Tittle: GET DOWN (Meanie)
Cast: Jeon Wonwoo
Kim Mingyu
Others
Genre: Yaoi, bdsm/?
Rated: M
Disclaimer: Plot ceritanya murni punya author, Wonwoo juga punya author.
Summary: Jeon Wonwoo, harus hidup menderita dengan statusnya sebagai istri Kim Mingyu.
DON'T LIKE DON'T READ AND REVIEW PLEASE
Sementara itu, disebuah toko bunga yang tenang, seorang pemuda bersurai panjang dengan celemek biru muda membalut kemeja putihnya, terlihat tengah menyibukkan dirinya dengan rangakaian bunga. Berbagai macam bunga tergeletak dihadapannya. Tetapi didominasi oleh bermacam mawar dan baby's breath.
Toko bunga itu merupakan sebuah toko yang sudah cukup lama berdiri. Tak heran kalau desainnya terlihat begitu klasik. Karena merupakan warisan turun temurun yang keluarga pemiliknya. Sebuah lonceng tergantung di dekat pintu. Yang jika ada seseorang membuka pintu, maka lonceng itu akan berbunyi memberi tanda.
Cring! Cring!
Lonceng itu bergemericing nyaring memecah ketenangan toko bunga yang hangat itu. pemuda yang tadi asik merangkai bunga, mengalihkan pandangannya. Menatap siapa yang masuk. Kemudian tersenyum. Membalas lambaian seseorang yang masuk itu.
"Kau sedang sibuk?" Sapa pemuda itu.
Si rambut panjang menggeleng pelan. "Hanya beberapa buket bunga yang harus kuselesaikan sore ini." Sahut pemuda itu, Yoon Jeonghan.
"Oh ya, ada kabar yang ingin kuberitahukan padamu." Ucap pemuda itu, Hong Jisoo. Dokter muda yang bahkan masih mengenakan jas putihnya ketoko bunga Jeonghan.
"Apa? Apa itu menarik?"
"Ini memprihatinkan." Jisoo meringis mendengar respon Jeonghan.
"Benarkah?" Jeonghan menghentikan aktifitasnya. Bersiap mendengarkan dengan seksama.
"Minggu lalu aku pergi ke Seoul karena ditugasi menggantikan Dokter Shim." Ujar Jisoo.
"Lalu?" Jeonghan bingung. Bagian mana yang menarik? Fikirnya.
"Dan Dokter Shim adalah dokter pribadi Kim Mingyu. Dan minggu lalu aku disuruh memeriksa keadaan Wonwoo. Dia sangat memprihatinkan." Jelas Jisoo kemudian.
Jeonghan membulatkan matanya. "Wonwoo? Maksudmu Jeon Wonwoo sahabat kita?" Ulang jeonghan tak percaya.
Jisoo memutar bola matanya jengah. "Siapa lagi, kau fikir?"
"Lalu, lalu bagaimana keadaan Wonwoo? Dia sakit? Dia baik-baik sajakan?" Jeonghan mulai heboh.
"Dia sakit. Karena itulah aku disuruh memeriksa dan mengobatinya. Kalau ia sembuh untuk apa aku memeriksanya." Jisoo mulai jengkel sekarang.
"Sakit apa? Apa parah?" Kejar Jeonghan, penasaran bukan main. Ia sangat rindu Wonwoo.
"Dia demam tinggi dan dia sangat kurus. Tampaknya Mingyu bersikap kasar padanya. Ada banyak luka cambuk dipunggungnya. Dan dapat diduga, siapa lagi yang berani mencambuknya selain Kim Mingyu itu." Terang Jisoo panjang lebar.
Jeonghan tercekat. Astaga. Semenderita itukah sahabatnya?
"La-lalu. . .?" Jeonghan sudah mulai berkaca-kaca.
"Ada satu hal lagi. Tapi aku tak memberi tahukannya pada Mingyu. Wonwoo hamil empat minggu." Lirih Jisoo kemudian.
Jeonghan terbelalak. "Hamil?"
"Tapi kufikir itu bukan kabar buruk."
"Astaga, kasihan sekali Wonu. Dia pasti sangat tersiksa hidup di rumah itu. maafkan aku, Wonu-ya." Isak Jeonghan akhirnya.
Jisoo menghela napasnya. "Kita hanya bisa mendoakan yang terbaik baginya. Dan semoga Mingyu tidak bersikap kasar lagi padanya." Tutup Jisoo pada akhirnya.
.
.
.
.
Pukul menunjukkan pukul sepuluh malam. Dan kediaman keluarga Kim sudah tampak sepi. Tentu saja, karena para penghuninya memilih di dalam saja. Hanya beberapa penjaga keamaan yang beradi di pos penjagaan dan berkeliaran di pekarangan. Memeriksa kalau-kalau ada sesuatu yang terjadi.
Lee Seokmin berjalan mengitari halaman belakang dengan senternya. Samar-samar ia melihat seseorang yang sedang memanjat pagar belakang, berusaha meloncatinya keluar.
"OI! SIAPA KAU?!" Bentak Seokmin sambil mengejarnya.
Namun sayang, Orang berpakaian hitam dan bermasker hitam itu berhasil kabur. Seokmin tak habis cara, dia mengejarnya lewat pintu belakang. Namun entah bagaimana bisa, orang itu bagai lenyap di telan bumi.
Seokmin terengah. Kemudian masuk kembali kepekarangan belakang dan mengunci pintu belakang. Bersiap melapor pada Mingyu.
.
.
.
"Ada apa Lee Seokmin? Kenapa kau menghadap padaku jam segini?" Tanya Mingyu yang sedang berkutat di depan laptopnya. Dan berkas-berkas menggunung di mejanya.
"A-aku melihat seseorang melompati keluar pagar belakang. . ." Cicit Seokmin.
Mingyu menghentikan gerakan tangannya. Melepas berkas-berkasnya begitu saja. Mengangkat wajahnya, menatap pria di hadapannya itu.
"Apa kau bilang?"
"Ada orang berpakaian serba hitam yang melompat keluar dari pagar belakang." Ulangnya pelan.
Mingyu terdiam sejenak. "LEE JIHOON!" Panggilnya menggelegar.
Jihoon yang mendengar teriakan Mingyu dari dapur, langsung menaruh cangkir tehnya dan berlari secepat kilat kehadapan Mingyu.
"A-ada apa, Tuan? Hosh. . . hosh. . ." Tanya Jihoon dengan napas ngos-ngosan.
"Lee Seokmin bilang ada seseorang yang melompati pagar belakang. Sekarang kalian berdua periksalah seluruh rumah. Jangan lupa pintu dan jendela. Mungkin ada maling yang masuk." Perintah Mingyu dingin.
"Baik, Tuan!" Sahut Jihoon dan Seokmin serempak. Kemudian mereka segera pergi menjalani perintah.
Mingyu mengehempaskan tubuhnya kekursi empuknya. Menyandarkan punggungnya dengan hembusan napas berat. Pria itu memijat sejenak pelipisnya yang mulai terasa pening. Masalah baru lagi. Belum juga dia menyelesaikan masalah sebelumnya, kini sudah ada masalah baru lagi.
Mingyu tak jadi masalah kalau yang diambil maling itu semacam tv, radio, kulkas, peralatan eletronik lainnya atau uang tunai yang ia taruh sembarangan di laci-laci kamarnya. Atau juga berlian-berlian yang banyak terdapat dikamar Wonwoo-ini hadiah dari Mingyu sebenarnya, karena Mingyu suka sekali Wonwoo memakai berbagai macam batu mulia mulai dari berlian sampai safir karena kulit Wonwoo yang sangat cantik- tidak. Itu semua tidak berharga baginya. Kalau ada yang berfikir uang tunai di brangkas kamarnya itu banyak, maka salah besar. Karena itu Cuma jatah bulanan Wonwoo dan biaya keperluan belanja dapur bulanan. Karena sebenarnya, Mingyu menyimpan hartanya yang sangat berharga di sebuah tempat rahasia yang hanya ia yang tahu.
Mingyu lebih cemas kalau yang diambil adalah berkas-berkas perusahaannya atau laptopnya yang berisi file-file pekerjaannya. Tapi sejak tadi, ia ada diruang kerjanya. Dan tak mungkin ia tak sadar ada penyusup.
.
.
.
Seokmin dan Jihoon memutuskan untuk berbagi tugas. Seokmin memeriksa lantai satu, sedang Jihoon memeriksa lantai atas. Ini sudah sangat larut, dan kemungkinan para butler dan maid yang lain sudah beristirahat.
Jihoon berjalan menaiki tangga. Ia memeriksa satu persatu ruangan yang ada di sana. Namun ruangan-ruangan itu tidak menunjukkan tanda-tanda ada seseorang yang masuk dan merampok di sana. Karena semua dalam keadaan utuh, tidak ada yang bergeser sedikitpun.
Jihoon berjalan menuju kamar Wonwoo. Entah kenapa ia sedikit merinding. Memutar knopnya, dan melangkah masuk dengan napas yang dibuat setenang mungkin. Jihoon mulai memeriksa setiap sudut ruangan. Namun semuanya nihil, tak ada tanda apapun. Yang sekiranya menjadi bekas bahwa ada seseorang yang masuk kesana. Semuanya masih sama. Ruangan itu rapih seperti saat ia tinggal tadi. Karena setelah Wonwoo mengamuk dan mengacak-acak ruangan, para maid langsung membereskannya sehingga ruangan itu kembali rapih dan nyaman. Namun, Mingyu memutuskan Wonwoo tidur di kamarnya saja, agar lebih mudah dikontrol olehnya.
Jihoon menghela napas lega. Kemudian, ia kembali keluar. Menuju kamar Mingyu.
Jihoon membuka pintu eboni bercat hitam itu. memutar knopnya dengan perlahan, tidak ingin mengusik Wonwoo yang sedang tidur. Ia melongok, dan mendapati Wonwoo yang tertidur pulas. Dan keadaan ruangan yang masih sama seperti tadi. Itu tandanya taka da yang masuk, kan? Fikirnya. Maka Jihoon memutuskan kembali kelantai bawah karena seluruh ruangan sudah diperiksanya.
.
.
.
Sementara itu, Seokmin mulai memeriksa ruangan di lantai bawah. Ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, perpustakaan khusus Mingyu, ruang pakaian-yang isinya lemari dan ratusan atau mungkin ribuan pakaian menggantung tersusun rapih-, ruang makan para maid dan butler, ruang persediaan anggur, lift pembuang sampah, dapur, kamar mandi, gudang persediaan makanan, bahkan sampai gudang belakangpun diperiksanya. Namun nihil. Tak ada jejak sedikitpun ada seseorang yang menyusup. Dan taka da yang hilang juga.
Lalu? Untuk apa orang aneh tadi menyusup dan melompati pagar? Apa yang dilakukannya di dalam rumah ini? Seokmin berfikir keras. Namun akhirnya, ia memutuskan untuk kembali menghadap Mingyu dan melaporkan hasil pemeriksaannya.
.
.
.
Entah karena kebetulan atau apa, setelah sekitar empat puluh lima menit memeriksa seluruh rumah, Jihoon dan Seokmin kembali dalam waktu yang bersamaan kehadapan Mingyu.
"Bagaimana? Ada sesuatu yang terjadi?" Tanya Mingyu, masih fokus dengan pekerjaannya.
"Tidak ada sesuatupun yang terjadi tuan. Tadi kami membagi tugas, saya yang mencari dilantai atas, dan Seokmin dilantai bawah, tapi taka da sesuatu yang mencurigakan sedikitpun. Juga tidak ada barang-barang yang hilang. Semuanya masih utuh." Jelas Jihoon, memberikan laporannya.
"Benar, Tuan." Timpal Seokmin.
Mingyu terdiam sejenak. Melepas berkas ditangannya. Menatap dua pelayannya. "Kalian yakin? Lalu untuk apa ada orang aneh yang menyelinap masuk?" Heran Mingyu.
Keduanya menggeleng.
"Huft. . . sudahlah. Kalian kembalilah. Lagi pula ini sudah larut. Aku istirahat dulu." Mingyu bangkit, dan mematikan laptopnya. Juga menyusun kembali berkasnya yang berserakan. Sementara Jihoon dan Seokmin sudah pergi sejak tadi.
.
.
.
Mingyu keluar dari kamar mandi setelah mengganti pakaiannya dengan piyama, dan dia juga baru selesai menyikat gigi sebelum tidur. Pria tampan itu menatap Wonwoo yang terlelap di ranjangnya. Untuk pertama kalinya, Wonwoo tidur semalaman bersamanya. Biasanya mereka hanya tidur bersama saat ada hal tertentu saja.
Mingyu menghampiri ranjang, memperhatikan dengan lekat wajah damai Wonwoo yang tertidur. Manisnya. Mingyu mengusap surai Wonwoo dengan lembut. Menyibakkan poninya ketepi. Pria itu merunduk, mencium hangat kening Wonwoo. Kemudian beralih mengcup kedua matanya, hidung bangirnya, dan terlahir mengecup dan melumat singkat bibir merah dan tipis itu. tersenyum hangat.
Mingyu menarik selimutnya sampai menutupi tubuhnya dan Wonwoo. Mulai merebahkan tubuh.
"Good night Kim Wonwoo, bermimpi indahlah. Aku bersamamu." Bisiknya, sebelum menyusul Wonwoo kealam mimpi.
.
.
.
.
Malam sudah benar-benar larut. Dan keheningan malam itu pecah oleh suara gedoran pintu yang bising. Seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik, berjalan tergopoh menuju pintu. Sesekali ia menguap. Matanya merah.
Cklek.
Saat pintu dibuka, seorang pria yang berbeda usianya lebih tua beberapa tahun dari wanita itu, masuk. Pria itu mabuk. Terlihat dari jalannya yang sempoyongan dan ucapannya yang tak karuan. Dan, jangan lupakan bau alkohol yang menguar dari tubuh pria itu.
"Astaga, kau mabuk dan berjudi lagi!" Seru wanita itu.
"Diam kau! Istri tak tahu malu!" Bentak Pria itu dengan suara serak dan mata setengah terpejam.
"Kau terus-terusan berjudi. Kau selalu saja menyusahkan anakmu!"
"Tidak usah ikut campur kau! Wanita jalang!"
PLAK!
Wanita itu memegangi pipinya yang memerah. Matanya berkaca-kaca menahan tangis. Sakit hati dengan perlakuan suaminya sendiri.
"Cepat, mana uang dari anak sialan itu!" Bentak pria itu lagi.
"Kau yang sialan! Kau sudah membuat anakku menderita!"
"Banyak omong! Seharusnya kau bersyukur, aku membuatnya hidup enak jadi orang kaya!" Bentak pria itu lagi.
"Dasar pria tak tahu malu! Seharusnya kau mati saja!"
PLAK!
Lagi, tamparan kencang mendarat di pipi wanita itu. bahkan kali ini membuatnya agak terhuyung. Wanita itu menangis.
Sementara tak jauh dari ruangan itu, seorang pemuda bersurai hitam mengintip dengan pandangan miris dan takut. Matanya sudah berkaca-kaca. Pemuda itu masuk kembali. Tadi dia terbangun karena suara ribut pertengkaran Ayah dan Ibunya.
Pemuda itu terduduk di belakang pintu. Memeluk kedua lututnya. Membenamkan kepalanya. Dia merasa kacau sekarang. Bahunya bergetar. Seharusnya, anak seusianya tidak boleh tahu masalah orang tuanya.
"Hiks. .. eomma. . ." Isaknya pelan.
"Wonu Hyung. . . pulanglah. . . aku merindukanmu. . ." Lirih pemuda mungil itu.
.
.
.
.
Wonwoo terbangun saat sinar mentari pagi menerobos celah matanya. Saat ia terbangun, Mingyu sudah tak ada di sebelahnya. Namun di tempat yang bekas ditempati Mingyu, masih terasa hangat, menandakan Mingyu belum lama meninggalkannya tidur sendirian.
Wonwoo menatap kelangit-langit kamarnya. Dia tersenyum sejenak. Semalam, setelah sekian lama, dia mendapat mimpi indah kembali. Dia bermimpi dia didatangi seorang pria tinggi. Pria yang selalu mencium bibirnya dengan lembut dan penuh cinta saat malam. Dan entah kenapa, Wonwoo merasakan hatinya bergetar. Dia ingin sekali bertemu dengan pria itu didunia nyata. Tapi ia tak tahu pria itu siapa.
Selama lima menit, Wonwoo hanya menerawang. Menebak-nebak siapa yang selama ini sering datang kemimpinya.
Dan saat itulah, Mingyu keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan handuk yang hanya melilit pinggangnya. Topless. Dan kulitnya yang kecoklatan masih basah. Engan air menetes dari ujung-ujung rambutnya yang lebat.
"Sudah bangun, Jeon?" Tanya Mingyu.
Wonwoo menoleh, dan seketika wajahnya bersemu malu. Astaga. Mingyu topless dihadapanya? Kenapa dia baru sadar kalau selama ini dia dinikahi oleh orang setampan dan seseksi itu? err. Wonwoo menepis fikirannya.
"Sudah." Singkatnya. Bukan karena jutek, tapi entah mengapa ia gugup sendiri melihat Mingyu begitu. Wonwoo menelan ludahnya paksa. Berusaha meminimalisir kegugupannya.
Mingyu hanya tersenyum lebar memperlihatkan gingsul lucunya. Pemuda itu berjalan kearah lemarinya. Yang membuat dia berada persis di depan Wonwoo.
Mingyu meraih pakaian yang akan dikenakannya. Seharusnya, Wonwoo yang bertugas menyiapkan pakaiannya. Tapi, hei. Mereka menikah bukan karena cinta. Oke, Mingyu memang sangaaat mencintai Wonwoo. TERLALU MENCINTAI malah. Tapi Wonwoo? Dia tak berani menjamin dirinya mencintai Mingyu atau tidak.
Diam-diam, Wonwoo terus menatap Mingyu yang sedang berganti pakaian dengan ekor matanya. Bagaimana Mingyu memakai sweater tipis putih tanpa lengannya, bagaimana Mingyu emnarik handuk yang melilit pinggangnya hingga Wonwoo bisa melihat sesuatu yang membuat pipi pemuda manis itu merona sempurna. Bagaimana Mingyu memakai celana dalamnya, bagaimana akhirnya Mingyu menyelesaikan acara ganti bajunya-yang entah kenapa menurut Wonwoo erotis- dengan memakai celana semi jeans selutut berwarna hitam. Pakaian santai. Mingyu memang memutuskan bekerja di rumah untuk lebih mengawasi Wonwoo.
"Aku tahu kau memperhatikanku lewat ekor matamu, Wonu-ya." Ucap Mingyu datar.
BRUSK!
Wonwoo langsung berbalik tengkurap dan menggulung tubuhnya dengan selimut seperti kepompong. Mingyu menyeringai. Merasa geli dengan tingkah istrinya itu. menggemaskan.
.
.
.
To be continued or END?
Review Please.
Note: huwaaaa terharu banget yang reviewnya lebih dari 100+ padahal ini ff abal-abal. Aduhhh tengseu banget ya *tebar kiss* oh ya itu yang bialng itu flashback, itu bukan flash back say, aku jelasin ya, itu mimpinya Wonu. Bukan flashback kemasa lalu. Di ff ini belum ada flashbacknya satupun. Dan buat yang minta Mingyu melunak, ini udah dilunakin. Dan yang minta meanie romantisan, ini aku buatin juga. Di ff ini mulai keliatan kehidupan Wonu yang asli kaya gimana. Dan disini juga mulai romantisan . jangan bosen buat review ya ^^
Dan, oh ya, katanya Wonu sakit ya. Duh, jadi nyesel bikin Wonu sakit disini :3 get well soon ya my Wonu. Paiii-paii
KECEPATAN UPDATE TERGANTUNG BANYAKNYA REVIEW
