Chapter 8

Seutuhnya Kembali

.

.

.

.

.

.

.

Sakura menerjapkan matanya beberapa kali, kemudian ia mengusap kelopak mata nya dengat telunjuk tangannya, ia merasakan sakit kepala yang hebat, juga denyutan aneh yang terasa nyeri di sekujur tubuhnya.

"Sshh...arggh" ucapnya seraya berusaha bangun dari posisi tidurnya, kini kelopak matanya membuka dan menyesuaikan gradasi cahaya disekitarnya 'di-dimana ini?' Sakura bertanya pada dirinya sendiri.

Sakura melihat jendela yang menjulang panjang dari atas plafon sampai kebawah lantai Sakura bahkan bisa melihat beberapa tanaman bunga dan beberapa bangku untuk sekedar bersantai dibawah pohon cemara yang menjulang tinggi namun rindang.

Sakura melihat lantai yang diselimuti dengan karpet beludru coklat, temboknya yang berwarna putih, Sakura melirik kearah tangan kirinya yang terpasang infus juga beberapa alat yang menunjukan aktivitas jantung juga pernapasan dan tekanan darahnya, ia duduk diatas tempat tidur yang embuk berlapis seprei berwarna hijau dengan selimut lembut berwarna cream, Sakura melirik jam dinding yang terbuat dari emas juga dengan beberapa potong berlian yang menunjukan detik yang dilalui jarum jam.

'Pukul 08.00 pagi' ucapnya dalam hati, ia juga dapat merasakan aroma sejuk dari selang oksigen yang bertengger pada hidung mancungnya.

Sakura memejamkan mata mengingat apa yang terjadi sebelumnya,namun ia tidak dapat mengingatnya dengan jelas, kepalanya kembali berdenyut nyeri.

"A-akh ..." ucapnya kesakitan dengan napas yang tersengal-sengal, kemudian ia memutuskan untuk bangun dan mencari tahu dimana dan siapa yang bertanggung jawab atas semua ini. Sakura membuka pintu yang membatasi ruangannya dengan ruangan yang lain, ia berjalan tertatih memegang tiang infuse, tidak lupa meng-klem infus itu supaya tidak ada darah yang ikut naik dan menyebabkan kekacauan.

"Oh Sakura!"

Seseorang laki-laki dengan rambut merah muda pudar juga dengan kemeja putih yang kusut menghampiri Sakura dengan terburu-buru, dari jajaran kursi yang lebih mirip seperti ruang tamu itu.

"Iya,itu aku." ucap Sakura bingung menatap laki-laki paruh baya yang kini memapah lengannya dengan sikap protective dan hati-hati itu.

Sakura melihat laki-laki itu dengan tanda tanya, namun entah mengapa hatinya merasa sangat rindu dengan laki-laki itu.

"Emm... bagaimana aku memulainya ... aku ..." ucap laki-laki itu bahkan Sakura bisa melihat dirinya dari mata emerald dengan warna pudar, seperti miliknya.

Kemudian Sakura mendengar pintu terbuka dan mendengar seseorang mengumpat kesal dan berlari kearahnya.

"Oh... bahkan ketika kau bangun kau langsung berjalan, benar-benar!" ucap suara yang Sakura sangat kenali itu.

"BOSS!" kini Sakura melihat Itachi memegang tangannya masih terbalut baju piyama rumah sakit dan memegang tiang infus Sakura.

Lalu Sakura kembali berjalan dan melihat beberapa orang yang sangat ia kenal sedang duduk dan bersantai dengan baju santai yang mereka pakai.

"I-Ino, Sai, Kikyo ... kalian samua ..." ucap Sakura disambut cengiran dan sapaan bahkan pelayan dari keluarga utama sekarang berada disofa berwarna cream, tanpa peraturan tanpa ketatakramahan juga tanpa jarak.

Sakura juga dapat melihat satu persatu bawahan Itachi berdatangan dengan penampilan santai mereka dan tersenyum mendapati Sakura, yang hanya satu-satunya orang yang sakit diruangan yang besar itu menoleh ke arah mereka.

"Bagaimana kabar nona?"ucap pelayan laki-laki bernama Hayato tersenyum menyapa Sakura

"A-aa ... lebih baik terima kasih Hayato-san!" ucap Sakura tersenyum.

Kemudian Itachi mendudukan Sakura pada kursi roda dan memindahkan infus ke tiang infus yang ada di kursi roda.

"Terima kasih boss ...terima kasih ..." Sakura menoleh ke arah sebelah kiri laki-laki yang memapahnya itu

"Kizashi ... Kizashi haruno"

Ucap laki-laki itu membuat mata Sakura terbelalak lebar.

"A-apa?" kini Sakura menuntut Itachi dengan tatapan tidak percaya 'itu kebetulan marga nya hanya sama dengan nama mu saki' ucap Sakura dalam hati mengenyahkan pemikiran aneh yang ia rasa bahwa laki-laki di samping kirinya itu adalah ayah kandungnya.

"Iya Sakura, dia adalah ayahmu. Kizashi haruno kepala FBI sekaligus kepala keluarga Haruno yang memegang kekuasaan penuh Yakuza berserta mafia di Amerika Serikat..." Itachi berkata dengan tenang menyatakan kebenaran kepada Sakura, bahkan Itachi bisa melihat kesengsaraan dimata gadis berusia 20 tahun itu, untuk semua yang dia alami dan untuk semua siksaan yang ia lewati dia terus tegar bagaikan batu karang yang kuat diterpa badai dari lautan.

"Ba-bagaimana bisa?" ucap Sakura kini menatap laki-laki yang diberitahu adalah ayahnya itu.

Kizashi hanya bisa memegang tangan kiri Sakura dan berjongkok mensejajarkan posisi mereka berdua, mata keduanya bertemu dan menghubungkan sesuatu yang tak kasat mata, ikatan ayah dan anak.

"Saat kau lahir ... kau di culik oleh orang yang tidak bertanggung jawab, bahkan ketika ayah memakai semua kekuasaan ayah kau tidak dapat ayah temukan, ayah terus mencari mu sampai detik ini bahkan terkadang ayah merasa putus asa dengan apa yang ayah lakukan selama bertahun-tahun, tidak ada dokumen tentang mu atau tentang kependudukan mu, sampai ketika ada salah satu dari klan keturunan Uchiha yang terakhir mendatangi kediaman ayah tanpa takut dan membuat perjanjian dengan kesombongannya, berusaha menyelesaikan kerusuhan yang dibuat orang-orang tolol yang berusaha merebut wilayah kekuasaan ayah juga membuat huru-hara di Negeri yang ayah tinggali. Bahkan ayah melihat keseriusan dari anak yang baru menginjak masa dewasanya itu. Seiring waktu sekitar kurang lebih setengah bulan kerusuhan dapat teratasi karena ayah bekerja sama dengan nya..." ucap Kizashi memegangi tangan mungil Sakura dengan kedua tangan besar dan hangatnya membuat Sakura terluka sekaligus bahagia.

"Lalu kerusuhan pun mereda setelah itu, namun ketika kerusuhan mereda wanita yang selalu ada disamping Itachi-dono mendatangi kediaman ayah dan berusaha merayu ayah, bahkan ditangan Itachi-dono sendiri wanita itu dibunuh karena wanita itu adalah malapetaka. Dia memiliki virus yang mengalir dalam pembuluh darahnya, virus yang akan membunuh siapapun dengan perlahan dan pasti, dan ketika virus itu sudah mengakar pada sel-sel tubuh, tidak akan ada yang dapat menolong mu, kecuali kematian. Sangat menjijikan. Setelah kejadian itu Itachi-dono dan ayah mulai akrab dia banyak bercerita, berbicara tentang keluarga, haha ... ayah tidak sadar dengan lugas ayah menceritakan soal putri ayah yang hilang, dan saat itu kejadiannya begitu cepat, semua bagaikan benang merah yang tersambung, kemudian pelayan Itachi-dono menghubunginya dan mengatakan hal aneh, tanpa banyak berpikir kami datang dengan cepat karena Itachi-dono sangat yakin kau adalah putri ayah, saat ayah kembali ke jepang betapa terkejutnya ayah mendapati teman lama ayah dengan tega menyakiti, bahkan ingin merobek-robek kehormatanmu seperti dia mengambil ibumu dari ayah, Sakura ..." ucap Kizashi kini pundaknya bergetar hebat menahan amarah yang akan membuncah sewaktu-waktu.

Sakura terdiam, jantungnya memompa lebih cepat dan kepalanya pusing bukan main. Semua cerita yang ia dengan saling berkaitan dan tersambung seperti benang merah takdir, seperti yang ayahnya katakan.

Sakura menghela napas panjang

"Aku tidak percaya, oh tuhanku, terima kasih!" ucap Sakura menatap karpet beludru coklat dalam-dalam.

"Bahkan dengan semua hinaan yang aku terima semasa hidupku, dan semua rasa sakit juga beban yang ditempatkan dibahu ku, kini aku bisa tersenyum kepada dunia bahwa aku memiliki orang tua, apa yang tidak lebih baik dari itu, ayah?" ucap Sakura tersenyum menatap pucuk kepala ayahnya, air matanya turun secara alami karena perasaan yang bahagia, seketika perasaan tidak diinginkan atau perasaan ketika ia hanya seorang yang dipandang sebelah mata, semuanya hilang karena pengakuan laki-laki di depannya.

"Terima kasih sudah mempercayai boss ... dan sudah datang kesini sehingga aku dapat bertemu denganmu..." sambung Sakura menatap manik emelad ayahnya, dibalas pelukan laki-laki paruh baya itu, Kizashi Haruno mengecup pucuk kepala Sakura, ia juga berterima kasih kepada Itachi, membuat bawahannya takjub dengan apa yang mereka lihat, karena bagaimana pun laki-laki itu-Kizashi Haruno adalah laki-laki paling kejam dan tidak akan memilih siapa yang akan menjadi mangsanya.

"Ibumu pasti akan bahagia di surga Sakura ..." ucap Kizashi tersenyum di balas dengan isakan tangis Sakura yang semakin membahana di ruangan tersebut.

Itachi yang melihat ekspresi Sakura saat itu, hanya bisa menatap dengan datar,dan dalam hati bersyukur bahwa masih ada kebahagiaan yang wanita itu dapat dari dunia yang sudah bobrok ini.

.

.

.

.

.

.

.

"Nee ... Otou-san ..." ucap Sakura menatap langit biru dari bawah pohon cemara.

"Hmm.." ucap Kizashi yang sedang mengepang rambut musim semi putri semata wayangnya itu.

"Apa yang akan kita lakukan setelah ini?" tanya sekura kini menoleh kearah Kizashi membuat laki-laki itu tersenyum mendapati kata 'kita' yang Sakura ucapkan.

"Jika kau sudah pulih, kita akan ke Amerika. Disana kau bisa melanjutkan pendidikanmu juga kau bisa melakukan apapun yang kau suka, ayah akan memberikan apapun yang kau mau,Hime-chan" ucap Kizashi mengelus rambut panjang Sakura.

"Baiklah ... aku akan mulai melanjutkan kuliah dan mengambil bagian kedokteran, juga mengikuti beberapa les musik, bela diri, kelas tari, dan memasak. Bagaimana menurut ayah?" ucap Sakura semangat, Kizashi sempat tertegun dnegan apa yang Sakura inginkan karena biasanya anak-anak seusianya menginginkan kebebasan dengan mobil-mobil mewah, juga pesta di pantai atau dengan pergi berbelanja dan pergi berlibur keluar negeri.

"Ayah sangat bangga padamu!" ucap Kizashi pada Sakura membuat Sakura tersenyum,meski sekarang wajah dan beberapa bagian tubuhnya lebam-lebam tapi ia tetap menunjukan senyuman yang manis.

"Karena ... aku punya banyak mimpi yang aku belum wujudkan, ayah ... karena dimasa lalu aku memiliki hari yang sulit sebelum boss datang ..." Sakura tersenyum mendapati Itachi melangkah kearahnya.

"Apa aku bisa mengunjunginya sesekali, ayah?" ucap Sakura menoleh pada ayahnya

"Tentu saja Hime-chan, bahkan ayah mengizinkan jika kau ingin terus bersamanya. Ayah akan menerima kerja sama dengan perusahaan Itachi." Ucap Kizahi berdehem dan meminum kopi hangat nya.

Itachi datang dan membungkukan badan memberi hormat pada Kizashi dan dibalas anggukan Kizashi.

"Boss ... ayahku mengizinkan aku mengunjungi boss sesekali, bagaimana menurut boss?" ucap Sakura dengan mata berbinar membuat Itachi tersenyum dan mengelus pucuk kepala wanita itu.

"Bagaimana terlebih dahulu dengan menentukan tanggal pernikahan kita, Sakura?" ucap Itachi membuat Sakura seperti dua kali lebih idiot dengan keterkejutan yang sangat berlebihan dan beberapa detik berikutnya dia meneriaki Itachi dengan kata 'APAA!' yang membuat kedua laki-laki disekitarnya menutup kedua telinga secara bersamaan.

"Hahaha ...itu keputusan yang bagus nak, aku akan sangat senang memiliki menantu seperti mu, iya kan Sakura?"ucap Kizashi mengelus pelan bahu Sakura dan dijawab dengan anggukan Sakura.

Itachi tersenyum melihat wajah Sakura yang merah seperti tomat karena lamaran spontan yang ia ucapkan.

Kemudian Kizashi menerima telepon dan menyuruh Itachi untuk menjaga Sakura, sementara dirinya pergi kedalam ruangan rumah sakit untuk memeriksa beberapa dokumen dilaptopnya.

"Boss ..." ucap Sakura menatap Itachi yang duduk di sampingnya dengan santai.

"Hn ... ada yang kau butuhkan?" tanya Itachi pada Sakura dnegan suara yang amat lembut membuat Sakura menundukan wajahnya malu.

"A-aku ... a-aku ..." ucapnya terbata di jawab dengan kerutan didahi mulus Itachi.

"Ja-jadi ... a-aku ...boss ... aku m-minta maaf .. ya, aku minta maaf bos! aku telah gagal menjadi kepala pelayan hingga membuat kediaman mu menjadi hancur bahkan banyak pelayan terluka Karena ketidakbecusan ku, a-aku ... aku bahkan tidak mengerti mengapa paman Orochimaru bertindak seperti itu, atau bahkan tentang Kimimaru ..." ucap Sakura menunduk dan menggigit bibir bawah nya yang sudah robek Sakura tidak bisa berkata apa-apa dengan kejadian malam sebelumnya.

Itachi mengerti yang Sakura ucapkan, bahkan Itachi meruntuki ketololan nya yang meninggalkan wanita itu sendirian di Mansionnya, berharap ia aman dari kerusuhan yang dibuat oleh Yakuza rendahan di Amerika, Itachi ingin membunuh dirinya jika ia telat satu detik lagi, ketika dengan kurang ajarnya Kimimaru akan merenggut kehormatan wanita yang ia cintai itu.

"Tidak apa-apa saki...lagi pula keselamatanmu adalah yang paling utama untukku, maafkan aku sebagai atasanmu tidak mampu melindungimu dan melindungi bawahanku yang lain saat kalian membutuhkan ku." ucap Itachi menatap giok hijau Sakura yang kini memancarkan kepedihan yang mendalam.

"Bahkan aku memikirkan akan menaruh muka ku dimana, ketika laki-laki brengsek itu akan menyentuhku, saat itu aku hanya memikirkan mu boss. Hanya kau harapanku bahkan jika aku akan mati seperti kemarin ..." Sakura berbicara lirih meluapkan semua perasaannya pada Itachi, ia mengingat kejadian mengerikan kemarin, ketika Kimimaru hampir memperkosa nya, ingatan itu terasa menyakitkan namun selanjutnya Itachi datang sebelum laki-laki itu memperkosanya.

"Aku menyesal tidak mengatakan bahwa 'aku mencintaimu' ketika kau pergi, mungkin jika aku berkata itu aku akan tenang untuk mati." Sambungnya membuat Itachi kaget dan menatapnya dengan lembut.

"Untuk itu kau tidak mengatakannya, bahwa kau masih ditakdirkan untuk hidup, Sakura..." kini Itachi tersenyum, mengecup kening Sakura dengan lembut dan merangkul Sakura dalam pelukannya.

"Dan agar kau bisa mendengar dengan perasaan yang damai bahwa aku juga mencintaimu, jadilah Istriku seutuhnya." sambung Itachi mengelus rambut Sakura yang terjuntai indah di kursi roda nya.

"A-ah... ba-baiklah. Aku senang mendengarnya boss!" kini Sakura bersandar di bahu Itachi melihat kilauan jingga yang terus meredup meninggalkan jejak yang indah di langit.

"Dan kau harus cepat pulih setelah itu ayo kita adakan upacara pernikahan " Itachi ikut menatap sang surya yang kini pulang keperaduannya.

"Ba-baiklah aku akan menyembuhkan dan membereskan semua ini hehe!" ucap Sakura tersenyum senang.

"Jika aku bisa berjalan dan sedang tidak di infus aku pasti akan memeluk mu boss!" ucap Sakura menatap Itachi dengan senyum paling cerah, sementara itu Kizashi melihat dari dalam ruang yang dilapisi kaca bening, mengarah langsung kearah Sakura dan Itachi, Kizashi tersenyum senang dengan takdir dan semua yang sudah diatur sang pencipta mempertemukan Kizashi dengan cara yang benar-benar tidak terduga, bagaimana atas semua kehilangan yang Kizashi rasakan bertahun-tahun lalu ketika Sakura menghilang dari kehidupannya juga ketika mendapati Mebuki, istrinya sekaligus ibunda Sakura meninggal.

Ketika salju pertama dibulan Desember turun, menyisakan musim dingin yang terus menyelimuti hatinya, namun Kizashi terus berusaha untuk tegar bagaimanapun caranya,karena jika ia jatuh dan hancur semua yang ia bangun akan sia-sia setidaknya ia harus bertahan sendirian dan mencari seorang pewaris yang tepat untuk mengemban tugas dari klan Haruno.

Kini Kizashi bisa bernapas lega mendapati Sakura yang tumbuh dengan cantiknya bak musim semi yang datang ketika musim dingin berakhir, Sakura bagaikan matahari juga udara yang membuat Kizashi kini benar-benar hidup, juga bahagia. Dan Sakura tumbuh menjadi gadis yang kuat, Intelektual juga gadis yang baik seperti ibunya, semua yang Sakura miliki sepeti ibunya kecuali rambut dan mata yang sama namun lebih indah dari miliknya.

Kizashi melihat kearah orang yang kini duduk menemani Sakura, dia Uchiha Itachi pewaris tunggal klan uchiha yang masih memiliki kemitraan dengannya, Kizashi mendengar soal pembantaian klan Uchiha beberapa tahun yang lalu, namun ia tidak ingin berurusan dan ikut campur dengan pertikaian yang bukan didalam daerah kekuasaannya, Kizashi mengenal Fugaku juga Mikoto dengan baik namun dengan beberapa hal Kizashi diminta untuk memegang beberapa wilayah Amerika dengan di bawahi oleh para gangster juga mafia yang tunduk kepadanya, Kizashi berpikir bahwa klan Uchiha telah musnah, namun berselang setelah 2 tahun pasca pembantaian itu ada desas desus bahwa klan Uchiha kembali mendapatkan sebuah kursi kehormatan, dengan diatasi oleh laki-laki dingin dan seorang tangan kanan nya, Sai. Dia adalah mantan narapidana kelas atas di Amerika Serikat.

Dulunya Sai adalah ketua tim pasukan khusus Militer Amerika dan entah dengan cara yang kotor ia dijebloskan ke dalam sel dengan tingkat keamanan paling tinggi, bahkan semua orang tau bahwa Sai tidak bersalah namun apalah dimata hukum, akhirnya Sai memilih mengundurkan diri dan memilih untuk mendiami sel itu, Kizashi sendiri menyuruh beberapa anggotanya untuk membantu Sai dalam beberapa hal karena mereka adalah saudara setanah air.

Namun Kizashi terkejut dengan apa yang Itachi lakukan untuk mengeluarkan Sai, Kizashi mengakui keberanian pemuda itu dalam bertindak, dia dingin, mematikan dan akurat untuk seorang laki-laki muda.

Itachi menstabilkan daerah-daerah yang kacau tanpa membuat huru-hara yang mengancam publik,ia melakukan dengan negosiasi yang baik dan saling menguntungkan dengan cara yang lumayan bersih sehingga dalam kurun waktu beberapa tahun ia bisa memegang sepertujuh wilayah jepang juga memiliki banyak pengikut yang dengan sadar mengikutinya dengan loyalitas yang tinggi.

Itu membuat petinggi yang lain merasa iri dan mencoba menghancurkan Itachi dengan segala cara, namun dengan sikap tenang dan angkuh, khas Uchiha. Itachi membereskan hal itu, bahkan sekarang ia membereskan kekakauan di Amerika dengan sangat baik dan membuat Kizashi kagum dengan apa yang ia lakukan.

Entah apa yang Itachi lakukan kepada Sakura hingga anaknya itu memegang teguh loyalitas nya dan terus memanggil Itachi dengan sebutan 'boss' walaupun dia tau bahwa posisi mereka sekarang setara, tapi Kizashi yakin bahwa Itachi adalah laki-laki yang layak untuk Sakura cintai dan layak untuk meneruskan apa yang ia bangun dengan Sakura berada disampingnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

satu tahun kemudian

.

.

.

.

.

Sakura berjalan menelusuri orang-orang yang berlalu lalang dengan terburu-buru karena ia akan terlambat menghadiri makan malam dengan klien ayahnya.

Sakura setengah berlari dengan higheels 8cm coklatnya juga dengan beberapa buku yang ia masukan asal ke tasnya 'tinggal 30 menit lagi' ucapnya sesekali melihat ke arah jam di pergelangan tangannya, Sakura mengenakan jeans biru yang pas dengan kaki jenjangnya juga dengan kemeja flannel berwarna coklat hangat yang pas untuk musim gugur karena warna nya mengingatkan Sakura pada suatu musim di kota Tokyo, daun-daun semakin berguguran dan jatuh dari ranting pohon, angin terus berhembus kencang dan udara semakin dingin, menandakan bahwa malam ini cuaca tidak terlalu baik bahkan Sakura mengumpat kesal saat meninggalkan mantel hangatnya di kelas obsetri nya.

"Tch! harusnya aku memakai sepatu kats!" umpatnya lagi masih berlari menuju restoran Prancis yang berada di jantung kota London.

Sakura merasakan handphone nya bergetar.

"Iya ayah, aku sedang berlari menuju restoran, mobilku mogok dan bannya bocor jadi aku menyuruh orang untuk membawanya ke bengkel."

"Ya .. tentu saja itu salah satu pengawal ayah,jangan khawatir."

"Baiklah sekitar 5 menit lagi,aku tutup .. bye!"

Ucap Sakura menaruh handphone nya ke dalam saku dan memperlihatkan bentuk persegi panjang alat komunikasi itu, bahkan Sakura tidak memperdulikan rambutnya yang ikut berantakan diterpa angin, Sakura memegang tas slempangnya dengan satu tangan dan menggulung kedua lengan kemeja nya.

Sesampainya di Restoran ia meminta seorang pelayan mengantarkan ia ke tempat yang sudah dijanjikan ayahnya.

"Lantai berapa?" tanya Sakura pada seorang pelayan dengan gusar

"Lantai 55 nona khusus VVIP" ucap pelayan itu menekan lift dan mempersilahkan Sakura untuk masuk.

"Hanya aku saja atau orang lain akan menaiki lift ini?" tanya kembali Sakura mulai membuka kancing kemejanya

"Hanya nona saja." Ucap pelayan itu membungkuk dan menekan angka 55 pada lift.

Oke ini kesempatan bagus untuk Sakura ia membuka tas nya mengeluarkan pakaian yang masih diberi plastik dan memakainya, ini sangat sempurna ketika Sakura mengenakan sebuah long dress ballerina berwarna coklat susu dengan kerah leher membentuk huruf V juga dengan pita cantik yang mengiasi pinggang Sakura, dress itu di design memamerkan bagian punggung putih Sakura, bahkan dress itu jatuh alami hingga menyentuh lantai, pita warna hitam mendominasi kesan simple dan elegan hingga dengan gusar Sakura menata rambutnya dan menggelungnya dengan beberapa berlian yang diikat dengan rantai, Sakura melilitkannya di sekitar rambutnya.

Ia melihat bahwa mereka sudah berada pada lantai 10, Sakura segera bergegas ia mengambil beberapa bedak dan lipstick dan tidak lupa memakai parfum, ketika sudah memasuki lantai 40 pelayan yang Sakura ketahui bernama Hana, dengan melihat name tagnya berbalik untuk sekedar memberitahu Sakura bahwa mereka akan segera sampai, bahkan Hana tertegun melihat Sakura yang kini sudah berubah sangat cantik.

"Hana-san aku titip beberapa buku dan peralatan kuliahku, nanti aku kan mengambilnya lagi,oke!" ucap Sakura tersenyum manis mengambil dompet pesta berwarna cream dan memasukan beberapa barang penting, Hana mengangguk dan mempersilahkan Sakura untuk keluar lift ketika sudah sampai pada lantai 55.

"Ah-Saki!" ucap wanita pirang yang Sakura kenal.

"I-Ino?" ucap Sakura tidak percaya dengan apa yang ia lihat ketika Ino mengawal Sai dengan baju pengawal, Sakura bisa melihat ayahnya tertawa terbahak-bahak bersama dengan Jiraya juga Tsunade yang Sakura kenal sebagai mitra dari ayahnya. Dan malam itu Sakura menghadiri pertemuan antar mafia atau Yakuza dan sebagainya, mereka membuat kesepakatan untuk bekerja sama.

Sakura menanyakan kemana Itachi pergi atau bagaimana keadaan laki-laki yang sudah lama tidak berjumpa dengannya setelah satu tahun tersebut, Ino hanya menyampaikan bahwa boss nya baik-baik saja dan ia sedang sibuk mengurusi perbaikan rumah klan nya juga beberapa pertemuan untuk mengadakan kerja sama di Jepang.

Sakura mengangguk mengerti dan tidak ingin menanyakan lebih jauh lagi, bahkan ditengah kesibukannya Sakura menyempatkan mengirim beberapa email yang terkadang akan dijawab saat tengah malam oleh Itachi, Sakura memfokuskan diri pada bidang yang ia jalani, ia ingin menjadi dokter dan berkat kerja sama juga berkat kekuasaan ayahnya Sakura bisa belajar banyak dari dokter penjuru dunia, Sakura melewati semester pertama tanpa hambatan dan ia terus naik kelas dengan cara yang cepat juga mendapatkan beasiswa penuh sehingga ayahnya semakin senang karena nya, kini dalam waktu kurun satu tahun Sakura menyelasikan gelar dokter nya dan ia lanjutkan mengambil spesialis yang ia selesaikan dalam beberapa bulan di London.

Besok pagi ayahnya akan menghadiri wisuda Sakura untuk ke dua kalinya, dan jika bertanya bagaimana ekspresi Kizashi, Kizashi sangat sennag sampai-sampai ia menari dibalkon rumah kediaman Haruno.

Setelah menyelesaikan perjanjian dengan penguasa kota London Sakura pulang bersama dengan ayahnya.

"Bagaimana kelasmu kali ini Hime-chan?" tanya Kizashi tidak pernah absen ketika Sakura pulang dari kegiatannya

Dan Sakura selalu senang juga langsung bercerita tentang kegiatan nya.

"Baiklah ayah, harusnya tadi aku selesai pada pukul 09.00 pagi dan dapat menikmati waktu santai bersama Kikyo di halaman belakang rumah, kau tau aku, dan secangkir teh biru juga beberapa cemilan, namun ketika datang semua hanya menjadi impianku, merengek untuk digantikan mengajar kelas obsetri patologi mahasiswa tingkat II semester III dan lebih buruknya Pak kepala ikut bersamanya untuk memohon kepadaku, jadi aku mengajar dalam dua sesi mata kuliah, dan lebih menjengkelkannya mobil ku mogok juga ban belakang mobil ku bocor, jadi aku memutuskan untuk berlari karena aku sangat jengkel dengan taxi disini ayah!" ucap Sakura mulai mengomel dan di balas dnegan tawa Kizashi yang membahana.

"Tapi kau selalu hebat Sakura, baiklah ayah tebak ... kau ganti baju dan berdandan di lift, bukan?" ucap Kizashi mengangkat kedua alisnya dan tertawa terbahak-bahak disusul tawa Sakura yang membahana

"Kau tau kebiasaan ku ayah!" ucapnya lagi tertawa, inilah yang ia suka ketika Kizashi menemaninya seperti seorang teman, saudara laki-laki, juga sebagai ayahnya.

.

.

.

.

.

.

Paginya Sakura bangun dan di bantu beberapa pelayan untuk bersiap-siap karena hari ini adalh hari wisudanya untuk menjadi dokter spesialis.

"Baiklah Mei-san, aku ingin terlihat sederhana saja" ucap Sakura pada salah satu pelayan yang menata rambut merah mudanya dan dijawab dengan anggukan sopan pelayan tersebut.

"Sakura ... apa kamu sudah siap sayang?" ucap Kizashi mengetuk pintu kamar Sakura dan Sakura mengangguk menyuruh salah satu pelayan untuk membukakan pintu kamar nya, Sakura bisa melihat mata ayahnya bagai mata kucing yang menunjukan keimutannya.

"Ahh~ demi Kami-sama kamu wanita tercantik Sakura ku!" ucapnya kini memegang bahu Sakura dan melihatnya di cermin.

"Terima kasih ayah, ayo kita berangkat!" ucap Sakura menggandeng tangan ayahnya.

Sesampainya di Kampus semua teman-temannya memberikan selamat atas kelulusan Sakura yang sangat tidak terduga ini, bagi mereka Sakura seperti teman, dan seperti dosen mereka sendiri karena terkadang saat dosen tetap tidak mengajar atau berhalangan Sakura-lah yang menggantikan mereka.

Namun Sakura sedikit sedih tidak mendapati seseorang yang ia kasihi berada dijajaran orang-orang yang memberikan selamat kepadanya 'mungkin ia sibuk, setidaknya aku sudah mengirimkan email' ucap Sakura dalam hati memantapkan langkahnya dan mengembangkan senyumannya.

Setelah acara wisuda selesai Sakura memutuskan untuk berfoto dan berpamitan karena ia akan melajutkan perjalanan nya, Sakura melihat kerumunan yang berdesakan di pintu keluar,seolah olah terjadi kerusuhan dan mereka melihatnya dan menontonnya dengan asyik.

"Ada apa disana?" tanya Sakura pada teman sekelasnya Tina.

"Aku mendengar ada laki-laki tampan sepertinya orang asia, ia sedang menunggu salah satu peserta wisuda dengan sebuket besar bunga mawar, wajahnya bahkan seperti pangeran namun lebih mirip seperti vampir karena tidak menampakan emosi, aku juga memperhatikan bahwa laki-laki itu bertato aku bersumpah melihat dari balik kerah kemejanya dan..." Sakura langsung berlari kearah kerumunan itu tanpa menghiraukan ayahnya yang masih bertatakramah dengan dosen-dosen.

Sakura menyingkirkan teman-temannya yang menghalangi jalannya dengan tangannya "permisi .." ucap Sakura kemudian melihat pucuk rambut orang yang menggeparkan peserta wisuda.

Sakura menghela napas panjang

"Itachi-kun!" ucapnya menatap laki-laki dengan setelah jas dan kemeja seperti biasanya, wajahnya tetap datar namun setelah melihat Sakura ia mendapati emosi dan membuat laki-laki yang berdiri ditengah kerumunan mahasiswa fakultas, tersenyum kemudian melepaskan topi wisuda Sakura, memakai topi itu pada kepalanya dan mengelus pucuk kepala Sakura dengan lembut.

"Selamat atas kelulusan mu, aku sangat bangga dan entah bagaimana maafkan aku telat menghadiri acara wisuda mu, Sakura..." ucap Itachi dengan suara baritone dan lembut seperti biasanya, Sakura tersenyum untuk sepersekian kalinya dan dengan lembut memeluk Itachi tanpa memperdulikan bahwa seisi kampus memperhatikan mereka.

"Aku membawa buket bunga untuk kelulusanmu, aku berharap kamu menyukai nya." ucap Itachi menepuk lembut punggung Sakura.

"Dan aku sangat senang karenanya, terima kasih." ucap Sakura menerima satu buket mawar merah yang berukuran besar.

Kemudian Sakura mendengar tepuk tangan bahkan siulan nakal dari teman-temannya, ia yakin mereka sangat iri bagaimana se-sempurna itu kehidupan Sakura, kaya, cantik, pintar, memiliki ayah yang baik bahkan ia memiliki kekasih yang tampan dan romantis.

Namun yang mereka tidak tahu, bagaimana Sakura mencapai itu semua dengan kerja keras, cucuran air mata dan luka yang tak akan bisa dihapuskan oleh siapapun.

"Oh professor!" ucap ketua yang menjadi kepala Universitas, menghampiri kerumunan karena penasaran ingin tahu, bahkan ayah Sakura ikut dibelakangnya.

"Selamat pagi , maaf saya membuat keributan dnegan datang ke sekolah anda." ucap Itachi sopan, dibalas dengan gelengan .

"Ekhem ... baiklah apa yang terjadi disini?" ucap Kizashi diantara Sakura dan Itachi, Sakura tersenyum dan merangkul lengan ayahnya.

"Beliau adalah Professor Itachi, beliau adalah lulusan Harvard setelah itu beliau banyak membantu di kampus ini. Saya tidak menyangka bahwa beliau akan datang kesini." Ucap kepala Universitas menjabat tangan Itachi.

"A-apa professor?!" ucap seorang mahasiswi dan membuat mahasiswi yang lain bergumam membuat keributan.

"Saya hanya mampir untuk menghadiri perayaan wisuda Nona Haruno." Ucap Itachi menepuk pucuk kepala Sakura.

"Baiklah jika ada waktu silahkan mampir kapan saja ke ruangan milik saya, Professor." Ucap dijawab anggukan Itachi sopan.

"Baiklah kita akan kemana hari ini?" tanya Sakura kepada Itachi dan Kizashi

"Sebentar Sakura ..." Kizashi mengangkat telepon dari seseorang, sementara itu Sakura mengerutkan dahinya tidak suka karena ayahnya selalu sibuk dengan urusan 'bisnis'

"Lihat ... dia sangat mirip boss, huh!" ucap Sakura mencibir Itachi dan dijawab dengan tepukan pelan dipucuk kepala Sakura.

.

.

.

.

.

.

Setelah membisu selama satu jam dan hanya mendengarkan Kizashi dan Itachi saling berbicara dengan klien mereka Sakura memutuskan untuk melihat-lihat foto yang ada pada kamera DLSR nya, bahkan satu tahun adalah waktu yang sangat singkat, empat musim ia lewati bersama dengan semua ilmu pengetahuan yang ia kumpulkan bersama teman-temannya. Kizashi-ayahnya memutuskan utnuk pergi ke Prancis karena ia beserta Itachi akan menghadiri rapat disana, mereka akan menetap selama dua musim kemudian mereka akan melanjutkan perjalanan ke Jerman. Perjalanan ini di lakukan semata-mata karena Kizashi ingin mengunjungi teman lama dan ia ingin menghabiskan liburan bersama Sakura juga Itachi.

Saat diperjalanan Sakura banyak berceloteh tentang tempat yang akan ia kunjungi di prancis,ia mencari tempat wisata juga restoran khas prancis dan memberitahu Itachi beserta Kizashi dengan sangat semangat, Kizashi hanya tersenyum melihat gambar yang Sakura tunjukan di ipad nya.

"Kizashi-sama apa tidak apa-apa saya ikut?" ucap Itachi berbicara dengan nada formal seperti biasanya

Kizashi tersenyum dan menepuk pundak Itachi "hahaha ... jangan seformal itu pada ayah mertua mu nak, aku sudah menganggap kau bagian dari keluarga kami!" ucap Kizashi membuat Sakura merona mendengarnya, dan Itachi tersenyum mengangguk pelan.

.

.

.

.

.

Setelah dua jam perjalanan Sakura turun dari pesawat dan hal yang ia lihat adalah menara Eifel juga orang-orang yang berlalu lalang, kemudian dengan pekikan pelan Sakura berlari kecil ke arah Limosine hitam yang sudah terparkir dan menampakan dua orang yang ia kenal, Ino dan Sai.

"Kau ikut dengan kami!" ucap Sakura dan di sambut dengan pelukan Ino.

"Tentu saja sekarang kami yang menjadi bawahanmu!" ucap Ino dengan suara lembut namun Sakura bergumam pelan.

"Tidak, kalian bukan bawahanku kita kan teman, bukan?" ucap Sakura mencubit sebelah pipi Ino dan Ino nyengir juga memukul pantat Sakura pelan agar melepaskan cubitannya.

"Yeah itu memang betul, Saki ..." ucap Ino mengelus sebelah pipinya yang merah kemudian menundukan kepala memberi hormat pada Kizashi.

Kizashi hanya tersenyum kemudian memeluk Ino "jangan se-formal itu pada Otou-san mu Ino."

Ucap Kizashi tertawa dan hanya bisa Ino lakukan hanya memeluk laki-laki paruh baya itu dengan perasaan haru.

"A-tadaima ... Otou-san!" ucap Ino menahan air matanya bahkan ia tidak menyangka laki-laki yang terkenal sadis seantero Amerika itu sangat baik hati, hangat dan ramah.

Kizashi dijuluki naga musim semi dari jepang. Dia sangat memegang teguh perjanjian dan juga mengutamakan klien nya juga kepentingan orang banyak ketimbang dirinya sendiri, Kizashi juga samurai terhebat kedua setelah mendiang ayah Itachi, jadi tidak ada alasan untuk tidak takut dengan laki-laki ini.

"Bagaimana keadaan di Kyoto dan Yokohama, Sai?" tanya Itachi tanpa basa basi kemudian Sai menyerahkan beberapa lembar kertas.

"Keadaan dalam kendali yang baik,boss!" ucap Sai tersenyum, Itachi kembali menyerahkan kertas tersebut.

"Baik, pertahankan!" ucap Itachi kemudian membukakan pintu untuk Kizashi dan Sakura.

"Ladies first .." ucap Kizashi mempersilahkan Ino dan Sakura untuk masuk kedalam Limosine hitam itu.

Dan selama perjalanan mereka berbincang soal rencana Sakura dan bagaimana Sakura akan mengambil kelas tari juga beberapa kelas musik juga kelas memasak, Sakura berkata akan jenuh menunggu pertemuan yang akan diadakan oleh ayahnya juga Itachi. Itachi hanya menghela napas dan Kizashi hanya tertawa dengan semangat Sakura yang kembali memenuhi ruangan itu.

Ino hanya tertawa dengan apa yang Sakura lakukan karena dia belum pernah melihat Sakura yang sangat bersemangat seperti ini.

"Baiklah nanti aku akan mengambil beberapa jam dari boss-maksud ku Itachi-kun agar mau menemaniku keluar!" ucap Sakura menghitung dengan jarinya tentang beberapa banyak hal yang akan ia kerjakan dengan Itachi.

Itachi kembali menatap Sakura dengan pandangan lembut seperti biasanya.

Setelah satu jam perjalanan mereka sampai di sebuah hotel bintang 5 di jantung kota Paris, Sakura tertidur pulas sementara itu Kizashi terus menerima telepon dari kliennya

"Itachi tolong bawa Sakura ke kamarnya." Ucap Kizashi pada Itachi sopan, dijawab anggukan Itachi, Itachi menaiki lift kemudian salah satu pelayan menawarkan diri untuk menggendong Sakura, namun Itachi menolak jadi pelayan yang bernama Christian itu menunjukan kamar di lantai 23.

"Maaf tuan apa keberatan jika saya yang menggendong nona?" ucap pelayan pirang itu mata shapppire nya terlihat khawatir jika Itachi tidak mampu menopang tubuh Sakura hingga ke lantai 23.

"Tidak terima kasih, aku saja!" ucap Itachi untuk ke dua kalinya, Itachi bahkan tidak merasakan keberatan karena Sakura tidak lebih berat dari pada bongkahan beton yang Itachi gunakan untuk latihan sambil berlari.

Ketika telah sampai pada lantai 23 Christian membuka pintu kamar dengan no.101 yang beretengger didepan wajah Itachi, dengan sigap Itachi masuk dan meletakan Sakura pada kasur queen size gaya Eropa, Itachi memandangi Sakura selama sedetik kemudian dia mengambil beberapa lembar uang dan memberikan kepada Christian

"Thanks ." Ucap Christian sopan.

"Jika ada yang tuan minta segera telepon costumer service dengan nomor 111, teleponnya di sebelah sana. Baik tuan apa ada yang ingin di tanyakan?" tanya Christian sopan.

"No, thanks." Ucap Itachi duduk di tepi tempat tidur membenarkan posisi Sakura dan menarik selimutnya, sementara itu Christian mengangkat topi nya dan pergi menutup pintu.

.

.

.

.

.

.

TBC

A/N : hallo minna, maafkan aku yang molor beberapa minggu dari janji sebelumnya, ada beberapa kejadian yang tidak terduga ketika kepulanganku setelah dinas, sebenarnya aku sudah nyaman berada disana namun apalah daya ketika tugas kembali memanggil disini, dan begitu berat dan begitu banyak yang harus diselesaikan ketika aku sudah pulang kembali, aku berharap teman-teman bisa memakluminya #membungkuk.

Dan chapter ini berisi kehidupan Sakura yang mulai membaik, kini Itachi sudah menjatuhkan pilihan bahwa ia akan menjadikan Sakura sebagai Istrinya sepenuhnya, baiklah aku berharap teman-teman menyukai chapter ini. Hehe.

Terima kasih banyak atas kunjungan kalian, atas review juga semangat yang selalu disampaikan tanpa lelah, aku secara pribadi sangat senang.

Baiklah, jangan lupa jaga kesehatan kalian.

Akhir kata, terima kasih dan tunggu chapter selanjutnya.

SakuraH20.