The Watched
Author: xxBubbleandTroublexx
Translator: meongmungee
Characters: Baekhyun, Kai, EXO
Rules
(Peraturan)
.
.
.
The Brotherhood memliki banyak peraturan. Semuanya punya waktu dan tempat yang telah ditentukan dan tidak ada yang pernah mengubahnya. Mereka menanamkan masing-masing dari semua peraturan mereka kedalam Desa. Semuanya memang sudah seperti itu sejak dulu. Legenda mengatakan bahwa the Infected datang duluan, menyapu bersih semuanya hingga yang tersisa hanya abu. Kemudian datanglah the Brotherhood. Diciptakan oleh the Watchers sendiri, mereka membangun Desa, mendirikan dinding, melatih manusia dan memukul mundur the Infected ke hutan. Mereka menetapkan diri mereka sendiri sebagai penguasa Desa, menciptakan peraturan untuk memastikan keselamatan semua orang dan menjaga the Watchers tetap di pihak mereka.
Ketika memang itu lah yang diperbuat oleh the Brotherhood, sulit untuk berasalasan melanggar peraturan. Yang mereka minta hanyalah kepatuhan dan tetap diam ketika itu menyangkut masalah keputusan mereka.
Baekhyun punya masalah untuk menutup mulutnya.
The Brotherhood punya masalah dengan Baekhyun.
Ia meringis ketika Desa sudah terlihat di hadapannya. Besar seperti sebagaimana sebuah Desa seharusnya, tapi ia tidak pernah benar-benar melihat desa lain. Semuanya berada berdekatan satu sama lain, tersembunyi di balik dinding kayu. Beberapa rumah dibangun tinggi sehingga tidak menyentuh tanah. Tangga yang terbuat dari tali mengarah ke pintu-pintunya. Rumah-rumah itu untuk the Chosen, yang favorit. Rumah-rumah lainnya tetap berada di tanah, lebih rentan pada serangan Infected. (Dan mereka telah dikenal menghancurkan dinding rumah) Rumah-rumah itu untuk orang-orang yang kurang penting.
Rumahnya berada di paling bawah dari rumah di atas tanah.
Kai mengangkatnya lebih tinggi dan bergerak lebih cepat kearah gerbang. Baekhyun teringat bahwa the Infected suka menyerang gerbang. Seakan mereka tahu itu adalah titik lemah Desa.
"Kita hampir sampai di rumah," kata Kai. "The Brotherhood ingin berbicara padamu setelah pergelangan kakimu diobati."
"Aku-" sudah pasti tidak akan menyukai pembicaraan kami…. "Aku senang kau datang untukku."
Itu bukanlah apa yang ingin dikatakannya.
Kai tersenyum, "The Watchers memberitahuku dimana aku akan menemukanmu."
Mendadak ia merasa sangat sensitif. Kai adalah the Chosen, artinya the Watchers secara pribada tertarik padanya. Mereka bahkan membisikkan hal kedalam pikirannya. Baekhyun tidak pernah dan tidak akan pernah berada di posisi untuk bisa terpilih, apalagi diminati oleh the Watchers. Yang membuatnya bertanya-tanya mengapa mereka bahkan bersusah-susah memberitahu Kai untuk menemukannya. Kau masih hidup, senanglah.
Kai meraih gerbangnya, meneriakkan kedatangan mereka. Itu bukanlah hal yang baik untuk dilakukan, karena suara menarik perhatian the Infected. Tapi penjaga yang seharusnya menunggu orang-orang yang kembali tidak sedang melihat. Sebuah kepala mengintip dari ujung dinding. Sang penjaga melambaikan sambutan yang terlambat. Ia kemudian menghilang. Pintunya terbuka dengan bunyi klik dan terbuka lebar. Kai melangkah masuk dengan cepat dan pintunya segera tertutup di belakang mereka.
Mengedipkan matanya dalam kegelapan, Baekhyun menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menyingkirkan titik-titik gelap dalam pandangannya. Pintu kedua terbuka. Dua orang penjaga berada di ruang lainnya, mereka menghormat saat Kai melangkah masuk. Ia menggelengkan kepalanya pada mereka dan berjalan ke pintu terakhir menuju Desa.
Desa sedang sibuk, seperti biasanya. Penduduknya selalu bergerak, mereka harus melakukannya atau mereka akan mati. Bahan makanan harus ditanam, senjata harus dibentuk dan ditempa, pakaian harus dijahit, binatang harus diberi makan. Ada daftar yang tidak ada habisnya tentang hal-hal yang harus dilakukan. Ada beberapa, saat mereka lewat, yang melambai pada Kai yang popular. Ia mengangguk pada mereka, kemudian melirik kebawah padanya sekilas.
"Apa pergelangan kakimu sudah terasa baikan? Kupikir aku harus membawamu ke Kyungsoo-"
"Baekhyun!" terdengar sebuah suara. Lay, seorang anggota dari the Brotherhood datang terburu-buru kearah mereka. Ia berhenti, memeriksa luka pada Baekhyun. "The Brotherhood menginginkan ia dibawa ke Biara secepatnya."
Kai terlihat tidak setuju, "Ia terluka, Kupikir tidak seharusnya ia-"
Masih ada lagi, tapi ia tidak ingin mendengarnya. Ia lelah menunggu untuk interogasi yang ia takuti. Baekhyun hanya ingin semuanya berakhir sekarang. Kai memang baik hati, ingin mengobati pergelangan kakinya terlebih dulu. Tapi ia akan melakukannya untuk siapapun. Kata kuncinya adalah siapapun.
"Baiklah," kata Kai. "Aku akan membawanya ke-"
"Biar aku yang melakukannya," kata Lay. Ia merebut Baekhyun dari lengan Kai. Sebelum ia sempat berpikir untuk mengaduh, mereka telah berjalan ke seberang Desa dan sampai di pintu Biara. Lay membuka pintu berat itu dengan kakinya dan membawanya masuk.
.
.
.
Baekhyun terkejut, Lay tidak langsung membawanya ke Dewan Tinggi. Ia malah berjalan melewati sebuah lorong dan masuk ke sebuah ruangan dengan sebuah ranjang kecil. Ia membaringkannya di atasnya dengan lembutnya. Kemudian ia mulai mondar-mandir di antara laci-laci.
"Aku tidak akan bertemu dengan Dewan Tinggi?" Baekhyun bertanya. Lay menengadahkan kepalanya sejenak sambil mengeluarkan perban dan balsam. Ia menggelengkan kepalanya. Ia duduk di sebelahnya dan mulai memeriksa pergelangan kakinya. Ia menghela napas, menggeleng saat melihat ukurannya.
"Tidak…mereka ingin kau berada disini lebih dulu," Ia berkata tanpa disadari.
"Kenapa kesini?" Baekhyun bertanya.
Lay memulai, "Mereka tidak ingin, oh, lupakanlah. Apakah ini sakit?"
Baekhyun mengaduh kaget saat Lay menyentakkan pergelangan kakinya. Ia cemberut, menghapus air mata yang lolos dari matanya, "Untuk apa itu?"
Lay mengedikkan bahunya, "Ini tidak patah, hanya keseleo. Kau akan baik-baik saja malam ini."
"Malam ini?" Ia bertanya, tidak percaya. "Bukankah ini membutuhkan waktu sekita-OWWW!" Ia berteriak saat rasa sakit menjalar ke kakinya. Baekhyun memandangi Lay. Ia mengedikkan bahunya lagi dan berbalik untuk meletakkan kembali benda bersinar yang ditusukkannya pada Baekhyun. Ia berbalik dengan sebuah senyuman di wajahnya.
"Benda Watcher, akan baik-baik saja malam ini." Ia berhenti sejenak, wajahnya berubah serius. "Baekhyun, apa yang terjadi padamu? Kau harus memberitahuku."
Jadi inilah dimana interogasinya terjadi. Bukan oleh Dewan Tinggi, tapi oleh Lay.
Masih ada hal yang lebih buruk, dan Baekhyun merasa lega. Lay adalah yang paling baik hati diantara the Brotherhood. Ketika Brother lainnya menjaga jarak dengan penduduk Desa, Lay justru berusaha mengenal dan dekat dengan penduduk Desa. Ia pelupa, namun disukai oleh penduduk Desa terutama yang berada di bawah tangga hierarki. Baekhyun tahu mereka akan senang jika Lay ditunjuk menjadi anggota Dewan Tinggi…tapi diam-diam ia tahu pria berhati lembut ini akan membuat mereka semua terbunuh seandainya ia terpilih.
"Bagaimana?" Lay bertanya, memotong pikirannya.
"Oh… Aku diserang di bukit Mellowmoor."
"Yang ada jurangnya?"
"Ya, yang itu. Ada banyak sekali the Infected, ada lebih dari 30." Katanya, ia berusaha mengingat-ingat kecelakaan itu. Sudah mulai berubah menjadi ingatan yang kabur. "Aku berhasil membunuh dua, tapi yang kedua mendorongku dari ujung bukit. Aku jatuh, Kupikir aku pingsan saat aku menghantam tanah…kemudian aku terbangun."
Lay memotongnya, "Dan Kai ada disana?"
Ia menggeleng. "Tidak, aku terbangun sebelum itu…..ada the Infected disana. Jauh lebih banyak dari yang ada di bukit. Mereka seharusnya sudah menyerangku, aku terbaring disana, tapi sesuatu menahan mereka." Bagaimana aku harus menjelaskan ini? "Ada cahaya, berkilauan seperti pelangi. Seperti dinding antara aku dan the Infected. Mereka tidak melihatku sama sekali. Aku tertidur dan ketika aku bangun mereka semua sudah hilang dan Kai ada disana."
Lay memasang wajah masam, jemarinya memutar-mutar tepian jubah cokelatnya. Alisnya mengerut saat ia berpikir. Ia terlihat khawatir.
"Baekhyun," Ia memulai. "Pernahkah, pernahkah aku berbohong padamu?"
Baekhyun berhenti sejenak, memikirkannya. "Tidak."
Lay melirik sekilas langit-langit ruangan, kemudian pada pintu. Ia mendekat dan meraih kedua tangan Baekhyun. Lay terlihat lega. "Baekhyun, percayalah padaku saat aku berkata kau harus melupakan soal cahaya itu, dinding apapun itu." Ia melihat ke pintu lagi. "Aku percaya bahwa cahaya itu nyata, tapi aku juga berpikir kau tidak boleh menyebutkan hal ini pada siapapun."
Baekhyun terlihat tidak setuju, "Kenapa tidak?"
"Karena," Lay berkata, genggamannya mengerat. "Karena apapun yang kau lihat adalah Watcher, dan kita tidak ikut campur dalam masalah the Watchers. Sama sekali."
"Tapi bagaimana jika the Watcher bermaksud agar aku menemukan dinding cahaya itu, seperti ada sesuat-"
"Baekhyun!" Lay berseru. "Biarkan saja, kumohon. Hal ini berbahaya dan aku tidak ingin kau terluka." Nadanya terdengar kuat sekarang. "Jangan bicara tentang ini, dan jangan beritahu Dewan Tinggi tentang hal ini. Lepaskanlah dan senanglah the Watchers membiarkanmu hidup."
Ia ingin memprotes, tapi peraturan adalah peraturan. Ia sudah mengikutinya sejak ia lahir. Baekhyun tidak akan melanggarnya sekarang. Ia menghela napas dan mengangguk. Lay menyentuh wajahnya dengan lembut. Kemudian ia berdiri, mengeluarkan helaan napas panjang.
"Baiklah," Lay berkata, sekarang tersenyum. "Kau memang punya hal-hal yang harus dilakukan hari ini…..tapi kau akan dibebaskan dari tugas untuk hari ini. Istirahatlah. Kau akan membutuhkannya malam ini." Kalimat terakhirnya diucapkan sangat perlahan, seakan Lay sedang berbicara sendiri, bukan pada Baekhyun. Hal itu menarik rasa penasaran Baekhyun. Biasanya ketika the Brotherhood mengetahui sesuatu, hal itu karena the Watchers sudah memberitahu mereka. Hal itu bisa berarti apa saja.
"Ada apa malam ini?" Ia bertanya, mencoba kruk yang diberikan Lay padanya.
"Malam ini?" Oh kau akan tahu. Aku belum bisa memberitahumu, tapi-" ia berkata dengan serius. "Baekhyun apakah kau tahu bahwa apapun yang terjadi aku akan selalu berusaha yang terbaik untuk membuatmu tetap aman?"
Aneh mendengar hal itu dari seorang Brother. Meskipun dari Lay tetap saja aneh. Baekhyun mengedikkan bahunya. "Ya…apa ada sesuatu yang akan terjadi?"
"Oh, ya. Ya, tapi kau akan baik-baik saja." Ia membukakan pintu saat Baekhyun melewatinya dengan bantuan kruk. "Baekhyun, tetaplah aman."
Ia mengangguk dan Lay pun menutup pintunya dibalik mereka. Ia mengarahkan pada lorong. "Itu adalah jalan keluar, Aku akan bertemu denganmu nanti. Istirahatlah."
"Baiklah," katanya.
Baekhyun berbalik pergi. Saat ia menjauh, Lay berseru padanya. "Ingatlah apa yang kukatakan. Jangan beritahu siapapun tentang cahaya itu. The Watchers tidak suka saat rahasia mereka diungkapkan. Berhati-hatilah."
.
.
.
T/N: Seandainya kurang jelas.
The Chosen: Yang terpilih.
Kruk: tongkat penyangga, alat bantu jalan.
