Cast : Kim Jong Woon, Choi Siwon and Others
Pairing : Yewon / Wonsung
Lenght : Chaptered
My past & My future
A fiction written by Cloudgratia ©2013
Hari dalam seminggu dan waktu dalam sehari cukup menjadi pembuktian jikalau masa tak pernah menjadi pembangkang apalagi penipu kawakan.
Rasa itu tumbuh temaram diselingi segala bentuk rasa lain tak punya nama. Dan Siwon tahu benar jikalau ia tak lagi sedatar dulu ataupun kemarin.
Si bocah ajaib ternama Yesung itu mengubahnya menjadi lain. Bahkan dirinya tak mengerti, apa bocah yang hampir tujuh belas tahun itu seorang oknum kedoknya penyihir atau barang kali—maniak? Siwon benar-benar tak habis pikir, mengapa dirinya begitu menjadi lemah hampir tak punya tameng pertahanan berarti yang membuatnya dapat terlihat tak begitu rapuh juga memalukan.
Diraihnya sebuah kalender dari atas sofa yang kini menjadi tempatnya bersantai. Di sekitar deret angkanya, sudah tercoret oleh tinta merah yang disinyalir adalah sebuah spidol.
Matanya memicing, ada dua belas deret tanggal yang tertandai silang. Apa maksudnya pula?
Sebelum dirinya berhasil memecahkan hal serupa puzzle tak penting namun menuntutnya menjadi begitu penasaran, si bocah itu tahu-tahu sudah berkacak pinggang tepat di depan wajahnya.
"Berhenti menjadi si ingin tahu, Ahjussi!"
Yesung merebut kalender itu paksa, yang menimbulkan tatapan sinis dari sang mega bintang itu.
"Dan berhenti menjadi si tak tahu malu, bocah!"
Sergah Siwon kelewat dingin. Yesung hanya mencibir samar, memilih menyembunyikan kalender meja itu entah di mana.
"Apa maksud itu? apa ada hal yang tidak ku ketahui?" kembali Siwon melancarkan sebuah topik yang menjadikannya terlihat seperti seorang detektif.
Yesung melengos, memilih duduk di sofa yang lain. Lalu mulai mencari channel bermutu di dalam objek flat bergambar itu.
"Berhenti mengacuhkanku, Kim Yesung!" Siwon beranjak, mematikan TV itu secara brutal.
Yesung menghembuskan nafasnya pendek, "Dan berhenti minta diperhatikan, Choi Siwon Ahjussi!"
Obsidian itu makin membola, kekesalannya hampir tumpah. "Sampai kapan kau akan berlaku bak tuan muda di sini? Aku yang bosnya!"
Lagi-lagi Yesung menanggapinya tenang. Hampir dua minggu waktunya bergulir, dan sampai saat ini ia belum juga bisa menjalankan misi terpendamnya. Tujuannya hingga sampai dapat berpijak di tempat yang sama dengan sang idola.
"Dua belas hari aku di sini, dan aku belum bisa mencairkanmu, Ahjussi?" si sabit itu meyendu, dan Siwon harus menahan gejolak karenanya. Mengapa?
"Apa kau pikir aku hidup di kutub yang menjadikanku makhluk beku? Hei, terlalu berbelit-belit!" Siwon mencoba beralih atensi, memilih bersiul kecil dari pada harus menyaksikan wajah bocah manis itu yang tiba-tiba kelabu.
Yesung mendongak, Siwonnya masihlah sama di matanya. Dua belas hari bukan hitungan yang dapat membuatnya sedikit lebih hangat. Namun, satu yang ia tahu, Obsidian itu ini terlihat lebih bersahabat. Kini lebih teduh saat memandangnya.
"Kau tak ada Schedule, Ahjussi?"
Siwon melongok, "Ye? Ah, nanti malam aku ada perjamuan makan dengan salah satu produser."
Binar ceria kembali merambat pada wajah pemilik pipi gembul itu, "Jadi untuk pagi sampai petang ini aku bebas menguasaimu, Ahjussi?"
Eh?
Siwon melebarkan kristalnya juga terbentuk perempatan di keningnya.
"Kau tak sedang mempraktekan kelas theatermu kan? kata-katamu perlu di revisi, terdengar sumbang untuk bocah seusia tujuh belas tahun."
Yesung memberengut, "Ya..Ya..Ya! terus saja memperlakukanku seakan aku yang paling buncit terlahir di muka bumi! Aku tak mau tahu, seharian ini kau milikku seorang!"
Setelah itu, Yesung memilih enyah dengan sebelumnya berjalan seraya menghentakkan kaki rampingnya. Dengan kalimat itu, mengapa hatinya seakan tertanam ribuan poplar yang kini tengah saling berdansa ceria? Jadi begini rasanya berdebar? Eiihhh.. ini terlalu fatal dialami oleh seorang 'paruh usia' seperti dirinya. Tsk!
.
.
.
Siwon jelas tak begitu patut di acungi thumbs up jika itu menyangkut segala artian harfiah terhadap hati juga perasaannya. Ia terlalu menganggapnya menjadi bagian minor untuk diselami juga digali lebih lanjut.
Yesung itu aneh, Yesung itu ajaib. Kelamaan, asumsi Siwon bisa saja berubah menjadi bahwa Yesung itu begitu menyeramkan.
Menyeramkan bila setiap berada di dekat bocah itu, jantung Siwon menemui adrenalinnya sendiri. Rasanya seperti di genjot kuat oleh energi asing tak terdeteksi apa sebutnya.
Bukan Siwon tak pernah berhubungan asmara sebelumnya. Jelas itu sebuah kebohongan. Namun, semua jalinan yang pernah di jalaninya hanyalah semu. Murni sebuah rekaan untuk makin mendongkrak popularitas juga eksistensi di dunia gemerlapnya itu.
"Aku sudah siap, Ahjussi. Kajja!"
Siwon terlonjak dari fantasi instannya begitu tiba-tiba sepasang tangan mungil menarik lengannya. Otomatis menjadi tertegak, mendapati Yesung dengan setelan kasualnya yang terlihat lucu juga menjadikannya begitu menggemaskan.
"Memang kita mau ke mana?" beonya. Siwon masih cengo, juga belum sepenuhnya kembali ke dunia nyata.
Yesung tersenyum sumringah, menampilkan deretan gigi putih yang begitu membuatnya terlihat makin mempesona.
"Membuat sebuah perjalanan yang ku pastikan akan menjadi sejarah di masa depan!"
.
.
.
Bocah bernama Yesung itu begitu kekanakan. Dan Siwon mengamininya sungguh-sungguh. Moodnya turun dengan praktis, juga menjadikannya begitu sentimental.
"Cukup membuatku terlihat begitu konyol, bocah!" selorohnya datar semi mencekam. Yesung terkekeh dibuatnya. Tak terlihat takut maupun mencoba peduli.
Yesung mengeluarkan sebuah benda dari dalam ransel keluaran terbaru dari rumah mode terkenal di Korea, yang sungguh Siwon tahu berapa nominal harga yang harus dibayar untuk memilikinya. Satu kata, itu tak murah.
Sebuah handycam bertengger di sela telapak tangan mungil itu.
"Aku akan merekam seluruh moment yang akan terjadi hari ini."
Siwon berpura-pura acuh, "Yang ku ingat, saat itu ada seorang bocah yang mengaku dibesarkan di panti asuhan. Namun ternyata, aset yang dibawanya jauh melampaui anak pejabat pemerintahan sekalipun. Bolehkah aku untuk terkejut?"
Yesung tak ambil pusing dengan sindiran dari Siwon itu, memilih untuk mengoprasikan 'aset'nya, "Ini pemberian dari para donatur yang rutin mengunjungi panti pada saat natal, jika Ahjussi ingin tahu."
"Anggap aku ada di pihakmu dan percaya pada semua bualanmu."
Yesung mencebilkan bibirnya, wajah mungil nan setara alabaster itu sedikit kemerahan terpantul sinar matahari siang ini. "Sudahlah!"
Siwon menyipitkan kedua manik kembarnya, terik mentari di taman dekat apartemennya ini membuat pandangannya tak bisa fokus. Memang kenapa pula ia harus mau repot berpanas ria mengikuti kemauan si anak ajaib itu? Ah.. lantas yang ajaib sekarang siapa?
"Bisa selesaikan ini dengan cepat? Aku kepanasan!"
Sergah Siwon seraya memposisikan dirinya duduk di bangku panjang di bawah pohon Ek rindang yang terlihat bisa diandalkan. Si bocah manis yang sedari tadi sibuk mengoprasikan barang modernnya itu terhenyak, kemudian dengan sedikit lari kecil, ia menghampiri Siwon yang tengah sibuk mengelap peluh dari wajah tampannya.
"Ahjussi yang tampan, hanya fokuskan atensimu pada handycam-ku. Juga berlakulah dengan wajar selama aku melakukan recording atasmu."
Siwon speechless beberapa saat, benar. Ia yang mungkin begitu ajaib di sini. Ajaib imitasinya bodoh. Mau saja dititah oleh anak itu. Oh ya ampun!
"Tidak bisakah kau yang berlaku manis padaku? Siapa artisnya di sini? Kau budakku, Kim Yesung."
Yesung sempat dibuat terdiam olehnya, kata-kata itu sedikit melukai hatinya. Tapi ya sudahlah, memang demi siapa ia melakukan ini semua? Itu ada alasannya. Dan Yesung belum mau terbuka untuk waktu dekat ini.
"Baiklah, Ahjussi. Kali ini saja, dengarkan perkataan budakmu ini, bolehkah?"
"Yeah! Arra!" Siwon mengalah, entah sadar atau tidak, setiap kali mendetail mengenai analisis tentang perubahan mimik wajah si manis itu, membuatnya tak mampu berkutik ketika binaran sendu itu mulai melingkupi.
Yesung tersenyum tipis, ia mulai menempatkan pantatnya pada bangku panjang yang lain tepat di sebrang tempat duduk Siwon. Ia mengarahkan gadget-nya ke Siwon, semoga satu dari beberapa daftar misinya bisa terkabul..
"Jawab semua pertanyaanku, Ahjussi—tanpa terkecuali!" petuah Yesung pada awalnya, Siwon hanya memutar Obsidiannya malas dengan dengungan samar sebagai jawabannya.
"Siapa namamu?"
Siwon tambah bermimik bosan, "Masihkah harus ku jawab?"
"Ahjussi, please..."
Siwon berdecih kecil sambil kembali mengelapi peluh dari wajahnya. "Namaku Choi Siwon."
"Hal apa yang paling kau lindungi?"
"Kehormatan dan Harga diri."
Yesung menyendu sejenak di balik handycamnya, lalu dengan segera ia mendongak.
"Apa yang paling kau benci di dunia ini?"
"Kebohongan dan penghianatan."
Yesung mendengar jelas kesungguhan di nada suara bariton itu, sedang Siwon tampak mulai kembali memindai perubahan air muka si manis itu.
"Seandainya. Ini hanya seandainya. Bilamana aku hanya berpura-pura dan membohongimu, apa yang akau kau lakukan?"
Dahi Siwon lantas berkerut, matanya memicing, menatap lekat Yesung yang masih sibuk merekamnya.
"Apa hal yang membuatmu sampai membohongiku?"
Deg
Yesung merasa jantungnya berhenti berdetak selama beberapa saat, kalimat itu rasanya begitu dingin dan sarat penekanan.
"H-anya, a-ah! Aku kan berkata hanya jika!" Yesung berseru gusar juga bergetar. Siwon dapat merasakan keraguan di untaian jawaban tersebut. Ia kemudian mencoba ingin bangkit sebelum suara Yesung kembali menimpali, "Duduklah sebentar lagi, Ahjussi! Bahkan aku belum selesai."
"Kau tahu, kini kecurigaanku padamu makin besar!"
Yesung memejamkan matanya, ia menarik nafas dalam dan coba mengangkat dagunya lebih tinggi bermaksud mengokohkan pertahanannya.
"Jika, jika aku punya sebuah alasan mengapa aku membohongimu, apa kau bisa menerimanya?"
Siwon kembali menautkan alisnya, "Aku tak menerima alasan apapun darimu."
"Dan jika ini menyangkut hidup seseorang di masa lalu, apa tetap kau akan menjadi si kepala batu untuk sekedar memberiku maaf?"
"YA! SEBENARNYA APA YANG KAU KATAKAN, KIM YESUNG!"
Mata Yesung sudah memerah kini, dadanya kembali sesak untuk sebuah hal yang konsisten selalu membuatnya ingat dengan suatu kejadian.
"Ahjussi. Aku akan mengganti pertanyaannya, mohon untuk kau tetap duduk di sana!" Yesung menambahkan masih dengan suara yang terdengar bergetar. Siwon yang entah kenapa tadi merasa emosinya terpancing pun menjadi sedikit kelu dengan mimik sendu yang di tunjukan Yesung kini.
"Sebenarnya kau itu siapa? Dan ada apa denganmu, eoh?" Siwon bertanya retoris, Yesung hanya memandangnya sekilas untuk kemudian ia kembali memfokuskan matanya pada layar flat handycamnya.
"Ahjussi, hal apa yang bisa membuatmu sangat senang?"
Ini pengalihan. Jelas Siwon bukan orang bodoh. Ia sudah begitu khatam dengan situasi semacam ini. Bagaimana tidak? Apa yang kau harapkan ketika setiap saat ia bersentuhan langsung dengan namanya akting, yang mewajibkannya berpura seapik mungkin untuk menghilangkan sifat aslinya berkenaan dengan peran yang ia mainkan. Gesture Yesung cukup mudah diterka—itu bukan dia.
'Baiklah...aku ikuti permainanmu.'
"Tak ada schedule apapun selama beberapa waktu." Siwon berucap datar, masih memandangi lekat Yesung yang menjadikan alat perekam itu sebagai tamengnya.
"Kau mencintai semua pemujamu di luar sana?"
"Tidak terlalu,"
"Walau mereka seakan menjadikanmu berhalanya?"
"Ya. walau mereka menjadikanku berhala. Aku tidak peduli!" ucap Siwon masih mempertahankan nada datarnya. Yesung menghela nafas di sebrang sana. Ini terlalu mudah ditebak untuk seorang congkak layaknya Siwon.
"Kau tak peduli bahkan ketika mereka berdesakan nyaris pingsan hanya untuk melihatmu selama beberapa detik saja dari kejauhan?"
Siwon berdecih keras, "Meski nyaris pingsan untuk melihatku!"
Yesung makin menguatkan dadanya kini, "Walau mereka membiarkan tubuhnya remuk hanya untuk sedikit menyentuhmu dan lolos dari para pengawalmu?"
"Meski tubuh mereka remuk karena pengawalku."
Yesung kini melebarkan matanya yang sipit, "Apa Tuhan tak membagimu secuil hati pada saat menciptamu?!" kali ini Yesung sedikit menaikkan intonasi nadanya. Siwon mengendikkan bahunya acuh, "Aku hanya berkata jujur, dan itu jawabanku."
Si manis itu terkekeh dalam, 'Kau menyia-nyiakan hidupmu terlalu jauh deminya..'
"Selanjutnya, apa kau tetap tak peduli ketika satu di antara mereka benar-benar mengangungkanmu bahkan hingga detik terakhir masa hidupnya?"
"Aku tetap tak mau tahu." dengan kembali datar Siwon menjawab.
"Dan kau tetap tak peduli jika seorang itu memanggilimu pada saat nyawanya di ujung tanduk dan ia sudah begitu susah untuk sekedar mengambil nafas?!" Yesung berseru, kencang namun sungguh bergetar.
Siwon kembali menautkan sepasang alisnya. "Sekali lagi aku bertanya, ada apa denganmu, Kim Yesung?!"
Kini, Siwon bisa melihat kombinasi lain di wajah manis itu. Ada setetes air mata yang mulai merangsek membelai pipinya yang tembam. Yesung menangis?
"Kenapa kau menangis?" Siwon berjalan mendekat, mendapati bahu Yesung yang naik turun dengan begitu cepat dengan kepala yang menunduk.
"Kenapa kau menangis, Kim Yesung! Berhenti membuatku bingung!" Siwon mengguncang keras bahu Yesung, sementara suaranya mulai goyah karena dengan tiba-tiba ia juga merasakan sebuah nyeri di ulu hatinya mendapati air mata di paras manis namja muda itu. Tak tahu.. namun seakan ia ikut merasa sakit karenanya.
"A-aniya! Maafkan a-aku, Ahjussi. Aku ingin pulang, hari sudah mulai sore." tanpa aba-aba, Yesung bangkit dan berjalan cepat meninggalkan Siwon yang tengah memandanginya kalut di belakangnya.
"Kau benar-benar menguji kesabaranku, Kim Yesung. Siapa kau sebenarnya?"
Lirihan itu terbang bersamaan dengan angin sepoi yang berhembus di keringnya musim panas tahun ini.
'Kau itu siapa.. Kim Yesung?'
.
.
.
Hari berikutnya terasa begitu berbeda. Siwon terpaksa harus meninggalkan Seoul untuk bertolak ke pulau Hokkaido untuk keperluan shooting-nya. Pelan tapi pasti, ia mulai merasa enggan untuk berjauhan dengan yang telah sedikit mengganggu kemonotonan hidupnya kemarin-kemarin.
Kim Yesung. Ya, bocah itu. Memang siapa lagi?
Dan juga yang menjadi bahan pertimbangan Siwon yang lain adalah semenjak kejadian di taman kemarin, Yesung menjadi sedikit pendiam. Hingga malam hari ketika ia akan menghadiri perjamuan makan malam dengan produsernya, Yesung masih belum mau sekedar membuka mulut untuk menyapanya. Jadinya seakan ada perang dingin kasap mata antar keduanya.
Pagi ini Siwon tengah berkemas—hanya perlengkapan pribadi memang, karena segala percilan-percilan lainnya sudah ada tim dari manajernya yang mengurus.
Selesai memasukkan kantong kecil berisi perlengkapan mandinya ke dalam koper hitam yang akan ia bawa, Siwon memilih untuk mengambil minuman di dapur. Ketika ia membuka pintu kamarnya, ia masih mendapati Yesung terlelap di atas sofa gadingnya. Ini memang masih menunjukan waktu subuh, di mana masih ada waktu tiga jam lagi untuknya sebelum pesawatnya mengudara.
Siwon menghembuskan nafasnya panjang, Ia memandangi lekat lekukan wajah manis tanpa cela itu. Ada sesuatu lain lagi yang sedikit mengurangi keapikan wajah itu. Dari sisinya melihat, ia bisa mendapati jejak airmata yang sudah mengering dari wajah sana, Yesung semalaman menangis—lagi?
Ketika ia ingin menunduk membenarkan letak selimut yang menutupi tubuh mungil itu yang sedikit tersingkap, matanya tak sengaja terpatri pada handycam yang teronggok malas di meja dekat soffa itu. Rasa penasarannya membuncah, mungkin benda itu bisa sedikit mengungkap jati diri si manis yang sedari awal begitu ia curigai.
Dengan pelan, Siwon mengambil benda itu. Kemudian dengan cepat ia kembali berjalan ke arah kamarnya melupakan niat awalnya untuk mengisi kerongkongannya dengan segelas air.
Dahi Siwon lantas berkerut begitu berhasil menemukan satu folder video record yang berjudulkan 'Kim's brothers memories'. Satu lagi file ia buka, dan kembali alis tebal itu bertaut begitu menemukan judul lain yang menyertainya 'Uri Cinderella, Kim Heechul.'
Kim Heechul?
Penasarannya makin berkelanjulan. Ingin membuka video tersebut sebelum suara bocah yang belum genap tujuh belas tahun itu mengintruksi.
"Ahjussi! Choi Ahjussi! Kau mau sarapan apa?!"
Suara decakan sebal tak lantas menyeruak. Dengan tergesa Siwon kembali menyimpan Handycam tersebut ke belakang punggungnya. Ia melirik jam dinding yang menggantung di tembok kamarnya.
Gila, ini termasuk keajaiban jikalau boleh sedikit menggunakan majas hiperbola. Masih pukul enam kurang lima dan bocah manis itu sudah sibuk di dapur? It's amazing!
"Baiklah. Kau mungkin belum memperbolehkanmu mengetahui rahasiamu. Okay.. walaupun rasa penasaranku sudah berada di ubun-ubun kini."
Siwon bangkit dari ranjangnya seraya sedikit mengendap. Mana tahu Yesung belum di dapur. Kan tak begitu lucu jika ia tertangkap basah menjadi peminjam ilegal barang milik orang lain—jikalau tak mau di sebut pencuri.
Dan ya.. Sofa gading itu sudah kosong yang hanya meninggalkan selimut tebal berserakan. Dasar bocah! Bangun tak merapikan tempat tidurnya dahulu!
Tangannya dengan terampil, dan matanya dengan waspada bekerja secara selaras dalam proses pengembalian barang pinjaman tersebut.
"Lain kali.. Ku rasa kartu As mu akan ku ketahui."
"—Ahjussi! apa yang kau lakukan di sana?!"
Oops!
Dengan gerakan refeks yang cukup bagus, matanya lantas bersiborok dengan pandangan mengintimidasi dari mata sabit yang empunya kini tengah bersandar di dinding pembatas dapur dengan ruang tamunya tersebut.
"Ya! Kau mengagetkanmu! Dan memangnya kau tak lihat? Aku sedang merapikan selimut ini! Kau terlalu malas hanya untuk merapikan tempat tidurmu sendiri!"
Yesung mencebilkan bibirnya. Ada saja alasannya. Jelas ia melihat tadi si idolanya itu tengah membuka ranselnya. Dasar artis, pintar saja berakting!
Kau mulai ingin mencoba mengurai rahasiaku, Ahjussi?
"Baiklah, lupakan! Kau ingin ku masakan apa pagi ini?"
Selimut itu kembali teronggok ke lantai begitu Siwon melepaskannya begitu saja dan segera memasuki kamar mandi melewati Yesung yang masih bertenggeng di pintu dapur itu.
"Terserah! Sejam lagi aku akan ke bandara! Pastikan kau tak memasukan racun di dalamnya!"
Yesung mengendikkan bahunya main-main, "Semoga aku ingat pesanmu ya, Ahjussi!"
Siwon mengendus begitu Yesung enyah dan kembali menuju dapurnya dan ia pun memandang kepergian bocah mungil itu dengan arti yang tak terdefinisi.
.
.
.
Beberapa hari sebelumnya, Siwon pernah mendengar celotehan Yesung mengenai betapa kerasnya bocah itu dalam belajar memasak. Berangkat dari fakta maupun kejadian-kejadian yang sudah-sudah; di mana dengan tanpa dosa bocah itu selalu membuat meja makannya begitu berwarna dengan adanya masakan yang dominan berwarna coklat kehitaman—menjurus ke gosong.
Variasi lainnya pun tak pernah Siwon lewatkan; sup galbi yang nyaris seperti bubur begitu kental dan sangat sedikit kuahnya, Jjampong yang sangat menyengat pedasnya, pasta yang begitu keras dan kaku, bahkan waffle yang dipesannya pun tak luput dari rasa tawar yang berlebihan.
Dan kini hmm..ya cukup lumayan. So so. Pie rasa pisang dengan taburan wijen dan lelehan keju di atasnya cukup membuatnya bisa merasakan nikmatnya sarapan pagi ini.
"Akhirnya ada masakanmu yang bisa kutelan."
Yesung mencibir, "Jikalau ingin memuji tak perlu menyindirku juga, Ahjussi."
Siwon tergelak. Dan hal tersebut membuat Yesung terpaku melihatnya. Dengan tawa mengiringi, wajah itu terlihat makin mempesona dan tampan.
Hyungie.. dia tertawa. Dan itu karenaku. Kau benar, dia jauh lebih tampan jika seperti itu.
Saking terpukaunya, sampai-sampai Yesung tak sadar jika Siwon sudah menghentikan tawanya beberapa saat yang lalu, dan kini balik memandanginya.
"Simpan keterpesonaanmu padaku untuk lain waktu, karena aku harus pergi sekarang."
Yesung terlonjak dan mendapati Siwon sudah hilang dari pandangannya. Tatapannya berubah sendu juga sedikit luka di sana.
Dia masih terlalu beku. Keyakinanku mencairkannya mulai memudar, hyungie..
Siwon sudah siap dengan perjalanannya kali ini, dan well.. di depan pintunya sudah berdiri sang bocah manis yang punya marga Kim, Yesung sudah terlihat bak seorang istri yang akan melepas kepergian sang suami yang akan mencarikan dirinya nafkah dan Siwon sudah berada di sebrangnya dengan tampannya yang berlebihan. Astaga~!
"Ahjussi, berapa lama kau di sana?"
Siwon yang mulanya tengah sibuk bertukar info dengan sang manajer pun menghentikan kegiatannya dan memandang Yesung yang kini mengenakan sweater rajut berwarna tempting brown yang membuatnya terlihat jauh lebih manis.
"Tiga hari."
Yesung mengangguk lugu, dan dengan tiba-tiba ia mengeluarkan sebuah benda yang sedari tadi ia genggam.
Siwon terpaku sejenak begitu tiba-tiba area lehernya menghangat. Yesung yang di lihatnya tengah berjinjit dan sialnya wajahnya terlampau dekat dengan wajah manis itu saat ini.
"Scraft untukmu. Iklim di Hokkaido juga tak terlampau baik. Ini akan sedikit membuatmu bertambah hangat."
Wangi campuran poplar dan vanilla begitu tercium olehnya. Dan menurutnya harum itu sungguh ekstrim namun membuatnya ingin kembali meraup wanginya.
Dalam hati Siwon merutuk. Ia nyaris gila kini. Mengapa jantungnya tiba-tiba berpacu tak terkontrol seperti ini? Oh! bagaimana jika sebentar lagi organ vitalnya itu berpindah ataupun jatuh di dalam sana?
"A-ah, sebentar lagi manajer hyung akan segera datang. Sebaiknya kau segera masuk!"
Sedikit mendorong tubuh mungil itu menjauh. Bukannya tak suka, justru jika terlalu lama dengan posisi seperti itu membuat pikirannya tak bisa lagi rasional. Harum tubuh Yesung membuatnya mencandu dan berpikir menginginkan lebih.
Yesung memandang scraft berwarna vintage nude yang melingkar pas di leher jenjang milik Siwon, dan ia pun tak bisa untuk tidak tersenyum.
"Kau terlihat lebih tampan sekarang, Ahjussi! Cepatlah kembali dan semoga perjalananmu menyenangkan. Jangan terlalu memaksakan tubuhmu untuk bekerja, arrachi?"
Si mungil melambai dengan senyum setia mengiringi. Sejurus kemudian, ia berbalik dan menutup pintu apartement Siwon dengan yang punya apartement masih berlaku seakan kehilangan rohnya saat ini.
Rasanya kini selain jantungnya yang masuk berdegup menggila, hatinya terasa menghangat ditambah dengan wajah tampannya yang mulai memanas dan memunculkan rona lain yang membuatnya merasa terbakar. Siwon tersenyum kecil dan kembali mengeratkan scraft yang kini melingkari lehernya dengan lembut dan mulai melangkah menuju basement di mana kemungkinan sang manajer telah menunggu.
"Rasanya aku telah mempunyai seorang istri kini.."
.
.
.
Ceritanya masih seputar waktu itu, dulu hingga saat kemarin.
Merakit senja sendiri membuatnya tak biasa. Riuh sorak menggema kala itu masih ingin dirasanya jauh lebih lama. Tak bolehkah sedikit bernegosiasi dengan yang punya kuasa terhadap tempaan nasib—sebutnya Tuhan?
Keinginanku tak juga muluk. Sederhana saja—
—kembalikan masa laluku waktu itu, hingga aku bisa mengurai masa depan dengan jauh lebih pantas..
.
.
.
Yesung mematut pantulan dirinya di depan cermin besar yang menjulang angkuh di hadapannya. Kini dirinya kembali sendiri. Sang idola—Ahjussi tampannya kembali menjadi dirinya yang biasa. Seorang publik figur memang dituntut untuk berlaku seolah punya energi cadangan yang jauh lebih besar dayanya dari orang awam kebanyakan.
Ia mengeluarkan sesuatu dari balik saku celana trainning sewarna abalonnya. Sebuah lembar foto yang tampak sedikit lusuh. Hingga sebuah senyum kecil sarat makna terpendar dari bibir delima miliknya.
"Neomu bogoshipo! Setelah semuanya berakhir, aku janji tak lagi seperti ini. Aku akan kembali. Semua kulakukan demi hyungie.. Jeongmal Mianhae.."
Tetes demi tetes air bening itu meluruh. Menjadikan wajah alabasternya memerah juga tercemar noda yang membuatnya menyendu. Yesung mencium sekilas foto itu juga setelahnya di dekap kuat dengan ribuan rasa mengiringi membuat aliran itu makin memuai memenuhi wajahnya yang indah.
Tubuh mungilnya meluruh. Fokusnya kini berada pada handycam yang sedari tadi memang tengah menampilkan sebuah video yang berisikan satu figur lain yang tak kalah cantik darinya.
Yesung tersenyum di sela tangisnya. Sembari terus mendekap foto itu, satu tangannya yang lain memegangi lengan handycamnya yang terus menyala.
"Ya! Sungie. Apa yang kau lakukan? Jangan merekamku! Wajahku sedang jelek!"
"Hahahaa... bagaimana mungkin hyungie cantik dengan hidung merah dan mata membengkak seperti itu? Kau seperti monster, hyungie!"
"Ya! Kembalikan! Aku menangis karena si kuda itu berciuman dengan Yeoja berbedak tebal berdada rata itu! Ya, Kim Yesung! berhenti merekamku! Cepat matikan!"
"Aniya hyungie~! Aku tak bisa mendengarmu!"
Bahu itu berangsur naik turun semakin sering. Isakan lirih kemudian berubah menjadi tangisan ringkih yang terasa begitu menyayat.
"Ini demimu, ini untukmu.. aku akan merubahnya, dan aku akan membuatku bahagia juga mengabulkan semua keinginanmu waktu itu. Tunggulah sebentar lagi, hyungie.. aku pasti bisa membuat senyummu mengembang kembali—dari atas sana. Aku menyayangimu, selalu."
.
.
.
[To Be Continue]
p.s; jika lupa dengan ff ini, diperbolehkan baca lagi dari chapter awal, walaupun saya tidak memaksa untuk itu. Silahkan untuk mulai bersuspeksi kembali! Sorry for typo(s).
Terimakasih
