Author's Note:
Pelampiasan penat pasca UTS /eh/ Akhirnya update /fiuh/
Mungkin Roux perlu menekankan tentang hubungan beberapa tokoh. Di cerita ini, hanya Kagami dan Kuroko yang sama-sama dari Seirin; hanya Generation of Miracles, Momoi, dan Haizaki yang adalah alumni Teiko;dan nggak ada anggota tim basket SMA lain yang berperan di masa ini dengan pengecualian pada SMA Shuutoku (Takao, dkk.) Jadi meskipun ada Nijimura, Hyuuga, Imayoshi, dll., mereka tidak ada hubungannya dengan masa lalu Tokoh-tokoh Utama karena tidak diceritakan.
Semoga tidak terlalu mengganggu ^^,,
.
Selamat membaca~
-6 April 2016-
.
.
.
"Norak sekali tingkahnya... apa dia benar-benar salah satu Generation of Miracles?"
"Dia itu model majalah gaya hidup, Zunon Boy, bukan sih?"
"Iya, yang itu. Dia rupanya jago main basket, ya. Banyak cewek naksir dia, kabarnya. Memang lumayan cakep, sih."
"Jangan tertipu dengan tampangnya," gerutu Kagami.
"Kau benar, Kagami-kun," sahut Kuroko di bangku cadangan. Hari itu, seorang pemain SMA Kaijou menyusup masuk gimnasium saat tim Seirin sedang latihan.
"Ryouta Kise adalah copycat yang berbahaya. Hati-hati atau gerakanmu akan ditirunya habis-habisan."
.
.
.
.
Kuroko no Basuke (c) Tadatoshi Fujimaki
.
By Means of a Miracle
by Roux Marlet
Mystery/Crime, Friendship
Future Alternate Reality, Minor Original Characters, Characters' Death
.
Chapter 5: Hot as a Pistol
.
.
.
Pemakaman Daiki Aomine berlangsung dengan sangat resmi pada sore hari tanggal sembilan Januari. Hanya keluarga dan beberapa rekan sekantor yang mengiringi kepergian sang polisi berdedikasi.
Junpei Hyuuga salah satunya. Ia memberi pidato singkat bahwa ia bangga memiliki bawahan seperti Aomine, dan tahu bahwa ia tidak salah memilih orang. Sang kepala polisi juga menegaskan bahwa kematian Daiki Aomine tidak sia-sia dan dia meninggal demi pengabdian kepada negara.
Orang tua Daiki, keduanya menangis. Daiki putra tunggal mereka yang pemalas dan sukanya baca majalah porno—tapi bagaimanapun mereka menyayanginya. Dahulu, saat pemuda itu menyampaikan bahwa dirinya lulus dari akademi kepolisian, mereka kaget dan awalnya tak merelakan Daiki menjadi polisi. Selama ini mereka mengira Daiki kuliah di universitas di luar Tokyo. Tak tahunya dia masuk asrama akpol dan pulang ke rumah membawa ijazah itu.
Setelah ini pun, mereka berdua masih akan menghadiri satu upacara pemakaman lagi, yakni untuk Satsuki Momoi. Keduanya juga turut berdukacita atas kematian sahabat Daiki sejak kecil itu.
Sementara mentari mulai terbenam di taman makam kepolisian Tokyo, beberapa tetes air mata mulai jatuh ke tanah bersalju dan Junpei Hyuuga berjalan pulang bersama calon istrinya, Riko Aida.
.
.
.
.
"Kenapa kau tidak pulang ke rumah orang tua dan nenekmu, Kuroko?"
"Aku tidak ingin membuat mereka cemas. Apa yang harus kukatakan kalau aku pulang? Aku mengontrak rumah sendiri karena ingin mandiri, lagipula letaknya dekat dengan TK-ku, Kagami-kun."
Sang detektif menghela napas berat.
"Maaf karena aku lupa janjiku lagi."
"Tidak masalah, Kagami-kun."
Tetsuya Kuroko diminta menunggu di kantor polisi untuk menemuinya sejak siang hari—setelah mereka bertemu di lapangan basket, dan yang dilakukan Kagami selanjutnya adalah menyibukkan diri di lab forensik sampai sore. Ia bahkan melewatkan upacara pemakaman Aomine. Penampilan sang detektif sangat kusut dan dia menggaruk kepala dengan frustrasi.
Kagami harus mewawancara Kuroko, tapi keadaannya tidak memungkinkan saat ini.
"Hrrgh. Baiklah, kuantar dulu kau ke apartemenku lalu kita makan. Tapi setelahnya aku harus pergi lagi."
Kuroko tampak enggan. "Aku... aku tidak mau sendirian, Kagami-kun."
Detektif berambut merah itu menaikkan sebelah alisnya yang bercabang. "Kenapa kau jadi paranoid...? Oh." Dia terdiam, lalu duduk di kursi panjang itu di sisi Kuroko. Pemuda berambut biru langit itu menatap lantai dengan pandangan sayu.
"Sesaat aku lupa kalau kau juga Generation of Miracles," ujar Kagami akhirnya. "Maaf."
"Tidak masalah, Kagami-kun. Aku berharap seseorang di luar sana juga lupa."
"Kenapa kau berkata begitu?"
"Aku tidak bodoh. Seseorang sedang mengincar kami. Dimulai dari Midorima-kun..." Kuroko berhenti sebentar. "Murasakibara-kun, lalu Aomine-kun... Tidak tahu kenapa Momoi-san terlibat... Aku bertemu Akashi-kun dan Kise-kun tadi pagi, dan kami sama-sama berpikir bahwa salah satu dari kami bertiga akan meninggal sebentar lagi."
"Jangan makan atau minum apapun dari orang asing," ujar Kagami, memberi nasihat yang sudah sangat dimengerti bahkan oleh anak kecil sekalipun. Seandainya Midorima masih hidup, dia akan menjawab, "Aku sudah tahu itu, nanodayo."
"Makan atau minum? Apakah kau yakin racun itu selalu diberikan dalam makanan atau minuman, Kagami-kun...?"
Mendadak detektif itu melompat dari kursi seolah disengat listrik. "Aku punya ide..."
Ponsel Kuroko berbunyi bersamaan dan pemiliknya langsung menjawab telepon itu. "Moshi-moshi. Akashi-kun? Ada apa?"
"Kau masih hidup, 'kan, Tetsuya?"
Yang ditanya bergeming mendengar pertanyaan retoris itu. Kalau dia sudah tidak hidup lagi—amit-amit—tentunya dia tidak bisa menjawab telepon, 'kan...?
"Te-tentu saja, Akashi-kun."
"Aku mencemaskan Ryouta," ujar Akashi di seberang sana. "Dia tidak membalas pesanku dan tidak menjawab teleponku. Kau tahu di mana rumahnya atau tidak?"
Di luar kota... Kise selalu bilang rumahnya ada di 'luar' Tokyo, padahal sebetulnya ada di perbatasan sebelah utara dekat dengan bandara tempatnya bekerja sekarang. Tapi Kuroko tidak hapal daerahnya.
"Bagian penerangan Bandara Haneda," sahut Kuroko dengan tenang. "Tanyakan di sana nomor telepon rumah Kise-kun. Lebih baik kau menelepon dulu, Akashi-kun. Mungkin ponselnya sedang nonaktif."
Akashi langsung memutuskan sambungan. Kuroko masih merenung.
"Ayo pulang, Kuroko," ujar Kagami sembari memasukkan ponsel miliknya ke saku.
"Kau tidak jadi pergi, Kagami-kun?"
"Sepertinya tidak. Aku perlu istirahat malam ini. Aku baru ingat bahwa aku tidak tidur sejak subuh dua hari yang lalu."
Dan Kuroko berjalan bersama Kagami yang sempoyongan seperti zombie, takut kalau sewaktu-waktu detektif bertubuh besar itu pingsan di jalan dan dia tidak kuat menggotongnya pulang ke apartemennya.
.
.
.
.
Ryou Sakurai mengulang bagian rekaman itu sekali lagi, tapi tak menemukan hal yang sama. Apakah tadi matanya telah menipunya? Mungkin memang penglihatannya mulai lelah. Dia tidak memungkiri bahwa dia banyak menangis hari ini meski dia tak hadir di pemakaman atasannya. Bukan begini cara yang dia inginkan untuk naik pangkat menjadi kepala divisi dalam waktu singkat! Junpei Hyuuga betul-betul monster yang gesit bekerja; melakukan penunjukan kepala divisi baru di hari yang sama dengan pemakaman kepala divisi yang lama.
Tidak, tidak. Sakurai harus fokus pada tugasnya meski malam sudah mulai larut.
Itu adalah rekaman CCTV di ruang depan Toko Sweet Purple, saat Taiga Kagami dan Tetsuya Kuroko mengunjungi Atsushi Murasakibara yang meninggal dua hari yang lalu.
Heran.
Sepertinya agen divisi investigasi itu perlu menghubungi Detektif Kagami lagi soal ini...
Panjang umur. Ada pesan singkat dari Kagami di ponselnya.
Sepasang manik cokelat melotot penuh keterkejutan setelah membaca pesan itu. Sakurai buru-buru meraih telepon kantor dan ditekannya tombol menuju kantor divisi forensik.
"Ada... ada yang harus diperiksa dari barang-barang pribadi Shintarou Midorima... semua yang dibawa dan dikenakannya malam itu. Apa tim forensik masih menyimpan semuanya?"
.
.
.
.
Taiga Kagami, dengan penampilan seadanya dan sikap yang kadang-kadang membuatnya tampak blo'on, sangat tidak meyakinkan sebagai detektif. Dia juga lulusan akpol Tokyo di angkatan yang sama dengan Aomine, namun diterima bekerja di departemen pemadam kebakaran yang memerlukan banyak aksi.
Salah satu penanganan timnya dalam kebakaran besar di sebuah bank dua tahun yang lalu membuat rasa ingin tahu pemuda itu bangkit. Ada yang tidak beres dalam kebakaran itu... dan dia menyelidiki seorang diri setelah api berhasil dipadamkan. Murni karena intuisi.
Rupanya sekawanan perampok yang menjadi buronan polisi yang menciptakan kebakaran itu—mereka beraksi cepat ketika kebakaran terjadi lalu kabur lewat bawah tanah.
Kepolisian Tokyo sangat terbantu. Mereka juga bergerak cepat atas petunjuk dari si pemadam kebakaran berambut merah dan akhirnya berhasil membekuk gerombolan itu.
Dalam kebakaran yang lain, setiap kali tim forensik kepolisian datang untuk memeriksa, mereka selalu keduluan oleh Kagami dalam menyimpulkan sesuatu. Dia punya pengetahuan dasar yang hampir sama dengan polisi, tapi dia tak mau menjadi polisi karena harus menjalani ikatan dinas. Ia lebih tertarik menginvestigasi secara mandiri.
Taiga Kagami, yang merasa bahwa itulah yang lebih cocok menjadi jalan hidupnya, memutuskan untuk keluar dari departemen pemadam kebakaran dan menjadi detektif swasta.
Meski tidak melamar ke kepolisian, faktanya Kagami banyak bekerja sama dengan teman-teman satu almamaternya dalam berbagai kasus selama dua tahun terakhir.
.
.
.
.
Mata sipit di balik kacamata Shoichi Imayoshi menelusuri rak arsip kepolisian yang sudah agak berdebu, berlabel tahun tertentu. Dia menemukan yang dicarinya dan membuka dokumen itu pada indeks huruf A.
Akashi, Seijuurou. Siswa SMA Rakuzan, Tokyo, saat itu berusia delapan belas tahun. Sebuah kasus yang terjadi delapan tahun yang lalu. Pembunuhan yang tidak disengaja akibat penyalahgunaan narkoba.
Imayoshi tahu betul bahwa Daiki Aomine masih berhubungan dengan Akashi saat itu dan mungkin masih juga sampai sekarang. Polisi senior itu tentu saja tahu tentang keberadaan geng basket SMP Teiko yang terkenal itu, dan tahu juga siapa saja yang masuk di dalamnya.
Karenanya, saat Shintarou Midorima mengalami kecelakaan tanggal tujuh Januari tahun ini, Imayoshi sempat khawatir hal itu akan mempengaruhi kinerja Aomine. Polisi berambut biru itu belum stabil—menurut istilah Imayoshi—dan karakternya belum dewasa. Meskipun Aomine sendiri pernah bersumpah untuk menjadi polisi yang baik tepat setelah Imayoshi mengajukan pengunduran diri akibat pencemaran nama baik keluarga kaisar, sang senior masih sangsi.
.
.
.
.
"Aku menyesal, Imayoshi-senpai. Maafkan aku."
Figur berkacamata menatap bawahannya tanpa ekspresi. "Aku baru tahu kau bisa merasa menyesal."
Daiki Aomine membungkuk minta maaf. "Aku tahu itu kesalahanku. Kau tidak seharusnya mengundurkan diri."
"Memangnya kau mau mengundurkan diri dari kepolisian?"
Aomine tertegun. Dia tidak menjawab.
"Aku tahu alasanmu masuk ke sini, Aomine. Dan aku menghargai itu. Aku memberimu kesempatan untuk jalan terus, jadi jangan salahkan dirimu kalau aku dibuang ke divisi pengarsipan. Setidaknya aku masih kepala divisi."
Aomine tidak bicara apa-apa.
"Dan kuharap," Imayoshi melanjutkan, "kuharap kau tidak akan mengecewakanku. Selamat menjalankan tugasmu sebagai kepala divisi investigasi."
.
.
.
.
Entah mengapa kasus Akashi waktu itu muncul dalam pikirannya dan menarik perhatiannya. Imayoshi sangat tahu bahwa dahulu Akashi menghindar dari hukuman penjara dengan memilih membayar denda yang besar. Karena dia akan melanjutkan sekolah di luar negeri, dan akan sangat merepotkan kalau dia harus mendekam di bui saat prestasi akademisnya sedang sangat gemilang. Suatu jalan belakang telah ditempuh, tapi tidak ada yang mempersoalkan hal itu karena nama keluarga Akashi yang sangat berpengaruh. Ayah si korban sendiri, seorang pendeta kuil Shinto, tidak menuntut ganti rugi apapun dan menerima kematian putranya selapang dada seorang ayah yang tabah.
Dilihat dari sisi manapun, hukum menjadi berat sebelah dalam kasus Akashi.
Apakah teman-teman Akashi waktu itu, anggota Generation of Miracles yang sudah bubar, membantu Akashi meloloskan diri dari hukuman berat? Tampaknya hubungan mereka terjaga baik satu sama lain.
Dan, ya. Aomine pernah mengatakan kepadanya. Tidak seorang pun di antara Generation of Miracles bermain basket lagi setelah kejadian itu, termasuk Aomine sendiri yang tidak menceritakan alasannya...
.
.
.
.
"Kise-kun masuk rumah sakit?"
Kuroko sedang bicara dengan Akashi di telepon. Ia berdiri di dapur kecil apartemen Kagami. Tuan rumahnya sendiri sudah terkapar di tempat tidur setelah makan malam yang seperti biasanya dimasaknya sendiri.
"Kondisinya sudah stabil dan demamnya sudah agak reda. Untung kakak perempuannya cepat bertindak."
Seijuurou Akashi orang yang sangat perhatian, sebetulnya. Gayanya yang ngebos dan nada bicaranya yang suka memerintah-lah yang mengaburkan kesan positif itu. Dia berkata pada Kuroko,
"Kau sendirian di rumah kontrakanmu, Tetsuya?"
"Aku..."
Kuroko mengerling ke arah kamar Kagami. Detektif itu mendengkur, tapi tidak terlalu keras.
"Tetsuya?"
"Aku perlu bicara denganmu, Akashi-kun," sahut Kuroko cepat. "Bolehkah aku menemuimu sebentar? Di Maji Burger?"
.
.
.
.
Reika Kise menggigiti kukunya dengan gelisah di lorong rumah sakit. Dokter sedang mendiagnosis apa yang terjadi pada adiknya, Ryouta.
Sang Ibu dan kakak perempuan yang satu lagi sedang dalam perjalanan menyusulnya ke sini.
Tadi sore, Ryouta demam sangat tinggi sampai kulit pucatnya memerah. Dia sudah tak sadarkan diri dan tenggelam dalam igauan saat sang kakak masuk ke kamarnya—wanita itu langsung menelepon ambulans dan Ryouta segera dibawa ke UGD.
Sungguh beruntung pertolongan pertamanya dilakukan dengan cepat, dan Ryouta belum berangkat ke bandara saat itu.
Dokter menyerahkan data pemeriksaan darah kepada sang kakak dan menanyakan beberapa hal. Reika Kise keheranan. Tidak, adiknya, Ryouta, tidak punya penyakit pencernaan yang bisa menimbulkan kejang perut.
Apakah Reika pernah tahu adiknya mengonsumsi hyoscine? Atau obat dengan merk Scopamin, Scopma, atau Hyscopan?
Wanita berambut pirang itu menggeleng. Melihat ekspresi si profesional, mendadak ia merasa cemas.
Dokter melihat ke arah jam tangannya dan berkata bahwa dia akan menghubungi polisi.
.
.
.
.
Jam setengah sembilan malam, Seijuurou Akashi sudah menunggu dalam mobilnya selama sepuluh menit di depan Maji Burger. Mana mau dia menunggu di luar sementara angin musim dingin sedang ganas-ganasnya? Kuroko sepertinya juga lupa kalau restoran ini tutup pukul dua puluh.
Tiba-tiba terdengar kaca jendela mobilnya diketuk perlahan.
"Tetsuya?"
Akashi menurunkan kaca, memastikan bahwa itu memang Tetsuya Kuroko. Ia membuka pintu mobilnya dan pemuda berambut biru langit itu langsung masuk.
Sebuah botol termos mini disodorkan pada Kuroko.
"Dingin, 'kan, di luar? Kubawakan cokelat panas untukmu."
"Terima kasih, Akashi-kun."
Putra tunggal Masaomi Akashi itu melajukan mobilnya.
Untuk sesaat, keduanya tidak berbicara. Jalanan kota Tokyo tak terlalu ramai pada jam ini—lebih karena musim dingin. Kuroko menyesap minumannya.
"Jadi," ujar Akashi, bertukar pandang dengan mantan pemain bayangan Teiko itu sekilas, "apa yang mau kaubicarakan?"
Kuroko tidak langsung menjawab.
"Bagaimana dia... Kise-kun?"
"Ryouta tidak mati keracunan," ujar Akashi singkat.
Kuroko mengangguk.
"Siapa pun pelakunya, percobaan pembunuhannya gagal," sambung Akashi.
"Apa menurutmu pelakunya orang yang sama, Akashi-kun?"
Jeda empat detik sebelum Akashi menjawab dengan yakin,
"Ya."
Kuroko menoleh ke arahnya.
"Kau baru menduga-duga, atau sudah tahu orangnya?"
"Menduga-duga," sahut Akashi.
Keheningan lagi. Kuroko bertanya,
"Ngomong-ngomong, ke mana kita pergi, Akashi-kun?"
"Rumahku."
Kuroko mengernyit tak kentara. "Ayahmu tidak sedang di rumah?"
"Tidak."
Tiba-tiba seberkas lampu menerjang dengan kecepatan tinggi dari arah kanan... Akashi membanting setir dengan tajam, memukul klakson dengan keras, dan terdengar decit ban yang bergesekan dengan aspal.
Kuroko memejamkan mata dan mencengkeram dada kirinya. Termos Akashi, yang untungnya sudah tertutup rapat, tergeletak di dekat pintu mobil.
Sekian detik berlalu dan ternyata mobil itu masih melaju di jalan raya.
"Kita masih hidup, tenang saja, Tetsuya."
Wajah Kuroko pucat pasi dan mulutnya komat-kamit membaca doa. Dia membuka mata dan mengerling Akashi yang tampak tetap tenang.
"Jantungmu baik-baik saja?"
Kuroko tertegun. Sudah sekian tahun tidak ada yang bertanya begitu padanya...
"Aku baik-baik," sahut guru TK itu, melirik dan bersitatap dengan sepasang iris heterokrom. "Kau masih ingat."
"Tentu saja aku ingat. Kau satu-satunya orang yang pernah menolak tawaranku—karena alasan itu. Mana bisa aku lupa, Tetsuya?"
Kuroko masih merasakan organ pemompa darahnya itu berlarian di dalam rongga dadanya, tapi perkataan Akashi barusan tidak bernada marah.
"Kau masih menggunakan jasa asuransi Chihiro?"
"...ya. Mayuzumi-san sangat baik padaku, Akashi-kun. Terima kasih sudah mengenalkannya padaku."
Akashi mengiyakan. Dengan tangan kirinya, pengusaha itu meraih sebungkus manisan dari dasbor dan menawarkannya pada Kuroko. "Mau? Kau suka manisan, 'kan?"
Kuroko menerimanya, merogoh sebentar dan mengambil sebuah. "Terima kasih lagi." Ia meletakkan bungkusan itu kembali ke dasbor.
Akashi memasukkan tangannya ke bungkusan itu dan mengambil sebuah juga.
Kuroko tidak langsung makan. Dia menunggu Akashi mengunyah manisannya yang bertabur gula halus. Lalu menelannya.
Mobil itu melambat, Akashi membelokkannya ke kiri. Sepertinya mereka hampir tiba di kediaman Akashi. Di luar sangat gelap dan salju mulai turun.
Kuroko akhirnya memakan manisannya. "Enak sekali, Akashi-kun. Kau tidak mau mengambilnya lagi?"
Akashi memang mengambil lagi dan langsung mengunyahnya.
Kuroko bertanya, "Di mana kau membelinya, Akashi—"
Yang ditanya tiba-tiba tersedak begitu hebatnya sampai kemudinya lepas kendali. Pria berambut merah itu tampak sesak napas dan ia menggapai-gapai tombol penurun kaca jendela sementara guncangan melanda seluruh bagian kendaraan.
Detak jantung Kuroko segera menggila sementara pemiliknya membelalakkan mata, tercengang.
PRAKK!
Mobil itu pasti sudah keluar dari jalur dan spion kanannya barusan menabrak sebuah pohon.
"Akashi-kun...!"
Terdengar suara tarikan napas yang sangat keras dari mulut Akashi, yang langsung tercekat. Seluruh urat lehernya menegang.
Mobil itu masuk ke mode automatic driver dan balon darurat segera mengembang dari bawah dasbor.
Si pemilik kendaraan berhasil membuka jendela mobilnya dan menyodokkan sesuatu ke dalam mulutnya sambil melepas sabuk pengaman.
Terbatuk, Seijuurou Akashi segera memuntahkan isi lambungnya ke luar mobil.
.
.
.
to be continued.
