Tittle: GET DOWN (Meanie)
Cast: Jeon Wonwoo
Kim Mingyu
Wong Yibo
Others
Genre: Yaoi, bdsm/?
Rated: M
Disclaimer: Plot ceritanya murni punya author, Wonwoo juga punya author.
Summary: Jeon Wonwoo, harus hidup menderita dengan statusnya sebagai istri Kim Mingyu.
DON'T LIKE DON'T READ AND REVIEW PLEASE
"Aku menyukaimu. Jeon Wonwoo. Ini cinta pandangan pertama."
Wonwoo tercengang mendengarnya, namun ia tersenyum detik berikutnya.
.
.
.
.
Tempat itu hitam dan gelap. Dingin dan mencekam. Hanya ada seberkas cahaya yang berasal dari atas. Seolah-olah ada lubang diatas sana, dan sinar mentari masuk melewati lubang itu. tempat itu begitu asing, dan tak berujung.
Seorang pemuda manis bersweater putih memandang keseluruh sudut tempat itu. dan yang didapatinya hanya kehampaan berbalut gulita. Wonwoo melangkahkan kakinya, mencari jalan keluar. Tapi dia tak mendapatkannya. Sementara seberkas cahayaitu selalu mengikutinya, seolah-olah menerangi langkahnya. Wonwoo terus berjalan, ia mulai panik.
"Eomma! Kau dimana?" Panggilnya dengan agak bergetar.
Wonwoo terus berlarian kesana kemari. Terus berteriak namun tak ada sahutan.
"Eomma! Bohyuk! Ini dimana! Aku ingin pulang!" Wonwoo merasakan kakinya melemas. Lututnya seolah tak bertulang. Ia jatuh merosot dengan ketakutan yang mulai merayapinya. Ia memeluk lututnya. Dan menangis sejadinya.
"EOMMA! BOHYUK! JEONGHAN HYUNG, JISOO HYUNG! INI DIMANA?! HIKSAKU INGIN PULANG! HIKS!" Wonwoo berteriak-teriak histeris dengan air mata yang berucuran mengaliri pipi pucatnya. Ia benar-benar takut sekarang.
Semuanya begitu mencekam. Dan suaranya menggema. Sehingga membuat pemuda itu kian tak karuan.
Tiba-tiba sesosok bayangan datang menghampiri. Sesosok pria bersurai hitam dengan kaus tanpa lengan dan skinny jeans hitam, menghampirinya. Pria itu melebarkan kedua tangannya,
"Wonu-ya, ini aku. Kau mau pulang, bersamaku?" Ujar pria itu.
Wonwoo menatapnya takut. Ia memundurkan dirinya. Beringsut menjauhi sosok itu. "Kau. . .? ba-bagaimana mungkin? Ti-dak! Menjauhlah!" Jeritnya histeris.
Pria itu melangkah mendekat dengan senyum lebarnya dan kedua tangan yang terbuka lebar. Sementara Wonwoo terus beringsut mundur menjauhinya. "Tidak! Jangan mendekat! Tidak!" Teriak Wonwoo disela tangisnya.
"Aku datang untukmu, sayang. Kita selamatkan kisah kita yang sempat lenyap." Ujar pria itu.
"TIDAK!"
Sedetik kemudian semuanya menjadi erang benderang, semuanya menjadi putih. Wonwoo menatap takut pria berkaus hitam itu. dan sesosok tinggi menghampiri mereka. Pria itu membawa cambuk ditangannya.
"Jeon Wonwoo, sudah kukatakan lupakan bajingan itu! kenapa kau masih membantah?!" Sosok itu mengayunkan cambuknya.
Ctar!
"TIDAK!"
Wonwoo menggapai-gapai udara. Tangannya mencari-cari stop kontak dan menyalakan lampu kamarnya. Seketika semuanya menjadi terang. Derit ranjang masih terdengar. Dan nafasnya memburu. Ia seperti orang yang dikejar setan.
Wonwoo masih berusaha menstabilkan napasnya. Perlahan, ia memeluk erat lututnya. Menenggelamkan kepalanya di antara kedua lututnya. Ia merasakan keningnya berdenyut. An ia tahu tadi ia menangis dalam tidurnya. Wonwoo takut sekarang.
Mimpi itu, mimpi yang sudah sekian lama tak pernah datang, kini kembali membayanginya. Keadaan paling mencekam dalam mimpinya. Ia benci mimpi itu. ia benci pria yang datang dalam mimpinya itu. Wonwoo benci dirinya sendiri.
Dengan tangan bergetar, Wonwoo meraih ponselnya. Tangannya mendial nomor seseorang.
"Ha-halo. . . hiks."
"Eo-eomma. . . hiks. Aku takut. . . aku ingin pulang. . . hiks. . ."
.
.
.
.
"Jadi saya rasa, rapat kita akhiri sampai disini. Untuk pembicaraan selanjutnya akan kita lanjutkan di pertemuan berikutnya. Dan rapat berikutnya kita akan mengadakannya di lokasi langsung, yaitu di pulau Jeju-do." Ujar wanita itu, Hwang Chaeyeon, sekertaris Mingyu yang hari itu berutugas sebagai moderator dalam rapat kali ini.
Semuanya bertepuk tangan. Wajah-wajah lelah namun memancarkan kepuasaan itu saling melempar senyum satu sama lain. Lalu diakhiri dengan jabatan tangan. Dan satu persatu perwakilan perusahaan itu pergi meninggalkan ruangan rapat yang luas itu.
Menyisakan Mingyu yang masih duduk di kursinya sambil mengamati berkasa-berkas, dan Chaeyeon yang mengemasi barang-barangnya.
"Tuan Kim?" Panggil Chayeon.
"Ah ya, kemari sebentar." Ucap Mingyu. Chaeyeon menghampirinya dengan patuh.
"Jadi minggu depan, harus aku langsung yang pergi ke Jeju-do untuk rapat itu?" Tanya Mingyu, matanya tak lepas mengamati berkas ditangannya.
"Eum, ya, tuan. Karena ini rapat besar dan saya fikir para mitra bisnis kali ini juga menginginkan anda sendiri yang datang. . ."
"Jadi berapa hari aku disana?" Potong Mingyu tak sabar.
"Sekitar dua hari. . ." Ucap Chaeyeon, membalik-balik buku agendanya.
"Baiklah." Mingyu bangkit. Menatap sekilas sekertarisnya, lalu berlalu meninggalkan ruangan itu. Chayeon menghela napasnya panjang. Menatap sendu kepergian atasannya itu.
.
.
.
Wonwoo sedang asik chatting dengan Jeonghan dan Jisoo di laptopnya, sampai sebuah pemberitahuan email masuk menghentikan sejenak aktifitasnya. Wonwoo mengamati email yang baru datang itu. dia tak mengenal alamat email itu. ia juga tak merasa memberikan alamat emailnya pada seseorang. Sebuah klik pada touch bar, dan email itu terbuka. Wonwoo membacanya. Dan pandangannya membulat.
Tapi detik berikutnya, sebuah senyum manis melengkung menghiasi wajah putihnya. Senyumnya semakin lebar seiring semakin sering tangannya menari-nari diatas keyboard. Dan semakin banyak pula email yang datang dari orang itu.
.
.
Mingyu baru selesai mandi. Ia baru saja mengeringkan rambutnya dengan handuk, dan masih sedikit basah. Tapi ia tak peduli. Ia melangkah keluar dengan celana santai dan print t-shirt. Menuju ruang makan. Perutnya lapar, dan sudah seharia ia tak melihat Wonwoo. Rindu? Pasti.
"Lee Jihoon, dimana Wonwoo?" Tanya Mingyu sambil mendudukan dirinya dikursi makan yang empuk itu.
"Dia dikamarnya, tuan. Apa perlu dipanggilkan?" Tanya Jihoon kemudian.
"Ya, dia belum makan malam. Suruh dia kesini." Perintah Mingyu, dan Jihoon berlalu.
.
Jihoon memutar knop pintu kamar Wonwoo. Melangkah masuk. Dan ia mendapati Wonwoo yang tengah asik sampai tak menyadari kehadirannya. Wonwoo tengah berkutat dengan laptopnya. Wajahnya terlihat bahagia dengan senyum lebar idiot yang melekat diwajahnya. Ia terlihat begitu senang dan tanpa beban. Sejenak Jihoon tertegun melihatnya. Tapi kemudian, ia ikut tersenyum. Ini pertama kalinya ia melihat Wonwoo tersenyum setulus itu. sejak pemuda itu tinggal bersama Mingyu, Jihoon tak pernah sekalipun melihatnya tersenyum begitu bahagianya. Diam-diam Jihoon merasa senang, karena ia juga prihatin dengan hidup Wonwoo yang sering diperlakukan kasar oleh Mingyu.
"Wonu-ya!" Panggil Jihoon lembut. Wonwoo mengalihkan pandangannya dari laptop.
"Ini waktuya makan malam, Mingyu menunggumu dibawah." Ujar Jihoon pula, berjalan menghampiri Wonwoo.
Wonwoo mengerucutkan bibirnya sebal. Kemudian tanganya beralih mematikan laptopnya.
"Baiklah." Sahutnya singkat. Jihoon sedikit menyesal karena membuat senyum lebar tadi musnah dari wajah Wonwoo, tapi apa boleh buat.
Wonwoo dan Jihoon berjalan menuju ruang makan bersamaan. Wonwoo menarik napas panjang, berusaha meredam rasa takutnya. Ia selalu seperti ini saat berhadapan dengan Mingyu. Sebelum akhirnya ia duduk di kursi yang berhadapan dengan Mingyu, seperti biasanya. Sedangkan Jihoon berlalu mengerjakan tugasnya kembali.
"Makanlah," Ucap Mingyu. Wonwoo hanya terdiam.
Keduanya mulai menyantap makan malam mereka dalam keadaan yang terlalu tenang dan hening. Sampai Wonwoo merasa kalau keadaan sekitarnya mencekam. Mingyu masih menyuapkan makanan kemulutnya. Sampai beberapa menit kemudian dia berkata,
"Wonu-ya, kau tak apa kutinggal sendirian di rumah?" Tanya Mingyu, masih menyuapkan makanannya.
Wonwoo menaikkan sebelah alisnya. Sedikit bingung dengan pertanyaan Mingyu. "Bukankah biasanya aku selalu kau tinggal?" Tanya Wonwoo balik. Dan Mingyu tersenyum hambar menanggapinya.
"Lusa aku akan pergi ke Jeju-do selama dua hari. Kau ingin di rumah saja, atau ikut?" Tanya Mingyu.
Wonwoo terlihat menimbang-nimbang, hingga sebuah ide cemerlang menyelinap dibenaknya. "Aku dirumah saja," Dia lalu berusaha meyakinkan MIngyu dengan senyum palsunya.
"Kau yakin?" Mingyu memastikan. Sebenarnya, Mingyu sendiri bimbang. Di satu sisi, ia ingin Wonwoo pergi bersamanya, tapi disisi lain, ia juga tak ingin Wonwoo bertemu orang-orang luar. Tidak, ia takkan membiarkannya.
"Hu'um!" Wonwoo mengangguk imut, bagian dari usahanya untuk meyakinkan Mingyu.
"Baiklah, kalau ada apa-apa kau telfon saja." Ucap Mingyu akhirnya. Wonwoo hanya mengangguk sambil meneruskan makannya.
.
.
Wonwoo melirik sekilas Mingyu yang berkutat dengan berkas-berkas dan laptop di sebelahnya. Sejak tadi ia diminta Mingyu untuk menemaninya bekerja. Karena alasanan sepele, Mingyu memilih bekerja di rumah untuk hari itu. sedangkan besok ia pergi ke pulau Jeju-do. Konyol, kata Mingyu dia ingin menikmati seharian bersama Wonwoo sebelum ia melewati tiga hari tanpa Wonwoo. Apa-apaan itu.
Wonwoo bangkit, menghampiri Michi yang sedang bermain dengan sebuah bola plastic. Menggendong anjing itu, sambil mengelus-ngeluskan. Kemudian memeluknya gemas. Tanpa Wonwoo sadari, Mingyu menatapnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
.
.
"Jaga dirimu Wonu-ya, jangan macam-macam saat aku tak dirumah." Pesan Mingyu. Wonwoo hanya mengangguk jengah menanggapinya.
Sebelum menuju pesawat, Mingyu memeluk erat Wonwoo sekali lagi. Pelukan yang begitu erat, dan hangat. Wonwoo sampai gugup karenanya. Kemudian, dengan perlahan, Mingyu menepikan poni Wonwoo, mengecup hangat kening pemuda manis itu agak lama. Sampai akhirnya, ucapan Jihoon memecah suasana,
"Err, tuan, pesawatnya akan segera take off." Ucap Jihoon pelan. Sebenarnya dia tak ingin menganggu adegan romantic itu. Namun, apa boleh buat.
Mingyu masuk kedalam pesawat yang akan segera take off. Bahkan di jendela pun, Mingyu masih menatap erat Wonwoo. Merasa sangat berat meninggalkannya. Sedangkan Wonwoo, membalasnya dengan senyum yang sangat manis.
Dalam hati Wonwoo bersorak. Dua hari dia bebas tanpa Kim Mingyu.
.
.
Hari pertama, Wonwoo terbangun dengan begitu semangat. Entahlah, dia sendiri bingung kenapa dia begitu semangat. Wonwoo bergegas kekamar mandi.
Selesai mandi dan berpakaian,dia memesan sarapan. Meskipun sarapan sudah siap, dia ingin makan yang berbeda pagi itu.
"Lho, Wonu-ya, kenapa kau order Lasagna sepagi ini? Padahal Seungkwan sudah membuat sarapan." Tegur Jihoon saat Wonwoo selesai memesan via telefon.
"Ayolah, Jihoonie~ sekali-kali tak apa, ya?" Wonwoo memasang wajah memelasanya. Dan, Jihoon menyerah kalau sudah begini.
"Baiklah. Tapi lain kali jangan seperti itu, ya." Pasrah Jihoon. Dan Wonwoo mengangguk.
.
.
Tak sampai lima belas menit, bel berbunyi. "Wonu-ya, pesananmu datang!" Jihoon mengingatkan.
Wonwoo langsung berlari dari depan tv, menuju pintu depan. Padahal ada Seokmin di sana. Tapi Wonwoo ingin dia sendiri yang mengambil pesanannya.
Setelah tada tangan, Wonwoo menerima kotak kecil yang dibawa kurir pengantar itu. Wonwoo membawanya kedepan tv.
"Jihyun-ssi, tolong ambilkan piring dan garpu. Oh ya, juga bawakan susu vanilaku kesini." Ucap Wonwoo, pada seorang maid yang sedangkan membersihkan guci-guci pajangan.
"Baik tuan."
Wonwoo membukakotak kardus itu. mengeluarkan isinya. Wonwoo terkejut mendapati sebuah amplop putih di dalamnya. Apa ini? Fikir Wonwoo.
Perlahan, tangannya merobek ujung amplop itu. dengan sedikit gemetar Wonwoo merogoh isinya. Mengeluarkannya. Dia mencium bau amis darah dari amplop itu.
"GYA!"
Wonwoo tercekat. Dengan cepat dia melempar isi amplop itu. amplop itu hanya berisi sepotong kain putih. Kain yang biasa digunakan untuk menutup jasad yang sudah meninggal. Dan, terdapat sebuah tulisan dengan huruf capital yang ditulis dengan darah. Pesan yang singkat,
-GET DOWN, JEON-
Wonwoo merasakan tubuhnya mulai gemetar. Ia hapal betul siapa yang menulis pesan itu. fikirannya berkecamuk. Air matanya mulai mengalir. Ia merasa takut sekarang.
"Tidak .. .. ini tidak mungkin .. . hiks. ."
Wonwoo menutup telinganya, saat suara orang itu mendengung di telinganya. Bayangan mengerikan itu kembali menghampirinya. Orang itu kembali.
"TIDAKKK!"
"Jeon Wonwoo!" Jihoon menghampiri Wonwoo yang menangis histeris di ruang santai. Sementara Jihyun juga menatap bingung Wonwoo.
"Kau kenapa?" Panik Jihoon, memeluk erat Wonwoo yang menangis. Jihoon mengusap punggungnya, mencoba menenangkannya.
"Dia. . . dia kembali, Jihoonie. . . dia kembali. . ."
.
.
Pagi yang cerah, sinar mentari menyusup kecelah-celah gorden kamar Wonwoo. Membangunkan pemuda manis yang bergelung nyaman dengan selimut beludrunya. Ia terduduk di atas ranjangnya. Sedikit termenung. Mengingat kejadian kemarin. Namun akhirnya, Wonwoo memutuskan segera bangkit dan melupakan kejadian kemarin. Anggap saja yang kemarin hanya mimpinya belaka.
.
.
Saat Wonwoo tengah asik menontonsebuah siaran tv, suara pesan masuk di ponselnya menginterupsi. Wonwoo meraihnya. Membacanya.
-Hyung, kau senggang? Bagaimana kalau kita makan es krim bersama? Kalau kau mau, aku menunggumu di Baskin Robins-
Wonwoo terlihat menimbang. Baskin robins? Bukankah itu dekat dari rumah ini? Fikir Wonwoo. Dia sangat ingin keluar. Mumpung Mingyu taka da di rumah. Tapi, bagaimana dengan para butler dan maid? Mereka pasti mengadukannya pada Mingyu kan? Wonwoo memutar otaknya. Berfikir keras mencari cara supaya ia bisa keluar hari ini. Tidak, dia tak berniat kabur. Karena Eommanya akan jadi taruhannya kalau ia kabur.
.
.
Jihoon berjalan menuju kamar Wonwoo. Sudah waktunya makan siang, dan Wonwoo belum juga turun keruang makan. Jihoon pasti kena damprat Mingyu kalau sampai Wonwoo melewatkan jadwal makan siangnya.
"Wonu-ya, sudah waktunya makan. . ." Jihoon mengedarkan pandangannya keseluruh kamar Wonwoo. Kosong.
"Kau dikamar mandi, Wonu-ya?" Jihoon mengetuk pintu tolet, namun hening. Setelah dibuka, kosong. Tak ada siapapun diruangan itu. Jihoon mulai panic. Ia berjalan cepat mengitari seluruh sudut ruangan. Namun taka da tanda-tanda Wonwoo di ruangan itu.
Dengan sedikit berdebar, Jihoon membuka pintu balkon. Dan detik berikutnya, ia merasakan lututnya lemas. Sebuah tali yang terbuat dari sprei yang dikat saling menjalin, tergantung di pagar balkon itu. Jihoon menghampirinya.
Seperti yang ia duga, Wonwoo kabur lewat balkon dan menyelinap keluar lewat pintu gerbang belakang. Celaka.
.
.
"Hyung, aku benar-benar tak sangka kau menemuiku di sini." Ucap Yibo, menatap Wonwoo yang sedang asik memakan semangkuk besar es krim mocca-latte di hadapannya.
"Huft. . . hari ini Mingyu keluar kota. Mungkin ia baru kembali nanti malam." Ujar Wonwoo.
"Lho, memangnya kalau ada Mingyu kau tak boleh keluar, ya?" Tanya Yibo.
"Ya. Dia tak pernah mengizinkanku keluar barang sejenakpun. Sudah setahun lebih aku terkurung di rumah itu." Jelas Wonwoo, sambil menunduk.
"Astaga. Keterlaluan sekali." Komentar Yibo. "Kalau begitu, mari kita bersenang-senang hari ini!" Ajak Yibo semangat.
"Be-benarkah?"
"Ya. Kau pernah ke Taman Hiburan?" Tanya Yibo.
.
.
"GYAAAAA"
"HUWAAAAAA!"
Wonwoo dan Yibo berpegangan erat sambil berteriak kencang. Pasalnya, mereka tengah menaiki roller coaster saat ini. Dan benda besi itu terus melaju dengan kecepatan tinggi di jalur yang berkelok-kelok.
WHUSSSS!
"GYAAA!"
Begitu turun, Wonwoo merasakan perutnya melilit dan kepalanya agak pening. Terakhir dia menaiki roller coaster, adalah saat usianya lima belas tahun. Dan itu sudah lama sekali.
"Wah, Hyung! Yang tadi itu seru sekali!" Yibo berucap dengan semangat. Wajahnya sangat segar, berbanding terbalik dengan Wonwoo yang pucat.
"Kau sakit?" Cemas Yibo, memegang kening Wonwoo. Wonwoo menggeleng.
"Baiklah. Bagaimana kalau kita naik pondok boneka?" Ujar Yibo, sambil menyeret Wonwoo menuju oket pemesanan tiket.
.
Di dalam pondok boneka itu, semuanya tampak gelap. Perahu berjalan cukup kencang dan sekeliling gelap gulita, hanya diterangi lampu-lampu dari mata boneka yang tampak mengerikan.
Tanpa sadar, Wonwoo dan Yibo saling memeluk tangan masing-masing hingga tubuh mereka berdempetan. Dan sesekali, mereka berteriak saat perahu itu semakin cepat melaju.
.
"Huft. . . akhirnya . . . keluar juga. .. " Yibo menarik napas dalam. Sementara Wonwoo yang di sampingnya, tampak berhasil mengatur raut wajahnya menjadi datar kembali.
"Hyung,mau naik biang lala?" Tanya Yibo. Belum juga Wonwoo mengangguk, tiba-tiba sebuah tangan meraihnya.
"Get down, Jeon." Ucap orang asing bermasker hitam dan bertopi hitam itu. Wonwoo meoleh, dan seketika ia terkejut.
"Lepaskan!" Wonwoo berontak, namun orang itu justru menariknya.
"Yak! Kau siapa?!" Bentak Yibo, pada orang asing itu.
"Shut up! Aku tak punya urusan denganmu!"
Yibo menarik tangan orang itu, "Tidak. Sampai kau melepaskan Jeon Wonwoo." Ucap Yibo tegas. Orang itu menganggap remeh,
BUGH!
Satu tinju mendarat di pipi kiri, dan Yibo agak terhuyung dibuatnya.
BUGH!
Gantian Yibo yang memukul orang itu.
Akhirnya, baku hajar tak dapat dihindari.
"Pergi kau, brengsek!"
"Aku datang hanya untuk membawa Jeon Wonwoo!"
Wonwoo panik, ia berusaha untuk memisahkannya. Dan berusaha meminta tolong. Tapi tampaknya, taka da yang berani memisahkan pergulatan seru itu. mereka justru menonton dengan pandangan ngeri.
"Hentikan!" Teriak Wonwoo.
CRASH!
Wonwoo terbelalak. YIbo memejamkan matanya. Sementara orang itu tersenyum penuh kemenangan. Sebuah pisau lipat menggores sisi perut Yibo yang sekarang jatuh terduduk dengan darah mengucur.
"ADA APA INI RIBUT-RIBUT?" Seru seorang petugas keamanan yang dapat laporan perkelahian.
Orang itu menghilang dengan begitu cepat, hanya saat Wonwoo lengah memangku kepala YIbo yang tergeletak dengan darah mengucur. Ia sudah menelpon ambulan tadi.
"Yibo-ssi, maafkan aku. Kau jadi seperti ini." Sesal Wonwoo, air matanya sedikit mengalir.
"Sssh, Hyung. Tak apa. Selama kau baik-baik saja." Balas Yibo, berbohong. Perutnya terasa sangat panas sekarang. Dan tentu saja, perih.
Ambulan datang. Para petugas medis mengangkat Yibo menuju mobil itu. Wonwoo mengikuti.
"Hyung, kau pulanglah. Sebentar lagi Mingyu pulang." Ujar YIbo, sebelum ia dinaikkan ke ambulan.
"Ta-tapi. . ."
"Aku tak apa. Aku bisa telfon Chanyeol Hyung untuk menemaniku. Kau pulanglah." Ujar Yibo.
Wonwoo hanya mengangguk. Kemudian, dia memeriksa jam tangannya. Astaga, satu jam lagi Mingyu sampai rumah. Ia bisa di cambuk kalau taka da di kamar. Wonwoo segera berlari.
.
.
Wonwoo memegang pegangan terakhir dari tali sprei itu. ia tak menyangka tali itu masih menggantung di sana. Dengan peluh mengucur, ia berhasil sampai di balkonnya. Dengan sangat pelan, Wonwoo mengendap-ngendap, membuka pintu menuju kamarnya dari balkon itu. ketika tubuhnya baru selangkah masuk, sebuah kalimat menginterupsinya,
"Sudah pulang, Jeon?" Tanya Mingyu dingin. Pria itu terduduk di ranjang Wonwoo dengan rahang mengeras. Kemudian berdiri, menghampiri Wonwoo yang membatu di tempatnya.
"Bagus, ya. Suamimu pergi bekerja dank au pergi berkencan." Sinis Mingyu, tangannya memegang cambuk pendek yang selama ini selalu dipakainya untuk menyiksa Wonwoo.
Wonwoo membatu di tempatnya. Dia tertangkap basah. Pasti, para butler itu mengadu pada majikannya. Mingyu semakin mendekat.
Ctar!
"Argh!" Wonwoo meringis sambil mendongak, merasakan punggungnya yang perih dicambuk Mingyu.
"Ini hukuman untuk istri tak tahu diri sepertimu!"
Ctar! Ctar!
Mingy uterus mencambuki tubuh kurus Wonwoo tanpa mempedulikan erangan dan rintihan pemuda manis itu.
"Sakit! Kumohon! Maafkan aku!"
Sampai Wonwoo tersungkur dengan sweter tipisnya yang robek karena cambukan Mingyu.
Mingyu menstabilkan napasnya, kemudian dia berteriak. "Lee Jihoon!"
Jihoon masuk dengan pandangan menunduk. Sejak tadi dia menguping ucapan Mingyu dan Wonwoo, dan dia juga menyaksikan penyiksaan Mingyu pada Wonwoo lewat celah pintu. Jihoon menyesal, ia tak bisa menahan Seokmin untuk tidak mengadu tadi.
"Kau urus dia!" Mingyu berlalu dari ruangan itu.
.
.
"Wonu-ya. . . hiks. Kenapa kau seperti ini. . ." Lirih Jihoon, dengan telaten dia mengobati punggung Wonwoo yang terluka karena cambuk. Kulit putih pucat itu terkelupas hingga darah terlihat keuar dari sana.
Sementara Wonwoo sendiri, dia tertidur setelah lelah menangis dan karena terlalu sakit.
.
.
"Wonu-ya, bangun. Ini sudah pagi." Jihoon membuka semua gorden kamar Wonwoo. Namun Wonwoo tak juga bergeming. Ia masih bergelung dengan selimut bludrunya.
Jihoon menghampiri Wonwoo, menyibak selimutnya.
"Astaga, Wonu-ya! Kau kenapa?!"
.
.
To Be Continued or END?
Review please.
Note: Huwa,, author seneng banget yang reviewnya lebih dari 3o orang. padahal niatnya ini fic gak bakal dilanjut kalo reviewnya kurang dari 30 .-. oh ya, author mau nanya, berhubung bentar lagi bulan puasa, menurut readers, ini fic ditunda dulu updatenya sampai abis idul fitri atau tetep di lanjut tapi kalian bacanya pas malem abis terawih ajin? Author bingung. Dan maaf kalo di fic ini kurang ngfeel, soalnya author lagi sibuk banyak kegiatan sekolah. Ini aja nyuri waktu sebelum tidur ngetiknya. Belain buat kalian yang minta update cepet. So, jangan lupa reviewnya. Aku semangat nulisnya kalo kalian juga semangat ngereviewnya jadi please review.
KECEPATAN UPDATE TERGANTUNG BANYAKNYA REVIEW.
PAI.
