The Watched
Author: xxBubbleandTroublexx
Translator: meongmungee
Characters: Baekhyun, Kai, EXO
Leaving
(Pergi)
.
.
.
Baekhyun sudah mendengar kisah mengenai The Watchers seumur hidupnya. Menurut legenda, dahulu ada dunia sebelum dunia mereka saat ini. Dunia yang dibangun oleh The Watchers sendiri, dunia dimana The Infected tidak ada. Seharusnya semuanya sempurna, namun kemudian seseorang merusaknya. Seorang pria mulai ikut campur dalam urusan hidup dan mati. Ia pikir ia bisa mengendalikannya, dan mencoba menghidupkan kembali kekasihnya.
Cinta seorang pria telah menghancurkan seluruh dunia. The Infected tercipta, dan mereka menyebar cepat sekali. Dunia jatuh hanya dalam hitungan hari, orang-orang berubah menjadi monster. The Watchers yang melihat kehancuran itu memutuskan untuk menyelamatkan korban yang tersisa. Mereka menciptakan tujuh Desa, tempat pengungsian manusia. Awalnya, semuanya berjalan baik-baik saja, kemudian satu per satu Desa hancur. Hingga tinggal satu yang tersisa, Desa mereka. The Watchers tidak ingin manusia musnah, mereka memilih yang terkuat dari yang lainnya untuk menjadi The Brotherhood dan para prajurit.
Sekarang Desa mereka masih bertahan, satu-satunya Desa yang tersisa melawan The Infected. The Watchers lebih banyak diam sekarang, hanya berbisik pada orang-orang yang mereka pilih dan sukai. Bagi penduduk lain mereka tetaplah Dewa-Dewa yang mereka puja.
Namun sekarang mereka berbicara pada Baekhyun. Ia tidak tahu apakah itu artinya mereka menyukainya….atau mereka hanya ingin melihatnya gagal sia-sia sebagai hiburan bagi mereka. Ia harap itu berarti mereka ingin ia untuk menemukan artinya dan menyelamatkan Kyungsoo.
Baekhyun bergerak diam-diam, memutuskan untuk lewat gang-gang tersembunyi. Ia diizinkan pergi beberapa menit yang lalu oleh Lay dan hal terakhir yang ia inginkan adalah ditanyai oleh orang-orang. Ia tidak keberatan jika ditanyai oleh beberapa penduduk Desa, tapi akan sangat merepotkan jika ia ditanyai oleh sekelompok orang-orang yang menyebalkan…. (dan yang ia maksud dengan menyebalkan itu adalah Jae Sun, pria brengsek yang terus mencoba menempel padanya. Memangnya dia tidak bisa mengerti kalau Baekhyun tidak tertarik pada orang bodoh?).
Baekhyun sampai di tempat tujuan dengan selamat, menatap rumah yang berada di atas tiang. Ia menghela napas dan mulai memanjat tangga yang terbuat dari tali. Suho, sebagai seorang pensiunan prajurit, memiliki rumah yang terlindungi dengan baik. The Infected tidak dapat memanjat, jadi rumah-rumah yang dibangun tinggi umumnya aman….tapi memanjat seperti ini sangat menyebalkan terutama jika kau sedang sakit kepala. Setidaknya disini Kyungsoo tidak bisa diserang, pikir Baekhyun. Ia memanjat dengan susah payah ke atas serambi. Ia mengetuk pintu sambil menggoyangkan kakinya, lalu masuk.
"Baekhyun!" Seru Kyungsoo, ia sedang duduk di dekat perapian. Ia melambai pada Baekhyun dengan gembira. "Mereka bilang kau terluka dan aku sangat khawatir kalau-"
Baekhyun memotong ucapannya dengan memeluknya erat. Kyungsoo mulai terbatuk. Baekhyun melepaskan pelukannya lalu mundur selangkah. Ia memegang tangannya sambil memandangnya dengan penuh perhatian, "Kyungsoo, apa kau baik-baik saja?"
Kyungsoo mengisyaratkan bahwa ia baik-baik saja dengan tangannya. "Ya….Aku hanya demam karena kehujanan."
"Apakah sakit?" Baekhyun bertanya, meraih wajah pucat Kyungsoo. Kyungsoo selalu jatuh sakit, namun tak pernah sekalipun The Brotherhood membiarkannya begitu saja.
"Sedikit, tapi jangan khawatirkan aku, aku baik-baik saja."
Pintu belakang terbuka, Suho berada dibaliknya. Pria itu mengayunkan kruk-nya, berjalan kearah mereka berdua. Ia duduk di kursi di hadapan Kyungsoo.
"Halo Baekhyun," sapanya.
"Hai Suho," katanya, "Terima kasih sudah menampung kami."
Ia mengedikkan bahunya, "Bukan masalah, rumah ini terlalu sepi. Lagipula Kai akan senang punya alasan untuk melihat kalian berdua lebih sering."
Baekhyun tertawa. Kai? Sejak kapan Kai ingin melihatnya? Baekhyun menyingkirkan pikiran menyakitkan itu lalu duduk di lantai.
"Ada masalah?" tanya Suho, matanya menatap Baekhyun tajam.
"Tidak, aku hanya sedang berpikir tentang Kai…" dan aku tidak tahu harus mulai menyelamatkan Kyungsoo dari mana…
"Apa ada hal lain yang sedang kau pikirkan?"
"Aku, aku…." Ia melirik Kyungsoo. Apakah aku cukup mempercayai Suho untuk mengatakan hal ini? Suho telah menjadi prajurit sebelum Kai menjadi prajurit. Ia kuat dan gesit, dan sangat peduli pada semua orang. Ia meminta maaf pada Baekhyun karena membiarkan orangtuanya meninggal, begitu juga ketika orangtua Kyungsoo meninggal. Baekhyun tahu itu bukan kesalahan Suho, namun ia juga tahu kalau Suho tidak menganggapnya seperti itu. Aku percaya padanya. ia peduli, benar-benar peduli.
"Aku melihat sesuatu saat kami diserang malam itu," katanya.
Suho bersandar pada sandaran kursi, masih menatapnya. Kyungsoo membenarkan duduknya dengan gugup. "Sesuatu seperti apa?"
"Kata-kata, kata-kata di langit. Mereka memberitahuku sesuatu."
Inilah saatnya Suho seharusnya mengatakan pada Baekhyun kalau ia gila. Kalau kepalanya terbentur dan ia berhalusinasi. Kalau ia harus melupakan semuanya dan pasrah saja menerima takdir. Namun ia malah menyuruh Baekhyun untuk melanjutkan perkatannya.
"Mereka memberitahuku untuk 'menemukan jalan keluar'."
Apakah itu hal yang gila? Haruskah aku tutup mulut? Tidak memberitahu siapapun, apakah mereka berpikir aku gila? Aku-
"Temukan jalan keluar? Hmm….." Suho bergumam. "Menurutmu apa artinya?"
Baekhyun terkejut, menjawab sambil tergagap. "A-A-, Aku tidak tahu, mereka bilang-"
Suho memotong ucapan Baekhyun, "Kalau mereka bilang keluar, maka artinya keluar. Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana kau akan melakukannya."
"Apa?" Tanya Baekhyun, ia menggelengkan kepalanya. "Kupikir itu berarti menyelamatkan Kyungsoo."
"Mungkin saja, tapi mereka menyuruhMU untuk menemukan jalan keluar. Kau ingin menyelamatkan Kyungsoo? Kau sebaiknya mencaritahu kemana mereka ingin kau pergi terlebih dahulu. Kau butuh, oh pergilah kesana." Ia menunjuk dinding dengan kruknya. Baekhyun berdiri, berjalan kearah peti.
"Ini?" tanyanya.
"Iya itu, bukalah dan bawakan kertas-kertas di paling atas."
Baekhyun membukanya. Kertas-kertas berserakan diantara benda-benda yang terlihat seperti baju baja dan senjata. Ia mengumpulkannya dan membawakannya pada Suho. Prajurit itu melemparkan kertas-kertas itu, membuangnya sembarangan ke lantai. Ia mendengus puas saat ia berhasil menemukan selembar perkamen besar yang kotor.
"Ini dia," katanya. "Lihatlah."
Baekhyun menatap kertas itu, kelihatannya seperti peta. Ia melihat Desa dan beberapa tanda, tapi ia tidak mengerti tentang yang lainnya. "Apa ini?"
"Itu PETA," Suho menggeleng-gelengkan kepalanya. "Salah seorang temanku menggambarnya saat ia masih muda. Ia menjelajahi hampir semua wilayah utara dan timur hutan."
"Aku," Baekhyun berhenti, menyipitkan matanya pada coret-coretan yang tersebar diatas kertas. "Bagaimana ini bisa berguna?"
Suho mendengus. "Berguna? Itu akan membantumu menemukan apapun yang kau butuhkan. Lihatlah." Ia menunjuk sebuah tanda X besar di peta.
"Apa itu?" Ulangnya.
"Ini Desa lain," Ujarnya.
Baekhyun melongo. "DESA lain? Ada Desa lain di luar sana?"
"Yah, dulunya ada desa lain…tapi penduduknya sudah lama tiada. The Infected hanya menyerang manusia, bukan bangunan. Jika sudah tidak ada manusia lagi, mereka akan meninggalkan bangunan dan benda lainnya begitu saja. Penduduknya sudah meninggal, tapi bangunan-bangunannya masih disana."
"Tunggu," Pikiran Baekhyun berputar-putar. "Kau ingin aku meninggalkan desa dan pergi kesana?"
Suho menghela napas lalu memutar bola matanya. "Jika The Watchers menyuruhmu untuk menemukan jalan keluar, dan The Brotherhood tidak bisa membantu, maka kau harus mencari ke tempat lain untuk menemukan jawabannya. Desa itu memiliki banyak benda yang tersisa di dalamnya, mungkin disana ada sesuatu yang bisa membantu."
"Meninggalkan Desa?" Ia bertanya lagi, pikirannya terhenti disana.
"YA TINGGALKAN DESA." Suho menggeram. "Pergi dan temukan apa yang The Watchers ingin kau ketahui, ini adalah ujian dan kau tidak akan berhasil melewatinya jika kau terus cemberut disini."
Baekhyun duduk kembali. Kepalanya berdenyut sekarang. Tidak pernah, ia tidak pernah menginggalkan Desa tanpa izin The Brotherhood. Tidak ada seorangpun yang pernah. Pergi tanpa memberitahu siapapun ganjarannya hukuman mati. "Aku tidak bisa pergi, The Brotherhood tidak akan mengizinkan-"
Suho meninju meja, mengagetkannya. "Kau tidak perlu izin, kau akan menyelinap diam-diam."
"MENYELINAP?" Kyungsoo berseru, akhirnya ikut dalam pembicaraan. "Ia akan terbunuh! Ia akan mati hanya dalam hitungan menit di luar sana."
"Maksudmu?" Baekhyun bertanya, harga dirinya sedikit terluka. Kyungsoo meminta maaf, kemudian melanjutkan perkataannya.
"Mengirimnya keluar sana sama saja dengan bunuh diri, aku tidak mau ia pergi."
"Tapi ia harus pergi." Balas Suho. Mereka berdua kemudian mulai bertengkar. Baekhyun mengabaikan mereka sambil duduk, mengamati peta itu. Ada Desa lain di luar sana? Jika memang itu yang dimaksud oleh The Watchers, untuk meninggalkan Desa dan menemukan sesuatu untuk menyelamatkan Kyungsoo? Sesuatu seperti obat? Dapatkah aku menyelamatkannya dengan cara seperti itu?
"Aku tidak bisa membiarkan Baekhyun mempertaruhkan nyawanya-"
"Aku harus pergi," Kata Baekhyun, memotong perdebatan mereka. Suho mengangkat tinjunya dengan penuh rasa kemenangan sedangkan Kyungsoo menatapnya terkejut.
"Baekhyun!" Ia berteriak. "Kau akan terbunuh!"
Baekhyun menatapnya. "Kyungsoo, aku harus pergi. Seandainya ada sesuatu disana yang bisa menolongmu agar sakitmu tidak bertambah parah, aku harus pergi. Aku tidak bisa kehilanganmu Kyungsoo, ini bahkan bukan sebuah pilihan untukku."
Kyungsoo terlihat marah, matanya berkaca-kaca. "Aku juga tidak bisa kehilanganmu. Kau tidak akan mati selagi aku masih ada, aku juga tidak bisa jika kau sekarat…." Ia membisikkannya makin lemah. Baekhyun mendekatinya lalu memeluknya erat.
"Kyungsoo, aku berjanji aku akan melindungimu apapun yang terjadi. Aku tidak bisa mengingkari janjiku, aku harus melakukan ini."
"Aku takut kehilanganmu," Ia menggumam, terisak.
Baekhyun mengangkat wajah Kyungsoo hingga ia bisa memandang matanya. "Kau tidak akan kehilanganku. Aku akan pergi ke Desa itu dan aku akan kembali. Semuanya akan baik-baik saja, Aku bersumpah."
Suho berdeham. "The Infected suka bergerak saat malam hari, mereka bergerak lambat pada siang hari. Jika kau pergi diam-diam, dan menghindari tempat berbahaya yang ditandai di peta, kau akan tiba di Desa lain dan kembali dalam waktu sehari."
"Kalau begitu aku akan pergi besok."
.
.
.
Baekhyun tidak hanya takut. Ia sangat takut dengan apa yang akan dihadapinya besok pagi. Jika The Infected menyerangnya, Kai tidak akan berada disana untuk menyelamatkannya. Ia akan sendirian. Baekhyun benar-benar ragu kalau cahaya waktu itu akan kembali muncul untuk menyelamatkannya.
Baekhyun menarik napas panjang, lalu membaringkan tubuhnya di sebelah Kyungsoo. Perlahan, ia mengelus punggungnya. Kyungsoo bergeser sedikit, terbatuk bahkan dalam tidurnya. Baekhyun memeluknya erat, berusaha membuat tubuhnya berhenti bergetar. Kyungsoo merengek, kemudian berhenti bergerak. Ia terlihat lebih pucat daripada pagi ini….sakitnya sudah bertambah parah.
Ia sangat khawatir jika aku akan mati, dan aku tidak bisa berhenti berpikir kalau ia akan mati…Aku akan melakukannya apapun yang terjadi. Besok aku akan meninggalkan Desa.
.
.
.
"Kau sudah siap?" Suho berbisik, menghentakkan kakinya yang tak terluka. Desa masih gelap, dan penduduk lainnya masih tidur. Sebentar lagi matahari akan terbit dan akan mustahil bagi Baekhyun untuk menyelinap keluar. Jika ada seorang penjaga bermata jeli melihat mereka, maka kesempatannya untuk pergi akan hilang.
"Siap ataupun tidak, aku harus siap," Baekhyun berbisik balik, terlihat gugup.
"Sudah bawa pisau?"
"Sebanyak yang bisa kubawa."
"Petanya?"
"Ya-Tidak, kau masih membawanya."
Suho berkedip, kemudian mengeluarkan sebuah peta dari jubahnya. "Bodohnya aku, jika melupakan ini maka kau akan tewas."
"Terima kasih sudah ingat memberikan ini padaku kalau begitu," Baekhyun berkata sarkastis. "Apa yang akan aku lakukan tanpamu?"
Suho mengedikkan bahunya. "Mati, tidak diragukan lagi, pasti mati."
Suara langkah kaki terdengar dari sisi atas dinding. Keduanya menempel ke dinding, mengintip keatas. Seorang penjaga lewat, tidak menyadari keberadaan mereka. Suho meletakkan jarinya di depan mulutnya, dan menyelinap masuk ke dalam sebuah pintu kecil yang terbuka. Ia menyuruh Baekhyun untuk masuk kedalam.
"Ikuti peta dan kembalilah sebelum malam. Kami akan menutupi kepergianmu jadi kau hanya perlu mengkhawatirkan tentang The Infected. Pergilah kesana dan langsung kembali, bergerak cepat ya? Suho menepuk pundaknya. "Kau akan baik-baik saja. Pergilah."
Baekhyun melangkah mundur lalu Suho menutup pintunya. Sendirian saja di sisi luar dinding, ia merasa lemah. Ia menggigil, mencoba fokus pada hal yang menyebabkan ia berada diluar sana. Ia memalingkan wajahnya dan menatap pepohonan, ia menggenggam pisaunya lalu mulai berjalan ke hutan. Jika aku tidak bersuara, mereka tidak akan tahu aku ada disini. Aku hanya perlu diam, dan bergerak cepat.
Ia mendongak menatap matahari terbit. Aku bisa melakukannya.
.
.
.
.
.
T/N: Maaf kalau jarang update, saya lagi banyak kesibukan. Tapi diusahain kalau ada waktu senggang bakal disempetin buat update. Terima kasih sudah ninggalin review. Yang sabar ya nunggu update-an selanjutnya, see you!
