The Watched

Author: xxBubbleandTroublexx

Translator: meongmungee

Characters: Baekhyun, Kai, EXO


Into the Woods (1)
(Ke Dalam Hutan (1))

.

.

.

Mudah untuk membunuh The Infected. Incarlah kepalanya. Jika kau tidak bisa meraihnya, serang lututnya terlebih dulu. Buatlah The Infected jatuh hingga kau bisa mengenai kepalanya. The Infected sangat sulit disingkirkan. Mereka hanya akan benar-benar mati jika kepalanya hancur atau dibakar hingga tak dapat dikenali lagi.

Kai membunuh The Infected setiap hari. Ia tahu bagaimana cara melakukannya dan dia sangat hebat dalam melakukan hal itu. Ia sudah melakukannya sejak umurnya masih 14 tahun dan sekarang ia dapat melakukannya dengan mudah.

Berbahaya, tapi tepat.

Ketika Baekhyun terlibat, Kai tidak dapat bernapas, apalagi berpikir… Ia menghela napas, lalu menendang tanah sembarangan. Mengapa sulit sekali? Ia lelah, lelah menjadi terlalu sibuk hingga tidak punya waktu untuk Baekhyun ataupun Kyungsoo, lelah merasa bersalah karena hal itu. Lelah karena tidak tahu apa yang harus ia lakukan, apa yang harus ia katakan, lelah menunggu dirinya sendiri untuk mendekati Baekhyun, lelah karena ia ingin Baekhyun mendekatinya juga. Kai lelah karena tidak bisa berhenti tergila-gila pada lelaki langsing berkulit pucat itu.

Ia senang Baekhyun dan Kyungsoo sudah pindah ke rumah Suho. Mereka jauh lebih aman berada disana. Kai bertambah senang lagi saat Dewan Tinggi telah membebaskan Baekhyun dari tugas penjaga. Tugas itu tidak pernah sesuai untuk Baekhyun, dan Baekhyun akan tetap berada di Desa dimana ia bisa melindunginya.

Masalahnya, Kai tidak tahu bagaimana perasaan Baekhyun tentang hal ini. Apakah dia senang jika aku akan melihatnya lebih sering mulai sekarang?

Kai menggelengkan kepalanya lalu mencoba meluruskan pikirannya. Ia tidak bisa tidur sama sekali semalam, terlalu sibuk memikirkan Baekhyun….caranya tertawa, jari-jari lentiknya, mulutnya yang cemberut….HENTIKAN. Kai marah pada dirinya sendiri, ia menenangkan napasnya. Ia butuh nasihat, seseorang yang bisa memberitahunya apa yang harus ia lakukan. Suho, gurunya, bukanlah pilihan saat ini. Baekhyun (yang seharusnya sedang beristirahat sekarang) akan berada di sana, Kyungsoo juga berada di sana. Bahkan jika mereka tidak ada di sana pun Kai yakin Suho akan menertawakannya. Atau lebih parah lagi, memberitahu Baekhyun mengenai hal ini.

Jika Suho tidak bisa membantunya, maka yang tersisa adalah….pengakuan.

Pengakuan adalah tradisi yang sudah ada sejak bertahun-tahun. Dulunya digunakan hanya untuk mengakui dosa kepada The Brotherhood. Sekarang sudah berubah sedikit. Selain digunakan untuk mengakui dosa mereka, orang-orang juga menggunakannya untuk meminta pendapat tanpa harus berurusan dengan orang-orang yang selalu ingin tahu. Penduduk Desa hidup bersama dari tahun ke tahun, tidak ada yang pergi dan tidak ada yang datang. Katakan saja satu hal, maka semua orang akan tahu hanya dalam hitungan hari. Pengakuan adalah cara untuk menanyakan sesuatu dan tidak membiarkan seluruh Desa tahu kalau kau membenci seseorang diam-diam.

Kai tidak suka pengakuan. Ia benci memberitahu seseorang bahwa ia sedang bingung memikirkan sesuatu….Ia adalah prajurit Desa, seorang pemimpin. Bagaimana mungkin ia memimpin jika ia harus mendatangi The Brotherhood hanya untuk meminta nasihat tentang cinta?

Tapi The Watchers tidak akan mengatakan apapun….dan aku tidak bisa membiarkannya, hal ini membuatku gila.

Maka jawabannya adalah pengakuan.

Untungnya, atau mungkin celakanya, Lay yang sedang bertugas ketika Kai memasuki ruangan kecil dan tertutup rapat itu di dalam Biara. Ia menghela napas sembari berlutut di atas lantai yang dingin. Ia mengintip ke arah besi kecil yang berlubang-lubang yang memungkin masuknya suara di antara dinding. Lay menunggu hingga Kai berhenti membenarkan posisinya sebelum ia memulai.

"Aku sudah lama tidak melihatmu," Lay berkomentar.

"Aku sedang sibuk," Kai menjawab, matanya menatap lantai yang terbuat dari batu. Sekarang aku merasa bersalah karena hal ini juga.

"Tentu saja kau sibuk," Lay berkata dengan nada yang nyaris sengit. "Tapi itu bukan masalah, ngomong-ngomong kenapa kau ada disini?"

"Aku-" Aku tidak bisa melakukan ini…kenapa aku datang kemari? Bodohnya…bodoh sekali.

"Ya?" Lay bertanya, memecahkan kesunyian. "Kau datang kemari pagi-pagi sekali, pasti ada sesuatu."

Kai masih ragu-ragu, tidak yakin harus mengatakan apa. Katakan saja, tidak ada gunanya menyangkal. "Aku, aku sedang jatuh cinta."

"Cinta?" Lay bertanya dengan terkejut. Kai mendengar sesuatu bergeser dari balik dinding. Ia menelan ludahnya gugup. Ia menggeser tubuhnya, tidak dapat duduk diam. "Pada siapa?"

"Baekhyun," katanya.

Hening. Lalu Lay berbicara lagi, nadanya berhati-hati. "Begitu….Kai-"

Kai memotongnya. Ia ingin Lay mengerti. Ini bukan sekedar suka atau naksir, ini cinta dan hal ini menyiksanya. "Aku tidak bisa berhenti memikirkannya, bagaimana ia hampir tewas. Aku tidak akan sanggup jika ia mati. Aku tidak bisa. Baekhyun adalah segalanya untukku dan aku benar-benar bodoh karena tidak menyadarinya hingga sekarang. Kemanapun aku pergi dia ada di benakku, dan aku tidak bisa menghentikannya. Aku berusaha meraihnya, namun aku tidak tahu bagaimana caranya. Baekhyun dapat melanjutkan hidupnya tanpaku dan aku tidak tahan melihatnya. Aku sangat mencintainya."

Kai berhenti, berusaha memproses semua yang baru saja ia lontarkan dari mulutnya. Aku terdengar seperti orang gila…

"Ia benar-benar sebeharga itu untukmu?" Lay bertanya dengan lembut.

"Ya," kai menjawab. "Ia lebih berharga dari hidupku."

Terdengar suara dari balik lubang-lubang di logam besi itu lagi, kemudian Lay berbicara. 'Kau harus mengetahui sesuatu….Baekhyun akan berusia 18 tahun kurang dari dua bulan lagi."

Kai mengangguk, ia tahu itu. 18 adalah usia yang penting. Di tempat di mana semua orang meninggal sebelum mereka berumur 50 tahun, 18 adalah tahun di mana kau dianggap dewasa, tidak ada yang menahanmu. Peranmu akan ditentukan, dan tanggung jawab akan diberikan. Kau sudah tumbuh. Pernikahan biasanya dilaksanakan di tahun ini juga. Pernikahan….

Kai bahkan belum sempat berpikir tentang pernikahan. Ia harus mendekati dan merayu Baekhyun, memintanya untuk menikahinya….meminta restu dari Dewan Tinggi, mempersiapkan rumah untuknya dan Kyungsoo, melaksanakan upacara pernikahan…malam pertama. Oh aku….malam pertama….

"Kai kau harus tahu kalau Jae Sun sudah meminta izin The Brotherhood untuk menikahi Baekhyun."

"JAE SUN?!" Kai terlonjak, matanya berapi-api. "JAE SUN? SI BAJINGAN BUSUK ITU? SI BRENGS-"

"KAI!" Lay menegurnya. "Tolong jaga bahasamu."

Kai menggeram lalu kembali berlutut. "Maafkan aku….tapi Lay, Jae Sun? Pria itu-"

"Seorang prajurit, kehidupan dan statusnya berada di atas Baekhyun. Ia punya sebuah rumah, ia mampu menafkahi Baekhyun dan melindunginya dari The Infected… dan sangat bersikeras bahwa ia tidak akan menikahi siapapun kecuali Baekhyun."

Kai bangkit, mulai putus asa. "Lay kumohon, jangan Jae Sun, Baekhyun akan benar-benar menderita, dia itu brutal dan benar-benar-"

"Kai," Lay memperingatkan.

Kai menghela napas dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya. Jae Sun adalah seorang playboy, hal itu dapat dibuktikan oleh gadis-gadis Desa yang tidak dapat dihitung jumlahnya….tapi Jae Sun memperlakukan mereka dengan cukup baik. Namun tidak dengan laki-laki… Ia sangat kejam pada laki-laki. Baekhyun akan jauh lebih aman di hutan dibandingkan bersama Jae Sun. Kai tidak dapat membiarkan Baekhyun hidup tersiksa. Ia lebih baik mati daripada melihat Baekhyun harus terikat pada Jae Sun.

Pikiran lain terlintas di pikirannya. Kyungsoo adalah tanggung jawab Baekhyun. Jika Baekhyun menikahi Jae Sun, maka Jae Sun akan bertanggung jawab merawat Kyungsoo juga. Jae Sun tidak akan peduli merawatnya, bocah itu tidak akan aman di rumah Jae Sun…atau dimanapun juga. Penduduk Desa tidak punya tempat dan belas kasihan pada yang lemah.

Jika Baekhyun dipaksa untuk menikahi Jae Sun, Kyungsoo akan mati.

"Kapan Dewan Tinggi akan memutuskannya?" Ia bertanya, melawan rasa takut yang menyerangnya.

"Tidak akan lama…ada beberapa masalah yang harus diurus terlebih dahulu. Ketika ulang tahun Baekhyun tiba, mereka akan membuat keputusan."

.

.

.

.

.

Aku tersesat…benar-benar tersesat. Baekhyun menatap pepohonan yang mengelilinginya. Apakah aku sudah melewati pepohonan itu….atau pepohonan itu terlihat sama persis seperti semua pohon yang sudah kulalui? Ia bergumam frustasi, ia mengeluarkan petanya lagi. Ia tidak pernah menggunakan peta sebelumnya. Dia tidak pernah perlu menggunakannya. Jalur penjaga ditandai dan dihapalkan dengan baik, dan Desanya (walaupun ia rasa cukup besar) adalah rumahnya sendiri. Bodoh sekali jika ia bisa tersesat di sana.

Tapi serius deh apa sih susahnya mengikuti peta?

Ternyata sangat susah, karena aku bahkan tidak tahu dimana DesaKU sekarang. Baekhyun memasukkan kembali petanya ke dalam tasnya. Hari sudah hampir sore dan ia belum juga melihat sesuatu yang menyerupai tanda-tanda di peta sejak ia meninggalkan Desa pagi ini. Sekarang Baekhyun tersesat di hutan penuh The Infected tanpa ada harapan lagi. Bahkan prajurit tidak akan datang kemari. Apakah keadaannya bisa bertambah buruk daripada ini? Ia berpikir sambil menggerutu.

KRAK!

Ia terlonjak, menoleh ke asal suara. Oh SIAL! The Infected, setidaknya jumlahnya ada empat, mereka mengerang sambil berjalan menyusuri hutan. Baekhyun membeku sambil menatap mereka. Mereka adalah Shamblers, The Infected yang sudah membusuk hingga mereka tidak dapat bergerak cepat ataupun bergerak sama sekali. Mereka hanya bisa berjalan sempoyongan, dan bergerak dengan pose meluncur yang aneh. Cukup tidak berbahaya….kecuali jika mereka menjerit untuk memberitahu yang lain dan mendatangkan The Infected yang mampu bergerak cepat.

Baekhyun tidak berani bernapas, Baekhyun menggeser kakinya ke belakang dengan sangat perlahan. Namun tidak sekalipun mengalihkan pandangannya dari The Infected, ia mulai menjauh hingga mereka tidak dapat melihatnya. Bergeraklah perlahan…jangan bersuara sedikit pun…jangan sampai mereka tahu aku ada di sini. Ia bergerak di balik pohon, berusaha menjauhi jalur yang dilewati The Infected. Ia melihat mereka bergerak diatas dedaunan, mereka melewatinya begitu saja. Baekhyun menghela napas lega.

Salah satu dari mereka menoleh. Baekhyun kembali membeku, sama sekali tidak bergerak. Jantungnya berdebar sangat keras ia yakin The Infected dapat mendengarnya. Ia menatapnya, matanya sama sekali tidak berkedip. Rahangnya bergerak naik turun perlahan, tulangnya bisa terlihat dengan jelas diantara daging yang membusuk. Akhirnya, ia membalikkan badannya lalu menyusul yang lainnya. Baekhyun bersandar dengan lemas. Aku hampir mati...LAGI.

Ia menghela napas dalam-dalam, lalu melihat petanya. Ia TIDAK tahu di mana ia berada, atau dimana yang lainnya juga. Ia menatap langit, merasa tidak berdaya. Sudah hampir malam. Bahkan jika ia menemukan Desa lainnya sekarang, ia tidak akan bisa kembali ke Desa tepat waktu. Ia akan terperangkap di hutan bersama The Infected… dan mereka tidak akan melewatinya begitu saja seperti tadi. Tidak ada seorangpun yang meninggalkan Desa pada malam hari, itu sama saja dengan bunuh diri. Itu berbahaya dan bodoh dan itulah tepatnya yang akan Baekhyun lakukan.

Sesuatu bergerak lagi. Baekhyun terdiam. Dari sudut matanya, ia mengkap sebuah bayangan. Perlahan, ia menggeser kepalanya untuk melihatnya. Apakah itu The Infected? Sosok itu terlihat seperti The Infected, namun ia tidak bergerak seperti mereka. Ia bersembunyi di balik pohon, jelas-jelas balik menatap Baekhyun. Baekhyun merasakan rasa takut menjalarinya. Infected tidak…mereka tidak melakukan hal seperti itu.

Sosok itu bergegas pergi. Baekhyun terkesiap. Itu MANUSIA! Itu seorang manusia. Apakah ia seseorang dari Desa? Baekhyun tersadar lalu cepat-cepat bangkit untuk mengejarnya. Aku harus mengejarnya sebelum aku tersesat lebih jauh lagi! Ia tidak berani berteriak, namun ia susah payah mengejarnya. Ia mengabaikan rasa sakit di pergelangan kakinya, dan terus mencoba mengikuti pria itu. Tangkap dia! Jika aku masih di sini malam ini, aku akan mati.

.

.

.

.

.


.

T/N: Terima kasih sudah membaca dan menambahkan cerita ini pada daftar following dan favorite kalian, terima kasih juga sudah memberi review untuk cerita ini. Kalian semua luar biasa! Sampai ketemu di chapter depan!