Marry Me, Secretary Oh

KaiHun

Chaptered

T+

Disclaimer: Cast milik orang tua masing-masing. Cerita murni dari otak turun ke tangan.

Warning: BL, Typo

Gak suka gak sah baca eak!

.

.

.

.


Beberapa jam ini, yang Sehun lakukan hanyalah berusa keras untuk fokus. Fokus pada kerjaan yang sudah semestinya ia kerjakan tanpa hambatan apapun. Termaksud fikiran yang tengah melayang-layang pada kejadian malam itu di apartemen si atasan. Sehun kacau total, ia tidak bisa fokus, ia tidak bisa mengetik apapun saat ini. Terakhir kali mencoba, Sehun malah mengetik sesuatu tentang 'kulit tan bos yang seksi' dari pada membuat laporan dengan benar.

Jadi sudah ia putuskan untuk menyerah, setidaknya beberapa jam kedepan sampai fikiran Sehun sudah kembali bersih dan 'suci'.

"Kelihatannya sedang ada masalah ?"

Sehun tersentak, ia yang tadi sedang memejamkan mata sambil memegang kening kini kembali duduk tegak. Berdiri didepannya adalah Luhan, yang entah sejak kapan berada disana dengan memegang dua gelas kopi starbuck.

"Oh ? Luhan hyung" Sehun menyahut dengan datar, tidak ada kesan semangat seperti biasa bila berhadapan dengan Luhan. Entahlah, belakangan ia lebih bersikap biasa dengan orang di depannya ini.

Luhan tersenyum, senyuman menyilaukan yang nyaris membuat Sehun kembali memejamkan mata jika saja tidak takut dibilang aneh.

"Mau kopi, Sehun ?"

"Boleh" Sehun memang butuh yang namanya kopi, bila diperlukan kopi panas ini akan ia siramkan di atas kepala supaya otaknya dapat kembali berjalan dengan benar.

Tapi bohong, terimakasih.

"Jadi, ada masalah ?" Tanya Luhan kembali, sedikit mencondongkan tubuhnya pada meja kerja Sehun.

"Hanya masalah kecil" Sehun menjawab cepat, ia tidak mungkin berkeluh kesah ke Luhan tentang berbagai masalah yang tengah ia hadapi. Sama sekali bukan ide yang bagus.

Luhan mengangguk-anggukan kepala. "Apa kau ada janji makan siang ?" Tanyanya mengalihkan topik, memulai aksi pendekatan hari ini pada Sehun.

"Memangnya ada apa ?"

Luhan sedikit menyerngit akan pertanyaan Sehun, tidak paham antara Sehun ini orang yang sinis atau ia memang clueless akan kode seperti itu. "Aku hanya ingin mengajakmu makan bersama, kalau kau tidak keberatan"

"Aku keberatan"

Luhan terlonjak kaget, namun Sehun pun juga dibuat kaget, karena pada kenyataannya ia bukanlah orang yang baru saja bicara.

Berdiri tepat di belakang Luhan, Jongin melipat tangan di dada dengan alis yang terangkat. Sedangkan Luhan yang masih sibuk mengelus dada mendengus.

"Serius Jongin, jangan membuat orang jantungan" ucapnya tampak kesal, masih meletakkan telapak tangannya di bagian dada yang serasa berdebar-debar akan kehadiran Jongin. Dan tolong jangan menyalah artikan kalimat tersebut.

"Tunggu, kau bilang apa tadi ?" Luhan bertanya, baru sadar akan apa yang beberapa detik lalu Jongin ucapkan.

"Aku bilang, aku keberatan" Jongin masih betah dalam posisi berusaha mengintimidasinya, tapi ini kan Luhan ngomong-ngomong, jadi ya, tidak akan mempan.

"Aku tidak mengajakmu, Tuan. jadi tidak masalah kalau kau keberatan atau tidak" balas Luhan datar. Belum paham betul akan maksud Jongin yang kini sudah menggeram gemas itu.

"Aku juga tahu, intinya kau tidak usah mengajak Sehun"

"Dan kenapa pula bisa begitu ?"

"Karena sudah ku bilang, aku keberatan"

Luhan agaknya jadi semakin kesal atas perdebatan yang hanya berputar-putar seperti ini. "Kau ini siapa Sehun bisa memutuskan keberatan atau tidak ?"

Muncul juga pertanyaan paling tepat yang akan Jongin jawab dengan sangat sombong. "Aku ?" Mulainya menunjuk diri sendiri diiringi senyum miring.

".. tunangannya Sehun"

Terdapat jeda cukup lama sebelum Luhan akhirnya mulai bereaksi, matanya beralih memandang Sehun yang hampir terlupakan keberadaannya walau sedang menjadi topik utama sedari tadi. Sedangkan yang dipandangi tampak salah tingkah.

"Apa benar, hun ?"

Sehun memandang Jongin dan langsung menyesal karena sang atasan masih memasang senyun miring menyebalkan di wajah sungguh tampannya itu. "Well... sepertinya"

Jawaban yang sangat meragukan sejujurnya, tapi sudah cukup untuk menjadi konfirmasi atas pengakuan Jongin.

Luhan kembali merenung sesaat dengan sebelah tangan didagu, matanya terus bergulir memandang Sehun kemudian Jongin lalu Sehun lagi begitu terus sampai akhirnya ia lelah sendiri.

"Baiklah, kalau begitu... sampai jumpa" dan secara ajaib melambaikan tangan sebelum pergi dari tempat tersebut dengan santai. Jongin benar-benar harus di buat menganga karenanya.

"Aku tidak menyangka dia mudah sekali menerima kekalahan" guman Jongin pada diri sendiri. Melupakan fakta bahwa ada seseorang yang mendengar ucapannya dengan alis terangkat.

"Kekalahan ?"

Ia terkesiap, mendapati diri kesusahan untuk mengeluarkan jawaban yang tepat. Jongin berpikir bukanlah ide yang bagus jika ia dengan gamblang mengatakan tengah bersaing untuk mendapatkan Sehun. Bisa-bisa pria manis yersebut salah tanggap dan mengira bahwa Jongin punya perasaan padanya.

"Bukan apa-apa" jawabnya cepat. "Dan jawabanmu tadi ? Sehun, tolonglah tidak bisakah lebih meyakinkan lagi ?" Tanya Jongin, benar-benar mengubah topik agar tidak dicurigai.

Sedangkan Sehun merubah raut penasarannya dengan gelagapan. "Aku kan kaget kau tiba-tiba mengaku tanpa persiapan seperti itu" ucapnya membela diri. "Dan kenapa cepat sekali ? Kau bilang rahasiakan dulu"

Jongin bungkam, lagi-lagi tidak akan bilang bahwa ia sebenarnya hanya memanfaatkan kesempatan yang ada untuk menyatakan kemenangan mumpung Luhan sedang beraksi pada Sehun. Maka dari itu ia bergerak tiba-tiba seperti ini. Well.. meski sayang sekali reaksi Luhan tidak seperti yang ia harapkan. Sahabatnya itu tampak santai, membuat Jongin seratus persen yakin bahwa Luhan memang hanya penasaran saja pada Sehun. Jadi saat ia tahu Jongin menang, Luhan tanpa beban akan bergerak mundur dan mencari mangsa baru.

Benar-benar playboy sejati.


Shootdanonymous


Sehun bersandar lelah pada jok mobil sport mewah yang jelas-jelas bukan miliknya ini. Meletakkan tas kerjanya di jok belakang agar dapat bergerak lebih leluasa. Nafasnya agak memburu menandakan ia yang benar-benar sedang kelelahan.

"Aku haus sekali" keluhnya.

"Ada air mineral di dalam dashboard, ambil saja"

Sehun menoleh sedikit pada orang di sampingnya yang sedang menyetir, sekaligus pemilik dari mobil mewah ini yang sedang ia tumpangi. Tangannya bergerak membuka dashboard dan menemukan sebotol air mineral masih bersegel di dalam. Dengan bahagia meneguk air tersebut hingga setengah.

"Kau kenapa kelihatan lelah begitu ?"

"Gara-gara kau" ucap Sehun cepat, kemudian kembali meneguk air mineral tersebut hingga benar-benar tersisa sedikit sebelum kemudian melanjutkan, "Gara-gara kau bilang ke Luhan, semua orang di kantor jadi tahu tentang kita bertunangan, aku di tanyai sana sini, di tarik kemana-mana, bahkan ada yang menuduhku mengguna-gunamu, sial sekali. Makanya aku langsung lari saja ke parkiran mobilmu saat kau kirimi pesan" gerutu Sehun dengan wajah masam. Sedangkan seseorang di sampingnya yang tiba-tiba menjadi tempat berkeluh kesah ini tertawa puas.

"Kalau itu kau salahkan saja Luhan yang tidak bisa jaga mulut" ucapnya masih diiringi tawa geli. "Tapi parah juga sampai kau di tuduh begitu"

Sehun mengangguk, "Iya kan ? Kebagusan sekali aku mengguna-guna mu"

Jongin menyerngit, menolehkan kepalanya pada Sehun yang masih memasang wajah masam sambil menggigiti ujung botol.

"Apa maksudnya itu ?"

Menyadari nada bertanya yang cukup ketus dari sang atasan membuat Sehun balas menoleh, ia tersenyum lebar dengan menampakkan deretan giginya yang rapi. "Bercanda"

Membuat Jongin menggelengkan kepala dan kembali memfokuskan dirinya dengan menyetir.

"Kau ingin membawa ku kemana ?" Setelah beberapa menit terdiam, Sehun akhirnya bertanya. Menyadari bahwa ia sama sekali tak tahu arah tujuan saat ini akibat terlalu putus asa untuk kabur dan main mengiyakan saja ajakan Jongin.

"Ke rumah orang tua ku"

Mata Sehun melotot mendengar kalimat kelewat santai yang baru saja di ucapkan Jongin. "Kau ini kenapa semuanya serba tiba-tiba ? aku tidak ada persiapan sama sekali, ganti baju saja tidak" Sehun geram, ia menunjuk-nunjuk kemeja sedikit kusut miliknya yang tadi sudah dilumuri oleh keringat.

"Tidak masalah kalau masalah baju atau apapun itu. Lagipula aku sudah mengantisipasi bahwa kabar bertunangan akan langsung menyebar di kantor, dan percayalah tidak lama lagi pasti akan terdengar ke telinga orangtua ku. Jadi, daripada begitu lebih baik aku perkenalkan kau saja langsung"

Dan begitulah keputusan final yang dibuat seenaknya hati si bos. Membuat Sehun mau tidak mau menurut dan berharap ia tak tampak begitu gembel dengan kemeja kusutnya.

Mereka sampai, tepat di halaman sebuah rumah besar dengan nuansa putih-putih. Sehun tidak heran jika rumah Jongin bisa sebesar ini. Sudah terpikirkan jauh-jauh hari mengingat latar belakangnya yang memang dari orang berada.

"Aku tidak siap"

Tapi mau bagaimanapun, setelah benar-benar berada disini membuat nyali Sehun ciut total, ia bahkan perpegangan pada dashboard mobil. Menolak untuk ikut turun saat seseorang di sebelahnya baru akan membuka pintu. Jongin menyerngit, ia urungkan niatnya untuk turun dan beralih menghadap Sehun.

"Ayolah, Sehun. Kau kenapa lagi ?" Keluh Jongin tidak sabaran.

"Aku gugup asal kau tahu!" Bahkan Sehun tidak begitu sadar ia baru saja meneriaki sang atasan, yang kemudian menghela nafas dan menggelengkan kepala frustasi.

"Dengar, cukup bersikap senatural mungkin, tidak usah gugup, tidak usah berkeringat dingin dan semuanya akan beres" Setidaknya Jongin berusaha menenangkan, walau mudah baginya bicara dan sulit bagi Sehun yang menjalankan. "Lagipula, kau berperilaku seakan...kita benar-benar menjalin hubungan serius lalu kau gugup setengah mati untuk bertemu calon mertua.. maksudku, kan pernikahan kita nanti hanya kedok, ingat ?"

Dan kalimat putus-putus namun cukup jelas itu masuk dengan cepat ke dalam telinga Sehun, di serap oleh otak lalu dengan keras menabrak kesadarannya yang belakangan jadi tidak stabil.

Benar juga.

Sehun berkedip-kedip. Memandang Jongin lalu berdehem panjang. "Kau benar, lagipula kalau ujung-ujungnya orangtua mu tidak menyukaiku... bukan masalah kan karena yang bakal tidak dapat warisan itu kau"

Jongin menaikkan alis. Agak tidak nyaman mendengar kata-kata terakhir yang di ucapkan Sehun. "Dan tebak siapa lagi yang tidak akan mendapatkan setumpuk uang kalau semua ini gagal" balas Jongin tepat sasaran. Menatap mata Sehun penuh arti dan lalu dibalas dengan dengusan dari sang sekretaris.

"Setidaknya jangan bersiakap bar-bar dan berusahalah senetral mungkin, semuanya pasti beres" ia melanjutkan, kemudian tak membuang waktu banyak untuk turun dari mobil diikuti Sehun yang menggerutu sepelan mungkin hingga tidak terdengar oleh seseorang yang sudah jalan duluan di depannya ini.

"Senetral mungkin katanya ? Jangan salahkan aku kalau nanti aku tiba-tiba jadi seperti ponsel mode silent"

Ingat, Sehun itu masih orang kalem yang tidak akan buka mulut jika tidak di ajak bicara duluan.


Shootdanonymous


Kenyataannya, semua tidak seperti yang Sehun bayangkan sama sekali. Dimana ia berpikir dirinya akan diberi tatapan mendikte atau bahkan diberi sinyal ketidaksukaan dari kedua orangtua Jongin ini. Nyatanya tidak, salah total. Kedua orang tua Jongin sungguh merupakan manusia-manusia baik hati. Bahkan sering kali Sehun merasa bahwa ibu atasannya tersebut memberikan tatapan memuja. Serius. Entah itu mata Sehun yang bermasalah sehingga menyalah artikan tatapan semacam itu atau memang seperti itulah kenyataannya. Padahal sungguh yang Sehun lakukan hanyalah tersenyum dan mengangguk malu-malu, kalau beruntung ia dapat mengelurkan suaranya ketika ditanyai walau pelan.

Tidak jauh beda dengan ayah Jongin. Memang tidak memberikan tatapan memuja yang begitu ketara seperti sang istri. Namun Sehun tidak dapat melepaskan pandang dari senyum Tuan Kim yang terus melebar selama keberadaannya di sana.

Jadi, dapat disimpulkan, mendapat restu orang tua Jongin secara ajaib sukses besar.

"Aku benar-benar bingung" dialog Sehun sembari berpegangan pada pagar balkon. Menikmati pemandangan halaman belakang rumah keluarga Kim yang indah. Kini ia bersama sang 'tunangan' sedang berada di balkon kamar Jongin.

Sedangkan seseorang yang di ajak bicara di sampingnya diam, menyesap rokok ditangan walau dalam hati menantikan kelanjutan omongan Sehun.

"Perilaku orangtua mu sangat ganjil kepadaku, bukankah menurutmu begitu ?"

"Tidak juga" Jongin menyahut malas. Mendapat delikan bingung dari sang sekretaris. Namun pria tersebut tidak balas menoleh atau apapun dan kembali menyesap rokoknya.

"Kau mau kuberitahu sebuah rahasia ?" Tanya Jongin tiba-tiba.

Sehun tidak menyahut, namun gestur tubuhnya yang sedikit mencondong kepada Jongin sudah cukup bagi pria tersebut untuk kembali melanjutkan ucapannya.

"Aku pernah memiliki kekasih, namanya Shixun" mulai Jongin pelan-pelan. "Dia... segalanya bagiku. Bahkan keluarga ku sangat menyayanginya seperti anak sendiri"

Sehun dapat menangkat raut wajah Jongin yang berubah sedikit kaku saat membicarakan seseorang bernama 'Shixun' ini.

"Tapi dia sudah meninggal, makanya aku agak trauma jika harus memiliki hubungan lagi" lanjut Jongin, mengucapkan kalimat tersebut dengan lancar walau begitu ketara kesedihan di matanya.

Tanpa sadar, tangan Sehun bergerak seperti memiliki kemauan sendiri untuk mengelus punggung Jongin. Bergerak naik turun berharap dapat membuat pria tersebut merasa lebih rileks.

Jongin melirik wajah simpati Sehun, tersenyum miring dan kembali melanjutkan, "Kau tahu yang membuat orangtua ku bersikap begitu padamu ?"

Sehun menggeleng polos. Menghentikan gerakan tangannya pada punggung Jongin dan menatap pria itu lekat-lekat untuk segera menanti jawaban.

"Karena Shixun... delapan puluh peesen mirip denganmu"

"M-mirip ?"

"Ya.. wajah, postur tubuh, segalanya"

Benarkah ini ? Sehun nyaris tidak percaya. Tidak pernah terbayangkan bahwa dirinya mirip dengan kekasih Jongin di masa lalu, yang ngomong-ngomong sudah meninggal dunia dan membuat Jongin memilih untuk terus sendiri. Yah tentu jika saja sang kakek tidak memaksa untuk segera menikah. Namun bukan itu intinya sekarang. Sehun tidak tahu, harus merasa berbangga hati atau apa. Yang jelas, keputusan Jongin untuk memilihnya ternyata memang tidak asal pilih seperti yang selama ini ia kira.

"Tentu tidak terlalu mirip dalam segala hal... maksudku, sifat Shixun begitu lembut dan polos. Sedangkan kau, walau dari luar kau tampak kalem, aku belakangan sudah tahu kau ini senang mengumpat dan..." Jongin menggantung sebentar kalimatnya, memandang Sehun dengan tersenyum mengejek. Sesungguhnya Sehun tidak ingin dengar apapun itu kelanjutan omongan Jongin.

"Kau tidak polos sama sekali, eh ?"

Persetanlah, sudah di ucapkan dengan lantang. Pakai senyum mengejek menyebalkan seperti itu pula.

Sehun mendengus, menjauhkan tangannya yang sedari tadi masih terletak manis di punggung Jongin.

"Semua manusia kan berbeda-beda" balasnya, kembali berusaha bersikap biasa.

"Ngomong-ngomong, aku juga punya mantan yang membuat ku trauma" Sehun memutuskan untuk berbagi juga sedikit ceritanya tentang mantan. Biar impas.

"Dia kekasihku semasa kuliah, beberapa tingkat di atasku"

"Namanya ?"

Sehun merengut, ia menggelengkan kepala, menolak untuk memberi tahu nama orang yang membuatnya sakit hati.

"Aku tidak mau menyebut namanya"

"Oke baiklah, lanjutkan"

"Dia tampan, sangat baik dan sopan padaku pada awalnya. Tapi entah mengapa, lama-kelamaan ia seperti memanfaatkanku"

Alis Jongin terangkat, ia mulai sangat tertarik dengan cerita Sehun. "Memanfaatkanmu ?"

"Iya, tepatnya dia memanfaatkan... tubuhku"

Sehun melirik sedikit pada Jongin, memandang bagaimana reaksi pria tersebut atas apa yang baru saja ia katakan. Jongin tampak tenang, menanti dengan sabar kelanjutan cerita Sehun.

"Maksudku, dia melakukan semaunya pada diriku dengan iming-iming ingin hidup seterusnya denganku, akan melamar saat aku lulus kuliah dan segala macam omong kosong yang membuat aku percaya begitu saja" Sehun tertawa hampa. Menertawakan dirinya sendiri karena mudah dibodohi.

"Suatu hari, aku kedapatan melihatnya tengah tidur tanpa busana dengan orang lain, dikamarnya sendiri pula. Yah, mungkin aku terlalu naif saat itu karena percaya bahwa dia benar-benar hanya menginginkanku, yang nyatanya tidak sama sekali"

Kini giliran Jongin yang meletakkan tangan besarnya di punggung Sehun. Memberi tepukan halus beberapa kali.

"Mulai dari itu aku menjauh, bahkan mengencani banyak laki-laki untuk melampiaskannya. Seks sana sini. Benar-benar kehidupan yang tidak sehat hanya karena satu orang brengsek" Sehun memberi jeda sebentar.

"Tapi yang paling membuat ku sakit hati, dia menghilang begitu saja, tidak lagi berkuliah di tempat yang sama denganku, entahlah kemana aku tidak peduli lagi sekarang"

"... well, dia brengsek"

Ucap Jongin akhirnya setelah lama terdiam, ia cukup salut kepada sekretarisnya ini, menceritakan kisah tersebut tanpa terlihat terbawa emosi sedikitpun, ternyata cukup tegar dari yang terlihat. Ia tidak menyangka bahwa Sehun juga memiki kisah cinta yang kelam di masa lalu. Tapi sekarang ia tahu, dan entah mengapa hal tersebut membuat Jongin merasa senang, tentu bukan senang karena mendengar betapa sakit hatinya Sehun di cerita tersebut, namun senang karena Sehun mau berbagi cerita dengannya.

Yang Jongin tidak tahu adalah, bahwa tidak hanya nama saja yang tidak Sehun beritahukan, namun perasaan sebenarnya pada sang mantan kekasih juga, ia masih sangat peduli pada mantan kekasihnya tersebut. Bahkan masih menyimpan rasa cinta yang sedari dulu susah untuk dihilangkan.

Cinta pertama memanglah sangat sulit dilupakan, bukan ?

.

.

.

.

Tbc

A/n: Tebak siapa mantan Sehun deh