Tittle: GET DOWN (Meanie)
Cast: Jeon Wonwoo
Kim Mingyu
Others
Genre: Yaoi, bdsm/?
Rated: M
Disclaimer: Plot ceritanya murni punya author, Wonwoo juga punya author.
Summary: Jeon Wonwoo, harus hidup menderita dengan statusnya sebagai istri Kim Mingyu.
DON'T LIKE DON'T READ AND REVIEW PLEASE
Mingyu melangkahkan kakinya masuk. Pukul delapan malam, dan ia baru pulang dari kantornya. Seharusnya sebagai CEO dia tak perlu lembur seperti ini. Tapi pekerjaannya begitu banyak. Proyek besar yang sedang digarapnya di Jeju mebuatnya seperti ini. Ia bahkan rapat lebih dari empat kali hari ini. Karena ia harus bertemu pemasok makanan, barang elektronik, penyedia air, dan lainnya untuk fasilitas di hotel dan mansion yang sedang dibangunnya di Jeju. Kepalanya serasa hampir meledak, apalagi ditambah dengan beban pribadinya.
Mingyu masukmenuju kamarnya di lantai dua. Selama ini ia dan Wonwoo memang memiliki kamar yang terpisah. Mereka hanya seranjang di saat-saat tertentu saja. Jangan Tanya kenapa, karena Wonwoo yang menolak tidur sekamar dengan Mingyu.
Mingyu meletakkan tas kerjanya di meja. Membuka jasnya, dan melemparnya kedalam keranjang pakaian kotor. Pria itu mengusak rambutnya kasar. Kemudian, ia terduduk di tepi ranjang. Menopang dagunya dengan tangan kiri. Dan matanya terlihat menerawang.
Sampai lima menit kemudian dia mengusap wajahnya beberapa kali. Menarik napas, dan akhirnya memutuskan meraih handuknya.
Masuk kekamar mandi, Mingyu melepas satu persatu pakaiannya. Menyalakan shower, dan mengguyur dirinya di bawah aliran air dingin. Mingyu mendongkak, membiarkan air shower menghujam permukaan wajahnya. Membiarkan aliran dinginnya meresap kedalam pori-porinya. Sekiranya bisa menenangkan hatinya yang kacau.
Sekelbat bayangan dari arah luar fentilasi rendah di kamar mandi membuatnya membuka mata. Memicingkan matanya.
"Siapa itu?" Tanyanya waspada. Namun hening.
Mingyu menghela nafasnya. Mungkin hanya perasaannya saja.
.
.
Wonwoo menatap kosong keluar jendela kamarnya. Wajahnya telihat hampa. Matanya menatap lurus kedepan. Tapi fikirannya tidak berada di situ. Fikirannya berkecamuk. Hatinya gelisah. Ia tidak tahan hidup dalam tekanan seperti ini.
Mungkin Wonwoo bisa menyalahkan appanya yang membuatnya seperti ini. Atau bisa juga menyalahkan Mingyu yang selalu menyiksanya. Atau juga, menyalahkan pria itu. pria brengsek yang datang dari masa lalunya.
Tiba-tiba saja, seseorang bertopi hitam dan bermasker hitam mucul dihadapannya, menyeringai, dan berucap singkat, "Get down, Jeon!"
Wonwoo terbelelak, ia mundur dengan langkah gemetar "Pergi! Pergi!" Teriaknya ketakutan.
Wonwoo terjatuh dengan posisi duduk, mencengkeram kedua sisi kepalanya dengan tangis histeris "PErgi!pergi! jangan ganggu aku!" Tangisnya meledak seketika.
Pria kurus itu bangkit, dengan begitu brutal dia menyapukan tangannya keatas meja rias yang penuh dengan botol-botol kaca kosmetik. Wonwoo kacau. Ia membanting apapun yang bisa dibantingnya. Melempar apapun yang bisa dilemparnya. Sementara isakan dan teriakan terus keluar. Dan darah mulai menetes dimana-mana dari tangannya terluka terkena serpihan beling.
"Pergi kau brengsek! Aku membencimu!"
"Jeon Wonwoo!"
Mingyu berlari mengejar Wonwo yang tak karuan. Membawanya kedalam pelukannya. Mencoba menenangkannya. MIngyu mengedarkan pandangannya keseluruh sudutt kamar Wonwoo yang kacau.
"Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba histeris begini?" Tanya Mingyu cemas.
"Dia datang, Kim! Dia datang! Brengsek itu kembali!" Jerit Wonwoo masih dengan tangisnya.
Mingyu menghela nafas. Dia tak melihat siapapun dikamar itu. dan pasti terlalu sulit bagi keparat itu untuk masuk rumahnya yang penuh dengan penjagaan kan? Wonwoo pasti berhalusinasi, fikir Mingyu akhirnya.
"Baiklah, ayo kita keluar, tanganmu berdarah-darah, Jeon Wonwoo!" Ujar mIngyu, menarik Wonwoo keluar dari ruangan itu.
.
.
Seungcheol melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Karena ia sudah masuk di komplek perumahaan mewah tempat tinggal Mingyu. Ia bermaksud menjenguk Wonwoo yang katanya sakit. Maka pria tampan itupun membawa sekantung besar makanan yang biasa dibawa untuk menjenguk orang sakit.
Saat ia akan berbelok menuju blok rumah Mingyu, seorang pria bertopi hitam dan bermasker hitam, tiba-tiba menyebrang. Sehingga tanpa sengaja tertabrak bumper mobilnya.
"Asttaga!" Seungcheol kaget, dengan cepat dia menghentikan mobilnya dan turun untuk melihat orang itu.
Orang itu terduduk sambil memegangi bahu kirinya yang tadi menghantam bumper mobil dan aspal.
"Kau tak apa-apa?" Tanya Seungcheol cemas. Ini pasti akan jadi masalah. Fikirnya.
Orang itu menatapnya. Seungcheol tercekat. Tatapan orang itu sangat tajam. Lalu menggeleng cepat.
"Aku harus pergi. Aku baik-baik saja. Permisi!" Dengan cepat orang itu pergi dari hadapan Seungcheol yang mematung menatap kepergiaanya.
.
.
Mingyu menatap Wonwoo yang tertidur karena kelelahan menangis. Kedua tangan kurusnya terbalut perban dan wajahnya sembab. Mingyu menghela nafasnya. Semakin kacau saja rasanya masalah ini.
Mingyu bangkit, ia harus bertanya pada para pelayannya yang bertugas menjaga halaman, apakah ada seseorang aneh yang menyelinap masuk pekarangannya.
"Oi! Lee Seokmin!" Panggilnya, pada salah satu pelayan kepercayaannya.
Seokmin menghampiri dengan wajah cerianya seperti biasa. "Ada apa, tuan?" Sahutnya kemudian.
"Apa tadi kau melihat seorang pria bermasker hitam dan bertopi hitam menyelinap di pekarangan kita?" Tanya Mingyu menyelidik.
Seokmin menelan ludah. Sebenarnya tadi dia sempat meninggalkan pos penjagaannya selama satu jam untuk sebuah kepentingan konyol. "Tidak, tuan. Aku sejak tadi ada di pos dan tak menemukan seorangpun." Bohongnya.
"Begitu, ya." Lirih Mingyu. "Yasudah, kembali sana!" Suruh Mingyu akhirnya.
Baru juga Mingyu hendak melangkah masuk, suara klakson mobil membuatnya kembali menoleh. Dan dia mendapati mobil Seungcheol yang sedang masuk gerbang rumahnya. Mingyu tersenyum, kemudian menyambutnya.
"Oi, Hyung!" Sapa Mingyu.
Seungcheol turun dari mobilnya, dan membiarkan pelayan Mingyu yang memarkir mobilnya. Sementara Mingyu diam-diam memperhatikan mobil Seungcheol yang terlihat masih baru. Tapi, kenapa ada goresan dan sedikit penyok di bumper mobil baru itu.
"Mobil baru, hyung?" Tanya Mingyu kemudian.
Seunghceol tertawa sejenak. "Ya begitulah. Yang lama diminta adikku, jadi kuberikan saja." Sahut Seungcheol dengan ramah.
"Tapi kulihat, itu ada sedikit goresan dan penyok di bumper depan?" Tanya Mingyu, menunjuk bagian yang dimaksud.
"Ah, benarkah?!" Seungcheol langsung memeriksa bumper mobilnya. Dan benar, ada sedikit penyok dan goresan kecil disana. Seketika ia lemas.
"Kenapa?" Tanya Mingyu.
"Tadi aku menabrak orang aneh di jalan menuju rumahmu." Ujar Seungcheol menjelaskan.
"Dan sepertinya, goresan dan penyok itu bekasnya." Jelas Seungcheol.
Mingyu membulatkan matanya, "Orang aneh? Seperti apa?"
"Seorang pria tinggi besar dengan topi hitam dan masker hitam, pakaiannya serba hitam."
Seketika Mingyu melotot. "APA KAU BILANG?!"
.
.
.
Seungcheol terdiam setelah mendengar cerita panjang lebar Mingyu. "Jadi maksudmu, pria itulah yang meneror Wonwoo?" Tanya Seungcheol.
Mingyu mengangguk.
"Astaga, Kim Mingyu! Sudah jelas istrimu dalam bahaya! Bagaimana bisa kau sesantai ini?!" Tanya Seungcheol, kesal dengan ketidak pekaan Mingyu.
"Aku juga tahu kalau begitu, hyung."
"Oh ya, aku kesini bukan untuk mengobrol denganmu, aku ingin menengok Wonwoo. Kau bilang dia sakit, kan?" Tanya Seungcheol.
"Sakitnya semakin parah hyung." Sahut Mingyu lesu.
"Benarkah?"
"Kalau tak percaya, ayo lihat saja."
Keduanya berjalan beriringan menuju kamar Mingyu yang terdapat dilantai atas. Karena kamar Wonwoo sedang kacau, maka Mingyu menyuruh Wonwoo tidur dikamarnya. Dan keduanyapun sampai dikamar Mingyu yang mewah dan luas itu.
Seungcheol menghampiri Wonwoo yang tertidur di ranjang dengan tatapan prihatin. Apalagi dengan tangan yang berbalut perban dan wajah sembab begitu.
"Astaga. Kufikir ada baiknya kau membawanya kerumah orang tuanya, Mingyu-ya." Saran Seungcheol.
"Kau gila? Dia akan lebih terancam dirumah orang tuanya. Tidak ada yang mengawasinya di sana." Tolak Mingyu. Menyerahkan WOnwoo pada orang tuanya, sama saja membiarkan si brengsek itu menculiknya.
"Kalau begitu bagaimana kerumah orang tuamu." Ujar Seungcheol kemudian.
"Konyolnya hyung. EOmma dan Appaku sedang di prancis sekarang."
.
.
.
Mingyu mendapat laporan dari Jihoon bahwa sudah dua hari Wonwoo muntah-muntah terus setiap paginya. Maka Mingyupun kembali memanggil dokter. Kali ini, dokter Shim. Karena dia memang dokter pribadi Mingyu.
Sudah lebih dari setengah jam dokter Shim memeriksa keadaan Wonwoo. Sampai akhirnya, pria berjas putih itupun menghadap Mingyu.
"Tuan Kim?"
"Ya, dokter? Bagaimana keadaannya?" Tanya Mingyu cepat.
Dokter Shim tersenyum lebar menenangkan. Sementara Mingyu jadi heran. Wonwoo sakit, kan? Kenapa dokter Shim tersenyum lebar.
"Dia tampaknya hanya tertekan saja, tuan. Sebaiknya dia dibawa refreshing."
"Hanya begitu?" Mingyu menaikkan sebelah alisnya.
"Dan oh ya, aku mengucapkan selamat. Sebentar lagi anda akan menjadi Ayah, Wonwoo mengandung empat minggu. Tolong dijaga, Karena kandungannya sangat sensitive dan rawan." Jelas Dokter Shim akhirnya.
Mingyu tercengang. Masih berusaha mencerna ucapan Dokter dihadapannya itu. sampai detik berikutnya, ia memekik senang.
"Hamil? Jadi Wonwoo hamil?" Ulangnya semangat.
Dokter Shim mengangguk cepat. "Baiklah tuan, saya permisi. Karena masih ada yang harus saya kerjakan di rumah sakit." Dokter muda itu berlalu dari hadapan Mingyu yang masih tercengang.
.
.
Wonwoo terbangun dengan tenang kali ini. Dia tidak mendapat mimpi buruk atau serangan mimpi semacamnya. Pemuda itu meringis, merasakan kedua tangannya yang terbalut. Sementara tak jauhnya darinya, Jihoon terlihat menungguinya.
"Kau sudah bangun, Wonu-ya? Mau makan?" Tanya Jihoon.
Wonwoo menggeleng lembut. Dia belum lapar. "Kenapa tanganku diperban, Jihoon-ya?" Tanya Wonwoo bingung. Ia sama sekali tak ingat kejadian apapun sebelum ia tidur.
Jihoon tersenyum lembut menenangkan. "Kau menyapu meja rias dengan tanganmu, dan membuatnya berdarah seperti itu." Jelas Jihoon kemudian.
"Benarkah?" Tanya Wonwoo, tangannya meraih roti sobek yang tergeletak di nakasnya. Kemudian mulai memakannya. Entah kenapa dia jadi suka makanan manis seperti ini.
Cklek.
Pintu terbuka. Dan sesosok pria jangkung berkulit tan masuk kedalam kamar itu. Mingyu, dengan pakaian santainya. Ia memutuskan bekerja dirumah untuk sementara.
"Wonu-ya, kau sudah baikan?" Tanya Mingyu lembut, dengan senyum yang menampakkan gingsul lucunya.
"Sudah." Singkat WOnwoo dingin. Kembali seperti biasanya. Ia selalu dingin dan cuek pada Mingyu. Ia masih tetap membenci Mingyu.
"Baguslah. Dan jangan lupa minum obatnya. Kau juga harus banyak makan dan istirahat." Ujar Mingyu, duduk di sebelah Wonwoo. Disisi ranjang yang lain.
"Aku sudah tahu, cerewet." Mingyu mencoba bersabar. Sifat asli WOnwoo keluar.
"Iya, kau harus makan makanan bergizi, dan kalau menginginkan sesuatu, bilang saja padaku. Karena sekarang, ada aegya mungil kita yang hidup didalam tubuhmu." Mingyu mengakhiri penjelasannya dengan Senyum yang lebih lebar.
Wonwoo terdiam. Kunyahannya pada roti terhenti.
"Apa kau bilang, kim?" Ulang Wonwoo. Ia rasa telinganya mulai terganggu karena kebanyakan menjerit tadi.
"Kau hamil, Wonu-ya. Kau mengandung aegya kita." Jelas Mingyu lembut.
Wonwoo tercengang. Hamil? Itu artinya ada darah daging Mingyu didalam tubuhnya? Ia mengandung anak dari orang yang dibencinya? Mimpi buruk jadi kenyataan macam apa ini? Desis Wonwoo dalam hati.
Wonwoo terdiam. Tidak sanggup berkata apapun. Kalau sudah begini, ia tak mungkin bisa lepas dari Mingyu, kan? Lalu bagaimana dengan Yibo?
.
.
Mingyu menghentikan ketikannya pada laptopnya sejenak. Ia kemudian termenung. Sejenak kemudian, dia menerima e-mail dari salah satu karyawannya.
Mingyu membacanya sejenak.
"APA?!"
"BRENGSEK! BAGAIMANA BISA?!"
Desis Mingyu geram bukan main. Wajahnya memerah padam setelah mendapat e-mail dari karyawannya itu.
Dengan cepat, Wonwoo menelpon seseorang. "Menghadap padaku, sekarang?!" Bentaknya di telefon. Kemudian membanting gagang telefon itu.
.
.
.
Kwon Soonyoung, karyawan kepercayaan Mingyu, kini menunduk lemah dihadapan atasannya.
"Sekarang jelaskan, apa maksud e-mailmu itu." Ujar Mingyu dingin.
"Eum. . . i-itu. . ." Soonyoung merasakan napasnya habis. Mungkin nyawanya juga akan habis sebentar lagi.
Mingyu menaikkan sebelah alisnya.
"Para mitra bisnis kita. . . yang eum. . . terutama pemasok fasilitas dan penyedia layanan. . . membatalkan kontraknya. Karena mereka lebih memilih berbisnis dengan pesaing kita yang juga membuat proyek di Jeju-do." Lirih Soonyoung. Dia tak bisa menjelaskan lagi. Kakinya sudah benar-benar lemas. Dia sudah pasrah kalau sekiranya Mingyu tiba-tiba memenggal kepalanya.
"Siapa orang itu?" Tanya Mingyu kemudian.
"Bang Yongguk." Sahut Soonyoung pelan.
"ARGH!" Mingyu kesal bukan main.
"Cepat pergi kau, Kwon Soonyoung. Sebelum aku memenggal kepalamu!" Perintah Mingyu kacau.
Soonyoung langsung meraih tasnya dan lari terbirit-birit dari ruang kerja Mingyu yang serasa bagai neraka untuknya.
.
.
.
Mingyu menggerakan jarinya dengan cepat di laptopnya. Ia tengah mencari tahu siapa itu Bang Yongguk sampai dengan berani-beraninya mengacaukan proyek besarnya.
Bang Yongguk. Seorang pengusaha muda yang sukses. Bergerak dibidang property. Sama sepertinya. Usianya tujuh tahun lebih tua darinya. Masih melajang, dan merupakan saingannya yang cukup diperhitungkan.
Mingyu mendesis. "Sialan, kau Bang Yongguk! Makinya. Mingyu melempar cangkir kopinya kedinding. Emosinya sudah naik keubun-ubun.
Kalau biasanya dia akan melampiaskannya pada Wonwoo, namun kali ini. Mingyu hanya bisa terduduk menahan dongkol karena Wonwoo sedang sakit dan tak mungkin dia menyiksa seseorang yang sedang mengandung bayinya sendiri.
.
.
.
Wonwoo terdiam dengan pandangan kosong. Ia tak berselera melakukan apapun. Entah kenapa ia merasa semakin hancur setelah mendengar kenyataan bahwa ia mengandung bayi Mingyu. Bukan, bukan ia tak sayang pada bayi yang ada diperutnya. Tapi, ia hanya masih menginginkan kebebasan itu. dan kalau sudah begini, mana mungkin Mingyu membiarkannya kabur.
Ia juga sedih. Karena kenyataannya kisah cintanya harus berakhir sesingkat itu dengan Wong Yibo. /astaga Wonu-ya/
Wonwoo meraba perutnya yang masih rata. Sejenak. Dia belum merasakan kehidupan apapun didalam sana. Kandungannya baru empat minggu.
"Aegya-ya. . . ini eomma. . . kau dengar?" Ujar Wonwoo pelan. Mengajak bicara pada calon anaknya sendiri.
"Kau harus tumbuh menjadi orang yang kuat suatu hari nanti. Karena kau tidak boleh sepertiku, apa kau mengerti?" Ucap Wonwoo dengan suara bergetar.
.
.
.
To Be Continued or END?
REVIEW PLEASE
Note: Sorry yang ini pendek karena kali ini author update dua chapter. Moga suka ya.
KECEPATAN UPDATE TERGANTUNG BANYAKNYA REVIEW
