The Watched
Author: xxBubbleandTroublexx
Translator: meongmungee
Characters: Baekhyun, Kai, EXO
Survive
(Bertahan)
.
.
.
Peraturan pertama untuk bertahan hidup adalah selalu kenali musuhmu. Selalu. Peraturan kedua adalah selalu ketahui dimana musuhmu. Jika kau bisa melihat mereka, mendengar mereka, merasakan mereka….. maka mereka tidak bisa diam-diam mendekatimu, mengakalimu, atau membunuhmu. Baekhyun mengetahui musuhnya, hanya saja ia tidak tahu dimana mereka berada.
Hal itu berbahaya.
Baekhyun mengintai kedalam hutan, mencari tanda-tanda adanya pergerakan. Tidak ada apapun, tapi itu bukan berarti mereka tidak ada di luar sana. Menghela napas, ia membenarkan genggaman pada pisaunya. Ia melanjutkan patrolinya kedalam hutan. Ia sudah melewati jalur ini ribuan kali, cukup sering hingga ia bisa melewatinya dengan mata tertutup. Ia tahu setiap pohon, setiap batu, dan setiap jebakan maut yang tersembunyi. Ia tahu bagaimana seharusnya ia merasa aman.
Dan hari ini sesuatu terasa aneh.
Baekhyun membunyikan buku jarinya, ia bergerak gelisah. Ia tidak terlalu jauh dari Desa, namun cukup jauh hingga seandainya the Infected datang maka ia akan berada dalam masalah. Ia berhenti sejenak, Apa yang harus dilakukan?
Beberapa saat berlalu, dan akhirnya Baekhyun menarik napas panjang dan melanjutkan perjalanannya. Rencananya, seperti biasa, adalah untuk mengikuti jalur dan memeriksa aktivitas the Infected. Sebagai penjaga, dan bukannya seorang prajurit, itu merupakan bagian dari tugas Baekhyun….tapi biasanya ia bersama dengan seseorang. Berada seorang diri, dibalik dinding Desa, dimana bahkan burung-burung pun terdiam, membuatnya ketakutan.
Tapi tetaplah berjalan, jika sesuatu yang buruk akan terjadi, the Watchers tidak mungkin mengirimku kemari….kan?
Tapi the Watchers pernah mengirim banyak penjaga sebelumnya. Beberapa telah kembali. Beberapa dari mereka tidak. Apa yang membuatmu berbeda?
KRAK!
Baekhyun membeku, tidak berani bernapas. Suara itu muncul dari sebelah kirinya, dari dalam hutan yang lebat. Ia berada di tengah-tengah perjalanan ke bukit curam, ia hanya memiliki pisau sebagai senjata. Jika the Infected menyerbunya sekarang, maka satu-satunya tempat untuk kabur adalah sebelah kanannya….tidak ada apa-apa kecuali jurang. Baekhyun benci ketinggian. Ia hampir saja lebih memilih terinfeksi.
Itu adalah pikiran yang terlarang. The Brotherhood telah memperingatkan orang-orang terus-menerus, "kematian lebih baik daripada menjadi Infected. Membunuh keluarga dan temanmu lebih baik daripada menjadi Infected, apa saja dan apapun lebih baik daripada menjadi Infected."
Swwwwwiiiiiiissssshhhhhh…..
Baekhyun terlonjak. Itu sudah pasti sesuatu dan itu bukan angin. Ia menggenggam pisaunya hingga buku jarinya memutih. Jantungnya sudah berhenti berdetak, membuat dirinya sesak dan khawatir. Jalan, pikirnya. Jalan saj-
Sebuah raungan terdengar keras di seberang hutan. Baekhyun melenguh kaget saat dua Infected menyerbu dari balik pepohonan. Melompat-lompat dari dasar hutan, berusaha naik ke bukit langsung kearahnya. Oke, cuma dua, aku bisa mengatasi dua. Terdengar suara dentuman lagi, Ia melihat keatas bukit. Sial. Infected lagi,dan tiba-tiba ada lebih banyak dari sekedar dua. Mereka menyerbunya dari kedua sisi, mata melotot keluar dan daging membusuk.
Baekhyun menegapkan tubuhnya untuk melindungi dirinya saat the Infected pertama meraihnya. Ia adalah seorang pria (dulunya pria) kurus dan tidak lebih dari sekerangka tulang. Ia menggeram, berusaha menyerang lehernya. Baekhyun melemparkan pisaunya, mengenai wajahnya. Ia tidak bergerak mundur, bersiap untuk menyerang kembali. Baekhyun menusuknya di leher dengan ganas, membuatnya tersungkur di tanah. Yang lainnya melompat kearahnya, ia tidak punya waktu untuk menangkis atau menghindarinya sebelum ia menabraknya, membuat mereka berdua jatuh ke tanah.
TIDAKKKKK! Baekhyun menahan teriakannya, menendang the Infected itu jauh-jauh. Ia membuka mulutnya lebar-lebar di depan Baekhyun, mulut menganga penuh dengan gigi-gigi yang membusuk. Aku. Tidak. Bisa. Meninggalkan. Kyungsoo! Baekhyun menendang lagi, menumbuk mulut the Infected itu. Ia terguling-guling dari bukit, berteriak nyaring. Baekhyun bangkit, terengah dan ketakutan. Tiba-tiba ia tersadar ia tidak sedang waspada. Ia tidak tahu dimana musuhnya.
Salah satu Infected menabraknya dari belakang. Kehilangan keseimbangan, ia terdorong ke depan. Ia meredam teriakannya, ujung jurang ada tepat di depannya. The Infected menyerangnya lagi, tangannya meraih lehernya. Baekhyun melayangkan pisau di belakangnya, menusuk secara membabi buta. The Infected menjerit saat pisau itu mengenainya. Tubuhnya jatuh ke depan, menabraknya lagi. Tidak, Tidak, Tidak, Tidak-K-K-K! Baekhyun berteriak saat ia jatuh dari bukit.
.
.
.
Aduh….Aku…Sakit.
Baekhyun mengerang. Ia merasa seperti habis ditusuk tepat di ototnya, rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia membuka matanya perlahan-lahan. Hal pertama yang ia lihat adalah langit. Ia bergeser perlahan untuk menghindari rasa sakit yang amat sangat, namun tetap meringis merasakan pedih pada kakinya.
Dimana the Infected? Apakah mereka ikut jatuh denganku? Sudah berapa lama aku pingsan?
Ia dapat melihat tubuh dari the Infected yang telah ia bunuh. Ia telah jatuh di sebelah kanannya, sehingga tidak menindihnya. Melihat keatas lagi, ia dapat melihat the Infected sudah tidak ada di pinggir jurang. Ia memindahkan perhatiannya pada sekelilingnya. Ia telah jatuh ke padang rumput, dikelilingi oleh bukit curam di tiga sisi. Baekhyun memutar kepalanya untuk melihat sisi lainnya….dan membeku.
The Infected ada disana. Baekhyun mengutuk diam-diam, satu-satunya jalan keluar tertutup oleh the Infected. Ia bahkan tidak bisa bergerak, bagaimana bisa ia bergerak lebih cepat dari the Infected? Rasa takut menjalarinya, bergerak sangat, sangat pelan, ia berusaha untuk bangkit dan menahan tubuhnya dengan lengannya. Rasa sakit menusuk pergelangan kakinya, nyaris membuatnya berteriak. Ini buruk, buruk, buruk, buruk….
The Infected mulai bergerak. Baekhyun menahan napasnya, membeku di tanah. The Infected berada kurang dari 40 kaki darinya. Beberapa yang lebih cepat bisa berlari sejauh 40 kaki dalam waktu sekali kedip. Mereka pasti sudah menyadari keberadaan Baekhyun sekarang. Ia terluka, berada dekat, dan the Infected tidak pernah melepaskan mangsa mereka kabur.
Jadi mengapa mereka tidak menyerang juga?
Baekhyun mengamati mereka berhati-hati. The Infected sama sekali tidak bertindak agresif, seakan-akan ia tidak ada. Apa yang menahan mereka? Makhluk-makhluk payah ini tidak takut pada apapun. Ia melihat kesekelilingnya, ada pohon, batu, rumput….tidak ada yang bisa menahan mereka. Jadi apa-itu. Melihat dengan seksama, ia bisa melihat sesuatu diantara ia dan the Infected. Kilauan yang kabur, seperti sebuah pelangi.
Apa itu? Baekhyun tidak pernah melihat yang seperti ini sebelumnya. Desanya hanya punya dinding kayu, pembatas yang butuh perawatan secara terus-menerus untuk menjaga the Infected tidak bisa masuk. Bahkan the Brotherhood tidak punya sesuatu yang seperti dinding yang berkilauan. Mungkin ini milik the Watchers…. Pikiran yang terlintas itu mengerikan. Baekhyun menarik napas dalam-dalam, mengalihkan perhatiannya ke pergelangan kakinya yang berdenyut-denyut. Ia melepaskan sepatunya sambil berteriak kecil menahan sakit. Pergelangan kakinya sudah berubah merah, bengkak parah. Bahkan dengan tidak adanya the Infected, ia tidak akan sanggup kembali ke Desa. Ia melirik sekilas kearah cahaya itu.
Untuk sekarang ia akan membiarkannya. Seluruh tubuhnya nyeri, ia kehabisan tenaga. Ia tahu ia harus bergerak, ia harus mengabaikan rasa sakitnya dan berlari ke Desa yang aman. Itulah yang akan dilakukan oleh orang waras manapun.
Tapi Baekhyun sangat lelah.
Kepalanya mulai berdenyut. Tanpa disengaja, kelopak matanya mulai terbuka dan tertutup. Kemudian mereka tertutup sepenuhnya dan Baekhyun bahkan tidak tahu kapan ia tertidur.
Masih berkeliaran di dalam hutan, the Infected menggeram.
.
.
.
.
.
Baekhyun.
Baekhyun.
Baekhyun bangunlah.
"Baekhyun!"
Ia mulai terbangun, tangannya bergerak mencari pisaunya. Terlambat menyadari jika ia telah kehilangannya saat ia terjatuh dari bukit. Sebuah tangan mencengkeram lengannya, sebuah tangan manusia. Baekhyun mendongak, kemudian menghela napas lega.
"Hey Kai," ujarnya, "Aku senang melihatmu."
The Warrior tersenyum, matanya masih waspada jika ada the Infected yang kembali. "Bisakah kau berjalan?" ia bertanya. Baekhyun menggelengkan kepalanya.
"Pergelangan kakiku terkilir, mungkin malah patah. Aku tidak bisa bergerak sama sekali."
Kai menggeleng, "Apa yang akan kulakukan padamu?" Ia mengalihkan pandangannya dari hutan untuk menatap matanya. "Aku senang kau masih hidup…" Ia mendekatkan wajahnya hingga hampir menyentuh wajah Baekhyun. "Tapi jangan takuti aku seperti itu lagi. Ketika kau tidak kembali semua orang mengira kau telah mati."
Ia meletakkan tangannya disekeliling Baekhyun. Mendekapnya erat, ia bangkit dengan mudah. Napas Baekhyun tercekat saat gerakan tiba-tiba itu menghantarkan gelombang rasa sakit pada pergelangan kakinya. Kai, tetap waspada, memeriksa keadaan sekitar mereka, dan berjalan keluar lembah.
"Oh tunggu!" Baekhyun berseru, tiba-tiba teringat soal cahaya itu. "Kai, ada cahaya, itu-" Ia berhenti. Kai telah membawanya melewati tempat dimana kilauan itu tadinya berada….dan sekarang tidak ada apapun disana. "Itu berada tepat disini." Ia menyelesaikan ucapannya dengan lemah.
"Baekhyun," Kai memulai perlahan, rasa khawatir terdengar dari suaranya. "Kau jatuh dan kepalamu terbentur, tapi jangan khawatir. Kau akan baik-baik saja. Aku berjanji, kau akan baik-baik saja."
Menghela napas frustasi, Baekhyun terdiam. Ia benar-benar melihat cahaya…tapi sekarang, di tengah hutan penuh Infected dengan matahari yang akan segera tenggelam, bukanlah tempat yang tepat untuk berdebat. Ia membenamkan wajahnya di dada Kai untuk menyembunyikan wajahnya. Sang prajurit membawanya kembali ke Desa dengan berhati-hati. Bahkan jika mereka dapat kembali tanpa ada the Infected yang menemukan mereka, the Brotherhood pastinya akan menemukan mereka.
Baekhyun tidak mengharapkan itu.
.
.
.
A/N: Aku tidak menyebutkannya di pendahuluan, tapi cerita ini berlatarkan dunia di abad pertengahan, jadi semua orang berhadapan dengan Zombie atau the Infected dengan pedang, pisau, dan apapun yang ada di tangan mereka.
