"... apa yang harus kulakukan?" Bisik Nagisa pada dirinya sendiri. Angin menari pelan memainkan hilir rambutnya. Awan bergumul seadanya. Dan ranting berdansa. Cukup untuk membuat suasana gloomy—

"Apanya yang harus dilakukan, Nagisa-kun?"

—Setidaknya sampai gurita kuning mengacaukan melo drama itu.


.Assassination Classroom © Yuusei Matsui

Unexpected © Akari Hikari & Atsui Tatsumi

Warning : typo (s), Out of Character, penuh dengan ketidakjelasan, dan kekurangan lainnya.

Kami tidak mengambil keuntungan apapun dari fanfic ini. Semua hanya sebatas kesenangan semata.

Chapter 2—


"Gyaaa..! Koro-sensei jangan mengagetkanku seperti itu dong!" Nagisa menyipitkan matanya sekemudian menghela nafas, melalui ekor matanya ia memperhatikan si kuning yang tengah membawa secangkir teh dengan siluet uap-uap hangat—berarti baru dibuat.

"Aku bingung, Koro-sensei," ia menarik pisau anti sensei dan menodongkannya pada si alien.

"..Tentang apa?" Tidak mengubah posisi, baik Koro-sensei maupun Nagisa sendiri. Hanya sebatas menodongkan.

"Tentang rasa suka sebagai teman dan suka lebih dari teman," jawab Nagisa pelan. Ia menghela nafas berat.

"Muehehehe," Koro-sensei terkekeh pelan. "Jadi itu yang membuatmu tampak menyeramkan dari tadi?"

"A-ah.. ma-maaf."

"Kupikir itu juga hal rumit. Hal percintaan itu." Koro-sensei menerawang jauh seolah menelanjangi masa lalunya. Ketika memori-memori itu kembali berputar di benaknya, senyumannya mengembang lebih lebar.

Nagisa diam, menunggu gurunya kembali berbicara.

"Tapi, Nagisa-kun, sesimplenya itu kalau kau menganggapnya lebih dari teman pasti kau kesal kalau ada lawan jenis yang mendekati orang yang kau suka secara romantical way–kumaksud," Koro-sensei menoleh wajah dengan senyuman lebar itu tak kunjung berubah. Dan mulai menyesap teh yang sudah ditiupnya.

"Tapi.. bagaimana kalau aku hanya kesal kalau ada orang yang merebutnya? Sebatas teman kumaksud.."

"Hmm," alien kuning itu tampak tertarik dengan masalah muridnya ini, "Apa kau yakin itu hanyalah sebatas teman?"

"E-eh?" Nagisa meneguk ludahnya.

"Jika kau kesal karena ada orang yang mau merebutnya, itu namanya cemburu, bukan?" Koro-sensei menepuk surai kebiruan milik muridnya dengan tentakel kuning miliknya. "Tapi justru mencurigakan kalau kau cemburu pada teman perempuanmu yang didekati oleh lelaki lain, bukan?" Kembai ia tertawa.

"Dari mana.." Nagisa menggerakan pisau, "..Sensei bisa tahu.." Serangan dengan mudah dihindari oleh si guru, "..Semacam itu!?"

Dengan kecepatan 20 march itu, si alien kuning mengambil tisu dan membungkus benda kehijauan itu. "Intinya Nagisa-kun.. Lebih baik menyesal karena tindakanmu daripada menyesal karena tidak melakukan apapun untuknya." Pandangan mereka bertemu.

Dalam benaknya, ia mulai berpikir, dan mulai menyetujui perkataan tersebut. Namun di sisi lain, Nagisa merasa kalau seluruh kalimat itu juga merupakan bentuk penyesalan gurunya terhadap cintanya di masa lalu.

"... Begitu ya."

Nagisa mundur dan membaringkan tubuhnya di rerumputan hijau. Kedua manik birunya menatap langit yang dipenuhi dengan hamparan awan putih. Otaknya berputar, mencerna lebih jauh ucapan gurunya itu.

"Sensei tidak mau menganggumu tapi, sudah mau masuk jam pelajaran, loh."

Nagisa bangkit duduk dan menarik nafas panjang. Kemudian ia tersenyum cerah pada gurita kuning itu.

"Terima kasih atas nasihatnya, Koro-sensei."

"Sama-sama ufufu.."

.


.

Lagi Nagisa menyoroti Kayano melalui tatapan matanya. Entah sudah keberapa kalinya. Dia hanya ingin memandanginya, sementara otaknya akan mulai berpikir lebih jauh mengenai pandangannya terhadap gadis itu.

Sudah berapa hari, ketika netra birunya menangkap sosok Kayano, dan dia akan melihat Karma pula yang telah berada di dekat gadis itu—mendekatinya secara terang-terangan.

Nagisa menghela nafas berat. Ternyata menyukai seseorang lebih susah dibanding yang ia kira. Terlebih lagi dengan adanya si setan merah yang terus mendekati pujaan hatinya. Sebenarnya salah Nagisa pula mengapa baru menyadarinya ketika Kayano telah didekati oleh Karma.

Andaikan ia menyadari perasaannya lebih cepat, pasti semuanya tidak akan berjalan seperti ini kan?

Helaan nafas keluar dari mulutnya. Ia merutuk segala sesuatunya.

"Sudah baikan nih?" Sugino menghampirinya seraya bertanya hati-hati.

Nagisa mengangguk dan tersenyum canggung. "Iya, sudah baikan. Maaf ya soal tempo lalu," dia memasang wajah menyesal.

"Iya. Tidak perlu dipikirkan," Sugino tersenyum dan bernafas lega karena lelaki itu telah menghapus wajah menyeramkannya sejak beberapa hari yang lalu.

"Apa kemarin aku seseram itu?" tanya Nagisa terkekeh pelan.

"Err ..." Sugino tersenyum kaku, ingin mengiyakannya tapi takut menyinggung perasaan temannya itu. Pada akhirnya ia menjawabnya asal, "Yah gitu deh."

"Nagisa, Sugino," sebuah tepukan di kedua pundak masing-masing anak. Isogai menyapa mereka dari belakang, sekaligus terlihat ingin menyampaikan sesuatu.

"Apaan, Isogai?"

"Gini lho.." Sang ketua kelas memelankan suara akan tetapi cukup untuk dua orang lain itu menangkap, "Rencananya Karma minta bantuin anak sekelas buat nembak anak perempuan disini."

"Ha?" Kali ini kedua alis Nagisa tertekuk dalam. "Karma-kun meminta seperti itu?"

"Iya," Isogai mengangguk. Ia tersenyum geli. "Siapa sangka seorang Akabane Karma akan meminta begituan."

"Wah, sepertinya menarik!" seru Sugino yang tampak semangat. "Memangnya siapa perempuan itu?"

"Memangnya siapa lagi..?" Pemuda ikemen kelas 3-E itu menyahut, masih menjaga suaranya.

"..Huh?"

"Bukannya itu sudah jelas?" Isogai melipat tangannya di dada. "Memangnya kalian enggak lihat akhir-akhir ini Karma nempel ama siapa?"

"..O-oh begitu.." Nagisa mengulum senyumannya dengan penuh terpaksa. Lalu dia memijit kepalanya yang terasa sedikit pening, "lalu.. kapan? Pas setelah pulang sekolah..?"

"Ya entahlah. Tunggu aba-aba nya saja," Isogai mengangkat bahunya, "dia minta agar seluruh anak-anak kelas datang. Tapi, enggak bilang siapa—biar jadi kejutan gitu katanya."

"Eh ..."

Isogai nyengir, "Yah meski sudah ketahuan sih"

Hmm, kalau begitu aku masih punya kesempatan.

Nagisa segera membuat tekad kuat di hatinya. Jika gadis yang akan ditembak Karma adalah Kayano, maka dia harus satu langkah lebih cepat dari si setan merah itu.

.


.

"Kayano," Nagisa memanggil gadis itu ketika jam pelajaran telah usai. Teman-temannya mulai mengemasi barang dan beranjak pulang.

"Ada apa?" Kayano berjalan mendekat.

"Itu.. hari ini.. " lidah Nagisa terasa kelu. Padahal kan skenarionya tertera jelas di otaknya. Ajak seorang Kayano Kaede pulang bareng hari ini.

Sesimple garis lurus.

"Hmm?" Dan Kayano masih menunggu Nagisa menyelesaikan kalimatnya.

"Kau ... mau pulang bareng denganku, gak?" kalimat itu akhirnya terlontarkan.

"Uhn," Kayano mengangguk riang. Ia tersenyum manis. "Tentu saja."

Bagus. Skenarionya berjalan sesuai perkiraannya.

"Kalau begitu, biarkan aku piket dulu sebentar ya?" Perempuan itu menunjuk papan tulis. Si azure hanya mengangguk, memutuskan untuk mengurusi bawaannya. Senyuman terpahat dengan rapi. Entah, rasanya sangat bahagia sekali. Mungkin jika ia akan di komentari 'creepy' nanti.

"Oh, bahagia sekali, Nagisa. Padahal kemarin seram setengah mati," Kataoka menyahut.

Nagisa menoleh dan terkekeh canggung. "Ehehehe. Maaf ya atas tempo lalu."

"Yup, yup~ Jangan khawatir."

"Nah, selesai," Kayano segera meletakkan penghapus itu dan mengambil tasnya. "Ayo, kita pulang~!"

Nagisa kembali tersenyum dan mengangguk. Mengikuti langkah riang gadis bersurai hijau di depannya. Sungguh senang rasanya.

"Kayano.." panggil pemuda disebelahnya.

"Hm?"

"..Kau dengar gossipnya?" Tanya Nagisa sekedar memastikan.

"Oh? Gossip soal Karma-kun? Iya. Tentu saja dia memberi tahu anak sekelas. Kalau ada gadis yang dia sukai dan ingin tembak." Dengan nada riang ia menjawab. Cukup membuat kesal si bluenette.

"Kau tahu siapa yang ingin dia tembak?" tanya Nagisa dengan hati-hati. Manik azurenya memperhatikan perubahan mimik wajah gadis mungil itu.

"Hmm," tanpa melepas senyumannya, ia berkata dengan riang, "entahlah~ aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya."

"Lalu kenapa kamu terlihat senang sekali?"

"Habisnya Karma-kun keren sekali!"

"Ke–keren?" suara Nagisa seolah tercekat di tenggorokan.

"Iya!" Kayano kembali mengangguk riang.

"Apanya yang keren?" Nagisa meneguk ludahnya.

"Maksudku, berani nembak perempuan yang ia suka dengan memberi tahu seluruh isi kelas 3-E! Bukannya itu benar-benar berani?" Kayano menjawab. Iris hazelnya mengandung kekaguman yang dalam.

Nagisa terdiam, berani menyatakan cinta pada orang yang disukai ya...? Kedua bola biru langit itu meredup.

"Hei, Kayano," Nagisa berbisik pelan, namun Kayano dapat mendengarnya dengan jelas. Angin berhembus, membelai punggung mereka.

"Ya?" Kayano menoleh, menatap sepasang iris azure.

"Jangan dekat-dekat Karma-kun," ia memulai dengan tatapan ke bawah.

"Maksudmu?"

"Bukannya kita bikin perkumpulan jones abadi dengan Okajima-kun!?"

"Kapan!?"

Nagisa tertawa pelan, ketegangannya berhasil diturunkan. Tetapi, pandangannya masih terkunci ke bawah.

"... Apa kamu suka Karma-kun?"

"Suka? Tentu saja suka. Dia pemuda yang baik.. Meski suka iseng sih."

Pemuda yang baik? Apa kamu melihatnya sebagai lelaki?

Nagisa menggigit bibir bawahnya. Kemudian menghela nafas berat, seolah di pundaknya terdapat beribu beban.

"Nagisa?" Dia memanggil. Tapi, si kepala biru berjalan itu tak memperoduksi sepatah kata.

"..Sebenarnya ada seseorang yang menyukaimu. Jadi, dia memintaku untuk menjagamu dari lelaki lain," Nagisa menghela nafas berat.

Mata amber itu meredup, "Jadi.. Kau menjagaku?"

"...iya"

"Kenapa ...?" bisik Kayano pelan. Entah mengapa mimik wajahnya terlihat agak kecewa. Kembali angin berhembus, mengirim sensasi dingin yang menusuk kulit. Ia menarik nafas panjang.

"Huh?"

"Ahh, kau terlalu baik,"

"..Mungkin."

Tidak ada dari keduanya yang membuka percakapan.

"Memangnya siapa.. orang itu?" Alisnya Kayano berkedut.

"A-ah.. dia tidak mau identitasnya disebut," Nagisa gelagapan.

Kayano bergumam sebentar, "Seharusnya jika dia memang lelaki.. ia berani mengatakannya–sama seperti Karma-kun."

"E–eh!?" Nagisa terbelalak. Bagai disambar petir rasanya. Sungguh sakit dibilang begitu oleh orang yang disukai.

"Bagaimana ... Kalau misalnya aku adalah orang itu?" tanya Nagisa hati-hati dengan penuh penekanan di kata 'misal'.

"... Entah" Kayano memandang ke arah lain. Tiap inchi wajahnya terasa panas.

"Tapi, kalau begitu aku tidak akan mengetahuinya.. kalau Nagisa tidak bilang padaku."

"Kalau Nagisa memang ingin tahu maka katakan padaku. Sekarang," Kayano tersenyum penuh dengan rona merah di kedua pipi, entah itu karena senja, atau dari rasa malu Kayano sendiri.

"I–itu kan cuma misalnya," Nagisa memalingkan wajahnya. Merasa kalau pipinya sedikit memanas.

"Oh, iya, ya," Kayano tertawa kikuk seraya menggaruk helai hijaunya yang tidak gatal. Namun Nagisa dapat melihat kilat kekecawaan di balik matanya.

"..Kayano.." kali ini si surai biru memanggil.

"Hm?"

Tapi, Nagisa tersenyum selagi menikmati wajah si kepala hijau yang tengah diterpa cahaya sore.

"... Tidak. Bukan apa-apa."

.


.

Gosip itu semakin memanas di kelas. Kapan pun Nagisa duduk atau berbicara dengan seseorang, pasti akan berujung dengan gosip tersebut. Nagisa lelah menanggapinya.

"Memangnya siapa sih perempuan itu?!" gumamnya kesal.

"Ngomong apa sih, Nagisa?" Nakamura Rio menyahut iseng.

"Bu-bukan apa-apa..." Nagisa mengibaskan tangannya.

"Semuanya~" suara berat pemuda merah tanggung terdengar di ruangan pada jam istirahat. Seluruh mahluk yang berada disana menengok refleks.

"Aku akan menyatakan perasaanku pada gadis yang kusukai sehabis pulang sekolah. Dukung aku ya!"

Nagisa mengerjap, sedangkan semuanya bersorak riuh. Pria blunette itu melirik pujaan hatinya yang duduk di samping kanannya. Kayano tersenyum kecil mendengar apa yang dilontarkan Karma.

"Kayano ..."

.

.

To Be Continued

.

.

Author's Note :

T: Hai~ Nama saya Atsui Tatsumi~

A: Halo~ Aku Akari Hikari.

T: Fanfic ini debut collab kami berdua~

A: Makasi yang udh meluangkan waktunya untuk membaca fic abal ini, hehe~!

T: Hehe.. Okeh mungkin begitu saja~

A: Terima kasih banyak yang sudah memfav dan follow, serta mereview fic abal ini~

T: Silahkan isi kolom review demi memperbagus dan menyemangati kami~

T & A: Akhir kata, sampai jumpa di chapter selanjutnya! Bye~!