Author's Note:

Update kilat sebelum KKL /yeay!/

Chapter 6, satu chapter sebelum tamat. Semoga chapter ini menjawab semua review dan PM =D

Selamat membaca!

-8 April 2016-


.

Kuroko no Basuke (c) Tadatoshi Fujimaki

.

By Means of a Miracle

by Roux Marlet

Mystery/Crime, Friendship

Future Alternate Reality, Minor Original Characters, Characters' Death

.

Chapter 6: Red as a Beet

.


.

.

Di jalan raya perbukitan yang sepi, mobil merah itu menikung mendadak tanpa peringatan. Kecepatan yang cukup tinggi sebelumnya membuatnya langsung keluar dari jalur aspal dan sisi kanannya menabrak sebuah pohon sampai spionnya patah...

Di dalam kendaraan itu, balon pengaman segera mengembang di tengah guncangan yang semakin parah di pinggir tebing...

Saat akhirnya mobil itu melambat karena bannya terbenam dalam salju, seseorang membuka jendela di kursi pengemudi dan muntah ke luar mobil.

.

.


.

.

Taiga Kagami tertegun, tahu-tahu dirinya sudah jatuh terduduk di hadapan Seijuurou Akashi. Apa yang barusan dilakukannya... ankle break?

"Sadarlah akan posisimu," ujar kapten tim basket SMA Rakuzan berambut merah itu. "Kau tidak berhak memandang rendah diriku. Akulah yang menemukan bakat terpendam Tetsuya, dan kalian hanya menyia-nyiakannya."

Suasana di tim Seirin menjadi tegang setelah Akashi dan antek-anteknya berlalu di arena Winter Cup. Kapten Seirin yang duduk di kelas dua bicara dengan sangat pelan pada manajer dan pelatih tim.

"Itu dia yang dulunya kapten Generation of Miracles. Si angkuh berambut merah, mereka menjulukinya."

"Dan apa-apaan sikapnya itu?"

"Kenapa dia berbicara seakan Kuroko-kun itu hebat sekali?"

"Apapun yang dikatakan orang itu, Kuroko-kun hanya bermain bila tidak ada lagi pemain cadangan yang tersisa. Kita tidak bisa mengambil risiko."

"Ya. Kita tidak mau ada pemain yang lemah jantung di lapangan."

"Kita memasukkannya ke tim ini karena dia salah satu Generation of Miracles. Tapi aku tidak mengerti apa yang dipikirkan pelatih SMP Teiko sewaktu membentuk tim itu. Mereka sudah hebat-hebat hanya dengan lima orang bintang."

.

.


.

.

Ryou Sakurai memelototi layar komputer itu. Tangan kanannya siaga di atas mouse, siap menekan tombolnya di waktu yang tepat.

Itu dia!

Sakurai menatap bagian rekaman yang di-pause itu, lama. Dia mengulangi adegan beberapa detik sebelumnya lalu memotong dan memindahkannya ke aplikasi pengedit video. Diubahnya mode video ke slow motion... Dibukanya aplikasi lain untuk reka ulang kejadian. Diproses sebentar... Perhitungkan sudut mati itu...

Dan akhirnya dia mendapatkannya. Sakurai akhirnya tahu kenapa hal itu seolah-olah tidak terlihat—tadinya.

"Anda bisa lihat sendiri, Kagami-san."

Detektif Taiga Kagami mencondongkan tubuhnya mendekat sambil membisu.

Saat itu adalah sore hari tanggal sembilan Januari, dan kira-kira di saat bersamaan sedang berlangsung upacara pemakaman Daiki Aomine.

"Sudah kuduga!"

Sakurai terkejut karena Kagami mendadak memukul meja dengan telapak tangannya yang besar. Detektif berzodiak Leo itu mondar-mandir dalam kantor investigasi.

"Milkshake itu... ya, benar... Lalu Aomine... tehnya. Ada apa dalam tehnya? Grrr... gelasnya pecah. Eh, bukan. Itu gelas air putih. Gelas tehnya masih ada... dan apakah sudah diperiksa oleh tim forensik?"

Kebetulan saat itu seseorang dari divisi forensik masuk ke ruangan. Ia menyerahkan berkas baru.

"Terima kasih, Kiyoshi-san," ujar Sakurai pada si petugas forensik, lalu mulai membaca berkas itu. "Gelas teh Aomine-san ikut diperiksa..."

"Aku berani bertaruh bahwa ada obat antikolinergik lagi di dalam gelas teh Aomine," ujar Kagami, tangannya di dagu.

Sakurai mengiyakan, bertukar pandang dengan si detektif yang melanjutkan,

"Yang belum kumengerti... dengan apa Midorima diracun kalau pelakunya memang dia?"

Pandangan Kagami kemudian jatuh pada layar komputer divisi investigasi.

Di situ tampak Murasakibara, berdiri memunggungi kamera CCTV, dengan Kagami duduk di hadapannya mendelik jengkel ke arah pintu, dan Kuroko yang juga duduk dan melirik ke arah yang sama dengan ekspresi datarnya.

"Misdirection..." gumam Kagami.

Dalam adegan itu, Haizaki pasti baru saja meninggalkan Toko Sweet Purple dan Murasakibara sedang mengambil cupcake yang baru dari rak. Andai mata Sakurai tidak seawas ini, tidak akan ada yang menyadari bahwa sebelah tangan Kuroko tidak menempel di meja seperti yang satunya.

Separuh tertutup oleh tubuh besar sang pastry chef dan hampir berada di sudut mati kamera CCTV, namun dengan kemajuan teknologi bisa diperkirakan bahwa tangan itu sedang berada di atas gelas milkshake blueberry milik Murasakibara.

.

.


.

.

"Misdirection-mu tidak pernah berhasil terhadapku, Tetsuya. Kau tahu itu. Aku adalah orang yang menemukan bakatmu."

Malam hari, sembilan Januari. Mobil merah itu berhenti beberapa meter dari pembatas jalan.

Akashi mengusap mulutnya dengan punggung tangan yang gemetar, mengabaikan rasa aneh di lidahnya karena baru saja muntah. Kepalanya berdenyut-denyut dan jantungnya berdebar kencang.

Sang guru TK membisu sementara balon darurat itu mengempis perlahan-lahan karena Akashi menonaktifkannya.

"Aku tahu kau memasukkan sesuatu selagi kau mengambil manisan itu untukmu sendiri. Kau tidak bisa mengelabui mataku."

Iris heterokrom itu berkilat berbahaya.

"Kenapa kau melakukan hal sebodoh itu, Tetsuya?"

Kepala Tetsuya Kuroko tertunduk dan dia tetap tak menyahut. Tapi Akashi tahu Kuroko bukannya pingsan atau apa.

"Apa maumu?" rongrong Akashi dengan perasaan teriris. "Kau gagal membunuh Ryouta dan barusan kau mencoba membunuhku juga. Kau mau melenyapkan Generation of Miracles? Semua orang yang berhubungan dengan itu?"

Tuduhan itu dilontarkan Akashi yang setengah berharap lawan bicaranya akan menyanggah mentah-mentah. Tapi yang menyusulnya hanya keheningan...

"Aku tidak membunuh Momoi-san," Kuroko akhirnya membuka suara. "Tapi aku tidak menyangkal bahwa aku telah membunuh yang lain... dan akan membunuh kalian yang masih hidup. Kalian berlima, orang-orang jahanam."

Akashi menatapnya dengan perasaan campur aduk.

"Kau masih mau membahas hal itu?" Suara si pengusaha berubah menjadi bisikan mengancam. "Berapa kali harus kukatakan, Tetsuya, bahwa semua itu sudah berlalu dan tak ada gunanya kau mengingatnya?"

.

.


.

.

.

.

Generation of Miracles pada masanya, lebih dari sepuluh tahun yang lalu, adalah bintang liga basket Jepang tak hanya di tingkat SMP. Sekolah-sekolah menengah atas dan akademi bahkan mengakui kehebatan mereka.

Lima remaja laki-laki dengan kemampuan hebat dan spesialisasi teknik masing-masing, membuat nama SMP Teiko melambung tinggi. Belakangan orang-orang baru tahu bahwa ada satu pemain lagi, si pemain bayangan yang lebih sering duduk di bangku cadangan namun sekali bermain bisa menaikkan ritme pertandingan sehingga anggota yang lain semakin cepat mencetak angka, membuat sebutan geng enam orang itu sangat populer bahkan setelah masing-masing dari mereka masuk ke SMA yang berbeda.

Generasi Keajaiban yang menciptakan keajaiban di mana mereka berada. Lima anggota pertama generasi itu menjadi bintang di SMA lanjutan masing-masing, sementara bintang keenam yang tak pernah benar-benar menjadi bintang mulai meredup setelah hampir ditolak dalam tim basket SMA Seirin.

Beruntung si pemain bayangan menemukan pemain cahaya yang membantunya bangkit dan tak jadi tenggelam dalam keputusasaan.

Kelima bintang lainnya saling berebut tempat pertama dalam kejuaraan Winter Cup, dan sementara itu, SMA Seirin hanya berhasil sampai babak semifinal setelah mengalahkan SMA Yousen dan Akademi Touou lalu digilas oleh SMA Shuutoku dan SMA Kaijou. Nomor satunya disabet oleh SMA Rakuzan, tempat di mana sang kapten Generation of Miracles bersekolah.

Kalah atau menang, pamor kelima bintang malah semakin terang. Banyak tawaran untuk masuk tim basket profesional setelah mereka lulus SMA, atau tawaran sederhana untuk menjadi pelatih tim basket SMA sendiri nantinya, tapi arogansi dan keengganan diutarakan sebagai alasan terselubung mereka untuk menolak semuanya.

Awalnya begitu.

Sampai suatu ketika, Ryouta Kise menerima seorang murid saat dia sudah awal kelas tiga. Pemuda berambut pirang itu tak tega karena anak SMA lain yang tak terkenal itu memohon sampai menyembah-nyembah kepadanya untuk melatihnya teknik basket. Bahkan berani membayar mahal untuk itu.

Shintarou Midorima juga ternyata diam-diam melatih seorang adik kelasnya di Shuutoku. Dia tidak mau cerita karena dia tsundere, tapi toh Akashi dan yang lain akhirnya tahu juga. Selanjutnya yang menjadi murid dari Generasi Keajaiban itu bertambah menjadi tiga atau empat orang dan Akashi juga ikut melatih selama paruh pertama tahun terakhir mereka di sekolah menengah atas.

Namun pada perkembangannya, anak-anak yang dilatih itu tidak memuaskan. Fisik dan kemampuan mereka tidak mampu menyesuaikan diri dengan bakat dalam diri pelatihnya yang luar biasa.

"Orang biasa tidak akan bisa menjadi keajaiban," begitu kata Akashi suatu ketika. "Dan keajaiban tidak bisa terjadi dua kali dalam satu generasi."

Padahal desas-desus bahwa Generation of Miracles akhirnya mau berbagi keajaiban sudah tersiar ke mana-mana. Permintaan semakin banyak. Mereka tidak mungkin menghasilkan atlet yang biasa-biasa saja.

Daiki Aomine dan Atsushi Murasakibara yang pemalas bahkan merasa perlu turun tangan. Namun bakat tetap tak bisa dipaksakan. Anak-anak yang dilatih memang mengalami kemajuan signifikan, tapi tidak cukup signifikan bagi harga diri kelima anggota Generation of Miracles.

Jalan yang tak halal akhirnya ditempuh. Akashi yang sudah merintis usaha jual-beli obat terlarang sejak masuk SMA Rakuzan memasukkan amfetamin dalam daftar pembeliannya dan menyebarkannya pada empat kawannya.

Anak-anak biasa itu jadi keajaiban di sekolah masing-masing, karena mereka dilatih oleh Generasi Keajaiban. Semua orang percaya itu yang terjadi, dan akhirnya sistem itu diubah oleh Midorima untuk menanggapi permintaan yang membanjir. Generation of Miracles hanya mau melatih satu orang setiap bulan dengan tarif yang sudah ditetapkan.

Uang terus mengalir ke kocek masing-masing dan doping terus merasuk perlahan ke dalam tubuh anak-anak yang dilatih tanpa disadari empunyanya. Mereka mengira minuman yang diberikan pelatih adalah larutan garam—natrium klorida sebagai suplemen banyak digunakan atlet untuk mencegah dehidrasi dalam olahraga. Banyak prosedur hampir saja mematahkan cara curang yang diprakarsai oleh Seijuurou Akashi itu, namun selalu ada jalan untuk memalsu data.

Sementara itu Tetsuya Kuroko, juga di tahun terakhirnya di SMA Seirin, mendengar kiprah teman-temannya semasa SMP itu dan menemui mereka satu per satu karena ingin melihat sendiri bukti kehebatan mereka.

Tidak ada yang mau berterus-terang pada Kuroko, yang juga mengira bahwa kelima temannya itu memang berbakat untuk melatih orang.

Sampai akhirnya, beberapa minggu sebelum ujian nasional SMA dan libur panjang sebelum masuk dunia perkuliahan, sebuah kecelakaan terjadi.

Seorang anak bimbingan Akashi dilarikan ke rumah sakit malam-malam setelah berlatih basket. Kejang-kejang dan tak sadarkan diri sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhirnya di ruang gawat darurat. Antidot tak sempat diberikan. Overdosis amfetamin disampaikan dokter pada ayah si anak, seorang pendeta kuil Shinto bermarga Ogiwara.

Untung bagi Akashi, si pendeta tidak menuntutnya... pria paruh baya itu hanya minta hukum ditegakkan sebagaimana seharusnya, dan dari pemeriksaan terhadap keluarganya terungkap bahwa Shigehiro Ogiwara sebelumnya memang telah mengonsumsi amfetamin dalam dosis kecil secara rutin—obat yang harus diminumnya sebagai penderita ADHD, Attention Deficit Hyperactivity Disorder*. Ogiwara menderita kelainan itu sejak kelas empat SD dan amfetamin harus diminum untuk mencegah kekambuhan penyakitnya sampai ia dewasa. Dengan adanya amfetamin dari Akashi—yang dosisnya jauh lebih besar untuk peningkat stamina—tentu saja obat itu menjadi racun dalam tubuh Ogiwara.

Kuroko juga mendengar berita itu dan dia turut bersedih. Yang dia tahu, Akashi terlibat kasus narkoba karena salah satu surat kabar menyebutnya begitu.

Akashi menjalani proses yang rumit dengan keluarga anak itu selain dengan polisi, dan reuni geng mereka yang pertama kali diadakan di bulan Maret setelah kelulusan SMA sama sekali tidak ceria. Akashi tidak sampai dijebloskan ke penjara namun pengadilan menuntut denda yang tidak sedikit—kasus itu selesai karena nama keluarga Akashi yang sangat berpengaruh dan uang yang dikeluarkan Masaomi sang ayah demi menghindarkan putranya dari masa depan yang suram.

.

.

.

.

"Dia tidak menguntitmu, 'kan, Daiki?" tanya Akashi dengan dingin. Ia membawa sebuah bola berwarna oranye.

Aomine menyahut sambil merengut. "Momoisibuk berbelanja dengan ibuku."

Keenam lulusan SMP Teiko itu berkumpul di lapangan basket jalanan yang sepi. Reuni pertama yang suram.

"Kita mulai," ujar Akashi, melemparkan bola yang dipegangnya pada mantan wakilnya.

Midorima melakukan jump ball, dan ia segera berebut dengan Aomine. Yang disebut belakangan berhasil mendapatkannya dan langsung menembak ke ring.

Murasakibara mengeblok serangan itu. Bola terlempar dan ditangkap oleh Kise yang dengan gesit menghindari Aomine yang merendenginya.

Seseorang menyambarnya dari samping dan tahu-tahu Kise sudah kehilangan bolanya. Kuroko mengoper ke Akashi dan si mantan kapten menembak ke ring satunya.

"Kurokocchi~ kau selalu tak terlihat-ssu!"

"Jangan banyak bicara, Ryouta," gumam Akashi, menghadapi Midorima yang kembali memegang bola.

Bola itu tak pernah berhenti cukup lama di tangan Kuroko. Setiap kali dia berada di titik buta lawan dengan Akashi atau Aomine berada di depannya, dia mengoper bola itu ke rekan yang satu lagi tanpa benar-benar diperhatikan.

Pertandingan 3-on-3 itu baru berlangsung selama delapan menit dan tim Kise-Midorima-Murasakibara sudah ketinggalan sebelas angka dari tim satunya saat Kuroko berkata dia harus istirahat.

Pemuda berambut biru langit itu duduk di tanah, meluruskan kakinya dan minum dari botol yang dibawanya.

"Aku juga mundur-ssu," ujar Kise, menyingkir dari lapangan agar pertandingan tetap seimbang. 2-on-2. Dia menghampiri Kuroko untuk menonton.

"Ne... Kurokocchi, kau melanjutkan pendidikanmu di mana? Kau mau bekerja apa-ssu?"

Kuroko yang masih terengah hebat tak langsung menanggapi. Kise yang paham ikut duduk. Sesaat kemudian, pertanyaan itu dijawab,

"...aku ingin jadi guru TK, tapi jangan bilang-bilang yang lain ya, Kise-kun."

Kise menatap kawannya itu dengan mata berbinar dan senyuman lebar. Dia selalu berusaha jadi pencair suasana suram yang melingkupi teman-temannya. "Hebat-ssu! Guru, cita-cita yang mulia... Kau memang guru yang hebat, Kurokocchi! Dulu kau menjadi mentorku, di tahun pertamaku bermain basket-ssu. Aku sendiri ingin berhenti jadi model dan jadi... hehe, rahasia-ssu!" Dia mengedipkan mata dengan jenaka. Namun sejurus kemudian wajahnya memurung. Kuroko mengamatinya.

"Ada apa, Kise-kun?"

Sepasang mata di balik bulu mata lentik itu terlihat merana sebelum pemiliknya menyahut dengan rengekan, "Haah~ sepertinya aku belum jadi guru yang baik-ssu."

"Mengapa begitu? Kau sudah bisa melatih beberapa adik kelas."

Kise menelengkan kepala. "Apa Akashicchi belum cerita padamu? Kukira setelah kasus Ogiwara itu..."

Kuroko membalas tatapan Kise yang tak berdosa itu dengan ekspresi bertanya di wajah datarnya. Dan pemuda berambut pirang itu mulai bercerita.

Teriakan Kuroko semenit berikutnya membuat empat orang yang tengah bermain di lapangan berhenti dan menoleh. Pemuda itu berdiri dengan tubuh gemetaran...

Belum pernah Akashi melihat Kuroko semarah itu seumur hidupnya—tepatnya, mungkin itu pertama kalinya Kuroko bisa marah—dan di dekatnya, Kise dengan wajah merah padam menunduk malu.

"Kalian semua!" pemain paling kecil itu menunjuk keempat temannya, "dan kau juga, Kise-kun! Kalian semua iblis!"

Tetsuya Kuroko berlari meninggalkan lapangan.

"Kurokocchi..." rengek Kise yang ikut berdiri tanpa beranjak dari tempatnya.

Tanpa penjelasan apapun, semuanya mengerti apa yang baru saja terjadi.

"Kau bilang yang sebenarnya pada Tetsu?" geram Aomine.

"D-dia berhak untuk tahu-ssu!" Kise mencoba membela diri meskipun dia tak berani menatap Akashi.

"Sebaiknya kita menyusulnya, nanodayo," ujar Midorima.

"'Kita'?" ulang Murasakibara dengan keengganan yang sangat jelas. "Biarkan saja dia menangis, si kecil itu. Dia toh tidak bisa berbuat apa-apa."

"Dia bisa pergi ke kantor polisi dan melaporkan kita semua," ujar Akashi yang mulai bergerak. "Dan kalau kalian sampai dimintai keterangan tentang itu, aku tidak yakin kalian semua akan mau berbohong."

Pemuda berambut merah itu berlari ke arah yang sama dengan Kuroko.

Kise menelan ludah. "Sudah kubilang sejak awal bahwa cara Akashi itu salah-ssu."

"Tapi kau sendiri menerima cara itu!" bentak Aomine pada si rambut pirang. Sepasang mata biru gelapnya menyipit seolah hendak menusuk Kise dengan tatapannya. "Dan kau yang pertama kali menerima anak didik. Kau penyebab semua ini!"

Kise merepet dengan panik, "Bagaimana dengan Midorimacchi? Dia juga mulai di bulan yang sama denganku-ssu! Aku tidak mau disalahkan sendirian! Dia—"

"Aku tidak pernah memberikan doping pada anak didikku," potong Midorima dengan tajam. "Aku menjualnya kembali, nanodayo."

Kise melongo dan sekarang pandangan Aomine beralih, menatap si kacamata tak percaya. Sebuah kata umpatan sudah siap terlontar dari mulutnya.

"Tapi Mido-chin tahu tentang yang kita semua lakukan dan kau bungkam. Bukankah itu juga tidak benar?" Murasakibara nimbrung.

"Ya. Kau tidak pernah cerita apapun pada kami," gumam Aomine sambil mengertakkan gigi, menatap sang figur berkacamata penuh amarah. "Tidak ada yang lebih egois daripada dirimu!"

Midorima mendorong jembatan kacamatanya dengan tangan kirinya yang berperban dan menatap Aomine tepat di mata. Ia bicara penuh wibawa—jangan lupa bahwa dia dulu adalah wakil kapten, dan tugas seorang wakil adalah mengambil alih kepemimpinan saat kapten tidak ada di tempat.

"Karena semuanya sudah terlanjur, nanodayo! Kita adalah Generasi Keajaiban, dan kita sudah menciptakan keajaiban. Meski cara kita salah. Apa lagi yang bisa kita perbuat selain berhenti?"

.

.

.

.

Kuroko terengah di salah satu gang menuju rumahnya, tangan kiri berpegangan pada dinding bangunan dan tangan satunya mencengkeram dada kiri.

Dia bisa mendengar suara Akashi di belakangnya... Dia tidak ingin bertemu orang itu untuk saat ini. Tapi dia sudah tak kuat lagi berlari. Napasnya mulai sesak, entah karena memaksakan diri atau lebih karena sakit hati.

Maka ia berbalik dan dihadapinya Akashi dengan berani, meski bekas air mata ada di wajahnya.

"Maafkan aku, Tetsuya."

Kalimat pertama Akashi membuat Kuroko tersentak. Seorang Seijuurou Akashi minta maaf...? Kepala Kuroko serasa berputar.

"Maaf tidak memberitahumu selama ini."

Pandangan pemain bayangan itu memburam dan sebelum sempat mengatakan apapun, kesadarannya meninggalkan sang tuan.

.

.

.

.

Seijuurou Akashi harus kebal terhadap tudingan orang.

Orang tua Kuroko panik sekali begitu menerima telepon dari putra Masaomi Akashi itu, yang mengabarkan bahwa Tetsuya pingsan setelah... bermain basket.

Jantung Tetsuya Kuroko tidak sekuat milik orang kebanyakan. Dia tidak boleh banyak berlari dan beraktivitas berat. Sedikit kejutan saja bisa membuat jantungnya berdebar tak karuan.

Saat awal masuk SMP, dia ingin sekali bisa main basket sehingga dokter memasang alat pacu jantung di tubuhnya. Namun dia tidak bisa lolos seleksi tim basket—akhirnya dia hanya bermain sendiri di malam hari saat semua anggota klub basket sudah pulang.

Sampai suatu hari Daiki Aomine yang terkenal sebagai salah satu Generation of Miracles memergokinya di gimnasium—tadinya Kuroko dikiranya hantu yang bermain basket.

Berikutnya, saat Kuroko bertemu dengan Seijuurou Akashi, kapten tim itu langsung mengatakan bahwa dia punya potensi.

Tidak ada yang percaya hal itu sampai semua orang melihat kemampuan misdirection Kuroko dan kelihaiannya mengoper bola. Kuroko memang ahli main sulap sederhana dan rupanya hal itu bisa dimanfaatkan dalam permainan basket.

Awalnya Kuroko menolak untuk dimasukkan ke tim inti Teiko—karena kondisi jantungnya sedang memburuk saat itu—tapi Akashi bersikeras memasukkannya dan berkata, "Kau bisa jadi pemain bayangan. Mengerti? Kau tidak akan selalu bermain, tapi kami akan membutuhkan passing-mu suatu saat."

Selama Kuroko bertanding sebagai anggota Generation of Miracles, tak sekalipun dia pernah pingsan di lapangan. Dan jantungnya semakin kuat lantaran cukup olahraga. Karenanya setelah lulus dari Teiko dan masuk SMA Seirin, dia berharap masih bisa dipercaya bermain basket.

Harapan Kuroko tak tercapai karena ia tak pernah diturunkan selama pertandingan, dan lama kelamaan ia berhenti main—sekalipun Taiga Kagami mendorongnya untuk tidak berhenti. Tapi, apa? Kuroko sudah kehilangan perasaan itu. Jantungnya tetap tidak bisa jadi sekuat orang normal dan dari dulu orang tuanya selalu keberatan kalau dia bermain basket.

Dia yang karena keadaan tidak bebas bermain basket, melihat kelima kawannya bersinar di SMA masing-masing; bahkan Kise yang dahulu dimentorinya saat SMP, mereka semua bisa punya murid yang dilatih. Orang-orang bahkan mengira bahwa dirinyalah anggota keenam Generation of Miracles—si anggota tambahan—padahal Kise adalah orang keenam yang diterima. Kuroko adalah orang kelima, yang pertama menggenapi jumlah tim inti basket yaitu lima orang pada angkatan mereka setelah kakak-kakak kelas mereka harus memfokuskan diri pada ujian, dan tidak banyak yang mengetahui hal itu saking seringnya ia ada di bangku cadangan.

Rasa iri sempat menyeruak di hati Kuroko tapi ia lalu menyingkirkannya setelah beberapa waktu. Kelima orang itu memang dianugerahi bakat—dan fisik yang kuat—dan tak ada gunanya iri pada orang seperti itu.

Kuroko merasa kagum dan bangga terhadap teman-temannya sampai—sampai hari itu, ketika Kise menceritakan kepadanya tentang doping dari Akashi dan kematian seorang siswa SMA bernama Shigehiro Ogiwara.

.

.

.

.

Malam itu, Akashi bergeming di sisi tempat tidur rumah sakit di mana Kuroko duduk sambil terengah. Sebelah wajah Akashi memerah.

"Pukul saja aku sepuasmu, Tetsuya."

Kuroko memang melakukannya lagi, tapi tenaganya lemah. Dia terengah-engah—antara marah dan kelelahan.

"Kau boleh pukul aku lagi kapan-kapan. Jangan memaksakan diri, nanti kau pingsan lagi."

Akashi mendorongnya terempas ke bantal. Tangan pemuda berambut merah itu bergerak hendak membetulkan selimut Kuroko, namun si rambut biru menepisnya.

"Kau masih bisa menggunakan Ignite Pass di saat seperti ini," gumam Akashi muram.

"Apa kalian tidak mencintai basket?" tanya Kuroko tiba-tiba. "Kenapa kalian mengotori permainan itu?"

Akashi menghela napas dan tidak langsung menjawab.

"Aku cinta basket, tapi semua sudah terjadi, Tetsuya. Aku tidak bisa memperbaikinya dan aku menyesal. Aku sungguh-sungguh menyesal, aku serius..." dia menatap Kuroko di matanya untuk menunjukkan kesungguhannya, "Tapi aku tidak ingin hal ini menghancurkan masa depan kita semua."

"Aku tidak terlibat," sanggah Kuroko. "Kalian berlima!"

"Sekarang, berenam," ujar Akashi, "karena tadinya aku tidak ingin kau tahu tentang ini supaya hidupmu tenang. Ternyata si bodoh Ryouta terlalu bermulut ember dan membuatmu ikut menanggung dosa kami. Dan kau, sama seperti aku dan yang lain, tidak boleh bicara apapun tentang hal ini kepada siapapun."

Manik biru Kuroko menatap raut Akashi yang serius tanpa emosi.

"Dan kau mau menyimpan semua ini sampai mati, Akashi-kun?"

Akashi tidak menjawab. Tapi perlahan, dia mengangguk. Sinar mata dari iris heterokrom itu terlihat nanar.

Hening yang tak mengenakkan menyusul untuk beberapa saat sebelum Kuroko bicara lagi,

"Kalau begitu aku juga."

"Tetsuya..."

Akashi mencari kejujuran dan kemantapan hati dalam sepasang mata biru Kuroko. Dan ia menemukannya.

"Mari lupakan hal itu dan anggap tak pernah terjadi, Tetsuya."

"Setuju, Akashi-kun."

"Jadi, kau memaafkanku?"

"Memaafkanmu untuk apa, Akashi-kun?" Kuroko tersenyum kecil.

Akashi mendengus tertawa. "Aku suka selera humormu, Tetsuya." Dia melirik jam tangan. "Katanya Daiki akan menjengukmu sebentar lagi, padahal jam besuk sudah hampir habis. Dasar pelupa. Nah, aku pergi dulu."

.

.

.

.


.

.

Delapan tahun telah berlalu sejak hari itu, dan di detik ini juga memori Akashi membuka kembali ke masa itu.

Kuroko bicara dengan nada datar, "Kalau kalian ingin membawa semua dosa Generation of Miracles ke dalam liang kubur, biar kubantu. Kupercepat waktu kematian kalian."

Ya, tidak ada yang berubah dari sopan-santun si pemain bayangan. Dan rupanya ia juga tidak berubah dari pendiriannya dahulu.

Akashi tidak takut. Di mobil ini Kuroko terkunci bersamanya, dan peracunan manisannya tadi tidak berhasil. Tapi dia tahu Kuroko tidak sebodoh itu—dia pasti punya rencana cadangan.

"Aku tidak menduga kau seegois ini, Tetsuya. Kau mau membunuh kami berlima dan hidup menanggung dosa itu seorang diri. Mau kau kemanakan masa depanmu?"

"Letakkan ponselmu, Akashi-kun. Jangan hubungi polisi atau aku akan melaporkan kejahatan masa lalu kalian. Hukumanmu tidak selesai hanya dengan membayar denda."

"Kau dekat dengan para penegak hukum, ya?" Akashi tertawa miris. "Dan selama ini tidak ada yang menyadari kelakuan kriminalmu?"

"Aku cukup mengenal Kagami-kun dan tahu bahwa dia tak akan sadar. Baginya aku selalu jadi partner-nya."

"Lalu apa yang mau kau lakukan sekarang?" tantang Akashi. "Masih ada satu... jembatan keledai bodohmu itu. Aku tahu! Bukan hanya dirimu yang punya informan di kepolisian! Ryouta sudah mengalami hot as a pistol. Kau tidak memasukkan serbuk alergen? Racunmu barusan tidak seperti akan membuatku red as a beet."

"Karena aku memang menduga bahwa trik itu akan ketahuan, Akashi-kun."

Mata Akashi bergerak cepat, namun tangan Kuroko tahu-tahu sudah memegang pistol.

"Kau hanya punya warna merah di kepalamu, Akashi-kun, jadi perlu kutambahi—"

Sebuah letusan pistol terdengar. Disusul yang berikutnya.

.

.


.

.

"Kuroko-sensei, apa kau tahu siapa Mad Hatter?"

Seorang anak laki-laki berusia lima tahun menghampirinya di kelas sambil membawa sebuah kaos putih bergambar kartun.

Tetsuya Kuroko berlutut supaya tingginya sama dengan anak itu dan menjawab dengan manis,

"Aku tidak tahu, Genji. Kenapa memangnya?"

Anak bernama Genji itu mengerucutkan bibir. "Ah... Sensei payah! Sensei pasti tidak pernah baca dongeng Alice in Wonderland! Dia tokoh yang sangat menarik!" Genji membentangkan kaos itu. Gambar sesosok pria kecil bertopi tinggi yang tampak energik dengan rambut jabrik merah menyala terpeta di kain itu. Sepasang matanya beriris heterokrom**.

Dan itu langsung mengingatkan Kuroko akan sesuatu—seseorang.

Seseorang yang ada di negeri yang jauh, yang dengannya Kuroko tidak pernah berkabar lagi sampai bulan Januari saat akan mengadakan reuni kedua Generation of Miracles.

Dan itu juga mengingatkannya akan sesuatu yang lain. Suatu rencana dengan obat-obatan yang sedang berjalan... dan kalimat 'mad as a hatter' terbit dalam memorinya.

Ia harus banyak melakukan pencarian setelah ini.

.

.

.

to be continued.

.

.

.


*ADHD dengan gejala kesulitan berkonsentrasi dan hiperaktif dapat diobati dengan zat stimulan, misalnya metilfenidat, atau amfetamin (yang termasuk narkotika).

**Mad Hatter yang ada di cerita Alice in Wonderland kadang digambarkan berambut merah dan beriris heterokrom.