Tittle: GET DOWN (Meanie)
Cast: Jeon Wonwoo
Kim Mingyu
Others
Genre: Yaoi, bdsm/?
Rated: M
Disclaimer: Plot ceritanya murni punya author, Wonwoo juga punya author.
Summary: Jeon Wonwoo, harus hidup menderita dengan statusnya sebagai istri Kim Mingyu.
DON'T LIKE DON'T READ AND REVIEW PLEASE
Seorang dokter muda tampan memasuki rumah itu bersama Jihoon. Sebenarnya, Dokter itu bukanlah dokter pribadi Mingyu. Tetapi dokter itu di suruh menggantikan, karena dokter pribadi Mingyu, dokter Shim, sedang bertugas keluar negeri.
Mereka melangkah menuju kamar Wonwoo. Lalu memasuki kamar itu. Dokter muda itu tersenyum kecil melihat Wonwoo. Kemudian bergegas menghampirinya.
Karena tadi Jihoon menemukan Wonwoo dalam keadaan menggigil sambil meracau dibalik selimutnya dengan suhu tubuh yang sangat tinggi, maka Jihoon mengadu pada Mingyu bahwa Wonwoo sakit. Dan segera saja, Dokter itu dipanggil.
Dokter itu dengan tenang mulai mengeluarkan peralatannya, memeriksa Wonwoo dengan telaten. Sejenak, ia menoleh pada Jihoon yang berdiri di belakangnya dengan wajah cemas.
"Maaf, apa pasien sudah makan?" Tanya Dokter itu. Jihoon menggeleng.
"Kalau begitu, tolong buatkan dia bubur untuk sarapan." Ujar dokter itu. Jihoon hanya mengangguk, kemudian berlalu dari ruangan itu. terlalu panik untuk bicara.
Pria bername tag Dokter Hong itu menatap sendu wajah lelap Wonwoo. Mengusap surainya perlahan. Rasa bersalah meresap kedalam dirinya. Menyesali kebodohannya.
"Wonu-ya, maafkan Jisoo hyung. Hyung tak bisa mencegah ini semua terjadi. Maafkan hyung. . ." Lirih Jisoo. Ya, Dokter itu merupakan sahabat Wonwoo saat di Changwon. Jisoo kebetulan sedang bertugas di rumah sakit Seoul, dan sebenarnya dia sengaja menjadi pengganti Dokter Shim, agar bisa bertemu dengan Wonwoo. Dia merindukannya.
Dan setelah melihat keadaan Wonwoo yang menyedihkan seperti ini, dia merasa begitu terpukul. Merasa gagal menjadi seorang sahabat.
.
.
Seorang anak laki-laki berusia enam tahunan, terlihat asik sendiri bermain-main dengan istana pasirnya di dalam box pasir di taman. Anak itu begitu lucu. Surainya hitam lebat dengan poni menutupi mata sipitnya yang tajam. Hidungnya bangir, bibirnya mungil dan merah. Pipinya chubby, dan tubuhnya baby fat.
Selang beberapa lama, seorang anak yang berusia tiga belas tahun menghampirinya. Anak itu menggendong tas sekolahnya. Tubuhnyapun masih terbalut seragam sekolah menengah tingkat pertama. Menandakan dia baru pulang sekolah.
"Wonie~" Panggil anak yang berseragam itu pada bocah mungil yang sedang bermain pasir.
"Hyungie~" Wonie menoleh, menatap hyungnya dengan senyum manis dan hidung mengkerut lucu.
"Aku pulang~" Ujar sang Hyung.
"Hyungie cekolahnya lama cekali. . . Wonie bocan menunggu Hyungie. Besok Wonie ikut Hyungie cekolah caja!" Ujar Wonie dengan aksen cadelnya yang lucu.
"Tidak bisa, Wonie. Kau harus besar dulu baru bisa sekolah. Kau masih kecil!"
Wonie menggeleng cepat sampai surainya bergerak lucu. "Pokoknya Wonie mau sama-sama Hyungie telus!"
"Kau ingin bersamaku?" Wonie mengangguk.
"Kalau begitu, nanti berjanjilah menikahiku." Ujar sang Hyung, tersenyum manis sampai menampakkan gummy smile nya.
"Hu'um! Wonie janji." Wonie mengcungkan jari kelingkingnya, dan kemudian mereka saling menautkan kelingking. Membuat pingky promise yang polos.
Sementara agak jauh dari tempat itu, seorang pria dewasa mengenakan sweater baby blue sejak tadi memperhatikan dua anak itu dengan wajah sendu.
"Bagaimana, Jeon? Kau ingat? Kau sendiri yang meminta untuk selalu bersamaku?" Tanya Seorang pria tinggi berjaket kulit hitam pada pria di sampingnya.
Pria bersweater itu, Jeon Wonwoo, menggeleng pada pria di sampingnya. "Kau sudah berubah Hyung. Kau bukan hyungieku lagi. Kumohon, jangan ganggu hidupku lagi. Aku sudah cukup menderita sekarang." Wonwoo meneteskan air matanya.
"Tidak, Jeon. Kau yang berubah. Kau meninggalkanku. Demi pria brengsek itu!" Seketika keadaan di sekitar menjadi ruang hampa gelap gulita lagi.
"Aku tidak meninggalkanmu demi dia hyung! Aku terpaksa!"
"Kalau begitu, kembalilah padaku."
"Tidak bisa. Eomma akan tersakiti kalau aku melakukannya. Tidak bisa. . ." Wonwoo berjongkok, tak sanggup berdiri. Mulai menangis lagi.
Pria berjaket hitam itu mengulurkan tangannya. "Get Down, Jeon!"
"TIDAK!"
KRIET!
Lagi, Wonwoo terbangun dengan derit tempat tidurnya. Menggapai-gapai udara mencari stop kontak, sementara sebuah tangan meraih tangannya. Membawanya kedalam dekapan hangat. Memberikan sandaran untuk tangisnya. Mengusap surainya lembut.
"Mimpi buruk lagi, hum?" Mingyu menyalakan lampu tidur di nakas, memberikan segelas air pada Wonwoo yang masih terengah napasnya.
Dengan cepat Wonwoo meminum air itu sampai habis. "Dia kembali, dia kembali!" Seru Wonwoo tak karuan.
"Ssshtt. . .! aku disini Jeon, aku bersamamu." Ujar Mingyu, mencoba menenangkan. Wonwoo terdiam. Ini pertama kalinya dia menydari satu hal, Mingyu memperdulikannya.
"Dia kembali, Kim, dia kembali. Aku harus bagaimana?" Wonwoo mulai terisak. Mingyu kembali memeluknya, mengusap punggungnya.
"Percayalah, semuanya akan baik-baik saja selama kau di dalam rumah ini."
.
.
Setelah Wonwoo kembali tertidur, Mingyu membuka nakas kecil di samping ranjang. Meraih sebuah lipatan kain. Sepotong kain putih dengan tulisan darah. Teror yang diterima Wonwoo kemarin. Mingyu memijat pelipisnya sejenak. Dia mulai stress sekarang. Dia tak menyangka, kalau ini akan sungguhan terjadi.
Dulu, dia fikir ini hanya bualan belaka, namun ia tak menyangka bajingan itu kembali dan membuatnya bingung bukan main seperti ini. Apalagi keadaan Wonwoo yang sangat memprihatinkan seperti ini.
Mingyu bangkit, mengganti piyamanya dengan celana hitam dan print t-shirt. Kemudian memakai mantel cokelatnya yang panjang. Meraih ponselnya, menelfon seseorang.
.
.
Dan berakhirlah dia di sini. Di depan sebuah bar yang buka sepanjang malam. Memarkir Ferrari merahnya di basement. Dan segera berlalu masuk kedalam.
Mingyu mengedarkan pandangannya. Mencari-cari seseorang. Sampai akhirnya, seorang pria muda melambai padanya. Mingyu menghampirinya. Duduk bersama orang itu.
Begitu masuk, bau alkohol dan kehampaan begitu terasa. Music memang berdentum keras, dance floor juga penuh. Dan pelayan-pelayan cantik dan seksi berkeliaran dimana-mana. Tapi Mingyu sama sekali tak tertarik. Dia menghampiri Seungcheol yang sudah menunggunya.
Kemudian mereka berlalu menuju VIP room yang sudah di pesan oleh Seungcheol. Keduanya duduk bersebelahan di sofa panjang berwarna maroon yang empuk.
Mingyu menyandarkan punggungnya. Mencoba merilekskan diri walau fikirannya kacau.
Seungcheol memanggil pelayan dan mereka memesan.
Tak lama setelah seorang wanita cantik datang membawa nampan berisi pesanan mereka, keduanya mulai menunggu Mingyu membuka percakapan. Lagipula mereka hanya berdua di ruangan itu.
"Tak biasanya kau menyuruhku kesini dini hari, Kim." Ujar Seungcheol, setelah lebih dari sepuluh menit Mingyu tak juga membuka mulutnya. Jengkel? Tentu saja. Saat ia sedang tidur pulas di kasurnya yang hangat Mingyu tiba-tiba menelfonnya dan minta bertemu.
"sebelumnya aku minta maaf, Hyung. Menyusahkanmu begini." Mingyu berucap dengan lesu. Wajahnya kusut. Seungcheol menyandarkan tubuhnya. Mereguk sejenak bir agar menghangatkan tubuhnya.
"Tak masalah. Lagi pula takkan ada yang memarahiku meski aku tak pulang sekalipun." Sahut Seungcheol. Mingyu menatapnya.
"Aku sedang stress hyung. Wonwoo selingkuh, dan sekarang dia jatuh sakit." Ucap Mingyu, mengurut pelipis kanannya yang terasa berdenyut.
"Eh? Wonwoo selingkuh? Bagaimana bisa?" Seungcheol tercengang mendengarnya. Selama ini ia tahu Mingyu selalu mengurung istrinya di rumah dan tidak membiarkannya bertemu siapapun. Dan sekarang, Mingyu bilang Wonwoo selingkuh? Terdengar aneh bukan.
"Jangan bilang kalau Wonwoo selingkuh dengan butler atau maidmu?" Seungcheol berjengit. Mengingat kisah-kisah picisan yang sering terjadi di drama tentang majikan yang jatuh cinta pada pelayannya sendiri. Heol, menurutnya itu sangat menggelikan.
Mingyu tersenyum kecil mendengarnya. Lalu menggeleng. "Bukan hyung." Singkatnya.
"Lalu, dengan siapa? Mungkinkah dia mengenal seseorang lewat internet?" Tanya Seungcheol lagi.
Namun, lagi-lagi Mingyu menggeleng. Seungcheol jengah juga akhirnya.
"Astaga Kim, bicaralah. Jangan biarkan hyungmu yang tampan ini menebak-nebak!" Gerutunya. Seungcheol meraih pizzanya, mulai memakannya.
"Kemarin ada perjamuan keluarga dengan salah satu rekan bisnisku. Dia datang bersama istri dan adik sepupunya." Ucap Mingyu, menjelaskan.
"Dan dia selingkuh dengan adik sepupu rekan bisnisku itu."
"UHUK!" Seungcheol tersedak mendengarnya. Potongan pizza berlapis mayonnaise dan saus itu terasa menyembur tenggorokannya karena ucapan Mingyu. Dengan cepat Seungcheol meminum birnya lagi.
"Apa? Siapa dia?" Tanya Seungcheol terperangah.
"Dia Wong Yibo, sepupunya Park Chanyeol."
"Eh? Maksudmu CEO Park yang Park Corporation yang bergerak di bidang interior itu?" Tanya Seungcheol memastikan.
"Ya, dia. Kemarin aku menjalin mitra dengannya. Karena aku ada sebuah proyek pembangunan beberapa hotel dan mansion di Jeju. Dan aku menggunakan interior darinya untuk proyek itu. sialnya, saat pertama kali Wonwoo bertemu dengan bajingan itu, mereka saling menyukai." Jelas Mingyu panjang lebar dengan wajah kusut dan suara dalam yang terdengar mengerikan.
Seungcheol terdiam. Selera makannya lenyap tak bersisa. Dia masih lajang, jadi dia tak mengerti masalah rumah tangga seperti ini.
"Lalu. . . Wonwoo sakit. . ." Ujar Seungcheol, mencoba mencari topic lain.
"Aku mendapat laporan dari pelayanku kalau Wonwoo menyelinap keluar saat aku ke Jeju dan dia berkencan dengan Wong Yibo. Kemudian, aku menunggunya di kamar. Dan memergokinya yang baru pulang berkencan. Dia bahkan menyelinap dengan memanjat balkon. Coba kau bayangkan itu, hyung?" Mingyu mulai sedikit tersulut emosinya. Ada gejolak yang membludak.
"Dan. . . kau mencambuknya lagi?" Lanjut Seungcheol. Mingyu mengangguk.
"Dan esok harinya, dia demam tinggi. Dan sampai kutinggal tadi, dia masih demam. Panasnya tak turun-turun." Mingyu menyelesaikan ceritanya dengan nafas berat.
"Masalahmu cukup rumit, Gyu. Kau harus sabar menghadapinya. Kufikir sikapmu cukup keterlaluan pada Wonwoo. Aku terlalu kasar, sampai dia berani begitu padamu." Seungcheol mengusap punggung lebar Mingyu.
Minggyu meraih sebotol bir. Mereguknya langsung dari botol.
"Kau akan muntah-muntah, Gyu. Kalau begitu caranya."
"Aku stress Hyung! Aku kesal! Sakit sekali rasanya diselingkuhi!" Racau Mingyu. Dia mulai meminum botol minuman yang lain. Bukan hanya bir, kini brendi, whisky, vodka, dan bahkan yang berat seperti tequila pun diminumnya.
Seungcheol hanya menatap Mingyu yang seperti orang kesetanan menghabiskan berbotol-botol minuman berakohol. Seungcheol melengos. "Selingkuh? Sendirinya saja tukang main-main dengan pelacur." Sinis Seungcheol dalam hati.
Mingyu sudah mabuk. Dia menyandarkan punggungnya dengan mata terpejam. Mulutnya terus-terusan meracau.
"Astaga Kim Mingyu! Kau merepotkanku lagi!" Sungutnya kesal. Bagaimana tidak, kalau sudah begini, dengan terpaksa ia harus membopong Mingyu kerumahnya, kan?
.
.
Seungcheol menyeret Mingyu menuju basement. Merogoh-rogoh saku pria tan yang tak sadarkan diri itu. mencari kunci mobil Mingyu. Seperti yang Seungcheol duga sebelumnya, dia akan berakhir mengenaskan seperti ini. Karena itulah dia memutuskan naik taksi saja dari rumahnya.
Seungcheol mendorong Mingyu masuk kemobil. Sesekali Mingyu meracau, emngumpat-ngumpat dengan sangat kasar.
"BAJINGAN KAU WONG YIBO ! KURANG AJAR! BRENGSEK! BEDEBAH! BITCH, PERUSAK RUMAH TANGGA ORANG!"
Seungcheol hanya menggeleng sambil menstater mobil. Mulai melaju meninggalkan basement bar itu. menuju rumah Mingyu.
.
.
TING NONG!
Jihoon berjalan cepat menghampiri pintu depan. Sudah tiga jam lebih sejak kepergian Mingyu. Dan sekarang sudah pukul lima pagi. Jihoon memang selalu terbangun paling awal. Karena dia yang akan membangunkan butler dan maid lainnya.
Ckrek!
"Astaga, Tuan Kim!" Seru Jihoon, kaget.
Seungcheol datang sambil membopong Mingyu yang mabuk. Membawanya keruang tamu. Membaringkan Mingyu di sofa terdekat.
"Apa dia minum sangat banyak?" Tanya Jihoon kemudian.
"Ya, dia habis berbotol-botol." Sahut Seungcheol seadanya.
"Maaf merepotkanmu, Tuan Choi." Jihoon membungkuk beberapa kali.
"Tak apa. Lagipula sudah biasa seperti ini." Sahut Seungcheol. "Baiklah, aku permisi dulu. Lagi pula ini sudah hampir pagi." Pamit Seungcheol, dan Jihoon hanya mengiyakan.
.
.
Wonwoo membuka matanya. Membiasakan dengan bias mentari pagi yang mengusik tidur lelapnya. Menatap sekitarnya. Dia merasakan sesuatu menempel di keningnya. Tangannya terulur, meraih benda itu. dan ternyata sebuah handuk kompresan semalam.
Wonwoo bangkit. Kepalanya masih terasa pening. Tapi suhu tubuhnya sudah normal. Ia merasakan perutnya melilit. Dan lama-lama menimbulkan mual. Maka ia dengan cepat lari kekamar mandi.
"Huek! Huek. . "
Wonwoo membilas mulutnya. Sepagi ini, dan ia sudah memuntahkan seluruh isi perutnya hingga cairan lender yang pahit. Seketika mulutnya pahit dan hambar. Wonwoo menatap dirinya di cermin. Dia terlihat kacau.
Wonwoo membelakangi cermin. Mulai mendudukan dirinya di lantai marmer kamar mandi yang kering dan dingin. Dia merasa sakit di sekujur tubuhnya. Lebih-lebih punggungnya. Kemarin Mingyu mencambuknya lebih dari dua kali. Bahkan sampai sweaternya sobek dan kulitnya mengelupas.
Ditambah teror yang kini kembali menghantuinya. Ia benar-benar tertekan rasanya. Detik berikutnya, perutnya kembali mual dan ia muntah-muntah lagi.
.
.
"Wonu-ya, sarapan!" Panggil Jihoon dari depan kamar Wonwoo. Namun tak ada sahutan. Maka Jihoonpun masuk kedalam.
Jihoon mengedarkan pandangannya. Kasur Wonwoo kosong. Kamarnya juga sepi. Jangan bilang kalau Wonwoo kabur lagi. Jihoon panic sekarang. Dia tak mau kena damprat lagi seperti kemarin. Dia juga tak tega melihat Wonwoo dicambuk.
"Wonu-ya!" Panggilnya lagi. Jihoon masuk kekamar mandi.
"Kau sedang mandi, Wonu-ya?" Tanya Jihoon. Namun tak ada sahutan.
Jihoon melangkahkan kakinya di lantai marmer itu. samar-samar dia mendengar isak tangis. Dengan gemetar, Jihoon menghampiri ruang shower itu. Menyibak tirainya. Dan ia tercengang dengan apa yang dilihatnya.
"Astaga, Jeon Wonwoo!" Jihoon menampar pisau yang akan digunakan Wonwoo untuk menyayat nadinya sendiri.
"Kau kenapa lagi, Wonu-ya?" Jihoon memeluk Wonwoo.
"Aku benci Jihoonie. Aku benci Mingyu, aku benci diriku, aku benci semua ini! Aku ingin mati saja!" Histersi Wonwoo dalam tangisnya.
"Tidak begitu caranya, Wonu-ya. Semua ini pasti ada hikmahnya. Percayalah, Tuhan pasti punya rencana yang indah untukmu di akhir nanti." Nasihat Jihoon.
Jihoon merasakan dadanya berdenyut. Selama ini hanya dia dekat dengan Wonwoo. Dan hanya dia juga yang tahu semua hal yang terjadi pada Wonwoo. Dan jujur, dia prihatin.
.
.
Jihoon menghentikan gerakan tangannya merangkai bunga-bunga segar di vas. Ia terdiam sejenak. Kembali teringat Wonwoo. Dia cemas sekarang. Wonwoo pastti sangat tertekan. Apalagi setelah kemarin dengan tiba-tiba saja Wonwoo mengamuk histeris.
Jihoon mengetuk-ngetukkan jarinya di dagu, berfikir sejenak. Kemudian, ia menoleh pada seorang maid yang sedang membersihkan frame-frame foto di dinding dengan kemoceng.
"Jihuyun-ssi. . . boleh aku bertanya?" Panggil Jihoon pada Jihyun, maid tersebut.
Jihyun emnghampiri. "Ada apa? Tak biasanya." Jawab Jihyun kemudian.
"Eum. . . menurutmu, apa ada sesuatu yang aneh dengan Wonwoo belakangan ini?" Tanya Jihoon berbisik, tak ingin pembicaraan mereka terdengar oleh maid dan butler yang lain.
Jihyun bergeming. Sepertinya mengingat-ngingat kelakukan Wonwoo belakangan ini. "Aneh? Kufikir tidak." Sahut maid itu kemudian.
"Kau yakin,?" Jihoon mengangkat sebelah alisnya.
Jihyun mengangguk. "Kufikir wajar saja kan, kalau ia tiba-tiba menjerit ketakutan karena menerima selembar kain berlumur darah? Bukankah itu mengerikan?" Tanya Jihyun. Saat kejadian itu, Jihyun memang ada di ruangan itu bersama Wonwoo dan Jihoon, karena wanita itulah yang membawakan piring dan garpu seperti perintah Wonwoo.
Jihoon terdiam. Fikirannya sependapat dengan Jihyun, tapi entah kenapa hatinya menolak argument itu, berkata bahwa sesungguhnya ada sesuatu yang terjadi di rumah ini. Lebih jauh dari hal sesepele itu.
.
.
.
To be continued or END?
REVIEW PLEASE
Note: Author sih juga gitu maunya ini ff dilanjut. Tapi jujur abis terawihmah authornya sibuk, dan notebook juga disita. Kagak boleh internetan malem-malem T_T. tapi author usahin bakalan tetep update. Author updatenya siang, kalian bacanya malem. Oke. Dan ini kali ini diusahin double update.
Yang minta sekali update 4 chapter, boleh sih. Tapi bakal telat updatenya. Mungkin seminggu sekali. Gimana? Dan yang ini. . . yang ch 4 ini datar banget ya, ga ada gregetnya. Soalnya di ch yang ini ngejelasin dulu si get down itu siapa. Tapi tetep gak dikasih tau namanya, biar greget.
