Keresahan Hati

Disclaimer: Persona 3 milik Atlus

A/N: ending ini terinspirasi dari kisah Orpheus.

Warning: Character is Death... itu saja


Final Chapter (Bad Ending) : Kimi No Kioku

"Mereka baik-baik saja"

Saat Mendengar hal itu dari ucapan Android yang kukenal, aku senang sekali mereka semua baik-baik saja.

"Tapi, Yukari-san telah..."

Tiba-tiba perkataan Aigis membuat Diriku berhenti tersenyum dan mulai membuatku gelisah, apa yang terjadi pada Yukari?

-00-

"Yukari..."

Aku mulai berlari menuju Suatu tempat.

"Ini tidak mungkin..."

'Tik'

Dengan menitihkan air mata kesedihan.

"Kenapa kau meninggalkanku seperti ini?"

'Tik Tik Tik'

Walau derasnya hujan, kutetap pergi ketempat dimana sang 'Eurydice' berada.

"Ke-kenapa?"

Walau diriku, sang 'Orpheus' datang terlambat untuknya.

"Kenapa...Yukari?"

Dan berhentilah di suatu tempat.

Kini yang ada dihadapanku adalah sebuah makam. Makam yang memiliki ukiran sebuah nama dari pemiliknya.

Nama...

Nama seseorang yang selalu berada di dalam lupuk hatiku.

'BRUAK'

Nama...

Nama Seseorang yang dapat membuat diriku jatuh berlutut.

Dan Nama...

Untukku sebutkan namanya.

"Yukari..."

Yang tak lain dan tak bukan nama makam sang 'Eurydice'.

Yukari Takeba
(1992-2011)

"Kenapa, kenapa ini harus terjadi?"

Seharusnya...

Seharusnya aku kembali lebih awal untuknya.

Seharusnya...

Seharusnya aku selalu berada di sampingnya.

Dan Seharusnya...

Kami hidup bersama dalam suka maupun duka.

Tapi...

Semua itu hanyalah mimpi palsu untuk kami berdua jalani.

"Yukari..."

Sakit...

Itulah yang kurasakan.

Sakit...

Saat seseorang yang kucintai sudah tiada.

Dan sakit...

Karena tak bisa melihat senyum cerianya sekali lagi.

Kini, janji yang sebelumnya telah kami berdua buat bersama di atas atap sekolah kami. Selama-lamanya tak akan bisa kami penuhi.

-00-

Hari demi hari kulalui di dalam kamar asrama yang masihku tempati.

Tanpa makan, tanpa tidur.

Dengan tetap masih memeluk kedua lututku.

Dengan rasa bersalah.

Walau semua teman-temanku yang mengetahui kekembalianku mengkhawatirkanku, tapi jika tidak ada 'dia' tetap saja diriku hampa tanpa tujuan.

"Yukari..."

'TOK TOK TOK'

Ku dengar suara ketukan pintu kamarku di ketuk oleh seseorang.

"Hey Dude, kita semua akan pergi ke Wild Duck Burger, kau mau ikut?" ucap Junpei, seseorang yang terus di panggil Stupei oleh 'Dirinya'.

"Terimakasih Junpei, tapi aku tidak lapar" jawabku.

"Baiklah, tapi kau yakin Dude, beberapa hari ini kau terus mengurung dirimu di kamar dan juga kau belum makan apapun. Apa kau tak sakit?" tanya Junpei yang sepertinya khawatir padaku.

Namun, apa gunanya Junpei Khawatir padaku. walau diriku makan apa bisa mengembalikan 'Dirinya' yang sudah tiada?

"Aku masih sehat" jawabku lagi.

"Baiklah Dude" akhirnya Junpei pergi, namun seseorang mengetuk lagi pintu kamarku.

'Tok Tok Tok'

"Siapa?" tanyaku dengan nada sinis.

"ini aku, Fuuka" jawab seseorang yang tak lain Fuuka, perempuan yang tak pandai memeasak dan juga perempuan teman curhat'nya'.

"Ada apa?" tanyaku.

"Minato-san, maukah kau mencoba masakanku? Aku mau tahu pendapatmu tentang masakanku ini" tanya Fuuka yang berusaha membujuku dengan masakan buatannya. Aku tahu masakannya enak, karena aku pernah mencicipinya saat masuk ke dalam kamarnya sewaktu masa SMA.

"Aku yakin masakanmu masih enak seperti dulu Fuuka, sana pergi jangan ganggu aku!" ucapku kasar padanya, tapi tetap Fuuka tidak salah apa-apa padaku dan ini pertama kaliku berkata kasar pada seorang perempuan.

"Ba-baiklah" akhirnya Fuuka pergi, namun sekali lagi seseorang mengetuk pintu kamarku.

'Tok Tok Tok'

"Apa lagi?" tanyaku dengan nada sinis sekali lagi.

"Ini aku Akihiko, aku mau mengajakmu pergi ke Hagakure Bowl, aku yang teraktir" ucap Akihiko.

"Tidak, makasih" jawabku dan akhirnya dia pergi. Tapi sekali lagi seseorang mengetuk pintu kamarku.

'Tok Tok Tok'

"Siapa lagi sih?" tanyaku dengan tetap memakai nada sinis karena resah selalu di ganggu oleh mereka.

"Ini aku Mitsuru" ucap seorang perempuan yang tak lain adalah Mitsuru Kirijou.

"Ada apa?" tanyaku.

"Arisato, jika kau tak keluar dalam hitungan detik, aku akan mengeksekusimu!" ancam Mitsuru padaku.

"Silahkan Eksekusi sesuka hatimu, untuk apa aku takut? Aku sudah tidak punya lagi yang namanya tujuan hidup" jawabku dengan sinis.

"Ka-kau, baiklah, terserah kau saja dan asal kau tahu. Amada, Koromaru, Yamaghisi, Lori, Akihiko, Aigis bahkan aku sangat mengkhawatirkan kesehatanmu" ucapnya.

"Terus apa pedulimu dan mereka? Walaupun kalian khawatir padaku, apakah Yukari bisa hidup lagi? tidakkan" jawabku terlalu sinis.

"Arisato, terserah kau saja dan jika kau ingin menemui kami semua, kami berada di ruang tamu." lalu akhirnya, Suara Mitsuru tidak terdengar lagi.

"Yukari..." gumamku yang tentu saja tidak akan membuat dirinya kembali.

Andai ini hanyalah mimpi, aku pasti senang karena bisa terbangun dari mimpi buruk ini.

Berhari-hari terus kulalui di dalam kamarku dengan perasaan rasa menyesal.

Menyesal...

Menyesal karena kembali tidak tepat waktu.

Menyesal...

Menyesal karena tidak menempati janji yang telah kami berdua buat.

Dan Menyesal...

Karena memarahi semua temanku yang telah mengkhawatirkanku.

Kini, aku mulai berdiri dan menuju pintu keluar kamar untuk menemui mereka dan segera meminta maaf kepada mereka semua atas perilaku burukku.

Setelah sampai di ruang tamu, kekosonganlah yang menyapaku. Kulihat secarik kertas yang menantiku di atas meja untukku baca.

Kubuka kertas itu dan membacanya.

'Untuk Minato,'

'Kami semua berada di Wild Duck Burger. Jika kau mau menyusul kami, silahkan pergi ke Wild Duck Burger, kami ada sampai tengah malam.'

'Salam hangat walau hari ini musim bersalju yang dingin,'

'Aigis'

Saat selesai membaca surat tulisan dari Aigis yang masih dengan polos cara membuat suratnya, akupun melihat jam yang menunjukan jam 3 sore.

Akhirnya kuputuskan langsung menemui semua teman-temanku dengan di temani MP3 lamaku yang masih berfungsi dan jaket coklat tebal karena musim ini adalah musim dingin yang bersalju.

Sebelum sampai di tempat tujuan, aku mampir dulu ke Kuil Naganaki untuk berdoa di sana dan setelah itu tanpa sadar melihat setangkai bunga krisan dan segera memetiknya.

Akupun berjalan lagi namun bukan ke tempat teman-temanku yang sedang menunggu diriku, melainkan pergi ke makam Yukari untuk memberi bunga Krisan ini sebagai permintaan maaf 'terlambat kembali untuknya'.

Saat aku mau menyeberangi jalan di perempatan jalan, ku lihat seorang bocah berumur 8 tahun berambut coklat sedang mengambil bola sepaknya di tengah jalan.

'NGEEEEEENG...'

'TUT TUT...'

Tiba-tiba sebuah truk dengan kecepatan tinggi melaju kencang ke arah bocah tersebut, namun bocah tersebut belum menyadarinya.

"SHIN AWAS!" teriak seorang laki-laki yang usianya lebih tua darinya, namun tidak di hiraukan oleh bocah yang di panggilnya Shin tersebut.

'TUT TUT...'

Truk itu semakin mendekat ke anak itu untuk mengambil nyawanya.

Akupun segera berlari sekencang mungkin untuk menyelamatkan anak itu, tapi truk itu semakin cepat melaju.

"Sial, kalau begitu." Akhirnya, aku mendorong bocah itu dengan kerasnya agar dia bisa selamat dari tabrakan maut itu, tapi tidak bagiku yang kini menatap sesosok 'Thanatos' yang akan menusukku dengan pedangnya.

'TUT TUT...'

'CIIIIIIIIT...'

'BRUAK'

Akhirnya, diriku terpental melayang jauh sejauh 5 meter. Dengan tetap menggenggam bunga krisan yang akanku berikan untuknya, walau tanpa kelopak kuning indahnya yang kini di ganti oleh lumuran darah segar yang mengalir dari dalam diriku, Juga MP3 yang terlepas begitu saja dan hancur menjadi benda tak berguna.

'BRAK'

Dan terjatuh di atas kerasnya aspal dingin yang bagai menahan tubuhku dengan kasarnya.

Di tengah-tengah antara sadar dan tidak, aku menoleh ke arah tempat bocah yang hampir saja tewas jika tidak ku korbankan nyawaku untuknya.

"Shin, kau tak apa-apa?" tanya laki-laki yang lebih tua dari bocah itu padanya.

"Aku tak apa-apa, Aniki" ucap bocah bernama Shin itu dan sekarang berlari menuju ke tempatku."Terimakasih"

"Sama... sama..., boleh... ku... tahu... s-siapa... namamu... nak...?" tanyaku lemah.

"Namaku Shin, Shin Kanzato" jawabnya.

"Shin... ya, nama yang... bagus. Perkenalkan... namaku Minato... Arisato..." Ucapku sambil tersenyum lemah kepadanya."Dan ingat..., kau... tidak boleh... bermain lagi... di... tengah... jalan... seperti itu... ya..."

Shin mengnangguk dan akhrinya dia pergi ke orang yang sedikit lebih tua darinya tersebut.

Akupun menengok ke atas langit yang menurunkan butiran salju putihnya padaku sambil tetap menggenggam erat bunga krisan yang kini tidak berbentuk lagi. Dengan darah yang terus keluar dari kepalaku, lengan kananku dan siku kaki kiriku.

"Yukari..."

Perlahan-lahan aku berusaha bangkit.

"Aku... tidak... boleh... s-santai... saja... di... sini..."

Untuk pergi ke tempat peristirahatannya yang terakhir.

"Harus... ke... tem... patnya... un... tuk me... nye... rah... kan... bunga... ini..."

Tapi sayang, bunga yang ku pegang benar-benar sudah hancur.

"Bunga... nya..."

'Tik'

"han... cur..."

Tiba-tiba ada seseorang yang menarik-narik Jaketku yang berlumuran darah dari belakang. Aku akhirnya menengok ke belakang dan mendapati seorang bocah yang bernama Shin Kanzato membawakan satu ikat bunga Krisan.

"Ini, sebagai permintaan maafku untuk kakak" ucap Shin sambil memberikanku satu ikat penuh bunga Krisan.

Akupun tersenyum padanya.

"Teri... ma... kasih..." ucapku sambil mengambil bunga itu dengan lemasnya karena telah banyak kehilangan darah.

'NGIK NGUK NGIK NGUK NGIK NGUK'

Ambulance dan Polisipun terlambat datang, turunlah seorang petugas Ambulance yang menghampiriku. Sedangkan para Polisi sibuk menangkap pengemudi truk yang ternyata pengemudi itu sedang mabuk saat mengemudikan truknya.

"Hei kau, apa kau tak apa?" tanya petugas ambulance itu.

"aku... baik... baik... saja..." jawabku dengan keadaan setengah sadar.

"Tapi lihatlah dirimu, kau telah banyak kehilangan darah." Ucap petugas itu tapi aku tetap tidak memperdulikannya.

"Sudah ku bilang... aku baik... baik... saja..." setelah mengucapkan kalimat itu, aku membalikan diri untuk pergi ketempat yang aku tuju. Walau orang-orang di sekitarku merasa heran dengan tingkah lakuku yang akan segera mati jika tidak di tolong secepatnya.

"Hei, tunggu!" teriak petugas itu namun aku tak peduli.

Shin tiba-tiba menarik-narik lagi jaket berdarahku.

"Kakak, kakak pergi ke suatu tempatkan? Boleh aku antar" ucapnya sambil memandangiku.

"Baiklah" ucapku dan Shin berusaha membopongku di tengah-tengah perjalanan menuju ke tempat yang aku tuju. Tapi tidak lama kemudian, sebuah mobil polisi menghampiriku dari samping.

"Hei kau!" teriak seorang petugas berpakaian polisi kepadaku. Namun aku tak peduli.

"Jika kau mau, aku akan mengantarmu" tawarnya yang dapat membuatku berhenti karena kaget.

"Su-sungguh..." tanyaku dan diapun mengangguk.

-00-

Tidak lama kemudian, akhirnya aku sampai di depan makam Yukari.

"Kakak, ini kuburan orang yang paling penting bagi kakak ya?" tanya Shin dengan polosnya.

Aku kembali tersenyum lemah padanya.

"Ya... begitulah..." ucapku dan memberikan seikat penuh bunga krisan kuning ini, pada makam Yukari.

"Baiklah, karena kau sudah kuantar ke tempat yang kau tuju, kini aku akan membawamu ke rumah sakit ya." Ucap petugas polisi itu.

"Terima kasih... tapi seper... tinya... su... dah... ter... lam... bat..."

'BRUAK'

Akupun terjatuh lemah tak berdaya karena tubuhku benar-benar ke habisan darah.

"Hei!" Teriak Petugas polisi itu yang sepertinya khawatir padaku.

"Kakak!" Teriak Shin yang juga ikut-ikutan khawatir padaku.

"Kau tak apa-apa?"

"Tidak... apa-apa..., boleh... ku... tahu... s-siapa... nama... an... da...?" tanyaku yang kini di pangku oleh petugas polisi tersebut.

"Tetsuya, namaku Tetsuya Suou" ucap petugas itu dengan nama Tetsuya Suou.

"Bolehkah... sebelum... aku... pergi..., apakah... kau... bisa meng... ngan...tarkan... bocah ini... pulang... Tetsuya... -san...?" ucap permintaanku pada Tetsuya.

"Baiklah" ucap Tetsuya sambil mengangguk pelan dengan tampang serius padaku

"Kakak..." Shin kini benar- benar khawatir padaku.

"Shin... aku tak apa... apa... tapi se... be... lum... kita... berpisah... aku... hanya... ingin... bi... lang... satu hal... pada... mu..." ucapku yang kini semakin lama mulai tak sadarkan diri sambil membelai rambut coklatnya dengan lemah lembut.

"Apa itu kak?"

"Terima... kasih... karena... telah... mengan... tarkan... ku ke... tem... pat terak... hirku... i... ni... dan... juga... terima... kasih... atas... seikat... bu...nga... kri...san... yang... telah... kau... beri... kan... pa... da... ku..."

"Sama-sama... hiks... kak... hiks..." ucap Shin yang kini mulai menangis.

"I... ingin... s...sekali... aku... mem... balas... nya... tapi... ma... af... kan... aku... Shin..." Aku kemudian memandang Tetsuya "Tet... su... ya... -san... an... tar... kan... lah... anak... ini... kem... ba... li... pu... lang... ke... ru... mah... nya... se... ka... rang... juga..." ucapku dan pandanganku kini semakin kabur.

"Baiklah." ucap Tetsuya sambil mengangguk padaku dan membawa Shin pulang kembali ke kekeluarganya.

Dengan meninggalkanku yang kini tak berdaya, tapi itulah permintaan terakhirku.

"Yu... ka... ri..."

Akupun merangkak lemah menuju samping makam Yukari.

Setelah sampai di samping makamnya, Perlahan-lahan mataku mulai terasa berat.

"A-aku..."

Semakin lama semakin menutup.

"A... akan... me... nu... ju... ke... tem... pat..."

Disusul oleh sang mentari yang akan terbenam dan menyimpan sinarnya untuk hari esok.

"Dimana... kau... ber...a... da..."

walau tidak akan ada lagi, hari esok untukku saat ini.

Jiwakupun keluar dari dalam tubuh, meninggalkan dunia Fana yang kejam ini.

Tiba-tiba sebuah Kupu-Kupu dengan sayap berwarna merah mudah berada di hadapanku dan menjadi sosok orang yang kusayangi, yaitu sosok Yukari. Yukari lalu mengulurkan tangan kanannya ke arahku ini, seperti akan mengajakku ke suatu tempat.

"Minato..."

"Yukari..."

Akupun menerima uluran tangannya dengan senang hati dan sebuah cahaya biru dan merah muda mengubah kami menjadi wujud Kupu-Kupu bersayap Biru muda dan Merah mudah.

Akhirnya kami berduapun terbang bersama menuju ke suatu tempat, tempat dimana kami berdua tidak akan pernah terpisahkan untuk selama-lamanya.

Dan saat itu, adalah saat bahagia untukku. Dimana aku bisa bersama dengannya, bagaikan cerita Orpheus yang bahagia bersama Eurydice.

"Minato, sini kalau bisa tangkap aku..."

"Yukari, awas kau ya kalau berhasilku tangkap..."

Dengan akhir yang begitu sedih namun bahagia buat dirinya karena bisa bersama dengan kekasihnya untuk selama-lamanya.

"Minato, berjanjilah kau tak akan lagi meninggalkanku..."

"Aku berjanji, Yukari..."

Dan juga akhir untuk kami berdua bersama, untuk selamanya. Dengan janji yang tak bisa kami tepati bersama.

-00-

Kaze no koe hikari no tsubu madoromu kimi ni sosogu

Wasurenai yasashii hohoemi kanashisa ni kakushita hitomi wo

Negau koto (tsurakutemo) tachimukau yuuki kimi ni moratta yo dakara yuku ne

Yume no naka (mezametara) mata aeru yo

Tooi kioku mune ni hime utau

Hakanaku tayutau sekai wo kimi no te de mamotta kara

Ima ha tada tsubasa wo tatande yukkuri nemuri nasai

Eien no yasuragi ni tsutsumarete love through all eternity

Yasashiku mimamoru watashi no kono te de nemuri nasai

Waratteta naiteta okotteta kimi no koto oboete iru

Wasurenai itsumademo kesshite until my life is exhausted

Kousaten kikoete kita kimi ni yoku nita koe

Furimuite sora wo aogimiru koboresou na namida koraete

Ashita koso (itsu no hi ka) mou ichido kimi ni aeru to shinji hitori mayoi

Ame no yoru (hareta asa) machitsudzukete

Wasurenai yo kakenuketa yoru wo

Mabayuku kagayaku hitotoki minna to issho datta

Kakegae no nai toki to shirazu ni watashi ha sugoshite ita

Ima ha tada taisetsu ni shinobu you I will embrace the feeling

Kimi ha ne tashika ni ano toki watashi no soba ni ita

Itsudatte itsudatte itsudatte sugu yoko de waratte ita

Nakushitemo torimodosu kimi wo I will never leave you

Hakanaku tayutau sekai wo kimi no te de mamotta kara

Ima ha tada tsubasa wo tatande yukkuri nemuri nasai

Eien no yasuragi ni tsutsumarete love through all eternity

Yasashiku mimamoru watashi no kono te de nemuri nasai

Waratteta naiteta okotteta kimi no koto oboete iru

Wasurenai itsumademo kesshite until my life is exhausted

Mabayuku kagayaku hitotoki minna to issho datta

Kakegae no nai toki to shirazu ni watashi ha sugoshite ita

Ima ha tada taisetsu ni shinobu you I will embrace the feeling

Kimi ha ne tashika ni ano toki watashi no soba ni ita

Itsudatte itsudatte itsudatte sugu yoko de waratte ita

Nakushitemo torimodosu kimi wo I will never leave you

-Find-


Special thanks For:

ATLUS and Staff ATLUS

Thanks Ending Song 'Kimi No Kioku' by:

Vocals: Kawamura Yumi

Trinity Soul Mix Vocals: Kita Shuuhei

Lyrics: Komori Shigeo

Music: Meguro Shouji

Special Thanks Author FanFiction in my Review Story 'Keresahan Hati':

Miru-kun (alias Reader annon 'aaa')

Maya Megumi

Ritzter-Workshop

Thanks for Readers annon in my Review:

Nishimura aya

Nishi

Spesial thanks for Character Persona 3:

Minato Arisato (MC Persona 3)

Yukari Takeba

Junpei Lori

Fuuka Yamaghisi

Akihiko Sanada

Mitsuru Kirijou

Aigis

Ken Amada

Shinjiro Aragaki

Koromaru

Elizabeth

Igor

Special thanks for Character Persona 2:

Tatsuya or Tetsuya Suou (MC Persona 2)

Special Thanks for Character Persona Trinity Soul:

Shin Kanzato (MC Persona Trinity Soul)

Author this Story:

Sp-Cs

Sekian Fict bergenre Angts and Romance dari saya yang menyakitkan bagi saya juga para pembaca sekalian.

Silahkan yang mau ngeflame, karena saya juga sedih kenapa saya menceritakan Pertemuan sepasang kekasih yang berakhir dengan tragis seperti ini. Walau itu hanya yang ada di pikiran saya.

Jangan lupa silahkan...

R&R