Kuroko no Basuke (c) Tadatoshi Fujimaki
.
By Means of a Miracle
by Roux Marlet
Mystery/Crime, Friendship
Future Alternate Reality, Minor Original Characters, Characters' Death
.
Chapter 3: Mad as a Hatter
.
.
.
"Gila sekali..."
"Ada ya, manusia setinggi itu."
"Jangan menyerah!" seru Kagami pada teman-teman setimnya. "Kita pasti bisa mengalahkannya! Tak peduli dia salah satu anggota Generation of Miracles!"
Hari itu pertandingan basket antara SMA Seirin dengan SMA Yousen dan semua orang—termasuk pemain di pihak Seirin—terpana dengan aksi Atsushi Murasakibara di arena. Pemuda enam belas tahun itu hampir tak perlu melompat untuk mengeblok tembakan super Kagami, dan dengan tubuh setinggi itu pun gerakannya tetap lincah.
Namun, saat Seirin mulai memimpin angka dan Yousen terdesak, pemain berambut ungu itu mengucir rambutnya—menunjukkan bahwa dirinya mulai serius—kemudian bermain seperti kesetanan.
.
.
.
.
Taiga Kagami meneguk kembali kopinya lalu mengetuk-ngetuk meja dengan pena. Wajahnya kusut.
"Tidur sana," gerutu Aomine di seberang meja, tampak sama ngantuknya.
"Kelopak matamu berkantung, tahu," balas Kagami.
Aomine mengerang kesal sambil meregangkan tubuh. Dia berdiri. "Aku mau cuci muka dulu."
"Kau baru saja cuci muka sejam yang lalu," komentar Kagami, yang diabaikan oleh Aomine.
Begitu pintu ditutup, Kagami juga mengerang sekeras-kerasnya. "Aku buntu... Kenapa harus terjadi dua kematian dalam hari yang sama? Sebaiknya Kuroko tidak kuberi tahu... atau harus kuberi tahu?" Dia memandangi satu orang lagi yang sedang bekerja di ruangan itu, Ryou Sakurai, yang tidak tampak lelah.
"Kau semangat sekali, Sakurai-san."
Pria berambut cokelat itu menengadah dari layar laptopnya dan tersenyum sekilas. "Aku sudah terbiasa bergadang, Kagami-san. Pekerjaanku menuntut mata yang awas, padahal dokumentasi seperti ini biasanya baru bisa diproses malam-malam begini."
Kagami mendekatinya. "Apa yang kau kerjakan dari tadi, aku malah tidak tahu."
"Kau dan Aomine-san asyik berhipotesa, sih, dari tadi," ujar Sakurai geli. "Ini rekaman CCTV dari Toko Sweet Purple yang masih bisa diselamatkan."
"Dan...?"
"Murasakibara-san sendiri yang mengakibatkan kebakaran itu. Dia menyalakan alat penggorengan, dan dari situ sumber apinya."
Alat penggorengan yang baru untuk reuni? batin Kagami. "Apa di dapurnya tidak ada alat semacam itu sebelumnya?"
"Banyak peralatan yang bisa menimbulkan api di dapur itu, Kagami-san. Kecelakaan bisa saja terjadi kapan pun."
Aomine sudah kembali ke ruangan itu diiringi keluh kesah. "Argh, lama-lama aku kedengaran seperti Kise si tukang mengeluh. Kita bahkan belum tahu siapa yang meracuni Midorima, dan sekarang..."
"Tunggu dulu, Aomine," sanggah Kagami. "Kau bicara seolah-olah Midorima memang diracun orang. Bukankah timmu sedang menginvestigasi data rekam medisnya dan memeriksa rumahnya? Bisa saja itu memang obat yang harus diminumnya."
"Dan Murasakibara ini!" seru Aomine mengabaikannya. "Dia tidak mungkin seceroboh itu soal memasak. Apa kau melihat sesuatu yang aneh, Sakurai?" pria berambut navy blue itu menunjuk rekaman CCTV.
Kagami hendak bicara lagi tapi dia menangkap ekspresi janggal di wajah bawahan Aomine itu.
"D-dia menari," bisik yang ditanya takut-takut. Sakurai selalu keder kalau ada atasannya yang meski tampak pemalas tapi gampang marah itu.
"Apa?" Dua orang bertanya bersamaan.
Sakurai menatap keduanya dengan cemas. "Setelah menyalakan penggorengan itu, Murasakibara-san menari di dapurnya. Seperti penyanyi boyband Korea yang berjingkrak-jingkrak. Dan dia menghantam jatuh kaleng minyak tanah di lantai. Lalu terjadi kebakaran..."
.
.
.
.
Ryouta Kise menguap lebar-lebar di hadapan jendela yang tirainya tersingkap. Sinar matahari menerobos masuk lewat celah kaca, agak terhalang oleh sedikit butiran salju.
Ah, dia sudah kembali di rumah di Marunouchi, utara Tokyo. Penerbangan yang melelahkan, kemacetan yang menyebalkan, dan teman-teman yang tak peduli. Mantan model itu sudah cukup kenyang dengan kepahitan hari kemarin.
Hari ini, lembaran yang baru akan dimulai. Masih putih mulus dan menanti untuk diisi tulisan indah dengan tinta emas.
Pilot berambut pirang itu meraih ponselnya dan langsung mengecek e-mail.
"Haah, Aominecchi jahat-ssu..." keluhnya setelah membaca balasan si polisi yang tak berperasaan.
Kuroko juga terlambat membalas pesannya. Tapi setidaknya jawaban si pendek berambut biru itu lebih simpatik. Maaf baru membalas. Aku pergi bersama Kagami-kun seharian. Apa kau sudah pulang sekarang?
Karena sekarang sudah dua belas jam lebih sejak 'sekarang' yang dimaksud Kuroko, Kise merasa tidak perlu membalas pesan itu.
Ada satu e-mail dari Akashi. Mengerutkan dahi, Kise membukanya. Dan terperangah.
Dia tidak suka ini. Nama itu memang terlalu panjang untuk diucapkan dengan suffix kesayangannya. Tapi toh Kise akhirnya melafalkannya juga dalam erangan...
"Murasakibaracchi..."
.
.
.
.
"Tidak. Atsushi-san mungkin memang nyentrik, tapi dia tidak punya kelainan jiwa."
Aomine menatap lawan bicaranya penuh selidik. Pemuda berambut hitam di hadapannya, Tatsuya Himuro, adalah salah satu juru masak Sweet Purple—bawahan Murasakibara.
"Anda juga tahu itu. Anda pernah menjadi temannya."
Pria bernama kecil Daiki itu mulai kesal dengan perkataan senada. Kemarin Kazunari Takao yang mengatakannya. Aomine tidak suka relasinya dengan korban, dalam hal ini status kelompok Generation of Miracles, dibicarakan kembali meskipun mereka memang sepopuler itu sampai-sampai orang masih ingat setelah satu dekade berlalu. Ini bisa mengancam profesionalitasnya.
"Setahuku memang tidak," balas Aomine, berusaha menjaga wibawa, "tapi aku tidak berkomunikasi dengannya sejak... sejak SMA. Siapa yang tahu apa yang terjadi dengannya di antara waktu itu dan sekarang? Kau sudah mengenalnya selama lima tahun terakhir—sejak kalian di bangku kuliah. Jadi, menurutmu, kenapa Atsushi Murasakibara menari di dapurnya?"
Himuro mengangkat bahu. "Mungkin dia sedang bahagia sekali. Kemarin salah satu koki menemukan resep baru, dan Atsushi-san bilang dia akan membukukan kumpulan resep yang kami buat suatu saat."
"Aku tidak ingat Murasakibara pernah merasa sangat bahagia sampai ingin menari," pancing Aomine. "Apa itu kebiasaan barunya?"
"Saya tidak terlalu yakin," Himuro agak menghindar sambil tetap menjaga kesopanannya terhadap si polisi. "Anda bisa tanyakan itu pada koki atau karyawan lainnya. Semua orang libur hari ini. Atau pada keluarganya."
"Yah, baiklah," sahut Aomine, menyelesaikan catatannya dengan tergesa. Dia toh memang harus menemui keluarga Murasakibara.
.
.
.
.
"Murasakibara-kun juga meninggal?"
Kuroko bilang dirinya terkejut, tapi seperti biasanya hal itu tak mencapai sepasang netra birunya yang tanpa emosi.
Kagami membidik dan melempar bola oranye itu ke dalam ring. Memantul di pinggirannya dan ke tanah yang bersalju, berulang-ulang.
"Astaga, aku bahkan tidak bisa menembak dengan benar," keluh detektif itu. Setiap kali pikirannya sedang buntu dalam memecahkan suatu kasus, dia akan pergi ke lapangan basket dan bermain sendiri untuk mencari inspirasi. Tapi sepertinya kali ini, basket tidak dapat membantunya.
Bola itu menggelinding ke dekat kaki Kuroko, yang membungkuk dan mengambilnya.
"Heeh? Sejak kapan kau berdiri di situ, Kuroko?!"
Biasanya Kuroko akan menjawab 'Sudah dari tadi', tapi kali ini dia bosan dengan jawaban itu. Tidak ada yang berubah dari hawa keberadaannya yang tipis dari dulu.
"Kagami-kun," ujarnya sembari memandangi bola basket di tangannya yang bersarung tebal. "Bisakah aku ikut menemui Aomine-kun siang ini?"
.
.
.
.
"Kami belum bisa menetapkan daftar tersangka," lapor Aomine.
"Kenapa belum?" tanya pria berkacamata itu, garang.
"Belum ada bukti bahwa itu peracunan yang disengaja, Hyuuga-san."
"Kenapa belum?" ulang Junpei Hyuuga.
Rahang Aomine mengeras. Kepala polisi itu selalu ingin hasil yang serba cepat. Mana bisa selalu seperti itu!
"Sebelum siang hari, dokumen rekam medis Midorima akan disampaikan pada saya. Dan hasil labfor untuk Murasakibara seharusnya akan sudah selesai nanti sore."
"Sebelum pukul sepuluh malam ini, semua laporannya sudah harus ada di mejaku," ujar Hyuuga bersikeras. Tiba-tiba sikapnya melunak saat berkata, "Entah ada hubungannya atau tidak, kau yang sekarang berbeda dengan yang dulu. Jangan libatkan perasaan pribadimu dalam kasus ini, Aomine."
"Saya tahu," sahut pria berkulit gelap itu, membalas tatapan yang penuh arti dari balik kacamata tersebut.
"Kita semua tahu bahwa Seijuurou Akashi sudah mempertanggungjawabkan perbuatannya waktu itu dan kasusnya sudah selesai. Kau yang sekarang harus menghadapi teman-temanmu dengan lebih profesional."
Melihat gelagat sang atasan yang sepertinya akan membahas hal itu lebih lanjut, Aomine buru-buru bicara, "Bila Anda mengizinkan, Hyuuga-san, saya harus ke departemen pengarsipan sekarang."
Junpei Hyuuga membiarkan kepala divisi baru itu meninggalkan ruangan. Dia menghela napas. Mengeluh dalam hati, mengapa setiap penunjukan kepala divisi investigasi yang baru selalu ada masalah. Dahulu Shoichi Imayoshi juga terkena skandal—yang terjadi karena kesalahpahaman sebetulnya, tapi tetap saja mencoreng nama kepolisian. Imayoshi sekarang ditempatkannya di barisan belakang kepolisian, mengurusi lemari-lemari penuh arsip berdebu, sementara bawahannya, Aomine menggantikannya sebagai kepala divisi.
Daiki Aomine meninggalkan kantor kepala polisi dengan pikiran yang lebih sibuk dari sebelum ia datang. Di lorong menuju departemen pengarsipan, seseorang memanggilnya.
Tidak cukup satu kali, karena Aomine tidak langsung menoleh. Saat disadarinya siapa orang itu, dia naik pitam.
"Aku bisa mendengarmu, Kagami! Jangan berteriak," serunya, berhenti berjalan.
Kagami tiba di dekatnya dan berujar, "Kuroko ingin bertemu denganmu."
Aomine mengalihkan pandangannya dan baru menyadari keberadaan sosok yang lebih pendek di samping si detektif. Ekspresinya berubah.
"Hei, Tetsu! Ke mana saja kau selama ini?" Aomine merangkul kawan lamanya itu.
"Aku di Tokyo saja," sahut Kuroko, membalas rangkulan itu. "Sama denganmu, Midorima-kun, dan Murasakibara-kun. Tapi lucunya kita tidak saling bertemu selama tujuh tahun." Dia mengamati Aomine dan tersenyum kecil. "Kau tidak banyak berubah, Aomine-kun. Kudengar kau jadi kepala divisi sekarang?"
Aomine mengusap bagian belakang kepalanya. "Yah, begitulah, Tetsu... Kau sendiri, kalau tidak salah kau menjadi guru TK?"
Kuroko mengangguk.
Kagami nyengir sedikit dan berkata, "Aku akan menemui kepala polisi sebentar, kalau begitu..."
"Baiklah, Kagami-kun."
"Tentunya kau tahu letak kantornya, 'kan?" seringai Aomine jahil. Kagami, sambil berjalan, menyahuti bahwa dia tahu.
"Bakagami itu berulang kali tersasar dalam gedung ini di awal karirnya, tahu," ujar Aomine pada Kuroko. "Dia tidak terlalu pandai membaca huruf kanji, kau tahu, 'kan? Kau teman dekatnya..." tiba-tiba Aomine merasakan deja vu. Dia tercenung. Kalimat itu sering terdengar akhir-akhir ini...
"Kagami-kun memang orang yang baik tapi... eh, kau kenapa, Aomine-kun?"
"Tidak, aku baik-baik saja. Apa kau sudah bertemu Kise dan Akashi?"
Kuroko menggeleng. "Mereka berdua tidak membalas pesanku. Tapi mestinya mereka juga sudah ada di Tokyo. Meskipun reuni kita dibatalkan."
Polisi itu tahu ke mana arah pembicaraan Kuroko. Sebelum kecanggungan mulai terasa, Aomine mengusulkan agar mereka mengobrol secara pribadi di kantor kepala divisi investigasi. Nanti saja ke divisi pengarsipannya.
Dalam perjalanan ke ruangannya, seseorang memanggilnya sekali lagi—bukan 'Ahomineee' seperti Kagami tadi, tapi...
"Dai-chan~"
Suara yang familier dan menyebalkan. Biasanya Aomine akan melakukan pivot secara otomatis dan berteriak pada Momoi untuk berhenti memanggilnya seperti itu, tapi tumitnya sedang sakit karena kebanyakan berjalan akhir-akhir ini. Jadi, alih-alih berputar seratus delapan puluh derajat tanpa bola basket di tangannya, Aomine berbisik pada Kuroko,
"Peluk aku, Tetsu."
Kuroko mendongak kaget. "Apa...?"
Celaka. Perempuan itu semakin mendekat. "Dai-chan... Malam ini kau pulang atau tidak?"
Aomine menarik tangan Kuroko dan menempatkannya di pinggangnya sendiri. Dirangkulnya bahu kawan lamanya itu sambil menoleh pada tamu tak diundang itu.
Satsuki Momoi berhenti melangkah dan melongo terhadap pemandangan di depannya. "Tetsu-kun..."
"Eh... Lama tak jumpa, Momoi-san."
Reporter berambut merah muda itu mengerjapkan mata, tampak kaget sekaligus senang melihat Kuroko ada di situ. Tapi saat pandangannya beralih pada Aomine, ada sesuatu yang lain...
"Aomine-kun?" gumam wanita itu dengan bento di tangan. Dia hanya memanggil 'Dai-chan' bila mereka hanya berdua, dan tadi dia tak menyadari keberadaan Kuroko dari jauh.
"Aku menginap di kantor lagi nanti malam," ujar Aomine cuek. "Pulanglah dan jangan pedulikan aku lagi, Momoi. Aku sudah punya pacar."
Pria tinggi berambut navy blue itu menarik Kuroko semakin mendekat, dan Momoi yang tercengang sekarang jadi tersinggung. Disurukkannya bento itu dengan kasar ke tangan Kuroko dan digebuknya Aomine dengan tas tangannya.
"BODOH!"
Momoi melakukan pivot dengan sangat anggun sebelum berderap pergi.
.
.
.
.
"Kau seharusnya tidak berbuat begitu, Aomine-kun."
"Jangan menguliahi aku, Tetsu."
Meski berkata begitu, tampak sedikit penyesalan di wajah polisi berusia dua puluh enam tahun itu.
"Kau harus minta maaf padanya."
"Yah, nanti."
Kuroko menatapnya.
Dua cangkir teh panas mengepul beserta sebuah bento terbuka di depan meja di hadapan keduanya.
"Aku berjanji, Tetsu. Aku akan menemuinya malam ini dan minta maaf."
"Dan menjelaskan yang sebenarnya, oke?" tegas Kuroko.
"Oke, oke," gerutu Aomine. "Kita di sini bukan untuk membicarakan Momoi."
Kuroko diam sebentar dan berkonsentrasi pada minumannya yang masih sangat panas. Dia jugalah yang memecahkan keheningan selanjutnya.
"Bagaimana soal Midorima-kun dan Murasakibara-kun?"
"Keduanya akan dimakamkan besok pagi."
"Di taman pemakaman yang sama?"
Aomine mengangguk. "Keluarga mereka setuju untuk itu. Oh, iya. Aku belum memberitahukan hal ini pada Akashi dan Kise." Dia berdiri dan mengambil ponselnya di meja dekat mesin pembuat teh.
Terdengar bunyi gesekan kertas di belakangnya dan Aomine menoleh. Kuroko sedang membuka bungkusan gula batu.
"Aku suka teh yang lebih manis," papar Kuroko.
"Kau membawanya sendiri?" gumam Aomine sambil mengetik pesan.
"Ya. Tidak semua orang suka banyak gula."
Aomine masih mengetik lalu mencari daftar nomor telepon di ponselnya. "Hati-hatilah, Tetsu. Zaman sekarang banyak orang muda terkena diabetes."
"Terima kasih untuk peringatannya, Aomine-kun."
.
.
.
.
Satsuki Momoi membanting pintu apartemennya, melepas sepatu botnya asal-asalan, melempar tas tangannya ke sofa, dan mengempaskan diri di ranjang tanpa membuka mantel musim dinginnya.
Perempuan itu menangis.
"Dai-chan bodoh..."
Dia sempat merasa khawatir pada pria bodoh seperti Aomine. Sekarang dirinya yang bodoh, bukan?
Reporter itu tertawa sendiri di balik bantal. Sekarang, cinta pertamanya berpacaran dengan orang yang sedang dicintainya? Ironis sekali. Apalagi mereka sama-sama laki-laki. Apa sih, yang mereka pikirkan?
Momoi bangkit dari tempat tidurnya dan mengambil tisu untuk membersit hidung.
Indera penciumannya itu mulai mengeluarkan banyak sekret.
Oh, parah sekali. Menangis selalu membuat rhinitis alerginya kambuh. Atau itu karena dia baru saja pergi keluar saat salju turun?
Setelah menyalakan penghangat ruangan dan menghabiskan banyak tisu, Momoi yakin bahwa alerginya sedang kumat karena hawa dingin. Dia pergi ke rak obat dan mencari obat semprot hidung. Saat tidak menemukannya, Momoi merasa kesal kembali.
Nasal spray-nya ada di kamar Aomine. Minggu lalu ia menginap di sana saat hay fever itu kambuh—saat itu Aomine panik sekali. Oh, betapa Momoi merindukan masa-masa sekolah dan kuliah dulu ketika dirinya dan Aomine bisa berangkat ke tempat yang sama setiap pagi dan pulang bersama juga sore harinya. Sekarang pria itu hampir tak pernah kelihatan batang hidungnya lantaran jam terbang mereka berbeda, dan kalaupun bertemu pasti mukanya sudah tak karuan karena lelah.
Momoi mengambil kunci cadangan dari gantungan dan bergegas pergi ke kamar di sebelahnya, kamar Aomine. Ia menemukan obatnya dan langsung keluar lagi setelah mengunci kembali kamar yang agak pengap itu.
Di luar hampir gelap. Matahari memang lebih cepat terbenam saat musim dingin.
Di kamarnya sendiri, Momoi merasa kesepian dan sakit hati. Hampir tanpa berpikir, disemprotkannya ipratropium sekuat tenaga ke dalam lubang hidungnya.
Saat itu, sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya.
Dari Daiki Aomine.
Maafkan aku soal yang tadi. Aku akan jelaskan besok. Kau akan datang ke pemakaman Midorima dan Murasakibara, 'kan?
P.S. Kalau kau butuh nasal spray, belilah yang baru di apotek. Milikmu kuhilangkan beberapa hari yang lalu.
Momoi langsung menghapus pesan itu. Bohong! Lalu memangnya apa benda di tangannya ini sekarang...?
Mendadak, kamar itu terasa sangat dingin.
Benda apa di tangannya sekarang? Botol nasal spray-nya yang biasa.
Tapi isinya... benarkah itu tadi bau almond?
Momoi tak dapat berpikir lagi karena tak sampai semenit kemudian seluruh pembuluh darah di tubuhnya kehabisan oksigen.
.
.
.
to be continued.
.
Author's Note.
.
Update setelah sebulan... Gomen. Banyak agenda akhir-akhir ini =,='
Terima kasih sudah membaca! Terlebih bagi yang sudah me-review, follow, dan fave. Tanggapan pembaca akan membuat penulis berkembang n_n
Biarkan Roux tahu pendapat kalian tentang cerita ini~
Akhir kata,
Selamat (menjelang) hari raya Nyepi Tahun Baru Saka 1938 bagi yang merayakan... :)
.
8 Maret 2016.
