Marry Me, Secretary Oh
KaiHun
Chaptered
T+
Disclaimer: Cast milik orang tua masing-masing. Cerita murni dari otak turun ke tangan.
Warning: BL, Typo
Gak suka gak sah baca eak!
.
.
.
.
Sehun tidak menyangka ia sekarang tengah berdiri di tanah ini, di halaman rumah cukup luas dengan tanaman-tanaman hias yang tersusun rapi ini. Ia meneguk ludah, tiba-tiba merasakan gugup berlebihan yang tidak wajar jika harus melangkah masuk ke dalam rumah di hadapannya.
Ini kan, rumah Sehun, rumah orang tua Sehun, kenapa juga ia harus gugup untuk berhadapan dengan kedua orang tuanya ? Bahkan merasa hampir berada di situasi yang sama saat ia akan berhadapan dengan orangtua Jongin.
"Kapan kita masuknya ?"
Jongin, yang sedari tadi berdiri menunggu menceletuk tak sabar. Ia menggendong tas berukuran sedang milik Sehun di satu sisi bahunya. Tampak tidak ingin buang banyak waktu untuk segera masuk dan menyelesaikan urusan disini.
"Tunggu... sebentar"
Sehun menempelkan lima jarinya di dada Jongin, menyuruh pria tersebut untuk tidak membuat gerakan apapun dan tetap diam di tempat. Ia menghirup udara panjang, lalu dihembuskan. Terus begitu sampai membuat Jongin jenuh sendiri memandangnya.
"Bahkan berhadapan dengan orangtua sendiri pun kau gugup ?" Sindir Jongin di sela kegiatan Sehun mengatur nafas.
Sehun tidak membantah, tidak juga mengiyakan, ia hanya terus memandang pintu rumahnya dengan alis berkerut dan exspresi kelewat cemas.
Tidak kunjung mendapat jawaban, Jongin menghela nafas, ia akhirnya ambil tindakan dengan menarik tangan Sehun dan melangkah pasti tepat ke pintu depan rumah keluarga Oh tersebut. Sedangkan Sehun yang pasrah-pasrah saja masih diam, membuat Jongin sekali lagi ambil tindakan untuk menekan bel. Namun hal itu malah membuat seseorang di sampingnya terlonjak kaget.
"Jongin! Kenapa kau tekan belnya ?" Bisik Sehun tampak kesal. Berhasil membuat kerutan bertambah di dahi Jongin yang sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiran Sehun saat ini.
"Memangnya kau pikir kita akan minta restu sambil berdiri tidak jelas di depan pintu begini ?" Balas Jongin tanpa berbisik sama sekali. Membuat Sehun meringis dan terus menyuruhnya untuk diam. Jongin memutarkan bola mata, serius tidak bisa memahami Sehun di saat otak sekretarisnya itu tengah konslet.
Derap kaki yang mendekati mereka dari balik pintu dapat terdengar. Jantung Sehun berpacu dengan cepat bersamaan dengan ibunya yang membuka pintu. Menampilkan seorang wanita berusia 40-an dengan wajah luar biasa cantik walau hanya menggunakan baju terusan panjang khas 'ibu-ibu'.
".. h-hai eomma" cicit Sehun pelan. Meneguk ludah saat bertemu pandang dengan tatapan kebingungan dari sang eomma.
...
Tadi, Sehun merupakan satu-satunya yang paling gugup. Sekarang, sudah bertambah satu lagi yang berprilaku sama.
Jongin gugup. Sangat.
Ia tidak tahu bahwa ayah Sehun ini punya mata tajam mengintimidasi sebegininya, sehingga membuat seorang selevel Kim Jongin serasa tak sanggup untuk balas menatap lama-lama. Itu inginnya, tapi mana mungkin Jongin bersikap begitu disaat dirinya tengah berusaha membuat citra bagus. Jadi sebisa mungkin ia tahan-tahan diri untuk tidak segera beralih memandangi lantai.
Waktu itu, Sehun pernah bilang tidak akan susah mendapat restu orangtuanya. Sekarang, Jongin bertanya-tanya apakah Sehun sedang dalam keadaan sadar saat mengucapkan hal tersebut. Karena kenyataan di depan mata tampak sama sekali tidak seperti yang ia ucapkan.
"Jadi, kau ingin melamar anak ku ?" Ayah Sehun mulai bertanya dengan serius. Memperkuat tatapan tajam selayaknya penuh dendam kepada pemuda tak tahu apa-apa seperti Jongin ini.
"Iya, ahjussi"
"Dan kau ini, atasannya di kantor ?" Semakin kesini, Jongin dapat menangkap nada sinis dari omongan beliau. Membuat Jongin berfikir mungkin berstatus menjadi atasan Sehun adalah hal buruk di mata Tuan Oh. Atau memang segala sesuatu tentang dirinya tampak buruk sekarang ?
"Benar, ahjussi"
"Belum sampai sebulan Sehun bekerja denganmu, sudah yakin akan melamarnya ?" Lihat, kan. Kepala keluarga Oh ini seratus persen sedang menyindir. Jongin tahu itu.
"Yakin, ahjussi"
Lelaki paruh baya tersebut terdiam sebentar, memandang Sehun yang sedari tadi bungkam dengan tangan bertaut dipangkuan. Kebiasan paling ia hapal jika anaknya sedang gugup. Lalu pandangannya bergulir kembali ke seseorang yang tiba-tiba datang tanpa persiapan dan berkata ingin melamar anaknya ini.
"Kalau begitu, sudah menentukan tanggal pernikahan ?"
Jongin tertegun sejenak, memandang Tuan Oh layaknya melihat bidadari berjenis kelamin laki-laki yang turun ke bumi. Lalu nyaris tergagap ia menjawab, "Belum ditentukan, ahjussi. Tapi... segera.. iya.. segera"
Dan anggunkan serta senyuman ramah beliau membuat Jongin yakin bahwa Sehun memang sedang dalam keadaan sadar saat mengucapkan akan mudah mendapatkan restu dari orang tuanya.
Beruntunglah Jongin.
Namun kalau begitu, apa pula arti tatapan tajam penuh kebencian ayah Sehun serta kegugupan berlebihan anaknya itu sedari tadi ? Karena hal itu sukses besar membuat nyali Jongin untuk sesaat menjadi ciut dan memilih untuk langsung putar haluan ke Seoul. Yang untungnya, tidak jadi ia lakukan.
Well, apapun itu, mendapat restu orangtua Sehun,
sukses.
...
Mereka memutuskan untuk kembali ke Seoul pada malam harinya, sempat di paksa untuk menginap namun Sehun menjelaskan bahwa Jongin tidak bisa terus menunda pekerjaan disana seperti hari ini. Kedua orangtua Sehun akhirnya dapat mengerti dan membiarkan mereka untuk pergi dengan iming-iming, harus segera menghubungi jika pernikahan sudah akan dilaksanakan.
Setelah Sehun mendapat pelukan dari kedua orang tuanya, bonus Jongin yang juga dapat pelukan gratis dari Tuan Oh, mereka berdua akhirnya segera melesat dengan mobil sport hitam milik Jongin.
"Aku heran denganmu, juga ayahmu"
Diperjalanan, Jongin ternyata masih ingin menanyakan tentang keheranannya sewaktu berada di kediaman keluarga Oh.
"Kenapa ?"
"Appa mu itu, padahal awalnya tampak sangat tidak suka padaku"
Sehun terkekeh pelan sebelum menjawab santai. "Appa memang begitu, ia senang menggoda orang, tapi aku sudah yakin dia bakal setuju"
Alis Jongin terangkat, ia memandangi Sehun sejenak sebelum akhirnya kembali fokus ke jalan. "Lalu, maksud dari kegugupan mu tadi ? Ku pikir kau takut tidak di beri restu"
Bibir Sehun terangkat sedikit, geli mendengar tuduhan yang menurutnya menggelikan dari pria tersebut. "Aku bukan gugup karena itu, yang benar saja" ucapnya setengah tidak terima.
"Aku hanya tidak terbiasa bohong pada orangtuaku, apalagi kebohongan yang semacam ini" sesantai apapun Sehun mengatakan hal tersebut, Jongin dapat menangkap kesedihan dalam kata-katanya barusan. Ia menggenggam sebelah tangan Sehun yang berada di pangkuan, lalu sedikit meremasnya untuk sekedar meyakinkan pria manis disampingnya ini.
"Setidaknya, kau punya niat baik" ucap Jongin membuat Sehun terdiam sejenak, memandang tangannya yang masih di genggam oleh Jongin walau pria tersebut tetap fokus menyetir.
"Kau benar"
Shootdanonymous
Keesokkan harinya, walau semua sudah kembali pada hari kerja seperti biasa, tampak ada yang tidak beres dari keadaan perusahaan ini. Terutama pada bagian yang di pimpini oleh Jongin.
Mereka sedang mengalami sedikit masalah, dimana masalah tersebut tidak lain berasal dari seorang Sehun.
"Bagaimana bisa kau melupakan jadwal pertemuan ku, Sehun ?!" Jongin membentak dengan oktaf cukup tinggi. Tidak peduli pada siapapun itu yang ia marah jika memang melakukan kesalahan. Termasuk Sehun disini yang merupakan calon 'istri' nya.
"Maafkan aku sungguh, aku benar-benar lupa" Sehun, walau yang memarahinya Jongin, tetap sadar diri bahwa ia sekarang sedang menjabat sebagai sekretaris yang melakukan kesalahan.
Jongin menggeram frustasi, menghempaskan setumpuk berkas ke meja kerjanya kasar. Ia sangat kesal atas kesalahan Sehun saat ini, benar-benar tidak dapat di toleransi sehingga membuatnya tidak segan untuk marah-marah.
"Kau hanya di beri tugas kecil, Sehun. Mencatat dan mengingat. Apa susahnya itu ?"
Sehun menunduk dan menjawab pelan. "Aku.. sudah mencatat, tapi karena perjanjian dibuat lebih awal seminggu, aku jadi.. lupa"
Jongin menghela nafas, mendudukan diri di kursi dengan tangan yang terus memegangi kepalanya. Berfikir keras untuk dapat menyelesaikan kesalahan yang dibuat oleh 'tunangan' nya ini.
Masalahnya, kesalahan Sehun itu sangat fatal. Melupakan bahwa kemarin -hari dimana mereka menemui orangtua Sehun-, ternyata adalah jadwal pertemuan Jongin dengan salah satu perusahaan besar yang sangat sulit untuk di ajak bertemu, maka dari itu membuat janji pun harus seminggu lebih awal.
Kalau sudah begini, bagaimana lagi Jongin harus memujuk sang pimpinan salah satu bagian dari perusahaan tersebut untuk kembali mengatur jadwal bertemu.
"Kemari dan telfon nomornya, minta maaf" Jongin menunjuk telfon di meja kerjanya dengan dagu. Memerintahkan Sehun untuk segera melakukan yang ia suruh.
"Bujuk dia agar mau melakukan pertemuan lagi" perintahnya saat sang sekretaris sudah memegang gagang telfon dengan ragu-ragu.
Jongin tidak sepenuhnya serius, itu yang pasti. Karena walau ia yang turun tangan untuk memujuk sekalipun, Jongin yakin tak akan bisa untuk mengatur ulang jadwal. Sudah tidak ada kesempatan untuk bekerja sama dengan perusahaan tersebut.
Tapi karena kelewat kesal, ia menyuruh Sehun untuk melakukannya. Hitung-hitung memberi pria manis tersebut sedikit pelajaran agar dapat lebih bertanggung jawab.
Tidak mau membuat wajah muram Jongin tambah parah, Sehun buru-buru menekan nomor tujuan yang tertera dari buku catatan pribadinya sebagai sekretaris. Berharap setidaknya ia dapat meminta maaf walau kemungkinan dapat membuat pertemuan lagi sangatlah minim.
Terdengar suara perempuan yang menyambut ramah sambungan telfon Sehun, membuat ia yakin bahwa yang mengangkat adalah seorang sekretaris.
Setelah menyebutkan segala tetek-bengek tentang asal perusahaan dan segala macam, Sehun lalu di sambungkan langsung pada atasan yang seharusnya sudah selesai melakukan pertemuan dengan Jongin kemarin.
"Ada urusan apa lagi anda menghubungi kami ?"
Sehun menggigit bibir. Serasa tidak tahan di sambut dengan suara dingin penuh sindiran seperti ini. Jika saja Jongin tidak memandangi dengan rengutan marah seperti itu mungkin sudah Sehun banting gagang telfon sialan ini lalu langsung pulang dan tidur.
"Maaf, sebelumnya. Saya pribadi ingin meminta maaf karena telah melakukan kesalahan sehingga Kim Jongin tidak hadir dalam pertemuan. Ini sepenuhnya salah saya, saya lalai dan lupa memberitahu bahwa pertemuan di adakan kemarin. Saya harap anda dapat memaafkan pihak kami"
"Dan anda ini siapa ?"
"Saya Oh Sehun, sekretaris Kim Jongin"
"Sebagai sekretaris anda jelas tidak melakukan tugas dengan pro- tunggu dulu, siapa tadi namamu ?"
Sehun menyerngit, agak heran dengan perubahan topik tiba-tiba dari seseorang di sebrang telfon ini. Ia ragu-ragu menjawab.
"Nama saya Oh Sehun"
"... Oh Sehun ?"
Lagi-lagi, Sehun dibuatnya bingung. Orang di sebrang sana jelas menyebut namanya seperti seseorang baru mendengar nama yang dikenal. Dan Sehun sama sekali tidak ingat punya kenalan menjabat sebagai bos begitu. Sumpah. Ya, kecuali Kim Jongin. Itupun karena ada maunya.
"Apa ada masalah ?"
"Ah, tidak.. tentu saja tidak. Aku hanya berfikir, mungkin kita bisa mengatur ulang jadwal.. mungkin aku bisa menemui Kim Jongin"
Sehun terdiam, tak sampai kapasitas otaknya untuk menyerap informasi mengejutkan tersebut. Ia hanya tetap diam sampai seseorang itu kembali bicara.
"Bagaimana jika saat jam makan siang ? Apakah Kim Jongin... dan anda, punya waktu ?"
"T-tentu saja bisa, iya. Tentu saja"
"Baiklah kalau begitu, saya akan tunggu di restoran sushi yang letaknya tepat di sebrang perusahaan kami"
Sehun mengucapkan terimakasih, lalu kembali buru-buru menutup gagang telfon. Ia menatap Jongin yang kini memasang tampang malas dengan kaki yang sudah naik ke meja.
Sialan, lagaknya sudah seperti bos sejati. Batin Sehun di tengah-tengah ketidakpercayaannya saat ini.
"Tidak usah menatapku begitu, aku sudah tahu hasilnya" ucap Jongin suram sambil memainkan dasinya.
Sehun melipat tangan di dada, sedikit tersenyum sinis karena tampaknya Jongin sudah salah mengira. "Bagus jika sudah tahu, kalau begitu istirahat makan siang ini siap-siap saja"
"Kenapa lagi ?" Jongin masih tampak tak berniat sama sekali walau Sehun sudah pasang tampang sok minta ampun dihadapannya.
"Pertanyaan bagus, karena aku.. sekretarismu yang paling cerdas ini, sudah berhasil mengatur ulang jadwal pertemuan"
Jongin masih diam dengan tampang lesu, beberapa detik berikutnya, barulah ia dapat menyerap omongan yang tak ia sangka-sangka dari Sehun saat ini.
"Kau... kau serius ?"
"Tentu saja, bahkan ia langsung ingin mengadakan pertemuan hari ini juga, hebat kan aku ?" Sehun masih senyum-senyum sombong dengan posisi tubuh yang menyombong pula. Membuat Jongin tergerak hatinya untuk berdiri dan memeluk Sehun gemas.
"Kau berhak mendapat segala pujian, sekretaris cerdasku" ucap Jongin bangga dengan mengelus-elus rambut Sehun. Di sambut penuh suka cita pula dari sekretaris kita yang juga masih berbangga hati akan dirinya sendiri. Jika ini animasi, mungkin sudah terdapat berbagai macam bunga-bungaan yang turun dari langit menghujani keduanya.
Yah, anggaplah mereka sudah terlalu senang untuk benar-benar menyadari sedang di posisi apa mereka sekarang. Karena walau sudah pernah berhubungan intim sekalipun, tentunya tetap akan terasa sangat aneh untuk melakukan kontak fisik seperti ini.
Shootdanonymous
Jongin masih punya ekspresi senyum-senyum euforia kesenangan di wajahnya sekarang. Sedangkan Sehun, sudah lebih dulu dapat mengontrol dan kembali pada wajah biasa.
Mereka kini sedang dalam perjalanan untuk menuju ke restoran sushi yang di maksud. Dan Sehun mau tak mau harus ikut walaupun kehadirannya tidak begitu diperlukan. Mengingat hal tersebut, Sehun jadi kembali bertanya-tanya apakah seseorang yang namanya belum ia ketahui itu memang mengenal dirinya.
Sehun menoleh pada Jongin yang tampak seratus persen siap bertemu dengan orang yang akan menjalin kerjasama dengannya. Tak bisa menahan diri untuk tersenyum lega karena telah berhasil memperbaiki kesalahan yang ia perbuat, dan tentunya membuat Jongin kembali senang.
"Jongin"
Jongin yang sedari tadi memandang ke depan kini sedikit menoleh pada kursi penumpang, "Iya Sehun ?"
Benarkan, begitu bersemangat. Padahal di keadaan normal, jika terpanggil Jongin paling hanya akan menyahut tidak niat sedang dalam kondisi apapun mereka. Tentunya, saat ini adalah pengecualian.
"Aku minta maaf sempat mengacaukan segalanya" ucap Sehun sungguh-sungguh. Di balas tawa pelan oleh Jongin yang menepuk-nepuk kepala pria manis tersebut.
"Tidak masalah, Sehun. Lagipula kau sudah menebusnya walau aku agak heran kenapa bisa"
"Sebenarnya, aku juga agak heran" Sehun jelas-jelas serius akan perkataannya. Dan itu membuat Jongin ikut heran. Tangannya tidak lagi berada di pucuk kepala Sehun. Namun sesekali terus menoleh pada sekretarisnya tersebut yang memasang tampang tak jauh berbeda dari dirinya.
"Jongin, apakah kau tahu nama lengkapnya ?" Tanya Sehun penuh harap, siapa tahu memang mengenal orang ini hanya saja ia lupa.
Jongin tampak sedikit berfikir, mengingat-ingat sedikit infomasi atas orang yang memang agak misterius ini. "Setahu ku ia biasa menggunakan nama panggilan, tapi aku yakin nama aslinya itu Wu Yifan"
"Wu Yifan ?"
Jongin mengangguk, "Kau kenal ?"
Wu Yifan ?
Tidak asing.
.
.
.
.
Tbc.
A/n: Kalau nanti bakal lama updatenya sorry ya. Kuliah udah mulai lagi takutnya ntar malah keteteran ama tugas. Makasi banyaaak for every review, fav, follow de el el. Uda gue keluarin sebuah nama tuh hehe mwa :*
