The Watched
Author: xxBubbleandTroublexx
Translator: meongmungee
Characters: Baekhyun, Kai, EXO
.
Questions
(Pertanyaan)
.
.
.
Baekhyun bermulut besar. Ia mengetahui hal itu dan seringkali tidak peduli. Kata-katanya terlontar begitu saja bahkan sebelum ia sempat memikirkannya terlebih dahulu. Mulut besarnya sering membuatnya terkena masalah karena ia selalu mengatakan apapun yang ada di pikirannya. Orang-orang marah padanya, namun mereka juga tidak bisa berbuat banyak untuk membalasnya. Ia itu Baekhyun, orang yang tak dianggap. Baekhyun seringkali diabaikan.
Namun sekarang Baekhyun adalah pusat perhatian. Ia merinding saat ia berdiri di tengah-tengah ruang Dewan. Ketujuh anggota Dewan duduk di kursi kayu mereka, membentuk lingkaran mengelilinginya. Mereka menatapnya seksama, seakan-akan mereka bisa melihat semua yang Baekhyun sembunyikan. Baekhyun berusaha menenangkan diri. Ia telah berhasil menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka selama empat jam. Ia tidak boleh salah bicara sekarang.
"Baekhyun," Man Young, pimpinan Dewan Tinggi berkata, "Tuntutannya masih berlaku. Kau meninggalkan Desa tanpa izin, membahayakan bukan hanya nyawamu sendiri namun juga nyawa semua orang di Desa. Ini adalah dosa yang menyedihkan."
Baekhyun mengangguk, menghindari kontak mata. Man Young melanjutkan dengan nada keras. "Kami masih belum mendengar alasanmu, dan ketahuilah kalau jawabanmu yang akan menentukan nasibmu. Beberapa dari kami percaya kalau kau hanyalah anak kecil yang tidak mengetahui bahaya dari tindakanmu."
Oh, pikir Baekhyun.
"Sementara beberapa sisanya," Hyun Ki memotong, "Percaya kalau kau tahu betul dengan apa yang kau lakukan. Kami percaya ada hal berbahaya yang terjadi." Ia mendekat, matanya penuh dengan amarah. "Penduduk Desa pikir itu adalah ilmu hitam."
"Hyun Ki," Man Young memperingatkannya. Ia menatap Baekhyun lagi. "Beritahu kami, mengapa kau berada di hutan?"
Ia menelan ludah. Tatapan di mata Man Young sama seperti setiap kali ia menghukum seseorang. Tatapan yang…mungkinkah itu yang disebut puas? Pria macam apa yang senang melihat orang lain hancur? Selagi ia memikirkannya, Baekhyun mendapatkan jawabannya. Orang yang telah mencoba membunuh Kyungsoo.
Monster yang sesungguhnya bukanlah makhluk buas yang berada di ruang bawah tanah. Mereka adalah pria-pria yang sedang menatap Baekhyun saat ini.
Bohong, bohong, bohong.
Ia telah berbohong sejak ia diseret keruangan ini. Pertanyaannya diluncurkan cepat, tidak sekalipun berhenti. Ia baru saja selesai menjawab satu pertanyaan ketika pertanyaan selanjutnya diluncurkan. Ia tahu mereka sengaja melakukannya. Dewan Tinggi sedang mencoba membuatnya bingung supaya ia kelepasan.
Namun hal itu belum terjadi. Baekhyun hebat dalam hal berbohong. Ia tahu kalau ia berbohong mentah-mentah maka kebohongannya akan langsung ketahuan di hadapan pria-pria ini. Ia tidak akan sanggup mempertahankan kebohongannya. Namun sesuatu yang jujur yang dibumbui kebohongan akan menipu semua orang. Mulailah dengan kebenaran, kemudian selipkan kebohongan-kebohongan kecil. Semua orang berhasil dibohongi dan kebohongannya bisa berkembang dari situ. Ia sering sekali melakukannya sampai-sampai ia sendiri lupa yang mana yang benar dan yang mana yang bohongan.
"Aku sedang berusaha menolong Kyungsoo," jawab Baekhyun.
"Kyungsoo?" Suk Chul mengulang ucapan Baekhyun. "Kau ingin menolongnya?"
Ia mengangguk. "Kondisinya semakin parah, terutama setelah malam penyerangan. Ia selalu batuk dan tidak dapat bergerak. Aku ketakutan, ia sudah lama tidak minum obat apapun. Aku hanya ingin membantunya, dan kupikir aku bisa melakukannya jika aku pergi."
"Sendirian?" Hyung Su bertanya. "Kau bocah bodoh, apa yang kau harapkan?"
Baekhyun menggigit bibirnya lalu mengangkat wajahnya. Bohong, bohong, bohong…bohong lagi. "Aku mendengar Lay berbicara mengenai tumbuhan obat di hutan, apa saja yang menurutnya bisa membantu. Aku kabur tanpa pikir panjang."
"Apa ada yang tahu kau ada di luar sana?" Man Young bertanya, mengendalikan pembicaraannya lagi. Baekhyun menggelengkan kepalanya. Inilah dimana kebohongannya bisa terungkap. Kebenarannya sudah nyaris menghilang. Ia harap ia telah meyakinkan mereka dengan kebohongannya.
"Tidak ada yang tahu," ia menjawab. "Kyungsoo pun tidak."
"Kau yakin?"
"Ya."
The Watchers, kumohon jangan biarkan mereka mengetahui kebohonganku. Lindungi aku dari bahaya.
Semuanya hening. Man Young bersandar di kursinya, matanya terpejam. Tatapan puasnya telah menghilang. Baekhyun tidak tahu apa itu berarti baik atau buruk. Di sekelilingnya, anggota Dewan yang lain sibuk berbisik satu sama lainnya. Ia tidak bisa menebak apapun, dan itu membuatnya semakin gugup.
Akhirnya Young Man berbicara. "Penduduk Desa bilang kau berada di luar sana semalaman, apa ini benar?"
Ia tidak bisa menyangkalnya. "Ya."
"Bagaimana bisa kau masih hidup?" Ia bertanya. "Pikirkanlah Baekhyun, bagaimana?"
Baekhyun merasa dalam bahaya. Detak jantungnya berdetak semakin kencang meskipun ia berusaha tetap tenang. Jangan sampai salah bicara. "Aku-Aku-The Watchers menjagaku. Aku tidur di lubang pohon yang telah tumbang dan The Infected tidak pernah muncul. Itu adalah suatu keajaiban."
"Sepertinya begitu," Hyun Ki menanggapi dengan kasar. "Kau tidak melihat apapun di hutan? Sama sekali tidak?"
"Tidak."
Setelah itu anggota Dewan terlihat kehilangan rasa ketertarikan mereka. Beberapa pertanyaan ditanyakan, dan Baekhyun mengulang lagi kisahnya beberapa kali hingga mereka puas. Suk Chul berdiri kemudian memeriksa pergelangan kaki Baekhyun. Semua orang sepertinya menerima ceritanya dimana ia jatuh dari sebuah bukit. Memang benar. Baekhyun memang jatuh dari sebuah bukit. Ia hanya tidak mengatakan kalau ia terjatuh karena mengejar Chanyeol ataupun dikejar oleh The Infected.
Tidak bisa dikatan sebagai suatu kebohongan.
"Baekhyun, hanya satu hal yang tersisa," Man Young berkata. Ia member isyarat pada salah satu Brother. Pria (yang Baekhyun tidak ketahui namanya) menghilang dari balik tirai berwarna merah. Baekhyun mundur dengan gugup, menghiraukan rasa sakit di pergelangan kakinya. Apa yang ia lakukan?
Tirai itu disingkap dan pria itu keluar. Ia membawa sebuah cawan kayu kecil di tangannya. Baekhyun langsung membeku. Ia tahu apa itu. Cawan itu diberikan padanya. Baekhyun menatap cairan hitam yang bergelembung itu. Ia tahu ia tidak akan bisa lepas begitu saja tanpa sebuah hukuman…Tapi ia membenci ini. Cairan hitam itu tidak bernama,namun ia pernah melihat orang meminumnya. Ya Tuhan ini tidaklah baik.
"Minumlah," Man Young memaksanya. "Itu adalah jamu penyembuh, itu bisa menyingkirkan pikiran penuh noda. Rasa pahitnya bisa menghapusnya."
Baekhyun mendekatkan cawan itu ke bibirnya. Cairannya mengenai permukaan bibirnya, namun ia tidak bisa memaksa mulutnya untuk terbuka dan meminumnya. Salah seorang Brother menarik rambutnya kasar, mendongakkan kepalanya paksa. Air mata mulai menitik di mata Baekhyun. Tangan lainnya menempelkan cawan itu hingga cairannya masuk ke kerongkongan Baekhyun. Baekhyun tersedak, merasakan cairan itu membakar kerongkongannya. Ia menghabiskan cairan itu meskipun terbatuk-batuk dan mendorong cawan itu. Wajahnya memerah dan pandangannya mengabur.
"Sudah selesai," kata Suk Chul.
Dewan Tinggi berdiri kemudian meninggalkan ruangan satu persatu. Suk Chul tidak pergi, ia melihat Baekhyun muntah di lantai. Ia menepuk-nepuk punggung Baekhyun.
"Kau melakukannya dengan baik," katanya. "Meskipun kau berbohong beberapa kali."
.
.
.
Ketika Baekhyun tiba di rumah Suho ia diserang. Pria tua itu membuka pintu dan menyeretnya kedalam lalu memeluknya erat-erat. Baekhyun berhasil melepaskan dirinya dari pelukan Suho namun kemudian diseret lagi dan didorong ke tempat tidur oleh Kyungsoo.
"KAU BODOH BAEKHYUN," Kyungsoo berteriak. "BODOH SEKALI!"
Baekhyun mengangkat kedua tangannya sebagai isyarat menyerah. Namun Kyungsoo tetap memukul dadanya. "Bagaimana jika mereka sadar kau berbohong?" Kyungsoo bangkit lalu menusuk Baekhyun dengan jarinya. "Kau bisa saja mati, meninggalkanku sendirian, cuma demi itu?" Ia menunjuk tas berisi botol-botol berisi obat di sudut ruangan. "Kita bahkan tidak tahu apakah mereka memang berguna. Jangan pernah lagi kau berani melakukan hal bodoh seperti itu hanya untukku. Lain kali kita akan memikirkannya baik-baik dan memilih pilihan yang AMAN. Mengerti?"
Kyungoo bisa menjadi sosok yang sangat mengerikan saat ia merasa bersalah. Baekhyun mengangguk dengan patuh sambil menggosok dadanya yang sakit. Tubuhku pasti memar. Pikirnya. Kyungsoo menghela napas dalam-dalam, wajah marahnya berubah sedih. Ia membuka matanya dan Baekhyun melihatnya nyaris menangis.
"Bagaimana jika kau tewas?"
Baekhyun hanya sanggup memeluk Kyungsoo. Ia tidak sanggup memikirkan kematiannya. Sekarang bukan waktu yang tepat, apalagi ketika ia baru saja lolos dari maut berulang kali. Baekhyun hanya ingin fokus menjalani hidup.
"Kita bahkan tidak tahu jika pesan tersebut memang ditujukan padamu," Kyungsoo berbisik. "Itu bisa saja untuk siapapun. Mungkin untuk The Brotherhood…"
Baekhyun menggeleng. "Aku ragu jika The Watchers masih peduli pada Desa kita."
"Setuju," Suho berkata. "Tapi untuk siapa pesan itu bukanlah masalah, karena pesan itu telah membuat Baekhyun terkena masalah. Desa sedang dilanda berita burung."
"Mereka sudah sering membicarakanku sebelumnya," ujar Baekhyun.
"Sekarang tidaklah sama," Suho berkata. "Tapi jangan khawatirkan itu malam ini." Ia melirik kearah pintu. "Perasaanku mengatakan seseorang ingin bertemu denganmu dan ia akan segera kemari."
Seakan Suho tahu apa yang akan terjadi, pintunya dibuka kasar. Baekhyun terkejut, nyaris terlonjak. Kai berdiri di depan pintu, matanya terbuka lebar dan wajahnya serius. Baekhyun terdiam, tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Wajahnya merona, memikirkan saat ia mencium Kai. "Hai," Baekhyun hanya bisa mengatakan itu.
Kai mendekatinya, ia berlutut di sebelah Baekhyun. Ia meraih tangan Baekhyun lalu menggenggamnya erat. "Hai," balasnya. Matanya bersinar dan itu membuat Baekhyun bingung. Jantungnya berdebar keras untuk alasan yang tidak ia ketahui.
Bohong. Baekhyun sebenarnya sedang panik karena sulit sekali untuk tidak mencintai Kai ketika prajurit itu melakukan hal seperti ini.
Suho menertawakannya, ia bergoyang maju mundur di kursi goyangnya seakan-akan kejadian di hadapannya adalah hal biasa yang terjadi setiap hari. "Banyak hal yang perlu kalian bicarakan berdua," katanya. "Dan jangan lakukan hal itu di sini, aku sudah tua dan aku tidak perlu melihatnya. Pergilah ke tempat lain, jauh dari penduduk Desa yang suka ingin tahu."
Diusir dengan jelas. Namun Kai tidak terlihat keberatan. Ia bangkit kemudian mengajak Baekhyun yang kebingungan keluar. Kyungsoo ikut tertawa, menutupi wajahnya dengan bantalnya. "Dah Baekhyun!" Ia berseru.
Mulut Baekhyun terbuka lebar. Bocah siala…Kyungsoo tahu Kai akan datang. Kenapa ia tidak memberitahunya?
Kai membantu Baekhyun menuruni tangga, perlahan-lahan. Wajah Baekhyun merah padam saat ia merasakan tangan Kai berada di pinggangnya untuk membantunya. Saat mereka telah menapak tanah, Kai menggendong Baekhyun. "Ayo ke rumahku," katanya. "Kita bisa berdua di sana." Kai melirik ke belakang Baekhyun. Baekhyun menoleh dan melihat setidaknya ada delapan penduduk Desa yang berdiri di belakangnya. Mereka melihatnya tanpa rasa malu, malahan ada yang melambaikan tangan padanya.
"Oh," Baekhyun berkata. "Itu bagus."
Kai tertawa lalu mencium kepala Baekhyun. "Ya," ia berbisik, "Itu bagus."
.
.
.
.
T/N: update singkat karena chapter depan adalah chapter yang ditunggu-tunggu hehe :D stay tune!
