KUROKO TETSUYA DIARY
2.
GLOOMY SUNDAY
Character: Akashi, Kuroko, Furihata
Pairing : (masih) AkaFuri
"Aku" mengacu pada Kuroko
Dont Like Dont Read
Sengaja OOC
Happy Reading!
Monday, 6 October, 2xxx Noon
Uh, oh, sial. Karena kemarin aku tidur terlalu malam, penyakit bernama flu telah menyerangku sekarang. Sebagai anak tunggal dari keluarga Kuroko, Ibu memaksaku untuk tinggal ditempat tidur ditemani kaldu dan segepok obat. Ayah juga mengatakan bahwa aku akan dibawa ke dokter nanti malam (putramu ini hanya sakit ringan -_-). Benar-benar berlebihan.
Tapi, ngomong-ngomong soal sakit, orang tuaku memintakan izin agar aku tidak perlu masuk sekolah. Hal yang jika dipikir-pikir lagi amat kuhargai. Aku tau, kalian pasti bingung karena selama ini reputasiku sebagai murid amat bagus (haha) sehingga malas tidak pernah masuk kedalam daftar sesuatu yang kusukai.
Sayangnya kali ini aku memiliki alasan menyebalkan sehingga kau pun akan merasa geram (aku memaksa) setelah membacanya. Karena hal ini pula, flu bisa menyerangku dengan mudah (aku terlalu kuat untuk bisa flu hanya karena tidur pada dini hari!)
Ceritanya akan kumulai dengan aku yang terbangun karena gangguan Aomine kun di hari Minggu (mungkin masih jam dua sehingga dikategorikan sebagai dini hari). Bayangkan saja, kau tertidur disebuah kelas angker dan terbangun dengan seluruh badan sakit karena hanya beralaskan tikar sementara disebelahmu ada seseorang (belakangan juga diketahui sebagai calon pacar Kise senpai) berkulit hitam sedang mendengkur keras. Jujur saja, aku trauma tidur didekat Aomine kun sejak saat itu.
Nah, karena aku harus bangun jauh lebih awal ketimbang jadwal (kami akan dibangunkan pukul empat sementara aku tidak bisa tidur lagi selama dua jam), kegiatan yang ada jadi tidak bisa kuikuti dengan baik. Mataku terasa amat berat untuk dibuka. Berkali-kali aku oleng saat berjalan dan juga menumpahkan air minum saat sarapan bersama (atas hal ini, kelompokku kelihatannya diberi banyak pengurangan nilai, maaf teman-teman seregu :D).
Saat game, kantukku sudah sedikit mereda. Karena itu aku bisa mengikutinya dengan baik. Untung saja karena kami diharuskan melewati padang belantara (nggak juga sih) dan bahkan sungai penuh lumpur. Uh! Basah betul celanaku saat itu.
Begitu merasakan batu dan lumpur menyentuh kaki, hilang sudah kekantukkan yang kurasa, berganti dengan mood buruk. Fakta bahwa Akashi senpai yang ditunjuk untuk mengawasi kelompok kami di pos berikutnya tidak berhasil mengubah suasana hatiku. Apalagi ketika mendengar dia mengomel sendiri disepanjang perjalanan.
"Bagaimana bisa mereka memisahkanku dengan Kouki? Akan kuputuskan tangannya nanti! Dan kalian juga berjalanlah dengan cepat jika tidak ingin merasakan hal yang sama!"
Seluruh teman sereguku merinding saat itu dan mempercepat langkah. Hanya aku yang tidak peduli dan tetap berjalan dengan santai. Dalam hati aku mulai mengeluhkan peraturan konyol yang membuat kami tidak diizinkan membawa kamera (bayangkan saja dirimu berada ditengah-tengah hutan Amazon tanpa membawa alat yang bisa digunakan untuk mengabadikannya). Karena itu pula aku tidak kaget ketika Akashi senpai membentakku.
"Hei, kamu yang berambut biru! Larilah yang kencang jika kau mengaku seorang laki-laki!"
Ah, sedih rasanya dibentak oleh orang yang kau sukai ketika dirimu sedang hancur karena tidak membawa kamera dan smartphone saat pemandangan benar-benar bagus (terlalu berlebihan). Kedongkolan yang memuncak lalu membuatku membalasnya, pembaca yang budiman.
"Akashi senpai, perbedaan fisik antara aku dan mereka semua berbeda. Toh pada akhirnya kami juga akan sampai di pos dan itu tidak akan mempengaruhi nilai kami. Janganlah terlalu cerewet!"
Bukan hanya teman satu reguku saja yang membeku (padahal kupikir mereka berada jauh didepan), Akashi senpai pun terdiam dan berhenti ditengah jalan. Segera mulutnya menampilkan smirk kejam padaku (smirkmu mengalihkan duniaku -).
"Hoo ada kohai yang berani pada senpainya, ternyata. Bukankah kau mengikuti klub basket?" segera saja dia melirik name tagku (itu peraturan aneh lainnya. Seakan-akan kami mengikuti MOPD saja) dan membacanya.
"Lalu kenapa? Tidakkah Akashi senpai berpikir bahwa pemandangan disini terlalu indah untuk dihiraukan? Bukankah ini juga bisa menjadi spot yang baik untuk berkencan dengan Furihata senpai? Jika hal itu terjadi, maka aku minta foto pemandangannya. Agar aku bisa mengenangnya" balasku panjang (aku juga masih heran kenapa bisa seberani itu :v)
"Akan kuserahkan setelah latihanmu kugandakan saat eskul besok jika begitu, Kuroko Tetsuya" kali ini dengan muka kejam.
"Kalau begitu aku akan mundur dari klub basket, Akashi senpai. Toh kekuatanku tidak diperlukan, bukan?"
Segera aku berlari pergi menyusul Aomine kun jauh didepan sambil mengutuk mulut mungilku (itu kenyataan, kok) yang bersikap seenaknya sendiri. Bagaimana jika dia jadi sebal dan jijik padaku? Pertanyaan-pertanyaan segera merasuk dan kembali membuat hatiku tidak tenang.
Yang membuatku heran, teman-teman seregu menyelamatiku dengan heboh saat kami terpisah dari Akashi senpai dipos membuat tandu (untung saja ada anggota PMR di kelompok kami). Mereka kagum sekaligus heran dengan jiwa singaku dan juga memperingati pembalasan dendam yang akan segera muncul. Bulu kudukku segera meremang dan membayangkan BDSM, maksudku gunting-gunting beterbangan menjadikan diriku "Kuroko Tetsuya cincang". (maaf, tanganku tergelincir tadi sehingga menulis hal laknat itu *-*).
Untung saja, setelah kami selesai dan Akashi senpai kembali menemani regu semut lagi (sehabis bermesraan dengan Furihata senpai, tentu saja), pembalasan dendam yang kukhawatirkan BELUM terjadi. Atas dasar itu pula, aku enggan dekat-dekat dengannya.
Kesialan hari ini ternyata belum berhenti juga. Kami dipaksa masuk kembali kedalam sebuah sungai yang kali ini digunakan untuk irigasi. Airnya amat dingin karena sumbernya tak jauh dari sini. Langsung saja, tubuhku menggigil dan bersin terlontar begitu banyak akibat daya tahan yang lemah (ini baru FAKTA). Hal yang rupanya menarik perhatian para senpai.
"Baru kali ini aku melihat anak laki-laki yang amat lemah"
"Separuh lelaki, maksudmu"
"Hei, hei, hei, tidakkah kau berpikir dia terlalu cantik untuk menjadi LELAKI?" kali ini Furihata senpai, ternyata.
Segera teman sereguku menarik tangan dan mengajak untuk berjalan menyusuri sungai dengan cepat karena khawatir akan ledakanku. Untung saja, permainan itu merupakan yang terakhir untuk hari ini sehingga aku dapat cepat-cepat membersihkan badan sekaligus mendinginkan kepala (tentu saja setelah upacara selesai).
Sayangnya, semakin aku berusaha menghilangkannya, semakin jelas pula bayangan Akashi senpai yang tersenyum penuh pengejekkan serta olokan Furihata senpai padaku. Dengan hati panas, aku keluar dari bilik dan menggendong tas ransel untuk segera pulang.
Ah, para pembaca, kupikir hanya satu hal penghiburku saat itu, yaitu bagaimana baiknya Ayah mau meluangkan waktunya yang padat untuk menjemputku (juga tambahan senyum manis kesukaanku ).
END
of Gloomy Sunday
Selesai juga yang kedua setelah riset sama temen :p
Ngrasa sedikit jahat juga sih sebenernya karena berkesan membuka aib. Tapi, karena kisahnya terlalu menarik, aku jadi nggak tahan untuk nggak nulis :D
Oh, iya, selamat natal bagi yang merayakan (buat B yang minta FF ini sebagai hadiahnya, nih udah aku kasih)
Special thanks to H (inspirasi terbesar), yang udah review, follow, dan favoritin cerita ini, dan para silent reader.
Dan juga untuk Yuki: Nggak papa kok cuma suka AkaKuronya :D (jadi inget belom bales review)
Akhir kata, review, please?
