Keheningan pun menelan para penghuni ruangan tersebut. Detak jantung saling beradu. Bulir-bulir keringat dingin menyatu dengan kegelisahan. Detik-detik waktu terus berdetak dan tak terasa sudah hampir tiga jam berlalu. Desah frustasi terdengar lebih mendominasi. Semua kening mengkerut dalam. Kekesalan pun meluap disaat kesabaran berbatas.
Brak!
.
Bunyi sirine yang mengaung dari mobil polisi begitu memekakkan telinga. Merajai jalanan kota Konoha.
.
"Pemirsa, beberapa jam yang lalu warga disebelah selatan distrik Aburame dihebohkan oleh suatu kejadian,"
.
"Nona, sebaiknya anda jangan menyulitkan kami, sebagai warga Negara yang baik anda harus bekerja sama dengan polisi." Kalimat itu terulang kembali dari mulut seorang yang berpakaian jas serba hitam didepannya.
Ketegangan kembali memuncak diantara keduanya. Temari yang sudah sangat syok dengan berita tersebut. Hanya bisa menahan diri.
.
Bunyi sirine ambulan pun menggema bersahutan. Membuat kegaduhan dan kecemasan. Disiang hari yang cerah.
.
" Telah ditemukan tiga sosok mayat berjenis kelamin laki-laki, tanpa identitas. Disebuah gang sempit, di jalan Rasenggan Blok II no 12 dini hari tadi oleh seorang warga setempat,"
.
"Saya sudah mengatakan semua yang saya tahu. Saya banar-benar tidak tahu apa-apa. Kenapa anda terus memaksa saya akan suatu hal yang benar-benar tidak saya ketahui." Temari sudah tidak habis pikir. Kenapa mereka tidak juga percaya.
Polisi muda di hadapannya hanya bisa mendecih. Berbalik sebentar menyembunyikan raut kekesalannya. Tangannya yang berada diatas meja mengepal kuat. Sorot matanya yang tajam menatap Temari intens. Penuh selidik.
"Sebaiknya anda memang bicara jujur tentang ketidaktahuan anda. Jangan sekali-kali anda anggap remeh kasus ini dan juga para penyidik dari kepolisian."
Temari hanya diam. Namun, ia tidak gentar. Ia pun membalas tatapan tajam polisi muda tersebut.
.
Semua orang tampak penasaran. Dengan adanya pemasangan garis polisi. Mereka berjejalan ingin tahu sebenarnya apa yang telah terjadi.
.
"Belum diketahui apa motif sebenarnya yang mendasari pelaku melakukan pembunuhan keji tersebut, motif sementara sang pelaku adalah faktor dendam yang mengakibatkan terjadinya pembunuhan tersebut dan waktu kejadiannya diperkirakan dilakukan pada saat tengah malam disaat semua orang tengah tertidur lelap,"
.
"Sudahlah Sasuke, penyelidikan kita hari ini dirasa sudah cukup," Seorang polisi yang berseragam lengkap menyela dari belakang yang sedari tadi hanya diam mengamati. Ia melangkah mendekati Temari. Rambut keperakannya semakin jelas terlihat dibawah lampu yang berada tepat ditengah-tengah ruangan introgasi tersebut. "Anda sudah diperbolehkan untuk pulang, terima kasih atas informasi yang anda berikan. Semoga, saat kami membutuhkan bantuan anda lagi, anda bersedia untuk membantu penyelidikan."
.
Semua mayat itu segera dipindahkan dan dibawa kerumah sakit. Dengan dikawal satu mobil polisi
.
"Dari pihak kepolisian belum ada yang bisa mengkonfirmasikan lebih lanjut setelah penyelidikan beberapa jam ditempat kejadian dan masih mencoba menyelidiki siapa dalang dibalik pembunuhan tersebut. Reporter Rin melaporkan dari tempat kejadian."
Disclaimer © Om MK-Sensei
Written © Ghiena
Story © Ghiena
Warning : AU, OCC, Abal, Gaje, Typo bertebaran dimana-mana, Alur Loncat-loncat tak beraturan, Diksi bikin sakit mata, Etc…
Don't Like Don't Read…
Abnormal?
Chapter 2 : Who You?
By © Ghiena
Enjoy it…
.
.
.
Aku bukanlah siapa-siapa.
Dan aku sama sekali tidak memiliki apa-apa.
Aku sendirian…
Sendirian.
.
"Hei, Shikamaru," Hidan mengangkat gelas yang ada ditangannya. "Terima kasih minumannya."
Shikamaru hanya menggangguk sebagai jawaban. Lalu kembali larut dalam lamunan yang ia buat sedari tadi. Minuman dihadapannya tampak tak menarik baginya. Tak ada niatan sama sekali dari dirinya untuk menyesap dan membiarkan nikmatnya minuman berakhohol itu meluncur ketenggorokannya.
"Bung, ada apa? Kenapa tiba-tiba mentraktir kami minum dibar, ha? Apa ada hal yang spesial yang sedang terjadi? Kau ternyata banyak uang, ya." Deidara yang sudah setengah mabuk memaksakan diri untuk bertanya.
Shikamaru tersenyum tipis, amat tipis. Matanya beralih melirik Deidara yang rebahan disofa tepat diseberangnya.
"Tidak ada yang spesial, malam ini aku hanya ingin bersenang-senang."
Semua orang yang diajak Shikamaru tertawa. Lalu mereka semua mengangkat gelas.
"Semoga malammu menyenangkan, kawan."
Kawan? Cih.
.
Shikamaru gelisah dalam duduknya, menunggu. Ia benci menunggu. Ditambah lagi matanya yang benar-benar sudah ingin terpejam sepanjang ia menunggu tadi. Ia sangat lelah hari ini. Niatnya setelah pesta minum berakhir ia akan segera pulang dan tidur tapi ternyata rencana indahnya hancur berantakan karena suatu kejadian. Dan ia cukup kesal karena itu. Sebuah kartu kredit dan kertas tagihan terselip di sela jarinya. Saat dirasanya tangan yang sedari tadi hanya kaku dan diam menunjukkan gerakan-gerakan kecil. Ia berdiri, segera beranjak mendekati ranjang. Mata yang sejam lalu terpejam rapat kini terbuka perlahan.
"Kau sudah sadar?" Shikamaru bertanya perlahan.
Kedua mata bak emerald itu menyipit membiasakan dengan pencahayaan ruangan. Lalu beralih kesamping menatap cukup lama sosok yang cukup dikenalnya.
"Nara?" ucapnya lirih.
Shikamaru melemaskan otot-otot tubuhnya. "Sepertinya kau memang sudah sadar. Kau sudah dapat mengenaliku." Lalu ia kembali duduk bersandar dibangku didekat dinding sambil bersedekap dan memperhatikan gadis itu bangun dan duduk diatas ranjang meski pusing.
"Kau yang membawaku kemari?"
"Kau memang gadis gila,"
Tiba-tiba mendengar kalimat cemohan yang berasal dari Shikamaru membuat gadis yang bernama Temari itu menatap tajam tanpa memperdulikan sakit kepala yang masih menyerangnya.
"Kheh, kau membuat dirimu sendiri terluka. Apa kau pikir kau yang sendirian waktu itu bisa melawan mereka."
Temari tampak berpikir sejenak. "Tapi yang pasti aku telah berhasil melukai hatinya."
Shikamaru tertawa tanpa suara. Lalu berujar : "Dengan menyebutnya jalang? Kau puas hanya dengan itu?"
Temari sedikit mengerucutkan bibirnya. Tentu saja hal itu tak membuat dirinya puas sedangkan ia babak belur begini.
"Tapi hal itu memang fakta, hanya karena nilai dia merelakan tubuhnya ditiduri?"
Shikamaru sedikit menaikkan sebelah alisnya. Ia tidak terlalu peduli dengan urusan orang lain. Menurut Shikamaru pembicaraan ini sudah sangat merepotkan. Shikamaru pun berdiri mendekati ranjang.
"Dasar bodoh, apa yang sebenarnya yang kalian pikirkan, ha?"
"Ck, hey nanas, dia yang memulai duluan tiba-tiba saja mengeroyoki aku." Sergah Temari cepat.
"Terserah kau saja cewek merepotkan. Sebaiknya kau cepat telepon keluargamu. Aku sudah sangat lelah, aku mau tidur."
"Ish, iya iya." Lalu Temari mencari tasnya yang berada dinakas dan mengambil handphonenya.
"Ck, kenapa aku sial sekali sih hari ini," Sambil menunggu sambungan dari seberang Temari menggerutu. "Ingin senang-senang malah dikeroyok. Ugh, dituduh ngerebut pacar orang, yang nolong malah nanas ini lagi." Temari menatap tajam kearah Shikamaru yang tengah berdiri dengan tampang tidak peduli disampingnya.
Setelah selesai berbicara dengan adiknya, Temari kembali menatap Shikamaru.
"Hey nanas, kau pulang saja sana. Adikku sebentar lagi akan menjemputku. Luka-lukaku juga tidak terlalu parah. Oya, uangmu akan ku ganti. Kirim saja tagihannya."
Shikamaru menatap Temari dalam diam beberapa saat. "Tidak perlu, tapi lain kali jangan sampai merepotkan hidupku lagi." Setelah mengucapkan hal tersebut Shikamaru berjalan menuju pintu.
"Dasar nanas kampret." Umpat Temari pelan. Menahan diri agar tak meneriaki sang penyelamat hidupnya. Kali ini, yeah hanya kali ini saja.
Saat hendak menutup pintu Shikamaru tersenyum tipis, amat tipis kearah Temari.
"Apa lagi?" Sembur Temari.
"Aku pergi dulu. Dan," cukup lama Temari menunggu. "Jangan sampai terluka lagi nona." Dan pintu pun tertutup sempurna meninggalkan Temari yang keheranan.
"Apa-apaan yang tadi itu, dia sedang mengejekku, ya? atau…." Temari terdiam beberapa saat. "Merayuku?" dan semburat merah pun tak dapat Temari hindari menjalar di wajah putihnya.
.
.
"Kali ini apa lagi, kak?" Gaara yang tengah mengemudi tak dapat menahan diri untuk bertanya tentang keadaan kakak perempuannya yang satu-satunya ini.
"Aku sama sekali tak ingin membicarakannya Gaara, kau fokus mengemudi saja sana." Temari tampak sama sekali tidak mood sekarang. Ia hanya menyenderkan kepalanya kekursi dengan nyaman sambil memejamkan kedua matanya. Gaara mendesah.
"Kau baru saja membuat Ayah marah dengan segala tingkah lakumu hari ini, kak. Mungkin setelah ini kau akan dideportasi ke Suna dan mimpi burukmu mengenai pesta pernikahan benar-benar akan terjadi."
Temari terlonjak bangun lalu dengan nada kesal ia berujar tepat ditelinga Gaara : "Dengar ya, adikku. hal itu takkan pernah terjadi. NEVER." Setelah itu Temari menyandarkan tubuhnya dikursi sambil mengatur pernapasannya. Tangannya bersedekap. Wajahnya tak dapat menyembunyikan raut kekesalan. Kadang ia tak mengerti dengan Adiknya yang satu ini. Kadang ia mampu menenangkannya. Namun, sering juga ia dibuat jengkel olehnya. Ia pun memandangi geliat kota Konoha saat dini hari. Kerlap-kerlip kemeriahan lampu jalanan Konoha. Orang-orang yang berlalu lalang. Bahkan embun yang tetesannya mengalir dikaca pintu mobilnya. Keheningan menyapanya. Damai menyertainya.
Gadis merepotkan.
Tiba-tiba sebuah kalimat yang sama sekali tak asing di indera pendengarannya terngiang-ngiang. Dengan aksen dan suara khasnya mampu membuat Temari menyunggingkan sebuah senyum tipis. Ia jadi geli sendiri karena melihat pantulan wajahnya sendiri yang dengan sendirinya tersenyum dan juga ia tak habis pikir karena telah mengingat orang nomor satu yang paling tak mau direpotkan di Konoha. Namun, tanpa diduga sering sekali menolongnya.
"Sepertinya karena dikeroyok otakmu jadi bergeser, kak." Gaara melirik Temari yang sedang tersenyum dan menyimpulkan pemikirannya sendiri.
"Sebaiknya kau fokus menyetir saja, Gaara!" Dan kembalilah perasaan Temari menjadi jengkel.
.
Shikamaru menghempaskan dirinya disofa. Ia sama sekali tak terlalu mengindahkan dinginya malam menembus dada telanjangnya. Ia nyalakan sebatang rokok untuk menemaninya. Diruangan gelap yang hanya diterangi pantulan cahaya bulan yang masuk melalui jendela apartemennya ia menikmati kesendirian dengan menyandarkan tubuhnya dan terdiam memandangi langit-langit apartemennya. Sesekali asap rokok yang ia hembuskan dari mulutnya mengaburkan pandangannya dari langit-langit apartemennya.
Setelah beberapa kali menghisap, rokok yang ada ditangannya dibiarkan saja. Tangan kirinya yang bebas menggapai dadanya yang tiba-tiba terasa sakit. Amat sakit.
Sampai kapan harus seperti ini? sampai kapan harus bertahan seperti ini?
Aku lelah.
Ia tutupi matanya dengan tangannya. Tak bergeming dari tempatnya. Ia sembunyikan isakannya dan mencoba untuk terlelap. Bermimpi. Meskipun pada akhirnya ia akan tetap terbangun juga dan dilempar kedalam kenyataan pahit hidupnya.
TBC
Fiuh….
#ngelap keringat
Ini chap 2nya moga ga mengecewakan, membosankan, membingungkan dan GAJE wkwkwkwk
Meskipun libur kuliah Ghiena masih punya jadwal seabrek dirumah..
Huwaaaa… maaf sekali ya temanz-temanz kalau ga bisa update cepat-cepat, Ghienanya juga mau cepet-cepet tamatin kok. Oya buat beberapa fic yang lain tinggal dirampungin aja kok, doain Ghiena ya temanz2 biar ga khabisan ide en malas nulisnya cepat pergi gkgkgkgk..
Oke sampai jumpa lagi ya…..
Pliesss RnR…..
