Hari ini adalah salah satu hari terbaik musim semi di jepang.

Sepasang kekasih duduk berdua di kursi taman, mereka duduk tepat di baah sebuah pohon sakura yang bunga nya bermekaran. Mereka menghirup udara di sekitar mereka yang harum nya begitu menenangkan. Yang bersurai Blonde menoleh kepada yang bersurai hitam.

"apa yang ingin kau bicarakan?"

Tanya Soonyoung, Si surai Blonde memecah keheningan.

"ayo kita akhiri."

Jawab Mingyu, si surai hitam dengan begitu tenang nya. Sementara Soonyoung hanya memandang Mingyu tak percaya.

"kenapa?"

Rasanya Soonyoung ingin tuli saja, jadi ia tak bisa mendengar apa yang tadi di ucapkan Mingyu.

"karena kita berbeda pendapat, jadi kita akhiri saja."

Dan setelah itu Mingyu pergi meninggalkan Soonyoung yang hanya bisa menatap kepergian Mingyu.

Still Loving You

Craz Present

A SEVENTEEN FICTION

MINSOON Mingyu X Soonyoung

Warn ! Typo(s), bacaan nya amburegul /author nya pun amburegul/ de el el

Hari ini adalah salah satu hari terbaik musim semi di korea selatan.

Dan Mingyu hanya diam di kamar nya. Terpaku di depan laptop nya. Tugas kantor nya sedang menumpuk, dan –sialnya- Mingyu malah demam, jadilah sekretaris nya mengirimkan tugas nya ke apartement.

"Hyung, kau mau coklat panas?"

Seungkwan, sekretaris Mingyu masuk dengan seenaknya ke kamar Mingyu yang tampak sedikit berantkan.

"kopi saja."

Gumam Mingyu yang masih terpaku pada layar Laptop nya.

"ah, aku tidak mau membuat kopi untukmu, nanti malah tidak di minum. Kau kan yang bilang sendiri kalau kau hanya mau minum kopi buatanmu sendiri atau meminum kopi yang di buat Soonyoung hyung."

Gerakan jemari Mingyu terhenti saat mendengar kalimat terakhir Seungkwan, sementara Seungkwan yang baru sadar dengan apa yang baru saja ia katakan hanya bisa menutup mulutnya.

"Boo Seungkwan, kembalilah ke kantor."

Seungkwan mengangguk cepat mendengar perintah Mingyu, mengambil tas nya lalu membereskan barang nya, kemudian berlari dengan cepat keluar dari apartement Mingyu.

Hening.

Sudah tiga puluh menit Seungkwan pergi dari apartement nya, dan sudah tiga puluh menit Mingyu terdiam, tak bergerak seinchi pun. Fikiran nya yang sedari pagi kacau, semakin kacau saat mendengar nama mantan kekasih nya.

Dengan perlahan, Mingyu menutup beberapa map laporan yang tadi di bawa Seungkwan, menutup Laptop nya, lalu memilih berjalan perlahan kearah kasur king size nya yang tampak lebih luas dari biasa nya.

Oh, tentu saja, karena sekarang hanya ia seorang yang tidur di atas kasur luas itu.

Mingyu berbaring perlahan, mencoba untuk menutup matanya dan tertidur dengan tenang. Tapi ia tak bisa tidur, karena sekarang hatinya sakit, seakan di remas dengan begitu kuat nya.

"aku masih mencintaimu, Soonyoung."

Gumam Mingyu yang kini menatap hampa ruang kosong di samping nya.

Jauh dari apartement Mingyu, ada Soonyoung yang terduduk di dekat jendela kaca apartement Junghan.

Soonyoung duduk memeluk kaki nya, tak jauh dari nya, ada ponsel nya yang tergeletak begitu saja. Soonyoung menatap ponsel nya dengan sendu. Biasanya, ponsel nya tak pernah sepi, pasti ada banyak pesan masuk dari Mingyu dan pasti ada sesi telpon romantic Mingyu di siang dan malam hari. Tapi setelah mereka berpisah, semua itu berhenti –tentu saja-, dan dia begitu merindukan semua itu.

Soonyoung merindukan Mingyu dan segala sesuatu yang pernah Mingyu lakukan dulu saat mereka bersama.

"Young, ayo makan siang."

Junghan berujar lembut, tapi Soonyoung tak merespon, karena Soonyoung masih bergulat dengan fikiran nya.

Junghan yang melihat Soonyoung seperti itu meringis kecil, jika patah hati efek nya seperti itu, maka Junghan tak mau patah hati.

"sayang, ayo makan."

Seungcheol muncul di belakang Junghan, membawa kekasih nya kedalam pelukan nya.

"tapi Soonyoung juga harus makan."

Ujar Junghan yang di angguki Seungcheol.

"nah, sekarang kau ke ruang makan, nanti aku yang bawa Soonyoung untuk makan siang bersama."

Junghan tersenyum kecil, lalu mencium pipi Seungcheol. Giliran Seungcheol yang menatap Soonyoung, ia menghela nafas berat melihat kondisi Soonyoung, patah hati membuat orang terberisik di dunia jadi pendiam, benar benar mengerikan.

"Soonyoung, ay-"

Ding!

Soonyoung bergerak mengambil ponsel nya dengan cepat, membuka notifikasi ponsel nya, dan ternyata yang mengirim pesan adalah Hansol, bukan Mingyu. Senyuman Soonyoung yang tadi berkembang kembali menghilang.

Seungcheol menghela nafas lagi, lalu berjalan untuk mengangkat Soonyoung.

"kau butuh makan, jadi ayo makan siang bersama."

….

….

….

"berikan aku alasan yang paling benar ; kenapa kita harus meeting di sebuah café?"

Seungkwan mengkerut, jiwa diva nya seakan hilang begitu saja saat di tatap tajam oleh Mingyu.

"errr, itu karena Hoseok-ssi yang minta."

Jawab Seungkwan ragu ragu, Mingyu yang melihat Seungkwan yang seperti itu menghela nafas, lalu melangkah masuk kedalam café.

"lain kali aku tid-"

"Mingyu?"

Langkah Mingyu terhenti.

Sekarang. Di hadapannya. Ada Soonyoung yang kini bersurai coklat, yang sedang di rangkul seorang pria wajah blasteran, dan rasanya Mingyu ingin menarik Soonyoung dan menonjok wajah blasteran itu karena sudah berani menyentuh milik-nya.

Oh, Mingyu lupa, Soonyoung bukan milik nya lagi sekarang.

Dan kenapa Soonyoung terlihat lebih bersinar sekarang?

Kenapa matanya terlihat lebih indah sekarang?

Dan kenapa surai coklat itu terlihat begitu lembut dan pas dengan Soonyoung?

Kenapa Soonyoung jadi terlihat begitu indah setelah berpisah dengan nya?

"Oh, Hansol-ssi. Annyeong hasaeyo."

Mingyu mengernyitkan kening nya saat melihat Seungkwan membungkuk hormat pada si wajah blasteran.

"Kau kenal dia, Seungkwan?"

Seungkwan tersenyum kecil, lalu mengangguk antusias.

"ah, dia anak Tuan Choi, pemilik DF Corp."

Jawab Seungkwan begitu antusias.

"namaku Choi Hansol, salam kenal. Dan ini Kwon Soonyoung, dia-"

Mingyu tak perduli dengan sapaan ramah Hansol. Dia tak perduli meeting nya dengan clien. Dia tak perduli apapun. Ia hanya perduli pada Soonyoung.

Dan dengan pemikiran itu, Mingyu menarik tangan Soonyoung dan membawa nya pergi dari café itu.

"Kim Mingyu! Kita mau kemana?"

Mingyu tak perduli dengan tangan Soonyoung yang sedari tadi menarik lengan nya.

"Kim Mingyu! Apa apaan kau ini? Kau berniat menculikku?"

Pekik Soonyoung yang membuat Mingyu meoleh pada nya.

"apapun itu, asal kau tidak bersama dengan Choi Fucking Hansol itu!"

Soonyoung yang mendengar jawaban Mingyu terdiam. Tapi kemudian kembali tersadar.

"apa urusanmu? Kita sudah berakhir, itu yang kau minta, jadi kau tidak ada hak apapun padaku."

Soonyoung mengungkapkan isi hati nya dengan nada bergetar, air mata nya hampir jatuh, tapi ia tak mau jika harus menangisi Mingyu. Mingyu tertegun mendengar ucapan Soonyoung.

"apa maumu Kim Mingyu?"

Soonyoung bertanya dengan lirih, sementara Mingyu tetap membisu, memilih terus melajukan mobil nya menuju rumah salah satu teman nya.

"Kim Mingyu, aku baru saja akan memulai lembaran baru tanpamu."

Lirih Soonyoung yang kini memilih melihat keluar jendela daripada harus menatap wajah tampan Mingyu.

"tidak! Kau tidak bisa dan tidak akan pernah bisa hidup tanpaku."

Geram Mingyu yang kini menghentikan laju mobilnya. Lalu membawa Soonyoung menuju rumah Jihoon. Sementara sang pemilik rumah yang tadi nya sedang mencuci mobil hanya mengernyit bingung.

"aku pinjam kamar atas hyung."

Ujar Mingyu yang langsung masuk rumah Jihoon. Sementara Jihoon hanya mengernyit bingung.

"apa yang kau mau?"

Soonyoung menatap tajam Mingyu.

Saat ini, Soonyoung duduk di atas ranjang kecil salah satu kamar di rumah Jihoon. Sementara Mingyu duduk di kursi kecil di hadapan nya.

"kau kembali padaku."

Jawab Mingyu yang membuat Soonyoung kesal.

"KENAPA AKU HARUS KEMBALI PADAMU? KAU YANG MEMINTA PUTUS, DAN SEKARANG DENGAN SEENAKNYA MINTA KEMBALI? KAU FIKIR INI MUDAH?"

Soonyoung berteriak. Ia meneriakkan seluruh beban nya dalam hati, dan ia merasa dirinya lebih lega sekarang. Sementara yang diteriaki hanya diam memejamkan matanya.

"maafkan aku."

Gumam Mingyu, Soonyoung menatap tajam Mingyu.

"Maaf? Dengan mudah nya kau bilang maaf? Kau tidak tau-"

"YAH KALIAN YANG DI DALAM KAMAR! HENTIKAN PERTENGKARAN KALIAN YANG LEBIH MEMUAKKAN DARI DRAMA DRAMA DI TELEVISI, DRAMA PECINTAAN KALIAN HANYA MEMBUAT ORANG KESUSAHAN."

Ucapan Soonyoung terpotong oleh teriakan Jihoon di balik pintu kamar yang mereka tempati.

"Jihoon Hyung, jangan mengganggu kami."

Jawab Mingyu yang mengerti kekesalan Soonyoung karena ucapan nya terpotong.

"Oh Tuhan, demi gitar ku yang begitu indah. Kalian itu pasangan paling memuakkan yang pernah aku temui. Baru putus sepuluh hari, lagaknya seperti sudah putus satu tahun saja. Sudah begitu alasan putus kalian juga begitu kekanakkan."

"siapa yang kekanakan?"

Pekik Mingyu tidak terima.

"ya kalian lah, masa putus Cuma karena berbeda pendapat tentang warna rambut. Lalu masa galau kalian juga menyusahkan banyak orang. Mingyu menyusahkan Seungkwan, Soonyoung menyusahkan Junghan Hyung. kalian benar benar pasangan yang memuakkan."

Soonyoung mempoutkan bibir nya saat mendengar umpatan Jihoon, sementara Mingyu hanya bisa terkekeh geli.

"kalau di fikir, benar juga. Kita kekanakan ya?"

Ujar Mingyu yang kini duduk di samping Soonyoung.

"siapa? Kau mungkin iya. Kau kan yang memutuskanku saat aku bilang mau mengganti warna rambutku jadi coklat."

Soonyoung memukul kepala Mingyu, sementara yang di pukul hanya bisa meringis kecil, lalu kembali terkekeh.

"itu karena warna coklat akan membuatmu lebih manis, dan aku tidak mau orang lain melihat itu."

Jawab Mingyu. Soonyoung yang mendengar jawaban Mingyu langsung merona.

"tapi aku bosan dengan Blonde, kata Jihoon Blonde malah membuatku terlihat jelek."

Mingyu menarik Soonyoung ke pelukan nya, lalu mendekapnya dengan erat.

"tidak, tidak. Kau terlihat begitu sempurna di mataku."

"ben-"

"YAH DUA MAKHLUK MENJIJIKAN! CEPAT KELUAR DARI KAMAR ITU DAN PERGI DARI RUMAH KU! AKU TAK MAU MENDENGAR DRAMA MENJIJIKAN LEBIH LAMA LAGI."

Mingyu dan Soonyoung menatap datar Jihoon yang berhasil membuka pintu kamar.

"oke oke, kita pindah."

Jawab Mingyu yang langsung menarik Soonyoung.

"kita lanjutkan pembicaraan kita di apartement."

Gumam Mingyu yang di angguki Soonyoung. Sementara Jihoon yang melihat dua makhluk aneh itu hanya bisa berwajah datar.

End

Fict satu ini mengecewakan ya?

Entahlah, hari ini saya lagi aneh? –ini mah setiap hari-

/lirik keatas/ absurd banget, siapa yang ngetik sih? /lupa diri/

Saya cinta kalian para readers~ apalagi kalian yang review fict aneh Craz ehe ehe

Maafkan aku kalau aku membuatmu menjadi pecinta Hoshi uke, ehe ehe.

Yang pasti, saya melakukan semua ini karena saya suka, ehe ehe.

/terbang bareng jozwa/