Keresahan Hati
Disclaimer: Persona 3 milik Atlus
Final Chapter (Find Ending) : Brand New Days
"Mereka baik-baik saja"
Saat Mendengar hal itu dari ucapan Android yang kukenal, aku senang sekali mereka semua baik-baik saja.
"Tapi, Yukari-san, dia..."
Tiba-tiba perkataan Aigis membuat Diriku berhenti tersenyum dan mulai membuatku gelisah, apa yang terjadi pada Yukari?
-00-
"Yukari..."
Aku mulai berlari menuju Suatu tempat.
"Ini tidak mungkin..."
'Tik'
Dengan menitihkan air mata kesedihan.
"Tunggu aku Yukari, aku sekarang kembali untukmu"
'Tik Tik Tik'
Walau derasnya hujan, kutetap pergi ketempat Seseorang yang menjadi tujuan hidupku.
Akhirnya aku sampai di depan rumah sakit Tatsumi Memorial dan langsung masuk untuk bertemu 'dia' yang masih dirawat.
"Permisi... suster, boleh saya tahu kamar seorang pasien yang bernama Yukari Takeba?" tanyaku pada seorang wanita yang berpakaian suster yang sedang duduk di eja recepcionis.
"Boleh, tapi sebelum itu kau siapanya ya?" tanyanya yang mulai membuat wajahku merona merah.
"A-a-aku... adalah pacarnya." Jawabku seadanya dengan wajah merona merah.
Suster itu malah tertawa "Hihihi... ehem, baiklah. Kamarnya nomor 13 yang ada di sebelah pojok kanan koridor itu" ucapnya sambil menunjukan tempatnya.
"Baiklah, terimakasih." Akhirnya diriku mencari kamar tempatnya dirawat, sambil berlari kecil dan menoleh ke kanan dan ke kiri. Tapi kenapa nomor 13? itukan angka sial?
Tapi aku tak peduli, jika itu angka sial, biarkan aku yang akan menanggungnya. Karena tak akan kubiarkan siapapun menyakiti Yukari. Bahkan tuhanpun sekalipun, karena mengingat perkataan Orpheus dari dalam diriku tentang cinta.
'Tidak ada yang lebih indah di dunia ini selain cinta yang sejati dan serasi,'
Itulah kalimat yang dulu di lontarkan Orpheus saat bersama Eurydice.
Akhirnya kutemukan kamar nomor 13 dan perlahan-lahan dengan hati berdegup kencang, kubuka pintu kamarnya.
"Yu-Yukari..."
Kini, setelah kubuka pintu itu. Mataku serasa ingin menangis, karena melihat Yukari tertidur di atas ranjangnya dengan berbagai alat bantu yang membantunya hidup menempel di sekitar tubuhnya.
"Yukari..."
Perlahan-lahan kudekati dirinya, berharap dia bisa terbangun dan tersenyum kepadaku.
Saatku pegang tangannya, suhu tubuhnya sangat hangat terasa menjalar di tanganku.
"Yukari... bangunlah, ini aku Minato."
Namun Yukari tetap tertidur pulas,
"Yukari..."
'Tik'
Setetes air mata keluar dari kelopak mataku, karena diriku terlambat kembali saat dia koma akibat menolong seorang anak dari kecelakaan tabrakan maut.
Kenapa...
Padahal aku sudah kembali untuknya tapi kenapa dia tidak bangun ?
Kenapa...
Hidupku, kenapa menjadi tidak adil?
Dan Kenapa...
Pertemuan kami, sepertinya tidak di restui?
Akupun menatap langit.
"Ayah, ibu. Apakah ini takdirku setelah kalian mati? Dan setelah diriku menyegel Nyx? Walau kini aku telah bebas dan bertemu dengan dirinya?"
Lalu memandang wajah manis Yukari sambil mengelus pipinya yang lembut.
'Tik'
"Apakah aku, benar-benar seorang Orpheus? Dan takdir Orpheus adalah takdir yang menyedihkan bagiku jalani juga?"
Tidak...
Aku dan Orpheus sangatlah berbeda, meski aku tahu. Sejarahnya sangatlah menyakitkan untuk di baca Dan sangat sedih untuk di sebarkan. Tapi satu hal yang pasti, aku dan Orpheus sangatlah berbeda.
"Yukari..."
Yukari tetap saja tidak kunjung bangun.
Walau...
Aku menyebut namanya.
Walau...
Aku membelai halus rambut coklat susunya yang telah memanjang.
Dan Walau...
Aku mencium keningnya layaknya pangeran yang tengah berusaha membangunkan sang Putri tidur dari tidur panjangnya.
Namun... itu semua sia-sia saja.
-00-
Hari demi hari kulalui setelah pulang dari sekolah, ku jenguk Dirinya yang masih tetap tertidur di atas ranjang.
Dengan ku bawakan setangkai bunga ke sukaannya, berharap dia cepat terbangun.
Kini, aku bisa merasakan perasaan Yukari saat aku meninggalkannya. Pasti sungguh menyakitkan buatnya.
Tapi... jika aku tak meninggalkannya, mungkin Dunia ini akan hancur.
beberapa tahun telah berlalu, semenjak diriku kembali dari tempat dimana aku di jadikan sebuah 'Gembok Pintu' belaka.
Kini umurku dan umurnya menjadi 20 tahun.
Kujalani hidupku dengan terus menjenguk dirinya dan berharap dia bisa terbangun dari tidur cantiknya.
Namun semua itu, tentu saja tak membuahkan hasil apapun.
"Hey Dude, mau pergi bersama kami ke Wild Duck Burger untuk merayakan malam Natal?" ajak Junpei kepadaku yang tengah berada di ruang tamu bersama dengan yang lainnya, tapi masih tetap tanpa keberadaan Yukari.
"Tidak, terima kasih. Aku akan merayakan Natal bersama Yukari di Rumah sakit." jawabku dan membuka pintu kamarku lalu pergi keluar asrama tanpa memandang Aigis, Junpei, Akihiko, Mitsuru, Ken, Koromaru dan Fuuka yang ada di ruang tamu.
Malam ini berbeda seperti malam-malam sebelumnya, karena malam ini adalah malam Natal.
Malam dimana setiap dua pasangan saling menukarkan hadiah mereka, dengan kasih sayang, cinta dan janji untuk bersama sambil berjalan-jalan bergandengan tangan bersama di bawah malamnya Natal yang indah, juga melihat pohon-pohon Natal yang dihiasi dengan banyaknya lampu yang berkelap-kerlip yang ada di setiap sepanjang jalan.
Andai kami berdua bisa merayakan natal yang kedua kalinya seperti itu, mungkin aku dan Yukari dapat merasakan kebahagiaan yang dapat membuat kami melupakan masa lalu yang menyakitkan.
Tapi... untuk apa bermimpi seperti itu? Yukari kini terus tertidur di atas ranjangnya karena aku, yang terlambat datang untuknya.
Langkah demi langkah kumasuki toko-toko yang ada di kota Iwatodai, berharap bisa menemukan benda yang masih tetap di sukai oleh Yukari, sebagai hadiahku untuknya di malam Natal ini. Walau itu tetap saja tidak dapat membangukannya.
"Selamat malam..."
Akupun melihat-lihat sebuah cincin yang cocok untuk di kenakan Yukari sebagai hadiahku.
Dan terlihatlah, sebuah cincin emas dengan batu rubi bewarna merah mudah berbentuk hati di mataku yang sepertinya cocok buat Yukari kenakan di jari manisnya.
"Tolong ini satu" ucapku sambil menunjukan cincin tersebut.
"Ini, harganya 120.000 yen" ucap penjual perhiasan itu.
Akupun mengeluarkan sejumlah uangku dan memberikannya. Setelah itu, aku keluar dari tokoh tersebut dengan hati yang senang sambil menyimpan cincin itu baik-baik di dalam jaket tebalku. Namun itu hanya sebentar.
Saat aku mau menyeberangi jalan di perempatan jalan, ku lihat seorang bocah berumur 8 tahun berambut coklat sedang mengambil bola sepaknya di tengah jalan di saat malam Natal yang indah ini.
'NGEEEEEENG...'
'TUT TUT...'
Tiba-tiba sebuah truk dengan kecepatan tinggi melaju kencang ke arah bocah tersebut, namun bocah tersebut belum menyadarinya.
"SHIN AWAS!" teriak seorang laki-laki yang usianya lebih tua darinya, namun tidak di hiraukan oleh bocah yang di panggilnya Shin tersebut.
'TUT TUT...'
Truk itu semakin mendekat ke anak itu untuk mengambil nyawanya.
Akupun segera berlari sekencang mungkin untuk menyelamatkan anak itu, tapi truk itu semakin cepat melaju.
"Sial, kalau begitu." Akhirnya, aku mendorong bocah itu dengan kerasnya agar dia bisa selamat dari tabrakan maut itu, tapi tidak bagiku yang kini menatap sesosok 'Thanatos' yang akan menusukku dengan pedangnya.
'TUT TUT...'
'CIIIIIIIT...'
'BRAK'
Akhirnya, tubuhku terhempas sejauh 2 meter, dengan darah yang keluar dari kepala,lutut dan siku Yang kini membasahi jaket tebalku dengan warna merahnya yang pekat dan dengan baunya yang khas.
'BRUAK'
Dan juga tubuhku di tahan oleh Tanah beraspal dingin dengan kerasnya.
Di tengah-tengah antara sadar dan tidak, aku menoleh ke arah tempat anak yang hampir saja tewas jika tidak ku korbankan nyawaku untuknya.
"Shin, kau tak apa-apa?" tanya laki-laki yang lebih tua dari bocah itu padanya.
"Aku tak apa-apa, Aniki" ucap bocah bernama Shin itu dan sekarang berlari menuju ke tempatku."Terimakasih"
"Sama... sama..., boleh... ku... tahu... s-siapa... nama... mu... nak...?" tanyaku dengan lemah.
"Namaku Shin, Shin Kanzato" jawabnya.
"Shin... ya, nama... yang... bagus. Perkenalkan... namaku Minato... Arisato..." Ucapku sambil tersenyum lemah kepadanya."Dan ingat..., kau... tidak boleh... bermain lagi... di... tengah... jalan... se... per... ti... itu... ya..."
Shin mengnangguk dan akhrinya dia pergi ke orang yang sedikit lebih tua darinya tersebut.
Akupun menengok ke atas langit malam berhiaskan bintang-bintang kecil yang menurunkan butiran saljunya yang putih padaku.
"Yu... kari..."
'NGIK NGUK NGIK NGUK NGIK NGUK'
Terdengar suara sirine mobil ambulance di telingaku.
"Yu... Ka... ri..."
Namun kegelapanlah yang menghampiri pandanganku.
'Tik'
-00-
"Minato..."
Aku mendengar sebuah suara.
"Hey bangunlah..."
Suara seseorang yang menyuruhku bangun.
"Ini malam Natal..."
Yang tak lain adalah suara cempreng namun indah milik Yukari...
-00-
Perlahan-lahan, Diriku membuka kelopak mata.
Agar bisa melihat semua yang ingin kulihat.
Setelah ku buka mataku, ternyata aku berada di sebuah ruangan perawatan.
Namun aku tidak bisa menggerakan badanku yang di karenakan ke habisan darah walaupun masih bisa merasakan semua bagian tubuhku, yang berarti masih tetap utuh.
Aku menengok ke kanan dan mendapati Yukari yang masih terbaring, juga ke adaan di luar jendela yang masih gelap.
"Yu... ka... ri..."
Kugerakan tangan kananku untuk menggenggam lembut tangan kirinyanya, walau jarak ranjang diantara kami sedikit jauh beberapa puluh centimeter. Tapi pada akihrnya, berhasil ku raih.
"A-aku... akan... setia... disini... bersamamu..., menunggumu hingga... sadar... dan... me... nye... rah... kan... cin... cin... tanda... permintaan... maafku... padamu..."
Dengan memandang wajah manisnya yang masih tertidur pulas, sambil tersenyum lemah walau ku tahu, ini juga tidak akan bisa membangunkannya.
'Tik...'
Walau setetes air mata yang ku buat terdengar jatuh dan membasahi lantai. Tapi, tetap juga tidak membuatnya terbangun.
Apakah ini...
Apakah ini yang kuharapkan?
Apakah ini...
Apakah ini kehidupan kami berdua?
Dan apakah ini...
Yang dinamakan 'Cinta'?
Cinta...
Rasanya pahit.
Cinta...
Rasanya menyakitkan.
Dan Cinta...
Akan terasa manis jika kami berdua berhasil melalui ini semua.
Walau tak ada gunanya bertanya seperti itu,
Dan Walau tak ada gunanya menjawab semua pertanyaan bodoh itu.
Yukari... tidak akan bisa bangun.
"Yu... ka... ri..."
Kututup mataku sambil tetap menggenggam tangan kirinya secara lembut, agar kami berdua tak akan pernah bisa terpisahkan.
Walau itu semua hanyalah sebuah ungkapan belaka.
"Mi... na... to..."
Tiba-tiba mataku terbuka saat mendengar seucap kata dari mulut, mulut seseorang yang ku sayangi. Juga merasakan genggaman tangan lembutnya.
"Yukari...?"
Kupanggil namanya, berharap dia bisa bangun.
Akupun memasakan diri untuk bangun dari ranjangku, walu rasa nyerilah yang membantuku. Dan menghapiri tubuhnya yang berusaha terbangun dari tidur panjangnya.
"YUKARI"
Sambil tetap menggenggam tangannya dan meneriaki namanya.
"Minato..."
Perlahan-lahan mata coklatnya mulai terbuka. Untuk bisa melihat seseorang, seseorang yang ada dihatinya.
"Minato"
Dan langsung memelukku dengan meneteskan air mata kebahagiaan yang kurasakan darinya.
"Minato... hiks... jangan lagi meninggalkanku ya... hiks..."
Ucapnya manja sambil menangis bahagia karena melihatku sudah kembali untuknya.
Akupun berhenti memeluknya dan tersenyum kepadanya.
"Aku berjanji Yukari..."
Dan kembali memeluknya.
Hari demi hari kami lalui bersama setelah keluar dari rumah sakit.
Yukari kini nampak lebih cantik di bandingkan saat dia tertidur di atas ranjang putih milik rumah sakit. Senyum khasnya yang indah dapat membuat hidupku lebih bewarna, walau umur adalah batasannya.
-00-
2 tahun kemudian...
Di suatu hari, aku mulai melamarnya di suatu tempat. Tempat yang dulu kami membuat janji. Dan tempat yang dulu membuatku tidur untuk selama-lamanya.
Kami berdua duduk di kursi yang ada di atap gedung SMU Gekkoukan.
"Yukari"
"Ya, Minato sayangku~"
Ucap Yukari dengan nada menggoda dan berhasil membuat pipiku merona merah juga gugup.
"Ma-ma-ma-ma..."
Yukari kini menatapku dengan heran.
"Ma, apa?"
Akhirnya ku ambil sebuah kotak kecil berisi Cincin rubi berbentuk hati bewarna merah mudah dan menunjukannya di hadapannya.
"Maukah, kau... menjadi Istriku, Yukari?"
Tiba-tiba pipi Yukari merona merah bagaikan tomat.
"A-a-a-a..."
Dan juga berkata dengan gugup seperti yang ingin ku ucapkan barusan.
"A, apa?"
Tanyaku dengan senyum jahil.
Kini Yukari akan sungguh-sungguh mengatakannya.
"A-aku mau menjadi Istrimu Minato-kun"
Akhirnya ku kenakan cincin ini di jari manisnya dengan perlahan, juga bersamaan dengan terbenamnya sang mentari yang akan menyimpan cahaya terangnya untuk hari esok, juga hari esok untuk kami berdua jalani bersama bagaikan sepasang kekasih.
-00-
10 bulan setelah pernikahan kami, kini kebahagiaanku bertambah. Karena Yukari telah melahirkan seorang bayi perempuan dengan wajah yang mirip seperti ibunya.
Akupun duduk di samping ibunya yang sedang menggendong putri kecilnya.
"Minato"
Panggil Yukari yang tengah menggendong bayi kami yang munyil.
"Hm, ya Istriku?"
Tanyaku sambil tersenyum senang padanya.
"Bayi kitakan belum punya nama, jadi nama apa yang bagus untuk bayi kita, Minato?"
Aku berpikir sejenak, berharap bisa menemukan sebuah nama yang pantas di berikan oleh bayi kami yang telah lahir ini.
Nama...
Nama yang bisa kau sebut.
Nama...
Nama yang di miliki oleh setiap orang.
Dan Nama...
Nama seseorang Yang selalu kau sayangi.
"Bagaimana kalau Arisato Minako?"
Yukari tersenyum padaku.
"Kedengarannya bagus, benarkan Minako?"
Ucapnya sambil tersenyum kepada Minako yang kini terbangun dan tertawa kecil pada ibunya.
"Hei"
Ucapku yang membuat Yukari lalu menoleh ke arahku.
"Ya Minato?"
"Sepertinya... janji kita untuk pergi bersama ke Destiny land berdua saja tidak akan pernah bisa terwujud"
Yukari mulai heran dengan perkataanku.
"Kenapa?"
"Karenakan ada Minako, jadi kita menjadi bertiga"
Yukari yang mendengar perkataanku pada akhirnya tertawa manis, lalu kemudian berhenti.
"Kalau begitu kita buat janji pergi bertiga saja ke Destiny Land"
"Baiklah, kalau begitu besok lusa kita bertiga pergi bersama ya"
Akhirnya, Janji yang selama ini aku dan Yukari tidak bisa tepati, kini bisa kami tepati bersama dengan Minako.
Walau waktu yang nantinya akan memisahkan kami. Tapi kami tidak peduli, karena kami akan selalu terus bersama hingga akhir hayat kami.
-00-
Sun light yume wo samasu asa no hikari
Mata terashidasu (all over my sight)
Kono sekai
Togireta yakusoku dake hitori kakaete
Mabuta no kinou dake (it's over my blind)
Oikaketa
Stay high wasureteta yo
Konna ni sukitotta SUKAI BURUU
Kitto kimi ga kureta
True feel kagayaki
Itsuka tsunaida te no tsuyosa ni kizutsuite mo
Zettai hanasanai yo
Dear friends
Kono mama zutto
Stray days onaji tsuki wo ikutsu miagetarou
Onaji sayonara wo (We told you so long)
Koeta darou
Itami ga kureru houseki shitteta hazu na no ni
Nakushita hikari dake (You told me what's wrong)
Kazoeteta
Stay high kizukeba hora
Madogoshi mabushii SUKAI BURUU
Kitto asu no DOA ga
Still green hiraku yo
Itsuka meguru toki ga subete wo kaete shimatte mo
Zettai nakusanai yo
Kimi wo
I'll lead the brand new days
Sun light yume wo samasu asa no hikari
Soshite kagayakidasu (It's all up to you)
Kono sekai
Ikiru imi wo yobitsukare utsumuku hi mo aru
Sore demo kokoro ni wa (So look up to you)
Kimi no egao
Stay high wasureteta yo
Konna ni sukitotta SUKAI BURUU
Kitto kimi ga kureta
True feel kagayaki
Yume ga sameru kara de aeru
Atarashii asu ni
Zettai shinjiteru yo
Your faith
Itsudemo zutto
Stay high kizukeba hora
Madogoshi mabushii SUKAI BURUU
Kitto asu no DOA wa
Always green aiteta
New days haru no kaze ni kikoeru graduation
Kyou kara no True days
Kimi to deau mirai he
I'll lead the brand new days
Atarashii kiseki wo koko kara hajimeru shining place nee mou ichido kimi to...
-Find-
Special thanks For:
ATLUS and Staff ATLUS
Thanks Ending Song 'Brand New Days' by:
Lyrics: Tanaka Yuichiro
Composition/Arrangement: Meguro Shouji
Vocals: Kawamura Yumi
Special Thanks Author FanFiction in my Review Story 'Keresahan Hati':
Miru-kun (alias Reader annon 'aaa')
Maya Megumi
Ritzter-Workshop
Thanks for Readers annon in my Review:
Nishimura aya
Nishi
Spesial thanks for Character Persona 3:
Minato Arisato (MC Persona 3)
Yukari Takeba
Junpei Lori
Fuuka Yamaghisi
Akihiko Sanada
Mitsuru Kirijou
Aigis
Ken Amada
Shinjiro Aragaki
Koromaru
Elizabeth
Igor
Spesial thanks for Character Persona 3 Portable:
Minako Arisato (FeMC Persona 3 Portable)
Special Thanks for Character Persona Trinity Soul:
Shin Kanzato (MC Persona Trinity Soul)
Author this Story:
Sp-Cs
Sekian Fict bergenre Angts and Romance dari saya yang berakhir bahagia bagi saya juga para pembaca sekalian.
Yak, ini Good ending dari saya, terima Flame dan sebagainya saya persilahkan, karena Fict ini sedikit menyentuh bagi saya dan juga semuanya yang saya anggap sebagai teman-teman saya.
Mungkin Fict ini tidak sedih, walau itu hanya ada di pikiran saya semata. Jadi...
R&R...
