Chapter 6 - Terpisah

..

.

..

.

Sakura melihat Itachi dengan posisi santai dengan kedua tangan menahan belakang kepala nya,dari balik kepulan uap di onsen itu Itachi tetap terlihat mempesona, perlahan Sakura melepas bebat handuk yang melingkari tubuhnya.

Itachi merasakan beberapa ombak kecil menyapu ke arahnya,dia membuka mata dan melihat ke arah suara itu,benar saja itu Sakura yang sudah berendam hingga seperempat tubuh nya terendam,rambut merah muda nya di gelung rapih dan wajahnya lebih merah dari pada tomat.

Sakura kini berdiri di depan Itachi dengan setengah hati namun pasti ia mencoba berani dengan menatap boss nya ini tanpa berkedip,bahkan menahan napas beberapa detik dan kembali mengeluarkan nya.

"Boss, bagian mana yang perlu aku gosok?" Sakura melihat kedua mata obisidan itu terbuka dan memantulkan bola-bola lampu yang ada di sekitar mereka, Itachi mendekat dan dengan sengaja membuka gelungan rambut Sakura, " punggung " ucap Itachi pada Sakura dengan tatapan yang bisa di bilang lembut membuat hati Sakura semakin mencelos dan membuat Sakura menghancurkan pertahanan untuk memeluk laki-laki di depannya ini.

Kemudian Sakura dengan perlahan menggosok punggung Itachi "apa aku boleh bertanya bagaimana cara boss mendapatkan tato ini?" Ucap Sakura spontan menekuri ukiran rumit tato tersebut.

"Aku mendapatkan tato ini saat aku berusia 5 tahun. Semakin bertambah usia ku maka akan semakin tampak dan terlihat tato ini. Aku dijuluki sebagai harimau dari Uchiha, aku mengemban semua tanggung jawab yang di berikan oleh keluargaku sampai kepala keluarga terakhir,ayahku. Setelah kejadian beberapa tahun silam yang menewaskan semua anggota klan kecuali aku, aku berupaya membangkitkan kembali klan ini. Sampai pada saat sekarang,bahkan Sakura meski kau berpikir aku memiliki segalanya itu hal yang sangat naif yang orang pikirkan tentang aku. Bahkan untuk bercerita atau membagi keluh kesah pun tidak ada yang ingin mendengarkan ku,mengapa? Karena mereka takut denganku." Ucap Itachi datar membuat Sakura tertegun.

"Bagaimana pun untuk menjadi seorang pemimpin kamu membutuhkan dukungan dan membutuhkan orang orang yang akan kamu ajak kerja sama,boss. Aku melihat semua pelayan dan bawahanmu sangat setia kepadamu,karena apa? Karena kamu pemimpin yang baik. Kamu menempatkan mereka di atas segalanya. Bahkan kamu tidak ragu untuk maju ke garis depan bersama mereka." Balas Sakura membuat Itachi tersenyum.

"Dan tanpa sadar aku memberikan semua loyalitasku kepadamu,boss." sambungnya membuat Itachi terbelalak kaget.

"Kamu tidak harus menjadi pemimpin yang bringas agar dapat di patuhi. Tapi jadi pemimpin yang mau mendengar maka mereka akan mendengarkan kamu kembali" sambung Sakura .

Kemudian Itachi membalikan badan dan melihat Sakura dengan pandangan yang tidak bisa di definisikan "aku tidak pernah menyesal mengambil kamu dari tangan Giant,Sakura." Ucapnya merengkuh wajah Sakura dan mengecup bibir wanita musim semi itu dengan lembut.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sakura kembali menekuri isi koper Itachi ,mencari-cari apa yang harus di bawa ke Amerika "pakaian,jadwal,sepatu,uang... hmmm apa lagi ya?" ucapnya kembali untuk ke tiga kali nya sementara itu Itachi berada di meja kerja nya memandang Sakura sesekali kemudian memutuskan untuk beranjak dan mendekati wanita itu.

"Apa ada masalah?" Ucapnya membuat Sakura kaget dan melompat, namun Sakura bersikap seperti biasa lagi,

"Apa yang harus boss bawa lagi. Aku bingung!" ucap Sakura kembali berpikir.

"Tidak usah di pikirkan, nanti biar Sai saja yang mengurus sisanya. Dan untuk perjalanan kali ini aku ingin kau tetap disini, disini akan lebih aman. Karena aku tidak ingin menolelir jika sesuatu terjadi, apa kau mengerti?" Ucap Itachi pada Sakura dijawab anggukan Sakura dengan setengah hati.

Sakura merasakan firasat buruk, entah mengapa ia ingin menahan Itachi agar tidak pergi, namun itu akan membuatnya terlihat menjadi orang yang egois.

Itachi kembali beranjak untuk melanjutkan pekerjaan "be-berapa lama... boss?" ucap Sakura bertanya nyaris suaranya seperti desiran angin yang menyapu daun saat musim gugur.

"Jika kerusuhan dan mitra ku dapat bekerja sama lagi. Untuk itu tolong jaga rumah utama, aku dan Sai akan mengurus ini dengan cepat!" ucap Itachi kemudian duduk di atas kursi nya dan kembali menatap laptop juga mengetik atau sekedar mengangkat telepon dari relasinya.

Sakura memutuskan untuk pamit dan keluar dari ruang kerja boss nya itu 'aku...mengurus rumah utama?' Sakura kembali menggelengkan kepalanya mengenyahkan pemikiran yang membuatnya ragu-ragu dan meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Sakura menyusuri koridor dengan kaki telanjangnya, masih mengenakan kemeja juga rok hitam span sambil sesekali melihat kearah langit yang tertutup awan.

"sepertinya natal kali ini akan di dampingi dengan badai salju, aku harus memberi banyak pasokan makanan Kuro dan kuda yang lain." Ucap Sakura menerawang melihat kumpulan awan yang membentuk spiral dan sesekali di sertai kilatan yang menyilaukan mata.

Sakura menuju ruangan untuk mengganti roknya dengan celana hitam untuk berkuda.

Kemudian menuju dapur utama tidak lupa memberikan salam kepada pelayan yang bekerja disana, Sakura membuat ocha dan menaruh beberapa kue dango kesukaan Itachi kemudian menuju ruang kerja Itachi .

"Boss saya masuk!" ucap Sakura seperti biasa di depan pintu, kemudian membuka pintu dan ia melihat Itachi masih sibuk dengan pekerjaan di laptopnya dan berkata.

"hn.. ada apa Sakura?"

Tanya nya tanpa menoleh sementara itu Sakura menaruh nampan dan membawa ochayang masih panas kehadapan Itachi beserta kue dango nya.

"Saya hanya ingin membawakan ochadan dango agar boss tidak kedinginan karena sepertinya siang ini akan ada badai dari timur." ucap Sakura menggenggamkan kedua tangan Itachi dengan segelas Ochai,membawa kehangatan yang sangat familiar,Itachi memilih diam karena sejujurnya memang hari ini terasa dingin meski ia sudah menyalakan penghangat ruangan dengan mode full.

"Minumlah boss,boss akan merasa lebih baik!" ucap Sakura menarik kursi di samping Itachi, dalam diam Itachi menyesap ocha yang Sakura buatkan,ini adalah minuman kesukaan Itachi sejak setahun yang lalu karena ochabisa membuat pikirannya menjadi rileks.

"Bagaimana?" Tanya Sakura menopang dagu nya di meja kerja Itachi.

"Seperti biasa, selalu membuat ku menjadi tenang. Terima kasih." Ucap Itachi bahkan sekarang nadanya lebih hangat daripada matahari di musim semi, Sakura tersenyum karena bagaimana pun ada sisi lain dari boss nya yang ia sangat sukai.

"Aku akan ke Peternakan untuk menambah makanan Kuro dan kuda-kuda yang lain, sebelum badai datang. Aku khawatir jika badai turun dan kita tidak bisa beraktivitas, aku juga akan menambahkan jerami untuk menjaga kehangatan mereka, jadi aku permisi boss. Aku akan kembali secepatnya!" ucap Sakura berdiri dan menundukan kepalanya, pamit disusul dengan anggukan Itachi.

Kemudian Sakura merasakan tangan nya ditarik, ia berputar dan hal yang pertama kali ialihat hanya dada Itachi yang terbungkus oleh Hakama hitam yang ia pakai, samar-sama Sakura bisa mencium bau maskulin laki-laki itu, jantungnya berdetak keras, ia belum terbiasa dengan sentuhan-sentuhan Itachi yang tiba-tiba.

"Jangan kenakan kemeja saja,kenakan ini..." Sakura merasakan tubuhnya menghangat ia mendapati mantel hitam bertengger di bahu nya, mantel yang selalu Itachi kenakan jika bepergian jika salju mulai turun.

"ta...tap..i" ucap Sakura kemudian memilih diam dan berjalan kembali Sakura hanya bisa mendengar sepatu boot berhak nya yang ia kenakan 'terima kasih' ucapnya dalam hati.

Sakura menekuri langkahnya ia membuat jejak jejak kaki pada salju putih yang sudah menebal di atas rerumputan benar saja udara semakin dingin, angin semakin berhembus kencang, mantel yang Itachi berikan sangat berguna.

Sakura semakin mempercepat langkahnya dia menuju gudang di Peternakan itu dan membawa satu gerobak jerami.

Sakura berpikir 'bagaimana bisa menjalankan gerobak itu saat salju tebal menutupi tanah?'

Dia mencari skop dan menyingkirkan salju yang menghalangi jalannya sampai ke pada kandang kuda yang berada tidak jauh dari gudang.

Sakura membutuhkan sekitar wajtu setengah jam untuk menyingkirkan salju dan membawa gerobak dengan jerami itu.

"Kuro... jangan khawatir kawan aku membawa banyak tumpukan jerami agar kau dan kawanmu tidak kedinginan" ucap Sakura mengelus kuda hitam iaa memberikan pasokan rumput yabg lumayan banyak juga mengisi air untuk minum.

"Air tidak membantu pasti akan beku!" ucap Sakura.

"Baiklah aku akan mengambil beberapa sayur atau buah di kebun belakang tunggu sebentar" ucap Sakura lagi dan di jawab oleh kuro dengan dengusan juga jilatan pada tangan Sakura .

Kemudian Sakura pergi ke kebun belakang dimana kebun itu dilengkapi oleh rumah kaca dan penghangat ruangan, ada sekitar 30 rumah kaca dengan lebar satu hektar untuk masing-masing tanaman sayur dan buah buahan.

"Permisi, Kakek apakah ada sayuran yang tidak di gunakan dan masih layak untuk dimakan?" Tanya Sakura pada penjaga kebun itu, Kakek Toru.

Kakek Toru mengangguk dan mulai memilih wortel, sawi putih, timun dan beberapa buah seperti apel atau pir lalu menumpuknya dengan karung dan memberikan Sakura dengan menggunakan gerobak dengan roda tiga.

"Terima kasih" ucap Sakura pergi sebelum itu Sakura menoleh lagi.

"Kakek, maukah Kakek ikut bersamaku, ke Kediaman Keluarga utama? Sebentar lagi akan ada badai muncul. Tidak baik berada disini." Ucap Sakura dengan khawatir.

"A-apa boleh saya berada disana, bagaimana dengan kebun disini, nona?" Jawab nya dengan suara bergetar, Sakura tersenyum.

"Aku yang akan berbicara pada boss. Dan aku yang akan bertanggung jawab. Jika pegawai dari dapur meminta bahan ayo kita ambil bersama kesini!" ucap Sakura meyakinkan di jawab senyuman oleh pria usia 50th itu.

"Terima kasih nona" ucap Kakek Toru kemudian mengenakan mantel juga sepatu boot ikut bersama Sakura menuju kediaman utama keluarga Uchiha.

Setelah membereskan pekerjaan di peternakan Sakura bersama dengan toru tiba di kediamaan utama, Itachi langsung menarik Sakura kedalam pelukannya.

"Aku kira kau pergi, kau hanya berjanji sebentar sampai 3 jam kau tidak muncul untuk menemuiku lagi,aku baru akan mencarimu sampai aku lihat kau bersama dengan Toru." Ucap Itachi memeluk Sakura membuat semua pelayan tercengang dengan sikap overprotective boss yang mereka nilai tegas dan dingin itu.

"Go...gomen boss aku hanya memiliki kesulitan di Peternakan kemudian aku ke Perkebunan untuk mencari buah dan sayur yang mengandung banyak air agar kuda-kuda itu tidak kehausan, saat mereka hanya memakan rumput. Dan aku mengajak kakek Toru untuk ikut kesini. Karena badai besar akan datang, tidak lebih baik'kah kita berada dalam satu rumah agar bisa aman?" Sakura menatap Itachi dan mencengkram mantel coklat nya,di jawab anggukan Itachi.

"Itu tidak masalah." Ucapnya masih datar menatap Toru, pelayan yang lain bergantian dan di jawab anggukan mereka semua.

"Pelayan di dapur utama tolong siapkan makan malam. Aku ingin kita mengadakan makan malam bersama, karena ini adalah malam natal. Siapkan semua makanan yang kalian bisa masak. Selama badai ini terus berlangsung tinggal di Aula utama dan jika ingin bepergian harus bersama sama, apa da yang tidak di mengerti?" Ucap Itachi membuat semburat binar di mata para pelayan dan semuanya bersorak gembira karena untuk pertama kalinya tuan muda mereka ingin makan bersama pelayannya. Meski itu tidak sesuai dengan norma dan peraturan klan.

"Lalu bagaimana penerbangan ke Amerika,boss?" Tanya Sakura masih dalam rangkulan Itachi meninggalkan semua pelayan di belakangnya.

"Sepertinya akan di tunda, sampai badai berhenti." Ucap Itachi menerawang ke arah koridor kayu.

"Sakura selama aku pergi, jaga dirimu. Ingat dengan apa yang pernah aku ajari tempo lalu." Ucap Itachi kini mata nya menjadi sangat kelam dari pada sebelumnya.

"aku mengingat semua nya dengan baik tuan" ucap Sakura tersenyum di balas dengan elusan ringan di kepalanya.

"Saat aku pergi paman ku Orochimaru akan mengawasi rumah utama,dia mengetahui aku kembali dan dia berkata ingin mengunjungi kediaman utama uchiha. Untuk itu tolong layani dia sebisa kamu melayani nya." Ucap Itachi suaranya dingin bahkan tidak ada titik perasaan saat mengucapkan itu pada Sakura.

"Sesuai dengan keinginanmu,boss" ucap Sakura merasakan sesuatu aneh yang membuatnya bergidik saat mendengar nama paman Itachi 'aku merasakan firasat buruk' ucapnya dalam hati "dan jangan berikan apapun untuknya, apapun dari kamu milikku." Ucap kembali Itachi nadanya penuh ancaman membuat Sakura menghentikan langkahnya dan menatap manik obisidan itu dengan tatapan yang tidak bisa di definisikan oleh Itachi.

Sakura hanya berjinjit dan mengecup pipi Itachi "sejak kejadian malam itu, aku selalu berjanji pada diriku untuk setia kepadamu,boss" ucap Sakura tersenyum kemudian memeluk leher Itachi.

"Jangan khawatirkan aku, meskipun nantinya akan menjadi buruk,percayalah bahwa aku dan semua pelayanmu akan setia. Apapun yang terjadi!" ucap Sakura berbisik disambut lingkaran tangan Itachi di pinggangnya.

Itachi menenggelamkan kepalanya pada leher Sakura ia mencium sebanyak banyaknya aroma cherry yang lembut, Itachi memutuskan untuk meninggalkan Sakura disini karena ia tidak mau wanita ini terluka seperti sebelumnya, bahkan jika Itachi tidak akan kembali lagi padanya.

Setidaknya Sakura dan Sai lah yang akan meneruskan langkahnya, bahkan hatinya seperti di buat mencair tiap kali Sakura ada didekatnya.

Pemikiran dan argumen Sakura adalah kata hati yang ia ucapkan secara lugas tidak di buat buat, beberapa tahun yang lalu pada malam yang sama saat salju turun Sakura dia tolong dari tangan laki-laki busuk yang akan mengobrak-abrik masa depan wanita bersurai merah muda ini.

Namun saat wanita ini terbangun dari pingsannya dia malah akan bunuh diri, saat pertama kali Itachi melihat dia berdiri memunggunginya dengan rambut berkibar tertiup angin, tanpa sadar Itachi menolongnya hingga kedua matanya bertemu dengan mata Sakura, Itachi sangat terpana mendapati sebuah danau berwarna batu giok sangat indah dan menghanyutkan hingga dia tidak sadarkan diri untuk menyentuh Sakura.

Dan dengan berani Sakura menolaknya mengatakan bahwa ia membencinya dan akan membunuhnya, seumur hidup tidak ada orang yang berani menantangnya seperti itu kecuali dia ingin mati.

Kemudian hari demi hari ia lewati saat ia pulang ia hanya melihat wanita itu tidur sambil terisak, namun setelahnya dia melihat Sakura sudah lebih tegar daripada sebelumnya tapi tetap saja tatapan Sakura adalah tatapan benci dan masih ingin membunuhnya karena dia mengira bahwa Itachi lah yang merebut kehormatannya.

Dan kebenaran yang wanita itu tidak ketahui, bahwa dirinya yang menyelamatkan kehormatan miliknya pada malam tersebut.

Semakin hari entah kenapa Itachi semakin senang jika dia pulang ke Apartemen nya, pasti ada makanan yang sudah disediakan atau air hangat yang sudah siap ia gunakan dan yang terpenting ada seseorang yang menunggunya pulang dengan senyuman dan dengan bermacam pertanyaan yang akan ia jawab seadanya.

"Sekarang ayo ganti pakaian mu, kita akan menghadiri makan malam" ucap Itachi seraya tersenyum mengenang semua waktu bersama Sakura .

'Sampai ikatan ini menjadi kuat dan menghancurkan dinding penghalang denganmu, Sakura '

Ucap Itachi memegang bahu Sakura dan berjalan ke ruangan miliknya

'Sebelum kata itu terucap aku akan menyeleSaikan persoalan ini dan akan berada di sisi mu, Sakura '

Ucap kembali Itachi dalam hati dan menutup pintu geser nya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Bunyi musik tradisional yang diyakini berdenting dari ruang makan utama itu sangat memancarkan kegembiraan dengan suara gelak tawa dan obrolan ringan juga dengan beberapa pancaran sinar warna-warni yang diyakini adalah pohon natal, mendominasi dengan adanya badai salju yang terus menderu diluar ruangan.

Sementara itu Sakura bergeming berdiri dan memanjatkan doa di sebuah ruangan dengan foto-foto kepala keluarga dan juga anggota nya terdahulu, baju berwarna merah yang dipadukan dengan ukiran brokat seperti layaknya daun yang menempel di lengan putih nya, juga rok hitam panjang dengan belahan di sisi kanan dan kiri, gelungan rambut yang kini di hiasi oleh bebatuan merah darah yang sama dengan baju beserta lipstik yang ia pakai.

Sakura melihat satu persatu foto yang sudah dimakan waktu itu, dan terlihat satu foto yang memperlihatkan dua orang laki-laki kakak-beradik yang di apit oleh laki-laki dan perempuan di sampingnya.

Sakura sangat mengenali laki-laki dengan guratan di sekitar hidungnya, Itachi.

Dan pasti ketiga orang yang berada di sisinya adalah ayah ibu beserta adik nya.

"Semoga dengan doa yang aku dipanjatkan ini, menjadi sebuah simfoni penenang bagi generasi pendahulu dan menjadi doa bagi generasi selanjutnya." Sakura membuka mata nya dan menegakan kepalanya, anting berlian memantulkan cahaya merah yang memukau.

Ia berbalik kemudian melihat Itachi dengan pakaian serba hitam kecuali dasi dan mawar merah dikantung jas nya.

"Ayo makan malam, Sai juga baru tiba. Sakura" ucap Itachi santai memasukan satu tangannya kedalam kantung celana dijawab anggukan Sakura langsung berjalan disisi Itachi.

"Kau cantik memakai warna merah, Sakura" puji Itachi melihat Sakura dari ekor mata nya, Sakura bersemu merah.

"Begitu pun dengan boss" ucap Sakura tersenyum.

Saat mereka sampai di Aula utama Sakura tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya melihat sosok pirang dengan mata aquamarine yang sangat ia rindukan.

"Ino,senpai!" Ucapnya berlari, suara derap langkah Sakura terhenti saat menubruk Ino.

"sa-saki" ucap Ino sangat terkejut mendapati Sakura yang di kabarkan telah tiada kini memeluknya,Ino terisak sambil memeluk juniornya itu "bagaimana tuhan bisa mempertemukan aku dengan kamu?!" Ucap Sakura terisak kemudian Ino menarik bahi Sakura agar mereka saling bertatapan "Sai mengajak ku ia berkata akan memberikan kado natal yang paling indah,dan aku mengira ... ini kado terindah ketika semua kesulitan dan kesakitan yang telah di peroleh juga tentang bagaimana aku harus mancari mu dan ketika semuanya berubah ketika Sai kembali datang menolongku yang sudah hina ini... kemudian...kemudian...aku bisa bertemu dengan mu dan melihat secara langsung bahwa kau baik baik saja,oh-Sakura ..." Ino terbata-bata masih tidak mempercayai bahwa Sakura masih hidup karena dengan apa yang terjadi setelah pelelangan itu Ino sangat terpukul,mengetahui bahwa karin menjual adiknya sendiri dan mengetahui Sakura hilang tanpa jejak.

"Banyak hal yang tidak bisa aku ungkapkan hanya dengan kata-kata Ino. Namun aku punya banyak waktu untuk menceritakannya padamu!" ucap Sakura menyeka air mata Ino dan mencubit kecil pipi putih Ino.

"Terima kasih" ucap Ino memeluk Sakura merasakan kehangatan yang nyaman menyelusup ke dalam hatinya.

"Sakura..." ucap suara baritone dari belakang Sakura membuat Ino kaget dan melihat siapa yang memanggil Sakura dengan suara selembut dan sedalam itu kecuali Sai nya.

"Boss ... gomen" ucap Sakura melepaskan pelukan nya pada Ino dan berbalik sopan menatap Itachi yang kini mengelus pucuk kepala nya.

"Aku lapar, ayo kita makan." Ucap Itachi masih memandang Sakura, Ino melihat sikap orang yang Sakura panggil 'boss' itu dengan segala takjub.

Bahkan Ino bergidik saat melihat laki-laki itu lebih dingin dari pada Sai.

"Siapa laki-laki itu Sai-kun?" Tanya Ino berbisik pada Sai yang masih menatap datar ke arah gelungan rambut Sakura.

"Dia boss ku, anata." Ucap Sai menatap Ino, kini ada setitik emosi di mata hitam Sai.

Ino kaget ketika Sai berkata hal itu,dan melihat perlakuan Itachi kepada Sakura 'jangan-jangan Sakura adalah kekasihnya' ucap Ino dalam hati. Kemudian Sai menggenggam tangan Ino dan dia berjalan ke arah Itachi "Itachi -sama perkenalkan ini Ino yamanaka teman Sakura dan kekasihku..." ucap Sai menundukan kepala di ikuti Ino, Itachi menatap Sai tidak percaya namun dengan apa yang terjadi, meskipun Sai sedingin es tetap saja dia memiliki perasaan.

"Aku Itachi Uchiha, sahabat Sai" ucap Itachi mengulurkan tangan ke arah Ino dan disambut Ino dengan cepat.

"Ino tunangan Sai." ucapnya singkat kemudian melepaskan tangan Itachi.

"Selamat.. aku mendoakan kelancaran hubungan kalian dan terlebih lagi jika ada sesuatu yang kalian butuhkan bicara saja padaku." Sambung Itachi dengan nada datar namun terselip ketulusan dalam kata-katanya disambut anggukan keduanya.

"Boss ingin makan malam dengan apa?" Tanya Sakura, Itachi duduk diatas tatami.

"Apa saja." Ucap Itachi Sakura mengangguk dan pergi untuk mengambil beberapa makanan, sementara itu banyak pelayan yang menghibur dengan cara bernyayi dan menari, Itachi meminum sake yang dituangkan kedalam gelasnya oleh pelayan yang berada di belakangnya.

"aku membawakan beef steak juga kue tahun baru." ucap Sakura menyerahkan nampan berisi beberapa makanan yang sangat lezat, dalam diam Itachi memakan makanan itu serta sesekali berbincang bersama Sai mengenai persoalan kerja sementara Sakura bercerita banyak hal dengan Ino.

Kemudian Itachi melihat Sakura dan Ino berjalan ke arah ruangan yang dimodif sebagai panggung, mereka mengambil simasen dan duduk bersimpuh kemudian memainkan alat musik tradisional itu dengan amat merdu, jari jemari Sakura bagaikan menari nari memaikan senar yang mengeluarkan suara magis.

Semua orang yang berada di ruangan itu terkesima dengan alunan yang dimainkan Sakura sebagai permulaan kemudian Ino menyanyikan lagu tradisional yang biasa dibawakan geisha untuk menghibur tamu nya.

Sai tertegun mata nya nyaris keluar dan telinga nya bagaikan tuli mendengar Ino bernyayi, sangat merdu.

"Mereka bukan wanita biasa!" ucap Sai tanpa sadar sementara Itachi hanya tersenyum sangat tipis melihat ke arah Sakura.

Malam semakin larut, badai terus menerus menghujam bumi dan waktu menunjukan pukul 01.00 pagi sementara itu pesta masih berlangsung sekarang ada beberapa pelayan yang memainkan drama menghibur penonton.

Kemudian Sai pamit untuk membawa Ino karena sudah mabuk untuk beristirahat dan Itachi mempersilahkan keduanya.

"Sai bujuk Ino agar menetap di sini menemani Sakura sementara aku dan kamu ke Amerika." Ucap Itachi memunggungi Sai dan di jawab dengan.

"Seperti keinginan anda, Itachi-sama." Oleh Sai.

Itachi melihat Sakura yang kini bernyayi sebagai putri salju di panggung, kemudian dia menyesap sake nya yang kesekian kali nya, tanpa sadar Itachi tertidur di atas meja makan. Kemudian dari depan panggung, Sakura tidak lagi mendapati perhatian Itachi langsung meninggalkan panggung dan menuju ke tempat Itachi.

"Boss..." sapa Sakura menepuk bahu Itachi.

"Enghh..." ucap Itachi berusaha mengangkat kepalanya.

"Aku akan mengantar boss ke kamar." Ucap Sakura memapah Itachi dan memberi syarat agar seseorang membantunya, akhirnya seorang penjaga bernama Shin membantu Sakura memapah Itachi. Ketika sampai di kamar Itachi Shin pamit dan Sakura berterima kasih atas nya.

"Boss mengapa boss begitu banyak meminum sake dan akhirnya boss tidak sadarkan diri?" ucap Sakura mencopot sepatu pantofel dan kaos kaki Itachi menggantikannya dengan kaos kaki baru untuk tidur.

Sementara itu Itachi terus mendengkur halus, Sakura naik ke atas kasur king size Itachi berusaha memposisikan boss nya dengan benar, Sakura memasang aba aba saat dia menarik kedua bahu boss nya yang kekar itu.

Satu

Dua

Tiga

Akhirnya Sakura berhasil mengangkat tubuh laki laki yang hampir berkepala 27 tahun itu ke atas.

"Saki ..." ucap Itachi matanya menerjap beberapa kali, Sakura yang berada diatas kepala Itachi pun menjawab.

"Iya boss?" Dengan alis berkerut.

"Mual!" ucapnya menyeritkan mata kemudian dengan sigap Sakura melompat dan memapah boss nya ke westafel.

"Muntahkan disini boss" ucap Sakura mengelus punggung Itachi, dan setelah itu Itachi memuntahkan makan malam nya.

"Jangan lihat!" ucap Itachi pada Sakura namun dengan lembut Sakura mengepuk punggung Itachi.

"Tidak apa apa jangan sungkan boss" ucap Sakura dengan nada menenangkan kemudian memapah Itachi kembali ke tempat tidurnya

"Minum ini boss kau akan merasa lebih baik" Sakura menyodorkan ocha dan di teguk pelan oleh Itachi ,kemudian Sakura mengelap keringat Itachi dengan menggunakan waslap dan air hangat. Dengan lihai ia membuka kemeja yang sudah basah dengan keringat dan mengelap tubuh Itachi secara perlahan "terima kasih" ucap Itachi menyerahkan ocha dan tidak bergeming dari tempat tidurnya Sakura tersenyum.

Kemudian menopang tubuhnya pada kedua lututnya "apa sudah tidak apa apa?" Ucap Sakura pada Itachi.

"Hn ..." ucap Itachi kemudian berbaring.

"Aku hanya lupa bagaimana meminum sake, karena beberapa tahun ini aku hanya meminum ocha atau kopi, mungkin tubuhku tidak menerimanya." Ucap Itachi seperti gumaman Sakura duduk ditepi tempat tidur memandangi sepatu hak berwarna merah nya.

"Itu reaksi tubuh boss, mungkin menolak minuman itu, tapi esok pasti akan baik baik saja!" ucap Sakura seraya menaikan selimut ke tubuh Itachi.

"tinggalah malam ini bersama ku..." ucap Itachi mengenggam tangan Sakura dijawab anggukan Sakura, tanpa Itachi tau wajah wanita itu sudah sangat merah dengan jantung yang terus berdetak dan bergemuruh didalam dadanya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Saya masuk, Itachi-sama." ucap Sai menggeser pintu kamar Itachi, namun Sai tidak mendapati suara ataupun aktivitas yang biasanya dikerjakan boss nya itu.

Sai mengerutkan dahi kemudian tersenyum tipis ketika mendapati Itachi tidur memeluk wanita yang tidak asing di matanya, Sakura.

Itachi tampak damai, dengan nada formal Sai mengangkat teleponnya "saya menunda penerbangan sampai sore hari, kondisi di sini masih tidak memungkinkan, jadi tolong urus pesawatnya." Ucap Sai suaranya datar dan tegas, kemudian dia keluar dari ruang pribadi boss nya dan tersenyum melihat langit biru dengan matahari yang mulai meninggi 'hari ini hari yang cerah' ucap Sai tersenyum tipis kemudian berjalan dengan tenang menuju wisma tamu.

Sinar matahari tanpa ragu menyusupi celah celah jendela dan membangunkan salah satu penghuni ruangan itu secara paksa, Sakura mengerutkan dahinya kemudian melihat kearah sekitarnya.

"Pukul 10.00 pagi ... oh-" Sakura tersentak melihat jam kemudian sontak bangun namun tangan kekar dipinggangnya menghalanginya untuk bangun.

"Boss.." ucap Sakura membangunkan Itachi yang tidur telungkup "boss ..."

Panggil lagi Sakura mengelus juntaian hitam rambut Itachi yang kini tergerai indah namun Itachi tidak merespon panggilan Sakura "boss?" ucap Sakura sedikit lancang mengecup pipi Itachi membuat Itachi menggeliat dan menampakan manik obisidannya.

"Sakura ... aku akan menghukummu nanti!" ucap Itachi mempererat pelukan tangannya pada pinggang wanita itu "hehe ... maafkan aku boss ... aku hanya ingin memberi tahu bahwa ada penerbangan ke Amerika hari ini?!" ucap Sakura melihat langit-langit yang tergantung lampu kaca mewah dengan aksen berlian.

"Aku akan berangkat sore ini" ucap Itachi mengikuti arah pandangan Sakura, Itachi mendengar Sai ketika ia mengubah jadwal keberangkatn, dan sepertinya Itachi harus mentrakir laki-laki itu untuk secangkir kopi disalah satu café terkenal di Amerika.

"Dan sore ini paman ku juga akan datang ke sini" sambung Itachi membuat Sakura menatap kearah wajah nya.

"Ino akan menemani mu selama aku pergi, aku akan memberi mu kunci kamar ini untuk memberimu privasi, gunakan apa yang kamu butuhkan selama aku pergi, Sakura" sambung Itachi tetap menatap langit-langit kamarnya.

Sakura entah mengapa merasakan sesuatu yang membuat dirinya takut, dia memiliki firasat yang buruk mengenai kepergian Itachi dan kedatangan paman Itachi, dengan mengerutkan dahi nya Sakura memposisikan dirinya diatas dada bidang Itachi, rambut merah mudanya tergerai menyentuh dada hingga jatuh di atas punggung nya sendiri.

Itachi memainkan rambut wanita bersurai merah muda itu, ia sekilas mengelus pucuk kepala wanita itu dengan lembut.

"Boss aku ..." ucap Sakura namun Itachi menghentikan pembicaraan wanita itu dengan mengecup bibir nya selama beberapa menit.

"Semua akan baik-baik saja." Ucap Itachi kembali mengelus pucuk kepala Sakura dan memeluk Sakura.

"Aku hanya ingin berkata ... aku ... boss" ucap Sakura didada bidang Itachi.

"aku sepertinya mencintaim-..." ucap Sakura terbata-bata dan Itachi bisa merasakan degup jantung Sakura yang semakin memacu.

"Permisi Itachi-sama saya Ino, dan saya ingin mengantarkan ochasebagaimana permintaan dari Sai-kun." Ucap seseorang dari balik ruang pribadi Itachi

"Masuklah" ucap Itachi datar masih memainkan rambut panjang Sakura.

Saat Ino menengadahkan kepala nya ia terkejut mendapati Sakura bersama bosa nya dengan posisi yang lumayan intim, sementara itu Sakura kecewa karena tidak menyeleSaikan kalimat yang sudah lama ingin ia ucapkan.

" Sakura, ayo sarapan terlebih dahulu, kemudian persiapkan perlengkapanku untuk ke Amerika,aku ingin membawa beberapa ocha" ucap Itachi kini mendudukan Sakura dan mengepang juga menggelung rambut merah muda nya, Sakura dan Ino bahkan terkejut dengan apa yang dilakukan Itachi .

Itachi dengan santai pergi menuju kamar mandi sementara itu Sakura ada untuk membereskan tempat tidur disambut dengan Ino yang berdiri disamping nya menghentak hentakan kaki dan menyilangkan kedua bahu di dada nya.

"Jadi apa yang terjadi pada pagi ini, nona?" Tanya Ino penuh selidik Sakura menghela napas mengencangkan ikatan baju kimono hitam Itachi yang kebesaran.

"yeah, seperti yang kamu lihat..." ucap Sakura santai, kemudian Ino mengerutkan dahi.

"Hmm... bukan itu nona tapi apa hubungan kalian sebatas boss dan geisha atau bahkan ... lebih dalam daripada itu?!" sambung Ino mengerutkan dahi Sakura melihat kimono ungu dengan corak bunga lily yang dikenakan Ino.

"hanya sebatas tuan dan pelayannya, mungkin ..." ucap Sakura menggantung kalimatnya karena ada sesuatu yang bergemuruh didadanya tiap kali Itachi menyentuhnya.

" Mungkin? sepertinya itu menjelaskan banyak hal Saki!" Ucap Ino dengan tekanan di setiap perkataannya sementara itu Sakura bersikap santai dengan memungut beberapa potong baju Itachi yang berada di lantai dan menaruhnya di keranjang.

"Iya ... kurasa ada sesuatu yang akan meledak ketika boss berada disampingku.." ucap Sakura dingin mengetahui ia mengakui perasaannya, Ino tersenyum tipis kemudian menepuk bahu temannya itu.

"Semua akan baik-baik saja Sakura, jangan bohongi perasaanmu, oke?!" ucapnya dengan nada tulus yang tidak di buat-buat.

"Bagaimana aku bisa membohongi perasaanku, karena aku sudah memberikan segalanya pada boss. Semua milikku" ucap Sakura tersenyum melihat salah satu lukisan yang memperlihatkan laki-laki dengan setelan jas hitam rapih dengan wajah yang masih sama datarnya, Itachi .

"Kita akan membicarakannya nanti, aku akan membantu Sai-kun berkemas. Baiklah aku pamit Sakura" ucap Ino membawa nampan pada dekapannya dan melenggang pergi,Sakura membuka jendela kayu dan melihat seberapa terik matahari hari ini namun tetap tidak bisa mencairkan es yang membekukan kolam dengan air berwarna biru itu.

"Apa yang kau lihat dari situ, Sakura?" Ucap suara yang selalu Sakura sukai itu dibelakang tubuhnya, Sakura bisa merasakan hangat tubuh Itachi dan wangi maskulin laki-laki itu menyeruak diindra penciumannya.

"Aku hanya melihat bagaimana hari ini begitu cerah,boss!" ucapnya berbalik dan membantu Itachi mengeringkan rambutnya.

"Sakura ... " ucap Itachi lembut, sementara itu Sakura terus menyeka butiran-butiran bening yang turun dari rambut hitam laki-laki itu.

"Eh, Iya boss?" Jawab Sakura kaget baru menyadari bahwa laki-laki itu memanggil nama nya.

"Terima kasih" sambung Itachi membuat giok dimata Sakura mencair, dada nya terasa sesak, namun ada suatu kelegaan yang menyeruak kedalam dirinya, Sakura menghembuskan napas.

"Tentu, sama sama boss" ucapnya tersenyum tulus.

Setelah mereka sarapan dan Sakura merapihkan diri, Itachi mengajak Sakura untuk sekedar berkeliling rumah, tentu banyak tempat yang Sakura belum ketahui contohnya kebun bunga keluarga juga halaman belakang yang didominasi untuk melakukan pesta diluar ruangan, atau ruang bawah tanah tempat persembunyian yang sekarang adalah tempat untuk menaruh sake atau anggur.

Pandangan Itachi tidak pernah lepas dari Sakura bahkan dia tidak keberatan saat wanita itu menggamit lengannya.

"Ini adalah dojo keluarga utama, pada zaman dahulu keluarga kami adalah yakuza yang memegang teguh janji samurai, dulu aku selalu dilatih disini, bersama dengan anggota yang lain. Bisa dibilang ini juga termasuk tempat penyiksaan, kami terus berlatih dan berlatih hingga bisa, tiap pukulan, makian dan hinaan terus menghujami kami ketika kami gagal dan sebaliknya pujian juga kebanggaan akan ada saat kami berhasil." Ucap Itachi suaranya kelam sementata itu Sakura mempererat pegangannya pada lengan Itachi.

"Lalu ... bagaimana jika tidak bisa berlatih dan menguaSai jurus dengan baik?" Ucap Sakura bertanya, Itachi berhenti melangkah kemudian menatap Sakura dalam-dalam.

"Maka mereka akan menghukum dan kami terus disuruh berlatih hingga bisa, Sakura." Ucap Itachi santai kemudian melanjutkan langkahnya Sakura mematung melihat puluhan pedang samurai yang tertata rapih dan terawat kemudian melanjutkan langkahnya lagi.

Itachi memberikan kemeja biru tua dengan lengan sesiku juga renda-renda halus pada bagian dada hingga menjuntai ke bawah, dengan rok hitam span beberapa senti di atas lutut dengan belahan di bagian belakangnya membuat Sakura terlihat sangat cantik, Sakura juga mengenakan sepatu hak hitam mendominasi kulit putih nya.

"Ada apa Sai? Baik kami akan segera kesana!" ucap Itachi dispeaker telepon genggam nya.

"Ada apa boss?" Ucap Sakura menoleh kearah Itachi membuat berlian yang menggantung di telinga nya memantulkan cahaya.

"Pamanku sudah datang, lain waktu kita akan lanjutkan." ucap Itachi datar di sambut anggukan Sakura.

Entah kenapa Sakura merasakan firasat buruk dan tidak menyenangkan ketika Itachi menyebut-nyebut kata 'paman nya'.

Akhirnya setelah lima menit berjalan mereka tiba diruang tamu utama, Sakura melepas gamitan tangannya dan membukakan pintu geser ruangan tersebut kemudian masuk setelah Itachi .

"Oh-Itachi ..." ucap laki-laki rambutnya hitam dan panjang melewati bahu nya, kulitnya lebih putih malah terlihat pucat ketimbang Sakura dan ada tato ungu yang menjuntai dari ujung mata mengapit hidung nya, Sakura juga melihat tato terakhir yang terukir dipergelangan tangan laki-laki itu, Sakura yakin dia juga seorang yakuza seperti Itachi.

"selamat sore paman" ucap Itachi membungkuk hormat dilanjutkan dengan Sakura, setelah itu Itachi duduk di kursi yang dibatasi dengan meja kayu, Sakura berdiri di samping Itachi dengan sopan sementara itu Sakura melihat Ino mensejajarkan diri dengan pelayan wanita yang lain, Sakura melihat Sai berdiri pada bahu kanan Itachi, Sakura melihat orang berpakaian yukata serba hitam berdiri di belakang pria yang menjadi paman Itachi itu, perut Sakura seperti di siram es melihat tatapan mata emas yang bagaikan ular mengincar mangsanya itu.

"Aku mendengar kau sudah kembali dari Tokyo dan kau menempati rumah utama sebagai pewaris. Jadi aku akan menetap beberapa bulan disini untuk mengurus pekerjaan, berhubung kamu sudah tinggal disini, aku jadi tidak usah repot-repot menyewa hotel, bagaimana Itachi ?" Ucap laki-laki itu menghisap rokok dari sumpit dengan kepala ular dan menghembuskan kepulan asap di udara.

Sakura menahan napas beberapa saat agar tidak terbatuk-batuk sementara itu Itachi mengangkat satu kaki nya dan menopang dagu dengan sebelah tangannya pada sofa merah marun yang di dudukinya.

" Baiklah, aku meninggalkan pelayan rumah untuk melayani mu, dan jangan mengacau didaerah yang menjadi daerah kekuasaanku." Ucap Itachi datar seperti biasa kemudian laki laki itu tertawa lebar dan sinis.

"Kau persis ayahmu!" ucap Orochimaru meneguk segelas anggurnya, Sakura berusaha mempertahankan dirinya untuk berada dan berdiri tegar.

"Kin.." ucap Orochimaru memanggil seseorang, kemudian Sakura melihat perempuan dengan rambut hitam di sanggul menggunakan yukata hitam dengan aksen bunga lycoris merah menghampiri Orochimaru " sekarang kau akan ikut bersama dengan Itachi, dampingi dia dan lakukan apa yang dia mau, meskipun kau harus menyerahkan dirimu." ucap Orochimaru di sambut kilatan mata hitam wanita yang dipanggil Kin itu, Sakura bergidik 'apa maksudnya semua ini?' Ucapnya dalam hati namun memilih diam karena ia yakin Itachi punya penjelasan atas semua ini.

" aku tidak memerlu..." ucap Itachi tenang.

BRAAKKKK

Orochimaru mengangkat sebelah kaki nya ke meja "aku tidak menerima penolakan!" ucap Orochimaru tersenyum sinis sementara itu Itachi melihatnya datar.

"Sakura ... tunjukan kamar untuk tamu kita." ucap Itachi tanpa menoleh.

"Baik,boss." Jawab Sakura tetap sopan menundukan kepalanya kepada Itachi.

Orochimaru menatap Sakura dengan kilatan tajam dan dengan senyuman yang membuat Sakura menjadi jijik, kemudian Sakura mempersilahkan Orochimaru menempati wisma tamu dan tentu ruang terpisah untuk pelayan yang datang bersama nya, setelah itu Sakura pamit untuk mempersiapkan makan malam.

'Aku tidak suka orang itu' ucap Sakura dalam hati kemudian melangkahkan kaki nya ke dapur utama.

Sakura mendengar beberapa pelayan wanita bergumam kemudian saat dia membuka pintu dapur mereka semua menghampiri Sakura dengan tergesa-gesa.

"Nona Sakura ... bagaimana kita bisa melayani tuan dengan cara seperti ini? Apa nona melihat laki-laki itu? Saya bahkan tidak ingin mencicipi masakan untuk dia makan!" ucap pelayan yang Sakura kenal bernama Hana.

"Lalu aku bahkan ingin muntah ketika ia menatap nona bagaikan sebuah makanan yang akan dia makan sewaktu-waktu ketika ia lapar?!" ucap Kikyo kini terisak

"Dan... dan bagaimana laki-laki itu tega menggantikan nona dengan wanita seperti itu?!" Ucap Inori memeluk pinggang Sakura dan dilanjutkan dengan keluhan pelayan yang berada di dapur utama itu.

Sakura menghela napas.

"Baiklah kawan kawan,dengarkan aku!" ucap Sakura menepuk punggung atau mengelus pucuk kepala pelayan itu.

"Kita disini untuk melayani keluarga utama bukan? Bahkan ketika tamu kita itu bukan seorang yang baik kita harus melayaninya untuk menunjukan loyalitas kita terhadap tuan muda bukan? Jadi ... andai tuan Orochimaru bersikap seperti itu yang kita harus lakukan adalah bersikap profesional melayani seperti biasa kita melayani tuan muda, tapi tetap ingat batasan antara tuan muda dan tuan Orochimaru. Apa yang boleh dan tidak boleh, nah sekarang ayo siapkan makan malam untuk kedatangan tuan Orochimaru dan untuk bekal tuan muda, jika ada sesuatu jangan sungkan mengatakan pada ku,oke!" Ucap Sakura membuat rona pipi para gadis itu kembali bersinar.

Sementara itu Itachi yang sedang mencari Sakura terdiam didepan dapur utama tersenyum mendengar apa yang Sakura ucapkan 'kali ini aku akan berusaha' ucap Itachi membuka pintu geser.

" Boss?!" ucap Sakura kaget dan dibarengi semua pelayan yang memberi hormat, kemudian Sakura mencuci tangan dan mengelap nya diapron yang ia kenakan.

"Ikut aku sebentar." ucap Itachi, dengan segera Sakura melepas apronnya dan pamit dengan cara yang sopan.

"Maafkan sikap paman ku, dia masih mempertahankan tradisi yakuza yang bringas, tapi jangan khawatir dia orang yang baik." ucap Itachi melihat Sakura dari ekor mata nya, tapi hati Itachi berkata lain, namun ia memilih untuk percaya pada paman nya itu, dan pada Sakura.

"Tidak masalah boss,saya adalah seorang pelayan dan pelayan tidak seharusnya mengomentari kebiasaan tuannya." Ucap Sakura menatap koridor kayu yang ia tapaki.

Dan sampai pada jalan buntu, ia melihat ke arah Itachi yang mengeluarkan sebuah kunci kayu dan membuka pintu kayu itu,ini semacam ruang rahasia ketika pintu terbuka menjadi dua bagian Itachi masuk di lanjutkan dengan Sakura, dan Sakura bisa melihat kebun dengan berbagai macam bunga, Sakura menutup mulutnya agar tidak berteriak. "ini adalah salah satu harta peninggalan keluarga Uchiha, tanah, air, udara, juga bunga-bunga yang tumbuh di pekarangan ini tidak akan pernah layu sampai kapan pun. Aku berharap apabila kamu sedang kesepian karena kepergian ku, atau ketika kamu merindukan ku, kamu akan datang kesini dan melepaskan nya disini, sampai aku benar-benar kembali." Ucap Itachi seraya menatap Sakura yang masih tidak percaya dengan apa yang di lihat.

"Berjanjilah kau akan baik baik saja." ucap Itachi mengelus pucuk kepala Sakura dan mengecup bibirnya dengan lembut, kemudian mencopot kedua anting Sakura dan menggantinya dengan anting mirip seperti Rosario dan memakaikan nya. Kedua anting yang sangat berbeda satu anting kunci seperti kaca dan satu anting lagi kunci berwarna hitam yang Sakura yakini terbuat dari berlian.

" aku berjanji, oh-boss..." ucap Sakura tidak bisa menahan air mata nya untuk menangis, ia merasakan sebuah kehilangan yang jauh menyakiti lubuk hatinya, tunggu bukankah Itachi sering melakukan sebuah perjalanan? Tapi dia tidak pernah merasa seperti ini.

Itachi melingkarkan kedua tangannya dipinggang Sakura "ada apa Saki?" Ucap Itachi membawa Sakura pada pelukannya.

"Aku akan merindukanmu,boss!" ucap Sakura melingkarkan kedua lengannya dileher Itachi, ya benar dia akan merindukan saat ia berjalan dengan Itachi, saat Itachi mengelus pucuk rambutnya, saat Itachi tersenyum meski tipis, atau ketika Sakura memeluknya dengan sejuta perasaan yang tidak bisa di ungkapkan, harum maskulin tubuhnya, hangat sentuhannya, kecupan di bibirnya, dan semua tentang boss yang membuat dirinya itu lupa bahwa ia adalah geisha nya.

...

.

.

.

.

.

.

Setelah makan malam berlangsung Itachi beserta Sai juga Kin pamit dan menaiki Limosine menuju bandara. Ino dan pelayan yang lain membereskan piring sementara itu Orochimaru diantar Sakura ke Aula tengah untuk sekedar bersantai sambil menonton TV.

Sakura mengenakan kemeja putih dengan ikat leher yang di modifikasi seperti pita, dengan rok span selutut dan sepatu hak cream.

Setelah memberikan beberapa ocha dan kue tahun baru Sakura pergi dengan sopan.

Pukul 23.00 Kini Sakura menuju kamar pelayan yang lain untuk sekedar mengecek apakah mereka sudah beristirahat atau belum, Sakura mengerutkan dari melihat orang yang sudah tidak asing lagi, Ino.

"Apa yang mengganggu mu?" Tanya Sakura berdiri di samping Ino, Ino hanya menggelengkan kepala.

"Tidak, hanya saja kehilangan sosok tuan muda dan Sai-kun" jawab Ino menerawang memandang langit dari koridor itu, Sakura menganggukan kepala nya.

"Aku setuju" ucap Sakura melipat kedua tangannya di dada.

"Entahlah, aku sangat mencintai Sai-kun sejak pertama kali kami bertemu. Sejak hari dimana aku menyerahkan kehormatanku padanya. Bahkan ia menyentuhku dengan amat lembut, kau tau Sakura?" Aku Ino mengusap wajahnya sendiri, dan Sakura menginat kejadian beberapa tahun lalu, kejadian yang tidak seharusnya ia lihat.

Sakura mengangguk dan menepuk bahu teman nya itu "aku mengerti, kau tahu malam itu aku dilelang dan bahkan aku tidak tahu apa makna pelelangan itu, ketika aku sadar aku sudah berada dalam genggaman pria tua yang menjijikan, bahkan aku melarikan diri dengan sisa harga diriku sampai aku berada ditepi danau dingin dan ia mencaci maki aku, juga berusaha menyentuhku saat aku sadar sebuah tangan hangat menyelamatkan aku dan membawa ku pergi. Namun saat aku terbangun aku membenci diriku sampai keujung neraka paling dalam, aku teebangun diruangan serba mewah yang aku kira adalah kamar laki laki tua brengsek itu, kemudian tanpa ragu aku membuka jendela dan siap terjun dan mati. Namun seperti dejavu tangan itu menarik ku dan membawa ku melihat sebuah mata yang membuat aku takjub dengan keindahannya juga tunduk dengan kuasanya, bahkan ketika aku berbuat licik untuk menghancurkan boss,boss tidak keberatan bahkan ketika aku ingin membunuhnya dia mempersilahkan aku, tanpa sadar setelah bertahun-tahun lama nya aku memberikan kesetiaanku padanya dan tanpa sadar aku jatuh cinta padanya..." Ino tercengang mendengar cerita Sakura.

"Ap-apa dia tau?" Tanya Ino membuat kening Sakura berkerut.

"Entahlah, tapi sikapnya terkadang melembut sejak malam itu..." jawab Sakura membuat Ino kembali mengerutkan keningnya "malam itu ...?" Ulangnya bertanya.

Sakura menghela napas bagaimana ia akan menjelaskan soal ini pada temannya itu.

"Malam dimana aku melepas keperawananku." ucap Sakura membuat semburat merah dipipinya dan melihat Ino memunculkan O pada bibirnya seraya menutupi bibirnya dengan kedua tangannya.

"Ya tuhan ... jadi selama itu, Itachi belum pernah menyentuhmu, Saki?" Perjelas Ino membuat Sakura risih namun ia mencoba terlihat santai.

"Yeah ... karena aku selalu memberontak dan tidak mengizinkannya" ucap Sakura menatap langit gelap yang bertabur bintang.

"Kau itu aneh saki, aku bahkan sering melakukannya dengan Sai-kun. Bukankah itu pekerjaan kita sebagai penghibur?" Ucap Ino menambahkan, Sakura menggelengkan kepala nya " aku bahkan tidak mengerti apa itu geisha Ino, yang aku mengerti adalah dia satu satunya laki-laki yang secara tidak sengaja menemani aku. Itu yang membuat dia begitu berarti." Ucap Sakura membuat Ino tersenyum.

"Percayalah, dia mencintai mu seperti kau mencintainya Saki..." tegas Ino.

"Karena aku bisa melihatnya dari tatapan matanya saat menatap mu." Ucap Ino menambahkan membuat Sakura membisu.

"Aku yakin besok matahari akan bersinar dengan cerah, oh iya Sai-kun memesan kepada ku untuk ikut melayani kebutuhan mu, kau tau Itachi yang meminta nya." ucap Ino seraya merangkul bahu Sakura.

"Ayo kita tidur saki,bulannya sudah meninggi" ajak Ino di jawab anggukan Sakura.

'Terima kasih,boss' ucap Sakura dalam hati memperlihatkan anting yang berkilauan diterpa angin bulan diakhir Desember itu.

...

...

...

TBC

A/N : hallo teman-teman, bagaimana kabar kalian?

Aku berharap dalam keadaan yang baik ya, aamiin.

Hehehe xD

Maaf baru kembali update, beberapa hari yang lalu aku harus menyelesaikan ujian-ujian akhir.

Dan sekedar pemberitahuan, chapter-chapter selanjutnya akan diupdate mungkin lebih lama, karena selama tiga minggu kedepan aku akan dinas keluar kota, jadi mohon dimaklumi. ^^-

Dan sekali lagi, terima kasih banyak untuk teman-teman ku, pembaca setia my lovely boss, maaf sekali jika aku tidak bisa membalas satu persatu pertanyaan, tapi sebagai ucapan terima kasih aku mengupdate chapter ini cukup panjang, mudah-mudahan kalian suka #membungkuk.

Terima kasih kepada : Sashicchi, BlackHead394, echaNM, hanazono yuri, Rinda Kuchiki, zehakazama, Himenatlyschiffer, himmmecchi, JesShinji , Kimaru-Z, harulisnachan, Bang Kise Ganteng, lilo, Nadia Kara Annabele, 0chan, Luca Marvell, Guest, jui chan, Miura Kumiko, yencherry, SantiDwiMw.

Terima kasih atas support, masukan dan saran nya.

SakuraH20.