Kuroko no Basuke (c) Tadatoshi Fujimaki

.

By Means of a Miracle

by Roux Marlet

Mystery/Crime, Friendship

Future Alternate Reality, Minor Original Characters, Characters' Death

.

Chapter 7: When You Believe

.


.

.

"Dari penilaian juri telah diputuskan bahwa: Seijuurou Akashi dinyatakan bersalah."

Palu dipukul. Pengadilan digelar tanpa satupun orang dari media. Berita acara ditulis dan disimpan. Denda dibayarkan atas tuduhan penyalahgunaan narkoba oleh Seijuurou Akashi.

Akashi yunior itu mengaku mengonsumsi amfetamin bersama Ogiwara sebelum latihan sore hari sebelum kejadian. Tudingan-tudingan miring sempat diarahkan pada Akashi termasuk kelainan orientasi seksual, tapi tidak ada bukti tentang itu. Mereka berdua minum amfetamin atas inisiatif Akashi dan Ogiwara tidak tahu bahwa ia minum zat itu. Begitu cerita yang diterima pengadilan dan tidak ada bukti lain dari pihak Ogiwara karena yang bersangkutan telah meninggal. Kesalahan murni karena kesengajaan Akashi dan ketidaktahuan Ogiwara tentang amfetamin yang dibeli si pelatih di toko obat. Tidak ada indikasi bahwa mereka sudah jadi pecandu narkoba, dan karenanya tindakan rehabilitasi tidak diperlukan untuk Akashi.

Seijuurou Akashi bersalah karena membeli dan menggunakan narkoba yang mengakibatkan kematian Shigehiro Ogiwara, dan hanya dia saja yang mendapat hukuman denda. Tidak satu pun nama Generation of Miracles yang lain tercetus dalam pengadilan. Dan tidak satu pun terindikasi bahwa amfetamin sebetulnya juga diberikan pada anak-anak yang lain...

Dengan begitu Seijuurou Akashi mengira dirinya sudah membebaskan keempat temannya dari kasus doping yang lain.

Pemuda berambut merah dalam blazer hitam itu berjalan ke luar gedung pengadilan dengan kepala tegak.

Di luar, Shintarou Midorima sudah menunggunya, masih dalam seragam SMA Shuutoku. Hari itu hari terakhir ujian nasional SMA.

Akashi langsung bicara sambil melepas blazer-nya, "Untuk apa kau ke sini, Shintarou?"

"Memberimu dukungan moral, nanodayo," sahut figur berkacamata sembari membuang pandangan seolah tak mau mengakui kepeduliannya.

Dasar tsundere.

Akashi mendengus sambil berjalan. "Tidak perlu. Moralku sudah tak berbentuk."

"Kau tidak sendirian, Akashi." Midorima mengikutinya.

Si rambut merah tidak menyahut.

"Kita melakukannya bersama, maka kita akan jatuh ke jurang bersama-sama, nanodayo."

"Sejak kapan kau jadi sok puitis, Shintarou?"

"Aku benar, 'kan?"

Akashi diam.

"Kau masih pakai seragam sekolah, nanodayo."

Pengadilan itu memang diadakan tepat satu jam setelah ujian nasional SMA yang terakhir. Tapi kenapa Akashi tidak mengganti pakaian dulu sebelum ke sini?

"Agar mereka ingat bahwa aku masih seorang siswa SMA."

Tapi Akashi sudah melepas badge SMA Rakuzan dari seragam itu. Apa dia tidak ingin mencemarkan nama almamaternya lebih dari ini?

"Mau ke mana kau setelah lulus, Akashi?"

Lagi, Akashi tidak menjawab. Dia tahu bahwa jawaban atas pertanyaan Midorima bukan Harvard University.

"Bulan depan kita jadi mengadakan reuni, 'kan? Kau kira aku sudah tak punya muka untuk menghadapi yang lain? Aku kapten kalian dan aku yang mengundang kalian untuk reuni. Maka aku pasti datang. Kasus itu selesai di sini, titik. Tidak akan ada yang mengungkitnya lagi dan kalian tak perlu berterima kasih padaku."

Midorima berhenti berjalan sementara Akashi terus jalan saja sambil mengeluarkan ponsel. Si rambut hijau menatap punggung mantan kaptennya yang terlihat tegang itu—dia tahu Akashi sedang hancur di dalam, karena semua ini membuat mereka semua hancur... dan Akashi yang terkena dampak yang paling besar.

Tapi ada satu hal yang janggal di mata Midorima.

"Akashi... mana ayahmu?"

Benar saja firasatnya. Seijuurou Akashi berhenti melangkah dan menoleh.

"Dia di rumah," jawabnya singkat.

Midorima mendekat. "Supirmu tidak menjemput?"

"Tidak. Aku sudah pesan taksi."

Midorima tahu ada yang salah, tapi dia tidak berani bertanya. Tapi di sanalah Seijuurou Akashi berdiri, di sampingnya, tangan bersedekap di depan dada dengan kepala tegak senantiasa; namun dengan keangkuhan yang perlahan-lahan luntur.

"Ah, di mana Bakao itu, nanodayo," gumam Midorima akhirnya setelah semenit keheningan. "Dia janji akan menjemputku."

Akashi sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri, yang Midorima sekalipun tidak mengetahuinya bahkan sampai dirinya meninggal dalam kecelakaan mobil tanggal tujuh Januari, delapan tahun kemudian.

.

.


.

.

"Kukira... setelah kasus Ogiwara itu..."

Ryouta Kise diam sejenak, mengamati wajah lawan bicaranya yang menunggu penjelasannya.

"Kau tahu bahwa Shigehiro Ogiwara meninggal karena overdosis amfetamin-ssu? Sebetulnya itu rutin diberikan Akashicchi padanya, dalam minumannya, setiap latihan. Mana kami tahu kalau dia keracunan karena sudah pernah minum amfetamin untuk penyakitnya-ssu? Kami melakukan hal yang sama pada setiap anak didik dan tidak ada yang berakhir seperti Ogiwara, untungnya..."

Begitu kalimat terakhir itu tercetus dari mulut Kise, dia tahu bahwa dia sudah salah bicara. Apa yang dilihatnya selanjutnya adalah bayang-bayang neraka.

Panas... panasnya sangat menyiksa.

Dunia apa ini?

Apakah dia sudah mati?

.

.

.

.

Ryouta Kise membuka mata dan sepasang manik kuning emasnya menatap langit-langit putih.

Dia merasa lelah luar biasa seperti baru saja menjalani empat pertandingan basket sekaligus dalam sehari.

Digerakkannya tangan... ada selang infus di situ. Dilihatnya sang kakak tertidur di kursi di dekat tempat tidurnya. Dirinya ada di rumah sakit?

Pelupuk matanya masih terasa berat dan Kise berusaha mengingat apa yang terjadi sebelum ini.

Sepulangnya dari Maji Burger, dia merasa tidak enak badan dan langsung tidur. Dipasangnya alarm di ponsel pukul dua siang—tapi dia tidak terbangun, atau karena sesuatu hal alarmnya tidak berbunyi. Dia mimpi buruk dalam tidurnya...

Dia dibakar dalam api neraka, bayangkan saja itu! Panasnya benar-benar nyata, mengerikan sekali.

Semua gara-gara Kurokocchi siang itu, pikir Kise, dia mengingatkanku akan skandal waktu itu...

Pria muda berambut pirang itu mengerang. Dia tidak pernah benar-benar bebas dari masa lalu itu. Dia membencinya dan berharap apa yang dilakoninya sekarang bisa membuatnya lupa. Setiap hari dengan mudahnya dia pergi ke berbagai negara, tapi sejujurnya dia tidak bisa lupa. Untuk beberapa jam, kenangannya bisa ikut melayang di ketinggian beribu meter selama berada di pesawat... namun setiap kali kakinya menginjak tanah di Haneda, memori itu kembali menyerang nuraninya.

Ryouta Kise yang polos terjerumus dalam tindak kriminal yang keji. Memberi doping pada atlet basket SMA yang dilatihnya. Apa yang bakal dikatakan orang-orang kalau hal itu tersebar luas?

Kise masih merinding mengingat perkataan Kuroko di Maji Burger, ketika Akashi pergi ke toilet sebentar.

"Haizaki-san... dia rupanya saudara sepupu Shigehiro Ogiwara. Aku tahu ini dari Kagami-kun. Bagaimana ini, Kise-kun? Apa dia mau balas dendam atas kematian Ogiwara?"

Nama Shigehiro Ogiwara-lah yang mendatangkan mimpi buruk Kise. Tapi kalau cuma mimpi buruk di siang bolong, kenapa dia sampai masuk rumah sakit? Apa yang terjadi padanya...?

Kise mendapati ponselnya tergeletak di meja di sampingnya. Diraihnya dan dimasukkannya password sambil nyengir kecil—kakaknya pasti sudah mencoba membuka perangkat itu dan gagal. Empat buah angka tujuh—entah sejak kapan dirinya jadi percaya dengan angka keberuntungan pujaan Midorima itu.

Sepasang mata sipitnya membelalak menyadari bahwa itu sudah hari yang berbeda. Sekarang tanggal sepuluh Januari, pukul setengah empat pagi. Kise merasa sesuatu menohok perutnya. Dia melewatkan penerbangan ke Hawaii... dua belas jam yang lalu?!

Ada tujuh kali nomor kantor Haneda meneleponnya, dan empat kali panggilan tak terjawab dari Akashi. Dibukanya kotak pesan singkat dan menemukan empat puluh tiga pesan yang belum dibaca—dia berpindah ke inbox e-mail dan di sana ada tiga pesan baru. Satu dari kantor Haneda, satu dari Akashi, dan satu dari Kuroko. Dibukanya yang pertama dan Kise mengembuskan napas lega.

Sudah ada pilot yang menggantikan dirinya karena sampai pukul setengah tiga sore Kise tidak muncul di bandara—prosedurnya memang begitu. Kise membalas dengan awalan minta maaf lalu berhenti mengetik. Kenapa dia sampai tertidur dua belas jam lebih?

Dia membuka e-mail yang lain. Akashi mengkhawatirkannya karena tidak menjawab telepon—pesannya dikirim pukul tujuh malam. Tapi Kise sendiri belum tahu ada apa dengan dirinya, jadi dia membuka e-mail dari Kuroko yang dikirim tengah malam.

"Nee-san..." panggilnya pada sang kakak sejurus kemudian. Ia memperkeras suaranya dengan dramatis, "Nee-san!"

Perempuan berambut pirang itu terbangun dengan kaget. "Ryouta? Kami-sama! Kau sudah sadar!" balasnya tak kalah dramatis.

"Di mana ini-ssu? Apa kita di Tokyo?"

Kakaknya menggeleng. "Ini rumah sakit di dekat perumahan kita, Ryouta. Eh? Apa yang kau lakukan? Kau sedang diinfus!" serunya melihat adiknya itu berusaha turun dari tempat tidur dan malah hampir terjatuh.

"Ryouta!" bentak Reika Kise, segera menahan adiknya sebelum tubuh lemas pemuda itu menghantam lantai. "Pakai akal sehatmu! Akan kupanggilkan dokter."

Sang adik mengerang. "Temanku sudah gila-ssu," ujarnya dengan muka pucat pasi. "Dia mengirimkan surat wasiat kepadaku."

.

.


.

.

Detektif Taiga Kagami berguling dalam tidurnya dan terjatuh ke lantai. Alarm ponselnya menjerit-jerit nyaring.

"Aw... aduh..."

Jam tangannya yang bersinar dalam gelap menunjukkan pukul sepuluh kurang seperempat. Kagami melirik ke luar kamar, ini masih malam hari tanggal sembilan Januari.

"Kuroko?" panggilnya sambil mematikan alarm. Tidak ada jawaban, Kagami mengusap lengannya yang membentur papan kayu sambil bangkit.

Ia tidak menemukan si pemain bayangan di manapun di apartemennya—dan hei, pintu depannya tak terkunci padahal tadi sudah dikuncinya! Di luar, ia bisa mendengar raungan sirine dari kantor pusat kepolisian yang hanya beda satu blok dari tempat itu.

"Oh, aku terlambat..." keluhnya.

Dikiranya ia bisa menahan si tersangka utama dalam apartemennya untuk malam ini, dan mewawancaranya nanti kalau tubuhnya sudah cukup beristirahat. Orang itu tadi sengaja dilupakannya di kantor polisi dengan berbagai alasan, tapi ternyata dia tidak kabur dan masih duduk manis menunggunya. Kagami pikir malam ini akan berlalu dengan tenang sementara polisi mengamankan dua orang yang potensial menjadi calon korban, tapi ternyata tidak.

Disambarnya mantel lalu berlari ke luar kamar. Dia menelepon satu nomor.

"Moshi-moshi... Alex? Aku bisa minta bantuanmu? Hubungi Furihata. Iya, sekarang. Dia tidak pernah tidur sebelum tengah malam. Dan tolong lacak apakah dalam tiga jam terakhir ada mobil dengan dua penumpang lewat di daerahmu. Kutunggu segera—eh, apa kau bilang? Mitobe... ya, Rinnosuke Mitobe si penjual bahan kimia itu, aku kenal dia. Apa? Ada yang membeli hablur sianida di toko Mitobe minggu lalu—atas nama kepolisian Tokyo?"

.

.


.

.

Seorang pria muda berlari menuruni bukit dini hari itu. Malam makin larut pada tanggal sembilan Januari.

Jantungnya berdebar keras seakan mau meledak dan paru-parunya sudah sangat kewalahan. Tapi dia tetap berlari. Dia bukannya lari dari kenyataan seperti kawannya yang jadi pilot atau yang pengusaha itu.

Dia lari untuk mati.

Karena jantungnya tidak akan mampu menahan beban seberat berlari di perbukitan selama dua jam nonstop. Dia tahu itu bahkan ketika masih memakai alat pacu jantung.

Sekarang, jantungnya sudah tak punya penyokong dan bisa berhenti berdetak sewaktu-waktu—dia menjalani operasi sekali lagi dan membayar dokternya sangat mahal untuk pelepasan pacemaker itu dan untuk tutup mulut. Tak masalah. Ia sudah menarik semua tabungan dan bunga termasuk yang disimpankan di bank oleh Chihiro Mayuzumi untuk asuransi jiwanya. Mudah untuk mendapatkan beberapa obat antikolinergik di apotek yang meskipun adalah obat keras boleh dibeli tanpa resep dokter* dan ia bahkan berhasil mendapatkan seorang ahli pembuat perban yang mengandung obat. Mirip sediaan transdermal patch, hanya saja orang tidak akan sadar bahwa kain pembebat itu ada obatnya.

Termasuk Shintarou Midorima yang secara rutin minta dikirimi perban semacam itu—yang diisi dengan metil salisilat dan semacamnya, untuk mengurangi pegal-pegal. Kebiasaannya sejak main basket di SMP itu tidak bisa hilang. Si kacamata tidak tahu bahwa Tetsuya Kuroko mengganti perban metil salisilatnya dengan perban yang mengandung atropine selama enam bulan terakhir. Sebelumnya, selama mereka bermain satu tim di SMP Teiko, Kuroko memang selalu dimintai tolong oleh Midorima untuk memesankan perban metil salisilat dari toko tertentu. Dialah satu-satunya anggota Generation of Miracles yang tetap menjaga komunikasi dengan Kuroko selama delapan tahun terakhir.

Peracunan terhadap Midorima terjadi sangat perlahan-lahan. Pelan tapi pasti, atropine meresap melalui kulitnya. Dan malam itu, sepulangnya si dokter mengantarkan temannya di perbatasan utara Tokyo, efek samping antikolinergik itu sangat mengganggu penglihatannya—dan hasilnya, ia mengalami kecelakaan mobil.

Meracuni Atsushi Murasakibara mudah sekali. Dia hampir tak pernah mencecap dengan berhati-hati. Dia hanya memperhatikan apakah rasanya cukup manis atau tidak. Beruntung benztropine mudah dipalsukan rasanya dengan sakarin, gula buatan. Dimasukkannya obat itu ke milkshake Murasakibara, hampir tepat di depan mata Detektif Kagami yang teledor.

Atropine juga bisa dicetak dalam campuran gula batu karena mudah larut dalam air. Itulah bungkusan yang dibukanya di kantor kepala divisi investigasi kepolisian Tokyo, dan efeknya bersama teh membuat rasa kering yang dialami Daiki Aomine itu makin menjadi-jadi.

Dia hanya membubuhkan sedikit hyoscine di minuman Ryouta Kise saat di Maji Burger, karena tahu dari pengalaman bahwa mantan model itu selalu mencicipi minumannya sedikit sebelum menghabiskannya—Tetsuya Kuroko bisa ketahuan kalau memberi terlalu banyak, tapi jumlah yang sedikit itu sekiranya cukup untuk membuat Kise kena demam saat dia sudah ada di atas pesawat. Baru setelah dia tahu tubuh Kise bereaksi lebih cepat dari perkiraan, dia menyadari bahwa dia hampir saja jadi pembunuh massal penumpang yang akan berangkat ke Hawaii. Pertolongan yang cepat juga segera diberikan, dan Ryouta Kise tidak jadi menemui neraka untuk saat ini. Maka dari itu ia mengirimkan pesan terakhirnya pada pilot itu.

Sampai saat terakhir, Kuroko tidak bisa membunuh Akashi secara langsung. Dalam hatinya ia tetap menghormati si rambut merah—kalau bukan karena Akashi, Kuroko mungkin tidak akan pernah bisa main dalam tim basket seumur hidupnya—tapi di sisi lain dia tahu bahwa Akashi adalah biang keladi semua ini. Keempat temannya terlibat karena Seijuurou Akashi memberi arah yang salah. Dia kapten yang buruk. Kuroko menembak perutnya empat kali dan berharap dari situ Akashi akan mati kehabisan darah. Ponsel Akashi dibuangnya di suatu tempat di sepanjang perjalanannya sampai ke sini sehingga pengusaha itu tidak bisa minta pertolongan.

Satu hal yang dia sesali adalah kematian Satsuki Momoi. Dia tidak tahu kenapa gadis yang dikenal sebagai intel Teiko itu bisa meninggal juga—bahkan di hari yang sama dengan tewasnya Daiki Aomine. Mereka memang berjodoh sepertinya.

Ponsel Kuroko bergetar dalam sakunya. Sepertinya ada yang mengiriminya pesan. Ah, masa bodoh. Sebentar lagi dia sudah tidak bisa membalas pesan lagi. Kuroko tetap berlari. Dadanya terasa sangat sakit.

Sakitnya... kenapa ya, dia mau bersakit-sakit sampai seperti ini? Nuraninya tertusuk-tusuk tiap kali mengingat bagaimana Midorima selalu memesan kembali perban itu, betapa nikmat wajah Murasakibara yang meminum milkshake blueberry-nya yang manis, betapa berdedikasinya Aomine pada pekerjaan penegak hukumnya sampai tidak tidur dua hari dan tidak sadar ada yang berbeda dengan rasa tehnya, dan bagaimana ekspresi ketakutan Kise begitu mendengar nama Ogiwara lalu langsung menenggak air sari jeruknya sampai habis. Dia sebetulnya tidak mau teman-temannya itu mati. Penyesalan itu hanya tidak dirasakannya saat menembak Akashi tadi.

Atau... sebetulnya dia menyesal juga?

Ya. Tetsuya Kuroko merasa menyesal sudah jadi pembunuh. Tapi tak ada jalan untuk kembali karena tiga orang sudah mati di tangannya dan satu akan menyusul sebentar lagi. Dia tak punya waktu untuk mencoba membunuh Kise sekali lagi, jadi biarlah si pirang itu menjadi satu-satunya Generation of Miracles yang tersisa.

Masa depan tidak akan menjadi cerah untuk Kise... dia sendirian akan menanggung beban mereka berlima yang sudah mati. Kuroko tidak tahu harus membenci Kise atau malah berterima kasih—karena dari si pirang lah Kuroko jadi tahu yang sebenarnya dilakukan kelima temannya itu. Atau akankah lebih baik kalau dia tetap tidak tahu apa-apa?

Sepertinya Kuroko bisa menebak latar belakang keputusan Kise berhenti menjadi model—dan entah bagaimana dia jadi memikirkan kembali rutinitasnya mengajar di TK. Salah seorang muridnyalah yang memberinya inspirasi dari tokoh Mad Hatter—dan dimulailah drama peracunan antikolinergik ini.

Bermula dari Mad Hatter, dia menemukan lima efek unik yang ditimbulkan obat yang bekerja pada reseptor kolinergik di saraf manusia itu. Dengan banyak pencarian dan perhitungan, dia bisa menyusun rencana agar kelima efek itu bisa tampak pada orang yang berbeda.

Sekali ini saja dalam hidupnya yang selalu berada di balik bayang-bayang ini, Kuroko ingin menjadi seseorang yang noticeable. Orang akan mengingat namanya setelah dia mati!

Segala tindakan Kuroko sejak kematian Midorima lebih pada spontanitas dan mencari kesempatan dalam kesempitan, maka ia tak heran ketika mendengar sirine mobil polisi di kejauhan. Pasti ada saksi mata atau rekaman CCTV yang menangkap basah aksinya.

Pandangan pemuda itu mengabur. Dia mengingat kembali pesan terakhirnya pada Ryouta Kise.

Maaf aku sudah berbohong. Shougo Haizaki tak punya hubungan apapun dengan Ogiwara. Akulah yang membunuh Midorima-kun, Murasakibara-kun, dan Aomine-kun. Lalu aku coba membunuhmu dan Akashi-kun juga. Dia pasti mati sesaat lagi dan aku juga. Mengakulah ke polisi kalau kau mau sisa hidupmu tenang—sebagai mantan Generation of Miracles. Tak ada lagi keajaiban untuk kita semua.

Selamat tinggal, Kise-kun.

.

.


.

.

Daiki Aomine menggigiti bibirnya. Tidak biasanya sang polisi bersikap demikian, maka Kuroko bertanya apa yang sedang terjadi.

Sore itu tanggal delapan Januari, sekitar tujuh jam sebelum kematian sang kepala divisi investigasi.

"Kau masih ingat kasus doping waktu itu, Tetsu?" Aomine akhirnya buka suara.

Kuroko mengiyakan dengan hati-hati. Ia sudah memasukkan atropine-batu yang cepat melarut ke dalam teh Aomine tapi polisi itu belum menyentuh minumannya sama sekali.

"Aku tidak mau Momoi sampai tahu tentang itu," lanjut Aomine.

Kuroko masih menatapnya. "Begitu?"

"Ya, tapi ketika aku memikirkan masa depan—" tiba-tiba wajah polisi itu memerah. "Maksudku, suatu saat nanti dia pasti tahu juga. Aku tidak tahan membayangkannya—jadi..."

"Jadi, apa, Aomine-kun?"

Aomine menunduk menatap ponselnya. "Ya, aku harus minta maaf padanya. Sebentar, Tetsu."

Polisi itu mengetik pesan pada Momoi sambil meminum tehnya sedikit. Dia tak menyadari bahwa Kuroko masih mengamatinya lekat-lekat.

Daiki Aomine sudah membulatkan tekad untuk melenyapkan Satsuki Momoi saat ia membeli racun sianida seminggu yang lalu. Dimasukkannya zat itu ke dalam nasal spray si reporter, dan sewaktu-waktu bila alerginya kumat (apalagi di musim dingin begini), dalam semenit Momoi akan mati sesak napas. Aomine tidak mau Momoi hidup dengan mengetahui kebenaran memalukan tentang tim hebat yang dimanajerinya saat SMP.

Sekali ini, lagi-lagi pria itu tak berpikir panjang. Dia lupa betapa dahsyatnya intelijensi Momoi dan tak tahu bahwa perempuan itu sudah lama mengetahui yang sebenarnya.

Dan sore itu, saat Momoi muncul di kantor polisi, Aomine baru sadar bahwa selama ini dirinya buta. Satsuki Momoi mencintai dirinya. Daiki Aomine pun mencintainya—meski selama ini ia tak mau mengakuinya. Selama ini dia kira dia suka bersama Momoi karena tubuh wanita itu sangat menyegarkan mata, tapi sebetulnya lebih dari itu. Sejak dulu Momoi sangat setia padanya. Wanita itu tahu Aomine punya kepribadian labil dan penuh kekurangan, tapi ia selalu ada saat Aomine membutuhkan dukungan. Ia bahkan mendaftar kuliah jurnalisme di perguruan tinggi dekat akpol yang tak terkenal demi selalu berada di dekat Aomine.

Dan Aomine malah ingin membunuh perempuan yang mencintainya dengan tulus itu?

Tidak... tidak boleh ada lagi penyesalan.

Aomine mengirim pesan dengan buru-buru dan berusaha mencegah Momoi menggunakan nasal spray itu—yang seingatnya masih ada di kamarnya. Dibilangnya benda itu hilang.

Kuroko masih diam saat Aomine akhirnya meletakkan ponselnya ke meja.

"Kau tahu, Tetsu... aku tidak pernah bisa melupakan skandal itu meski yang terseret ke pengadilan hanya Akashi. Aku menyesal, tapi semua sudah terjadi, 'kan? Midorima bilang satu-satunya yang bisa kami lakukan adalah berhenti. Dia menjadi dokter karena hal itu juga. Dia mau menyelamatkan orang dengan obat, bukan menyalahgunakan obat seperti dahulu. Ini hanya perkiraanku—dia tidak mungkin mengakui ini, si tsundere itu."

Si polisi tertawa sendiri dan memejamkan mata.

"Murasakibara membuka toko kue untuk mendeklarasikan pada orang-orang bahwa makanan dan minuman seharusnya dinikmati, bukan untuk dimasuki zat terlarang seperti dahulu..."

Kuroko masih terdiam.

"Dan aku menjadi penegak hukum karena aku terlalu pecundang untuk mengakui kejahatanku pada polisi..."

Kalimat terakhirnya itu lebih ditujukan pada diri sendiri.

.

.

.

.

Aomine masih ingat dengan jelas kejadian hari itu. Reuni SMP mereka yang pertama setelah kelulusan SMA. Kuroko baru saja meninggalkan lapangan itu dengan berlinang air mata setelah mendengar kebenaran dari mulut Kise, dan Akashi berlari menyusulnya. Kise masih mematung dengan kepala tertunduk, Murasakibara memandangi kedua teman yang pergi dengan tatapan kosong, dan Midorima tampak gelisah. Aomine sendiri merasa marah dan khawatir. Apa yang dipikirkan Kuroko tentang dirinya—dan tentang mereka semua?

Kuroko adalah temannya yang paling dekat di SMP Teiko. Dulu ada masanya Aomine begitu egois sampai berkata tak ada yang bisa mengalahkannya selain dirinya sendiri, dan kala itu hanya Kuroko yang tahan menghadapinya. Dengan caranya sendiri, Kuroko sudah menyadarkan Aomine. Pemuda pendek berambut biru langit itu begitu baik... dan Aomine terlambat menyadarinya. Dan sekarang ia marah. Marah pada dirinya sendiri. Marah pada Akashi yang memprakarsai. Marah pada Midorima yang tidak bicara demi kebenaran. Marah pada Murasakibara yang apatis. Marah pada Kise, terutama, yang menyampaikan semua ini pada Kuroko! Aomine telah berbuat kesalahan fatal yang tak termaafkan—bersama keempat temannya ini—dan sekali lagi Kuroko telah menegurnya. Tapi apa yang bisa dia perbuat untuk menebus kesalahan ini?

Waktu itu Shougo Haizaki tiba-tiba muncul bersama antek-anteknya dari SMA Yousen. Mereka kelihatan ingin cari keributan dan bahkan Murasakibara yang satu almamater terlihat tak nyaman dengan kehadiran mereka.

Si rambut kelabu mencemooh dengan dagu terangkat. Dia mestinya melihat apa yang terjadi barusan. "Malangnya, Generasi Keajaiban tanpa keajaiban mereka yang terkenal! Kalian tidak bisa menutupi borok Akashi selamanya, 'kan? Dan lihat si kecil yang menyedihkan itu menangis seperti bayi..."

Daiki Aomine, dengan kepala mendidih karena kemarahan berlipat ganda, tidak berpikir panjang ketika menghajar Haizaki tepat di wajahnya.

.

.

.

.

Junpei Hyuuga sang kepala polisi menaikkan alisnya tinggi-tinggi ketika membaca berkas itu. Dialihkannya pandangan pada lawan bicaranya yang baru saja menyodorkan tumpukan kertas yang dipegangnya sekarang.

"Daiki Aomine... Lulus akademi kepolisian dengan nilai sempurna dan tes kesehatan yang bagus. Lalu apa alasanku menolak lamaranmu?"

Di hadapannya, Aomine membungkuk sedalam-dalamnya. "Tolong, terima saya, Pak."

"Kau punya catatan kriminal," tegas Hyuuga tanpa perasaan. "Memang sudah lima tahun, tapi apa kau kira aku sudah lupa wajahmu? Berantem seperti anak berandalan padahal baru saja dapat ijazah SMA. Aku heran mengapa akademi kepolisian menerimamu."

Aomine belum mengangkat kepalanya. "Saya menyesal, waktu itu saya tidak berpikir."

"Tentu saja tidak berpikir. Aku tidak mau menerima orang bodoh dalam kantorku."

Pria muda berkulit gelap itu mengertakkan gigi dalam diam. Dia masih membungkuk. "Saya harus menjadi polisi, Pak."

"Untuk apa?" tanya Hyuuga tanpa nada simpatik. "Agar kau bisa dianggap keren dan berkuasa?"

Ada jeda yang menyesakkan sebelum Aomine menjawab,

"Karena saya ingin menebus kesalahan saya."

Junpei Hyuuga terdiam. Dia mengetuk-ngetuk meja dengan pena lalu dengan cepat menggoreskan sesuatu di atas berkas Aomine.

"Pulanglah sana dan bawa kembali berkasmu."

Daiki Aomine mendongak dan menatap sang kepala polisi dengan pandangan nanar. "Anda tidak mengerti—"

"Oh, tentu saja aku mengerti. Aku ada banyak kerjaan, dan aku tidak mau direpotkan oleh orang baru yang tidak bisa menggunakan otaknya dengan benar. Apel pagi diadakan setiap pukul setengah enam dan anak baru tidak boleh terlambat."

.

.

.

.

"Maafkan aku soal yang tadi. Aku akan jelaskan besok. Kau akan datang ke pemakaman Midorima dan Murasakibara, 'kan?

P.S. Kalau kau butuh nasal spray, belilah yang baru di apotek. Milikmu kuhilangkan beberapa hari yang lalu."

Pesan Aomine datang terlambat dan Satsuki Momoi meninggal segera sore itu, tanggal delapan Januari, akibat hablur sianida dalam nasal spray—dan malamnya Daiki Aomine menyusul kematiannya di unit gawat darurat Rumah Sakit Tokyo seolah sudah ditakdirkan demikian.

Lagi-lagi Daiki Aomine tidak berpikir panjang—dengan menyalahgunakan posisi dan wewenangnya sebagai polisi.

Sesaat sebelum dia pingsan, saat dia masih bisa berkata pada Detektif Kagami untuk menelepon ambulans, Aomine menyadari bahwa Momoi mungkin sudah meninggal karena sianida dan dia mengutuk dirinya sendiri yang tidak pernah bisa belajar dari kesalahan. Dalam sepersekian detik dia yakin dia akan menjadi korban berikutnya dan dalam intuisi secepat kilat dia tahu bahwa Kuroko adalah pelakunya. Hukuman karma bagi Aomine karena sekali lagi Kuroko memaksanya melakukan hal yang benar, dengan cara yang ekstrem untuk dirinya yang bandel ini, dan Aomine hanya bisa mengucap permohonan ampun terakhirnya pada Kami-sama dalam pikirannya.

.

.


.

.

"Aku tidak percaya padamu, Akashi-kun."

Tetsuya Kuroko sudah membuka paksa pintu mobil itu dan tubuhnya separuh berada di luar. Suaranya terdengar tegas dan mantap tanpa keraguan.

"Padahal aku percaya padamu. Tapi kau melakukannya lagi."

Akashi mengatakan sesuatu padanya dengan setengah gemetar... tapi Kuroko sepertinya tidak mendengarkan sampai selesai dan melesat pergi seperti bayangan malam.

.

.

.

.

Seijuurou Akashi merintih tertahan. Seorang diri di dalam mobilnya, napasnya memburu. Ia bisa merasakan darah mengalir perlahan di balik kemejanya, dan bergerak sedikit saja memperparah keadaan itu. Tetsuya rupanya tahu benar bagian mana yang harus ditembak, gerutunya dalam hati. Tembakan itu tidak membuatnya langsung mati... seolah Akashi diberi waktu untuk merenungi kesalahannya sementara jatah waktunya untuk hidup semakin berkurang.

Akashi bahkan tidak bisa merasa sakit lagi sekarang, seluruh tubuhnya mati rasa saking derasnya pendarahan di perutnya dan pandangannya mulai berkunang-kunang.

Alarm mobil itu berisik sekali karena pintunya dibuka paksa dari dalam oleh Kuroko tadi. Sungguh suatu kesalahan Akashi membawanya ke tempat sepi begini; dia memang curiga pada si mantan pemain bayangan dan dikiranya dia bisa menangani Kuroko sendirian. Tapi ternyata tidak.

Si rambut merah mengepalkan tangan.

Sialan. Dia tidak boleh mati di sini.

.

.

.

.

"Ingatlah selalu dalam kepalamu kalau ini bantuan terakhirku. Terakhir. Aku tidak mau melihatmu lagi..."

Pukulan paling keras yang menghajar Seijuurou Akashi sampai benar-benar hancur delapan tahun yang lalu adalah dari ayahnya sendiri. Dengan patuh ia menuruti kehendak pria itu, satu-satunya keluarganya yang tersisa di dunia, dengan bersekolah di Amerika selama empat tahun dengan uang tabungannya sendiri ditambah sedikit kerja paruh waktu dan setelah lulus merintis usaha baru di negara adikuasa itu dari nol. Tidak ada kontak apapun lagi bahkan sampai Seijuurou sudah kembali ke Jepang.

Masaomi Akashi yang punya pengaruh di antara para advokat hukum membantu sang anak terbebas sebelum masuk penjara karena pembunuhan yang tak disengaja atas Shigehiro Ogiwara—seharusnya Seijuurou diganjar hukuman kurung minimal lima tahun selain membayar denda. Tapi Masaomi sendiri tidak tahan akan hal itu, yang jelas akan mencoreng nama keluarganya.

Pelayan-pelayan keluarga Akashi berbisik di sana-sini, "Tuan Muda salah pergaulan."

Masaomi tidak peduli apapun penyebabnya. Seijuurou sudah mengecewakan ayahnya yang selalu menuntut kesempurnaan dan hal itu tidak akan termaafkan sampai kapanpun.

.

.

.

.

Seijuurou Akashi tahu dirinyalah ujung-pangkal semua keburukan yang sudah terjadi. Meski begitu, ia berusaha mati-matian menyelamatkan apa yang masih bisa diselamatkan—masa depan teman-temannya. Harga dirinya di hadapan sang ayah sudah jatuh sampai rata di tanah, demikian pula masa depannya sendiri sebagai penerus keluarga Akashi, dan dia tidak cukup tegar untuk menyampaikan hal itu pada Shintarou Midorima wakilnya yang setia menemaninya bahkan sampai proses pengadilan.

Tapi kalimat Midorima-lah yang membuatnya bisa bangkit lagi. Karena waktu itu, di depan gedung pengadilan, si pemuda tsundere berkacamata berkata padanya,

"Rasa malu tidak mendatangkan apa-apa kecuali kemajuan, nanodayo."

Tepat sasaran, karena memang itulah yang dirasakan Akashi. Malu yang sangat besar. Dan karena itulah Seijuurou Akashi tidak terpuruk putus asa dalam penyesalan.

.

.


.

.

Sirine mobil polisi yang bercampur baur dengan ambulans memecah kesunyian kota Tokyo menjelang tengah malam.

Para polisi sibuk. Junpei Hyuuga sang kepala polisi sendiri ikut turun ke lapangan dan sedang menggerebek kediaman Shougo Haizaki. Sementara dua peleton polisi lainnya dipencar ke dua arah dan yang satu sudah menemukan Seijuurou Akashi agak di pinggir kota yang sepi, sekarat karena pendarahan di dalam mobil yang sebelah pintunya terbuka, lampu sorotnya menyala, dan alarmnya berbunyi kencang.

Pasukan satunya menemukan Tetsuya Kuroko di kawasan hutan hampir jam sebelas malam, empat kilometer ke arah barat daya dari mobil Akashi. Pucat pasi, tak sadarkan diri, dan degup jantungnya tak terdengar lagi. Dia bisa ditemukan karena Detektif Taiga Kagami mengirim pesan ke nomornya dan divisi pelacakan bisa mendapatkan arah sinyal itu.

Sang detektif sendiri ikut dalam rombongan Kepala Polisi Hyuuga. Dia menyaksikan bagaimana pria bertampang preman itu memberontak dalam borgolan polisi.

"Kalian menahan orang yang salah!" sembur Haizaki dalam pakaian tidurnya. "Mana setan kecil itu, si Kuroko?! Dia pelakunya! Dia membayarku untuk bungkam selama ini!"

Polisi juga menyita berkotak-kotak perban yang mengandung obat di dalam rumahnya. Juga sebuah mesin pres yang hampir pasti adalah sarana kejahatan juga.

"Bukankah kau yang memberinya sugesti untuk melakukan semua pembunuhan itu, Haizaki? Akuntan hanya profesi resmimu. Ahli hipnotis dan pebisnis obat ilegal..."

Suara Taiga Kagami bagaikan palu hakim yang membuatnya membisu.

"Ada yang mendengar pembicaraanmu dengan Kuroko di Maji Burger sekitar setengah tahun yang lalu," lanjut Kagami dengan penuh kemenangan. "Kouki Furihata—pemilik Maji Burger. Dia pengelola restoran yang baik, selalu ada di belakang etalase dan menyapa semua pelanggan yang datang. Selanjutnya dia melihatmu bertemu dengan Kuroko hampir tiap hari di sana dan kadang iseng mencuri dengar pembicaraan kalian. Kau menyampaikan kabar bahwa Seijuurou Akashi kembali berbisnis, transaksi yang dilakukannya diam-diam... Waktu itu Furihata juga tidak memahami maksudmu, tapi setelah perkembangan kasus akhir-akhir ini... begitulah. Kuroko mencoba mencari tahu sendiri—lalu menjadi bimbang karena kenyataannya sesuai. Kau melihat kesempatan untuk akhirnya melenyapkan Generation of Miracles yang pernah menolakmu, tanpa mengotori tanganmu sendiri. Kau tidak menghipnotisnya—itu akan mudah sekali ketahuan—tapi kau mempengaruhi Kuroko sedemikian rupa sampai ia merasa yakin bahwa semua ide pembunuhan itu hasil pemikirannya sendiri."

"Itu tidak benar!" Haizaki bersikeras, tapi ia tampak tak sepercaya diri tadi.

"Simpan ludahmu untuk interogasi nanti," ujar Hyuuga tanpa perasaan. Para polisi mendorong Haizaki masuk ke mobil.

.

.

.

.

"Anda tepat waktu, Kagami-san."

Kagami menoleh dan mendapati Ryou Sakurai tengah tersenyum menatapnya dengan kelopak mata berkantung. Kepala divisi investigasi yang baru itu memberi hormat dan Kagami membalasnya. Saat itu dini hari, tanggal sepuluh Januari.

"Terima kasih pada informan-informan Anda," ujar Sakurai. "Sehingga penjahat yang sesungguhnya—yang masih hidup—tidak dibiarkan lolos."

Dari pengakuan Mitobe si penjual bahan kimia dan pemeriksaan barang-barang pribadi Satsuki Momoi, jelas sekali bahwa Daiki Aomine adalah pelaku pembunuhan atas diri si reporter. Tak ada yang bisa dilakukan tentang itu berhubung si pelaku sudah meninggal—kasus itu tidak diangkat ke permukaan untuk menjaga nama baik Aomine.

"Memang siapa menurutmu penjahat sesungguhnya, Sakurai?" gumam Kagami dengan nada memancing. "Kuroko melakukan semuanya itu atas kesadaran dan kehendaknya sendiri—meski penyuntik motivasinya memang Haizaki. Dan kau juga membantuku dengan menganalisis lebih lanjut rekaman CCTV—Haizaki memang ada di sana, di Toko Sweet Purple, dan kehadirannya entah bagaimana seolah memicu Kuroko untuk bertindak."

"Tetsuya Kuroko... dia tidak punya tampang seorang penjahat."

"Orang bilang, jangan menilai buku dari sampulnya," ujar Kagami. "Tapi aku yang lebih berhak untuk heran, Sakurai. Aku merasa aku sungguh-sungguh mengenalnya... ternyata tidak."

"Kapan Anda menyadarinya? Sejak saya menunjukkan potongan rekaman CCTV itu?"

"...tidak. Sebelum itu. Saat aku dan Kepala Polisi bicara tentang hubungan kasus ini dengan Generation of Miracles—dan saat aku menyebutkan orang-orang yang berhubungan dengan mereka... termasuk SMA Seirin, aku sadar bahwa Kuroko adalah pengecualian. Dia adalah anggota yang bukan anggota—sejak awal dia tidak dianggap sebagai Generasi Keajaiban tapi dia dipaksa menjadi bagiannya. Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada itu, dan itu bisa jadi luka batin yang lebih dahsyat daripada penolakan yang dialami Haizaki. Kuroko hidup bersama luka itu selama bertahun-tahun, ditambah kondisi jantungnya yang tidak memungkinkan baginya untuk bermain basket lagi..."

Sakurai mengerjapkan mata, tampak tercenung.

"Syukur, dia punya tipikal seperti kriminal umumnya yang mudah dikenali," lanjut Kagami sambil menyeringai kecil. "Dia tidak ketahuan setelah beberapa pembunuhan sehingga terlalu banyak bicara—dia sendiri yang memberiku ide tentang perban Midorima—tidak secara langsung, tentunya. Itu kebiasaan yang hanya dicermati oleh teman-teman terdekat, terutama yang bermain basket bersamanya."

"Kalau tindakan Kuroko-san tidak terekam CCTV waktu itu dan dia tidak meminta Anda untuk menemaninya kemarin sore... bisa saja tiga orang lagi sudah mati semalam?"

Perlahan, Kagami mengangguk muram. "Tapi seandainya itu terjadi, aku akan berusaha meminimalkan jumlah korban. Bagaimanapun, Kuroko adalah teman dekatku..."

Sakurai menyahut, "Jadi, yang terbaik adalah yang sudah terjadi, bukan?"

"Menurutku begitu. Kasus delapan tahun yang lalu memang belum selesai..." Kagami terdiam sebelum menyeringai lagi. "Dan kau, Sakurai, kerjamu memang lebih cepat daripada Aomine, tapi siapa yang tahu apa yang bakal kau hadapi? Jangan sampai kau bikin kasus setelah jadi kepala divisi investigasi seperti dua pendahulumu. Junpei Hyuuga sudah hampir botak padahal dia baru mau menikahi Riko Aida minggu depan."

.

.


.

.

"KUROKOCCHI!"

Sepuluh Januari, jam dua belas siang. Ryouta Kise menghambur ke dalam kamar rawat itu dan tersandung jatuh karena tubuhnya belum benar-benar pulih. Perawat membantu pria berambut pirang itu berdiri dan berjalan ke tempat tidur dengan benar, lalu mengundurkan diri keluar.

"Kise-kun..."

Wajah sang pilot dibanjiri air mata. "Kurokocchi! Untung kau tidak mati-ssu!"

"Aku..." pemuda berambut biru langit yang terbaring di ranjang bersprei putih itu tertegun sendu. "Aku tidak mati..."

"Kagamicchi sudah menceritakan semuanya... Haizaki dalang di balik semua ini-ssu. Mereka bilang akan memprosesmu juga—setelah semuanya menjadi jelas-ssu."

"Haizaki-san?" Kuroko bergumam lambat-lambat.

Kise mengamatinya. Kuroko tampak bingung—atau terlalu syok akan sesuatu sampai hal itu tak tampak lagi di wajahnya. Ia menyahut, "Kau tidak ingat, Kurokocchi...? Kau pasti bingung sekali. Jangan khawatir-ssu."

Sepasang manik biru menatap wajah kemerahan Kise tanpa ekspresi yang berarti. Tangannya gemetar. Kise maju dan memeluk tubuh teman SMP-nya itu, yang langsung terhenyak.

"Kise-kun..." ujar Kuroko sambil menarik diri, "...aku sudah mencoba membunuhmu kemarin." Merasa tak pantas untuk mendapat pelukan, dia mengucapkannya dengan datar dan gamblang; tak peduli lagi bakal seperti apa reaksi Kise setelahnya.

"Aku tidak peduli-ssu."

Kuroko tertegun lagi mendengar jawaban Kise.

"Bagiku kau tetap Kurokocchi yang baik. Yang selalu memberiku ucapan selamat ulang tahun saat yang lain tidak ada yang ingat-ssu. Yang membantuku mengerjakan pe-er aljabar sampai pagi dan ketiduran di kelas. Yang membuatku ingat kembali," Kise berhenti sebentar, "membuatku ingat kembali betapa aku mencintai basket-ssu."

Selapis bening air menggenang di pelupuk mata Kuroko.

Ironis, ketika kau ingin membuang masa lalu tapi masa lalu itu begitu manis untuk dilupakan. Kuroko ingat samar-samar bahwa Haizaki memang ada hubungannya dengan semua ini, tapi tiap kali dia mencoba mengingat detailnya dia jadi sakit kepala.

Tetsuya Kuroko sudah jadi pembunuh teman-temannya sendiri dan dia sudah melakukan usaha bunuh diri. Kenapa Kami-sama masih mengizinkannya hidup? Apakah ini suatu mukjizat? Apakah dia diselamatkan oleh daya di luar nalar manusia untuk suatu tujuan?

"Tapi Akashicchi tidak bisa diselamatkan-ssu," ujar Kise di sela tangisnya, "dan aku cukup bersyukur kau hidup, Kurokocchi. Jangan biarkan aku hidup sendirian menanggung dosa itu sampai aku mati-ssu."

Sesuatu mencekat tenggorokan Kuroko. Akashi meninggal...?

Kise melepaskannya dan Kuroko menarik napas dalam-dalam.

"Kise-kun..."

Si rambut pirang menyelanya, "...aku mengaku pada polisi-ssu."

Sepasang netra Kuroko menatap Kise tak percaya.

"Delapan tahun, kasusnya belum kadaluwarsa. Mungkin nanti kita bisa minta ditempatkan dalam sel tahanan yang sama-ssu. Keajaiban masih di pihak kita, Kurokocchi."

Ryouta Kise tertawa kecil. Tawa menawan sang mantan model yang selalu memikat para fans, yang menyimpan kepahitan masa lalu di baliknya... tapi kali ini, sinar mata Kise kelihatan tanpa beban—tidak seperti saat Kuroko melihatnya terakhir kali delapan tahun yang lalu, setelah pengakuannya tentang doping itu...

Ya, Kise sudah melakukan hal yang benar dengan menyampaikan kebenaran pahit itu pada polisi.

"Keajaiban masih di pihak kita..." ulang Kuroko. "Selama kita percaya bahwa keajaiban itu ada."

"Teman-teman kita yang lain juga mengharapkan keajaiban itu-ssu. Kita berdua masih hidup, jadi setidaknya dosa itu tidak seluruhnya dibawa mati-ssu."

Generasi Keajaiban tidak sepenuhnya mati. Masih ada keajaiban, selama Kuroko tidak hidup sendirian di dunia ini. Tak peduli jantungnya lemah dan hawa keberadaannya tipis sejak lahir, dia punya teman dekat seperti Kise yang akan mendukungnya. Juga Kagami, mungkin, setelah Kuroko bertemu dengannya dan menjelaskan semuanya di pengadilan nanti.

Dengan perasaan haru campur penyesalan Kuroko gagal menahan senyumnya, dan dia teringat perkataan Akashi setelah membuka paksa kunci pintu dan bersiap berlari meninggalkan mobil merah itu.

"Aku pernah bilang kalau kau boleh pukul aku lagi kapan-kapan, 'kan, Tetsuya? Kenapa kau tidak pernah memukulku lagi?" wajahnya tampak getir dan suaranya pecah karena menahan sakit. Tapi Akashi tidak meneteskan air mata—tidak pernah! Darah merembes perlahan-lahan di bagian depan kemejanya. "Kalau membunuhku memang membuatmu merasa lebih baik... seperti yang kau lakukan pada teman kita yang lain... aku berterima kasih. Aku manusia yang pantas mati."

.

.

Kuroko meraba dada kirinya dan merasakan perban tebal di sana. Degup di bawah kulitnya itu kuat.

Seketika pemuda itu menegakkan tubuh sambil melotot.

Apa ini...?

.

.

Keajaiban itu bisa terjadi kalau kamu percaya...

Tapi Kuroko tidak mau percaya keajaiban ini.

Kise buka suara,

"Kau tahu, sebelum meninggal, Akashicchi mendonorkan jantungnya—"

"Cukup, Kise-kun."

Tetsuya Kuroko duduk di tepi ranjang itu dan menangis.

.

.

.

.

.

.

FIN.


.

.

Author's Note

.

.

*Obat keras yang dapat dibeli tanpa resep dokter disebut Obat Wajib Apotek di Indonesia (kurang tahu juga kalau di Jepang...) dan atropine adalah salah satunya.

.

Akhirnya selesailah cerita ini, dan ini dia! Proyek cerita misteri Kurobasu berdasarkan 5 efek keracunan antikolinergik sudah ditamatkan... (dan astaga, ini multichapter Roux yang pertama tamat, padahal Past, Present, and Future sudah duluan dipublikasikan. Wah /mungkin ada yang mau baca? :p)

Roux perlu menekankan bahwa obat bisa jadi madu maupun racun. Pengetahuan yang ada di dalam cerita ini hanya untuk dinikmati sebagai fiksi—ada beberapa detail yang hanya karangan Roux dan kalaupun ada yang nyata dan masuk akal jangan dicoba-coba ya /eh/

Terima kasih sekali lagi untuk semua pembaca terutama yang sudah memberi feedback. Kalianlah motivasi Roux untuk terus menulis n_n (keep in touch~)

Salam dan sampai jumpa!

-10-11 April 2016-

.

.


.

.

.

.

EXTENDED ENDING

.

.

.

.

Kagetora Aida meregangkan tubuh dengan hati yang ringan pagi itu. Hari ini hari yang baru, dan tujuh hari lagi putri tunggalnya akan menikah.

Di dapur, ia minum segelas air putih lalu berjalan ke pintu depan. Diambilnya koran pagi yang sudah diantar.

Pria paruh baya itu menyibukkan diri membuat segelas susu sambil membaca koran itu sekilas. Telepon rumahnya berdering, dan saat itu putrinya yang sudah berpakaian rapi mengangkatnya.

Kagetora meneruskan membaca koran, tapi Riko memanggilnya.

"Telepon ini untukmu."

Pria itu mendekat ke pesawat telepon dan mendengarkan sebentar.

"Oh, ya. Benar, saya Kagetora Aida... ya, saya pemilik panti rehabilitasi narkoba Tokyo. Ada apa?"

Riko Aida yang sedang menggoreng telur untuk mereka berdua memasang telinga.

"Akashi-san... Astaga. Ya, baiklah. Terima kasih sudah memberitahu."

Ayah Riko kembali ke meja makan, tapi dia melupakan korannya dan duduk tercenung.

"Ada apa?" Riko bertanya dengan tajam.

"Akhir-akhir ini kau dengar-dengar berita heboh di kantor?"

Riko mengerutkan alis. "Tentang...?"

"Ngg... dari mana aku harus memulainya..."

Kebingungan, Kagetora akhirnya mengibaskan tangan. "Seijuurou Akashi meninggal semalam."

Putrinya menyahut, "Pengusaha yang pernah kena kasus doping itu?"

Sang ayah mengiyakan. "Ya, sayang sekali. Rupanya itu pembunuhan berantai dan Akashi korban terakhirnya, huh, mengerikan! Tapi pengacaranya menyampaikan padaku bahwa harta Akashi akan disumbangkan seluruhnya pada panti rehab kita."

Riko melongo sesaat sebelum tersenyum cerah. "Berarti tidak sepenuhnya kabar duka."

"Ya, begitulah. Hanya satu yang kurang, kurasa. Aku harus mempublikasikan kegiatan Akashi selama ini. Orangnya tidak mau menjadi tenar, sih. Dia sudah pernah mencicipi ketenaran yang tidak mengenakkan gara-gara kasus doping itu."

"Kegiatan apa...?" tanya Riko.

"Kau tahu, perusahaannya banyak sekali di Amerika. Dia melakukan banyak penjualan saham legal online di mana-mana dan sebagian besar hasil transaksinya itu disumbangkan untuk rehabilitasi pengguna narkoba. Dia secara rutin menyumbang sejumlah uang dan obat-obatan untuk panti-panti rehab—kita termasuk yang paling banyak sumbangannya, dan itu dilakukannya diam-diam... semacam penebusan atas perbuatannya dahulu, kukira."