The Watched
Author: xxBubbleandTroublexx
Translator: meongmungee
Characters: Baekhyun, Kai, EXO
.
Panic
(Panik)
.
.
.
Rasa panik adalah faktor pendorong yang luar biasa. Rasa panik menyerang seseorang dengan cepat, mengagetkan dan menghidupkan otot-otot dan pikirannya yang lelah. Baekhyun sedang panik, dan ia tidak benar-benar peduli. Rasa panik membuatnya terus berlari, rasa panik mengejarnya saat ia berlari kearah hutan agar ia bisa pulang ke Desa. Pergelangan kakinya berdenyut, seakan menyuruhnya berhenti. Ia tidak berhenti. Baekhyun tidak tahu dimana Monster itu berada. Ia bisa saja dimana-mana, memerhatikannya, menunggu waktu yang tepat untuk muncul dan mencabik Baekhyun hingga habis.
Itulah motivasi. Baekhyun kesusahan bernapas, paru-parunya terasa terbakar. Apa-apaan itu? Apa itu sihir hitam? Apa- Baekhyun terhuyung karena tidak sanggup lagi berlari, ia berteriak kesakitan. Ia jatuh berlutut, tangannya menutupi mulutnya. Bodoh! Monster itu, Chanyeol, The Infected, Sehun, dan semuanya berada di luar sana dan mereka bisa mendatanginya kapan saja.
Baekhyun merangkak untuk menjangkau pohon terdekat, meringis setiap kali ia merasakan sakit di kakinya. Ia tahu ia sudah berada di dekat Desa, namun ia tidak tahu apakah ia sanggup melangkah lebih jauh dari ini. Matanya berkaca-kaca, airmatanya bisa jatuh kapan saja dan mengaliri wajahnya yang kotor. Suho, apa yang harus aku lakukan sekarang?
KRAK!
Baekhyun menahan napas, lalu berusaha bangkit. Ia meraih pohon untuk membantunya, sambil melihat ke sekelilingnya untuk mencaritahu asal suara itu. Suaranya pelan, Baekhyun sendiri nyaris tidak mendengarnya. Sesuatu bergerak, ada ranting kecil yang patah, sayangnya ada dahan pohon yang menutupi pandangannya…. Itu bukanlah Monster itu, suaranya tidak berat dan menyeramkan. Itu juga bukan The Infected, tidak ada suara seretan dan geraman. Kemungkinan yang tersisa tinggal Chanyeol dan Sehun.
Terdengar suara krak lagi, kali ini semakin dekat. Baekhyun berlari. Adrenalin berpacu di dalam tubuhnya, membuatnya dapat menahan dan melupakan rasa sakitnya. Tidak masalah, Baekhyun sudah tidak peduli lagi pada rasa sakit yang ia rasakan. Ia sedang bertahan hidup dan bertahan hidup artinya kau harus berlari. Ia berlari melewati pepohonan, berusaha keras berlari dengan lurus meskipun pandangannya mulai berputar dan tak dapat dikendalikan. Napasnya berantakan, dan pandangannya menjadi kabur. Baekhyun merasakan pergelangan kakinya kembali terkilir dengan suara krak! Lalu ia terjatuh dan menabrak tanah keras sekali.
Pandangannya sekarang gelap total. Baekhyun berusaha bernapas dengan wajahnya yang menempel pada tanah. Ia menahan rasa sakitnya lalu meraba-raba tanah untuk meraih tasnya, ia berusaha menemukan tasnya meskipun tubuhnya terasa sakit dan pandangannya gelap. Aku harus menemukannya, pikirnya. Kyungsoo membutuhkannya…Ia membutuhkannya. Tangannya tidak mampu menemukan apapun. Rasa paniknya semakin menjadi. Ia berusaha menggerakkan kepalanya, untuk membuka matanya dan mencari tasnya. Namun ia tidak dapat melakukannya. Baekhyun mengutuk dirinya sendiri dan airmata pun mengalir.
Aku sudah berjanji. Aku tidak bisa mati di sini, tidak dengan cara seperti ini, tidak dengan wajahku tepat menempel pada tanah.
"Baekhyun?" sebuah suara lembut bergema. Baekhyun mengerang. Sekarang ia mendengar suara. Ia berani bersumpah ia mendengar suara Kai, tapi Kai berada di Desa. Ia tidak tahu jika Baekhyun ada di luar sini, tidak mungkin ia datang untuk mencarinya. Suara itu tidak nyata dan Baekhyun menolak untuk membuka matanya karena ia yakin ia tidak akan melihat Kai jika ia membuka matanya.
"Baekhyun!"
Sepasang tangan melingkar di tubuhnya, lalu mengangkat tubuhnya hingga ia terduduk. Mata Baekhyun terbuka lebar. Ia menatap prajurit di hadapannya dengan rasa tidak percaya. "Kai?" Ia berbisik. "Kai?"
"Shhh….." Kai menjawab, memeluknya perlahan. Ia terlihat sangat lega, ada airmata di matanya. Itu aneh, Kai tidak menangis. Tidak mungkin ia menangis karena hal seperti ini…. "Baekhyun aku di sini, aku di sini dan kau baik-baik saja." Ia memeluk Baekhyun lebih erat, menempelkan wajahnya ke rambut Baekhyun. "Oh Tuhan," ia berbisik. "Baekhyun kau baik-baik saja."
"Kenapa kau ada di sini?" Baekhyun menangis, tidak bisa mempercayainya. "Kau tidak seharusnya berada di sini."
"Aku datang mencarimu," Kai berkata, "Suho memberitahuku…Baekhyun apa yang kau lakukan di luar sini?" Suaranya terdengar sangat terluka, seakan-akan ia kesakitan saat berbicara. Baekhyun hanya sanggup menggeleng. Ia tidak dapat berpikir dengan baik apalagi menjelaskan apapun. Terlalu banyak yang telah terjadi.
"Apa yang terjadi pada pergelangan kakimu?" tanya Kai, ia bergeser untuk melihat kaki Baekhyun yang merah dan bengkak.
"Tidak apa-apa," Baekhyun menjawab, mengeratkan tangannya pada leher Kai. "Aku sangat lelah…"
"Aku tahu," kata Kai. "Aku tahu." Kai mengangkat wajah Baekhyun dengan lembut supaya ia dapat melihat wajahnya. Ia menghapus bekas airmata di kedua pipinya. "Ya Tuhan, aku pikir kau sudah mati."
"Maafkan ak-"
Kai mendekat, menempelkan kedua bibirnya pada bibir Baekhyun. Baekhyun menarik napas dengan kaget, matanya terbelalak. Kai….oh….oh….Baekhyun terdiam, terkejut. Lalu ia memejamkan matanya juga.
Ciumannya menyenangkan…rasanya hangat dan lembut. Kai tidak menekan bibirnya terlalu keras, ia menciumnya seakan-akan ia takut kehilangan Baekhyun. Namun ketika Baekhyun mengeluarkan suara 'oh!' kecil, Kai segera merespon. Ia memegang leher Baekhyun, lalu memiringkan wajahnya supaya ia dapat menciumnya lebih lagi. Ciumannya berubah intens, Kai menempelkan bibir mereka dengan lapar. Baekhyun merasa seakan ia akan terjatuh. Kai… Ia memeluk Kai erat-erat, berusaha membalas ciumannya.
Mengapa ini bisa terjadi? Ia sempat berpikir. Sejauh yang ia tahu, Kai tidak pernah memikirkannya selama bertahun-tahun…apalagi menyukainya.
Kai menyudahi ciumannya, ia mengusap-usap leher Baekhyun. Ia tersenyum lembut, "Di luar sini tidak aman," katanya. "Kita harus kembali ke Desa." Ia bangkit, menggendong Baekhyun dengan mudahnya.
"Tasnya!" Baekhyun berseru, baru saja teringat. "Aku butuh tasnya."
Kai tidak banyak bertanya. Ia, meskipun sedang menggendong Baekhyun, dengan mudah mengambil tas yang tergeletak di atas tanah. Ia mengeratkan tangannya pada tubuh Baekhyun lalu mulai bergerak melewati pepohonan. Kai bergerak dengan cepat, jelas-jelas tidak ingin bertemu dengan The Infected. Baekhyun tetap diam. Ia meletakkan tangannya di antara leher Kai dan menempelkan wajahnya di dada Kai. Ia mendengarkan detak jantung Kai. Baekhyun sangat lelah, dan pikirannya luar biasa kacau. Kai menciumnya…Wajah Baekhyun tersipu saat mengingatnya. Ia akan memikirkannya nanti, setelah mereka kembali.
Kembali dengan selamat, pikirnya, perlahan-lahan tertidur. Kembali pada Kyungsoo…setelah itu aku baru akan memikirkan Kai.
.
.
.
Kyungsoo (dan seluruh penduduk Desa) tahu jika Dewan Tinggi tidak bisa dibohongi. Totalnya ada tujuh orang, mereka adalah Brother yang dipilih untuk memimpin The Brotherhood, dan tentu saja seluruh Desa. Pria-pria ini tahu segalanya yang harus diketahui. Setiap rahasia, setiap hal kecil, setiap perbuatan yang dilakukan oleh siapapun. Mereka mampu berbicara langsung dengan The Watchers, demi memastikan kehendak mereka atas Desa.
Sebuah posisi yang sulit, namun sangat berkuasa. Anggota dari Dewan sangat ditakuti.
Kyungsoo menarik napas, berusaha bernapas dengan lancar. Rasanya sulit dan rasa paniknya membuatnya bertambah parah. Ia melirik tiga pria berjubah yang sedang duduk di rumah Suho. Dewan Tinggi jarang sekali meninggalkan Biara…Biasanya mereka yang memanggil orang-orang untuk menghadap. Kyungsoo, yang seringkali diabaikan, tidak pernah sekalipun melihat satu pun anggota Dewan Tinggi dari dekat, apalagi tiga sekaligus…yang saat ini sedang menanyainya dan Suho.
The Watchers tolong berikan aku kekuatan.
"Dimana Kai?" tanya Hyun Ki, wajahnya berkerut dan cemberut. Ia duduk dengan kaku di kursi yang telah disediakan, seakan-akan rumah Suho terlalu kotor dan hina untuknya. "Kami tidak mengetahui keberadaannya seharian. Sekarang hari sudah sangat siang dan ia masih belum terlihat juga. Brother Lay berkata ia berencana datang kemari kemarin."
Tidak ada yag menjawab. Kyungsoo menghindari tatapan mereka. Mengapa pula mereka mengirimkan Hyun Ki? Dari ketujuh anggota Dewan, Hyun Ki adalah juru bicara Dewan, ia terkenal sangat brutal dalam hal menghakimi. Kyungsoo merinding, namun tetap mencoba memasang wajah tenang. Meskipun susah ia berusaha menandingi wajah Suho yang netral. Kyungsoo memantapkan dirinya. Jika Baekhyun cukup berani untuk keluar Desa, ia juga bisa berani berbohong.
"Kami tidak tahu," jawab Kyungsoo. Ia sendiri terkejut mendengar suara tenangnya. "Ia datang kemari pagi ini, kemudian ia pergi. Kami tidak melihatnya lagi."
"Mungkin ia sedang patrol," tambah Suho. "Bukannya itu tugas prajurit? Ia sedang sibuk, ia pasti akan segera kembali."
"Mengapa ia datang kemari?" Jung-su bertanya. Ia mengetukkan jarinya pada ujung kursinya. Klik, klik, klik. Suara itu membuat Kyungsoo nyaris gila. "Apakah ia datang untuk bertemu denganmu Suho?"
"Tidak…Ia datang untuk bertemu Baekhyun."
Suara ketukan itu berhenti. "Ah begitu, Baekhyun sedang dalam masalah akhir-akhir ini kan? Dengan serangan, lukanya, dan lain-lain. Dimana ia sekarang?"
Fokuslah Kyungsoo, jadilah pemberani. "Ia sedang tidur," jawabnya. "Di kamar belakang. Ia sedang tertekan akhir-akhir ini, ia merasa tidak enak badan. Lay menyuruhnya beristirahat."
"Begitu ya," ujar Suk-Chul. Ia terkenal sebagai orang yang baik hati. Kyungsoo bersyukur ia ikut kemari. Jika hanya ada mereka berdua saja ia yakin ia dan Suho tidak akan berhasil. Yah, mungkin saja Suho bisa. Pria itu sangat tenang…sedangkan Kyungsoo ingin sekali berteriak.
"Apakah kami bisa bertemu dengannya?" lanjut Suk-Chul. "Kami ingin menanyakan beberapa hal padanya mengenai kemungkinan pertunangannya dengan Kai."
"Tapi-" Kyungsoo berhenti. Mereka tidak boleh tahu, belum saatnya. Ia harus melindungi Baekhyun, ia harus menjadi kuat. "Tapi ia sedang sakit, ia butuh istirahat. Bisakah kalian mendiskusikannya lain waktu? Mungkin besok?"
Mereka tidak bergerak. Kyungsoo menggigit bibirnya, berdoa semoga mereka mendengarkannya. Ia tidak boleh gagal melindungi Baekhyun. Kemudian Suk-Chul bangkit. "Baiklah kalau begitu," ia berkata. "Kami permisi."
Lalu pintunya terbuka, sinar matahari menerangi ruangan. Kai berdiri di depan pintu, menggendong Baekhyun yang tak sadarkan diri. Ia menatap anggota Dewan dengan ragu-ragu. Ia mengeratkan genggamannya pada Baekhyun yang sedang tidur.
Suho memejamkan matanya sementara Kyungsoo mulai berkaca-kaca. Ketiga anggota Dewan mulai berbisik satu sama lain. Kyungsoo jatuh ke lantai, nyaris menangis. Sekarang tidak mungkin mereka tidak akan tahu semuanya. Tidak ada lagi kebohongan yang bisa menutupi masalah ini.
Kami gagal.
.
.
.
"Apa kau sudah dengar?" seorang wanita bertanya. Ia membawa keranjang cucian di samping lalu bergosip dengan dua orang wanita lainnya.
"Mendengar apa?" tanya yang lainnya.
"Semua orang membicarakannya….tentang anak itu, Baekhyun."
Wanita ketiga mengangguk. "Kudengar ia keluar dinding, sendirian. Ia masih hidup! Ia sudah kembali sekarang."
Wanita pertama mendekat, sangat bersemangat. "Kudengar ia bermalam di luar sana, sepanjang malam!"
"Dan selamat? Tidak seorangpun dapat melakukannya, pasti hanya berita bohong. Hanya rumor bodoh."
"Bukan, anak itu berada di luar selama dua hari satu malam. Kai pergi lalu membawanya kembali siang ini. Saat ia datang ia langsung dipanggil untuk menghadap Dewan Tinggi di Biara. Sekarang Baekhyun ada di sana. Bukankah itu mencurigakan?"
Wanita ketiga mengedikkan bahunya. "Bagaimana ia bisa melakukannya?"
"Entahlah," jawabnya. "Beberapa orang mengatakan itu adalah mukjizat, perbuatan The Watchers."
"Mukjizat? Untuk orang macam dia? Aku meragukannya, The Watchers tidak mungkin menyukainya. Aku saja terkejut ia mampu bertahan hidup sejauh ini, setelah semua yang terjadi padanya dan bocah satunya. Pasti bukan The Watchers."
"Yah, yang jelas ada sesuatu yang membuatnya tetap hidup," wanita pertama bersikeras. "Dan Dewan Tinggi ingin mengetahuinya."
.
.
.
Setelah wanita-wanita itu pergi, Jae Sun tetap berada di gang. Ia bersandar pada dinding, wajahnya berkerut dan mulutnya cemberut. Percakapan yang baru saja ia dengar telah diucapkan lagi dan lagi. Semua penduduk Desa hanya membicarakan hal itu. Baekhyun, Baekhyun, Baekhyun. Mereka tidak dapat membayangkannya. Tidak ada seorangpun yang bertahan hidup selama itu di luar dinding, bahkan Kai. Memikirkan bahwa seorang anak bertubuh lemah seperti Baekhyun dapat melakukannya membuat mereka ketakutan. Bagaimana ia bisa melakukannya? Tanya mereka. Lagipula kenapa ia keluar?
Semua pertanyaan mereka, tidak ada satupun jawabannya. Hal ini membuat Jae Sun nyaris gila. Baekhyun itu miliknya. Bukan milik mereka, bukan milik orang-orang lemah, juga bukan milik Kai. Baekhyun itu miliknya seorang. Jadi apa yang Baekhyun pikirkan saat ia pergi keluar sana? Itu membuatnya sangat marah. Memangnya ia pikir siapa dirinya? Sebentar lagi Baekhyun akan menikah dengannya. Bukan dengan Kai, namun dengannya. Dewan Tinggi sudah mempertimbangkannya, namun sekarang mereka menundanya. Jae Sun yakin semua ini karena kejadian ini.
Ia tidak peduli dengan apa yang telah Baekhyun lakukan. Yang ia pedulikan adalah apapun itu yang telah membuat Dewan Tinggi memutuskan untuk memikirkan kembali pernikahan mereka. BERANINYA mereka? Permainan mereka membuatnya jijik, kesal, dan sangat marah. Apa maksud mereka dengan 'tunggu'? Menunggu apa? Menunggu Baekhyun kabur dan mati? Menunggu supaya Kai bisa duluan menikahinya? Tidak akan, Jae Sun lebih memilih membunuh Baekhyun terlebih dahulu sebelum semua itu terjadi.
Yang ia butuhkan adalah sebuah pengaruh kuat. Sesuatu yang bisa membuat Dewan Tinggi sadar kalau sia-sia saja melawan kehendaknya. Ia butuh sesuatu yang bisa memaksa mereka untuk menyerahkan Baekhyun padanya….namun ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia tidak bisa macam-macam pada Dewan Tinggi, semua orang mengetahuinya. Sebelumnya Jae Sun tidak berani menantang mereka…namun Baekhyun sudah membuatnya kehilangan akal. Ia tidak dapat tidur di malam hari, ia tergoda untuk berkeliaran di luar rumah Suho, sambil membayangkan semua hal yang ingin ia lakukan pada Baekhyun saat ia berhasil mendapatkannya.
Jae Sun menginginkan Baekhyun berbaring di ranjangnya, dengan tubuh bergetar dan tanpa mengenakan sehelai pakaian pun. Jae Sun membayangkan menindih tubuh langsingnya, menciuminya dan menggigitinya hingga darah menodai kulit pucatnya. Ketika Baekhyun menangis ia akan memaksa kedua kakinya terbuka lebar, siap-
"Jadi bagaimana menurutmu?" Yoo-min bertanya, mendekati Jae Sun dari belakang.
Jae Sun menggeram padanya, lalu berbalik pergi. Ia sedang tidak ingin bersama dengannya. Hanya Baekhyun….Ya Tuhan, pemuda itu…Jae Sun ingin mencekiknya, menikmati rasa takut di matanya yang berwarna gelap selagi ia menyetubuhinya habis-habisan. Yoo-min tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan semua itu.
"Apa kau berpikir kalau ia seorang penyihir atau sejenisnya?" Yoo-min berseru padanya.
"Pergi sana," Jae Sun menggeram. Ia mendorongnya lalu pergi.
Baekhyun, Baekhyun, Baekhyun….
Ia harus menemukan sebuah cara untuk menjadikan pemuda itu miliknya.
.
.
.
.
T/N: Maaf lama update, saya masih hidup kok, cuma lagi sibuk banget sama urusan sekolah. Semoga beberapa minggu ke depan gak bakal sesibuk sekarang. And yeah, finally Baekhyun sama Kai kisseu, yehet! Penasaran sama rencana Jae Sun? tunggu chapter selanjutnya(?)
Enjoy this update, see you!
