The Watched
Author: xxBubbleandTroublexx
Translator: meongmungee
Characters: Baekhyun, Kai, EXO
.
Lies
(Kebohongan)
.
.
.
Baekhyun bukanlah seorang prajurit. Sangat kecil kemungkinan ia bisa menjadi seorang prajurit. Ia terlalu kecil, dan tidak cukup kuat untuk itu. Kemampuannya dalam kerjasama tim pun juga tidak sebagus itu. Ia juga tidak bisa bertarung melawan orang yang bukan The Infected. Baekhyun adalah orang yang banyak omong, dan ia tidak bisa menutup mulutnya. Jadi banyak sekali yang menantangnya berkelahi. Perkelahiannya pun berjalan sangat cepat. Baekhyun bergantung pada bergerak terlebih dulu, menyerang ketika lawannya masih sibuk mengejeknya. Unsur kejutan memang bekerja dengan sangat baik. Baekhyun, yang tidak bisa berkelahi satu lawan satu, bisa memukul kepala seseorang kemudian kabur dengan sangat cepat. Hampir semua rencananya melibatkan berlari. Dan selalu ada alasan untuk itu.
Sekarang, saat ia mulai sadar, ia butuh rencana baru. Ia belum mati, ia tidak berada di neraka ataupun di surga. Artinya ia tidak tahu dimana ia berada, ataupun siapa yang membawanya kemari. Unsur kejutannya sudah hilang. Dan tidak mati berarti masih ada berjuta-juta cara ia bisa terbunuh. Tidak ada satupun yang rasanya enak. Maka dari itu, saat ia mulai mengumpulkan kesadarannya, ia memutuskan rencananya adalah (1) cari tahu dimana ia berada, (2) temukan pemilik suara waktu itu dan (3) kabur sebelum ia tewas.
Jika ia tidak bisa melakukan yang nomor 1 ataupun 2 ia tidak keberatan. Nomor 3 adalah yang paling penting di rencananya…tapi itu juga sebenarnya bukan rencana. Itu lebih seperti sebuah 'gambaran dasar' dari sesuatu yang Baekhyun sendiri tidak yakin bisa ia lakukan. Ini bukan seperti ancaman The Infected ataupun mengusir Jae Sun. Baekhyun tidak tahu apa yang bisa ia harapkan. Namun Baekhyun tidak punya waktu untuk memikirkan apapun, karena ia telah bangun dan waktunya berpikir sudah habis.
"Sudah bangun?" sebuah suara bergema, membuat Baekhyun menghentikan ocehannya dalam hati. Ia mengerang lalu membuka kedua matanya. Sinar matahari bersinar terang, membuatnya harus berkedip beberapa kali. Pergelangan kakinya berdenyut, mengingatkannya saat ia terjatuh dari bukit. Lupakan soal kabur…..Setelah ia bisa fokus, Baekhyun mendapati dirinya tengah menatap langit-langit sebuah tenda.
"Hai."
Baekhyun terkesiap lalu menekuk tubuhnya di atas ranjang. Seorang pemuda duduk di sebelahnya, dengan tubuh tinggi dan kurus juga mata besar dan tangan yang lebih besar lagi. Ia berpakaian aneh, bajunya serba hitam dan lebih cocok untuk jadi pembunuh bayaran dibandingkan seorang prajurit. Baekhyun menggeser tubuhnya, menahan tubuhnya dengan sikunya. Ia menggelengkan kepalanya lalu mengucek matanya. "Siapa kau?"
Ia tertawa sambil menyilangkan tangannya di depan dada. Ia tersenyum, menunjukkan giginya yang putih bersih. "Namaku Chanyeol, dan ya, aku bukan dari Desamu."
.
.
.
Kai terlahir dengan apa yang Suho sebut dengan insting. Indera keenam yang muncul ketika The Watchers terdiam. Instingnya telah menyelamatkan nyawanya lebih dari yang bisa Kai ingat. Instingnya muncul tanpa peringatan, menyuruhnya melakukan sesuatu yang mustahil bisa ia duga. Seperti kapan ia harus berlari, kapan ia harus bangkit dan melawan, ketika ada sesuatu yang salah, dan ketika seseorang berbohong.
Suho sudah menjadi guru Kai sejak usianya sepuluh tahun. Suho selalu ada untuknya melewati semua rasa sakit, darah, dan juga keringatnya. Suho mengenalnya luar dalam dan Kai berusaha untuk memahami Suho. Dan meskipun hal ini melukainya, Kai tahu Suho sudah berbohong padanya.
Hal yang Kai ketahui tentang Suho, adalah bahwa Suho tidak pernah benar-benar berbohong. Ia memanipulasi kebenaran, memainkan kata-katanya menjadi sesuatu yang ia inginkan, namun tidak pernah berbohong secara langsung. Malam ini ia melakukannya. Kai tidak tahu bagian mana yang merupakan kebohongan, tapi ia tahu Suho telah berbohong. Sesuatu yang membuat Suho khawatir hingga ia harus memaksa Kai keluar dari rumahnya. Masalah apapun itu, instingnya berkata itu pasti tentang Baekhyun.
Jadi Kai duduk di bawah jendela, menunggu datangnya pagi. Tidak sekalipun ia berpindah tempat, perasaan pekanya terhadap bahaya terlalu kuat. Suho….ada masalah apa? Ia mengulang kembali kejadian barusan di kepalanya, berusaha menemukan masalahnya, kebohongannya. Ia tidak bisa menemukannya, masalahnya selalu menghindarinya berapa kalipun ia memikirkannya. Mereka berdua bertindak sangat aneh bagi Kai. Sesuatu terjadi. Ia berharap masalah itu adalah sesuatu yang sederhana, seperti Baekhyun sedang demam, atau Baekhyun sedang berencana membunuh Jae Sun….atau, atau….Kai mengerang, lalu memejamkan matanya. Suho tidak akan berbohong untuk menutupi sesuatu yang sederhana. Apapun itu, pastilah itu sebuah masalah yang besar. Dan mengenal Baekhyun, pastilah pemuda ramping itu sumber masalahnya.
Setidaknya, ia dihinggapi rasa penyesalan. Aku tahu dimana ia berada.
Sebuah suara menangkap perhatiannya. Kai membuka matanya lalu memperhatikan tanah di bawahnya. Sebuah pergerakan berhasil ia tangkap. Ia berlutut untuk mengintip lebih jelas, mata Kai menyipit ketika ia mendapati sesosok pria tinggi menyelinap di balik kegelapan. Ia mengenal sosok itu. Jae Sun….Ia menggeram. Ia tidak tahu apa yang diinginkan oleh pria itu, namun apapun itu, Kai tidak akan membiarkannya. Terutama jika ia berada disana.
Kai maju ke depan, bergerak perlahan untuk mengintip dari ujung papan. Jae Sun masih berada di bawah rumah, ia tidak menyadari keberadaan Kai. Kai menahan amarahnya, ia berusaha tetap tenang. Ia sudah menghajar si bodoh itu, namun hal itu juga tidak menyadarkannya. Menghajarnya lagi percuma saja. Kai mengepalkan tinjunya dengan frustasi. Kemudian ia mengingat hal yang biasa ia lakukan bersama Baekhyun saat mereka masih kecil. Mereka berdua dulunya si pembuat masalah, terutama jika dilengkapi dengan kekuatan Kai dan otak jahil Baekhyun. (Sebuah keajaiban orangtua mereka tidak membunuh mereka.) Dan salah satu kejahilan Baekhyun adalah dengan memanjat rumah dan menjatuhkan ember berisi air kepada siapapun yang lewat dibawah.
Kai tidak punya ember berisi air. Tapi ia punya pot berisi tanah. Jae Sun mendongakkan kepalanya, mencoba mengintip. Ketika ia tidak bisa melakukannya, ia mundur dari bawah papan. Tanpa ragu Kai menjatuhkan potnya tepat di atas kepala Jae Sun.
Ia tepat mengenai sasaran.
Kai nyaris tertawa saat Jae Sun jatuh ke tanah, lalu memaki-maki dengan keras. BRENGSEK! Ia berteriak. KEPALAKU! Jendela tetangga pun terbuka, lalu seorang wanita mengeluarkan kepalanya dengan marah. "Tidur sana!" Ia berteriak. "Kami disini masih ingin TIDUR!" Jae Sun menggeram padanya, kemudian menyelinap pergi sambil bergumam kesal.
Kai bersandar pada dinding. Sudah beres, pikirnya dengan sedikit puas. Ia menatap langit. Langitnya masih gelap namun bagian dasarnya mulai berubah menjadi warna merah muda. Sudah hampir pagi, ia tersadar. Sudah hampir tiba saatnya aku memberitahu Baekhyun tentang perasaanku.
.
.
.
Baekhyun menatap Chanyeol, tidak yakin harus berpikir tentang apa. Tidak ada apapun di luar Desa. Bukankah itu yang dikatakan oleh The Brotherhood padanya berulang-ulang kali? Bahwa dari semua Desa yang tercipta, Desa mereka lah satu-satunya yang masih bertahan? Semuanya telah meninggal ataupun terinfeksi bertahun-tahun lalu. Tapi jika itu benar, darimana Chanyeol berasal? Semua orang di Desa saling mengenal satu sama lainnya. Chanyeol bukanlah anggota The Brotherhood, ataupun salah satu penduduk Desa….dan tidak ada tempat untuk menyembunyikan seseorang di dalam Desa selama bertahun-tahun.
Tapi itu artinya Chanyeol mengatakan yang sebenarnya. Bahwa ia berasal dari tempat lain.
The Brotherhood telah berbohong.
Baekhyun duduk, mengabaikan pergelangan kakinya. Chanyeol buru-buru menahannya. "Pelan-pelan saja," katanya. "Kau sudah mengalami banyak hal hingga sampai disini."
"Ya," Baekhyun menjawab, mencoba mengayunkan kakinya dari tempat tidur. Chanyeol bangkit lalu memaksa kaki Baekhyun masuk kedalam selimut lagi.
"Tidak," ia memperingatkan. "Diamlah, kau harus diam."
"Aku pernah mengalami yang lebih parah," Baekhyun berkata, tidak mematuhi ucapannya untuk tetap diam. Chanyeol mengangkat alisnya, nyaris memutar bola matanya.
"Oh ya?" katanya. "Sebutkan sebuah situasi yang lebih parah dari berada di hutan penuh zombie, tanpa bantuan, sendirian, dan-" ia mendekatkan wajahnya, lalu menyeringai. "diselamatkan oleh orang asing."
"Aku-" Baekhyun menjawab seadanya dengan suara lemah. "Aku pernah memukul seorang Brother dengan tongkat."
Chanyeol tertawa terbahak-bahak. "Apa? Hanya itu?"
Baekhyun memasang wajah marah. "Terserah," katanya. "Kau masih belum memberitahuku kenapa kau membawaku kemari."
"Kau masih belum memberitahuku namamu," Ia membalas. Baekhyun membuka mulutnya untuk protes, kemudian ia menyadari kalau Chanyeol benar. Ia menghela napas. Sudah bertahun-tahun sejak terakhir kali ia harus memperkenalkan dirinya pada seseorang. "Aku Baekhyun," katanya. "Sekarang katakan mengapa kau mengejarku? Siapa yang kau sebut gila?"
"Itu dua pertanyaan," kata Chanyeol. "Yang gila itu bernama Sehun." Ia mengedikkan bahu. "Aku tidak tahu darimana asalnya, hanya saja dia gila dan kau tidak bisa menyingkirkannya. Ia mencari-cari seseorang yang bernama-" Ia berhenti, mencoba mengingat namanya.
"Luhan," kata Baekhyun.
Chanyeol mengangguk. "Nah itu dia. Luhun. Ngomong-ngomong, aku mengejarmu karena kau berlari tepat kearah daerah kekuasaan zombie. Bagian itu dipenuhi oleh mereka, mengerang dan membusuk semua. Bahkan burung-burung tidak kesana, terlalu penuh dengan kematian."
Baekhyun berbaring lalu mengurut pergelangan kakinya. "Apa itu Zommmmbie?" tanyanya, mencoba mengucapkan kata asing itu. Suara Chanyeol yang berisik dan keras itu membuat kepalanya sakit…. (tapi ia imut sih. Berisik, tapi imut).
"Apa?" Chanyeol balik bertanya. "Zombie? Oh benar juga, kau memanggilnya 'The Infected'. Mayat-mayat yang bisa menjerit dan menggigit orang-orang. Kami memanggilnya 'Zombie'."
Itu menarik perhatian Baekhyun. "Kami?" Ia bertanya, tiba-tiba bangkit dan mengagetkan Chanyeol. "Ada banyak orang? Dari Desa lain?"
Chanyeol bergeser di kursinya. "Tidak juga," jawabnya sambil menghindari tatapan Baekhyun. "Lagian bukan di sekitar sini." Baekhyun cemberut. "Ngomong-ngomong," ia berkata, tatapannya berubah serius. Matanya menajam dan terfokus pada Baekhyun. Tiba-tiba saja ia bertambah menakutkan. Wajahnya terlihat berpikir keras, dan tatapan matanya siap memangsa. Pria ini berbahaya…. "Kenapa," ia bertanya dengan suara rendah. "kau ada disini?"
"Aku….sedang….." Baekhyun berhenti. Ia tidak tahu harus mengatakan apa. Chanyeol membanting kursinya, membuat Baekhyun terlonjak kaget. Pria itu kemudian mendekati Baekhyun, mendekatkan wajahnya hingga Baekhyun bisa merasakan hembusan napasnya di wajahnya. "Aku sedang berusaha menemuka-"
"CHANYEOL!" terdengar suara teriakan dari luar tenda. "KELUARLAH! AKU TAHU KAU MENYEMBUNYIKANNYA! LEPASKAN LUHAN ATAU AKU BERSUMPAH DEMI THE WATCHERS MAYATMU AKAN KUJADIKAN MAKANAN THE INFECTED!"
Chanyeol mengumpat, lalu melirik pintu. Ia memegang kedua bahu Baekhyun, lalu mencengkeramnya kuat-kuat. "Kurasa tidak masalah. Aku akan membawamu kembali ke Desa dan kau akan tinggal disana."
"Kenapa-a?" Baekhyun tergagap. "Tapi aku harus-"
"Apapun yang ingin kau lakukan, kau harus kembali ke Desa dengan tangan kosong. Kembalilah, lalu ucapkan selamat tinggal, temuilah Kyungsoo untuk yang terakhir kalinya."
"Kyungsoo?!" Baekhyun berteriak. "Kyungsoo? Bagaimana kau tahu tentang Kyungsoo?"
"Sial," Chanyeol mengumpat pelan, "Kelepasan…." Cengkeramannya menguat hingga Baekhyun berteriak kesakitan. "Kau harus kembali atau aku harus-"
"CHANYEOL!" Suara itu mendekat. "CHANYEOL!"
Chanyeol mengumpat lagi, mendorong Baekhyun untuk melindunginya. Ia mengambil pedang ramping berwarna hitam dari sisi tempat tidur. Ia membuka pintu tenda, lalu berhenti sejenak untuk menunjuk Baekhyun. "Kau diam saja disini, aku akan menangani ini." Kemudian ia pergi, membiarkan pintu tenda terjatuh dan menutup kembali tenda.
Baekhyun bahkan tidak memikirkan ucapannya sama sekali. Ia duduk, melompat dari tempat tidur. Ia melihat ke bawah, lalu ia menyadari ia tidak mengenakan pakaiannya. Justru ia mengenakan sebuah jubah hitam milik Chanyeol. Jubahnya terlalu besar, kedodoran di tubuh mungil Baekhyun. Memikirkan bahwa Chanyeol telah membantunya ganti baju membuat wajahnya tersipu. Baekhyun lalu menarik tasnya dari bwah tempat tidur, memeriksa petanya. Petanya masih ada disana.
Baekhyun bergerak perlahan, lalu mengintip melalui celah pintu tenda. Chanyeol ada disana, sedang berkelahi dengan pria berjubah yang waktu itu. 'Sehun' menarik turun bagian jubah yang menutupi kepalanya, sehingga rambut pirang dan mata marahnya terlihat. Ia mendorong Chanyeol, membuat Chanyeol menggeram. Mereka terlihat sibuk…. Seperti 'sibuk mencoba membunuh satu sama lain'. Seharusnya ini kesempatan Baekhyun untuk kabur.
Baekhyun mundur ke belakang tenda. Ia menarik ujung tenda di bagian belakang, lalu keluar lewat celah-celah dan berjalan menuju hutan. Ia melihat ke sekelilingnya sekali lagi, kemudian ia berlari ke bukit dan kembali kemana ia berharap akan menemukan Desa lain.
Sekarang aku harus menemukan Desanya sebelum salah satu dari mereka menemukanku… atau dimangsa oleh The Infected. Lalu aku harus kembali pada Kyungsoo. Sesuatu yang buruk akan terjadi.
.
.
.
Pagi telah tiba dan Kai tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Ia menyelinap kembali ke depan pintu. Ia baru saja akan mengetuk pintunya lalu ia membeku. Sebuah teriakan yang tertahan terdengar dari balik pintu, terdengar marah dan ketakutan. Jantung Kai nyaris terhenti untuk sesaat. Pikirannya kembali melayang pada sikap aneh Suho dan Kyungsoo semalam. Ada apa? Baekhyun! Ia membuka pintunya paksa.
"Apa yang akan kita katakan padanya?" Kyungsoo berteriak, masih duduk di lantai. Matanya terbuka lebar dan sedikit merah. Suho mondar-mandir di sekitar ruangan, rambutnya kacau dan acak-acakan. Mereka berdua terlihat seperti tidak bisa tidur berhari-hari.
"Aku tidak-" Suho berhenti, menyadari keberadaan Kai di depan pintu. "Kai," ia berkata dengan lemah, melambaikan tangannya dengan tidak bertenaga. "Aku…"
Kai memotong ucapannya, bergegas ke kamar belakang. Suho terdiam dan Kyungsoo mulai menangis. Kai mendorong pintunya dan menatap kamar yang kosong. Tempat tidurnya masih rapi, sudah pasti tidak ada yang tidur disana. Kai berdiri disana, membeku, tidak bisa memikirkan apapun. Ia berbalik perlahan-lahan, ekspresi wajahnya gelap. "Dimana," ia bertanya dengan suara pelan, "Baekhyun?"
"Di luar," Kyungsoo menangis, "Dia berada di luar Dinding."
"Di luar…" Kai terhenti, perasaan kaku di hatinya berubah menjadi takut. "Di luar? Ia keluar dari Desa?"
Tidak ada yang berani menatap matanya, berarti itu semua benar.
Baekhyun berada di luar Dinding.
"Kalian MEMBIARKANNYA PERGI?" Kai berteriak, hatinya terasa hancur. Air matanya menetes setelah bertahun-tahun ia tidak menangis. "Sendirian? IA AKAN TEWAS! Apa yang kalian pikirkan? Kenapa ia DI LUAR SANA? KENAPA?" Kai melemas, mencengkeram gagang pintu untuk menahan tubuhnya. Kemarahannya pun seketika menghilang. Kai memejamkan matanya. "Pernikahan sudah tidak ada artinya lagi," ia berkata getir. "Aku gagal. Ia akan tewas sendirian….."
Suho bergerak mendekatinya, memegang tangannya. "Kai," ia berbisik. "Ia pasti akan kembali."
Kai menyandarkan kepalanya di permukaan kayu. Aku harus menemukannya, aku harus menemukannya SEKARANG. Ia mendorong tangan Suho, lalu berjalan kearah pintu. "Suho" Ia berkata. "Aku akan mencarinya. Beritahu The Brotherhood apapun yang perlu mereka dengar." Ia berhenti sejenak, lalu melihat kearah Kyungsoo. Bocah itu menatapnya penuh harap. Temukan Baekhyun, matanya berkata. Bawa pulang ia dengan aman….
"Kyungsoo," Kai berkata. "Aku akan menemukan Baekhyun, aku janji."
.
.
.
