Ketika kau mencapai akhir dari apa yang harusnya kau tahu, kau akan berada pada awal dari apa yang kau rasakan.

.

.

.


My Past & My Future

Chapter 4

YEWON FIC


Kim Heechul punya mimpi yang hebat, kilahnya mulia. Ingin punya suami artis beken, katanya.

Si bungsu menanggapinya main-main. Kakaknya sedang mengigau, barangkali. Melantur. Jadi biarkan saja.

Namun nyatanya lain. Bagi si sulung, Choi Siwon multak sudah jadi harga mati.

Iya, Choi Siwon. Si artis yang sedang beken itu.

Yang diam-diam dikagumi pula oleh si bungsu.

.

.

.


Kakaknya tak sehebat yang kebayakan orang pikirkan. Ia tak setangguh orang lain katakan. Kim Heechul tak sesempurna pengharapan mereka.

Dia penyakitan, ringkih, dan butuh perhatian lebih.

Selayaknya saudara, si bungsu punya tugas yang diemban. Memastikan sang kakak tetap baik-baik saja.

Mulanya biasa saja, namun kemunculan perdana orang itu melalui debut akting di drama layar kecil sebuah stasiun televisi, menyedot minat sang kakak terlalu banyak.

Nama Choi Siwon meroket tanpa tedeng nyaris dalam satu kedipan mata. Menjadikan orang awam penikmat seni mengabdikan diri jadi penyanjung juga pemujanya tanpa pamrih, celakanya kakak satu-satunya juga ikut riuh di dalamnya. Memang Kim Heechul itu lelaki tulen, tapi ya.. rasa kagum dan mendamba 'kan sah-sah saja untuk setiap orang.

Kala itu umurnya baru ke sepuluh saat kakak jelitanya berjingkrak bak kesetanan ketika menunjukan satu tiket fan meeting yang digelar dalam waktu dekat. Bocah sepertinya hanya bisa ikut meloncat-loncat saat sang kakak meraup tubuhnya untuk berdansa tanpa arah bersama.

"Hyung mendapatkannya, Sayang!"

Bahkan masih dengan setelan jas almamater sekolah tingkat akhirnya, Kim Heechul seperti tak peduli. Terus larut dalam euforia yang belum tentu adiknya mengerti—mungkin saja.

Namun melihat binar indah dari mata sang kakak, ditambah bibirnya yang tak jemu melengkungkan senyum kelewat lebar, sang adik luluh juga. Dipeluknya tubuh sang kakak, mengucap selamat dengan tulus dengan hati ikut berbunga, entah mengapa.

"Akhirnya hyung bisa bertemu langsung dengan Siwonnie.. hyung sangat bahagia, Sayang!"

Kakaknya berceloteh kelewat panjang hari demi hari berikutnya. Resolusinya mungkin sudah berpuluh meter jika dituangkan ke dalam perkamen.

Ini, itu, atau apalah, si bungsu hanya duduk manis jadi pendengar. Setengahnya setia, selebihnya nyaris karena terpaksa. Ada rambatan dengki yang tak disukainya.

"Choi Siwon itu sempurna. Seperti pangeran dari Disneyland dengan wujud nyata. Ah, hyung sangat menyukainya."

Sesekali tanpa sadar ikut menarik simpul tipis di bibirnya, tersenyum menanggapi sang kakak yang selalu sumringah saat memulai cerita tentang sang idola.

Cerita terus bergulir hingga berbulan-bulan ke depan, saat nama sang pelakon seni itu makin harum dan mengglobal. Ketenaran sang superstar semakin menjadi. Kakaknya pun punya tingkah yang semakin tak terkontrol.

Dini hari itu kakaknya mengeluh pusing begitu sampai di rumah setelah hampir seminggu lamanya mengikuti jadwal sang pujaan hati di luar kota. Jelas orang tuanya tak memberi izin, tapi dengan lihai, sulung dari dua bersaudara itu berhasil meluluhkan ayah dan ibunya.

Adik manisnya masih larut dalam bunga tidur saat sang ibu tiba-tiba histeris yang membuat kepekaannya terusik.

Terlonjak dari selimut Pokemon berwarna kuning terangnya, bocah mungil itu turun dari ranjang dan mendapati semua orang yang ada di rumahnya dengan mimik wajah yang sama; panik dan bingung.

Mata sipitnya membola begitu menangkap fokus bahwa tubuh sang kakak tengah dibopong oleh ayahnya dengan tergesa. Kenapa sang kakak seperti sedang tidur? Kenapa pula ibunya menangis histeris sembari merapalkan nama sang kakak sebelum semua akhirnya berlari ke luar.

Kaki mungilnya ikut tergesa mengejar, namun terlambat saat sang supir keluarga menancapkan pedal gas dan mobil itu raib seketika.

Ia menangis, itu refleks. Saat seseorang terpogoh menghampirinya, menggendong lalu mengusap airmatanya yang deras mengalir.

"Tenang, Sayang, bibi di sini. Jangan menangis!"

Dengan nalar yang cepat, saat itu ia tahu bahwa kakaknya tidak baik-baik saja.

.

.

.


Seminggu berlalu, dan semuanya telah terjadi. Kim Heechul, si ceria yang selalu mendedikasikan hidupnya untuk kebaikan itu tumbang juga.

Sudah tujuh hari lamanya, yang dilakukannya hanya terbaring lemas di salah satu bangsal VIP rumah sakit terbaik di Seoul. Ia dinyatakan koma, dan hidupnya pun tak ada yang berani menjamin.

Bisa dibilang, Kim Heechul hanya tunggu malaikat pencabut nyawa bosan menarik ulur waktu hidupnya.

Sang adik setia menggenggam tangan halus bak pualam milik sang kakak dengan erat. Bocah yang sebentar lagi akan merayakan ulang tahunnya yang ke-11 itu diam saja.

Latar belakang dari kejadian seminggu yang lalu sudah ia kantongi. Hal yang menjadikan kakaknya kembali harus mencicipi bau menyengat obat-obatan, juga merelakan tubuhnya dililit oleh begitu banyak alat kedokteran, semuanya telah ia mengerti.

Mengejar Choi Siwon sampai radius begitu jauh bukan perkara mudah untuk seorang penderita penyakit jantung bawaan sepertinya lakukan. Kelewat bahagia tak boleh, sangat sedih juga tak boleh, apalagi terlalu lelah, bisa fatal akibatnya. Dan seminggu itu mereka semua kecolongan. Tak mampu menang melawan keinginan sang anak pertama, akibat yang harus ditanggung begitu mahal.

Rasa suka memang harusnya wajar, tapi yang dirasanya kini sang kakak sudah menjurus ke arah maniak. Tak peduli dengan diri sendiri, yang jadi prioritas hanya idolanya; Siwon dan hanya Siwon.

Sedikit banyak si adik mulai mengerti, dan mulai tak membenarkan apa yang selama ini dijalani oleh sang kakak. Memang rasa suka, kagum, juga mengharuskan kakaknya untuk rela berkorban?

Benarkah Choi Siwon sangat setimpal untuk dihargai sebegitu tinggi?

Di hari ke sepuluh, walau tim dokter berpesan untuk tak berharap banyak, tapi sang kakak akhirnya mau membuka mata.

Dengan tatapannya yang sayu dan tubuh yang layu, dia mulai menangis. Lirih nyaris tak bersuara.

Menekan dadanya kuat-kuat, merefleksikan kesakitan yang amat sangat, yang menjadikan semua orang kembali berkerumun; entah itu ayah dan ibunya, kerabat, maupun tim dokter yang memang siaga.

Tak tahu bagaimana, manik penuh airmata sang kakak bertegur pandang dengan kristal sipit si adik yang sedari tadi memilih untuk mematung di sudut ruangan di saat yang lain riuh dalam kepanikan.

Si adik menatap wajah kuyu sang kakak dari cela yang tak sengaja diberikan oleh orang-orang yang berkerumun dengan tatapan hampa. Seperti takut dan tertekan, wajah sang adik pucat pasi. Kakaknya seperti mengajaknya berbicara. Terlihat dipaksakan, namun bocah itu agaknya dapat memahami gerakan bibir dari kakak tercinta. Dengan leleran airmata yang mengikis wajah manis sang adik, pelan.. ia pun memilih mengangguk, mengiyakan.

Di detik berikutnya, riuh itu berubah hening tepat ketika satu bunyi nyaring berkepanjangan membuat semua orang di sana praktis terhenyak setelah kemudian saling melolong dan tersedu.

Iya, mulai detik itu, si adik tahu bahwa dirinya dan sang kakak tak lagi berada di satu dunia yang sama.

"Tolong jaga Siwon untuk hyungie, Yesungie.."

Kepalanya mengangguk, namun dengan gelegar aneh yang tersembunyi.

.

.

.


Membenci sewajarnya saja, mencintai juga harusnya sewajarnya saja. Yesung tengah menterjemahkan kalimat yang tak sesederhana pelafalannya tersebut.

Syuting Siwon di Hokkaido jika menurut jadwal, harusnya telah selesai hari kemarin, tetapi sampai sekarang, belum ada tanda-tanda sang aktor kembali.

Yesung termenung di balkon apartemen mewah itu. Malam ini, langit cukup indah untuk dipandang dan berhasil menyebarkan virus positif yang menjadikan hatinya sedikit damai.

Menunjuk satu bintang kecil yang paling bersinar di antara yang lain, bibir tipisnya menggumam lirih.

"Itu bintang Kim Heechul, tiga lainnya adalah para malaikat penjaganya. Ada Umma, Appa, dan Kim Yesung."

Melengkungkan seulas senyum pada akhirnya, dirinya kembali terpekur. Kilasan memori masa lalu yang telah mengantarkan pada titik yang saat ini ditapaki.

Hampir 6 tahun. Kakaknya bukannya meninggal sia-sia, kakaknya hanya pergi terlalu mendadak. Menjadikan dirinya terikat janji yang terkesan bagai sehidup-semati.

Apa iya Choi Siwon memang sepantas itu diperjuangkan hingga melibatkan nyawa sebagai jaminan?

Kim Heechul, si fanboy bodoh, kolot, maniak, polos, dan penuh ambisi, harus berpulang di usia yang ke-18. Tubuh cungkringnya sudah jadi abu, dan kini hanya jadi pajangan dengan banyak bunga di sekelilingnya.

Kim Yesung di sini. Dengan radius nyaris ratusan mil dari bumi tempat dirinya harusnya berpijak. Demi apa? Demi siapa? Esensinya juga apa?

"Aku sama tololnya dengan Kim Heechul. Darah memang lebih kental dari air, itu membuatku merinding sekali. Bodoh ya kau, Yesung!"

Usianya memang baru tujuhbelas, tapi ia sudah dituntut dewasa oleh dirinya sendiri. Lalu kembali termenung, merasa semuanya sudah keterlaluan jauhnya. Bias sekali hidupnya sekarang.

"Aku rindu pulang, aku benci begini, Hyungie!"

Siapa yang punya lisensi dan dapat menjamin jika dirinya akan selalu baik-baik saja jika berjuang sendiri?

Siapa yang tahu jika definisi dari menjaga berubah jadi kobar api sarat pembalasan dendam, namun menjurus ke kadar romantisme yang menakutkan?

"Hyungie, bagaimana jika motifku bergeser jadi jelek dan berakhir jadi penjahat?"

Kakaknya mengajarinya belas kasih tulus namun jika untuk Siwon tarafnya sudah kebablasan jadi obsesi tapi dalam bentuk yang jauh lebih parah, itu pun tetap tidak kesampaian saat ia sudah lebih dulu mati.

Pemuda manis itu menghapus airmatanya dengan kasar, lalu menengok wajah langit lagi yang kini terkesan angkuh dan mengejeknya.

"Hyung, izinkan aku jadi jahat, ya? Aku janji, Siwonmu takkan terluka dalam, hanya sebuah cobaan untuknya tak lagi congkak. Bagiku, kematianmu perlu pengakuan, dan itu darinya—Siwonmu itu."

.

.

.


Dengan menjinjing beberapa buah tangan, ia berjalan begitu tergesa. Seakan sudah menunggu moment-moment ini untuk secepatnya terlaksana.

"Yesung,"

Panggilnya begitu berhasil membuka pintu apartemennya. Lalu matanya bersiborok ke sekitar. Merasa jantungnya berdebar semangat, untuk kemudian berubah jadi ketukan cepat saat netranya tak menemukan sosok yang ia ingini.

"Kim Yesung!"

Bawaannya teronggok begitu saja saat dirinya sibuk membuka satu per satu ruang di apartemennya tersebut. Tidak ditemuinya apapun, membuat bibirnya kering dan tenggorokannya tercekat oleh rasa perih.

Sihir apa yang sudah bocah ingusan itu lekatkan padanya hingga berefek menyakitkan saat tidak bertegur sapa dan bertatap muka?

"Yesung, kau di mana!"

Seperti sebuah scene di drama ber-genre percintaan pada umumnya, tubuhnya lemas dan meluruh saat sosok yang didambanya lenyap entah ke mana. Lalu harus bagaimana?

Duduk lunglai di salah satu kursi ruang makannya, sang aktor tenar itu buntu untuk banyak berpikir. Selama di Hokkaido, gejala-gejala aneh sudah dirasakannya dan kini makin parah. Oh, ia jadi sadar, bahwa 100% sumbernya adalah si bocah ingusan yang bahkan belum genap berumur tujuhbelas itu, Kim Yesung.

"Ahjussi,"

Suara lembut itu membangkitnya sistem motoriknya dan memberi implus baik pada persendian juga perasaannya. Wow, sudah sejauh itukah ia kalah?

"Yah! Memang apa yang kau lakukan dengan pergi meninggalkanku!"

Tubuh kecilnya dirangkul sedemikian erat oleh sang aktor. Lalu salah satunya menegang dengan tiba-tiba. Sebuah respon yang sebenarnya sangat tak diharapkan.

Yesung masih kaku pun saat Siwon makin mengkungkung tubuh kecilnya dalam dekap yang tak berjarak. Bahkan rasanya, sudah nyaris sepuluh detik ia tak mengambil udara untuk bernafas.

"Memang apa yang ada di pikiranmu saat bukan wajahmu yang pertama kali kulihat ketika pulang? Dasar bocah! Kau membuatku panik!"

Semudah itukah perasaan seseorang berubah? Apa tiga hari itu waktu yang cukup lama untuk Siwon menjadi sangat berbeda seperti sekarang?

Usianya memang masih muda, tapi bukannya ia tak bisa dapat mendeteksi skenario apa yang kini sedang terjadi, dan scene apa yang tengah dilakoninya saat ini.

"Ah-ahjussi, s-sesak!"

Suara ragu itu menyadarkan Siwon bahwa ia sudah over acting. Lalu menjadi canggung saat tubuh mungil itu ia lepaskan dari dekapannya.

"Ah, Y-ya, oke.. terserah! A-ku minta maaf. Lupakan soal tadi!" si aktor kikuk dan serba salah mendapati raut wajah manis itu sudah semerah persik matang.

Lalu tangannya menjangkau dua buah paper bag bawaannya, dan diangsurkan kepada sang bocah untuk menutupi rasa gugup yang tiba-tiba menghampiri.

"Untukmu, dan lain kali jangan pergi dengan tiba-tiba. Aku khawatir!"

Setelah berucap, Siwon nyaris berlari dari hadapan Yesung, yang membuahkan tatapan aneh dari bocah berparas manis tersebut.

Si manis mengendus kecil, melongok ke dalam paper bag itu dan menemukan banyak cindera mata khas pulau Hokkaido memenuhinya. Oh, oleh-oleh untuknya ternyata.

"Dasar bodoh!"

.

.

.


Entah bagaimana, tiga hari bisa membuatnya bertransformasi jadi sosok yang berbeda, dan nyaris tidak dikenali oleh pribadi masing-masing.

Berlaku untuk keduanya; Siwon dan Yesung.

Klise dan monoton, lalu diimbangi dengan emosi penuh dendam.

Satunya cinta, lainnya itu benci tapi bisa jadi juga cinta.

Si manis tengah menata lauk pauk yang sempat dimasaknya tadi dari hasil belanjanya di supermarket dekat apartemen Siwon yang menjadikannya pergi menghilang.

Jemarinya meraih kalender sebagai bukti sepak terjangnya selama ini di situasi yang sebenarnya tak begitu ia kehendaki.

Sudah hari ke-17, dan rupaya sudah berhasil menumbuhkan rasa lain yang ia tangkap dari gelagat aneh sang aktor tampan terhadap ia juga keadaan.

"Ahjussi, ayo makan dulu!" serunya dengan mengetuk kamar dang aktor. Ia kembali ke sofa tempat di mana ia biasa bergelung nyaman.

Siwon keluar dengan tampilan yang lebih layak dan normal. Lalu malah mengendus saat menemukan dirinya sendiri di meja makan sedang si tamu kurang ajar malah berungkang kaki di depan televisi.

"Sini, Bocah! Aku benci makan sendiri!" suaranya menggelegar di tengah suasana hening apartemen mewah itu. Yesung terlonjak dari aktifitas khidmatnya, lalu melirik tajam pada si lelaki tampan.

"Iya, aku datang! Dan jangan berteriak padaku!" balasnya saat menarik satu kursi berhadapan dengan Siwon yang kini menarik sudut bibirnya.

"Kau banyak kemajuan selama kutinggal, masakanmu jauh lebih manusiawi sekarang." pujian setengah itu dilontarkannya dengan senyuman yang tak luntur. Yesung menyangga kepala dengan kedua sikunya di atas meja, memusatkan pandangannya pada lelaki pujaan setiap penggemarnya tersebut.

"Ahjussi,"

"Hmm.."

"Jika sebenarnya aku adalah sasaeng lalu berubah jadi haters-mu dengan kedok seorang fans, lalu bagaimana menurutmu?"

"Uhuk..uhuk!"

Yesung dengan cekatan mengambil gelas berisi air putih untuk diangsurkan pada sang aktor tampan yang tengah tersedak itu.

Seperti tak mengucapkan sesuatu hal yang aneh, si manis kembali memangku wajahnya dengan kedua tangan, memandangi wajah merah sang idola dengan tatapan datar.

"Berhenti bicara aneh-aneh, Yesung! Kau sungguh lucu dan tak terduga." mulai menyuap sesendok nasi beserta lauk pauknya, namun kini dengan sedikit getaran pada lengan berbisep miliknya, seperti sikap skeptis yang membuat Yesung akhirnya menghembuskan nafas panjang.

"Haters tentu momok yang menyeramkan dengan tarafnya masing-masing. Jika aku seorang haters dengan tingkat 'sangat benci', kira-kira apa yang bisa kulakukan?"

Makin kelu dan atmosfer di ruang makan tersebut kian pengap, Siwon menatap balik raut tawar milik bocah berparas manis itu.

"Kau kenapa, Yesung? Apa yang terjadi selama aku pergi? Sesuatu menganggumu? Katakan! Mungkin ada yang bisa kulakukan untukmu."

Kemudian kedua tangan dengan jemari mungil itu terkepal begitu keras hingga buku-bukunya memutih. Dengan gigi bergemeletuk, tatapan tawarnya lambat laun berubah dan membuat Siwon tercengang. Banyak pedih di sana.

Kelopak mata indah itu mulai meluruhkan rintikan-rintikan kristal bening yang terasa menyayat bagi Siwon.

Bibirnya bergetar saat mulai mengucap seuntai permintaan,

"Kembalikan Kim Heechulku, jika tak bisa, kau harusnya mati bersamanya!"

Dengan tersedu, tubuh mungil itu raib dari hadapannya yang masih terpekur di kesunyian yang menyakitkan.

"Jadi Kim Heechul benar-benar sudah meninggal?"

.

.

.


Siwon mengakui ia melupakan satu keping kegamangan dan keterkejutannya terhadap fakta-fakta yang mulai mengungkap jati diri Kim Yesung sebagai sebuah entitas.

Hanya karena rasa lain yang menginvasi hati dan jiwanya, ia pikir itu hanya sebuah isu dan tak perlu jadi sebuah suspeksi, walaupun rasa curiga sedikit banyak masih membayanginya, tapi sebuah rasa sebutnya cinta yang akhirnya menjadi raja dalam dirinya.

Ditunjang dengan rasa penasaran tingkat tinggi, diam-diam Siwon mengobrak-abrik tas yang berisi semua barang-barang milik bocah manis itu, tepat sehari sebelum keberangkatannya ke Hokkaido.

Lalu rasa penasarannya kian membuncah saat handycam yang beberapa kali Yesung perlihatkan ada di tumpukan baju di bagian bawah tas besar itu.

Menemukan banyak video, dan kebanyakan adalah interaksi dan potongan-potongan aktivitas rutin dari sosok Kim Yesung kecil dengan satu sosok lain tampak lebih tua dari bocah manis itu.

Wajahnya cantik, namun ada kesan angkuh dan juga bersahabat pada sosok lain itu.

Dan setiap kali bercengkrama, Kim Yesung kecil selalu memanggilnya dengan sebutan 'hyungie'.

Ada foto-foto yang diedit menjadi sebuah video untuk satu sosok yang sama, lalu pada akhir video, ada gambar berupa tulisan-tulisan yang membuat kening Siwon bertaut bingung.

"Namanya Kim Heechul. Pemuda bodoh yang akhirnya mati tanpa harga diri. Melepaskan semua mimpinya yang jauh lebih terpuji dan mengutamakan ketamakannya pada cinta seorang penggemar terhadap idolanya yang lebih tolol darinya. Iya, dia kakakku, satu-satunya. Lalu saat dia meregang nyawa, saat nafasnya hanya tersisa satu tarikan, dia dedikasikan pada idola tololnya itu. Aku masih sangat bocah saat dia benar-benar mati dan jadi abu. Dan soal idola tololnya itu, aku memutuskan untuk membencinya—dan kupikir, aku harus menghancurkannya."

Dan kini keping puzzle-nya cukup memunculkan suspeksi-suspeksi yang tadinya ia abaikan begitu saja, dan berhasil membuatnya terserang vertigo parah. Imbasnya sekarang, dunianya rasanya seperti dijungkir balikkan.

"Mengapa kematian Kim Heechul menjadi begitu penting? Dan apa alasaannya hingga kehancuranku yang jadi pertanggung jawabannya?"

.

.

.


Pada praktiknya, tidak ada luka yang benar-benar sembuh apalagi hilang.

Ia tahu sudah sejak awal Siwon tidak serta merta bisa percaya pada semua ucapannya, dan ia pun sadar bahwa di balik punggungnya, aktor kenamaan itu menyelidikinya; dengan cara terhalus versi yang ia bisa.

Sudah kepalang tanggung, dan kini nyaris 100% kedoknya terbongkar yang sebabnya adalah dirinya sendiri. Ia sudah muak karena rasa benci, dendam, dan amarahnya berubah haluan. Seyogyanya, ia tidak bisa melimpahkan semua kesalahan masalalu pada Siwon begitu saja. Lelaki itu pada prinsipnya tidak tahu apapun, bahkan tentang seorang pemuda SMA bernama Kim Heechul—barangkali.

Yang ditakutinya sekarang, lamat-lamat rasa bencinya menumpul karena benih-bening lain meranggas muncul di permukaan hatinya.

Ya, ini yang ia takutkan.. fakta bahwa dirinya tak punya alasan lagi untuk membencinya.

Terlalu egois saat orang yang sudah mati diungkit jadi problemanya. Sinting kau, Yesung!

Dirinya munafik, karena sudah sedari awal, sejak Kim Heechul ikut euforia dan keranjingan akan si aktor pendatang baru, Choi Siwon, ia pun merasakan bagaimana suka citanya rasa jatuh cinta, dan itu juga pada pangeran sang kakak, Choi Siwon.

Mulutnya berucap sumpah serapah, tapi Choi Siwon memanglah punya pesona. Bahkan hanya dengan satu foto dalam pigura besar di kamar sang kakak, ia merasakan keterpukauan yang menggebu melebihi batas.

Saat upacara pemakaman sang kakak, ia memutarbalikan semua janjinya dengan kejam.

"Iya, aku akan menjaganya. Bukan untukmu, tapi untuk diriku sendiri."

Pemuda manis itu memang ingin menghancurkan Choi Siwon, tetapi lebih bergairah untuk memilikinya.

Semua yang dijalaninya kini hanya kamuflase belaka. Semua tingkah manisnya hanya ilusi juga topeng agar membuatnya terlihat tak berdosa.

Kim Yesung barangkali punya kepribadian ganda.

Iya, barangkali.

.

.

.

TBC


Semua yang selesai baca chapter ini pasti mukanya langsung sepet, lalu ngomong, 'Ini itu apa?'

Okok, ga masalah. Salah yang nulis juga main mangkrak gitu aja, jadi ngalor-ngidul bikin sumeng.

Jangan dipikirin, ah! Udah dibaca aja, kalau ga sudi ya ga usah dibaca. Kalau kadung baca, ya disyukuri aja dan selamat, anda telah masuk ke dunia saya! Hehehehe ^^v

Byebye~~