CHAPTER 2 - UCHIHA ITACHI

..

..

..

..

..

..

'kumohon… jangan … seseorang tolonglah aku !'

"DIAMLAH DASAR WANITA JALANG !"

"haah … haah … haaah …" Sakura terbangun dan terengah engah mendapati kenangan yang sangat ia sesalkan dalam seumur hidupnya, Sakura melihat tangannya yang kini terpatri goresan-goresan merah dan biru,Sakura melihat ke sekelilingnya dan mendapati ruangan yang serba mewah dengan interior yang sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata,Sakura berjalan menuju meja rias terlihat pantulan yang sama dengan dirinya—pada cermin, terlihat luka lebam di wajah putihnya—ia menyusuri luka itu.

Sakura mengenakan piama tidur berwarna coklat hangat,samar-samar ia dapat mencium aroma maskulin laki-laki dari piama itu membuat air matanya tidak tertahan lagi untuk dibendung

'kenapa aku masih hidup ! aku sebaiknya mati kami-sama!' ucap Sakura jatuh lunglai memukuli dirinya sendiri "aku seharusnya mati saja !"

Sakura berteriak frustasi berusaha membuka piama yang membalut tubuh putihnya—beberapa kancing terlepas dari piamanya, mata emerald nya sayu karena begitu banyak menangis, Sakura mengutuk dirinya sendiri karena dia sudah terlalu bodoh dibohongi oleh kakak yang dia sayangi itu—Karin. Sakura merasa sangat jijik dengan dirinya sendiri bagaimana bisa dia disentuh oleh laki-laki tua itu dan dia tertidur lelap lalu mendapati dirinya terbangun dengan piama yang membalut tubuhnya "kaa-san …. Gomen … ne … hiks" ucapnya parau, Sakura bangun dan berjalan menuju kearah barat tepat ke arah jendela yang menyajikan pemandangan matahari pagi, terlihat awan mulai berwarna biru dengan pendaran berwarna oranye.

Tangan mungil sakura mencoba membuka knop jendela putih yang menjuntang dari atas kepala ningga pinggangnya

'SEETT'

Angin dingin masuk dan menerbangkan beberapa helai rambut musim semi Sakura, Sakura menatap kearah bawah, terlihat banyak kendaraan yang berlalu lalang dan banyak orang-orang yang mulai beraktivitas. Sakura menarik meja kecil yang diketahui berfungsi sebagai meja telepon costumer lalu kaki kecilnya berusaha menaiki meja itu dengan berhati-hati 'untuk apa aku hidup dalam kehinaan ini tuhan ?' ucapnya dalam hati menyeka air mata yang keluar tanpa ia sadari, ketika Sakura sudah mantap berdiri dia menghirup udara sebanyak-banyaknya menikmati sensasi oksigen yang bergumul masuk kedalam paru-paru dan menekan perut nya seolah-olah ia akan kehabisan udara pada beberapa menit yang akan datang.

Kemudian sakura berdiri di ujung jendela dia melihat kebawahnya lagi-dan lagi berharap apa yang akan ia lakukan ini tidak akan terasa sakit 'aku mohon kepada mu tuhan….' sakura melepas kedua tangannya yang menahan sisi kiri dan kanan jendela lalu melangkahkan kakinya ke udara kosong di depannya 'maafkan aku !' sambungnya menutup mata nya menunggu rasa sakit yang akan menerpanya. Samar-samar ia mendengar pintu dibuka dan seseorang berlari dengan gaduh.

Namun …

Sakura merasakan tangannya ditarik, dengan gerakan sangat cepat sakura mendapati dirinya berada diatas lantai dengan suara gaduh benda-benda berjatuhan dari tempatnya, Sakura menerjap beberapa kali kepalanyapusing dan pandangannya kabur " Apa yang kau lakukan !" ucap suara baritone seseorang. Sakura merasakan rasa hangat melingkari pinggang dan pucuk kepalanya, saat ia mulai jelas melihat dia mendapati seorang pria tampan dengan wajah datar berada dibawah tubuhnya, rahangnya mengeras tanda dia akan marah atau bahkan dia sudah marah "si-siapa?" tanya Sakura pada laki-laki didepannya atau bahkan pada dirinya sendiri.

Sorot mata yang di pancarkan laki-laki itu tiba-tiba terasa sangat berbahaya, sakura mengkeret dan segera bangun dari tubuh laki-laki itu, "sekarang kau adalah geisha ku, suka tidak suka atau mau tidak mau kau akan melayaniku, sesuai apa yang aku inginkan selama yang aku mau " ucapnya berdiri membereskan kemeja hitamnya yang berantakan.

"jika kau berusaha melakukan hal-hal yang tidak masuk akal seperti tadi, aku akan menjamin kau akan mengalami siksaan melebihi rasa sakit kau terjatuh dari lantai 22 ini, Sakura Haruno" sambung laki-laki itu membuat emerald sakura terbelalak tidak percaya. Bukannya takut tapi karuka malah menatap dia marah dan berdiri dengan sisa harga dirinya.

" hei aku tadi bertanya siapa kau, seenaknya saja kau mempunyai aku seperti mainanmu ! kau tidak lebih dari si tua Bangka itu kau termasuk laki-laki brengsek yang mempermainkan harga diri kami, para geisha—perempuan ?!" sakura maju dan memukul dada bidang laki-laki itu.

"aku bersumpah akan membuhuh semua laki-laki brengsek sepertim, kau sialan !" ucap sakura memukul lebih dan lebih, kali ini ia akan mempertahankan harga dirinya, ia akan melawan apapun yang terjadi, ia berjanji.

Lalu Sakura merasakan dirinya terhempas, dia bisa melihat mata obisidan abu-abu yang indah bagaikan tenggelam kedalam lubang hitam tanpa dasar dan kau takan bisa kembali lagi, lengan nya yang kekar menahan kedua tangan Sakura, kerah kemejanya yang terbuka memperlihatnya postur bidang pria itu, Sakura kembali menekuri wajah pria itu dengan garis samar dan tegas di kedua sisi hidungnya,rambut hitam yang dikuncir, alis tebal dan panjang, hidung kecil dan lancip juga wajah tanpa ekspresi yang mengebor mata hijau nya,Sakura merasakan suhu tubuhnya meningkat atau karena tubuh mereka sedang terpaut sama lain yang menyebabkan itu.

"dengar, aku tidak membutuhkan banyak pernyataan darimu, jika kau ingin membunuhku lakukanlah dengan cepat, aku tidak menyukai wanita banyak bicara dan tidak tahu rasa terima kasih sepertimu, Haruno .." dengan satu kalimat seperti itu sakura diam seribu bahasa dia merasakan nada ancaman dan bukan nada main-main dari laki-laki itu.

Selang beberapa detik keduanya bertatapan intens sakura mulai meronta-ronta "lepaskan aku !" ucapnya mengancam namun itachi memandang wanita itu datar.

"bagaimana kau bisa membunuhku, Dengan dirimu yang sekarang ?" itachi kembali berkata dengan sinis.

"cih !" Sakura membuang tatapannya menghindari tatapan Itachi yang menjengkelkan.

Kemudian itachi bangkit dan pergi menuju pintu "diam disini jika kau keluar melewati pintu ini, jangan harap aku akan megampunimu ?!" Ucap Itachi dingin dan menutup pintu dengan pelan.

Meninggalkan Sakura yang dilanda tanda tanya yang besar 'se-sebenarnya apa yang terjadi?' bisik Sakura dalam hati memeluk kedua lututnya frustasi.

.

..

.

Petang mulai tiba, Sakura tertidur karena kelelahan menangis, dia berusaha membuka pintu kamar yang amat besar namun tenaganya tidak cukup kuat, dia berteriak mencoba meminta pertolongan namun tidak ada yang mendengar. Kemudian dia memutuskan untuk tidur sejenak namun apa yang dia lakukan, dia memukul kepalanya sendiri saat tau ia tertidur hampir setengah hari.

Sakura mendapati kamar itu tertata rapih seperti sebelumnya, lalu dia mendapati senampan makanan,buah-buahan dan air untuk diminum.

Sungguh kebetulan sakura sangat lapar hingga ia melahap semua makanan itu dia tidak peduli jika makanan itu beracun karena dia sudah tidak peduli lagi.

Kemudian Sakura beranjak untuk sekedar mencari kamar mandi,kepalanya kembali berdenyut, dia membuka satu persatu dari tiga pintu yang ada di kamar itu, pintu pertama adalah kamar untuk pakaian,pintu kedua adalah tempat dapur yang kecil dan elegan dan pintu terakhir adalah kamar mandi yang sangat mewah sakura kembali bersyukur benar kata pepatah 'setiap kesulitan pasti ada kemudahan' tergantung kita bisa menyikapinya bukan ?. sakura mengambil handuk dan beberapa potong dress berwarna biru muda dengan aksen pita dan renda pink yang menjuntai di bawah dress dress dengan lengan pendek itu sangat elegan membuat sakura tersenyum samar lalu melanjutkan aktivitasnya yang tertunda—mandi.

Ia tidak mungkin menggunakan piyama yang sudah berkeringat dan kotor ini.

Sakura melihat lebam di wajah dan tangan juga kakinya, dia menatap murung kearah kaca di meja rias, 'inikah kemewahan, namun terasa menyakitkan buatku ?!' ucapnya dalam hati menelusuri luke lebam yang ada di pipi mulusnya ' bisa kah aku mendapatkan kebebasan seperti dulu ?' sambungnya kembali menyeka air mata yang keluar dari sela-sela mata indahnya.

"aku akan terus hidup, sampai nanti aku mati ?! " gumam sakura tersenyum melihat sosok perempuan di pantulan kaca yang terlihat lebih tegar sekarang.

Baginya bersedih lebih lama tidak akan mengubah apapun, sakura harus keluar dari tempat ini, pasti ada cara untuk keluar dari ini, ia sangat yakin dengan hal itu

Dari ruang lain yang gelap, sesosok laki-laki sedang menatap layar melihat gerak gerik wanita berambut musim semi, lalu dia tersenyum tipis dari dalam kegelapan "hmm … menarik" ucapnya.

Sakura bingung harus melakukan apa lagi, dia berharap laki-laki angkuh itu segera datang dan sakura akan memberi dia berpuluh-puluh pertanyaan. Namun sakura merasakan harapan itu sia sia belaka untuknya.

Jam sudah menunjukan pukul 24.00 tengah malam, namun karena tadi siang sakura telah tertidur, dia tidak bisa memejamkan matanya lagi. Karena bosan sakura membuka jendela, angin malam menerpa kulitnya yang putih dia bernyanyi dan mencoba menari menghilangkan rasa jenuhnya, dengan lihai sakura meliuk-liukan tubuh beserta tangannya 'tidak ada gunanya jika aku terus bermuram, aku memang menjijikan tapi aku akan berusaha memperbaiki hidupku, maafkan aku kaa-san, aku akan menjalani hidup dengan baik mulai hari ini, dan aku akan keluar dari sini ?!' sakura merasakan kepedihan saat ia menyebut dan kembali mengingat wajah ibunya.

'CLEK'

Sakura tidak mendengar pintu terbuka pun masih setia menari dan bernyanyi sampai saat sepasang mata obisidan itu melihat wanita bersurai musim semi itu bernyanyi dan menari dengan indah, rambut panjangnya menari-nari bersama angin,wajahnya masih sayu dan terlihat lingkarang hitam di bawah matanya,mata indah itu sekarang tertutup menikmati alunan yang ia ciptakan sendiri.

Telinga itachi seakan tuli mendengar alunan suara sakura yang merdu, memecah angin dan hiruk piruk kota, suaranya lembut mengalun bagaikan symponi yang dimainkan saat musim semi, itachi tahu mengapa banyak laki-laki yang berani mendapatkan sakura saat malam itu, mereka berani membayar tinggi untuk bisa memiliki wanita yang berada didepannya itu.

Terlebih lagi parasnya yang sangat cantik, bahkan dia wanita pertama yang berani menantang itachi, tidak menunjukan sikap manis yang biasanya di tunjukan wanita lain saat bertemu dengannya.

Dengan semua dosa yang ia miliki seumur hidupnya, dengan semua tumpah darah manusia yang pernah ia peroleh, baru kali ini dia merasakan ketertarikan dan emosi yang baru, yang melekat di hatinya, itachi membuka jas hitam dan melempar nya ke sembarang arah, dia membuka kemeja putih yang ia kenakan dan menghampiri sakura.

Sakura mencium wangi yang tidak terasa asing di hidungnya dia membuka mata dan berhenti dengan gerakannya, lalu ia melihat sosok 'boss' nya yang kini berdiri di hadapannya, rambut panjangnya masih diikat namun dia tidak mengenakan kemeja nya, wajah sakura tiba-tiba terasa sangat panas dia memalingkan pandangannya kearah jendela.

"ha-ha ...hai" ucap sakura memalingkan wajahnya, tubuhnya menegang bagaimana pun juga ini pertama kalinya ia melihat laki-laki bertelanjang dada secara langsung.

Jantungnya berdetak sangat cepat bahkan kepalanya berputar bersama pandangan matanya yang ikut berkunang-kunang.

Sakura merasakan rasa hangat yang familiar seperti sebelumnya—saat pagi, dia masih diam dan masih menatap jendela,korden berwarna peach berkibar ditiup angin, wangi itu terasa semakin dekat dan pekat di indra penciuman sakura.

"e-eh?" sakura tersentak kini melihat dada itachi yang telanjang terekspos di depan wajahnya—sakura membelalakan mata, dengan sepersekian detik dia sudah berada diatas ranjang berukuran king size dan mendapati itachi yang kembali berada di atas tubuhnya, sakura menatap wajah itachi yang kini berada beberapa senti dari wajahnya.

"bisa kita mulai,saku" ucap itachi, suara baritone nya membuat sakura kembali tersipu dan wangi tubuhnya membuat sakura tidak bisa berpikir jernih.

Dengan lembut itachi menyingkirkan helaian merah muda yang menutupi wajah cantik geisha nya itu,kemudian itachi mengecup lembut bibir sakura hingga gadis itu tersentak kaget dan sadar, sakura meronta menggeliat namun itachi dengan mudah menahan gerakan wanita itu

"ap-apa yang ... kamu lakukan ?" ucap sakura bergetar ketika itachi mengecup leher jenjang nya.

"he-hei !" ucap sakura dengan suara parau, namun itachi tidak menghiraukan apa yang sakura katakan.

"hen-hentikan, belum cukup kah … kau melecehkan aku malam sebelum nya … !?" kini suara sakura lebih tegas, tiba-tiba sakura merasakan tubuh itachi yang menegang,kemudian pria itu menatap sakura dengan tatapan yang tidak dapat didefinisikan, tampak samar sakura melihat ukiran hitam di sisi kanan dan kiri leher pria itu.

"aku kehilangan moodku" ucap itachi datar kemudian membebaskan sakura dari tahanan tubuhnya dan membelakangi wanita itu, mata sakura hampir keluar mendapati punggung itachi dengan gambar harimau putih berloreng hitam,sangat sama dengan sikap pria itu, sakura bergidik ketakutan saat mengetahui fakta bahwa itachi bukan pemuda biasa.

"a-apa kau adalah yakuza ?" tanya sakura tanpa pikir panjang melihat tato harimau dengan kelopak bunga sakura bertaburan dan jatuh, tato itu adalah gabungan dari garis hitam di sisi kanan dan kiri leher itachi, itachi melenggang menuju kamar mandi tanpa mengucapkan sepatah kata apapun kepada sakura.

Jantung sakura berpacu saat mengetahui dirinya berada di tengah-tengah kekacauan yang entah datang dari mana, dia sangat takut dengan apa yang akan terjadi, dia bahkan memvonis dirinya bahwa dia tidak akan pernah bebas,dia sudah masuk kedalam lembah hitam—terlalu dalam dan tenggelam di dalam lumpur hidup yang dengan pelan-pelan memakan organ tubuhnya hingga ia akan kehabisan napas dan mati.

Sakura terus larut dalam pemikirannya sendiri, bahkan ia merasakan tubuhnya bergetar hebat, ia memeluk kedua luutunya dan menenggelamkan wajahnya dalam-dalam, berharap ini semua hanyalah mimpi.

Betul, ia berharap ini hanyalah mimpi buruk.

"hei" ucap itachi dia berdiri di depan sakura dan berkata "aku lapar tolong buatkan aku makanan" sambung itachi mengeringkan helaian hitam rambutnya dengan handuk dia hanya mengenakan celana tidur berwarna hitam tanpa memakai baju.

sakura hampir kehabisan napas saat ia sadar, menolak akan menambah buruk keadaan dengan mood itachi yang sekarang sangat jelek, sakura melangkah kearah dapur ia melihat lusinan mie instan dan ia sadar hanya ini yang akan ia masak.

Itachi duduk di ruang yang mirip ruang tamu, dengan sofa-sofa beludru berwarna hitam juga televisi LCD yang kini menyala, dia menatap datar pada saluran yang memberitakan kerusuhan yang terjadi di Kyoto, sakura membawa nampan berisi mie juga segelas air hangat.

"ini" ucap sakura meletakan makanan yang sudah ia buat, itachi melirik sekilas.

"aku ingin teh bukan air putih" ucapnya santai namun tidak menunjukan ekspresi apapun.

"ta-tapi" sakura membuka suara namun ia urungkan ketika itachi menatapnya tajam.

'aku memaafkan mu karena kau melepaskanku malam ini, dasar sialan!' umpat sakura dalam hatinya membuat teh setelah beberapa menit berlalu dia membawakan teh hijau, sakura hampir membuka mulutnya ketika mendapati mie dan segelas air tadi telah tandas.

'apa dia monster,bagaimana dia makan secepat itu?' sakura kembali berbicara di dalam hati, kini itachi sedang membersihkan katana yang di penuhi bercak darah, sakura menahan napas agar tidak memuntahkan isi perutnya kedalam teh itachi.

"i .. ini teh nya" ucap sakura mengutuk dirinya sendiri karena tiba-tiba ia takut dengan sosok didepannya itu.

"hn" itachi hanya membalas dengan kata itu namun masih menatap katana yang berada dalam genggamannya.

"tidurlah" ucap itachi dibalas anggukan sakura yang kini menuju dapur untuk membereskan piring-piring habis pakai itachi.

Pukul 02.00 pagi sakura merasakan matanya sangat berat, dia masih melihat itachi mengerjakan sesuatu di laptopnya,angin dingin menyusup membelai sakura untuk memasuki alam bawah sadarnya.

Waktu menunjukan pukul 03.00 pagi, itachi merasakan rasa kantuk mulai menguasainya, itachi meletakan katana yang sudah dia bersihkan, itachi melihat wanita bersurai merah muda itu badannya yang kurus, matanya kelelahan karena banyak menangis.

Itachi menghela napas panjang, dia menutup jendela kemudian tidur di samping wanita bersurai merah muda—sakura.

Itachi menarik selimut sampaipada bahu wanita itu, ia menatap sakura selama beberapa detik kemudian menghela napas berat, itachi berbaring dan membelakangi wanita itu, memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya selama beberapa waktu.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sakura menerjapkan matanya beberapa kali, dia merasa kesepian entah karena apa lalu dia bangun dan menguap matahari sudah tinggi sakura menatap kearah ruangan-ruangan.

'kosong' ucapnya kemudian duduk di tepi tempat tidur sakura mengingat kejadian semalam membuat wajahnya kembali panas 'apa yang aku lakukan ?!' pikir sakura meletakan kedua tangan nya di pipi, kembali sakura temukan senampan makanan dengan secarik kertas

" makan itu dan bersihkan rumah'ku"

Sakura mengerutkan alis namun tersenyum 'dasar laki-lakimenyebalkan, tuan muda angkuh ?!' sakura segera membersihkan diri dan membereskan rumah itu, bagaimana pun ini yang harus ia lakukan, sebenarnya ini bukan hal yang mudah karena dia biasa hidup sendirian, ia biasa membereskan rumah, mencuci, memasak bahkan membeli kebutuhan sehari-hari sendirian.

Sakura terpikir dengan serentetan pertanyaan yang akan dia ajukan kepada laki-laki itu, namun saat melihat ekspresi nya dia mengurungkan diri dan kembali diam, sakura tidak tahu dan tidak mengerti saat bertatapan dengan itachi hatinya seperti ditusuk dan dibelah menjadi dua, paru-parunya seakan-akan menyempit dia merasakan perasaan memilukan yang entah datangnya dari mana …

Namun dia membuang pemikiran itu ' dia itu penjahat dia sudah banyak membunuh orang dengan katananya aku berani bersumpah, jadi tenangkan dirimu kuatkan dirimu, patuhi dia lalu hancurkan dia setelah itu kau bisa bebas sakura ?!' ucap nuraninya dan sakura membenarkan dengan anggukan, dia kembali melanjutkan membersihkan karpet beludru dengan penyedot debu.

...

..

.

.

.

..

.

.

.

.

Sesaat langit senja berwarna jingga, angin musim dingin akan menghampiri sebentar lagi membawa sejuta keping keindahan berwarna putih bersih yang akan menutupi seisi Tokyo, sakura menekuri pikirannya bagaimana musim dingin lalu dia lewati dengan canda tawa bersama kawan-kawannya mereka akan melaksanakan ujian semester ganjil namun mereka masih sempat bermain,saling menantang untuk berenang saat awal musim dingin ataupun ke tempat karoke seusai mata pelajaran tambahan dan berbagi coklat hangat ketika salju pertama turun dengan sejuta kilauan yang di suguhkan langit.

Sakura menghela napas dia harus tetap tegar, tersenyum dan terus hidup bagaimana pun dia adalah Haruno Sakura, dia harus tampak indah bagaikan musim semi selembut angin di musim itu dan dia harus berdiri kokoh dia sudah dewasa dan ini adalah hidup, hidupnya dia yang menentukan sendiri 'hidup memang keras namun jika kita menjalaninya dengan bahagia maka hidup itu akan menjadi terlihat bahagia, bukan?' pikirnya kemudian melempar senyum termanis pada matahari yang terbenam.

"good bye …"

Ucap sakura menurup jendela dan korden itu.

...

Tengah malam ketika itachi pulang sakura sudah tertidur, itachi tertegun bahwa wanita ini sedang menunggunya dia tertidur di sofa mengenakan dress hitam yang sengaja ia siapkan, dan mata itachi tertuju pada makanan yang sudah mulai mendingin, dia duduk di samping wanita bersurai merah muda itu memandangi wajah wanita itu, wajahnya sudah lebih baik dari hari-hari kemarin karena kini luka-luka yanga ada pada wajahnya memudar di gantikan rona pipi yang samar-samar timbul membuat wanita itu tidak kalah cantiknya dengan artis yang sedang tenar di jagad hiburan.

Itachi mengerutkan dahi dengan pemikiran seperti itu. Apa yang merasukinya hingga seperti itu, itachi berpikir mungkin sedang kelelahan dia memutuskan menyesap teh dan memakan makanan yang di buatkan sakura, sakura membuat sup miso, itachi tersenyum kembali dan memakan makanan itu dengan tenang sambil sesekali melihat wanita yang terlelap di samping nya.

"aku akan melindungimu, sakura" ucap itachi memandang sakura dengan hangat.

...

sakura merasakan tubuhnya menghangat, ia mendengar bunyi-bunyian yang sayup-sayup, ia menyeka kelopakmata dengan telunjuknya kemudian ia bangun dan duduk di sofa, sakura menguap kecil, ia kembali mendengar petikan keyboard kemudian sakura menoleh ke sisi kiri tubuhnya.

Sakura sedikit berjengit ketika mendapati itachi sedang mengetik beberapa kata dalam email atau dokumen nya, sakura bahkan tidak sadar bahwa ia sudah pulang, sakura terlalu lelah menunggunya bahkan ia sangat yakin bahwa makanan yang ia buat sudah dingin, sakura segera melihat ke arah meja namun Ia tidk menemukan satu piring pun makanan yang ada disitu.

"a-ah ... maaf aku tertidur, ap-apa kamu menginginkan sesuatu, seperti camilan ?" ucapsakura bertanya dengan pelan, itachi bisa mendengar apa yang sakura tanyakan.

Itachi berhenti mengetik keyboardnya, mata obisidan nya menatap manik sakura dengan datar, sama seperti sebelumnya.

"aku ingin teh ..." ucap itachi kemudian kembali mengetik keyboard laptopnya, sakura melipat selimut dengan rapih kemudian meletakan nya di ujung tempat tidur.

Setelah beberapa menit sakura membawakan itachi teh, tanpa ragu laki-laki itu menyesapteh yang di buat sakura.

Itachi menoleh dan menatap wanita itu.

"aku menambahkan sedikit madu dan lemon, itu membantu menjaga stamina badan mu, kau selalu pulang selarut ini ..." ucap sakura, itachi kembali menatap layar laptopnya dan mengangguk.

Sakura menghela napas kemudian menaruh nampan nya kembali ke dapur, tanpa wanita itu sadar itachi menatap punggung nya dan tersenyum tipis.

"kau menunggu ku ?" ucap itachi membuat telinga sakura panas, itu adalah kalimat yang mengartikan semua hal, sakura merasa ada yang menggelitik perutnya ketika itachi bertanya seperti itu.

Sakura mengangguk "aku berpikir ... kamu akan makan malam ketika pulang, makannya aku membuatkan makanan lebih awal dan menunggu mu ..." ucap sakura terbata, entah apa yang merasuki nya, namun sakura sangat senang ketika laki-laki itu menghabiskan makanan yang ia buat.

"jika itu membuat kamu repot, jangan lakukan." Ucap itachi membuat sakura mengerutkan keningnya, baru saja wanita itu menganggap dia 'baik' namun ia kembali pada sifat nya.

Sakura merasakan dahinya berkerut dan sewaktu-waktu ia bisa mengeluarkan sinar laser hanya dengan menatap itachi yang duduk dengan tenang sambil mengerjakan pekerjaan nya yang tertunda.

Namun sakura hanya menghela napas, berdebat dengan laki-laki itu tidak akan membawa dia keluar dari sangkar emas ini.

Sakura melangkah kemudian berdiri di samping laki-laki itu, itachi melihat sakura dari ekor mata nya.

"bukan kah anda yang menginginkan itu, tuan muda ?" ucap sakura penuh penekanan pada kata-katanya.

Itachi kembali berhenti dari aktivitasnya, ia berdiri kemudian menyamakan tinggunya dnegan sakura, sakura hanya melihat dada bidang laki-laki itu, lagi-lagi itachi tidak memakai baju atasan.

Sakura menelan ludahnya ketika itachi menunduk dan melihat wajahnya, bahkan ia tidak tau apa yang di pikirkan oleh laki-laki itu.

"uchiha itachi ... dan jangan berbicara formal kepada ku." Ucap itachi mengambil beberapa helai rambut sakura kemudian menaruh helaian itu di belakang bahu wanita yang menatapnya dengan tatapan kaget di depan nya, sakura haruno.

Sakura hanya bisa membisu ketika itachi menyentuh beberapa helai rambut miliknya dan meletakannya di belakang bahu nya, sakura tidak bisa menahan degup jantung yang terus berdetak kencang di dadanya, itu membuatnya jadi gila.

Itachi kembali melanjutkan aktivitasnya, sakura sadar bahwa laki-laki itu baju saja memberitahukan namanya, sekilas sakura tersenyum dan menatap nya dengan lembut.

'nama yang bagus' ucapnya melihat itachi dengan sorot mata yang terbilang lembut, tanpa sakura sadari itachi melihat senyumnya dari pantulan layar LCD laptop di depan nya.

...

TBC

A/N : hallo, saya sekalian update kilat yaa,semoga kalian suka

Baik silahkan untuk me-review !