Tittle: GET DOWN (Meanie)
Cast: Jeon Wonwoo
Kim Mingyu
Others
Genre: Yaoi, bdsm/?
Rated: M
Disclaimer: Plot ceritanya murni punya author, Wonwoo juga punya author.
Summary: Jeon Wonwoo, harus hidup menderita dengan statusnya sebagai istri Kim Mingyu.
DON'T LIKE DON'T READ AND REVIEW PLEASE
.
.
.
Wonwoo berguling-guling dikasurnya tak jelas, tak peduli tangannya yang diperban masih terasa sakit saat ia berguling-guling itu. ia bosan. Sejak tadi ia ada di kamar. Sendirian. Hanya di temani gadgetnya. Mingyu sudah jelas berada di ruang kerjanya, kan? Hei, untuk apa fikirkan si hitam kejam itu. cibir Wonwoo pada benaknya sendiri.
Wonwoo meraih ponsel putihnya yang tipis dan lebar. Menekan-nekan layar datar itu bebera pa kali sebelum akhirnya, membawa ponsel itu ketelinganya.
"Jihoonie~" Panggil Wonwoo.
"Tolong antarkan Michi kekamarku. . . dan. . . aku ingin minum susu hangat." Ucap Wonwoo ditelepon. Kemudian memutus sambungan telepon.
Dari seluruh pelayan yang ada di rumah Mingyu, Jihoon merupakan yang paling akrab dengan Wonwoo. Jihoon merupakan kepala pelayan di rumah itu. butler yang paling dipercaya MIngyu. Ia sudah lima tahun bekerja di rumah itu. dan dia masih melajang. Pada saat pertama kali Mingyu membawa Wonwoo kerumah itu, hanya Jihoon yang Wonwoo sapa. Karena menurut Wonwoo, Jihoon sangat menggemaskan dengan surai jingga dan tubuh mungil. Dan lagipula, sebenarnya Jihoon pelayan khusus yang tugasnya menjaga dan mengasuh Wonwoo..
Wonwoo kembali berguling-guling tak jelas di kasurnya. Sampai suara pintu menghentikan aktifitas absurdnya itu. Wonwoo menoleh.
Jihoon datang dengan segelas susu dan tangan kanannya menarik tali yang terpasang di kalung Michi. Masuk kedalam.
"Pesanan datang~" Ujar Jihoon. Wonwoo bertepuk tangan.
"Aku haus!" Ucapnya.
Jihoon mendekat. Menyodorkan gelas susu itu ke Wonwoo. Dengan cepat, Wonwoo meraihnya dan meminumnya. Baru seteguk, Wonwoo merasakan ada yang aneh dengan rasa susunya. Maka ia berhenti minum.
"Jihoonie, susu apa ini? Kenapa rasanay beda?" Wonwoo berjengit.
"Itu susu khusus untuk orang hamil, Wonu-ya." Sahut Jihoon kalem.
Seketika Wonwoo menatap horror Jihoon. "Apa? Kau mengejekku?!" Kesal Wonwoo.
Jihoon menggeleng. "Dokter Shim bilang, kandunganmu sangat sensitive dan rawan. Jadi harus dijaga dengan baik. Dan dokter juga bilang kalau kau harus minum susu orang hamil agar kandunganmu kuat." Jelas Jihoon, dengan senyumnya.
Wonwoo menghela napas. Seketika moodnya hancur. Dia merasa harga dirinya sebagai seorang pria terinjak-injak. Susu hamil? Bukankah itu untuk para wanita? Hei? Dia ini pria tulen. Walaupun ia selalu kebagian bottom, tapi dia juga berbatang. Sama seperti Jihoon dan Mingyu.
Jihoon menarik napas panjangnya. Sudah menduga Wonwoo tidak akan mau meminum susu itu. "Wonu-ya. . . jangan hanya fikirkan dirimu. Fikirkan bayimu. Dia butuh asupan yang cukup agar tumbuh kuat." Nasihat Jihoon.
Wonwoo masih terdiam. Benar, bukankah dia sendiri yang ingin aegyanya tumbuh kuat? Akhirnya, dengan terpaksa Wonwoo mereguk susu itu sampai habis.
"Tunggu, dimana softcase ponselku, ya?" Wonwoo teringat sesuatu. Tangannya meraba-raba bagian bawah bantal. Seingatnya kemarin ia menaruh softcase ponselnya di sana. Sementara tangan kanannya masih memegang gelas bekas susu.
Wonwoo merasakan tangannya menyentuh sesuatu yang asing dan dingin. Dengan agak gugup ia menariknya perlahan. Jihoon sedang memangku Michi di sana.
Lagi. Dan Wonwoo dengan refleks melempar gelasnya karena kaget.
PRANG!
"Astaga, Jeon Wonwoo? Ada apa?" Jihoon kaget dan langsung menghampiri.
Wonwoo terengah dengan wajah pucat dan tangan menunjuk kesatu arah.
"Dia! Dia datang lagi, Jihoonie! Dia datang! Aku bisa gila kalau begini!" Jeritnya histeris. Tangisnya pecah dan Wonwoo kembali tak terkendali.
"Tenanglah Wonu-ya. Tenanglah!" Jihoon memeluk Wonwoo erat. Berusaha menenangkannya. Sementara pria manis itu menangis sesegukan dengan isakan kencang di pelukannya.
Di lantai, di tempat yang ditunjuk Wonwoo, tergeletak benda itu. sebuah kain putih yang berlumur darah membentuk tulisan
-GET DOWN, JEON WONWOO-
.
.
.
Mingyu sedang sibuk dengan usahanya mengembalikan kontrak-kontrak bisnisnya dengan para koleganya. Ia berusaha menyelematkan proyek hotel dan mansion nya di Jeju-do yang hampir gagal. Kepalanya terasa pening. Dan ia benar-benar lelah.
Sampai kemudian, Jihoon menghampirinya dengan langkah tercepat.
"Tuan, saya sudah tahu siapa yang semalam menyusup kerumah ini." Ujar Jihoon dengan wajah gelisah.
Mingyu mendongak, menatap Jihoon dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
"Siapa?" Singkatnya.
"Ini, tadi Wonwoo menemukan ini di bawah bantalnya. Dan tampaknya, dialah yang semalam masuk kerumah ini." Jihoon menunjukkan kain yang berlumur darah itu.
Mingyu bangkit dari kursinya. Meraih kain itu. kain yang sama. Bahannya pun sama. Dan nampaknya, berasal dari buntalan kain yang sama. Bau anyir darah menguar dari kain itu. Mingyu memejamkan matanya. Meremas kain itu. emosinya benar-benar naik sekarang.
"Lalu? Apa Wonwoo mengamuk lagi?" Tanya Mingyu terdengar putus asa. Kenapa sekarang ia harus seperti ini? Lebih baik ia berkelahi dengan orang itu dari pada serangan misterius seperti ini.
"Dia menangis histeris. Tapi tidak sampai mengamuk seperti kemarin. Karena pada saat itu saya ada bersamanya." Ucap Jihoon menjelaskan.
Mingyu terdiam. Kemudian dia berjalan menyusuri tangga, menuju kamarnya. Menghampiri WOnwoo.
Mingyu membuka knop pintu. Berjalan masuk dengan langkah yang tenang. Namun wajahnya terlihat gelisah.
Perlahan, Mingyu duduk di tepi ranjang. Menatap lembut sosok yang terlelap itu. lagi, dengan wajah sembab. Mingyu menghela nafasnya. Sementara tangannya mengusak sayang surai Wonwoo.
"Mau sampai kapan kau begini, Jeon?" Lirihnya.
"Kau terus merasa tertekan seolah kau sendirian. Mau sampai kapan kau mengacuhkan keberadaanku yang selalu bertahan di sisimu?" Ujar Mingyu pelan, bahkan berbisik. Nada suaranya menyiratkan kekecewaan.
Ia mulai menyesali sikapnya pada Wonwoo selama ini. Namun, entahlah. Sisi gelapnya selalu saja membuatnya seperti itu. bukan salahnya kan, terlahir dengan obsesi seperti itu?
.
.
.
.
"Oi! Kim Mingyu is here!" Seruan fasih bahasa inggris yang khas itu menyapa pendengaran Mingyu. Di tengah hiruk pikuk dentuman music dan ratusan orang yang menari-nari I dance floor.
Seorang pria tampan bersurai cokelat pirang yang berdiri di meja DJ, melambai pada Mingyu.
Mingyu tersenyum simpul, lalu menghampirinya. "Oi, Vernon Chwe!" Lalu keduanya berjabat tangan.
"Lama aku tak melihatmu disini. Tampaknya sangat sibuk?" Tanya Vernon. Mereka berjalan menuju sebuah sofa yang tak jauh dari situ. Dan segera saja, para wanita jalang mengerubungi mereka. Haus belaian.
"Sebenarnya ada beberapa masalah di kantor. Yang membuatku harus meredakan pening di sini."
"Baiklah, bersenang-senanglah!" Ujar Vernon, sebelum ia kembali keperalatan musicnya.
Mingyu mulai meraih botol-botol minuman keras yang berjajar rapih di meja. Mulai mabuk. Ia bahkan membiarkan para wanita jalang itu menciuminya hingga meninggalkan noda lipstick di wajah dan kemejanya.
.
.
.
TOK TOK TOK!
Terdengar pintu utama diketuk- tidak- lebih tepatnya di gedor oleh seseorang di luar sana. Entah kemana para butler danmaid di rumah itu. sampai tidak ada yang membuka pintu.
Wonwoo yang sedang didapur untuk minum karena ia terbangun dengan sangat haus, terpaksa membukakan pintu. Padahal ia malas sekali rasanya. Matanya berat. Sangat mengantuk.
TOK TOK TOK!
Gedoran tak sabar itu kembali terdengar. "Iya, sebentar!" Sahut Wonwoo sambil mempercepat langkahnya.
Cklek.
Pintu terbuka. Dan sesosok pria tampan berwajah Amerika berdiri di hadapannya sambil memapah Mingyu yang mabuk berat. Wonwoo tercengang.
"Hello, Wonu-hyung. Long time no see!" Sapa Vernon dengan senyum ramahnya. Wonwoo ingat, dia pria yang selalu jadi DJ saat Mingyu dan Seungcheol mengadakan pesta di rumah itu, kan?
"Kenapa Mingyu samapi begini?" Gugup Wonwoo.
"Dia datang kebar dan minum sangat banyak." Ujar Vernon. Wonwoo tercengang.
"Err. . . hyung, dimana aku bisa membaringkannya? Dia berat sekali." Ringis Vernon kemudian. Wonwoo tersadar dengan gugup.
"I-itu, di sofa saja!" Tunjuknya. Entah kenapa dia merasa tidak enak.
Vernon dengan cepat menyeret masuk Mingyu dan membaringkannya di sofa. Kemudian ia kembali keambang pintu tempat Wonwoo berdiri.
"Ini hyung, kunci mobilnya. Aku permisi, ya!" Pamit Vernon sambil memberikan kunci mobil Mingyu. Dan dengan cepat pemuda Amerika itu berjalan keluar lagi.
Wonwoo mendengus. Menutup pintu dan menguncinya. Dengan langkah ragu ia menghampiri Mingyu yang terbaring dengan mulut yang terdengar mngumpat-ngumpat kasar. Berbagai macam makian meninggalkan mulut pria tampan itu bagaikan rentetan peluru panjang yang tak ada habisnya.
Wonwoo menatap horror keadaan Mingyu. Bagaimana pria itu pulang dalam keadaan mabuk parah, kemeja yang kancing atasnya sudah terbuka, dan noda lipstick yang menyebar dimana-mana. Astaga. Apa dosaku sampai harus menikah dengan orang macam ini? Ringis Wonwoo dalam hati.
Tangannya terulur, mengguncang tubuh Mingyu, bermaksud membangunkannya. "Kim Mingyu! Bangun! Pindah kekamarmu sana!" Seru Wonwoo agak kencang, tepat di telinga Mingyu.
"Brengsek! Banyak omong!"
Wonwoo mendengus. Mingyu hanya terus-terusan mengumpat tak karuan.
"Kim Mingyu, bangun!"
"Sialan kau Jeon Wonwoo! Berani-beraninya menyelingkuhiku!"
Wonwoo menatap Mingyu semakin horror bahkan kali ini ia terlihat ingin menyiram Mingyu dengan air panas. Sabar Jeon, sabar. Karena faktanya kau memang selingkuh. Wonwoo berusaha menenangkan dirinya sendiri.
"KIM MINGYU!" Wonwoo menarik tangan Mingyu sekuat tenaga sampai pria jangkung itu terbangun dengan mata memerah.
Mingyu menatap Wonwoo dengan pandangan lapar.
Dengan kasar, Mingyu mencengkeram pundak Wonwoo. Menciumi bibirnya dengan brutal dan kasar.
"Astaga, Kim Mingyu!" Wonwoo panic sekarang. Dia harus bisa melepaskan diri. Atau Mingyu akan memperkosanya-lagi.
Mingyu terus menciumi WOnwoo. Ia bahkan sudah mulai menghisap kasar leher putih Wonwoo. Mengigit-gigitnya hingga menimbulkan bekas keunguan yang tercetak jelas.
"ARGHT!" Erang Wonwoo saat Mingyu merobek paksa kausnya, memelintir nipplenya dengan kasar dan menghisapnya kuat.
"Kim, sadarlah! Kumohon!" Mata Wonwoo mulai berair. Mingyu yang mabuk sama saja dengan drakula baginya.
Mingyu terus menciumi tubuh kurus itu dengan kasar. Menelusuri setiap lekukannya dengan kiss mark yang mulai memenuhi kulit putih pucat Wonwoo. Pada saat wajahnya berhadapan dengan selangkangan pria manis itu, Mingyu menyeringai dengan mata yang memerah, dia benar-benar terlihat seperti drakula lapar. Dan jangan lupakan gigi taringnya yang membuat kesan itu menjadi nyata.
Mingyu merobek paksa celana pendek Wonwoo dan kemudian melemparnya sembarangan. Kemudian tangannya dengan cepat menarik paksa celana dalam Wonwoo, hingga Wonwoo tak memakai benang sehelaipun.
"KIM MINGYU!"
"Diamlah." Desis Mingyu. Ia melepas sabuknya, kemudian mengikat kedua tangan WOnwoo dengan sabuk itu. Wonwoo berontak, namun tubuh kurusnya tak bisa melawan tubuh kekar Mingyu yang sekarang menindihnya.
Mingyu mengocok pelan juniornya. Meludahi juniornya sendiri. Dengan kasar, dia mengangkat kaki kiri WOnwoo kepundaknya. Dan tanpa aba-aba apapun, Mingyu menghentak juniornya masuk kedalam hoel WOnwoo.
"ARGH! SSHHH S-SAKIT!" Erang Wonwoo. Merasakan holenya yang seolah robek karena Mingyu memaksa masuk juniornya yang besar itu.
Wonwoo mulai menangis. Isakannya terdengar bersahutan dengan erangan nafsu Mingyu yang menggenjotnya dengan brutal.
"Arghh. . . sakit-h berhenti. . . kumohon!"
"Agh. . . eunghhh sshhh. . ."
Mingyu terus menghentak-hentak dengan cepat dan kasar. Sampai Wonwoo merasakan junior pria itu menebal dan menegang sempurna didalam tubuhnya.
"ARGHH!"
Mingyu mengerang, menandakan ia berhasil mencapai orgasmenya.
WOnwoo memejamkan matanya. Merasakan caira Mingyu yang menyembur didalam tubuhnya. Tangannya meraba lantai, dan dia menyentuh sesuatu yang asing. Wonwoo mencoleknya, dan melihatnya. Darah segar mengalir dari holenya yang robek.
.
.
.
Pagi menejelang, cicit burung mulai terdengar menyuarakan simfoni alam yang indah. Mentari baru saja mulai menghangatkan seluruh penjuru dunia. Dan pagi itu, Kim Mingyu sudah bergerak cepat. Hari ini ia harus kekantornya karena ada keadaan darurat yang mesti ditanganinya.
Dia bangun telat karena mabuk semalam. Dan, ada satu hal yang ia lupakan. Ia memerkosa istrinya sendiri semalam.
Mingyu menstater mobilnya dan melajukannya dengan cepat. Ia benar-benar buru-buru sekarang.
.
.
Sementara itu, Jihoon mengetuk-ngetuk pintu kamar Wonwoo. "Wonu-ya, sarapan." Panggilnya. Meski sudah yang kesepuluh kali dan Wonwoo belum juga menyahut.
"Jeon Wonwoo!" Panggil Jihoon mulai tak sabar.
Karena mulai curiga, Jihoon membuka meja pajangan di sebelahnya. Mengambil kuncu cadangan yang selalu tergeletak di situ. Memasukkan anak kunci itu kepintu, memutarnya perlahan.
Cklek.
Jihoon melongok. Dan dia mendapati Wonwoo yang tertidur menyamping.
"Wonu-ya."
"Hiks. . ."
Jihoon menajamkan pendengarannya. Itu suara isakan, kan? Wonwoo menangis? Dengan cepat Jihoon menghampiri Wonwoo.
"Wonu-ya, kau kenapa?" Tanyanya. Dan benar, Jihoon mendapati Wonwoo yang menangis dengan mata sembab dan sepertinya sudah lebih dari satu jam ia menangis.
"Bangunlah, Wonu-ya. Katakana padaku, ada apa?" Jihoon membantu Wonwoo bangkit.
"M-mingyu. . . hiks. . ." Isak Wonwoo.
"Ada apa dengan Mingyu? Dia mencambukmu lagi?" Tanya Jihoon. Menurunkan selimut yang dipakai Wonwoo. Dan ia baru sadar, Wonwoo tak memakai sehelai benangpun sekarang.
Jihoon tercengang. Tubuh Wonwoo yang penuh kiss mark dan samar-samar dia mencium bau anyir.
"Ada apa?" Bingung Jihoon. Otaknya serasa buntu.
"Mingyu memerkosaku semalam! Dan holeku robek!" Tangis Wonwoo kembali pecah. Jihoon berjengit ngeri mendengarnya. Dengan cepat dia memeluk Wonwoo, mengusap-usap punggungnya.
"Sssht, jangan menangis. Nanti kita obati, ya? Akan aku bantu menyembuhkannya." Ujar Jihoon.
.
.
Jihoon kembali dengan sebuah botol kecil di tangannya. Bentuknya seperti salep.
"Wonu-ya, ayo bangun, sini aku obati lukamu."
Wonwoo hanya mengangguk. Ia dan Jihoon sudah seperti saudara. Ia tak sungkan lagi pada Jihoon. Bahkan saat ia tak berpakaian seperti inipun.
"Tengkuraplah." Ucap Jihoon. Wonwoo hanya menurut. Dia tengkurap. Dan menopang tubuhnya dengan tangannya, agar memudahkan Jihoon mengoles salep di lukanya itu.
Jihoon meringis melihat luka itu. pasti sakit sekali, fikirnya.
Dengan telaten, Jihoon mengobati Wonwoo. Dia juga mengelap tubuh Wonwoo dengan air hangat dan memakaikannya pakaian.
"Tunggu sebentar, aku akan ambil susu untukmu, ya. Istirahatlah." Ujar Jihoon, yang kemudian pergi kedapur.
.
.
.
Mingyu melangkah kasar kedalam ruang kerjanya. Kesal. Bagaimana tidak, semua mitra bisnis untuk proyek barunya, kini sama sekali tak menanggapinya. Semuanya membatalkan kontrak. Semuanya.
"Aku bisa gila, karena ini!" Desisi Mingyu, menghempas tubuhnya pada sandaran kursi.
Kepalanya pening. Mingyu mengurut pelipisnya yang terasa berdenyut. Kacau. Fikirannya kacau.
"Tuan Kim, haus?" Chaeyeon menyodorkan secangkir teh hijau hangat kehadapan Mingyu. Namun pria itu hanya mendengus.
"Argh!" Erang Mingyu geram. Chaeyeon hanya bisa diam. Kalau sudah begini, lebih baik dia kembali saja ketempatnya. Maka dari itu, wanita muda itu segera keluar dari ruangan Mingyu.
Mingyu menopang dagu. Menatap keluar jendela kaca kantornya yang lebar. Menerawang jauh. Ia jadi teringat sesuatu.
Semalam ia mabuk, ya. Dan. Siapa yang mengantarnya pulang. Mingyu tak mengingatnya dengan baik. Yang terakhir diingatnya, Wonwoo menangis sambil memukul dadanya.
Tunggu, Wonwoo menangis? Mingyu berusaha mengingat-ngingat. Namun buntu. Ia tak mengingat kejadian apapun sebelum itu.
"Cobaan macam apa ini?!"
.
.
.
Seungcheol tersenyum ramah. Kemudian membalas jabatan tangan pria di hadapannya. Diam-diam dia memperhatikan pria itu dengan baik. Tampaknya dia pernah melihatnya, tapi dimana?
Seungcheol merupakan endorse penyedia barang elektronik, dan sekarang ia bertemu klien yang akan memakai produknya untuk proyek pembangunan hotel dan mansion di tempat liburan, Jeju-do.
"Baiklah, mari kita mulai rapat hari ini, Bang Yongguk-ssi." Lagi-lagi Seungcheol memberikan senyum hangatnya.
.
.
.
.
Wonwoo memegangi ponselnya dengan erat. Dia sedang menelfon seseorang.
"Aku takut, Hyung. Aku benar-benar takut. Kejadian semalam benar-benar membuatku trauma. Aku harus bagaimana?"
"Tenanglah, Wonu-ya. Aku tau ini berat untukmu. Tapi kau harus mengerti, Mingyu mabuk saat itu. cobalah pelan-pelan menyingkirkan bayangan-bayangan mengerikan itu. lupakan saja kejadian semalam!" Sahut orang yang ditelfon Wonwoo.
"Hiks, sudahlah. Tak ada gunanya aku cerita." Wonwoo memutus sambungan telfon. Dia memeluk lututnya lagi. Dan mulai berlinang air mata lagi.
Ia sakit hati. Selama ini Mingyu memang selalu mengasarinya, kan? Tapi diperkosa saat Mingyu mabuk benar-benar buruk. Apalagi mengingat bagaimana dengan kasarnya Mingyu berdirty talk tentang dirinya. Mengatainya, Bitch, tukang selingkuh, dan berbagai macam umpatan yang tak layak disebutkan.
Wonwoo benci. Rasa bencinya semakin menjadi-jadi pada Kim Mingyu. Dia ingin bebas. Dia ingin keluar dari rumah ini. Dia ingin mencari seseorang yang mencintainya dengan normal. Tidak seperti Mingyu yang terlalu terobsesi padanya.
.
.
.
To be continued or END?
REVIEW PLEASE
Note: hehehe marhabban ya ramadhan. Nih author kasih penggoda imannya :'V oh ya, buat yang minta dipanjangin nih aku panjangin. Udah ya, cape ngetik tau -,- dan aku minta maaf kalau dua chap yang ini kagak ada feelnya. Aku pengennya ini ff tuh panjang. 10 chap gitu. Tapi kalo bisa sih lebih. Udah gitu aja. Sih. Aku mah. Oh ya, yang mau bangunin sahur sms aja ya, 08780654797, atau yang mau temenan ama aku di fb add aja Hani Khoerina Jawahir. Yang mau aja sih. Yang kagak mah gak usah.
Pai-pai
KECEPATAN UPDATE TERGANTUNG BANYAKNYA REVIEW.
