The Watched
Author: xxBubbleandTroublexx
Translator: meongmungee
Characters: Baekhyun, Kai, EXO
Worry
(Kekhawatiran)
.
.
.
Jika kau bertanya pada Baekhyun, ia tidak akan mengatakan hidupnya sulit. Ia akan menatap matamu dan mengatakan hidupnya baik-baik saja. Ia tidak akan pernah mengatakan jika kedua orangtuanya telah meninggal sejak umurnya sembilan tahun. Ataupun ia mungkin saja sudah mati jika orangtua Kyungsoo tidak mengajaknya tinggal bersama mereka. Ia tidak akan pernah berkata bahwa orangtua Kyungsoo terinfeksi saat ia berumur empat belas tahun. Dan ia tidak akan mengatakan padamu bahwa ia lah yang bertanggung jawab untuk merawat Kyungsoo setelah kepergian mereka.
Jika kau bertanya padanya tentang hal ini ia hanya akan menertawakanmu.
Karena tidak ada yang bisa mengubah masa lalu.
.
.
.
Baekhyun senang ia tidak perlu berhadapan dengan Dewan Tinggi. Terdiri dari tujuh orang, mereka memiliki kuasa sepenuhnya atas The Brotherhood dan tentu saja Desa. Mereka membuat peraturan dan menjalankannya dengan paksa. Ketika para pembuat masalah muncul, Dewan Tinggi akan menghancurkan mereka. Baekhyun tidak keberatan ketika mereka menganggunya karena ia tidak bisa diam dan perkataannya selalu tajam. Yang membuatnya keberatan adalah karena mereka mengabaikan Kyungsoo ketika ia jatuh sakit.
The Brotherhood ada untuk merawat penduduk Desa. Bukankah itu sebabnya mereka dikirimkan oleh The Watchers? Sebutan apa yang pantas saat mereka malah mendorong seorang bocah pendiam yang sepantasnya menjadi tabib ikut terlibat dalam peperangan sesungguhnya? Baekhyun bisa memaafkan orang-orang yang menjatuhkannya. Tapi ia memandang hina siapapun yang berani mengesampingkan Kyungsoo.
Alasan lain mengapa ia tidak cocok dengan The Brotherhood. (Mereka sempat memperingatinya untuk memperbaiki sifatnya atau the Watchers akan menghukumnya atas rasa hormatnya yang kurang….Ia pikir mungkin itulah yang menyebabkan serangan yang membuat pergelangan kakinya terluka)
Tapi ia tidak bertemu dengan The Brotherhood. Begitu Lay membiarkannya pergi, ia langsung menuju kebun di sisi utara Desa. Ia yakin sekali ia akan menemukan Kyungsoo disana dan tidak ada yang bisa menyembunyikan rasa bahagianya, sekalipun itu rasa sakit pada pergelangan kakinya. Ia mengayunkan kruk-nya dengan terburu-buru di atas tanah yang tak rata. Baekhyun seharusnya berjalan lebih pelan, Ia nyaris terjatuh dan mematahkan kedua pergelangan kakinya, tapi ia hampir sampai, dan Baekhyun memang tidak pernah bisa berhati-hati.
Ia mendapati laki-laki berambut gelap itu sedang berjongkok di tanah yang kotor. Ia memanggilnya, berusaha menaiki bukit yang sedikit menanjak itu lebih cepat. Kyungsoo berbalik dan tersenyum. Ia berdiri dan melambai pada Baekhyun.
"Baekhyun!" Ia berteriak, meletakkan kedua tangannya di depan mulutnya. "Mereka bilang kau tidak akan kembali!"
Baekhyun meraihnya. Melemparkan salah satu kruk-nya lalu memeluk Kyungsoo dengan erat. "Siapa yang bilang begitu? Apakah kau benar-benar mengira aku akan terinfeksi? Aku kan tidak sepayah itu."
"Kau tidak payah, kau….hebat dalam beberapa hal." Kata Kyungsoo.
"Seperti apa?"
"Masalah."
"Terima kasih."
Kyungsoo tersenyum lebar. "Sama-sama." Ia melihat pergelangan kaki Baekhyun yang diperban. Sebagai seorang tabib ia pun membungkuk untuk memeriksanya. "Kai memberitahuku kalau kau terluka, apakah kau baik-baik saja? Masih sakit?"
Baekhyun mengedikkan bahunya. "Ya, Lay menusukkan sesuatu. Ia bilang pergelangan kakiku akan baik-baik saja." Ia berhenti sejenak, lalu duduk di sebelah Kyungsoo dengan hati-hati. Ia mengomel saat menyampingkan posisi pergelangan kakinya. Ia menatap kearah Kyungsoo yang sedang batuk parah.
"Aku sangat khawatir, kau selalu saja kena masalah." Kyungsoo berkata sambil memindahkan tangannya dari mulutnya.
"Hei, aku baik-baik saja oke? Bukankah aku pernah bilang aku tidak akan meninggalkanmu sendirian? Aku tidak akan pergi kemana-mana."
Kyungsoo memutar kedua bola matanya, "Kau memang bilang begitu, tapi hampir mati bukanlah sesuatu yang bisa kau hindari hanya karena sebuah janji."
"Siapa bilang tidak bisa? Ngomong-ngomong bagaimana keadaanmu? Pagi ini badanmu panas…." Baekhyun bertanya, mengalihkan pembicaraan karena ia masih gelisah mengingat ia hampir mati hari ini.
Kyungsoo menghela napas. "Aku merasa tidak enak badan….Aku sakit kepala tepat saat kau pergi." Ia terbatuk lagi. "Tapi-"
"Tidak ada tapi-tapian," potong Baekhyun. Sekarang ia benar-benar khawatir. Kyungsoo lahir sebulan lebih awal dan itu membuatnya memiliki tubuh yang lemah. Sekarang ia selalu sakit-sakitan. Biasanya itu adalah tanda ia akan mati muda, tapi Baekhyun menolak untuk menyerah. Ia sudah terlalu sering berdebat tentang masalah itu hingga The Brotherhood berbelas kasihan merawat Kyungsoo kapanpun ia jatuh sakit. (Dan hal ini sangat aneh karena mereka hanya akan mengobati yang sakit dan yang terluka beberapa kali saja….atau yang mereka sebut dengan, "hanya ketika The Watchers berkenan.")
"Kau sudah minum obat?" Ia bertanya.
Kyungsoo tidak menjawab. Baekhyun menunggu jawabannya, perasaan tidak enak berkumpul di perutnya. "Mereka sudah memberikan obat padamu kan? Kyungsoo mereka sudah memberikannya kan?"
Mereka terdiam untuk beberapa saat. Kyungsoo menolak untuk menatap matanya. Napas Baekhyun berantakan. Sekarang ia ketakutan, jauh lebih takut daripada saat ia menghadapi The Infected di jurang. Kyungsoo bergantung pada obat-obatan, tanpa obat ia mudah sekali jatuh sakit.
"Maafkan aku Baekhyun," Ia akhirnya berbisik. "Aku sudah memintanya, tapi mereka bilang mereka tidak bisa memberikanku obat lagi….The Watchers tidak berpikir itu adalah hal yang harus dilakukan."
Baekhyun marah besar. "Omong kosong! Itu benar-benar omong kosong!" kepalan tangannya beradu dengan tanah. "Bukan salahmu kalau kau sakit dan mereka selalu memberikan obat dan The Watchers itu-"
Kyungsoo terkesiap, lalu berusaha meraih Baekhyun. "SHHHH!" Ia berbisik, mengintip dari balik bahu Baekhyun dengan mata terbuka lebar. "Itu Kai."
Baekhyun menoleh. Sang prajurit sedang berjalan kearah mereka. Kyungsoo tetap meletakkan tangannya di lengan Baekhyun. Ia menatapnya dengan pandangan memelas.
"Baekhyun," Ia berbisik pelan. "Jangan katakan hal buruk tentang The Watchers, itu akan membuat mereka marah."
Sebelum Baekhyun bisa menjawab Kai sudah berada di dekat mereka. Baekhyun bangkit dengan susah payah dengan bantuan kruk dan Kyungsoo.
"Akan ada badai," ujar Kai. "The Brotherhood mengirimku untuk memperingatkan semua orang. Badainya akan parah, kalian berdua sebaiknya berlindung."
Baekhyun melihat kearah langit. Ia melewatkan awan kelabu yang sangat tebal disertai angin kencang yang bertiup. Langit terlihat seperti akan meledak. Pasti hujan akan turun sebentar lagi. Kyungsoo tidak boleh kehujanan, ia harus tetap sehat sampai aku menemukan solusi tentang obatnya….. "Oke," Ia berseru. "Kami akan pulang sekarang."
Kai mengangguk, kemudian terlihat ragu-ragu. "Baekhyun," Ia berkata dengan lembut. "Kau juga harus tahu kalau The Brotherhood memperingatkan kita untuk bersiap-siap, akan ada serangan malam ini."
"Serangan?" Ia mengulang, "Seberapa parah?"
"Diperkirakan mereka akan mencapai Desa kali ini."
"The Infected tidak pernah berhasil sejauh itu."
Kai mengedikkan bahu, matanya terlihat tajam. "Kali ini The Watchers memperingatkan kita kalau mereka akan menyerang sejauh itu. Kami akan mengawasi, dan kami akan menangkap mereka, tapi aku ingin kau tahu. Sekarang pulanglah, kalian berdua perlu bersiap untuk badai."
Baekhyun tanpa sadar menggenggam tangan Kyungsoo. Ia menggenggam sangat erat hingga Kyungsoo berusaha menarik tangannya. Setelah meminta maaf padanya, Baekhyun lalu berterima kasih pada Kai dan menarik Kyungsoo turun bukit. Mereka butuh waktu untuk menutup dan memasang penghalang pada setiap jendela dan menghalangi pintu. Baekhyun tidak ingin ada celah untuk the Infected memasuki rumah mereka. Kai meneriakkan sesuatu pada mereka, namun kata-katanya terbawa angin.
.
.
.
"Apa yang akan kita lakukan?" tanya Kyungsoo. Ia memegangi kursi sementara Baekhyun berada di atasnya untuk memasang penghalang pada jendela terakhir. Semua jendela di Desa dibangun setinggi mungkin, sehingga sulit bagi The Infected untuk memanjat masuk. Baekhyun tetap terdiam. Ia benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Jika The Infected benar-benar berhasil sampai kemari, mereka ada dalam masalah besar. Biasanya Baekhyun akan siap untuk melindungi Kyungsoo dan dirinya sendiri dari serangan apapun.
Namun malam ini ada dua masalah.
Yang pertama adalah badai. Badainya sudah berkembang menjadi badai petir yang hebat. Sekarang langit telah berubah gelap seluruhnya, membuat para prajurit tidak bisa melihat kedatangan The Infected. Langit sedang tidak berpihak pada mereka.
Masalah kedua adalah pergelangan kaki Baekhyun. Lay benar, pergelangan kakinya memang sudah jauh lebih baik….tapi tetap saja pergelangan kakinya terluka. Jika The Infected menyerang rumah mereka, kondisi pergelangan kakinya akan bertambah parah dan ia mungkin tidak akan bisa berbuat apa-apa. Bahkan jika kakinya baik-baik saja pun, The Infected sudah cukup berbahaya. Ia tidak yakin ia bisa bertahan melawan mereka.
"Baekhyun?" Kyungsoo bertanya dengan khawatir. Ia kemudian terbatuk parah, ia menutupi mulutnya dengan lengan bajunya yang lusuh. "Apa yang akan kita lakukan?"
Baekhyun turun dari jendela. "Jangan khawatir. Para prajurit sedang siap siaga dan The Brotherhood juga sedang mengawasi The Infected….Kita akan baik-baik saja, aku berjanji."
Kyungsoo menerimanya. Mereka menambahkan kayu bakar ke perapian lalu merangkak naik ke papan dimana tempat tidur mereka berada. Mereka berada kurang dari enam kaki di atas tanah, tapi ketinggian seberapa tinggi pun menguntungkan mereka jika The Infected menyerang. Baekhyun memandangi Kyungsoo tertidur. Kemudian ia menarik tangganya. Ia berbaring di tengah kegelapan sambil berusaha menenangkan detak jantungnya. Ia harus memikirkan hal ini baik-baik. Ia harus cukup tenang untuk memikirkan apa yang akan terjadi.
Jika The Infected menyerang dari selatan, maka mereka harus melewati seluruh desa untuk bisa sampai di rumah mereka. Itu adalah kemungkinan terbaik. Kebanyakan prajurit akan berada di sisi itu, karena berhadapan langsung dengan hutan. Biara berada di sisi selatan, artinya The Brotherhood juga akan membantu. Itu adalah rute yang diharapkan, dan benar-benar kemungkinan terbaik bagi semua orang.
Kemungkinan lainnya adalah The Infected akan menyerang dari utara. Rumah Baekhyun dan Kyungsoo ada di utara, menghadap ke pegunungan. The Infected jarang menyerang dari sisi itu, tapi jika mayat hidup itu benar-benar menyerang dari sisi itu, mereka akan menyerang dan menghancurkan rumah mereka. Tidak akan ada pilihan lain.
Baekhyun tidak tahu jika ia bisa menahan mereka hingga The Warriors tiba.
Ia benar-benar berharap The Infected akan datang dari selatan.
.
.
.
.
.
"Bagaimana bisa kita membuat kesalahan bodoh semacam itu?"
"Itu bukan kesalahan kita, ia tidak seharusnya bangun sama sekali. Ia jatuh dari jurang sialan dan memecahkan kepalanya. Ia tidak seharusnya masih hidup saat Kai menemukannya."
"Apakah Kai mencurigai sesuatu? The Watchers melakukan hal yang aneh dengan berbicara padanya langsung, mereka tidak suka melakukannya."
"Tentu saja Kai tidak curiga…Tidak ada yang curiga. Bagaimana mungkin mereka bisa curiga? Yang mereka lakukan hanya bertarung melawan Zombie…."
"Pernah merasa buruk karena hal ini?"
"Tidak juga, tidak jikaThe Watchers selalu mendukung kita membuat orang-orang itu tetap patuh."
"Kurasa begitu…ngomong-ngomong bagaimana dengan malam ini? Bagaimana dengan serangannya?"
"Akan berjalan sesuai rencana. Mereka akan menyerang dari utara."
"Dan Kyungsoo?"
"Tidak akan selamat."
.
.
.
