A/N: Boo! Aku kembali lagi. *ting* kali ini.. This is Our Years Chapter 2. Lagi mood-moodnya nulis, nih. Lagi banyak ide. Bahkan aku udah ada rencana mau buat 2 cerita Dramione, 1 JaLy dan fic lain di fandom Percy Jackson. Tapi nuangin ke Microsoft Word itu looh susah X( yah, doain aja semoga fic-fic In-Progressku cepat ditamatkan. Makin banyak review makin cepat tamat eheheeheehehee *dipukulpakepalu* yah, lanjut aja deh ya :D

Disclaimer: Still same. You Knew What. JKR's

This is Our Years © Beatrixmalf

Chapter 2: Tak Terduga dan Tak Terpercaya

.

.

"Kau benar-benar spektakuler, Weasley."

"Tendanganmu super-duper keren."

"Kau tak terduga, Rose. Golmu.. ahhh." Rata-rata Rose Nymphadora Weasley mendengar itu hampir seharian ini.

Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya frustasi. Saat ini Makan Malam, dan tubuhnya letih sekali. Di beberapa tempat, tubuhnya masih nyeri karena seleksi tadi.

"Rose, gol-mu benar-benar spektakuler. Super-duper kewren," Dominique bersuara, ketika Rose mendelik padanya.

"Sudah, Dom! Aku benar-benar tolol hari ini. Jika saja aku tak terkecoh Quaffle Pengecoh Brengsek itu, badanku tak akan nyeri begini," keluh Rose. Dia masih mengingat saat seleksi tadi. Ketika ia menyadari kesalahannya, Quaffle sudah hampir menerobos gawang, dan ia akan tersisih.

Mengabaikan akal sehatnya, Rose meluncur secepat yang pernah ia lakukan, dengan kecepatan 700 km/detik—bersalto di udara dan menyepak Quaffle dengan Sabut SnowStorm. Teknik Dad. Menurutnya, teknik itu harus dilakukan pada saat terdesak.

Dan disinilah ia. Walaupun ia segera lulus tes karena teknik penyelamatan yang spektakuler, Rose harus menanggung resiko karena ceroboh. Dada, perut, dan lengannya sakit karena melakukan salto mendadak tadi. Tapi dasar Rose, ia tak akan pergi ke Madam Pomfrey jika belum sekarat.

"Tak ada yang tahu, Rose. Lagipula golmu—"

"Dominique!" Rose memotong jengkel.

Dominique nyengir kuda. Bibirnya yang merah dan rambut pirang tak tercelanya berkilau di bawah Lampu, semakin menonjolkan keeksotisan keturunan Veela-nya.

"Selamat datang di Team, Redsie. Kau harus mempersiapkan Teknik Superkuler seperti tadi dalam pertandingan kita melawan Slytherin nanti," James yang baru datang mengacak rambut Rose gemas, sementara Fred segera duduk di samping Dom.

"Jangan harap aku mau melakukannya lagi, James," dengus Rose.

"Itu keren! Bahkan aku pun mengakuinya," sambar Fred, lalu mengunyah Pizza dengan rakus. Ia menoleh kepada Dominique. "Hei, Dommy, Mademoiselle's Joke Package-nya kurang," tambah Fred.

"Kurang? Bagaimana mungkin? Aku sudah membelikan kalian tujuh buah!" seru Dominique tak percaya. Keluarga Bill memang membeli banyak oleh-oleh untuk keluarga mereka, salah satunya adalah Mademoiselle's Joke Package untuk Fred dan James, Gaun Satin untuk Rose, Headset Modifikasi Sihir untuk Albus, dan Virtual Pets Made in France untuk Lily. Sementara Hugo dibelikan sekotak besar biscuit, karena Hugo pecinta biscuit.

"Tujuh itu relatif, Dom," James memutar bola mata.

"Seharusnya sekalian saja kau belikan sepuluh," Fred mengangguk ksetuju. Dominique mendengus. Emmeline dan Wendy baru saja datang, mengelus mukanya.

"Sudah selesai detensinya?" sapa Rose.

"Dari tadi. Kami membersihkan diri dulu dan ketiduran selama 2 jam. Benar-benar melelahkan, Rose. Bayangkan—menumpuk Arsip Perpustakaan! Tanpa Sihir!" Emmeline bercerita heboh, sementara Wendy mengangguk menyetujui.

"Aku tak akan menyentuh sup lagi sesudah ini," keluh Wendy.

"Eh iya, Dom—terima kasih Beauty Cosmetic-nya, paket itu baru saja sampai kemarin."

"Ya, terima kasih juga Parfumnya," kata Emmeline.

"Sama-sama, girls. Eh Rose—ngomong-ngomong Scorpius tadi menontonmu, loh," kata Dominique. Rose hanya mendengus keras.

"Ya, aku tahu. Dan terus-terusan memandangku mencemooh? Aku juga sudah tahu."

Dominique tampak salah tingkah. "Eh—bukan mencemooh, Rose. Tapi lebih ke tatapan memuja. Benar, kan, Lily?" Dom berseru kepada Lily yang terpisahkan oleh James dan Hugo.

Lily mengiyakan sementara Fred dan James mendengus.

"Wah, Redsie kecil sudah bisa kasmaran," seru Fred pura-pura kaget.

"Kubilang Daddy Cutie Ron, lho," lanjut James.

"Ugh, aku benci dengan Malfoy Beruban Jelek itu," kata Rose jengkel. "Baru dekat sedikit, langsung seenaknya saja."

"Err—Scorpius tidak jelek, Rose," bantah Wendy takut-takut.

"Yeah, bahkan ia termasuk 3 besar Cowok Idola Hogwarts," gumam Dom.

"Di bawahku!" sergah James tak terima.

"Dan di bawahku!" tambah Fred tak terima.

"Aku tak peduli. Aku tak melihatnya sebagai seorang Pemuda Tampan bla-bla-bla. Yang kutahu, ia selalu menganggapku rendah," dengus Rose.

Dan disertai mood Rose yang sudah rusak, maka pembicaraan tentang Scorpius langsung dihentikan.

oOo

Rose baru saja akan berbaring dalam selimut wolnya yang hangat ketika ia teringat sesuatu. Perkamennya tertinggal di Kantor Professor Gordon, di Lantai Bawah Tanah.

Rose yang selalu bertindak terburu-buru segera melangkah keluar dari Lukisan Nona Gemuk, menuju Tangga Putar dan segera saja sampai di Ruang Bawah Tanah. Gadis itu sama sekali tak mengingat larangan melintasi Ruang Bawah Tanah lewat jam 10 malam.

Rose melangkah cepat melintasi Koridor yang dingin dan temaram, hanya dihiasi oleh beberapa obor saja. Ia cepat-cepat melangkah ke Pintu yang berada 4 meter di depannya, dan mengetuk. Tak ada jawaban. Mengetuk lagi.

Professor Gordon membuka pintu sambil menodongkan anak panah.

"Ms. Weasley!" serunya, setengah kaget-setengah lega.

"Maaf Professor Gordon, tetapi perkamenku tertinggal di kantor anda. Aku sudah menulis 3 meter esai Transfigurasi dan 2 meter esai Ramuan, jadi.."

"Ms. Weasley, aku menghargai akan kedisiplinanmu terhadap tugas. Tapi sadarkah kau, pukul berapa ini?" Professor Gordon bertanya tajam. Rose menunduk.

"Err—10 lewat 15 menit, Professor."

"Kau ingat tentang larangan Kepala Sekolah?"

"T—tidak, Professor."

"Ms. Weasley, aku tidak segan-segan menghukum anak yang berani menyepelekan peringatan McGonagall, sekalipun kau harus melanggar peringatannya karena sesuatu yang penting. Larangan itu serius. Jadi jangan seperti ini lagi, oke?"

"Baik, Professor."

"Ini perkamenmu—aku akan mengawasimu sampai persimpangan koridor berikutnya. Segera naik lewat tangga, jangan kemana-mana lagi! Ingat, itu," pesan Professor Gordon, dan Rose meninggalkannya tergesa-gesa seraya berterima kasih.

Rose baru saja menjejak tangga kedua ketika sebuah suara berkeresak dari balik koridor yang sudah dilewatinya tadi. Rose menegang. Hilang sudah kepuasannya mendapatkan perkamennya kembali.

Dengan kaki gemetar hebat, Rose bimbang. Jika ia memaksa naik lewat tangga, makhluk-tak-tahu-apa itu pasti melihatnya dan akan mengejarnya. Pikiran buruk mulai menghantui.

Tiba-tiba sebuah tangan membekapnya, menariknya ke dalam Ruangan tersembunyi. Rose berteriak sekuat tenaga.

"Ssssh—Idiot. Ini aku, Scorpius Malfoy," bisik Sang Pembekap. Detak jantung Rose yang tadi berpacu segera berkurang.

"Malfoy— " gumamnya lega. Namun Scorpius hanya memberi kode untuk diam dan mengintip dari balik lubang pintu Ruangan Tersembunyi itu.

Rose beringsut melangkah, ikut mengintip dari lubang yang lain.

Apa yang dilihatnya membuatnya serasa mati membeku.

Seekor makhluk seukuran 4 meter, berlendir, tinggi, besar dan memiliki sayap yang mencuat dari punggungnya berjalan lambat-lambat menjauh dari pintu itu. Matanya hanya dihiaskan oleh setitik pupil dan urat mata yang menonjol keluar. Rambutnya putih, dan cakarnya yang tajam menimbulkan bunyi gemeresak. Makhluk itu kelihatan seperti campuran Troll, Kelelawar Monster dan Banshee.

Setelah merasa aman, Rose menggelesor lega.

"Kau tak apa-apa?" Scorpius berbisik padanya. Rose mengangguk lemah.

"Dengarkan aku, Weasley. Jalanlah menggunakan lorong ini—tersembunyi, dan nanti ada pintu berwarna coklat muda di sisi kiri, naiklah—ada tangga, dan ketika kau menjumpai ada jendela, bukalah. Nanti kau akan tiba langsung di lantai tiga. Jangan bertindak idiot seperti ini lagi—jika aku kebetulan tak lewat sini, kau pasti sudah mati. Mengerti?"

Rose mengangguk, detak jantungnya belum normal.

"I—ini ruangan apa?" tanyanya parau.

"Lorong Rahasia. Kuciptakan bersama Albus dan Dave. Dan itu tak penting, yang penting—" perkataan Score terpotong.

"Bagaimana kau menemukan aku?"

"Dengar, gadis tolol. Jika aku tidak menyelundup ke dapur dan mendengar suaramu, kau pasti tak akan selamat. Jadi tak usah banyak tanya lagi. Lorong bawah tanah sedang dihinggapi bahaya, Wealey, dank au sebaiknya jauh-jauh. Jadi pergilah."

"Dan—bagaimana.. bagaimana denganmu?"

Pandangan frustasi Scorpius melunak. "Aku tak akan kenapa-kenapa. Ada pintu lain di ujung lorong ini, dan mengarah langsung ke Slytherin Common Room. Pergi, sekarang."

Maka tanpa berkata apa-apa lagi, Rose bangkit dengan limbung, ditangkap Scorpius dan berjalan tersaruk-saruk sesuai instruksinya. Sebelum membuka pintu, ia menoleh.

"T—terima kasih…Malfoy," bisiknya. Lalu meskipun dalam gelap, Rose dapat melihat Scorpius itu tersenyum.

Rose segera berlari—mengikuti petunjuk Scorpius dan menerobos Lukisan Nona Gemuk sambil terengah-engah.

Saat mencapai Pintu Kamarnya, setetes air mata jatuh dari matanya. Bukan kesedihan dan ketalitan—tapi lebih karena lega.

"Rose! Demi Merlin, ada apa denganmu?" Dominique dengan tampang mengantuk bangkit dengan panik, menghampiri Rose. Emma dan Wendy terbangun, juga terkejut.

"Kalian—kalian tak akan percaya..," bisik Rose lemah. Mungkin ada baiknya ia menyembunyikan soal ini terlebih dahulu.

oOo

Rose terbangun dengan keadaan fisik dan mental yang parah paginya. Kedua matanya merah dan membengkak, karena dipaksa terbuka hingga jam tiga pagi, dan suhu tubuhnya hangat. Rose masih merasakan nyeri di beberapa tempat di tubuhnya, dan ditambah lagi rasa sakit yang menusuk-nusuk di bagian kepalanya.

Jadi bisa dibilang penampilan Rose hampir tidak dapat dibedakan dengan Nenek Sihir.

"Rose!" Wendy terbelalak memandang tampilan dirinya. "Ya ampun, Rose! Kau terlihat parah sekali. Apa sebaiknya aku mengantarmu ke Madam Pomfrey?" tanya Wendy cemas.

Emma dan Dominique yang baru saja turun dari tempat tidurnya juga bergantian melotot ke arah Rose penuh horror.

"Wendy benar, Rose. Kau tidak bisa mencerna pelajaran jika keadaanmu seperti ini," bujuk Dominique lembut. Rose menggeleng frustasi.

"Tidak, aku harus. Pelajaran hari ini penting semua, Dominique—di tambah lagi aku baru saja mengambil Arithmancy dan Astronomi. Dan kedua-duanya jadwalnya hari ini," bantah Rose kesal. Ia agak badmood hari ini, tampaknya.

"Baiklah. Jika kau pingsan di Pelajaran Transfigurasi nanti, jangan salahkan kami, ya?" dengus Emma sebal terhadap kekeraskepalaan Rose.

oOo

Pelajaran Transfigurasi hari ini tidak semenyenangkan biasanya. Mungkin sebagian besar karena mood Rose yang buruk, belum lagi kondisi fisiknya. Ditambah lagi, mereka digabung oleh Anak-Anak Slytherin, yang selalu ricuh dimanapun mereka berada.

"Ms. Weasley? Ms. Weasley?" McGonagall mengacungkan tangannya di depan muka Rose yang sedang melamun, memikirkan kejadian tadi malam dan empuknya tempat tidur.

"E—eh, saya, Professor?" Rose tergagap membetulkan posisi duduknya.

"Apa kau sedang tidak fit untuk mengikuti pelajaranku, Weasley? Kalau ya, aku tidak segan-segan mengizinkanmu ke Rumah Sakit, daripada kau hanya melamun di kelasku," McGonagall tersenyum tipis, membuat Rose merona merah padam.

"T—tapi, Prof.."

"Aku tidak menerima penolakan. Kau harus menjaga stamina tubuh, Weasley. Nah sekarang—siapa yang ingin mengantar Ms. Weasley ke Rumah Sakit?" McGonagall bertanya tegas.

Dominique dan Albus sudah akan mengacungkan tangannya, tetapi tangan pucat milik Scorpius sudah terangkat cepat ke udara.

"Mr—Mr Malfoy?" Tanya McGonagall ragu.

"Tenang saja, Professor, Weasley aman dalam pengawasanku," katanya kalem, mengabaikan tatapan terkejut (dari sebagian besar murid) dan kecewa(dari penggemar Scorpius) dari Murid-Murid Transfigurasi.

Rose berdiri tanpa minat, segera berpamitan dan berjalan cepat-cepat—meninggalkan Scorpius di belakangnya. Ke Rumah Sakit saja ia enggan, apalagi pergi bersama Cowok Ubanan!

"Hei, Weasley! Tunggu," seru Scorpius, menjejeri langkah Rose dan memegang bahunya. Rose tersentak dan melotot.

"Ada apa sih, Malfoy?"

Scorpius menyeringai. "Kau begadang karena sibuk memikirkan makhluk apa tadi malam? Ah, atau kau gelisah—takut makhluk itu menghantui mimpimu?"

Rose mengunci mulutnya. Ucapan Scorpius 99 % benar, kecuali tentang begadang—ia sempat tidur dua jam, kok!

"Sudah belajar Legilimens, rupanya?" komentar Rose sinis. Rumah Sakit masih jauh, dan Rose mempercepat langkahnya karena dunia mulai berputar.

"Dengar, Rose—kau harus melupakan kejadian tadi malam, mau tidak mau. Biarlah hal tersebut tidak menjadi urusan kita—dan jangan beritahu siapa-siapa."

"Atas hak apa kau mengatur-aturku? Seperti kau tidak memberitahu teman-temanmu saja," balas Rose ketus.

"Aku tidak memberitahu Albus, atau yang lannya," kata Scorpius tenang. "Hakku atau bukan, Rose, aku hanya tidak ingin kau mengambil resiko kelewat besar hanya ingin memuaskan keingintahuanmu saja."

Rose baru akan membalas perkataannya ketika tiba-tiba dunia mengabur. Ia limbung—dan jatuh ke pelukan Scorpius.

"Le—lepaskan ak—aku!" seru Rose panik, berusaha memberontak tapi tidak bisa. Pusing telah menguasai seluruh otaknya. Scorpius tersenyum licik.

"Jangan terlalu sombong, Rose Weasley. Kau dalam pengawasanku."

Rose pasrah. "Baiklah, terserah kau. Dan mengapa kau tidak memberitahu Al?"

"Kalian—keluarga kalian, memiliki kecenderungan berbuat sesuatu yang berani, tapi bodoh. Membahayakan jiwa. Weasley dan Potter," Scorpius agak mendengus. "Sudah ditakdirkan untuk menjadi pahlawan dalam darah mereka. Memiliki hasrat ingin tahu dan menyelamatkan dunia. Tak terkecuali Al. Meskipun ia di Slytherin, darah Potter dan Weasley ada dalam dirinya. Dan sekali saja kuberitahu, ia akan langsung memutuskan untuk mencari tahu. Mencoba menyelamatkan. Lalu membahayakan nyawanya sendiri. Tak jauh berbeda dengan kau," jelas Scorpius.

"Aku tak tahu kau sebegitu melankonlisnya," Rose bergumam sinis, dan syukurlah—mereka sudah sampai di Rumah Sakit. Julia Pomfrey—Anak Poppy Pomfrey segera menghampiri mereka berdua.

"Ada apa dengan Rose, Mr. Malfoy?" tanyanya cemas.

"Sepertinya—hanya kurang tidur dan lelah yang berlebihan, Madam. Sebaiknya kau tanyakan langsung padanya," kata Scorpius menyebalkan, dan Rose segera menepis tangan Scorpius yang masih membantunya berdiri dan berjalan tertatih-tatih bersama Madam Pomfrey.

"Tidak, Madam. Sebenarnya aku baik-baik saja—hanya kurang fit," jelas Rose cepat-cepat. Madam Pomfrey tersenyum geli.

"Ah, kurang fit, begitu? Berdasarkan prediksiku, kurang fit sepertimu bisa memakan waktu penyembuhan selama dua hari, Sayang," guraunya. Rose membelalak panik.

"What? Dua hari? No way, Madam Pomfrey. Dua hari adalah waktu yang berharga," geleng Rose cepat-cepat. Scorpius hanya menatapnya geli sekaligus jengkel.

"Kau kekanakan, Weasley," komentarnya.

"Tutup mulut, Uban," desis Rose.

"Sudah, sudah," lerai Madam Pomfrey. "Tidak bisa, Rose. Kau harus beristirahat total selama dua hari. Hanya dua hari saja! Dan kau boleh pulang setelah itu. Nanti aku akan mengizinkanmu belajar, Sayang, tenang saja," kata Madam Pomfrey lembut. Ia mengaduk teh herbal yang tadi dibuatnya dan meminumkan Rose.

"Baiklah—oke," gumam Rose pasrah. "Tetapi aku bisa beristirahat di kamarku saja, kan?" Tanya Rose. Madam Pomfrey agak salah tingkah.

"Eh, aku takut tidak bisa, Sayang—"

Rose terperanjat. Ia masih trauma akan makhluk yang keluar jam sepuluh malam itu! Ia tak mau berjumpa lagi dengannya.

"Tidak, Madam. Tolong—tolong. Aku tak mau, aku tak suka menginap di tempat asing! Please Madam—izinkan aku beristirahat di kamar saja," Rose berseru panik. Scorpius kembali menatapnya, tajam sekarang.

"Rose, kau kan tahu aku selalu tidur tepat di samping Rumah Sakit. Jadi kalau ada apa-apa, tinggal bilang aku saja. Dan mengingat perawatan di kamarmu minim—aku rasa waktu penyembuhannya akan lebih lama," jelas Madam Pomfrey.

Rose terbaring lemas. "Berapa? Berapa lama?"

"Aku takut penyembuhan menjadi empat hari."

Pupus sudah harapan Rose. Rose memandang Scorpius yang menatapnya dengan tatapan yang tak terbaca. "Baiklah, aku menginap saja," putusnya dengan tercekat.

"Oke, bagus, Sayang. Tenang saja—tak ada apa-apa disini. Mr. Malfoy, kau boleh kembali," kata Madam Pomfrey. Dan Rose merasakan kepalanya mulai memberat—efek Ramuan Tidur kembali bekerja.

Dan dengar belaian terakhir tangan Madam Pomfrey, Rose benar-benar sudah terjatuh dalam kegelapan.

oOo

Rose terbangun dengan kaget. Badannya segera limbung karena dipaksa bangun di bawah tekanan Ramuan Tidur. Rumah Sakit gelap gulita sekarang—penerangan hanya bersumber dari tiga jendela yang tak tertutup gorden. Pintu Rumah Sakit tertutup, meskipun Rose yakin tidak terkunci. Rose kembali waspada.

Ia kembali mendengar suara gertakan dan dengusan.

Rose dengan panik cepat-cepat berdiri. Tapi tak bisa—Ramuan Tidur masih berefek dalam pemulihan tubuhnya.

"Butuh bantuanku?" suara yang familier berbisik di belakangnya. Rose menoleh dengan cepat. Scorpius Weasley berdiri dalam keremangan, rambut platinumnya bercahaya.

"Malfoy!" gumam Rose, setengah heran—setengah jengkel, sekaligus setengah lega. "
Apa tepatnya yang kau lakukan disini?"

"Well, kau butuh bantuanku atau tidak? Makhluk itu sebentar lagi akan menuju kemari," kata Scorpius santai, memainkan tongkat di tangannya.

Rose kembali tercekat. Detak jantungnya kembali berdenyut kencang. "Ya, please. Ayo kita sembunyi," katanya. Rose sebenarnya agak tidak rela, mengapa si Pirang ini selalu bertindak ala ksatria sih?

Scorpius mengulurkan tangannya. Rose menatap tangan itu ragu. "Mau atau tidak?"

Maka tak ada pilihan lain. Rose meraih tangan Scorpius, menggenggamnya dengan kuat. Dan tentu saja, langsung limbung. Scorpius dengan cepat segera memeluk bahunya. Rose merutuk dalam hati. Dua kali. Cukup dua kali.

Mereka bersembunyi di balik sekat yang tersembunyi di belakang salah satu tempat tidur Rumah Sakit. Sekat itu hanya bisa ditempati oleh dua orang.

"Jadi," bisik Rose.

"Ya, jadi," Scorpius menyetujui.

"Kau menyelamatkan hidupku dua kali?" gumam Rose sinis, menyibakkan rambutnya yang terurai berantakan sampai ke pinggang.

"Mungkin. Dan belum tentu bisa menyelamatkan untuk yang ketiga kalinya," Scorpius menyeringai, membuat dirinya agak terlihat menyeramkan.

"Oh, itu sudah cukup untuk semua ini. Dan apa tepatnya yang kau lakukan disini?" desis Rose. Scorpius dengan santai menyentuh rambut Rose yang memang menggelitik lengannya—panjang dan lebat, dan segera ditepis.

"Jadi. Aku melihatmu sangat panik saat diberitahu kau harus menginap tadi siang," Rose segera menyangkal, dan Scorpius menyuruhnya diam. "Dan aku segera mengatur rencana. Tidak mungkin Madam Pomfrey itu bisa menyelamatkanmu—kau terlalu panik untuk berpikir cepat, khas Ayahmu. Jadi sehabis Makan Malam, aku langsung menuju kesini, dan tidur di bawah kasurmu. Tak buruk kan? Dan benar saja. Kau terbangun karena makh—"

Pintu Rumah Sakit menjeblak terbuka. Rose segera terlompat, dan Scorpius juga ikut tersentak dengan kaget. Suara dengusan dan gemeretak itu kembali terdengar.

Rose membeku tak bergerak. Tanpa sadar sebelah tangannya mengenggam lengan Scorpius kuat, membuat cowok itu meringis tertahan. Suara dengusan itu semakin dekat.

Rose bisa melihat siluetnya sekarang. Tinggi besar—berlendir, dan dari jarak sedekat ini, ia bisa menangkap kata-kata Latin yang diucapkan makhluk itu. Ini campuran Bahasa Yunani dan Latin kuno. Tubuhnya bergetar hebat sekarang, dan Score langsung menggengam tangannya.

Mungkin makhluk itu memang menyeramkan, tetapi ia bodoh. Setelah melihat tak ada yang menarik, makhluk itu segera berlalu, meninggalkan Rose dan Scorpius yang tegang. Dua meter lagi, dan mungkin makhluk itu bisa mencium keberadaan mereka.

Pintu Rumah Sakit kembali menjeblak tertutup.

oOo

Rose memasuki Aula Besar, dan segera disambut dengan meriah oleh Meja Gryffindor.

"REDSIE!" seru James dan Fred identik, melemparkannya dengan buah cherry. Rose hanya menepis dengan keahlian seorang Keeper, dan tersenyum lemah kepada mereka.

"Hey, guys," gumamnya. Rose memang baru saja diizinkan keluar dari Rumah Sakit, dan kondisinya sudah membaik, meskipun Madam Pomfrey memberinya vitamin yang harus diminum setiap hari.

"Wow, Rose. Kau memotong rambutmu?" Emma bertanya takjub.

Ya, gadis itu memang memotong rambut merah kunyitnya yang indah, menjadi seketiak sekarang. Poninya yang tadinya selalu dibelah tengah karena sudah menutupi seluruh wajahnya, sekarang juga sudah dipotong sealis mata, dan di atas kepalanya bertengger bando putih tipis.

"Yeah," jawab Rose cuek, mengambil tar apel yang menggiurkan.

"Hm, tampaknya ada suatu hal yang tidak kami ketahui," goda Emma, bertukar pandang penuh arti dengan Wendy dan Dom.

"Atau.. kau merubah penampilanmu untuk menarik hati Peter Creevey yang baru saja pulang dari Belgia?" Tanya Wendy polos.

Rose menimpuk kepala Wendy dengan Kitab Mantra Standarnya. "Kau gila, ya? Ia membuatku mual, kau tahu. Baru saja masuk sudah—o,oh," Rose tidak melanjutkan kata-katanya, karena Peter—sungguh panjang umur—melangkah ringan mendekati meja mereka.

"Oh, hai Lovely Rose," katanya, senyum cemerlang nan memuakkan terpasang di wajahnya. Peter berasal dari Asrama Ravenclaw—anak Dennis Creevey, dan ia berada satu kelas di atas Rose. "Kudengar kau baru saja sembuh dari penyakit, iyakah?"

"Yeah," jawab Rose singkat, memotong-motong tarnya dengan ganas. Fred dan James bahkan mengunci mulutnya, dan Dominique serta Emma menahan tawanya.

"Nah—kulihat kau berdandan sangat cantik hari ini, apa karena kau antusias menunggu kedatanganku?" tanya Peter, mengabaikan tatapan Rose yang membunuh, dengan percaya diri ia merapikan jasnya penuh gaya, sehingga Emma dan Dominique terpaksa melongokkan kepala ke bawah kolong meja karena tak bisa menahan tawa.

"APA? Tidak!" bantah Rose kesal. "Creevey, kumohon. Ada baiknya kau kembali ke kursimu, please. Aku sedang makan."

"Ah, aku masih memahami akan sikap malumu yang benar-benar elegan, Rose. Itu benar-benar dramatis. Jadi—baiklah, terimalah coklat ini—Coklat Belgia, membuatmu merasa lebih baik," kata Peter akhirnya, dan Rose cepat-cepat meraih coklat itu—agar Peter cepat pergi.

Tapi tangannya tertahan, dan Peter mencium tangannya! Setelah itu cowo tak tahu diri itu melenggang ringan meninggalkan Rose yang tampak terguncang.

Setelah senyap sesaat, Dominique, Emma, Wendy, James, dan Fred meledak tertawa penuh kehebohan.

"Astaga, bagaimana mungkin Si Dungu Creevey itu mensalah-artikan tatapanku yang jelas-jelas jijik padanya?" gumam Rose penuh horror. Ia tak bersemangat memakan Tar Apel itu lagi. Peter benar-benar mimpi buruk.

"Oh, Queen Rose!" Fred cepat-cepat meraih pinggang Rose dan mencubit-cubit pipinya. "Queen Rose! Maukah kau menjadi istriku?"

"Tidak, Lovely Beauty Awful Rosie!" James melangkah ke sisi Rose yang lainnya, mendorong Emma, "Kumohon Yang Mulia Tercinta! Pilih aku saja, please-please-please."

Rose membenamkan wajahnya yang penuh horror ke mejanya, sementara saudara-saudaranya tertawa heboh.

Ia tak menyadari sebuah mata berwarna keperakan menatap tajam dirinya.

oOo

Astaga~ udah chapter 2! *lonjaklonjak* /pak. Ganyangka. Tadinya aku cuman berkiprah di bidang Dramione (ea), tetapi sekarang malah menjadi Rospiusshipper:') nah, mungkin chapter yang ini masih layak di review? Ripiu please. Big thanks bagi yang udah mereview, aku akan balas di PM. Terimakasih, mau review lagi? :D