Author's Note:
Update yang lebih cepat :D yeay!
Terima kasih untuk semua yang sudah membaca~ Juga untuk semua bentuk feedback yang sangat bermakna bagi penulis :)
Selamat membaca!
/16.03.2016/
.
.
.
Kuroko no Basuke (c) Tadatoshi Fujimaki
.
By Means of a Miracle (c) Roux Marlet
Mystery/Crime, Friendship
Future Alternate Reality, Minor Original Characters, Characters' Death
.
Chapter 4: Dry as a Bone
.
.
.
"Monster Akademi Touou..."
"Dengan tubuh sekurus itu, energinya seperti tak ada habisnya!"
"Seperti apapun hebatnya, dia hanyalah manusia yang pandai main basket," ujar Kagami. "Aku tak peduli dia salah satu Generation of Miracles. Aku hanya ingin menang!"
"Daiki Aomine tidak semudah itu dikalahkan, Kagami-kun," ujar Kuroko. "Dia selalu bilang bahwa 'Yang bisa mengalahkanku, hanya aku'."
.
.
.
.
Aomine mengerutkan dahi sambil menutup pintu. Dia sudah mengirim pesan pada Momoi sejak enam jam yang lalu, tapi wanita itu belum membalasnya sampai sekarang. Sepertinya kali ini, Satsuki Momoi benar-benar murka. Aomine memang harus menemuinya malam ini.
Tapi dia punya banyak hal untuk dipikirkan dan didiskusikan dengan Detektif Kagami sekarang. Kali ini dia yang menunggu, karena Taiga Kagami masih pergi berbelanja sayur-mayur.
Tak terlihat dari tampangnya, pria berambut merah itu ternyata jago memasak. Makanya selama ini dia bisa hidup mandiri tanpa pernah kekurangan gizi.
Aomine mengambil segelas air lalu minum. Sejak sore, mulutnya terasa sangat kering. Apakah dia mulai kecapekan? Atau ada monosodium glutamate dalam isi bento buatan Momoi tadi? Sebuah ide jahil terlintas di benaknya untuk memeriksakan sisa bento itu ke lab forensik.
Pria berkulit gelap itu melakukan skrining pada ponselnya, mengecek apakah ada pesan yang belum terbaca. Akashi bersedia hadir di pemakaman kedua rekan mereka yang sudah meninggal, besok. Kise belum membalas. Mungkin dia ada jadwal penerbangan besok dan merasa tidak enak jika menyampaikannya pada Aomine.
Kuroko tentu saja datang. Aomine akan menjemputnya pagi-pagi karena letak pemakaman itu cukup jauh dari rumah Kuroko yang tidak memiliki alat transportasi.
Dua buah ketukan yang sopan terdengar di pintu kantor kepala divisi investigasi itu, dan Aomine yakin yang datang pasti bukan Kagami.
Benar saja. Ryou Sakurai yang masuk lalu menutup pintu dengan perlahan.
"Ini salinan laporannya, Aomine-san."
Aomine menerima berkas itu dan membacanya.
"Kau sudah menyerahkannya ke meja Pak Kepala?"
Bawahannya itu mengangguk. Aomine melirik jam dinding dan menarik napas lega. Belum pukul sembilan malam. Junpei Hyuuga tidak akan memarahinya.
"Kau boleh pergi, Sakurai. Terima kasih."
Sakurai belum bergerak dari posisinya. "Saya ingin bertanya sedikit, Aomine-san... jika Anda tidak keberatan."
Sepasang bola berwarna biru gelap menatapnya tajam. "Tergantung dari apa pertanyaanmu."
Lawan bicaranya menelan ludah.
"Tetsuya Kuroko... siapa dia sebetulnya?"
Pertanyaan itu tak terduga dan untuk sesaat Aomine tak tahu harus menjawab apa.
"Kalau Anda keberatan menjawab—"
"Kenapa kau bertanya begitu?" potong Aomine, merasa perlu waspada.
Wajah Sakurai memerah sedikit. "Saya melihat kejadian tadi sore. Tamu Anda itu..."
Seketika saraf Aomine merileks. Dilambaikannya tangan.
"Lupakan apa yang kau lihat. Kuroko hanya teman lamaku."
Aneh, Aomine merasa wajahnya memanas.
Sakurai berceletuk dengan geli, "Teman lama?"
"Jangan berani mengejek atasanmu, Sakurai," tegas Aomine. "Dia salah satu dari Generation of Miracles, kalau kau pernah dengar. Sekarang kembalilah ke pekerjaanmu."
"Generation of Miracles, ya..."
Saat itu ketukan kasar dan berulang-ulang terdengar di pintu.
"Masuklah, Bakagami."
Sakurai cepat-cepat pergi saat Kagami masuk ke ruangan itu.
"Kau panggil aku apa, tadi?" gerutu si detektif.
"Duduklah. Banyak yang harus kudiskusikan..."
"Kau habis menerima tamu?" tanya Kagami, mendapati dua gelas kaca dengan sisa teh di dalamnya.
"Begitulah."
Aomine membuat segelas teh untuk detektif itu dan menuang kembali teh baru dalam gelasnya. Disingkirkannya gelas Kuroko.
"Tetsu dan aku mengobrol cukup lama di sini tadi, dan kau lupa untuk mengantarnya pulang. Akhirnya dia pesan taksi. Malang sekali dia."
Kagami menepuk dahinya sendiri. "Aku lupa aku datang ke sini bersama Kuroko! Astaga..."
"Dia sudah tiba di rumahnya sejam yang lalu," ujar Aomine. "Sekarang, aku mau bilang bahwa... Midorima benar-benar diracun orang. Dia tidak punya asma atau penyakit saraf, dan tidak baru saja menjalani operasi—pendek kata, dia tidak sedang memerlukan obat antikolinergik."
"Tapi ditemukan atropine dalam darahnya?"
Sang polisi mengangguk dan menelan ludah. Parasnya tampak gelisah. Dia minum lagi tehnya sedikit.
"Dari kadarnya, sebenarnya dia hanya diberi sejumlah kecil atropine. Tapi dalam bentuk apa zat itu masuk, belum dapat dipastikan."
Aomine meneguk tehnya lagi. Dia lalu berdiri dan mengambil gelas lain dan menuang air mineral.
"Bagaimana dengan Murasakibara?" tanya Kagami sambil mengamati tindak-tanduk Aomine yang agak janggal.
"Sejumlah besar benztropine ditemukan di darahnya," ujar Aomine, kembali duduk. "Turunan atropine. Efeknya hampir sama—'blind as a bat' dan 'mad as a hatter'. Kau tahu, Mad Hatter, tokoh dalam dongeng Alice."
"Bisakah pakai bahasa Jepang saja?"
Aomine mencibir. "Midorima mengalami midriasis—pupil matanya melebar dan pandangannya kabur. Murasakibara mengalami agitasi—halusinasi atau entah apa yang membuatnya sangat bersemangat."
Kagami menaikkan sebelah alis. "Dua-duanya diracun? Jadi Murasakibara bukan menari jingkrak-jingkrak di dapurnya tanpa sebab?"
"Sisa benztropine ditemukan di saringan pembuangan wastafel dapurnya," lanjut Aomine sambil mengangguk. "Zat itu tadinya pasti ada dalam salah satu perkakas makan yang sudah dicuci, dan di sana ada puluhan alat seperti itu. Sebagian besar hangus terbakar. Tim forensik masih berusaha."
"Karyawannya sendirikah pelakunya?" gumam Kagami. "Tersangkanya ada banyak, kalau begitu."
"Demikian pula kasus Midorima. Siapapun di pesta itu bisa meracuninya..."
Kagami mencatat dan memikirkannya dengan serius. Sementara itu, Aomine mengisi ulang gelasnya dengan air mineral.
"Aomine... aku tidak terlalu paham obat-obatan, jadi, jelaskan padaku apa itu antikolinergik."
Aomine mendengus sembari mengucek matanya lalu menguap sebelum berkata, "Kau tidak berubah sejak dari akademi. Makanya kau tidak diterima masuk kepolisian, dasar pemalas."
"Hei. Begini-begini, aku sudah banyak membantu kalian dua tahun terakhir."
Air mineral itu diminum. Karena perkataan Kagami memang sesuai kenyataan, Aomine akhirnya menjelaskan secara singkat lalu menambahkan, "Kalau kau mau menggunakan memorimu, hal ini ada di kuliah toksikologi forensik semester tiga. Ada lima jembatan keledai untuk menghapalkan efek antikolinergik." Dia berdiri lagi dan mendekati dispenser.
"Ada lima efek? Dan sudah ada dua kasus," gumam Kagami. "Apakah akan ada lagi...?" Dia mengerling sekilas pada si polisi. "Kau tahu apa yang kupikirkan, Ahomine?"
"Hm? Apakah itu penting?"
Kagami mengamati lawan bicaranya yang rupanya sedang fokus pada sesuatu sampai tidak sadar akan nama julukan barusan.
Plak!
Aomine menepuk seekor nyamuk yang berani menempel di tangannya. Saat itu dia baru menyadari bahwa kulit tangannya sangat kering. Digoreskannya kuku jari kelingking sepanjang tulang hasta, dan tertinggal bekas garis putih di sana.
"Generation of Miracles..." gumam Detektif Kagami.
Aomine meraih kembali gelasnya. "Kau tidak berpikiran..."
"Sepertinya pelakunya orang yang cukup nyentrik, bukan?" ujar sang detektif.
Daiki Aomine tertegun. Dia mengerti apa yang dimaksud Kagami.
"Blind as a bat, mad as a hatter... lalu hot as a pistol, red as a beet..." Kagami coba mengingat-ingat. "Satu lagi, apa ya?"
Aomine menyadari sesuatu yang lain. Dari tadi pandangannya kabur dan dikiranya itu karena kantuk. Dari tadi juga dia merasa melihat bayangan orang padahal di ruangan itu hanya ada dirinya dan Kagami—dan dia tidak percaya hantu itu nyata, terlebih setelah kemunculan Kuroko yang berlatih basket malam-malam di Teiko waktu itu.
Tapi yang paling jelas terasa dan terlihat...
"Dry as a bone," si polisi bergumam, meletakkan gelasnya dengan gerakan lambat... tiba-tiba dia merasa lemas.
Kagami bicara pada diri sendiri. "Ah, ya. Itu dia. Kering seperti..."
Daiki Aomine berbalik pada Detektif Kagami dan masih sempat berujar,
"Panggil ambulans—"
—sebelum polisi itu ambruk menabrak meja, dan gelas air mineralnya pecah berkeping-keping di lantai di samping kepalanya diiringi teriakan Kagami.
.
.
.
.
"Permisi."
Suara bernada absolut itu sukses membuat orang-orang menyingkir dari jalan. Pria muda berambut merah menyala itu tampak rapi dalam setelan hitam. Sepasang iris heterokromnya tampak mencari-cari.
Di seberang lubang galian itu, tampak keluarga besar Murasakibara yang berduka. Agak di sampingnya adalah orang tua Midorima dan adik perempuannya.
"Akashicchi," bisik seseorang.
Akashi melirik cepat dan menyadari kehadiran Ryouta Kise yang juga mengenakan setelan hitam—dan kacamata hitam.
"Ryouta," balas Akashi. "Mana yang lain?"
"Aku belum lihat Kurokocchi dan Aominecchi. Mungkin mereka terlambat?"
"Setahuku Tetsuya tidak pernah terlambat. Lagipula, Daiki yang memberi tahuku jadwal pemakaman ini. Masa dia malah tidak datang tepat waktu?"
Kise mengangkat bahu dan membenarkan kacamatanya dengan penuh gaya.
"Kau masih sok jadi model," sindir Akashi, melihat jam tangannya. Pukul sembilan pagi, tanggal sembilan Januari.
"Begini-begini para pramugari Haneda menyukaiku, lho," Kise menyombongkan diri. "Tapi mereka semua membosankan."
Akashi tidak menanggapinya karena keluarga jenazah mulai berdoa.
Beberapa saat kemudian, dua peti itu sudah terkubur dalam tanah untuk selamanya. Dua bintang Generation of Miracles yang tidak akan lagi bersinar, sudah berpulang ke rumah penciptanya...
.
.
Upacara pemakaman sudah selesai, dan sebagian orang pulang dalam diam. Akashi dan Kise masih tinggal.
Ternyata Kuroko ada di sana juga, di dekat keluarga Midorima. Mereka berdua tidak melihatnya tadi.
"Terima kasih atas dukunganmu selama ini, Kuroko-san..."
Kuroko kemudian berpamitan dengan keluarga Murasakibara lalu mendapati Akashi menyampaikan belasungkawa pada orang tua Midorima. Kise juga demikian.
Suasana duka dan muram masih meliputi ketiga kawan lama itu sampai mereka berjalan agak jauh.
"Jadi," ujar Kise, mencoba mencairkan suasana, "di mana Aominecchi?"
Kuroko tidak langsung menjawab meski sadar pertanyaan itu ditujukan kepadanya. Pemuda berambut biru langit itu menengok sebentar ke belakang sebelum menyahut,
"Ayo ke Maji Burger. Kita bicara di sana saja, Kise-kun, Akashi-kun."
.
.
.
.
"Empat kematian dalam dua hari... Apa yang akan dikatakan penduduk Tokyo?"
Sembilan Januari, pukul sembilan pagi. Junpei Hyuuga berkeliaran dalam kantornya sementara Detektif Taiga Kagami duduk di sofa dengan pose malas.
"Dan salah satunya adalah agen polisi!" keluh Hyuuga lagi. "Aku tidak bisa tinggal diam..."
"Tenanglah, Hyuuga-san. Tim investigasi yang dipimpin Ryou Sakurai sudah bergerak sejak semalam."
"Kau sendiri, bisa-bisanya kau duduk dengan tenang begitu?! Empat kematian dengan racun, dan kau belum bisa menangkap pelaku-pelakunya?"
"Belum," aku Kagami dengan berat hati. "Tapi aku mulai bisa membaca kasusnya."
Figur berkacamata duduk di kursi dan menghela napas.
"Bagaimana menurut Anda sendiri, Hyuuga-san?"
Helaan napas lagi sebelum Hyuuga menyahut, "Tadinya kukira pelakunya satu orang—yang meracuni Midorima dan Murasakibara. Karena setahuku tidak ada yang menyimpan dendam terhadap si dokter, apalagi si pemilik toko pastry—sejauh penyelidikan dari profesi dan pekerjaan mereka. Dokter Midorima tidak pernah melakukan malpraktik, izin-izinnya bersih, dan pasiennya tidak pernah dikecewakan. Chef Murasakibara selalu membayar pajak tokonya tepat waktu dan kadang memberikan diskon produk. Keduanya belum ada yang menikah dan relasi mereka dengan keluarga baik-baik saja. Jadi ini mestinya berhubungan dengan masa lalu mereka—semasa studi?"
"Ya, tapi kematian Satsuki Momoi si reporter mematahkan dugaan itu. Pelakunya bisa lebih dari satu. Banyak yang dendam pada reporter. Dan kudengar hubungan Momoi dengan pihak televisi sedang kurang baik. Apakah kematian Momoi hanya kebetulan terjadi bersamaan dengan tiga kasus lainnya?"
"Tapi Satsuki Momoi adalah manajer tim mereka waktu itu," sanggah Hyuuga, memberi penekanan penuh arti. "Dia ada hubungannya."
"Jadi Anda setuju bahwa ini adalah pembunuhan berantai yang mengincar Generation of Miracles dan semua yang berhubungan dengan mereka?"
"Itu bisa saja terjadi."
"Lalu apa kira-kira motifnya?"
"Adalah tugasmu untuk menyelidiki," ujar Hyuuga memaparkan idealismenya. "Divisi investigasi dan forensik kepolisian bertugas menyelidiki bukti fisik."
Kagami tidak membantah meski sebenarnya tak setuju. "Tapi Generation of Miracles sudah bubar sepuluh tahun yang lalu, sejak semua anggotanya masuk SMA yang berbeda. Dan kalau mau menilik ke belakang, ada banyak orang yang termasukberhubungan dengan masing-masing anggota. Kazunari Takao dan mantan tim basket Shuutoku, salah satunya. Juga... aku dan mantan tim basket Seirin."
"Tentang para alumni Shuutoku, sebagian besar dari mereka sekarang menjadi sarjana kimia maupun farmasi. Mungkin kau perlu menyelidiki mereka karena modus operandi kasus-kasus ini jelas-jelas berhubungan dengan racun."
"Itu terlalu dicari-cari," bantah Kagami. "Pengetahuan tentang obat antikolinergik bisa didapat di manapun sekarang ini."
Junpei Hyuuga tampak seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi mengurungkan niat itu.
Kagami membisu, merenungi catatannya. Apa yang membuatnya merasa aneh di sini? Ya, semalam dia syok karena Aomine pingsan tepat di depan hidungnya. Ambulans datang dengan cepat. Tapi beberapa saat setelah tiba di Unit Gawat Darurat, Daiki Aomine meninggal. Pertolongan tak sempat diberikan.
Tim forensik bekerja dengan cepat dan menemukan sedikit atropine di sampel cairan lambung Aomine dan lebih banyak lagi di darahnya, jumlah yang cukup untuk menewaskannya—masuknya obat itu diduga tak lebih dari enam jam sebelumnya.
Dry as a bone...
Persis seperti itu kondisi Aomine ketika nyawanya terpisah dari tubuhnya. Jalur sekresi cairan apapun terhambat, dia tak berkeringat, bibir dan kelopak matanya sangat kering.
Fakta bahwa kepala divisi pengarsipan yang sekarang, Shoichi Imayoshi, yang dulunya adalah kepala divisi investigasi sebelum Aomine, sempat berbincang dengan polisi berambut biru itu setelah Kuroko pulang semalam juga dicatat dalam buku Kagami. Sudah jadi rahasia umum bahwa menggeluti divisi pengarsipan adalah pekerjaan yang paling tidak disukai di kalangan polisi, dan dari selentingan sana-sini di antara petugas polisi Kagami tahu bahwa Imayoshi dipindahkan ke sana karena kesalahpahaman dalam salah satu tindakan investigasi oleh Aomine. Dendamkah Imayoshi pada bawahannya itu? Polisi pun patut dicurigai—mereka 'kan juga manusia biasa. Dahulu Momoi juga termasuk jajaran media yang pertama meliput berita kasus Imayoshi; apakah dendam terhadap reporter media cukup kuat menjadi motif pembunuhan? Tapi apa hubungannya dengan kematian Midorima dan Murasakibara yang tidak pernah bertemu dengan Imayoshi? Apa motifnya kalau memang Imayoshi pelakunya?
Dan Tetsuya Kuroko sendiri, si guru TK yang sedang rehat karena masa libur sekolah, juga ada di kantor Aomine pada waktu yang kira-kira tepat. Dia dan Kagami sendiri bertemu Murasakibara siang hari sebelum sang pastry chef meninggal. Tapi bagaimana kasus Midorima dan Momoi? Dari tadi ponsel Kuroko tidak aktif ketika dihubungi. Apa pula motifnya kalau Kuroko pelakunya? Kagami tidak sering bertemu kawan SMA-nya itu selama setahun belakangan dan dia berusaha menyingkirkan perasaan subyektivitas jauh-jauh.
Semakin panjang daftar nama yang alibinya harus diperiksa oleh Kagami, dan detektif itu merasa perlu untuk mampir ke lapangan basket sebentar.
.
.
.
.
Kise membekap mulutnya, tak percaya.
"Aominecchi..."
Akashi bergeming dan menatap Kuroko yang sedang meminum vanilla shake pesanannya. Air jeruk pesanan Kise dan air mineral pesanan Akashi belum tersentuh.
"Padahal aku belum bertemu dengannya selama ini-ssu... kenapa dia harus pergi secepat itu?"
"Tiga teman kita mati berturut-turut, dan aku sedang berpikir siapa yang akan mati berikutnya."
"Akashicchi! Kenapa bicara semengerikan itu-ssu?"
"Aku serius, Ryouta. Di sinilah kita, dalam reuni setengah anggota Generation of Miracles dengan burger dan milkshake. Sungguh luar biasa," ujar Akashi sarkastis.
"Sebenarnya kita bisa reuni meski hanya berlima malam itu, Akashi-kun," ujar Kuroko. "Kalian tidak ada yang menanggapi pesanku. Murasakibara-kun sudah menyiapkan makanan untuk malam itu. Dan ternyata malam itu juga..."
"Aku tidak bersedia memenuhi undangan reuni tanpa wakilku," bantah Akashi, bicara tentang Midorima.
Mereka bertiga terdiam, atmosfer ketegangan mulai meliputi. Kuroko bicara lagi.
"Ngomong-ngomong, aku dan Murasakibara-kun bertemu Haizaki-san siang harinya."
Ekspresi Akashi berubah. "Shougo Haizaki? Si sialan itu?"
Kise melirik kedua temannya dengan gelisah. "Kenapa dia masih ada di Tokyo-ssu?"
"Kenapa Atsushi masih berhubungan dengan maksiat itu?"
Kuroko tidak tahu jawabannya. Ia menggeleng, sinar matanya tampak khawatir.
"Ryouta, Tetsuya," Akashi berkata dengan serius, "jaga diri kalian baik-baik."
.
.
.
.
"Moshi-moshi. Ah, Kagami-kun."
"Kuroko! Aku meneleponmu dari tadi. Kenapa baru kauangkat?"
"Aku baru pulang dari pemakaman Midorima-kun dan Murasakibara-kun. Kau tidak sempat pergi, ya?"
"Tidak. Banyak hal yang harus diurus di kepolisian. Kau tahu, ternyata Satsuki Momoi juga meninggal—kemarin sore."
Kuroko terdiam dan berhenti berjalan. Perjalanannya ke rumah masih cukup jauh—satu blok lagi—karena ia harus berjalan pelan-pelan, tapi ia lalu berbalik kembali ke arah Maji Burger.
Satsuki Momoi, meninggal...? Padahal belum ada dua puluh empat jam sejak ia dan Aomine bertemu dengannya di kantor polisi dan timbul sedikit drama... Apa dia bunuh diri gara-gara kebohongan Aomine yang kelewat batas? Mana mungkin... Tapi Kuroko bisa melihat bahwa wanita itu memang mencintai si polisi. Ada yang tak beres.
Sama seperti Aomine sendiri—seolah Kuroko adalah orang terakhir yang bicara dengannya semalam. Tapi tidak, karena Kagami ada di sana saat Aomine pingsan dan itu terjadi jauh sesudah Kuroko pulang.
Tadi pagi Kuroko cukup terkejut karena Kagami yang menjawab teleponnya yang kesekian kali ke nomor Aomine—suaranya terdengar panik dan dari situlah Kuroko tahu apa yang terjadi pada si polisi. Kagami tidak mau memberikan detail dan karenanya Kuroko tetap pada rencananya semula, pergi ke pemakaman—naik taksi.
"Kuroko?"
Pria muda berambut biru langit itu tak langsung menjawab, ia malah menoleh ke belakang. Rasanya ada suara barusan...? Sepasang manik biru langit mencari-cari tapi tidak ada siapa pun di sana.
Akhirnya Kuroko buka suara dengan berdebar-debar. "Kagami-kun..."
"Ya?"
"Bolehkah aku menginap di apartemenmu?" Ada getaran dalam suara pemuda bertubuh kecil itu.
Jeda sejenak sebelum Kagami menjawab,
"Tentu saja. Aku baru mau mengusulkannya padamu."
"Baiklah. Terima kasih, Kagami-kun. Kau masih di kantor polisi? Oh, di lapangan basket dekat situ. Aku akan ke sana sekarang. Tak apa, aku naik bus saja."
Sambil memutus hubungan telepon, Kuroko merasa ada yang tengah mengawasinya...
.
.
"Kuroko-sensei!"
Tetsuya Kuroko yang baru turun dari bus terlonjak kaget dan buru-buru menoleh.
Seorang anak perempuan berusia kira-kira lima tahun melambaikan tangan mungilnya dengan bersemangat. Ia digandeng oleh seorang wanita yang tampaknya adalah ibunya.
"Tomoe-chan..." sahut Kuroko, tersenyum selebar yang ia bisa. "Kau membuatku kaget." Dia mendekat dan membungkuk sekilas pada ibu Tomoe. Anak itu adalah salah satu muridnya dan ibu-anak itu nampaknya baru saja pulang dari toko serba ada.
"Berkat Anda, Tomoe sekarang bisa menghitung keping uang kembalian sendiri," ujar sang ibu sembari tersenyum. "Anda guru yang hebat, Kuroko-san."
"Terima kasih," sahut Kuroko, sebisa mungkin menutupi fakta bahwa jantungnya masih berdebar-debar. Kenapa sarafnya begitu tegang hari ini? Dia mengusap puncak kepala Tomoe yang dihiasi rambut hitam bergelombang. "Tomoe pintar! Kamu pasti bisa dapat nilai A lagi semester depan."
"Aku tidak sabar mulai sekolah lagi!" Tomoe melompat-lompat senang. "Sampai ketemu bulan Februari, Sensei!"
"Ya. Da-dah, Tomoe-chan..." sahut Kuroko sementara Tomoe dan ibunya berjalan pulang.
Guru yang hebat, ya... Kuroko merasa pernah mendengar perkataan senada, bertahun silam. Bukankah sekarang dia sudah mencapai apa yang dicita-citakannya?
Dia teringat teman-teman SMP-nya yang juga meraih impian masing-masing. Dan impian itu terhempas begitu saja oleh kematian.
Hidup memang tak terduga.
Kuroko mempercepat langkahnya menuju lapangan basket.
.
.
.
.
Ryou Sakurai agak kesulitan menghadapi orang satu ini. Shougo Haizaki, seorang akuntan. Bertampang preman dan berperilaku senada, tidak terlalu banyak yang bisa dikorek darinya.
Dia kenal Atsushi Murasakibara, tentu saja. Sejak SMP. Satu klub memasak di SMP Teiko. Dia juga kenal Seijuurou Akashi. Dia tahu siapa saja anggota Generation of Miracles karena dulu dia ingin menjadi bagian dari mereka dan ditolak mentah-mentah. Hanya sebatas itu pengakuannya.
Saat ditanya apakah dia sakit hati perkara penolakan tim basket Teiko yang begitu tenar di masa itu, Haizaki menjawab sambil mencemooh.
"Sakit hati? Ooh... tentu saja! Mereka mengujiku dan kupikir aku lolos, tapi apa yang kudapat? Perkataan Akashi waktu itu seperti mengiris-iris perasaanku, dan kala itu aku berpikir, aku bisa saja membunuhnya di tempat. Tapi akal sehatku menang, dan aku sudah dewasa sekarang. Buat apa dendam demi hal sepele begitu?"
Tiba-tiba pertanyaan berbelok arah.
"Apakah Anda masih ingat kasus kematian putra pendeta kuil Shinto delapan tahun silam? Waktu itu Anda semua masih di bangku SMA dan Anda juga di SMA Yousen seperti Murasakibara-san."
Pria berambut kelabu itu mengibaskan tangan. "Ya, aku ingat. Aku heran Akashi tidak masuk penjara karena itu. Dia pasti menyuap hakimnya. Kenapa kau bertanya tentang itu? Orang-orang sudah lupa, beritanya tidak banyak tersebar."
"Menurut Anda kasusnya belum selesai?" pancing Sakurai yang tidak luput memerhatikan bahwa lawan bicaranya sempat berjengit sedikit seolah kaget ditanya mengenai topik itu.
Haizaki memicingkan mata. "Sudah selesai! Akashi membayar denda dalam jumlah besar lalu dia kabur ke Amerika. Begitu yang aku tahu. Teman-teman segengnya yang ajaib itu menutup-nutupi hal itu sebelum kasusnya ketahuan, tapi mereka tak bisa berbuat apa-apa setelah bukti dari laboratorium keluar."
Sakurai mengajukan beberapa pertanyaan lagi. Alibi Haizaki cukup kuat pada waktu kejadian keempat kasus yang baru terjadi, dan si polisi kembali ke topik sebelumnya.
"Tidak, aku tidak punya bayangan siapa yang berniat membunuh mereka dengan racun. Tapi aku berani bilang bahwa Generation of Miracles punya banyak musuh."
Haizaki tidak mau menyebutkan satu nama pun. Sakurai menyerah dan pamit.
.
.
.
.
Kagami membidik dan melemparkan bola berwarna oranye itu ke ring.
"Aku tidak mengerti maksudmu, Sakurai."
Di telinganya terpasang headset; dia sedang bicara dengan si polisi di telepon.
Bola itu masuk dengan mulus dan memantul rendah di tanah bersalju.
"Satsuki Momoi mati karena sianida dalam nasal spray*? Padahal benda itu sudah dipakainya selama sebulan terakhir?"
"Dilihat dari labelnya, iya. Seseorang mestinya telah memasukkan sianida ke dalamnya setelah pemakaiannya yang terakhir."
Suara Sakurai terdengar lelah di telinga Kagami. Si detektif merasa salut karena bawahan Aomine itu tetap menjalankan tugas-tugasnya dengan tabah—hanya dia yang tahu bahwa Sakurai menangis tadi malam, begitu mendengar kabar meninggalnya si kepala divisi investigasi. Dan Junpei Hyuuga tanpa perasaan mengirimnya untuk memimpin investigasi atas dua kematian yang terjadi di hari yang sama itu.
"Menurut tetangga apartemennya... Momoi-san dan Aomine-san sering saling menginap. Mungkin Aomine-san tahu sesuatu tentang nasal spray itu. Tidak ada lagi yang bisa dimintai keterangan."
Kagami ragu untuk menjawab. Bisa jadi kuncinya ada pada Aomine, tapi yang bersangkutan 'kan sudah meninggal juga. Sang detektif meraih bolanya dan melempar lagi.
"Kau sudah menyelidiki apotek tempat Momoi membeli obat semprotnya?"
"Sudah dan tidak ada yang mencurigakan. Lisensinya sah dan reputasi apotekernya baik-baik."
"Ada lagi yang penting untuk kuketahui?"
Jeda sebentar. "Alibi orang-orang. Semua orang yang kuselidiki hanya muncul di satu kasus saja. Sejauh nama yang kau berikan... hanya Tetsuya Kuroko yang ada di dua kasus."
"Aku akan menanyainya nanti," sahut Kagami singkat. "Jadi sementara, kasus Momoi belum bisa diselidiki lebih lanjut?"
"Ya."
"Siapa saja yang sudah diselidiki dalam kasus pertama?"
Sakurai menyebutkan nama empat orang alumni SMA Shuutoku dan dokter Nijimura, juga keluarga Midorima.
"Lalu, kasus kedua?"
"Shougo Haizaki, Tatsuya Himuro, Wei Liu, dan keluarga Murasakibara-san."
"Dan... kasus ketiga?"
"Shoichi Imayoshi dan keluarga Aomine-san."
"Kau sudah menyelidiki Imayoshi?" Kagami terkejut. "Padahal aku belum melihatmu di kantor polisi sejak pagi?!"
"Imayoshi-san tidak berangkat ke kantor hari ini. Ada saudaranya yang menikah. Aku sudah mewawancaranya."
Sakurai kedengaran sangat berbeban berat. Imayoshi 'kan dulu adalah atasannya sebelum Aomine...
"Apa yang dilakukan Imayoshi di kantor Aomine semalam?"
"Mereka tidak bicara di dalam kantor. Imayoshi-san hanya kebetulan lewat, dan mereka berbincang di ambang pintu. Saat itu Kuroko-san sudah pulang."
"Apa Imayoshi menceritakan hal yang mereka bicarakan itu?"
"Dia mengomentari kinerja Aomine-san yang menurutnya 'terlalu lamban'."
"Bagaimana reaksi Aomine?"
"Katanya, dia sudah berusaha semampunya, dan dia masih belum dapat beradaptasi dengan penunjukannya sebagai kepala divisi yang mendadak tiga bulan lalu. Imayoshi-san menilai bahwa Aomine-san sedang memikirkan hal lain saat itu karena dia tidak tampak tersinggung—padahal biasanya iya."
"Apa Imayoshi menyinggung alasan di balik pengangkatan Aomine sebagai kepala divisi investigasi?"
Sakurai terdiam cukup lama.
Kagami berhenti bermain bola dan duduk berjongkok. "Kau masih di situ, Sakurai?"
"Imayoshi-san mengatainya agak keras. Dia bilang..." terdengar suara gesekan kertas dari buku Sakurai sebelum ia mengutip, "'Percuma aku sudah berkorban sebegini jauh untuk bawahan selembek dirimu.'"
"Dia bilang begitu?" Kagami keheranan dan sementara itu nampak olehnya Kuroko berjalan di seberang lapangan basket. "Dia bukannya dipindah ke divisi pengarsipan oleh Hyuuga?"
"Kasus dahulu bukan kesalahan Imayoshi-san. Aomine-san yang tidak teliti dan menetapkan seorang kerabat dari keluarga kaisar sebagai tersangka dalam salah satu kasus pemerkosaan. Tuduhannya memang tidak terbukti, tapi nama orang yang bersangkutan terlanjur tercemar. Memang ada rehabilitasi nama baik namun mereka orang-orang yang punya kuasa di negara ini. Pihak kaisar menuntut kepolisian Tokyo karenanya, dan Imayoshi-san mengundurkan diri dari jabatan kepala divisi investigasi demi pertanggungjawaban itu..."
.
.
.
.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tiga sore dan Ryouta Kise masih mendekam di dalam kamarnya.
"Ryouta, bukankah kau bilang kau bertugas jam setengah empat?" seru seorang perempuan berambut pirang yang sedikit lebih tua dari balik pintu.
Putra bungsu keluarga Kise itu tidak menyahut. Sang kakak perempuan yang sudah mengenakan pakaian bepergian mengetuk pintu kamarnya.
"Ryouta..." Diketuknya lebih keras. "Kau bisa dipecat kalau terlambat! Sudah bagus aku mau mengantarmu ke Haneda meski jaraknya hanya lima belas menit dari sini!"
Tidak ada jawaban, dan perempuan itu berseru dengan kesal,
"Okaa-san... bantu aku membangunkan Ryouta!"
Suara seorang perempuan lain terdengar dari arah lantai satu. Sang kakak membuka pintu itu—rupanya tak terkunci.
"Ryouta!" gelegarnya penuh kemarahan melihat adiknya masih bergelung dalam selimut. Hanya rambut pirangnya yang terlihat menyembul dari balik kain itu. Pilot itu langsung pergi tidur setelah pulang dari pemakaman teman SMP-nya jam dua belas siang tadi.
"Bangun, pemalas! Ada pesawat terbang ke Hawaii yang harus kau kemudikan..."
Dia menarik selimut Ryouta dan mendapati pemuda itu tengah meringkuk, matanya terpejam dengan raut kesakitan.
"Ryouta!"
.
.
.
to be continued.
Catatan tambahan (18 Maret 2016):
*sianida dalam obat nasal spray sebagai metode pembunuhan diadaptasi dari novel Agatha Christie berjudul "The Mirror Crack'd from Side to Side". Botol obat biasanya berisi ipratropium bromida, suatu obat antikolinergik yang digunakan untuk meredakan gejala rhinitis alergi (hay fever) dan asma.
