Marry Me, Secretary Oh
KaiHun
Chaptered
T+
Disclaimer: Cast milik orang tua masing-masing. Cerita murni dari otak turun ke tangan.
Warning: BL, Typo
Gak suka gak sah baca eak!
.
.
.
.
'Sini... aku lamar'
Adalah kata yang terus terngiang di benak pria muda berumur 23 tahun ini, yang belakangan hampir terkena serangan jantung akibat seorang atasannya.
Sehun menghela nafas panjang selagi dirinya berbaring telentang di kasur. Masih lengkap dengan pakaian kerja. Bahkan sepatu pantofel hitamnya pun tidak ia lepas sama sekali. Wajar, ia kan sedang dalam kondisi stres dimana melepas sepatu dan berganti baju adalah hal terakhir yang ia pikirkan dalam keadaannya sekarang
"Aku bisa gila" desah Sehun pelan, mengacak rambut yang sudah tak kelihatan apa bentuknya lagi itu.
Tentu Sehun benar-benar akan gila jika terus memikirkan masalahnya. Masalah tadi siang di kantor, dimana ia dipanggil ke ruangan sang atasan berujung dengan Kim Jongin yang -dengan sangat tidak masuk akalnya- mengajukan lamaran. Lamaran nikah! jika perlu ditekankan lagi.
Itu sudah menjadi satu masalah. Lalu masalah lain yang membuatnya tambah stres bertambah satu lagi, yaitu, dirinya yang kabur. Iya kabur dari ruangan Kim Jongin tepat beberapa menit setelah sang atasan dengan gamblangnya berkata 'sini aku lamar'.
Geez, Sehun bahkan tidak iklas jika menyebut yang dilakukan atasannya itu sebagai lamaran. Tidak sama sekali.
Yang jadi masalah disini. Sehun sudah bersikap tidak sopan, karenanya ia jadi takut di pecat sudah kabur begitu saja setelah sebelumnya berhasil memberi tatapan ter-judgemental yang pernah ia miliki kepada sang atasan. Kala itu Sehun menatap Jongin layaknya ia melihat alien yang baru saja mendarat ke bumi, ngomong-ngomong.
Kim Jongin memang gila.
Sehun membatin kesal. "Tapi kenapa aku jadi ikut gila begini" tambah Sehun melanjutkan suara hatinya, hampir-hampir merengek tidak jelas jika saja tak ingat umur.
Sehun membuang nafas lagi, lalu bangkit untuk duduk di kasur apartmentnya ini. Baru ia akan menggapaikan tangan ke arah kaki untuk melepas sepatu, sesuatu bergetar di kantong celana yang ia kenakan. Ia merogoh kantong dan menenemukan ponselnya yang kini terdapat pesan baru.
Pesan dari nomor asing yang berisikan,
'Urusan ku dengan mu belum selesai. Datang ke tempatku malam ini jam 8 kalau masih ingin jadi sekretaris. Terlanjur aku masih bisa lupa kejadian kau kabur dari kantor dan meninggalkan kerjaan.
Kim Jongin.
P.s: Jangan tanya aku dapat nomormu dari mana
P.s tambahan: Dan reaksimu waktu itu sungguh sangat berlebihan'
Kalau Sehun tidak ingat ia sudah menabung mati-matian untuk membeli smartphone nya ini. Mungkin sudah dari tadi benda pipih itu berderaian di lantai.
Horror. Jongin benar-benar horror sekali. Apa maksudnya dia mengancam begini, iya memang Sehun dengan semena meninggalkan kantor beserta laporan-laporan yang masih menumpuk padahal belum waktunya untuk pulang. Tapi itu karena ulah siapa kalau bukan dikarenakan oleh Jongin sendiri.
"Tapi apa iya aku berlebihan.." guman Sehun pada diri sendiri. Mulai meragukan tindakannya kala itu.
Tak berapa lama Sehun dikejutkan lagi dengan bunyi pesan masuk dari ponselnya. Sukses membuat lamunannya buyar.
Terdapat alamat sebuah apartement, dikirim dari nomor yang tadi di gunakan Jongin.
Sehun mendengus semakin kesal, ia memilih tidak terlalu ambil pusing untuk saat ini dan berusaha mendinginkan kepala dengan pergi mandi. Siapa tahu bisa sambil dapat ilham.
Sambil mandi sehun terus memikirkan harus tidaknya dia mendatamgi kediaman Jongin. Kalau tidak ada iming-iming pekerjaan yang jadi taruhan 'sih, tidak akan terpikir sedikitpun oleh Sehun untuk mendatangi atasannya tersebut. Tapi yang menjadi masalah kan ancamannya ini, ia sudah terlanjur betah dengan pekerjaan yang sekarang, lagipula akan sangat susah jika harus mencari pekerjaan lain.
Baiklah, Sehun sudah buat keputusan.
Shootdanonymous
Jongin memandang jam ditangan untuk yang ke sekian kalinya, mendengus keras kemudian meneguk segelas wine yang sudah hampir habis isinya itu.
Seperti yang kita tahu, Jongin disini sedang menunggu kedatangan seseorang. Namun Orang yang ditunggu sedari tadi tidak kunjung datang juga. Si Sehun itu yang dengan seenak hatinya kabur saat Jongin mengutarakan isi hati. Sebebarnya tak bisa dikatakan isi hati juga. Karena ia lebih terkesan main-main saat itu. Tapi kan niatnya hanya bercanda, kenapa juga malah sekretarisnya kabur begitu.
Setelah meneguk habis sisa wine digelasnya, terdengar suara bel dipintu. Jongin segera beranjak dari duduknya dan membuka pintu apartment dengan gerakan hampir slow motion. Menampilkan wajah putih yang hampir setengahnya tertutupi oleh syal berwarna coklat susu dari orang di balik pintu tersebut. Sehun telah datang.
Untuk sejenak mereka hanya saling pandang, Jongin yang berusaha membaca expresi Sehun dan Sehun yang dengan terang-terangan memberi tatapan predator.
"... disini dingin, tahu"
Jongin terkesiap sejenak tapi dengan segera membuat gerakan untuk minggir dari pintu. Menyunggingkan senyum geli saat melihat bagaiamana pria tersebut berjalan hampir menghentakkan kaki.
"Wine ?"
Pemilik apartment segera menawarkan setelah sang tamu sudah pasang posisi nyaman di sofanya. Sehun mengangguk dalam diam. Membuat Jongin tak menunggu lama untuk segera menuangkan wine ke dalam gelas kosong yang memang sudah ia siapkan itu.
"Well, sepertinya kau masih sayang pekerjaan, hm ?" Goda Jongin tersenyum sendiri. Merasa menang karena ancaman yang digunakannya lewat pesan singkat itu tenyata sangat manjur.
Sehun memutarkan bola mata, "Terserahlah" entah hilang kemana rasa hormatnya pada sang atasan. Sehun tidak peduli lagi.
Lagipula, Jongin sendiri tampak tak masalah sama sekali dengan sikap Sehun.
"Kalau begitu langsung saja" Jongin menuangkan sedikit wine dari botol ke gelasnya sendiri yang sudah kosong sebelum mulai bicara.
Pertama-tama pria tersebut mulai menceritakan pada Sehun tentang bagaimana sang kakek yang mewajibkan untuk segera menikah diumurnya yang sekarang.
"Jadi ini serius ?" Sehun menanggapi dengan mulut yang setengah mengaga.
Jongin mengangguk santai. "Tapi kau harus dengar dulu sebelum berfikir terlalu jauh"
"... oke"
"Seperti yang sudah kubilang, harta warisan yang akan dibagikan kakek bukan main jumlahnya, aku tidak bisa merelakannya begitu saja hanya demi egoku yang belum mau menikah, jadi intinya aku mau kau menjadi istriku, kita bisa bercerai untuk beberapa tahun kedepan asal warisan sudah ditangan. Apa kau paham ?"
Informasi yang baru saja Sehun serap terlalu banyak untuk membuatnya dapat mengangguk paham. Sehun buru-buru menggeleng kuat.
"Tunggu.. tunggu. Ini tidak masuk akal. Kau terlalu menganggap remeh masalah ini. Memangnya kau pikir aku bisa begitu saja berpura-pura kau menjadi suamiku ? Dan lagi.. kenapa.. kenapa harus aku ?"
Jongin menghela nafas panjang sebelum membuka suara untuk menghadapi segala kebingungan sehun. "Aku sudah berfikir matang-matang tentang ini. Bisa, kau pasti bisa. Memangnya apa masalah menikah denganku ? Apa kau khawatir tentang tanggapan orangtua mu ?"
"Tentu saja aku khawatir, aku tidak bisa begitu saja mengabari orangtuaku bahwa aku akan dinikahi seseorang, oh dan kapan sebenarnya kakek mu itu datang ?"
"Minggu depan"
Sehun kembali dibuat menganga lebar untuk kesekian kalinya malam ini. "Baiklah, aku pulang"
Saat sudah ambil ancang-ancang untuk segera berdiri dan meninggalkan tempat, ternyata sang atasan jauh lebih gesit dalam membuat Sehun untuk tetap berada dalam posisinya.
"Tunggu dulu!" Jongin menahan kedua bahu Sehun untuk tetap duduk dalam posisi dirinya yang berdiri dihadapan sang sekretaris.
"Ayolah, tenangkan diri dan dengarkan dulu semua tawaranku, baru kemudian kau bebas ambil keputusan"
Sehun ingin berontak tapi sudah terlanjur merasakan kekuatan yang berlebihan di kedua bahunya ini, membuat dirinya tak bisa bergerak barang sedikitpun. Daripada dikira lemah karena tak bisa melepaskan diri, Sehun kemudian memilih untuk mengangguk dan tetap berada di tempat. Dapat ia lihat raut kelegaan dari wajah Jongin. Sebelum akhirnya pemuda itu memutuskan untuk duduk di hadapan Sehun. Bukan di sofa melainkan meja kaca yang jaraknya sangat dekat sehingga membuat lutut keduanya bersentuhan.
Jongin terlalu malas untuk duduk kembali ke sofa atau apa sebenarnya.
"Baiklah, kembali ke masalah orang tua mu. Dimana mereka tinggal sekarang ?"
"Busan" Sehun menjawab tak niat.
"Busan, oke. Aku akan secara pribadi menghadap mereka untuk melamarmu ? Bagaiamana ?"
Sehun berfikir sejenak. "Jika kau menghadap secara langsung, well mungkin saja mereka terima"
Lagi pula Jongin kan orang kaya yang jelas asal usulnya. Menjabat sebagai atasannya pula. Mana mungkin eomma dan appa tidak merestui.
Itu kira-kira suara hati sehun atas kemungkinan jongin yang akan melamarnya langung diadapan orangtua.
"Nah, lihat ? Semua bisa diatur asal kau tenang"
Sehun mendengus.
"Oke mungkin mendapat restu orang tua ku tidak akan susah, tapi bagaimana dengan orang tuamu ? Terutama kakekmu. Dan jawab lah dengan benar kenapa kau harus pilih aku ?"
Jongin tertawa sedikit. "Aku memilihmu bukan tanpa alasan, Sehun. Karena kakekku ini lah makanya aku pilih kau, entah bagaimana, firasatku mengatakan kau sangat cocok, benar-benar kriteria yang pas dimata kakek"
Entah mengapa jongin mengatakan itu dengan tersenyum-senyum sendiri. Senyuman tampan yang membuat Sehun enggan melihatnya di depan muka begini.
"Tetap saja, ini tidak masuk akal bagiku" agaknya Sehun masih kuat dengan pendirian.
"Apa akan masuk akal jika harta warisan yang diberikan kakek ini akan ku bagi seperempatnya untukmu ?"
"Ini bukan masalah uang"
"Kau bisa beli pulau dengan uang tersebut"
Sehun terhenyak. Pulau ? Astaga memikirkannya pun ia tak pernah. "T-tetap saja ini bukan masalah uang"
"Baiklah, empat puluh persen dari warisan"
Sehun terdiam beberapa saat, dalam kepala menghitung berapa kira-kira yang didapatnya dalam bentuk 40%.
"Aku tahu kau mungkin tidak begitu membutuhkan uang sebanyak itu, tapi bagaimana dengan orang tua mu, apa kau tak ingin menyenangkan mereka ?"
Terkadang omongan Jongin terlalu tepat sehingga membuat Sehun berpikir dua kali untuk dapat menolak tawaran tersebut.
"Ayolah Sehun, aku mohon" lihatlah bahkan atasannya yang terkenal dingin itu sudah mengeluarkan kata memohon.
"Bantulah aku, hanya menjadi istri untuk beberapa tahun dan kita bisa bercerai kapan pun kau mau setelah itu"
Oh cukuplah, "Baiklah, oke, terserah. Tapi tolong hentikan menyebutku 'istri', terlalu aneh"
Jongin tersenyum menang, ia mengenggam kedua pipi sehun dan memberi kecupan di kening secara kilat. "Apapun keinginanmu, istriku" baru kemudian tertawa sendiri akan tingkahnya.
Sehun memutarkan mata, meneguk wine dari gelas yang dari tadi di genggamnya erat.
Aku pasti sudah gila.
Batinnya tertuju untuk diri sendiri, tapi di antara rasa stresnya akan kejadian kali ini, Sehun masih mengingat sesuatu yang penting,
"Ah, hampir lupa"
"...Apa ?" Jongin bertanya was-was. Wajahnya yang tadi tampak lega kini menegang kembali.
"Ku sarankan kita membuat semacam surat perjanjian"
"Surat perjanjian ?" Tampaknya Jongin belum menangkap maksud Sehun.
"Yah, tentunya kita harus sepakat akan hal apa saja yang bisa dan tidak bisa kita lakukan selama menjalin... entah apa namanya hubungan ini"
"Kau benar, baik tunggu sebentar"
Selagi menunggu Jongin yang tiba-tiba pergi entah kemana, Sehun diam-diam sudah menuangkan kembali wine ke dalam gelasnya yang kosong. Bagaimanapun ia butuh pelarian akan masalahnya saat ini.
Jongin kembali dengan secarik kertas dan pulpen. "Ini, tulis disini sementara"
Sehun menerima kertas dan pulpen yang diserahkan Jongin. Instingnya sebagai seorang sekretaris muncul untuk urusan tulis-menulis begini. Ia menuliskan 'Surat Perjanjian' di kertas kosong tersebut dengan huruf kapital.
"Baiklah kita buat secara bergantian, pertama aku, aku ingin tetap menjadi sekretaris apapun kondisinya, bisa diterima ?"
"Kenapa ? Kau bisa bersantai dirumah bila menikah dengan ku"
"Aku tidak akan tahan kalau begitu"
"Baiklah. Diterima" dengan persetujuan dari Jongin, Sehun dengan lancar menuliskan syarat pertamanya.
"Lalu kau ?" Tanya Sehun lagi.
"Kau harus tinggal denganku selama kita menikah"
"... haruskah ?"
"Percayalah aku pun tidak ingin tapi ini harus"
"Baiklah"
Dan teruslah mereka memberikan peraturan serta syarat kepada satu sama lain sampai akhirnya terucap sesuatu yang agak sensitif dari Sehun.
"Tidak ada seks" ucap Sehun santai.
Jongin mengangkat alis "Apa kau yakin ?"
"Apa maksudmu bertanya begitu, tentu saja yakin"
"Well, terserah. Kalau begitu bebas berhubungan seks dengan orang luar"
"... oke. Setuju"
Titik. Selesai lah sudah perjanjian yang dibuat oleh mereka berdua. Jumlah total terdapat 20, dari yang paling penting sampai yang tidak penting sekalipun semuanya terdapat dalam secarik kertas ini. Sehun bersandar lega, tangannya ligat mengambil segelas wine yang sedari tadi ia abaikan.
Dalam segali teguk, kembali sehun menghabiskan cairan berwarna keunguan tersebut. Jongin yang sedari tadi memandangi cara Sehun minum menyerngit. "Kau kuat minum juga, eh ?"
"Aku butuh pelampiasan" jawab Sehun cepat, menyodorkan gelas kosong ke hadapan sang atasan. Memberi kode untuk minta tambah lagi.
Jongin terkekeh geli, namun tetap menuangkan lebih banyak wine ke dalam gelas kosong Sehun. Ia bisa mengerti bahwa kejadian malam ini tidak bisa dianggap remeh begitu saja oleh sekretarisnya.
Tapi entah mengapa lama-kelamaan, wine di botol yang awalnya masih setengah penuh kini sudah hampir habis, dan yang meneguk semua itu tak lain adalah seseorang dihadapan Jongin ini.
"...h-hey sehun, santailah sedikit" gumannya tapi tak dipedulikan oleh sang sekretaris yang kini meneguk habis cairan wine dari botolnya langsung. Oh, luar biasa.
Shootdanonymous
Sehun mengerjap beberapa kali dengan tatapan kosong ke arah langit-langit kamar, nafas yang agak terengah dapat terdengar di kamar bernuansa biru dongker ini.
Pria manis tersebut menoleh sedikit ke samping, mendapati pria lain dengan tubuh setengah telanjang bersandar di sandaran kasur. Terdapat sebatang rokok di tangannya yang secara teratur di hisap oleh sang pemilik.
Merasa dipandangi, pria berkulit tan tersebut balas memandang Sehun. Menampakkan wajah dengan senyuman aneh yang membuat Sehun curiga berat. "Ada apa senyum-senyum begitu ?"
Jongin, seseorang yang sedari tadi berada di satu kasur yang sama dengan Sehun menggeleng sambil menghisap rokoknya, senyuman aneh masih tak kunjung hilang dari perawakan tampan pria satu ini.
"Hanya saja, aku tidak menyangka kita akan berakhir begini" ujar Jongin melirik pria yang masih betah berbaring telanjang di kasur miliknya, tentu dengan selimut yang menutupi hampir seluruh tubuh.
Sehun memutarkan bola mata, ia pun tak akan pernah menyangka hal ini dapat terjadi. Sedikit malu akan diri sendiri, bagaimana pun ia sudah melanggar peraturan yang sudah ia buat.
Tidak ada seks. Adalah peraturan yang Sehun ajukan.
Tapi tak sampai satu hari peraturan tersebut sudah ia langgar. Sehun dan Jongin baru saja habis melakukannya. Tidak begitu jelas apa yang menyebabkan hal ini terjadi, yang pasti untuk Sehun, terlalu banyak meminum wine lah yang paling berpengaruh pada dirinya. Tidak tahu jika Jongin, sepertinya pria itu sekalian ambil kesempatan saja.
"... hey Sehun" karena tadi tak digubris oleh Sehun, Jongin lagi-lagi berusaha menarik perhatian.
"Hm ?"
"Aku tidak sangka.."
Sehun menyerngit mendengar ucapan tersebut, menemukan sedikit kecurigaan pada kata-kata yang selanjutnya akan Jongin ucapkan. "Ternyata kau ini... tidak seperti yang ku pikirkan"
"Maksudmu ?"
Jongin menghisap puntung terakhir rokok di tangannya sebelum kemudian mematikan rokok tersebut pada asbak di meja samping kasur. "Yah, aku kira kau orang yang... bagaimana menyebutnya ya. Polos mungkin"
Jongin memandang Sehun sesaat. Lalu kembali menyunggingkan senyum mengejek. "Ternyata kau handal juga"
Tanpa dapat terelakkan, pipi Sehun kini terasa kian memanas. Sekelebat bayangan beberapa saat yang lalu dimana ia berbagi kenikmatan dengan sang atasan kembali berputar.
Sehun menggeleng-gelengkan kepala, malu jika mengingat tingkahnya tadi yang tidak menunjukkan kesan polos sama sekali.
"Diam sajalah kau bos!" Pekik pria manis itu tertahan saat ia sudah membungkus habis seluruh tubuhnya dengan selimut. Membuat seseorang di sampingnya tertawa semakin geli akan tingkah tersebut.
Sehun tidak mau, pokoknya tidak mau melihat Jongin untuk beberapa menit kedepan. Titik!
.
.
.
.
.
Tbc
A/N : Boom! Tiba-tiba aja mereka have seks. Maapkan ke absurd an otak quh. Hmm palagi ya. Chp kemaren udah kejawab kan Sehun gasuka luhan jadi tenang luhan ga akan jd orang ketiga lagi. Dah ah itu aja.
