Tittle: GET DOWN (Meanie)

Cast: Jeon Wonwoo

Kim Mingyu

Others

Genre: Yaoi, bdsm/?

Rated: M

Disclaimer: Plot ceritanya murni punya author, Wonwoo juga punya author.

Summary: Jeon Wonwoo, harus hidup menderita dengan statusnya sebagai istri Kim Mingyu.

DON'T LIKE DON'T READ AND REVIEW PLEASE

Jam menunjukkan pukul tiga dini hari. Wonwoo beringsut turun dari ranjangnya meninggalkan Mingyu yang terlelap bergelung selimut beludrunya yang hangat dan tebal. Wonwoo masuk kekamar mandi. Ia ingin buang air kecil.

Saat melangkah masuk kamar mandi, Wonwoo langsung menyelesaikan urusannya. Dan setelah selesai, Wonwoo bermaksud mencuci tangannya. Matanya setengah terpejam karena ia luar biasa mengantuk. Di luar hujan deras dan itu membuat suhu di sekitarnya luar biasa dingin sehingga ia harus cepat mencuci tangannya dan kembali meringkuk dalam selimut bersama Mingyu.

Wonwoo menguap sesekali sambil terus mencuci tangannya. Saat hendak menatap cermin. Tiba-tiba Wonwoo tercekat dengan pandangan nanar. Ia tak sanggup begini terus. Wonwoo mulai terisak. Ia lelah kalau terus-terusan begini. Ia tak ingin lagi berteriak-teriak histeris melampiaskan ketakutannya. Wonwoo menangis sesegukan.

"Kenapa kau seperti ini, hyung? Kenapa kau sejahat ini padaku?" Lirihnya di sertai isakan.

Wonwoo meninggalkan kamar mandi dengan air mata yang masih mengalir deras diwajahnya. Meninggalkan wastafel yang masih meneteskan sedikit air dan juga meninggalkan cermin besar wastafel yang ternodai dan berbau anyir.

Sebuah tulisan dengan huruf capital terdapat di cermin datar tersebut,

-Get down, Jeon Wonwoo-

.

.

.

.

Mingyu menggeliat. Mengucek matanya karena sinar mentari yang masuk dan menerobos celah jendela kamarnya. Ia melirik sekilas Wonwoo yang tertidur sambil memeluk tangan kirinya. Mingyu tersenyum.

Pria bermarga Kim tersebut memperhatikan wajah Wonwoo dengan seksama. Jari-jari Mingyu yang panjang bergerak menelusuri wajah damai Wonwoo yang terlelap. Kapan terakhir ia memperlakukan Wonwoo seperti ini? Tidak, mereka belum pernah seperti ini sebelumnya. Bersyukurlah pada bajingan sialan itu yang membuat Wonwoo mau tidur seranjang dengannya.

Mingyu bangkit. Setidaknya ia masih harus pergi kekantor. Proyeknya di Jeju terancam gagal dan kantor cabangnya di Jejupun terancam bangkrut. Tidak, Mingyu takkan membiarkannya.

Pria itu meraih handuk dan memasuki kamar mandi. Masuk kebilik shower setelah melepas semua pakaiannya. Tangannya yang panjang dan kekar beralih menyalakan shower. Dan detik berikutnya, air dingin mengguyur tubuhnya. Menyegarkannya.

Setelah sekitar lima belas menit, Mingyu membelit pinggangnya dengan handuk dan keluar dari bilik shower. Begitu di depan wastafel, ia membatu seketika. Hanya bola matanya yang bergerak menjelajahi cermin lebar di depannya.

Cermin yang kotor oleh lumuran darah yang membentuk tulisan. Bau anyir menguar. Kenapa ia abru sadar ada tulisan itu dikamar mandi, yang itu artinya semalam si brengsek kembali kerumahnya? Ck, selengah itukah dia?

Mingyu teringat Wonwoo, apa Wonwoo melihatnya? Semalam Mingyu dalam keadaan setengah sadar mendengar istrinya itu bangkit dan berjalan kekamar mandi. Tadi, ia tak mendengar apa-apa lagi. Biasanya Wonwoo akan langsung histeris, dan mengamuk. Tapi tidak. Semalam yang ia dengar hanya derit ranjangnya yang menandakan Wonwoo kembali masuk kedalam gulungan selimut.

Mingyu menghela napas panjang. Tangannya gak bergetar saat menarik gulungan tissue yang ada di dekatnya. Membasahi sedikit tisu itu dengan air dan mulai mengelap cermin. Membersihkan noda darah itu dengan fikiran yang berkecamuk.

.

.

.

.

"Wonu-ya, makanlah, aku yang suapi ya. . ." Bujuk Jihoon dengan nampan makanan di tangannya.

Wonwoo menggeleng tegas. "Tidak mau."

"Tadi kau bilang kau ingin makan sup rumput laut, ini sudah dibuatkan oleh Boo Seungkwan." Ucap Jihoon lagi.

Wonwoo kembali menggeleng. "Tidak. Pokoknya sekali tidak tetap tidak. Titik." Wonwoo melipat tangannya dan menggeleng kuat.

Jihoon mendengus pelan. "Ayolah, kau sudah seharian tidak makan."

"Tidak."

"Wonu-ya~"

"Tidak!"

"Kumohon, sesuap saja~"

"Tidak. Mau."

"Jeon Wonwoo~"

"Lee Jihoon, Tidak!"

"Jeon Wonwoo! Aish!"

"Pokoknya tidak!"

"Ada apa ini, hm?" Mingyu menginterupsi percakapan dua orang itu. menghampiri mereka dengan wajah lelah. Ia baru pulang dari kantor. Jasnya sudah dilepasnya, dan dia juga sudah menggulung lengan kemeja putihnya.

Mingyu menatap Wonwoo yang cemberut dengan tangan terlipat rapih didada. "Ada apa?" Tanyanya lembut, mengusap sayang surai Wonwoo.

"Wonwoo tidak mau makan, Tuan!" Adu Jihoon cepat. Wonwoo mencebik.

"Aku hanya mau makan sesuai keinginanku." Bela Wonwoo.

"Memangnya kau mau apa?" Heran Mingyu. Tak biasanya Jihoon sampai kewalahan begini.

"Err. . . itu. . ." Jihoon menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

"Aku ingin makan sup rumput laut." Jawab Wonwoo lagi.

"Hm? Bukankah yang dinampan itu sup rumput laut?" Bingung Mingyu.

"Aku tak mau yang itu." Ketus Wonwoo, masih tetap dengan cemberutnya yang membuat Mingyu gemas setengah mati.

"Lalu, yang mana?"

"Aku ingin sup rumput laut yang dibuat olehmu sendiri, Kim." Jawab Wonwoo, menatap Mingyu yang menaikkan sebelah alisnya.

"Heh? Tak biasanya." Keluh Mingyu.

"Aku tak mau tahu. Pokoknya harus kau yang buat. Kalau tidak, aku tak mau makan!" Tegas Wonwoo.

"Tapi yang ini sama saja, Wonu-ya."

"Tidak sama." Cela Wonwoo.

Mingyu membuang muka. God, tubuhnya benar-benar lelah hari ini. Ia baru saja selesai memeriksa dua puluh lebih proposal baru untuk pengalihan bisnisnya di Jeju-do.

"Lalu, aku yang harus membuatnya, begitu?"

Wonwoo mengangguk. "Dengan resep Eommaku." Tandasnya.

Mingyu berjengit. Mengusap wajahnya kasar. Ia pernah dengar yang seperti ini. Dulu, saat istri Soonyoung hamil, Mingyu pernah dengar bahwa istri Soonyoung meminta yang tidak-tidak. Salah satunya seperti ini.

"Baiklah."

"Mansae!" Girang Wonwoo.

Mingyu bangkit, menuju dapur sambil menghela napas pelan. Ia lelak tidh, tapi bagaimanapun Wonwoo harus makan, kan? Ia tak mungkin membiarkannya bersikeras kelaparan seperti itu. bisa-bisa ia tidur semalaman karena terus fikirkan Wonwoo.

Wonwoo mengikuti Mingyu kedapur sambil menggenggam kelingking kanan Mingyu. Hanya kelingkingnya saja. Karena tangan Mingyu terlalu lebar dan besar untuk dia genggam seluruhnya. Mingyu tersenyum gemas melihat tingkah Wonwoo.

.

.

.

"Ingat, Gyu-ie, pakai resep Eommaku!" Seru Wonwoo menginterupsi Mingyu.

Mingyu yang sedang mencuci rumput laut menegakkan telinganya, Gyu-ie? Kenapa tidak dari dulu saja Wonwoo memanggilnya begitu? Bukankah itu sangat manis? Mingyu lagi-lagi tersenyum kecil karenanya.

"Memang apa bedanya resep yang umum dengan yang Eommamu pakai?" Heran Mingyu.

Wonwoo menghampiri. "Entahlah, tetapi buatan Eommaku enak sekali dan rasanya beda dari pada biasanya." Ucap Wonwoo, membetulkan ikatan apron Mingyu. Dari belakang. Yang secara tak langsung memeluknya dari belakang. Mingyu merinding. Ini pertama kalinya Wonwoo begitu padanya. Dan Mingyu mengutuk jantungnya yang serasa melompat-lompat.

"Lalu, aku harus bagaimana untuk dapatkan resep Eomma mu, sayang? Ini sudah jam sebelas malam." Mingyu berbalik menatap Wonwoo yang berdiri di hadapannya.

"Telepon saja, Eomma belum tidur jam segini." Sahut Wonwoo.

Mingyu agak malas mendengarnya. Ia belum pernah menelpon mertuanya sekalipun sejak menikahi Wonwoo. Keterlaluan? Jelas. Ia sibuk sekali mengurusi perusahaannya yang luar biasa besar itu.

Mingyu meraih ponselnya. Mencari-cari kontak mertuanya sendiri. Lalu menekan tombol panggil, meloud speakernya agar Wonwoo bisa ikut mendengarnya.

"Halo?"

"Ha-hoam . . . halo. . Mingyu-ssi? Ada apa?" Sahut suara wanita di seberang sana, terdengar serak. Mungkin ia baru bangun tidur.

Mingyu menatap Wonwoo dalam dan yang ditatapnya hanya nyengir sambil menggerling manja. Dan ingatkan Mingyu kalau sekarang ia sedang di dapur. Jangan sampai ia ereksi hanya karna sebuah kerlingan.

"Begini, Eomma. . . Wonwoo minta di buatkan sup rumput laut dan dia ingin pakai resep Eomma, bisa Eomma bantu aku?" Tanya Mingyu.

"Hm? Begitu, sedang manja,ya, dia. ." Sahut Eomma Wonwoo.

"Ya~ begitulah. Padahal aku lelah, Eomma~" Rengek Mingyu, oh ayolah Kim Mingyu.

Wonwoo memukul pelan bahu Mingyu. "Eomma, cepat ajari dia. Menantumu ini sangat tidak bisa di andalkan, Eomma. Aku mencintaimu, Eomma!" Ucap Wonwoo, ikut-ikutan bicara di ponsel Mingyu.

Eomma Wonwoo tertawa lembut mendengar. "Baiklah, aku mengerti. Mari kita mulai." Ujar wanita itu. "Aku akan memandumu lewat telepon, Mingyu-ssi." Ucap Eomma Wonwoo lagi.

"Hm, baiklah."

Wonwoo berjalan menuju conter dapur dan duduk diatas kursi tinggi di seberang meja. Menopang dagunya dengan tangan kanan bertumpu pada meja itu. mengawasi Mingyu yang mulai asik memasak dengan panduan eommanya lewat telepon.

Wonwoo menguap. Ia mulai mengantuk. Beberapa kali ia memejamkan mata dan menggeleng pelan. Matanya benar-benar terasa berat. Dan tanpa sadar, Wonwoo membiarkan matanya tertutup. Sedangkan kepalanya ia rebahkan di meja.

.

.

.

.

Setelah satu jam lebih berkutat dengan acara memasaknya, Mingyu meraih ponselnya yang masih tersambung dengan Eomma Wonwoo.

"Aku sudah selesai, Eomma. Terima kasih atas panduannya." Ucap Mingyu sopan.

"Hahhaha, bukan masalah, Mingyu-ya. Oh ya, kalau begitu kututup ya, aku mengantuk. Dan sampaikan salamku pada Wonwoo. Terima kasih sudah menjaganya, Mingyu-ya." Ucap Eomma WOnwoo lembut.

"Baiklah, aku mengerti, EOmma."

Pip. Sambungan telepon terputus. Mingyu memasukka ponselnya kesaku lagi. Ia meraih mangkuk sup rumput laut itu. meletakkannya diatas nampan kecil. Lalu berbalik, hendak menghampiri Wonwoo.

"Wonu-ya, pesananmu siapa~" Ujar Mingyu riang, meski matanya sudah mengantuk sekali.

Mingyu menghampiri meja conter dapur. Meletakkan nampannya di meja. Menghela napas panjang melihat Wonwoo yang tertidur dengan merebahkan kepalanya diatas meja conter. Napasnya teratur dan terdengar dengukuran halus yang menandakan Wonwoo sudah terlelap.

Mingyu menggeleng pelan. Gemas bukan main. Tadi siapa coba yang bersikeras minta di masak kan sup rumput laut? Dan lihatlah, Wonwoo terlelap pulas sekali ketika permintaannya selesai dikabulkan.

"Wonu-ya." Mingyu menepuk pelan pundak Wonwoo.

"Bangunlah, jangan tidur disini. Kau bisa sakit." Ucapnya lagi, kali ini mengguncang pelan bahu Wonwoo.

Wonwoo menggeliat. Melihat sekelilingnya dengan celingukan. Dan demi apapun itu, Mingyu gemas setengah mati melihatnya.

"Supmu sudah matang, Wonu-ya." Ujar Mingyu, menunjuk nampan di dekat mereka. Wonwoo menatap mangkuk itu.

Aroma sup yang menguar menggoda hidungnya. Tapi ia benar-benar mangantuk. Wonwoo meraih sendoknya. "Hm." Ucapnya.

Perlahan, tanganya menyendok sup itu dan menyuapkannya kedalam mulutnya. Sementara Mingyu mematung di depannya. Betapa menggemaskannya Wonwoo saat makan. Apa lagi saat bibirnya mengerucut meniup sup yang masih panas.

Setelah beberapa sendok, Wonwoo berucap. "Susuku, mana, Gyu?" Tanyanya.

Mingyu meraih susu yang tadi diletakkan Jihoon di sisi lain meja conter dapur. Susu itu sudah mendingin. Menyodorkannya kehadapan Wonwoo.

Wonwoo mereguk habis susu itu sampai tetes terakhir. Kemudian dengan begitu polos menjilat sisa cairan vanilla itu yang membekas di sekitar bibirnya. Dan lagi, Mingyu membeku ditempat. Astaga, dia benar-benar ingin memakan Wonwoo rasanya.

"Aku mengantuk. Ayo tidur~" rengek Wonwoo.

"Ayo," Mingyu mengulurkan tangannya.

"Gendong~" Wonwoo melebarkan kedua tangannya. Mingyu mengulum senyumnya. Apa ada makhluk yang lebih menggemaskan dari istrinya ini? Tidak. Tidak ada. Bahkan Jihoon yang mungil pun tidak semenggemaskannya Wonwoo. Tentu saja, karena Jihoon sangat galak.

Mingyu merendahkan tubuhnya. Membiarkan Wonwoo naik kepunggungnya. Kemudian, Wonwoo dengan cepat naik kesana dan memeluk erat leher Mingyu. Ini pertama kalinya mereka bertingkah seperti itu.

Mingyu membawa langkahnya menuju kamarnya. Dan ia menghela napas berat saat melihat undakan tangga menuju kamarnya. Persiapkan betismu, Kim.

Mingyu mulai melangkah. Ia merasakan Wonwoo yang kembali tertidur di ceruk lehernya. Hangat, apa lagi saat hembusan napas Wonwoo menerpa permukaan kulit Mingyu.

.

.

.

.

Mingyu berjalan tergesa meninggalkan ruang kerjanya. Ia melangkahkan kakinya sangat cepat bahkan berlari. Ia mengabaikan para pegawainya yang menyapanya. Atau sekedar membungkuk hormat ketiak ia lewat. Ia dikejar waktu, ia tak punya waktu untuk itu. keadaan benar-benar darurat dan ia harus segera sampai ketujuannya.

Mingyu berlari menuju mobilnya, mengeluarkan kunci mobilnya dengan terburu dari skau celananya. Mingyu bakan melupakan jas hitamnya. Lalu ia segera membuka kunci mobilnya. Duduk di kursi kemudi. Menstater Ferrari merahnya dan mulai melaju dengan kecepatan tinggi.

Mingyu berusaha setengah mati cepat sampai. Ia mengemudikan mobilnya dengan cepat membelah jalan raya Seoul yang padat. Melewati jalan-jalan sibuk dan mengumpat kasar saat lampu merah.

Ia benar-benar harus sampai. Ini pertaruhan dengan kerluaga kecilnya. Si brengsek itu sudah berani mengganggu sangat jauh.

Mingyu memasuki area apartemen mewah di Gangnam. Tapi ini bukan wilayah perumahan elitnya. Berbeda. Mingy uterus melajukan mobilnya. Matanya menyapukan pandangannya kesekeliling mencari nomor apartemen yang di tujunya. Dia memarkir mobilnya di sebuah basement apartemen yang cukup mewah.

Mingyu gerak cepat. Ia benar-benar marah setengah mati. Dan dia juga panic diwaktu bersamaan. Baru juga semalam Wonwoo bersikap manis padanya, dan sekarang dia sudah seperti ini?

Mingyu semakin mempercepat langkahnya. Ia mengumpat selama di dalam lift, tak sabar sekali. Ia harus cepat-cepat.

Lift terbuka dan berhenti di lantai tiga. Mingyu menyusuri lorong yang sepi itu mencari-cari nomor ruangan yang dicarinya. Dan ia berdiri di depan kamar bernomor 1719 itu. menatapnya penuh emosinya. Tangannya bergerak menggedor pintu.

"Yak! Brengsek! Buka pintunya!"

"Buka! Cepat buka! Sialan!"

.

.

.

.

Seorang pria bersurai pirang bergelung hangat di dalam selimut biru langitnya. Hari ini ia lubur bekerja dan ia ingin bermalas-mlasan sepanjang hari. Sampai suara gedoran pintu mengacaukan agendanya hari ini.

Brag! Brag! Brag!

"Buka pintunya! Cepat buka, bajingan!" umpat orang yang menggedor di balik pintu itu.

Pria pirang itu berdecak sebal. Ia bangkit bringsut dari tempat tidurnya. Merelakan ranjang hangatnya dan berjalan malas keluar kamar sambil sesekali mengusap wajahnya. Ia masih mengantuk setengah mati,

"Yah! Tunggu sebentar bodoh! Kau merusak pintuku!" Maki pria itu, Wong Yibo.

Tangannya memutar knop pintu dan membukanya. Dan seketika saja, sedetik setelah pintu terbuka sebuah tinju mendarat di pipi mulusnya hingga ia agak terhuyung.

BUGH!

"Argh! Apa-apaan ini?!" Murka Yibo. Tangannya memegangi sudut bibirnya yang berdarah.

"Bajingan! Dimana kau sembunyikan istriku?!"

BUGH!

Satu pukulan lagi dan Yibo membalasnya.

BUGH!

"Mana aku tahu, keparat!" Makinya pula.

Serentetan makian dan umpatan saling bersahutan dari dua pria yang sedang baku tonjok itu.

BUGH!

BUGH!

"WONG YIBO SIALAN! DIAMANA ISTRIKU!"

"MANA AKU TAHU BRENGSEK, KAU INI SUAMI MACAM APA?!"

Mingyu lagi-lagi meninju Yibo dan begitupun Yibo. Keduanya terus saling bergumul sampai di lantai. Satu kesempatan Mingyu yang ada diatas dan menghajar Yibo habis-habisan sedangkan waktu berikutnya Yibo yang menonjok Mingyu berulang kali.

"AKU TAK TAHU BODOH!" Maki Yibo sambil mendorong Mingyu menjauh darinya.

Keduanya bertatapan tajam saling membunuh lewat pandangan. Yibo menyusut sudut bibirnya yang berdarah. Dan Mingyu meringis pelan merasakan pipinya yang lebam. Keduanya sudah sama-sama babak belur.

"Apa maumu Kim Sialan? Pagi-pagi kau datang ketempatku dan menghajarku tak karuan seperti ini?!" Tanya Yibo sengit. Emosinya memuncak.

"Kau membawa kabur istriku lagi! Aku takkan membiarkanmu kali ini!"

"Apa? Aku bahkan tidak menelponnya seminggu belakangan!"

"Halah! Aku tak percaya mulut bajingan sepertimu!" Mingyu tersenyum meremehkan.

"Sialan! Kalau kau tak percaya kau boleh cari seluruh sudut apartemen ini!" Bentak Yibo akhirnya.

Mingyu berjalan menabrak bahu Yibo, pemuda bermarga Kim itu mulai menggeledah selruuh sudut ruangan,

"Jeon Wonwoo! Dimana kau?!"

"Keluarlah! Tak ada gunanya sembunyi!" Mingyu masih terus mencari di seluruh sudut ruangan itu.

Sementara Yibo menunggunya di sofa sambil mengompres lukanya dengan alkohol. Berdecih berulang kali melihat tingkah Mingyu yang menurutnya luar biasa tolol.

Menyembunyikan Wonwoo? Gila. Yang benar saja. Ia bahkan baru berfikir untuk move on dari Wonwoo.

Setelah lima belas menit berkeliling sambil memanggil-manggil Wonwoo layaknya orang gila, Mingyu kembali kehadapan Yibo dengan wajah kesal.

"Bajingan. Kau sembunyikan dimana WOnwoo?" Bentak Mingyu lagi.

Yibo memutar matanya malas. "Astaga. Mana aku tahu." Sahutnya kesal.

"Tak usah berbohong. Terakhir, hanya kau yang berani mengajak Wonwoo keluar!"

"Salahmu sendiri mengurungnya! Makanya dia kabur!"

Keduanya terdiam. Dering ponsel Minggyu memecah keheningan apartemen itu.

Sebuah nomor tak dikenal. Mingyu mengangkatnya malas.

"Halo?"

"Kim Mingyu, mencari istrimu? Tenanglah. Istrimu sudah berada di tangan yang tepat."

"Ming-ugh yuh. . . tolong aku. . arghhh!" Itu suara Wonwoo yang mengerang keskaitan.

"Wonwoo? Kau dimana, jeon?" Mingyu panic.

Suara berat orang tak dikenal itu kembali terdengar. "Jemput dia kalau kau mau. Get down, Kim Mingyu."

Pip.

.

.

.

.

To be continued OR END?

Review Please.

Note: duhh typo bertebaran. Oh ya, bau-bau end sudah mulai tercium yah. Reviewnya ditunggu.

KECEPATAN UPDATE TERGANTUNG BANYAKNYA REVIEW.