Tittle: GET DOWN (Meanie)

Cast: Jeon Wonwoo

Kim Mingyu

Wong Yibo

Others

Genre: Yaoi, bdsm/?

Rated: M

Disclaimer: Plot ceritanay murni punya author, Wonwoo juga punya author.

Summary: Jeon Wonwoo, harus hidup menderita dengan statusnya sebagai istri Kim Mingyu.

DON'T LIKE DON'T READ AND REVIEW PLEASE

BRUGH!

Mingyu mendorong kasar tubuh kurus Wonwoo kesebuah ranjang berukuran king size. Ranjang yang selalu menjadi saksi betapan kasarnya cinta seorang Kim Mingyu. Wonwoo mundur, tangannya mencengkeram erat sprei. Ia benar-benar takut sekarang.

Setelah mengunci pintu, Mingyu mulai membongkar nakas di samping ranjang. Mencari-cari benda laknat itu. Vibrator, cambuk, silet, cockring, dan nipple menatap horror benda-benda itu. Peluh mulai mengucur dan wajahnya agak pucat.

Mingyu merangkak keatas ranjang, mendekati Wonwoo menyandar ketakutan pada sandaran tempat tidur. Wonwoo benci ini. Benci saat Mingyu menatapnya seperti sepiring sajian siap makan. Saat Mingyu menyeringai iblis. Dan, saat Mingyu mulai melepas sabuknya.

Mingyu mencengkeram kedua tangan Wonwoo, mengikatnya dengan sabuk hitam itu. tangan Wonwoo dibawanya keatas. Sementara tangan Mingyu bergerak merobek paksa kaos yang dipakai Wonwoo.

Wonwoo memejamkan matanya. Menggigit bibirnya sekuat tenaga saat Mingyu mulai memasang nipple sucker dan memelintir nipplenya.

"Ugh. . . Mingyu. .. argh. . ." Ringis Wonwoo. Mingyu melahap rakus bibirnya,melumatnya kasar hingga saliva mereka mengalir dari sudut-sudut bibir.

"Uhmm. .. anghh. . ."

Tangan Mingyu mulai turun melepas celana selutut yang Wonwoo kenakan. Sejenak ia melepas ciuman panas mereka, "Kau tahu hyung, apa yang kusuka saat menyiksamu?" Tanya Mingyu, mendekatkan bibirnya ketelinga Wonwoo yang memerah.

"Rintihanmu. Itu sangat seksi bagiku." Mingyu menyeringai, mengemut sekilas daun telinga yang sudah sangat memerah itu.

Mingyu menatap gundukan yang berada di antara kedua paha Wonwoo yang putih pucat. Mingyu merundukkan kepalanya, menjilati paha itu seperti seekor anak anjing. Membuat Wonwoo menggelinjang hebat dan memanas.

"Arghh. . . stop. . ith. . ." Rintih Wonwoo. Mingyu menatapnya.

"Stop? Never."

Mingyu mengeluarkan sebuah benda kecil dan tipis dari sakunya. Sebuah silet tajam dan mengkilat. Wonwoo menatapnya benci dengan napas terengah. Pemuda manis itu mulai memejamkan matanya.

Sret. . . sret…

Sayatan-sayatan kecil terlihat mulai melintang memenuhi paha putih pucat itu.

"Sa-sakith.. . " Lirih Wonwoo. Mingyu kemudian menciumi paha yang kini penuh luka itu. menjilatinya. Meninggalkan sensasi luar biasa pada Wonwoo. Panas dan perih karena luka sayatannya bercampur liur Mingyu.

Lagi, Mingyu merobek paksa underware Wonwoo. Membuat tubuh kurus dan ramping itu terekspos sempurna. Matanya menatap nyalang junior Wonwoo yang menegang sempurna.

Mingyu mulai mengocok junior itu secara cepat, lebih cepat danlebih cepat. Membuat Wonwoo menggelinjang hebat.

"Arghhh . .. anghhh. .." Racau Wonwoo. Mingyu mengulum Junior Wonwoo yang mulai menebal. Menghisapnya kuat dan kulumannya semakin dipercapat.

"Angghh fasterhhhh anghhh. .. ." Desah Wonwoo memejamkan matanya kuat. Tubuhnya sedikit terangkat, membuat juniornya semakin masuk kedalam mulut Mingyu.

"Argh!" Erang Wonwoo frustasi. Saat ia hampir tiba, Mingyu memasang cockring diujung juniornya. Membuatnya gagal klimaks.

"Argh. . . ke-kenapa?" Protes Wonwoo.

"Kita begini untuk memuaskanku, bukan kau." Singkat, padat, dan menjengkelkan.

Mingyu kemudian melepas kemajanya. Dan melucuti celananya. Memperlihatkan juniornya yang berotot dan menegang sempurna. Juniornya yang panjang, besar, dan kecoklatan. Sangat seksi. Tapi Wonwoo justru menatapnya horror.

Mingyu menarik kasar tubuh Wonwoo, memaksanya mengulum juniornya. Sementara Wonwoo hanya pasrah dan melakukan blow job terbaiknya. Mengulum dan menghisap kuat junior Mingyu yang terasa menusuk-nusuk tenggorokkannya.

"Anghhh. . . akhh. .. arghh . . yess. . ." Desah Mingyu, menikmati bagaimana mulut Wonwoo menghisap kuat juniornya.

Wonwoo semakin mempercepat kulumannya. Dan Mingyu juga ikut menggerakan pinggulnya maju mundur. Mingyu memejamkan matanya. Merasakan juniornya yang menebal dan berkedut sempurna.

"ARGH! Shit. Oh yeahsshh. . ." Racaunya kencang, saat juniornya meluberkan cairan yang sangat banyak dimulut Wonwoo. Mingyu menarik dagu Wonwoo. Hingga wajah mereka berhadapan. Melumat kasar bibir tipis yang sudah membengkak itu. berbagi cairannya sendiri.

Mingyu mulai menjelajahi leher Wonwoo. Menghisapnya kuat dan sesekali mengigitnya.

"Argh .. shhhh. . ." Rintih Wonwoo. Sementara Mingyu terus membuat banyak kiss mark disekujur tubuhnya.

Puas menatap hasil karyanya, Mingyu mendorong kasar tubuh Wonwoo.

Brugh!

Melebarkan kedua paha Wonwoo, dan menaikkan kaki sebelah kirinya kepundaknya. Mengekspos sempurna hole Wonwoo yang memerah dan berkedut sempurna. Mingyu menyeringai. Menatapnya nyalang dan penuh napsu. Tangannya mengocok sebentar juniornya sendiri, memposisikannya didepan hole Wonwoo.

Tanpa foreplay, Mingyu menyodokkan juniornya yang menegang sempurna kerectum Wonwoo. Membuat pemuda manis itu membulatkan matanya dan sedikit menaikkan tubuhnya karena kaget.

"Argh! Sakit!"

"Aku tak suka pemanasan." Decih Mingyu. Kemudian mulai menggerakan pinggulnya kasar. Menyodok-nyodok hole Wonwoo dengan cepat.

"Arghhh . . . anghhh. . . uhm. . ." Erangan dan desahan silih berganti menggema diruangan itu. sementara air mata Wonwoo mengalir deras membasahi pipinya. Merasakan perih di holenya yang terasa robek.

"Anghhh. .. ahhh. . . yess.. . ahh. .. " Sementara Mingyu mendesah nikmat sambil terus menggenjot tubuh ringkih dibawahnya. Merasakan nikmatnya juniornya yang dicengkeram erat oleh hole Wonwoo.

Mingyu terus bergerak cepat. Bahkan ranjang yang mereka tempati berderit nyaring menandakan permainan panas mereka.

"Arghhh unghhh . . fasterhhhh. . ." racau Wonwoo.

Mingyu membalikan tubuh Wonwoo kasar secara tiba-tiba. Membuatnya menungging. Sementara pinggulnya terus bergerak maju mundur.

Mingyu meraih cambuk pendeknya. Melecutkannya.

Ctar!

"Arghhh s-sakit .. hiks. .. " RIntih Wonwoo, saat Mingyu mencambuk bokongnya beberapa kali.

Mingyu merunduk, kebali membuat kissmark di punggung Wonwoo. Tangan kirinya melepas nipple sucker dan cockring Wonwoo. Kemudian mempercepat genjotannya.

"Arghhh . . . ungh . .. "

"ARGH!" Erang keduanya bersamaan. Mereka orgasme bersamaan. Dengan cairan Mingyu yang meluber keuar dari hole Wonwoo dan cairan Wonwoo yang membasahi perutnya sendiri.

Dan,

BRUK!

Wonwoo yang jatuh pingsan diakhir persetubuhan mereka.

.

.

.

.

.

Wonwoo menggeliat, menyesuaikan pandangannya dengan sinar mentari yang menyusup diantara celah gorden yang dibuka Jihoon lebar-lebar.

"Kau bangun siang, Wonu-ya. Padahal sarapanmu sudah menunggu." Sapa Jihoon, sambil membenarkan ikatan gorden-gorden itu.

Wonwoo melirik sekilas sarapannya. Perutnya lapar. Maka ia memaksa tubuh kurusnya bangun. Dan ia mendapati dirinya telanjang seperti pagi-pagi sebelumnya. Tangannya mengusap-usap wajahnya. Kemudian tangan kurusnya beralih meraihnampan sarapannya.

Mulai menyantapnya.

,

,

Selesai sarapan, Wonwoo melangkahkan dirinya kekamar mandi. Wonwoo menatap datar keadaannya yang kacau. Sebuah cermin lebar dan besar dikamar mandi yang memperlihatkan bagaimana keadaan dirinya.

Leher dan tubuhnya penuh kissmark. Dan jangan lupakan luka sayatan di berbagai bagian tubuhnya. Perih masih begitu terasa. Meski ia tahu semalam Jihoon pasti sudah melumuri tubuhnya dengan krim luka. Wonwoo berbalik. Menyandar pada cermin itu.

Tubuhnya merosot jatuh. Memeluk kedua lututnya erat. Ia lelah hidup seperti ini. Ia hanya ingin kebebasan. ia ingin pulang. Ia rindu adiknya Bohyuk. Ia rindu Eommanya. Ia rindu sahabatnya Jeonghan dan Jisoo.

Tidak, ia tak rindu Appanya. Ia benci pria itu. seseorang yang sudah membuat hidupnya sengsara seperti ini. Ia ingin pulang, tapi ia tahu. Jika ia pulangpun Eommanya yang akan menderita. Ia harus bertahan. Harus kuat.

Tubuhnya bergetar. Samar-samar isak tangis keluar mengiringi tangisnya. Airmatanya sudah mengalir deras membasahi kedua pipinya.

Wonwoo meraih ponselnya. Menelepon nomor seseorang.

"Halo . .. Jeonghan hyung. . . aku ingin pulang. . . hiks."

.

.

.

.

Mingyu menatap proposal ditangannya. Kemudian tersenyum penuh kemenangan. "Bagus. Begini baru yang namanya kerja." Ujar Mingyu, menatap puas persetujuan kontrak antara perusahaannya dan rekan bisnisnya, Park Chanyeol.

"Tapi tuan Kim, tuan Park menginginkan ada perjamuan makan malamini di kediaman anda." Ujar sekertaris Mingyu pelan.

"Jamuan makan?" Mingyu menaikkan sebelah alisnya.

"Ya. . . dia bilang harus malam ini. . . jika tidak, ia akan membatalkan kontraknya.

"Sepele." Cibir Mingyu. Ia meraih ponsel canggihnya. Menelpon kepala pelayannya di rumah.

"Halo, Lee Jihoon. Siapkan jamuan makan mewah malam ini. Aku ada tamu." Ujarnya, kemudian menutup sambungan telepon.

.

.

.

Wonwoo mengayun-ayunkan kakinya di kursi kayu taman belakang. Sementara tangannya memangku sebuah mangkok es krim besar. Sementara tak jauh darinya, Michi berlari-lari mengejar kupu-kupu.

Wonwoo memanglingkan pandangannya saat melihat mobil mewah Mingyu memasuki bagasi belakang. Itu tandanya, Mingyu takkan keluar lagi hari ini. Tapi tak ada niatan sedikitpun bagi Wonwoo untuk menghampirinya, atau menyambutnya. Tidak. Wonwoo pasti mencap dirinya gila kalau melakukannya.

"Michi-ya, lihat, pemilikmu pulang. Makhluk paling mengerikan yang pernah Tuhan ciptakan dalam hidupku." Desis Wonwoo, menatap benci Mingyu yang berjalan menghampirinya setelah memberikan jas dan tas kerjanya pada beberapa maid.

"Wonu-ya!" Panggilnya. Tapi Wonwoo tetap asik memakan es krimnya. Mengacuhkannya.

Mingyu menghampiri Michi sebentar, bermain-main dengan anjing mungilnya itu. kemudian beralih duduk di samping Wonwoo.

Wonwoo menggeser duduknya sampai keujung. Memberikan jarak yang begitu jauh antara mereka. Mingyu tersenyum hambar karenanya.

"Wonu-ya, bagaimana kalau kita pergi sebentar ke Mall, mencari sweater baru untukmu?"

Wonwoo menenggakkan telinganya. Mingyu, mengajaknya keluar? Apa dia salah dengar?

"Eh?"

"Kau tak mau?" Tanya Mingyu.

"A-aku mau!" Sahut Wonwoo tanpa fikir panjang. Heol, dia sudah setahun lebih berada di istana neraka itu. tentu saja dia mau dia ajak keluar. Setidaknya, biarkan dia menghirup udara luar dengan baik.

"Baiklah, ayo pergi." Mingyu menarik tangan Wonwoo. Dan Wonwoo mengikutinya.

"Lee Seokmin!" Panggil Mingyu pada seorang butler yang berjaga di depan pintu.

"Ya, tuan?"

"Keluarkan mobil merahku dari bagasi. Aku akan keluar sebentar."

"Baik, Tuan!" Seokmin langsung berlari mengerjakan perintah Mingyu.

Tak sampai lima menit, mobil itu sudah ada di hadapan Mingyu.

Mingyu mendorong Wonwoo masuk kedalam Ferrari merahnya. Dan kemudian dia menyusul masuk menempati kursi kemudi. Mobil itu mulai melaju. Meninggalkan pekarangan rumah mewah itu. dan meninggalkan Michi yang menatap mereka./apaan ini/

.

.

.

.

Mingyu memang memiliki banyak mobil. Untuk kekantor, ia memakai lambhorgini hitamnya. Dan untuk keluar main ia lebih suka memakai Ferrari merahnya. Sepanjang jalan, Wonwoo terus-terusan menatap kagumkeluar jendela. Benar-benar membuatnya terlihat seperti orang kampungan. Heol, wajah saja. Wonwoo sudah setahun lebih terisolasi dari dunia luar. Maklum kalau dia begini.

Sampai di Mall, Mingyu menggenggam posesif tangan Wonwoo. Terlihat jelas dia takkan membiarkan Wonwoo menyelinap dari sisinya barang sebentarpun.

"Tumben kau mengajakku keluar. Biasanya menyuruhku pesan online saja." Ucap Wonwoo, dari tadi dia ingin sekali berkata begitu.

"Akan ada klien bisnis mala mini. Dia akan datang dengan istrinya. Jadi aku juga harus menyambutnya dengan istriku." Sahut Mingyu. Matanya menjelajahi seluruh sudut Mall, mancari toko pakaian dengan brand terkenal.

Wonwoo terdiam. Selama ini saat ada orang lain, ia pasti dikurung dikamar. Enah kenapa Mingyu tak pernah membiarkannya bertemu orang luar.

Mingyu menyeretnya kesebuah toko pakaian. Dan mereka mulai memilih-milih.

Mingyu lebih suka Wonwoo memakai baju tanpa lengan yang memperlihatkan tangan putih pucatnya. Tapi Wonwoo lebih suka pakai sweter pawsnya yang oversize.

.

.

.

Setelah berkeliling, Mingyu mengajaknya makan di sebuah restoran.

"Kau mau makan apa?" Tanya Mingyu menatap buku menu di hadapannya. Bukan mencari yang paling enak, tapi yang paling mahal. Bagi Mingyu, harga pasti seimbang dengan kualitas.

"Terserah. Aku ikut saja." Sahut Wonwoo. Mingyu melambai memanggil pelayan.

Dan seorang wanita muda berkemeja putih ketat dan transparan dan rok span sepaha dengan buku catatan menghampiri mereka. Wonwoo berfikir kalau wanita itu lebih layak bekerja di bar daripada direstoran. Dan cih, lihatlah bagaimana wanita itu dengan genitnya menanyakan pesan pada Mingyu. –hell, kau cemburu Jeon Wonwoo.

"Oh ya, kau yakin terserah aku saja, hum?" Tanya Mingyu. Wonwoo hanya mengangguk cuek.

Setelah pelayan itu pergi, keduanya kembali terdiam. "Wonu-ya, kenapa kau suka sekali pakai sweater oversize seperti ini?" Tanya Mingyu akhirnya.

"Karena itu membantuku menyembunyikan bekas sayatanmu ditubuhku." Jawab Wonwoo, seadanya. Mingyu hanya tersenyum sekilas menanggapinya.

Pesananan mereka datang. Dan mereka mulai makan dengan lahap. Sebenarnya, hanya Wonwoo yang lahap disini. Dia sampai memintar nambah.

"Ternyatamakanmu banyak juga, ya. Aku baru tau." Mingyu tersenyum mengejek.

"Siapa peduli. Makan banyakpun toh aku tetap langsing." Sahut Wonwoo, jutek.

Setelah mereka benar-benar selesai, Wonwoo pamit kekamar mandi.

"Aku ingin buang air kecil, Mingyu." Ujar Wonwoo, sambil bangkit.

"Aku temani." Sahut Mingyu.

"Apa?" Wonwoo mendelik sebal mendengarnya. Heol, dia hanya ingin buang air saja.

"Aku tidak terima protes." Sahut Mingyu. Dan Wonwoo dongkol mendengarnya.

.

.

Malam itu, sebuah mobil asing yang sudah ditunggu kedatangannya, memasuki pekarangan rumah Mingyu yang seluas kebun raya. Beberapa butler menyambutnya.

"Tuan Kim sudah menunggu anda di ruang makan, tuan." Ucap Jihoon, kemudian mengantar Park Chanyeol dan dua orang yang datang bersamanya keruang makan rumah itu.

Di meja makan, tersaji berbagai macam hidangan yang cukup untuk dua puluh orang. padahal mereka hanya berlima. Meja bundar dan lebar itu dipaskan kursinya. Mingyu sudah duduk di sana sejak lima menit lalu. Mengenakan pakaian semi formal. Hanya celana hitam panjang dan kemeja putih. Sedangkan Wonwoo duduk di sampingnya dengan wajah datarnya seperti biasa. Memakai sweater paws baby bluenya yang dipadukan celana jeans putih.

"Selamat datang, Tuan Park!" Sambur Mingyu, kemudian mereka bersalaman. Wonwoo hanya tersenyum sekilas saat bersalaman dengan ketiga tamunya.

Saat menyalami tamu ketiga, pandangan Wonwoo dan pemuda itu beradu pandang. Menatap dalam satu sama lain. Tampan. Fikir Wonwoo.

"Oh ya, terima kasih atas sambutannya taun Kim. Aku rasa begini terlalu formal, bagaimana kalau kau cukup memanggilku Hyung, saja? Lagi pula ini pertemuan keluarga bukan rapat bisnis." Ucap Chanyeol, dengan senyum lebarnya.

"Baiklah, Chanyeol hyung." Mingyu tersenyum seramah mungkin.

"Oh ya, sebelumnya, aku perkenalkan dulu. Ini istriku, Byun Baekhyun, dan yang ini, dia adalah sepupu jauhku yang mengelola cabang perusahaanku di Tiongkok, Wong Yibo." Ucap Chanyeol, memperkenalkan dua pemuda yang datang bersamanya.

"Wah, istrimu imut ya, hyung." Canda Mingyu.

"Hahaha, kau bisa saja." Sahut Chanyeol.

"Oh ya, Mingyu-ssi, itu istrimu?" Tanya Baekhyun.

"Oh ya, kenalkan, ini Jeon Wonwoo. Istriku." Wonwoo hanya tersenyum tipis. Baekhyun menilik-nilik penampilan Wonwoo.

"Astaga, menggemaskannya. Sweater paws dan tubuhnya kebih ramping daripada aku!" Seru Baekhyun semangat.

"Sudah, sudah, sebaiknya kita mulai makan malamnya." Chanyeol melerai obrolan mereka.

Mereka kemudian mulai bersantap sambil diselingi canda dan obrolan ringan. Membuat perjamuan itu terasa hangat kekeluargaan. Tanpa mereka sadari, Yibo dan Wonwoo mencuri pandang satu sama lain.

"Mingyu-ya, aku permisi sebentar." Wonwoo bangkit. Dia tak sanggup berhadap-hadapan seperti ini dengan Yibo terlalu lama. Entahlah, ada suatu getaran aneh yang menyusupi ruang hatinya. Dan ini pertama kalinya.

Selang lima menit, tiba-tiba Yibo berkata, "Permisi Mingyu-ssi, boleh aku tau dimana toiletnya?" Ujarnya sopan.

"Oh, dari sini kau lewat lorong itu, dan disana ada pertigaan, kau belok krii." Jelas Mingyu. Yibo mengangguk dan meninggalkan tiga orang itu.

Yibo memang berjalan kearah itu, tapi dia tidak menuju toilet. Melainkan berbelok kesebelah kanan.

Dan, ia menemukan Wonwoo yang sedang memberi makan Michi di sebuah ruangan yang tampak seperti kamar Michi.

"Wonwoo-ssi." Panggilnya. Wonwoo mengdongkak. Ia agak terkejut melihat Yibo disini.

"Eh? Kau tersesat ya, mari kuantar keruang makan lagi." Ajaknya. Rumah seluas ini dengan banyak lorong, pasti Yibo tersesat. Fikir Wonwoo.

"Tidak. Aku memang sengaja menemuimu."

"A-apa?" ulang Wonwoo. Yibo meraih tangannya. Menariknya perlahan. Mendekatkan tubuh mereka berdua.

Dengan begitu berani, Yibo mengecup dan melumat bibir Wonwoo. Membuat pemuda manis itu membulatkan pandangannya.

"Aku menyukaimu. Jeon Wonwoo. Ini cinta pandangan pertama."

.

.

.

.

To Be Continued or END?

REVIEW PLEASE

Note: sebelumnya Author terima kasih banyak sama yang udah review dan minta update cepet. Seneng banget karyaku ada yang baca da nada yang nungguin. Dan maaf aku gak bisa bales satu-satu review kalian.

Buat yang minta part bdsm nya ini aku kasih, buat yang nanya mpreg atau nggak? Tanyai Wonu sana :p trus yang minta update cepet ini aku usahin. Oh ya, itu pemainnya aku tambah orang luar, kenalin bebebku yang tampan impor china, Wong Yibo from UniQ aku masukin dia biar greget konfliknya.

Dan satu lagi,

KECEPATAN UPDATERGANTUNG BANYAKNYA REVIEW. SO YANG SIDERS HARAP REVIEW

Pai-pai.