CHAPTER 3 - FESTIVAL MUSIM GUGUR
...
"kau harus menangkis serangan dari ku,Sakura. Fokus lah!" perintah Itachi menghunus pedang kearah Sakura, dengan sigap Sakura berusaha—sangat berusaha. Malam terasa lebih dingin dari biasanya,suara deru angin juga pepohonan yang bergesek,bau tanah yang lembap dan ruangan yang tak kalah hitamnya dengan langit malam itu.
Napas Sakura terengah-enah berlari dan menyerang Itachi dengan segenap kekuatannya, sejak kecil Sakura memang diajarkan untuk menguaSai ilmu bela diri dengan menggunakan katananya, tapi setelah kedua orang tuanya meninggal kemampuan itu bagaikan hilang ditelan bumi.
Tapi Itachi melihat potensi yang ada pada Sakura, beberapa hari yang lalu ia memergoki Sakura berlatih dengan pisau dapur, ia sedang dalam rapat menuju Kyoto namun ia harus kembali karena meninggalkan berkas penting di apartemen nya, Itachi berencana untuk memberitahu Sakura bahwa ia tidak pulang untuk beberapa hari.
Karena jika ia tidak memeberitahu wanita itu, mungkin Sakura akan menunggu dan tertidur di sofa dengan makanan yang mendingin di atas meja.
Tapi Itachi melihat sisi lain wanita itu, ia begitu berbeda, dengan tatapan mata penuh ambisi dan gerakan yang memukau, setelahnya Itachi menangkis serangan Sakura dengan pisau miliknya, Sakura bahkan terkejut namun tanpa ragu ia melanjutkan serangan nya pada Itachi, sejak itulah mereka sering menghabiskan waktu untuk berlatih.
Sebenarnya bukan berlatih bersana, lebih tepatnya Itachi yang melatih Sakura.
Sakura kembali menyerang dengan langkah cepat, ia sangat optimis untuk melukai laki-laki yang berada didepannya itu, namun didepannya sekarang terlihat pemegang pedang hitam tanpa ekspresi—tanpa belas kasihan menatap Sakura dingin, Sakura bergidik ngeri namun ia sembunyikan dengan ganggaman erat pada pedangnya.
"haah … haah … aku akan mengalahkan mu!?" dengan terengah-engah Sakura mengayunkan pedangnya,terdengar dentingan magis dengan butir-butir bening yang saling berjatuhan didalam dojo pribadi milik Itachi uchiha.
Mata obisidan abu-abu berkilat melihat emerald yang kini memancarkan semangat dan ambisi, setelah sekian lama tertidur.
…
.
.
.
.
.
.
Pagi hari yang sama, Sakura yang mulai terbiasa melayani Itachi memulai aktivitas sehari-harinya. Menjadi geisha dan wanita 'pribadi' didalam apartemen yang kelewat mewah itu. Terdengar dengkuran halus dari sofa beludru hitam yang menopang tubuh kekar Itachi, Sakura menghela napas lalu mengambil selimut dari lemari dan menyelimuti tubuh profosional boss nya itu.
Masih pukul 04.00 pagi, Sakura mulai menyiapkan makanan dan melihat schedule yang ada di secarik kertas di meja Itachi "menemui tuan Ken, setelahnya makan siang bersama,kemudian pergi ke Saitama untuk peresmian kantor cabang ke 22 … lalu … ah masakanku!" Sakura melempar kertas putih itu dan berlari mengecilkan kompor dia menghela napas panjang bersyukur bahwa masakannya tidak gosong.
Sakura mengingat malam sebelumnya ketika ia menunggu Itachi, tiba-tiba ia tersenyum mengenang itu, Sakura sangat yakin bahwa sebelum ia tertidur di sofa dirinya tidak mengenakan selimut, namun ketika ia terbangun tubuhnya sudah di selimuti, ia kembali menekuri masakannya dan tersenyum melihat kepulan asap dari masakan yang akan ia sajikan.
Saat Sakura sudah selesai dengan semua pekerjaannya dia membangunkan Itachi tepat jam 06.00 pagi, dengan satu tepukan di tangan dan panggilan khas Sakura saat membangunkannya "ne … tuan bangun, saatnya beraktivitas" Sakura mulai tersenyum kemudian mata obisidan itu terjaga dan kelihatan sayu "hn…." ucap Itachi bangun dan duduk disofa hitam itu, Sakura kembali melihat tato harimau seraya bergidik, bagaimana pun juga ia belum terbiasa dengan Itachi, Sakura memutuskan untuk menyiapkan bento tuannya karena dia berpikir hari ini akan menjadi hari yang panjang—untuk tuannya.
"a—aku membuatkan beberapa telur gulung dan beberapa makanan lain untuk menjaga stamina anda, karena kupikir anda akan pulang larut ma … malam ini …" ucap Sakura seraya menyerahkan dua kotak bento ukuran sedang dengan kain motif biru marun yang membungkus nya menjadi satu, Itachi mengerutkan dahi namun segera menerima bekal yang dibuatkan Sakura—untuknya.
"ikutlah aku, untuk pertemuan hari ini … Sakura. Sepertinya keahlian pedangmu lumayan, dan karena Sai sedang ada urusan di Yokohama …. Apa kau terima tawaranku?" Itachi menatap Sakura dengan dingin seperti biasanya, emerald Sakura bersinar sinar lalu dengan satu anggukan dia menjawabnya.
"thank you boss …" Sakura menunduk tidak bisa menahan air mata nya yang keluar karena bahagia 'akhirnya dia mulai mempercayaiku …' ucap Sakura dalam hati.
Sakura mengenakan rok hitam di atas lutut dan jas hitam juga kemeja putih dengan dasi berwarna senada dengan jas miliknya, dia merasa seperti agen-agen wanita di film action yang sering dia tonton.
rambut panjangnya di gelung rapih dan menyisakan helian yang membingkai wajah cantiknya, dengan riasan sederhana Sakura tampil menawan bak sekretaris idaman, yang membuat siapapun ingin memilikinya, tidak lupa dia memakai sepatu dengan hak beberapa senti yang membuatnya semakin anggun.
Dibalik itu semua Sakura gugup karena dia belum pernah menyambangi sebuah rapat relasi mana pun, keringat mengucur dari dahi putihnya ketika ia akan berjalan bersama boss nya.
"kau hanya perlu menemaniku,tidak harus banyak berbicara. Dan … kau harus memperhatikan relasi yang bermitra denganku …itu akan membuat kamu bisa melihat dan menilai seperti apa orang yang akan kita hadapi." Itachi berbicara datar sambil memakai dasi nya.
Sakura mengangguk.
Kemudian mereka memutuskan untuk mengakhiri percakapan, Itachi keluar terlebih dahulu disusul Sakura, di luar ruangan terlihat orang-orang yang berlalu lalang dari sikapnya Sakura tau bahwa mereka menempati tempat yang sama dengan Itachi—bangsawan atau orang yang sangat berada.
namun di lain sisi mereka menatap Sakura dengan berbagai tatapan yang tidak bisa Sakura identifikasikan "jangan perhatikan mereka Sakura." ucap Itachi sangat kecil namun bisa ditangkap oleh indra pendengaran Sakura.
Sakura melihat ruang demi ruang di sekitarnya, apartemen ini bukan sekedar 'sangat mewah' namun sangat fantastis karena fasilitas atau desain yang di sajikan begitu indah dan elegan namun dibalik itu semua Sakura merasakan ketakutan menghampirinya 'aku tidak menginginkan semua ini …ini semua tidak nyata' ucap Sakura ia menunduk melihat sepatu yang pas dengan kaki jenjang miliknya.
Setelah menuruni lift Sakura bersama Itachi, Sakura ikut andil dalam penjagaan 'boss' nya, mereka pergi dengan Mercedez Benz hitam disusul dengan bawahan Itachi di belakangnya.
Itachi terlihat sangat santai dengan bersandar di kursi dan menaikan satu kaki ke kaki yang lain, sementara Sakura dia duduk kaku dan menelan saliva beberapa menit sekali, tanpa sadar Itachi menyodorkan benda hitam dan panjang—terasa familiar, setelah beberapa detik Sakura baru sadar.
"u-untuk apa boss memberi ini?" Sakura menunjuk pedang hitam lengkap dengan sarungnya.
"pakai saja … jika nanti terjadi sesuatu, ingat tugasmu …" Itachi berbicara sangat santai dan pelan, jantung Sakura berdegup sangat kencang dia bertanya kepada dirinya sendiri 'apakah aku akan membunuh seseorang dengan ini?' Sakura kembali menelan salivanya.
Selang beberapa menit mereka sampai,mereka turun di area parkir khusus beberapa bawahan Itachi berada dibawah hanya dua yang lain ikut dengannya —kemudian menaiki lift dan sampai ke sebuah tempat yang mirip dengan ruangan kantor, kaca-kaca juga tanaman yang tertata rapih juga sekat-sekat lengkap dengan ATK didalamnya,jantung Sakura semakin terasa keras saat salah satu bawahan Itachi berkata 'mereka disana,boss' Itachi mengangguk kemudian mau tak mau Sakura mengikutinya, Sakura menyematkan pedang di samping kanan pinggangnya.
Sakura melihat pintu kaca dengan ukiran emas, dibalik kaca itu menyimbul dua orang, Sakura merasa lega karena mereka hanya 'berempat' pikir Sakura. Itachi masuk tanpa ragu di susul Sakura yang mulai meyakinkan dirinya bahwa dia 'pantas' untuk mendampingi Itachi.
"selamat pagi, Itachi-dono … bagaimana kabarmu ?" ucap laki-laki berusia sekitaran kepala empat duduk beberapa meter dari Itachi,senyumya mengembang namun tatapan matanya berbahaya.
Perut Sakura seperti diaduk-aduk, Itachi duduk menopang dagu dengan kedua tangannya sementara dengan—mencoba sangat dan sangat tenang Sakura berdiri disamping kanannya dengan senyum yang entah akan terasa manis atau tidak saat dipandang.
Sakura melihat wanita sepertinya di belakang 'Tuan Ken' dia memakai kimono musim dingin memperlihatkan belahan dada yang membuat Sakura iri, dan rambut panjang yang tak disanggul,wanita itu memeluk kursi yang di duduki tuannya tatapannya menunjukan dia memiliki suatu rencana yang tidak baik.
'jika dia membahayakan boss… aku tidak akan segan' tiba-tiba terlintas pemikiran itu dibenak Sakura hingga ia kembali berpikir 'sejak kapan aku … ingin melindungi laki-laki ini … cih!' caci nya pada dirinya sendiri, negosiasi kembali dilakukan, kebanyakan membahas tentang perdagangan dan wilayah berdagang tuan Ken di Tokyo.
"lalu jika saya melanggar perjanjian ini?" tanya tuan Ken, wajahnya tirus rambut hitamnya di sisir klimis, kumisnya bagaikan pemain opera sabun yang suka ia jumpai ketika bersama teman-teman nya, dan Sakura tidak menyukai tatapan laki-laki itu kepadanya.
"kami akan memberikan sanksi sesuai dengan perjanjian…" ucap Itachi menatap mitra nya itu, "haah … anda memang tidak pernah berubah Itachi-dono, begitu tampak menawan dan mematikan seperti yang dikatakan kebanyakan sekarang anda bersama seorang wanita can—ah bukan seorang pendekar wanita yang sangat cantik" ucap Ken melihat Sakura dari ujung kepala hingga kaki, Itachi tidak menggubris apapun hanya menatap datar mitranya itu.
Setelah keputusan antar keduanya, mereka turun memalui lift dan makan siang bersama "saya akan makan dengan tuan, namun dengan menu yang berbeda " ucap Itachi disambut kerutan didahi Ken dan Sakura.
Sementara itu geisha stoik Ken menunjuk jajaran menu dan memesannya sesuka hati, salah satu bawahan Itachi datang kemudian memberikan bento buatan Sakura tadi pagi, Sakura membelalakan mata tidak percaya, dengan apa yang ia lihat.
Padahal makanan di restoran ini kemungkinan lebih mewah dan enak tidak seperti masakannya, Sakura menyiapkan bekal itu untuk Itachi saat ia lapar ketika ia berjalan ke Saitama, namun Sakura kembali diam dan berdiri di samping Itachi.
"nona … apa kau tidak ikut makan dengan kami?" tanya Ken penuh harap.
"maaf tuan, tidakkah sopan seorang bawahan duduk bersama tuannya, saya akan memastikan boss memakan makan siangnya" ucap Sakura seramah mungkin membuat semburat di wajah Ken, Itachi mengambil sumpit dan memakan bento buatan Sakura dengan anggun.
"Itachi-dono saya akan mengajukan perjanjian baru … anda bisa memiliki seluruh wilayah Chiba hingga Mito, anda juga akan mendapatkan 75—ah tidak tapi 80% bunga pembayaran setiap bulannya … namun ada bayaran untuk semua itu …" Ken tersenyum dengan antusias membuat sekujur tubuh Sakura di sengat listrik.
"lanjutkan …" jawab Itachi santai "semua itu akan di tukar …. Dengan pelayan—ah bukan tapi dengan pendekar milikmu. Saya akan menyerahkan itu semua … jika anda setuju dengan tawaran saya …" Ken melirik Sakura dari ujung kepala hingga kaki, Sakura hampir kehilangan kendali untuk memukul wajahnya dan tatapannya yang kotor itu.
'boss … dengan tawaran menggiurkan seperti itu,sepertinya dia tidak akan ragu untuk melepaskan ku… jika benar begitu aku akan ….' Sakura meruntuki Itachi dengan sumpahnya didalam hati.
"maaf tuan, tapi kesepakatan kita adalah perbatasan wilayah dan itu sudah tertuang di kontrak selama bertahun-tahun dan dengan alasan apapun … anda mengetahui bahwa dalam perjanjian kita ada beberapa hal yang tidak boleh dikerjakan kedua belah pihak 'perdagangan manusia,narkotika,pembunuhan,perjudian' dan perluasan wilayah' mungkin anda lebih mengetahuinya daripada saya." Itachi dengan tenang mengelap sisa makanan di mulutnya, terlihat dengan kentara sekali wajah Ken yang menahan amarah namun dia tetap tersenyum dan membungkukan tubuh sekedar meminta maaf atas ketidak sopanan nya itu.
Sakura terdiam mendapati kelegaan yang menyelimutinya "terima kasih atas jamuan mu, tuan Ken … kita akan kembali bertemu untuk beberapa bulan kedepan. Saya berharap dengan adanya pembagian wilayah perdagangan yang adil akan membawa kemakmuran …" Itachi berdiri kemudian pergi diikuti dengan Sakura.
"apa ada yang ingin kamu tanyakan seputar pekerjaan ku, Sakura ?" Itachi membuka suara pada Sakura, mereka maniki lift dan Sakura menekan tombol menuju ke area parkir bawah tanah.
"ha-hanya sedikit demi sedikit saya mengerti tuan …" ucap Sakura terbata.
"aku adalah kepala yakuza di jepang, sejak mendiang ayah dan ibu ku meninggal, aku yang mengatur semuanya. Dari mafia kelas kakap sampai preman yang menguaSai daerah-daerah terpencil. Tugasku menjaga kestabilan perdagangan di jepang dan menghancurkan siapapun yang melanggar perjanjian yang sudah di tetapkan. Akhir-akhir ini banyak mafia yang menperluas kekuasaan ke wilayah kecil dan berani menyelundupkan opium juga banyak yang melakukan pergadangan manusia … kita akan ke Saitama sekarang" ucap Itachi ketika bunyi 'ting' lift membuka ruang parkir masih terlihat sama dengan bawahan Itachi yang terus berjaga.
"tapi ...yang aku dengar yakuza itu penjahat ... e-maksudku orang-orang yang ada di dunia hitam, melakukan apa yang tidak baik, jadi aku selalu diingatkan agar menjauhi orang-orang dengan tato, karena mereka berbahaya, itu yang ayah ku katakan." Ucap sakura menatap itachi yang berjalan menuju area parkir.
"semua asumsi mu tidak salah, memang betul itu yang dulu kami lakukan, tapi aku akan mengubah citra klan kami, kita hidup bukan dari sesuatu yang harus kita dapatkan dari orang lain, setidaknya aku ingin menjaga daratan jepang ini agar tidak terjadi pertumpahan darah kembali, seperti dulu ..." ucap itachi santai, ia memegang kedua tangan dibelakang punggung nya.
Sakura terdiam mendengar apa yang itachi katakan, laki-laki itu serius dengan kata-katanya dan sesuatu yang asing merasuk ke dalam dirinya, berdesir di antara dada menuju perutnya, Sakura menarik sabanyak-banyaknya oksigen dan berusaha menghilangkan perasaan itu.
Perjalanan menuju Saitama ke Tokyo memakan waktu cukup lama karena hari semakin sore dan kendaraan yang menjajakan kota Tokyo semakin banyak, menemani Itachi kurang lebih dua jam disana tidak membuat Sakura bosan karena dia mendapatkan hal-hal baru dalam hidupnya.
Meeting kali ini berlangsung damai tidak seperti tadi siang, setelah menunggu dan membisu didalam mobil Sakura kembali menatap boss nya yang asik mengerjakan sesuatu dilayar laptopnya 'apa dia tidak pernah berlibur, matanya hanya berpangku pada layar LCD laptop itu ?!' ucap Sakura dalam hati.
"boss … apa anda tidak pernah berlibur, um mengunjungi beberapa tempat atau menginap beberapa hari?" tanya Sakura dengan hati-hati.
Itachi berhenti mengetik lalu terdiam "aku pernah ke Sapaporo bertemu dengan Tuan Dante untuk mensurvei beberapa tempat dan menghabiskan beberapa hari disana" jawab Itachi kemudian kembali mengetik huruf-huruf di keyboardnya.
'AP-APA DIA BER-CAN-DA ?!' ucap Sakura dalam hati.
Sakura mendengar suara sayup-sayup seperti sebuah pertunjukan dan musik dari festival, Sakura memperkirakan bahwa pertunjukan itu membuat jalanan macet, banyak orang yang menggunakan baju dengan motif daun berwarna coklat ke jinggaan.
'ah- festival musim gugur !' ucap Sakura dalam hati lalu ide nakal tiba-tiba terlintas dari benaknya.
Dengan cepat Sakura menutup laptop milik boss nya, kemudian membuka pintu mobil terdengar bunyi 'ceklek' Sakura menarik tangan Itachi, dengan bingung dan kaget Itachi mau tak mau mengikuti Sakura, mereka berada di tengah jalan suara klakson mobil memprotes kehadiran mereka berdua.
Sakura mencopot sepatu hak nya dan berlari sambil menarik tangan Itachi, Sakura bisa melihat banyak pengendara mobil yang resah akibat kendaraannya tidak kunjung jalan.
Matahari berwarna jingga, selang beberapa menit bawahan Itachi mengejar mereka berdua.
"kita jalan-jalan sebentar … boss ?!" Sakura menoleh tersenyum riang pada boss nya itu, rambut musim seminya kini terurai beterbangan bersama angin, Sakura berbelok ke arah Shibuya kemudian membaur dengan warga, Sakura melihat stand-stand makanan dan pakaian cosplay, orang-orang berlalu lalang seperti fatamorgana,berjalan seperti aliran sungai yang deras tanpa sadar Itachi memegang pinggang Sakura dengan protektif.
"aku akan mengabulkan permohonanmu namun kita harus mengganti pakaian kita, jika kamu tidak ingin acara ini segera berakhir" Itachi kini menarik Sakura ke sebuah stand pakaian kuno zaman Edo, sebelumnya pemilik stand terkagum dengan keduanya paras Itachi yang rupawan dan paras Sakura yang cantik.
Setelah beberapa menit kemudian mereka keluar dengan menggunakan hakama dan yukata, keduanya sama-sama mengenakan warna yang sama—biru tua dengan motif daun yang berguguran, rambut Sakura sudah digelung rapih seperti sebelumnya, kemudian mereka menuju stand topeng dan membeli beberapa untuk di pakai, Itachi dengan topeng harimau dan Sakura dengan topeng kucing putih nya.
Sekilas Sakura melihat bawahan Itachi menyebar diantara pengunjung dan mencari-cari mereka, dengan santai Itachi kembali memakai topeng nya dan menggandeng tangan Sakura untuk mengikuti langkahnya, Sakura sedikit tersentak dan merasakan degup jantungnya tidak beraturan 'pe-perasaan ini lagi ?!' ucap Sakura dalam hatinya, wajahnya merona ia terus melihat kedua tangan mereka yang bertautan.
Mereka berjalan pelan menikmati festival, ada opera tradisional, ada stand makanan, ada juga pertunjukan tradisional yang di mainkan oleh pemuda pemudi, Itachi menariknya ke stand makanan.
"aku beli dua" ucap Itachi membeli gulali berukuran sedang.
Sementara itu Sakura masih melihat lampu-lampu yang mulai dinyalakan pantulan cahaya membuat emerald nya melebar senang.
"ini" ucap Itachi menyodorkan sesuatu yang membuat Sakura tertawa sangat geli—namun ia tahan, Sakura melihat gulali yang mirip dengan rambutnya.
"ke-kenapa boss ?" tanya Sakura penasaran.
"tidak apa apa aku hanya ingin mencobanya, seperti rambutmu lihatlah baik-baik" Itachi memakan ujungnya menggunakan ibu jari dan telunjuknya mereka kembali berjalan beriringan bersama.
'laki-laki aneh' ucap Sakura dalam hati, ia melihat Itachi dari ekor mata nya.
"dari tadi siang kau belum makan … ayo kita membeli makanan" Itachi menarik tangan Sakura namun Sakura mematung.
"kenapa ?" tanya Itachi, Sakura berpikir jika mereka terlalu lama di stand makanan pasti mereka cepat ditemukan,lagi pula Sakura tidak begitu lapar.
"aku tidak ingin makan ditempat ini, boss" ucap Sakura dijawab "hn" oleh Itachi, Sakura menunjuk sebuah tempat dengan kain-kain hitam.
"bagaimana dengan obake?" Sakura terlihat antusias Itachi berjalan mengikuti wanita bermata emerald itu, setelah membeli tiket mereka mendapatkan kalung dan gelang yang diperuntukan para pasangan yang akan masuk kedalam wahana itu,gelang dengan kalung dengan bandul daun itu mereka pakai kemudian mereka berdua segera masuk.
Sakura kembali melihat kalung sederhana yang terbuat dari emas putih itu, Itachi membeli kalung dan gelang yang asli, Sakura hanya menghela napas, ini adalah salah satu sifat Itachi yang kini Sakura ketahui, namun ia juga merasakan dadanya menghangat, ia tersenyum melihat Itachi yang ada di depannya.
Saat mereka mulai melangkah lebih jauh, tercium bau dupa dan ruangan terlihat gelap dengan batu nisan dan juga pohon-pohon buatan, suara suara mulai bermunculan, Sakura dan Itachi kembali masuk semakin dalam dan dalam tiba-tiba ada sosok chobi hige muncul dari balik nisan, Sakura tersentak namun kembali tenang.
'hantu-hantu sialan ini tidak akan menakuti mu, Sakura ?!' ucapnya dalam hati.
Lalu mereka memasuki ruangan yang mirip dengan dojo banyak tergeletak kayu-kayu juga banyak suara orang merintih, Sakura melihat Itachi yang tidak panik sama sekali.
Sementara itu Sakura semakin mempererat genggamannya, Sakura mencium bau amis ketika mendapati mereka berada di sebuah hutan terdengar suara jangkrik khas hutan di musim panas kemudian sesuatu muncul dengan tiba-tiba dari balik pohon—kappa wajahnya hancur dan berlumuran darah membuat Sakura ingin memuntahkan isi perutnya.
Dia semakin mendekati Sakura, Sakura menggigit bibir bawahnya supaya tidak berteriak ketakutan, Itachi menatap tajam lalu kappa itu mundur kebelakang, dan kini mereka menyibak tirai berwarna hitam mereka kini berada diruangan dengan banyak kaca dan jendela yang sudah tua dan usang kemudian muncul tangan-tangan dari masing-masing jendela juga muncul kepala-kepala dengan berlumuran darah dari sana kemudian mereka merangkak keluar,sekarang Sakura tidak bisa menahan teriakannya dia sangat ketakutan hingga dia memeluk Itachi erat.
mau tak mau Itachi harus mencari jalan keluar, satu tangannya memegang pinggang Sakura dan satu tangannya mencari-cari jalan keluar diantara dinding-dinding hitam juga diantara tangan-tangan para hantu, ada beberapa hantu sadako yang menarik-narik hakamanya.
"tuaan kasihani kami … tolong kuburkan jasad kami." Ucap salah satu hantu semakin membuat Sakura ketakuan.
Itachi mulai gerah dengan hantu-hantu yang kini memegang kaki nya, jika terus begini dia dan Sakura benar-benar tidak akan keluar.
"ingat batas peraturan permainan kalian" Itachi mengucapkan dengan kata dingin dan menatap wajah hantu itu satu persatu, semua hantu wanita itu terpukau dan tunduk kemudian memberi tahu jalan keluar untuk keduanya.
"maafkan kami yang sudah keterlaluan, aku hanya ingin melihat tuan lebih lama lagi ... hihihi" ucap salah satunya karena wajah mereka tidak bisa dibedakan rambut panjang dengan dress putih juga make up putih tebal Itachi mengangguk dan keluar dengan Sakura.
"apa kau sudah puas, mereka tak akan menyakitimu—Sakura ..." bisik Itachi mengusap pelan pucuk rambut Sakura.
"aku hanya—takut boss .. mereka terlihat menyeramkan, aku kira kita akan mati dan terjebak disana ?!" ucap Sakura menyeka air matanya kemudian menatap Itachi, mata Itachi mengisyaratkan kekahawatiran, jantung Sakura kembali berdegup kencang.
"tidak ada yang bisa …" ucap Itachi menggantung kalimatnya 'menyakitimu Sakura' sambungnya dalam hati.
Waktu semakin larut dan acara penutup kali ini adalah tarian bon odori di lanjutkan dengan kembang api, Sakura mengajak Itachi untuk berbaur bersama dengan warga lainnya,sepertinya mood Sakura kembali dengan sendirinya.
Tanpa menolak Itachi berada dibarisan kemudian ikut menari bersama, ketika tabuhan terakhir dipukul, muncul berokat makhota di langit, tiba-tiba semua lampu dimatikan dan hanya tertinggal butir-butir cahaya yang bersinar dilangit, Sakura semakin mempererat genggamannya pada Itachi, sekian lama setelah air mata dan perasaan yang sudah terpecah sedikit demi sedikit tersatu kembali.
Waktu sudah menunjukan pukul 22.00, saat ingin memasuki kamar apartermen Itachi, Sakura melihat orang yang terlihat familiar, Sakura mengingat kembali memori masa lalunya, seakan terputar seperti film yang di replay Sakura mengagakan mulutnya tidak percaya lalu membeku sambil menunjuk orang yang kini berada didepan dia dan Itachi.
Mata sipit,senyum palsu,kulit pucat juga rambut pendek nya 'di-dia bukannya laki-laki yang waktu itu tidur bersama dengan senior Ino, kalau tidak salah namanya Sai'.
"ada apa Sakura apa kamu kelelahan, ah-dan perkenalkan ini Sai tangan kananku,Sai ini Sakura. " Ucap Itachi datar kemudian Sai membukakan pintu, Sakura menutup mulut dan berusaha tidak mengetahui apa-apa tentang 'kejadian di malam itu'.
"senang berkenalan dengan nona." Ucapnya tersenyum dibalas anggukan oleh Sakura, kemudian Sakura menyiapkan ocha dan membersihkan dirinya, suara keduanya terdengar seperti gumaman tanda perbincangan itu sangat rahasia. Sakura mencoba tidak ikut campur.
Dia menyibukan diri dengan memasak makan malam, hari ini Sakura menemukan kulkas nya kembali penuh. Dia memutuskan untuk memasak ayam teriyaki dengan salad sayur,aroma ayam menguar dari dalam dapur, Itachi dan Sai yang mencium aroma itu mendadak merasakan dorongan dari perut mereka masing-masing.
"tinggalah sebentar untuk makan malam bersama kami." Ucap Itachi membantu Sai membereskan berkas-berkas, tidak lama Sakura membawa tiga nampan penuh makanan tanpa berkomentar ketiganya makan malam bersama, suasana yang dirasakan semakin hangat—itu yang Sai rasakan saat Itachi tanpa menolak apa yang dimasak Sakura ataupun ketika Sai diundang makan untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun dia mengabdi kepada bossnya itu, seakan-akan Sakura merubah semuanya—yang ada pada diri Itachi.
Sai kaget saat mendengar Itachi dibawa pergi oleh Sakura tadi sore kemudian dia membatalkan semua hal yang berhubungan dengan pekerjaan dan pergi menuju tempat yang diceritakan bawahan lainnya, hal yang membuat Sai khawatir adalah karena Sakura memiliki sesuatu—dia dilatih langsung oleh Itachi setelah dirinya, jadi kemungkinan Sakura mencelakainya kecil namun tetap ada sesuatu yang fatal.
Setelah mencari-cari Sai menemukan mereka berdua berbaur dengan warga di festival, terlihat ekspresi Itachi yang tidak pernah ia lihat sebelumnya dan ia sadar ia harus membiarkan Itachi mendapatkan ruang pribadi—bersama Sakura, hingga Sai memutuskan untuk mengecek kamar yang ditinggali Itachi dan menunggu diluar.
Kemudian Sai sadar beberapa bulan ini Itachi mulai pulang lebih awal setelah meeting untuk sekedar membicarakan pekerjaan yang dilakukan setiap harinya dan mengevaluasinya bersama, Itachi jarang sekali mampir untuk makan malam atau meminum beberapa gelas anggur—Karena dirumahnya ada seseorang yang secara pribadi dan secara tidak sadar telah memenuhi kebutuhan Itachi, dengan makanan yang lebih layak dibandingkan di Bar ataupun diluar, memberikan sarapan ataupun hiburan saat Itachi mulai penat.
Seperti tadi sore Sai sadar Itachi dan Sakura saling terikat tanpa sadar, namun mereka belum menyadari atau belum mengakui satu sama lainnya.
Sai sadar teriyaki di piringnya sudah tandas dia terlalu terlarut dengan analisis nya, dia tersenyum dan mengucapkan.
"boleh aku membawanya, karena mungkin aku akan memakannya lagi saat pulang?" Sakura tersenyum dengan anggukan
"tentu saja akan aku bungkuskan!" Sakura langsung menuju dapur selang beberapa menit dia kembali dengan bungkusan jumbo di tangannya.
"terima kasih nona, terima kasih boss telah mengundang ku untuk makan malam, aku ada beberapa urusan yang tertunda jadi aku harus membereskannya, permisi." Ucap Sai melambaikan tangan disusul Sakura yang mengantar.
"jangan sungkan untuk makan bersama disini, Sai-kun!" ucap Sakura tersenyum dan Sai tersenyum lalu mengangguk
'BLAMM'
Pintu ditutup,suasana kembali hening seperti semula yang terdengar hanyalah suara piring yang Sakura bereskan keatas nampan.
"boss … aku sudah menyiapkan air panas untuk boss mandi." Ucap Sakura menghancurkan keheningan, sementara itu Itachi masih setia menyesap teh dan melihat kertas-kertas yang di beri Sai beberapa saat lalu.
"hn" jawabnya kemudian membuka bagian atas hakama nya, Sakura kembali bergidik melihat tato harimau ketika boss nya itu beranjak pergi menuju kamar mandi. 'mengapa aku sangat takut … namun aku tidak berteriak layaknya di obake tadi' ucap Sakura termenung kemudian mengenyahkan pemikiran itu dan pergi membereskan piring yang kotor.
Hal ini sudah menjadi kebiasaan Sakura—melayani Itachi, karena secara langsung dia harusnya bersyukur mendapat boss seperti Itachi, bahkan Itachi yang notabenya tuannya—pemilik mutlak dirinya tidak pernah melakukan sesuatu yang buruk terhadapnya— tidak seperti Giant laki-laki yang memenangkan lotre malam itu dan mendapatkan Sakura, namun entah mengapa Sakura jadi berpindah ke tangan Itachi, Sakura tidak ingin mengetahuinya karena Sakura tahu itu bukan hal yang bagus.
Sakura membilas piring terakhir dan mengeringkan tangannya,ketika pintu kamar mandi terbuka memperlihatkan Itachi yang bertelanjang dada, bulu kuduk Sakura kembali meremang dia yakin wajahnya pasti menunjukan reaksi yang dia sembunyikan.
Rambut boss nya itu terurai dan basah, bibir tipisnya terlihat berwarna merah muda tanda ia sudah kembali segar, Sakura cepat-cepat pergi kemudian mengambilkan handuk dan berkata "ini sudah malam, mengapa boss keramas ?" Sakura meletakan handuk di kepala Itachi dengan hati-hati kemudian menggosokannya perlahan—mengeringkannya.
Tanpa adanya penolakan Itachi menerima perlakuan Sakura, dia melihat leher putih dan jenjang yang kini terhias satu benda sederhana dari obake tadi sore, Itachi tersenyum tipis, kemudian dia menghentikan tangan Sakura.
"aku mulai mengantuk bisa kah kau melakukannya di tempat tidur ?" tanya Itachi kini menatap Sakura, Sakura mengangguk
...
TBC
A/N : aku berharap pada chapter ini ItaSaku nya dapet yaa ... hehehe
Aaa- sepertinya Itachinya OOC pake banget ngga sih ?
Tapi aku ngebayangin scene ini kayanya senyum-senyum sendiri, ekhem...
MANA SUARANYA ITASAKU-Loverss~~Hehehe ...
Terima kasih untuk : Sashicchi, BlackHead394, echaNM, hanazono yuri, Rinda Kuchiki, zehakazama. Atas masukan dan semangat nya.
Baiklah cukup sekian curhatan hati authorini, aku tunggu tanggapan dan jejak teman-teman pada kolom review.
Sampai jumpa !
