Naruto © Masashi Kishimoto
(I don't take any profit by publishing this fict)
SasuHina
AU
Home
Hinata memasuki Home. Gadis pemilik iris lavender tak tunggu waktu lama untuk bergegas keluar dari rumah dan mengunjungi rumah seseorang atau mungkin beberapa orang. Hari ini sekolah libur. Tentu saja. Siapa yang mau pergi ke sekolah hari Minggu? Ya, hal tersebut mungkin berlaku bagi Hinata yang tidak mengikuti klub mana pun. Tidak ada rencana berarti, sang gadis memilih meluangkan waktu di Home. Langkah kaki Hinata bergerak penuh semangat. Entah bagaimana, Home memberikan energi positif untuknya. Mungkin karena pada dasarnya Hinata menyadari bahwa Home hanyalah dunia maya, dia bisa lebih ekspresif dari biasanya.
Sembari bersenandung ceria, Hinata merasakan betapa indahnya tinggal di Home. Meskipun hanya VMMORPG, langit di atas sana memberikan sengatan yang terasa nyata di kulit, udara yang benar-benar sejuk ketika dihirup, dan rerumputan yang melacurkan wewangian bagi hidung-hidung jalang. Seperti sungguhan, terasa hidup. Ketika baru saja menjejaki jalanan, sang gadis bertegur sapa dengan sesosok mangkuk ramen.
"Ramen-kun, selamat pagi."
Pemuda berwujud mangkuk mencengirkan gigi. "Pagi, Hinata! Hari ini libur, ya? Aku berniat menghabiskan waktu seharian di sini!"
Hinata melongok menghampiri sang pemuda, tertarik melihat posenya yang menekuk kaki, menghalangi Hinata dari objek yang dipegang Ramen. Ramen yang mengerti rasa penasaran Hinata, memiringkan sedikit tubuhnya, membiarkan Hinata melihat apa yang tengah sang pemuda lakukan. Ramen rupanya tengah menggali di lahan yang tidak terlalu luas di depan kediamannya. Pemuda mangkuk ramen itu lalu memasukkan beberapa biji ke lubang yang dia buat.
"Aku baru saja membeli bibit di pertokoan. Mereka bilang, bibit ini bisa tumbuh di sini. Jika sudah berbuah, buah yang asli bisa dikirimkan ke alamat kita di dunia nyata. Rasanya seperti menanam sungguhan, bukan? Pihak Home bilang mereka akan merawat tanaman kita dengan cara yang seratus persen sama dengan cara kita merawat tanaman tersebut. Jika aku menyiram tanamanku dua hari sekali, pihak Home pun akan menyiram tanamanku di dunia nyata dua hari sekali."
Bola mata Hinata sontak berbinar. Benarkah? Itu artinya dia juga bisa ikut menanam di depan rumahnya, bukan? Sebentar lagi, sahabat Hinata akan berulang tahun. Hinata ingin memberikan sesuatu yang berkesan. Hinata pikir, alangkah baiknya jika bisa membuat pie apel dari 'apel yang ditanam sendiri'. Jemari telunjuk Hinata bermain di layar hologram di depannya, mencari navigasi untuk pergi ke pertokoan.
Ketika berjalan di depan rumah seseorang, kaki Hinata berhenti. Kepala sang gadis secara kaku menoleh, berharap dia menemukan sosok nyentrik bernama Chidori di depan rumahnya. Namun, nihil. Pintu rumah Chidori terkunci rapat, membuat Hinata mengira-ngira bahwa sang pemuda barangkali tidak sedang login. Baru saja Hinata hendak melanjutkan perjalanan, suara pintu dibuka terdengar, disambung dengan suara seruan seseorang.
"Hinata-san?"
Sosok ayam berwarna putih dengan tubuh buncit mendekati sang gadis. Hinata tidak mengerti apa yang salah dengannya. Kenapa dihampiri oleh sosok ayam putih besar membuat darahnya berdesir kencang? Kenapa dia merasa wajahnya panas ketika sang pemuda semakin memutus jarak di antara mereka?
"Chidori-kun, selamat pagi," sapa Hinata, menutupi kecanggungannya.
Chidori tersenyum, matanya terlihat menyipit sampai seperti terpejam. "Pagi."
Setelah berbincang sebentar dan mengutarakan rencananya hari ini untuk pergi ke pertokoan, Hinata dikejutkan dengan tawaran dari Chidori untuk menemaninya. Degupan jantung Hinata memompa cepat bukan main. Chidori berjalan di belakang Hinata, membuat sang gadis merasa keheranan. Namun, ketika Chidori menjelaskan alasannya, tawa Hinata pecah.
"Aku takut Hinata-san merasa tidak nyaman jika berjalan di sisiku."
Pemilik helaian indigo lantas menarik tangan (sayap) sang pemuda dan mensejajarkan sang pemuda dengannya.
Gadis Hyuuga tak pernah menyangka bahwa akan ada saatnya ketika dia bisa tertawa dan tersenyum berkali-kali dalam satu hari. Dia tidak bisa menahan tawa ketika melihat Chidori kesulitan keluar dari kerumunan pengunjung lain dengan tubuh gembulnya. Dia tidak bisa tidak tersenyum ketika melihat Chidori terima saja disuruh menghibur seorang anak. Awal rencana, Hinata hanya ingin mengunjungi toko biji-bijian dan pupuk. Namun, rencana itu menjadi lebih baik ketika keduanya mencoba memasuki beberapa toko.
Ketika melihat sebuah dasi pita dengan motif polkadot oranye-ungu, Hinata tidak bisa menahan diri untuk tidak membelinya. Gadis itu tak menunggu izin untuk bergegas memasangkan dasi tersebut di leher Chidori.
"Pantas sekali!" Puji Hinata, puas.
Sang pemuda berkostum ayam tampak tidak keberatan. Dia membungkuk kikuk berkali-kali dan berterima kasih.
Mereka lalu memasuki toko pernak-pernik. Membalas kebaikan Hinata yang memberikan dasi untuknya, Chidori memutuskan membeli sesuatu untuk Hinata. Pemuda itu mengitari seisi toko ketika Hinata pun sibuk mengamati beberapa rak. Ketika keduanya keluar dari dalam toko, Chidori meminta Hinata untuk merunduk. Meski bingung, sang gadis menurut. Betapa kagetnya dia ketika mendapati sebuah benda terpasang di lehernya. Benda itu adalah kalung dengan liontin berbentuk rumah, merchandise Home.
"Benda yang aku dan kau pakai tidak bisa dibawa ke dunia nyata. Namun, benda yang asli akan dikirimkan ke alamat kita sehingga kita bisa memilikinya di dunia nyata. Benda yang ada di sini semuanya khusus untuk avatar kita. Namun, ada beberapa kebijakan untuk beberapa benda. Jika membeli sebuah buku di sini, misalnya, buku yang asli akan dikirimkan ke rumah kita di dunia nyata," terang sang pemuda.
Hinata menganggukkan kepala mengerti. Ketika sebungkus biji telah berada dalam genggaman Hinata, Chidori meminta izin untuk menyambangi sebuah toko. Ada beberapa toko makanan dan minuman di sana meski penghuni Home tidak dapat makan dan minum. Toko tersebut akan mengirimkan makanan atau minuman ke alamat asli pengguna Home. Seperti pesan antar melalui dunia VMMORPG.
"Maaf menunggu lama," ujar sang pemuda setelah keluar dari dalam toko pizza.
Sebenarnya, gadis berambut indigo pun tergoda untuk ikut memesan. Menyantap seloyang pizza setelah logout dari sini adalah ide brilian. Namun, Hinata tahu keluarganya tidak akan senang jika sang gadis memakan fastfood seperti itu. Selain itu, makan siang Hinata biasa disiapkan orang rumahnya. Apakah orang rumah Chidori memiliki kesibukan masing-masing?
Sebelum ditanya, tampaknya sang pemuda memilih untuk berucap terlebih dahulu.
"Aku tinggal sendirian dengan menyewa sebuah kamar apartement. Sesekali aku memasak masakan yang sederhana. Hanya saja, hari ini aku ingin makan pizza." Chidori memberitahukan keadaannya dengan suara lembut dan bibir bersungging senyuman.
'Apakah Chidori-kun tidak punya pacar? Kenapa aku baru memikirkan hal itu sekarang?' Batin Hinata.
Menelan ludah, Hinata mencoba bertanya. Hidup digentayangi rasa penasaran itu tidak baik. "Chidori-kun, kau punya pacar?"
Kepala sang ayam meneleng cepat. "Tidak! Aku tidak punya pacar!"
Melihat respon Chidori yang tampak panik, Hinata mendekatkan wajahnya. Selintas niatan jahil muncul.
"Benarkah?"
"B-benar, Hinata-san!"
"Benarkaaah?"
"Aku tidak bohong! Aku tidak bohong!"
Tawa lepas terdengar dari Hinata selanjutnya. Chidori benar-benar pemuda yang baik. dia membawakan belanjaan Hinata, mengangkat beberapa bungkusan plastik dengan sayapnya seperti jemuran pakaian. Ketika Hinata bersenandung salah satu soundtrack film, Chidori menyambung senandung Hinata. Keduanya bersenandung ria sampai setengah perjalanan. Chidori menengok Hinata. Gadis itu tengah menatap sebuah kediaman seseorang.
"Rumah Toneri-san?"
Pertanyaan Chidori membuat pandangan Hinata beralih pada sang ayam. "Kau mengenalnya, Chidori-kun?"
"Ketika baru pindah kemari, dia berkeliling setiap rumah. Rumahku salah satunya."
"Aku akan mencoba ke sana." Hinata lekas memasuki halaman kediaman pemuda bernama Toneri, meninggalkan Chidori di sisi jalan.
Ketika pintu terbuka dan menampakkan sosok seorang pemuda, Chidori berlari kecil menyusul Hinata.
"Ada apa?" Pemuda bernama Toneri mengangkat sebelah alis.
Hinata memberikan telengan kecil. "Aku hanya ingin memperkenalkan diri. Namaku Hinata. Aku baru saja pindah ke sini. Salam kenal."
Keduanya sedikit berbincang ringan, seolah tidak menyadari bahwa Chidori benar-benar bungkam di antara mereka. Sepanjang jalan, Hinata membicarakan betapa bersyukurnya dia bisa menemukan Home. Gadis itu terus berbicara sampai tak sadar bahwa Chidori tidak memberikan balasan apa pun.
"Chidori-kun?"
Chidori terperanjat. "Y-ya, Hinata-san?"
"Kau kenapa?"
Chidori lagi-lagi menelengkan kepala kencang. Sadar telah tiba di dekat rumahnya, Chidori mengembalikan belanjaan Hinata dan lekas pamit. Setelah itu, Hinata mencoba menemui Chidori. Namun, pemuda yang dimaksud tampak telah meninggalkan Home.
Di sebuah kamar apartemen yang cukup luas, seorang pemuda berambut hitam duduk di depan laptop. Kepala sang pemuda merunduk sehingga wajahnya tidak terlihat. Kepalan tangan sang pemuda mengeras. Dia lantas menghantamkan kepalan itu ke dinding di sisinya.
"Sial!" Umpatnya.
Dentingan bel dari pintu dan teriakan kurir yang terdengar menyorakkan "pizza" diabaikan begitu saja. Pemuda itu kehilangan nafsu makannya. Entah bagaimana, pemandangan yang baru saja dia lihat mengusik kesabarannya.
Hinata bersembunyi di belakang tubuh sahabatnya, Temari, yang lebih tinggi. Keduanya tengah memasuki area sekolah yang asing. Ini semua bermula ketika Temari hendak menonton pertandingan shogi yang diikuti Shikamaru, kekasih sang gadis, di sekolahnya. Berbeda dengan sekolah Hinata yang menggunakan model sailor, seragam di sana menggunakan model blazer, dasi, dan kemeja. Beberapa pelajar dari sekolah lain pun tampak berdatangan untuk mendukung jagoan mereka masing-masing.
Ketika tengah berjalan di sebuah lorong, keramaian terdengar mendekat. Hinata merasa familiar dengan kebisingan yang semakin jelas di telinganya itu.
"Sasuke-kun, hari ini kita pergi ke toko buku, ya?"
"Hari ini ada film yang baru tayang. Bagaimana jika kita nonton saja?"
"Aku akan ikut audisi model. Aku ingin Sasuke ikut denganku."
Sosok pemuda yang Hinata pernah temui di stasiun berjalan melewati dirinya dan Temari. Dua gadis itu bahkan harus merapat ke dinding ketika pasukan gadis yang terlihat memagari sosok sang pemuda enggan memberikan ruang untuk keduanya.
"Gadis-gadis merepotkan," keluh Temari.
"Pemuda yang terkenal sekali, ya. Kemarin aku melihatnya di stasiun."
Hinata mengerling, menatap sekilas punggung sang pemuda yang kian menjauh.
'Jadi namanya Sasuke, ya.'
Hinata lagi-lagi terkikik setiap membandingkan pemuda tersebut dengan Chidori. Ah, Hinata ingin bertemu Chidori di dunia nyata. Lusa, Hinata berencana untuk pergi bersama Cherry. Apakah akan tiba saat ketika Hinata dan Chidori bisa akrab, bahkan di dunia nyata?
'Jika Chidori adalah seorang pelajar. Apakah saat ini dia berada di sekolah ini? Seberapa jauh jarak di antara kami?'
Hinata menghabiskan malam dengan berada di Home, duduk di teras rumahnya seraya menatap langit malam. Tadinya sang gadis berharap dia bisa bertemu beberapa penghuni Home. Namun, tak ada satu pun dari mereka yang menampakkan diri. Jika dipikir, sikap Chidori padanya juga sangat aneh. Apakah Hinata secara tidak sengaja menyakiti perasaan Chidori? Apa yang memangnya telah dia katakan? Seingat sang gadis, dia hanya menanyakan soal pesanan dan bersenandung. Apakah Chidori terburu-buru logout untuk menerima pesanannya?
Ketika semua pemikiran itu membuat Hinata risau, sesosok ayam muncul di depannya. Hinata yang terkejut refleks menendang ayam tersebut sampai jatuh. Barulah beberapa saat kemudian Hinata menyadari bahwa ayam itu adalah Chidori. Sang gadis bergegas membangunkan sang pemuda sembari meminta maaf. Beruntung, Chidori hanya tertawa kecil, meringis sedikit, dan memaklumi Hinata yang menendangnya.
"Aku yang salah, Hinata-san. Maafkan aku, ya."
Oh, Tuhan. Betapa manis sosok ayam di depannya ini. nadanya bicara begitu lembut dan kekanakan. Lugu sekali. Di sisi lain, Hinata merasa lega karena Chidori tidak lagi bersikap aneh seperti kemarin.
Keduanya duduk termenung di teras Hinata. Sama-sama melayangkan kelereng mereka pada tudung semesta maya yang mereka huni saat ini. Chidori sesekali menunjuk rasi bintang dan bertepuk tangan ketika berhasil menebak namanya. Ketika ada bintang jatuh, keduanya sontak mengatupkan tangan.
"Semoga besok menyenangkan," harap Chidori.
"Semoga Chidori-kun menjadi terkenal."
"Eh?" Mata Chidori membulat.
Hinata memandang Chidori sembari mengulaskan senyuman.
"Tidak. Kupikir, Chidori-kun adalah pemuda yang pemalu di dunia nyata. Karena itu, aku berharap Chidori-kun menjadi lebih berani dan terkenal."
Chidori masih terdiam.
"Ah, sudah dua hari ini aku bertemu dengan seorang laki-laki yang sangat digandrungi perempuan. Chidori-kun pasti akan iri jika melihatnya. Aku bertemu dengannya di stasiun dan di sekolah lain. Namanya kalau tidak salah … Sasuke. Uchiha Sasuke."
Kepala sang ayam seolah membatu. Dia mengenal nama yang disebutkan Hinata. Itu adalah ….
"Hinata-san."
"Ya, Chidori-kun?"
"Sasuke itu …."
"Sasuke itu …?"
"Diriku di dunia nyata."
Memang benar bahwa ketika berada di dunia maya, setiap orang bisa jadi apa dan siapa saja.
To Be Continued
—Thanks!
(Grey Cho, 2016)
