawa yang sangat tidak awesome. Konan yang jantungan, segera mengeplak pelan kepala Pein agar suaminya kembali waras. "Aduh! Konan?," ucap Pein kaget saat istrinya mengeplaknya dengan tidak elite.

Konan menghela napas sejenak, "Kau kenapa? Seperti orang gila..."

Pein tersentak. Istrinya yang kalem dan baik ini mengatakan dirinya gila? Berarti dia tadi melakukan hal yang sangat aneh bahkan untuk istrinya sendiri. "Memangnya apa yang kulakukan?," tanya Pein dengan nada polos. Inilah yang disukai Konan. Pein hanya bisa bersikap polos dan bodoh hanya di depannya saja. Konan duduk di samping sang suami sambil bergumam pelan. "Ump... Kau tadi tersenyum, lalu terkekeh dan tertawa...," ucap Konan sambil mengistirahatkan kepalanya di pundak suami tercinta.

Pein mengernyitkan dahinya. Perasaan, dia tadi hanya memikirkan kebodohan sepupunya itu. Ah, dia pasti lupa diri dan tertawa sekerasnya bagai orang gila. Tangannya yang besar itu akhirnya mengusap helai rambut Konan dengan mesra. "Kalau aku gila, apa kau akan tetap bersamaku?," tanyanya dengan tatapan yang kosong.

Konan mendongakkan kepalanya, "Tentu saja..."

"Baguslah. Aku kan memang gila..."

"Hm?"

"Aku gila karenamu..."

Konan memukul pundak suaminya dengan wajah merah merekah. Dia juga memberikan senyum malu setelah digombalin seperti itu. Oh, dia lupa. Pein kan raja gombal sebelum dapat masalah 'itu'...

.

.

.

Kyuubi, Deidara dan Nagato berlarian menuju kamar Nagato sambil terkikik geli. Rupanya mereka mendengar―atau lebih tepatnya menguping―gombalan Pein pada Konan. Mereka bertiga berbaring di kasur Nagato dengan napas tercekat, menahan tawa yang akan meledak. "Haahh.. Nagato, ayahmu tukang gombal, tuh!," ucap Deidara setelah berhasil mengatur napasnya. Nagato menatap Deidara masih dengan kikikannya, "Hihihi... Bukan, paman! Dia raja gombal! Hihihi..."

"Aku gila karenamu... WTF!," ujar Kyuubi menirukan kalimat gombalan Pein. Mereka tertawa lepas. Namun membicarakan tentang gombalan, Nagato jadi teringat sesuatu. "Eh.. Eh. Kalo paman Itachi yang ngegombal jadi seperti apa, ya?," tanya Nagato yang baru ingat akan wajah Itachi yang macam penggombal ulung itu.

Kyuubi berpikir. Banyak kalimat gombal yang mungkin dapat membunuhnya seketika jika Itachi yang mengatakannya. Mungkin "Kalau kamu jadi bunga, aku jadi kumbangnya..." atau "Kyuu –koi, tak kan cerah langit ini tanpa kehadiranmu..." atau malah dia bakal blak-blakkan, "Aishiteru! Wo Ai Ni! I Love You! Ich Liebh Dich! Te Amo! Ti Amo, mi Kyuu –koi! Ya Lyublyu Tyebya, dorogoy!" atau bahasa lain yang tak Kyuubi mengerti. Ini baru berpikir dan membuat Kyuubi merinding disko, apalagi benar-benar terjadi.

Nagato dan Deidara yang melihat perubahan wajah pada Kyuubi jadi sedikit khawatir. Kenapa dengan anak yang paling keras kepala yang bahkan kau mampu menghancurkan gelas dengan mengetokkannya ke kepalanya? Awalnya mereka khawatir, tapi akhirnya mereka jahil juga. "Kyuu-nii, tau nggak? Tadi Itachi-nii bilang dia sangat menyukaimu. Suki, totemo daisuki... gitu katanya!," ucap Deidara mencoba membuat wajah Kyuubi semakin pucat.

"Nggak hanya itu, paman! Tadi dia minta ijin padaku dan Dei-chan, sampai nelpon pula! Dia mau me-rape paman!," ujar Nagato dengan sangat polosnya. Bukan hanya Kyuubi yang tercengan, Deidara juga ikut-ikutan cengo. "Keterlaluan banget bercandanya, ni anak!," batin Deidara miris dengan kemampuan bercanda Nagato. Kyuubi yang sudah pucat sepucat dinding rumah Pein yang putih bersih, mau tak mau langsung pingsan di tempat. Ya, ampun... Dia kemakan omongan nggak logis dua anak di depannya.

Deidara dan Nagato langsung memekik panik, namun di detik kemudian mereka tertawa terbahak-bahak. Waduh, ternyata Kyuubi phobia sama Itachi Uchiha! Eits, salah! Yang benar dia phobia dengan gombalan Itachi!

-Tian Mai & Tian Lou-

Konoha Square, Konohagakure.

Naruto masih membolak-balikkan halaman majalah nista yang disebutnya sebagai 'surga dunia' tersebut. Mata biru sapphire –nya tak memperhatikan jalan, dan beberapa kali menabrak punggung Sasuke yang―entah dengan sengaja atau tidak―berhenti tiba-tiba. Mereka sudah mengelilingi taman kota ini berkali-kali. Tapi sepertinya Sasuke tidak lelah mengitari taman ini.

Mengingat hari mulai senja, Naruto akhirnya buka suara. "Oi, teme! Ayo pulang! Sudah sore...," ucapnya seraya memasukkan majalah gay itu dalam saku celananya yang lumayan besar. Sasuke menoleh, mencoba menatap balik mata sapphire sang Namikaze. Dia berpikir sejenak. Kalau dia kembali ke rumah Nagato bersama Naruto, pastilah dia akan dapat masalah.

Ada tiga opsi yang mungkin akan membahayakan penyamarannya. Satu, jika mereka kembali ke sana dan Nagato ataupun pelayannya tau dia adalah penerus Uchiha Corp., dia pasti akan didepak dari sana. Dua, mungkin saja orang tua Nagato kembali dan mereka akan mengusirnya karena Sasuke yakin orang tua Nagato lebih mengerti bisnis dibadingkan anaknya. Tiga, para guide sewaan Naruto bisa saja mencarinya dan dia bakal ketahuan dengan sangat tidak awesome dihadapan Naruto.

Hanya satu pilihan jalan keluar saat ini. Pergi dari rumah itu. "Oi, dobe...," panggilnya. Naruto masih menatapnya sedari tadi, akhirnya melengus kesal. "Apa?," tanya Naruto malas nan ketus. "Kita akan tinggal di villa keluargaku..."

Naruto membelalakkan matanya. Hah? Bener ini bukan mimpi? Sasuke mengajaknya tinggal di villa keluarganya? "Memangnya kenapa dengan rumah Pein?," tanya Naruto masih dengan nada ketus, mencoba mencari tau alasan sang Uchiha. Bukannya dia tidak percaya dengan Sasuke. Tapi iblis pun mampu berjubah malaikat, bukan? Sasuke mengerlingkan matanya. Dia harus mencari alasan yang tepat sekarang juga.

"Tidak ada. Di sana dekat dengan tempat wisata daripada rumah sepupumu..."

Naruto mengangguk-anggukkan kepalanya, "I see..."

"Ayo kita ke sana sekarang."

"HAH?" Naruto membelalakkan matanya. Serius? Sekarang juga? Nada bicara Sasuke seperti sedang membicarakan cuaca di pagi hari, sangat tenang. Pasti serius. Naruto jadi sedikit salting setelah kaget dengan tidak elite. "Oh... OK...," ujarnya dengan setengah hati. Sasuke tersenyum simpul, lalu menggandeng tangan Naruto dan menuntunnya menuju stasiun bawah tanah terdekat. Naruto hanya pasrah saja. Toh dia tidak akan bisa melawan Sasuke, iya kan?

~Tsudzuku~

Phewh! Akhirnya selesai chapter ini... Maaf kalu pendek. Galau rupanya mampu menurunkan semangat menulis yang menggebu (halah). Sebenarnya chapter depan hanya membahas masa lalu Pein dan masalahnya (aku suka masalah yang dihadapi sepupuku itu). Tapi entahlah... Masih mau dipikirkan XP. Oh iya, minta review dulu ah, sebelum ngegalau lagi... (galau akut).

._._._.Xie Xie._._._.

Fengtian Mai & Fengtian Lou