This is Our Years © Beatrixmalf

Harry Potter © J.K. Rowling

Chapter 3: Mencari Tahu.

A/N: First of all, maaf bagi kalian yang mungkin menyadari di fic ini, Louis—adik Dominique, aku buat menjadi kakaknya. Dan aku memang sengaja. Soalnya.. agak janggal saja kalau Lou kakak, hehehe:D dan Louis disini terpaut dua tahun sama Dom, semoga hal itu gak mengganggu yaa. Ini juga fic yang kupublish abis HIATUS, dan sebenernya aku nyelesain fic ini Bulan Februari m(_ _)m jadi tulisannya belom berubah. Harap dimaklumi *sembah sujud*

.

.

Lanjut?

.

.

Rose setengah menyimak pelajaran Professor Longbottom. Pikirannya masih melayang-layang pada kejadian tiga hari yang lalu, saat makhluk aneh itu menerobos ke Rumah Sakit. Andai saja Scorpius tidak disana waktu itu, mungkin Rose sudah dicerna dalam perutnya kini.

Dan yang lebih buruk dari itu—Rose harus menerima kenyataan bahwa ia berhutang budi kepada Scorpius tiga kali! Pertama, yang di Perhentian Thestral itu—jaketnya tak mau dikembalikan. Kedua, Score menyelamatkannya di Lorong Bawah Tanah dan yang ketiga, Score menyelamatkannya lagi di Rumah Sakit. Benar-benar mengganggu.

"Apa definisi Wolfsbane, Ms. Weasley?" suara Neville memanggilnya—Rose sudah terdoktrin untuk memanggil Professor Longbottom seperti itu.

Rose tergagap. Untunglah, dia sudah mempelajari tentang hal itu sebelum-sebelum ini.

"Wolfsbane adalah tanaman berkhasiat yang terkenal di Dunia Sihir. Tanaman tersebut bisa menetralkan keliaran Manusia Serigala—Werewolf dan bisa menjadi pencegah Cacar Naga. Wolfsbane dapat ditemukan di Daerah Hutan Heterogen," Rose menjelaskan agak cepat.

"Lima poin untuk Gryffindor. Walaupun kau dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan dariku, Ms. Weasley—aku harap kau tidak membuang-buang waktumu untuk melamun di kelasku, kecuali melamun untuk berpikir Herbologi," tegur Professor Longbottom tegas dan muka Rose memerah malu.

Maka Rose berusaha mengesampingkan pikirannya tentang Monster itu dan kembali menekuni pelajaran Neville.

oOo

Lembayung sudah semakin pekat sekarang—Bulan telah mengintip dari balik awan kelabu pudar, malam menjelang. Seorang gadis menelusurkan jemarinya ke buku-buku tebal yang duduk manis di rak buku.

Rose Weasley menarik salah satu buku dan membuka sinopsisnya. 1001 Monster dalam Dunia Sihir—Temukan dan Kenali.

Ia sudah mencari informasi tentang Monster yang meneror Hogwarts di buku-buku yang menurutnya bisa dijadikan sumber. Ia sudah membaca lebih dari lima buku yang menurutnya akurat, dan hasilnya nihil.

"Sudah kubilang jangan mencari tahu tentang makhluk itu," suara yang familier bergumam dingin di sebelahnya. Rose menoleh setengah kaget.

"Apa urusanmu?" Rose bertanya acuh, mengambil buku itu dan melenggang melewati Scorpius yang bersandar ke bagian Rak Ramuan.

"Tidak ada sebetulnya," Scorpius balas menjawab dengan tenang, mengekori Rose sampai ia duduk di tempatnya. Rose menyingkap poni barunya dengan jengkel.

"Kalau kau tidak sedang ada kerjaan, tolonglah carilah kegiatan yang bermanfaat. Jangan menggangguku," desis Rose sengit. Scorpius memutar bola mata.

"Aku akan terus mengganggumu sampai kau mengembalikan buku itu dan menyerah," kata Scorpius riang, membuat pola-pola tak beraturan dengan tongkatnya. Rose menghembuskan napas. Yah, ia harus mencoba dulu.

Rose tidak jadi membaca, karena siluet tubuh seseorang menghalangi cahaya. Ia mendongak dengan sebal.

Dan menjumpai Albus.

"Hai, kalian. Melewatkan waktu bersama? Ternyata selama ini kau membohongiku, Score. Kaupikir aku tidak tahu kau selalu mengendap-ngendap dan berkata bahwa kau memiliki banyak urusan?" desis Albus sengit. Scorpius berjengit.

"Aku memang sedang banyak urusan, Al," gumam Scorpius.

"Untuk apa? Backstreet dengan Rose? Kau kan tahu aku tidak pernah melarang kalian berhubungan," Albus menyilangkan tangannya di depan dada. Rose mendengus.

"Jangan salah paham dulu, sepupu. Sepertinya.. ah—sahabatmu yang satu ini menyembunyikan sesuatu," Rose berkata cerdas, memperingatkan.

"Menyembunyikan apa?" Albus bertanya penasaran. Rose tersenyum simpul. Saatnya Balas Dendam! Scorpius memucat. Ia menatap Rose dan memberikan isyarat, namun Rose sudah mengibaskan rambutnya berbahaya.

"Silahkan duduk, Al. Aku akan menceritakannya," Rose tersenyum manis.

oOo

"Cerdas sekali, Weasley. Memberitahunya tidak menyelesaikan masalah," geram Scorpius, berkata kepada Rose yang memeluk buku-bukunya dan berlari-lari kecil di sampingnya.

"Yah—mungkin ada untungnya. Dan Al kan sepupu tercintaku, aku wajib memberitahunya, iya kan Al?" Rose bertanya riang kepada Al yang berjalan di sebelahnya. Al berjalan tenang, masih agak marah kepada Score.

"Meskipun sepupu tercinta adalah perumpamaan menjijikan, aku membenarkan kata-kata Rose untuk memberitahuku, Score. Tak ada untungnya tidak memberitahuku."

"Dan tak ada untungnya memberitahumu juga," Scorpius berkata sebal.

"Stop, oke? Kalian Slytherin yang menyebalkan. Lebih baik kita kesampingkan dulu masalah ini, dan Al—aku akan sangat menghargaimu jika kau ingin mencaritahu makhluk apa itu—karena Malfoy sama sekali tak membantu. Sampai jumpa di Pertandingan lusa," Rose mengedip kepada mereka, dan berlari ke Aula Besar untuk makan malam.

"Aku harus mencari tahu," Albus bergumam pelan.

"Ya, jelas-jelas kau akan mencari tahu," dengus Scorpius, berkata putus asa.

oOo

Seperti biasa, Meja Gryffindor terasa paling ricuh karena Fred dan James baru saja menemukan lelucon baru. Lily dan Hugo belum datang, sepertinya mereka sedang pergi ke Dapur—meminta Teh Herbal untuk Bahan Ramuan. Rose sibuk berargumentasi dengan Dominique, satu-satunya sahabat yang mengetahui tentang makhluk aneh itu, tentu saja dengan suara pelan.

Incestor Gordon berjalan panik mendekati Professor McGonagall yang tengah menyantap kalkunnya. Professor Gordon mendekat untuk memberitahukan sesuatu, dan setelah saling berbisik, McGonagall berdiri—dengan muka agak terguncang dan serius.

"Untuk semua anak, ini perintah darurat. Seluruh anak yang sedang menyantap hidangan penutup silahkan pergi ke Asrama kalian maisng-masing, hidangan penutup yang lain akan dikirimkan masing-masing ke Asrama kalian, dan jangan keluar dari Asrama sebelum ada perintah dariku," McGonagall berkata singkat dan resah, membuat bisikan penasaran dan cemas bergulir di tengah-tengah Aula Besar. Rose merinding, merasakan ada sesuatu yang tidak beres.

Meja Ravenclaw diperintahkan untuk berjalan dahulu, sehabis itu baru Gryffindor. Rose berjalan dalam diam, bergandengan tangan dengan Dominique.

Saat mereka tengah berjalan di Tangga Sihir, sebuah suara bergaung di sepanjang Kastil.

"Kalian semua diperintahkan untuk tidak keluar Asrama sampai pagi menjelang. Ingat: tidak boleh ada yang meninggalkan Asrama, untuk hal penting sekalipun. Hidangan penutup akan disampaikan, dan di atas jam 9 semua siswa sudah harus tidur. Aku tidak menolerir adanya pelanggaran, karena taruhannya nyawa. Bagi kakak-beradik Weasley dan Potter, aku memerintahkan kalian untuk datang ke kantorku. Terima kasih," suara Professor McGonagall dikeraskan secara sihir, terdengar menyeramkan.

Rose, Dominique, Fred, dan James berpandangan cemas tanpa suara. Pikiran mereka semua sama: salah satu keluarga kita sedang berada dalam masalah.

oOo

Rose memandang tubuh Lily yang terbujur kaku di salah satu Tempat Tidur Rumah Sakit. Dadanya masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan, tetapi sekujur tubuhnya tampak seperti tersiram air keras—bengkak disana-sini, memerah, padahal menurut Madam Pomfrey itupun juga sudah lebih baik dari sebelumnya. Bibir Lily ungu, rambutnya berwarna abu-abu di berbagai tempat, dan matanya setengah terbuka—putih. Keadaan Hugo tak jauh berbeda. Walaupun lukanya jauh lebih ringan daripada Lily, ia juga terbujur kaku dan lengannya meleleh—dalam konteks sebenarnya, dan Madam Pomfrey harus mengusapkan salep pada lengan itu sepuluh menit sekali.

Albus, James, Rose, Fred, Dominique dan Louis duduk di salah satu tempat tidur di sisi Hugo dan Lily, sementara McGonagall, Gordon, Neville, Madam Pomfrey dan Flitwick duduk di sisi lainnya.

"Aku sudah menelepon Harry, Albus, dan mereka sedang menuju kesini. Jangan khawatir. Lily sudah lebih baik dari yang tadi," jelas Professor McGonagall, jelas-jelas menenangkan Albus yang gelisah.

"Apa yang sebenarnya terjadi pada Lily?" James bertanya agak tercekik.

Professor McGonagall sekilas menatap James, mata kucingnya bersinar.

"Monster itu memperluas Daerah Teritorialnya. Meskipun Adikmu dan Hugo Weasley tidak melanggar laranganku untuk pergi ke Ruang Bawah Tanah—" McGonagall menarik napas. "Mereka tetap berada dalam tempat yang salah pada waktu yang salah. Monster itu berkeliaran di Lantai Satu—dan Lily juga Hugo baru saja kembali dari Dapur."

"Lily berada di depan, sehingga lukanya lebih parah dibandingkan Hugo. Aku menduga anak itu terkena lendir Monster itu, sehingga keadaannya parah seperti ini. Beruntung Professor Sinistra dan Professor Gordon baru saja kembali dari Ruang Bawah Tanah, kalau tidak.. aku tidak tahu apa yang akan terjadi."

Mereka terdiam. "Apa kau sempat melihatnya, Professor?" Rose, tanpa sadar telah bertanya begitu. Professor McGonagall tampak kaget.

"Yah—mereka hanya bisa melihat sekelebatan, Monster itu bergerak dalam kecepatan yang luar biasa," jelas McGonagall pelan. "Seharusnya Harry dan Ron sudah datang.."

Pintu Rumah Sakit menjeblak terbuka. Ginny Potter dan Harry Potter tampak berlari-lari panik menuju salah satu tempat tidur yang dipadati oleh Keluarga Weasley dan Potter.

"Lily.." Ginny berdiri di samping tempat tidur, matanya berkaca-kaca melihat keadaan Lily, yang tampak mungil dalam luka-lukanya. Harry, sebaliknya, tanpa berkata apa-apa—mendekati ujung tempat tidur dan mengelus rambut Lily.

"Mana Daddy, Uncle Harry?" Rose bertanya pelan. Harry menoleh padanya.

"Sebentar lagi mereka datang, Rose," katanya lembut. Rose mengangguk lemah. Ia agak kasihan kepada Hugo, sebetulnya. Adiknya itu kelewat polos dan lemah, tetapi Hugo baik hati.

Beberapa menit kemudian Pintu Rumah Sakit kembali terbuka. Hermione Weasley dan Ron Weasley tampak tergopoh-gopoh mendekati Rose.

"Mana Hugo?" Ron bertanya parau. Ayahnya jauh lebih frustasi daripada Ibunya. Hermione hanya menatap Rose dan Hugo khawatir, memeriksa badan Hugo di berbagai tempat lalu memeriksa Rose juga.

"Aku tidak apa-apa, Mom," Rose melepaskan tangan Hermione pelan. Hermione tersenyum lega, lalu memeluknya.

"Syukurlah, Rose. Professor McGonagall, apa Hugo bisa kami bawa pulang hari ini?"

"Aku tak tahu, Hermione. Sebaiknya Lily dan Hugo tetap ditempatkan disini, agar pengobatannya dapat dilakukan semaksimal mungkin. Tetapi dengan potensi adanya Monster.."

"Aku akan membawa Hugo pulang," potong Ron cepat.

"Tidak," Hermione dan Harry berkata bersamaan.

"Dengar Ron—Bagaimana kalau kita yang menginap saja? Kau tidak apa-apa kan cuti selama beberapa hari? Hal tersebut lebih efisien dilakukan," saran Harry. Hermione mengiyakan, sementara Ginny menatap mereka, ragu-ragu.

"Err—baiklah," jawab Ron, sekenanya.

"Aku ikut menginap," Rose dan Al berkata bersamaan, membuat kedua orangtua mereka menatapnya dengan terkejut.

"Tidak, tidak. Kau harus menginap di Asrama," Ginny berkata galak.

"Kau juga, Rose. Lebih aman disana," Hermione berkata tajam.

Jadilah malam itu, Para Weasley dan Potter kembali ke Asrama mereka masing-masing.

.

.

.

Rose menekuk wajahnya frustasi. Seharusnya hari ini ia bertanding Quidditch melawan Slytherin. Dan hei, apa yang terjadi? Akibat Monster Busuk Sialan itu, semua kegiatan luar ruangan dihentikan. Murid harus kembali ke Asrama sebelum pukul 20.00.

Rose jadi kehilangan kesempatan untuk membalaskan dendamnya pada Scorpius!

Tepukan itu mengagetkan Rose yang sedang berkonsentrasi.

"Al!" Rose menghembuskan napas lega-setengah kesal. "Jangan mengagetkanku."

Al menyeringai. Di sebelahnya, Scorpius berdiri tanpa ekspresi.

"Sorry. Apa yang sedang kau kerjakan disini?" Albus menarik kursi di sampingnya dan duduk. Rose buru-buru menyingkirkan buku-bukunya, tetapi ditahan Scorpius.

"Monster dalam Segala Bentuk. Legenda-Legenda Makhluk Sihir Kuno. Pertahanan terhadap Monster dan Makhluk Mitologi. Kau sedang menyelidiki sesuatu?" Score bertanya sinis. Rose menggertakan gigi.

"Bukan urusanmu, Ubanan Muka Batu."

"Hey, stop kalian berdua," gerutu Al sebal. "Rose, aku butuh bantuanmu. Aku juga sedang mencari tahu—makhluk apa yang menyerang Lily, dan Hugo tentu saja. Dan aku sudah membaca 5 buku tetapi tidak ada penjelasan disana.."

"Aku sudah membaca 20 buku dan aku juga tidak mendapatkan apa-apa, Al," Rose menghela napas, tidak menyadari Albus dan Scorpius yang agak membelalak mendengar pernyataan tak terduga itu. "Tetapi, aku menemukan satu hal menarik."

"Apa?" Albus mencondongkan badannya, bahkan Scorpius mengangkat alisnya.

"Makhluk dari Berbagai Legenda Dunia," Rose mengacungkan salah satu buku. "Ditulis berdasarkan referensi dari berbagai Suku di Dunia. Tetapi beberapa sumber—beberapa suku tertutup tidak mengizinkan adanya pembocoran fakta, jadi masih ada beberapa suku yang legendanya belum ditemukan. Dan suku itu di antaranya adalah Mapuche, Quileute, Aborigin, Suku-Suku di Indonesia, Thailand.."

"Lalu, apa inti dari semua ini?" Albus bertanya tak mengerti. Rose mendengus.

"Kalau ini tidak bisa ditemukan di Dunia Sihir, kita harus mencarinya di Dunia Muggle, Al. Kita harus mereservasi dan mencari tahu sendiri."

"Tetapi bagaimana caranya? Liburan Natal masih sebulan lagi!"

Rose tersenyum penuh arti sekarang. "Mungkin sudah waktunya aku menggunakan hadiah yang diberikan Dad kemarin."

.

.

.

Albus dan Scorpius berjalan ke Stone Circle—taman yang berisikan batu-batu tinggi di dekat Pondok Hagrid. Mereka merapatkan Syal Hijau-Silver yang hangat.

"Apa yang akan ditunjukkan Rose, sebenarnya?" Scorpius bertanya.

"I-Padnya," Al mendengus. "Gadis itu selalu mendapatkan teknologi yang bagus-bagus, kau tahu. Ada untungnya memiliki Ibu yang peka teknologi."

Scorpius memutar bola mata. "Jangan berbicara kepadaku tentang Teknologi Muggle. Aku buta sama sekali soal itu."

Mereka kembali berjalan ke Stone Circle, dan menemukan Rose telah duduk manis disana. Sebelah tangannya lincah menutul-nutul sebuah layar flat—I-Pad.

Al duduk di sebelahnya. "Apa tepatnya yang kau cari?"

Rose mendongak. "Oh, kalian sudah sampai. Aku mencoba mencari semua suku yang tidak terdefinisikan dari buku-buku yang kubaca."

"Apapun yang kalian lakukan, itu sia-sia," Scorpius angkat bicara, memutar bola mata kelabunya. Baik Al maupun Rose menoleh dan memelototinya.

"Bukan kau yang mengalami perasaan ketika adikmu diserang oleh suatu makhluk," desis Rose. Scorpius hanya menyeringai dan mengangkat telunjuk serta jari tengahnya. Peace.

"Yah, dan kalau kau tidak suka, kau bisa pergi dari misi ini, Mister," timpal Al.

Scorpius mendengus. "Bagaimana bisa? Kalain berdua ini ceroboh. Tanpa perhitungan. Setidaknya aku memiliki kepala yang lebih dingin dibanding kalian."

Baik Rose maupun Al terbatuk, campuran antara dengusan dan tawa. Rose mengibaskan rambutnya, agak menjauh dari Scorpius yang dengan santai telah mengambil tempat di sisi yang tidak ditempati Albus.

"Aku sudah mencari, dan hasilnya lumayan. Setidaknya aku sudah menemukan legenda Suku Mapuche. Sebagian besar isinya tentang Libishomen, Picheun, dan segelintir monster-monster yang mengerikan. Aku sudah melihat beberapa gambar dan penjelasan ringkas tentang makhluk-makhluk itu, tetapi belum menemukan penjelasan yang logis," jelas Rose. Scorpius dan Albus mendengarkan dengan seksama, sambil memerhatikan jari-jari Rose bergerak lincah di atas I-Pad.

"Libishomen itu adalah semacam Iblis, yang lebih condong ke Vampir. Ia menarik korbannya dengan cara memikatnya dengan ketampanan atau kecantikannya, lalu saat mereka—err—b..bercinta," Rose berkata tergagap, sementara Scorpius menyeringai. "Dan saat sang korban lemah, Libishomen itu akan menghisap darahnya dan menawan jiwanya. Penampilan fisik Libishomen tidak terlalu mirip dengan makhluk yang kita cari, tetapi ilustrasi itu belum sepenuhnya benar."

Albus mengangguk mengerti. "Lalu seputar Picheun? Dan legenda-legenda suku lain seperti Aborigin dan Suku FakFak?"

"Aku sudah terlalu pusing untuk merangkum fakta-fakta yang kutemukan disini, dan kalau kau mau, pakai saja I-Padku. Tidak kusangka aku bisa menggunakannya disini, kan seharusnya sinyal tidak sampai ke Selubung*)" Rose berkata sambil nyengir.

Al tidak memperhatikan. Ia lebih memperhatikan fakta bahwa ia akan dipinjamkan I-Pad.

"Serius? Aku boleh memakainya?"

Rose menyikutnya gemas. "Jangan pakai untuk hal lain, Al!"

Al nyengir tanpa merasa bersalah. "Well, boleh kan kalau aku main games sebentar.."

Rose memukul kepalanya keras. "Tidak, Albus Severus. Atau aku benar-benar tak akan meminjamimu," ancamnya. Albus buru-buru mengiyakan.

"Oke, lihat saja di History-nya. Tadi aku sudah menemukan alamat web-nya, tapi tidak kutelusuri lebih jauh. Mungkin kau bisa mencari dari sana," terang Rose. Al mengangguk paham, lalu mulai mengamati. Scorpius ikut menyimak.

"Hei, ini Picheun. Menurut legenda.. Picheun adalah seekor makhluk yang suka meneror penduduk, memiliki rambut berwarna putih panjang, dan suka mengisap darah korbannya. Ia memiliki sayap yang mencuat dari sisi tubuhnya. Gambarnya seperti ini," Albus melaporkannya pada Rose dan Scorpius.

"Tidak terlalu mirip, menurutku. Tinggi dan warna rambut mungkin sama, tetapi makhluk yang kemarin kami lihat, memiliki sayap yang mencuat dari punggungnya, bukan dari bahu kanan dan kiri. Lalu makhluk itu penuh lendir, sementara Picheun tidak," Scorpius memberi komentar. Rose mengiyakan.

"Baiklah. Kupikir ada baiknya kita sudahi dulu hari ini. Aku dan Rose sudah pusing. Besok, kita akan mencari makhluk dari Asia, oke?" Al bertanya meminta persetujuan, dan melihat anggukan dari temannya.

Maka, Trio itu segera meninggalkan Stone Circle.

.

.

.

Sisa bulan itu mereka habiskan dengan mencari informasi. Daun yang berguguran kini semakin tak terhitung jumlahnya, serta udara penghujung bulan November semakin dingin, bersiap mengganti musimnya menjadi bersalju.

Informasi yang mereka dapat sudah lumayan banyak. Kemungkinan tentang makhluk-entah-apa sudah ditemukan, dan hasilnya adalah, Manananggal dan Aswang dari Filipina, Kampe dari Yunani, dan yang paling umum—Banshee.

Buku-buku tentang Makhluk Aneh di Perpustakaan kini sudah hampir menipis, dan mereka bertiga sudah menyerah. Mereka memutuskan untuk mencari-tahu lagi saat Liburan Natal nanti. Bahkan Dominique, yang membantu dengan sembunyi-sembunyi, juga hampir menyerah.

Pagi itu bulan telah memasuki Desember, dan Lily serta Hugo telah pulih, dan sudah bisa membuka mata bila ada yang mengunjungi mereka, tetapi terlalu lemah untuk berbicara. Mereka sudah berada di Rumah Sakit kurang lebih seminggu.

Dan pagi itu, mereka mendapat kabar gembira ketika Lily dan Hugo, berjalan bersisian dengan riang ke Meja Gryffindor.

"Lily! Hugo!" Rose berseru, tanpa menutupi keriangannya, dan memeluk mereka berdua.

Wajah Hugo memerah. "Hei, Rose, lepaskan dong—aku tak bisa bernafas."

Rose segera melepaskan pelukannya yang mencekik. Mukanya berseri-seri. Keluarga lain dengan gembira menyambutnya, dan akhirnya mereka semua kembali makan dengan gembira.

"Rose," Dominique menggeser tubuhnya perlahan.

"Kenapa, Dom?"

Dominique menggigit bibirnya gugup. "Err—aku tahu kau akan mencari tahu tentang makhluk-entah-apa yang menyerang mereka, tetapi kupikir.. ada baiknya kita tidak membicarakan hal tersebut terlebih dahulu. Mungkin mereka masih trauma."

Rose memandangnya dengan kaget. "T—tentu saja, Dom. Aku akan menanyakan seputar itu kepada mereka sekitar.. Natal nanti, mungkin."

Dominique menghembuskan napas lega. "Baiklah."

Maka diiringi semangat baru karena Rose telah mendapatkan sumber baru yang akan mereka selidiki, Rose merasa hidupnya tidak terlalu suram lagi.

Serpih salju mulai terjatuh dari bukaan langit.

Mereka tidak mengetahui, serangan yang terjadi akan terasa lebih buruk.

.

.

.

Chapter dua selesai \(^^)/ walaupun masih gayakin sama gaya tulisannya. Dan, erm, btw... gaya tulisan Bea berubah lho setelah hunting sana-sini dan mencoba merombak fic-fic Bea. Dan fic yang ini belum sempet kurubah, males *ngakak gelundungan* /dordor

Dan maaf banget karena Bea baru bisa kembali dari HIATUS Mei ini, soalnya lagi sibuk nyelesain Challenge dan Yearbook di sekolah ;w;

Oh ya, dan Bea menerima request!^^ apa aja boleh, dari slash, straight, yaoi (asal gak yuri bah) dan segala pairing di Fandom Harpot kusanggupi. Ada yang berminat?:b *promosi terselubung*

And the end...

Revieeeeew, please? I'll be Glaaad TwT