Tittle: GET DOWN (Meanie)

Cast: Jeon Wonwoo

Kim Mingyu

Others

Genre: Yaoi, bdsm/?

Rated: M

Disclaimer: Plot ceritanya murni punya author, Wonwoo juga punya author.

Summary: Jeon Wonwoo, harus hidup menderita dengan statusnya sebagai istri Kim Mingyu.

DON'T LIKE DON'T READ AND REVIEW PLEASE

.

.

.

.

.

Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Wilayah pinggiran Seoul itu benar-benar sepi. Selain warganya sedikit, sebagian besar mereka juga sudah terlelap. Udara dingin berhembus menerpa kulit, cukup membuat menggigil. Bulan sabit mengintip dari celah awan pekat yang menghalanginya. Sementara apartemen itu lampunya masih menyala, angin masuk melalui celah gorden yang tertutup. Meski di luar sangat dingin, suhu di dalam ruangan itu memanas.

Seorang pria tampan dengan semangat mencumbu pria manis yang tak kuasa berada di bawahnya. Bibirnya yang tebal dan seksi menghisap dan melumat bibir tipis itu dengan belahan bibirnya. Mengulum lidah mungil dan hangat yang terselip di mulutnya. Membuat si manis dibawahnya mengerang dan melenguh nyaring.

Wonwoo bergetar. Ini pertama kalinya di dijamah oleh pria lain selain Mingyu. Memang, sosok yang diatasnya ini pernah ia harapkan untuk menyentuhnya dengan lembut dan penuh cinta seperti sekarang. Tapi entah mengapa ia merasa sakit, tidak, bukan fisiknya. Karena pria tampan itu bermain dengan sangat lembut dan manis, tanpa paksaan sedikitpun. Semuanya mengalir tenang namun bergairah. Tapi Wonwoo merasa bersalah, ia merasa mengkhianati Mingyu terlalu jauh.

"Eungh. . . arghh. . . h-hyunghh. . ." Wonwoo kembali merancau saat tiba-tiba merasakan juniornya digenggam erat dan diurut perlahan. Tangan besar dan panas itu bergerak naik turun memanjakan batangnya, membuat Wonwoo menggelinjang dan memejamkan matanya erat.

Ini benar-benar nikmat. Wonwoo akui itu. permainan Mingyu sama sekali bukan bandingan Hyung-nya ini, mantan kekasihnya dulu. Yang sekarang menculiknya paksa dari rumah suaminya sendiri.

Pria itu melepas ciumannya, beralih mengecupi batang junior Wonwoo yang ada di genggamannya. Menjilatnya lembut dengan lidahnya yang basah dan memabukkan, mengulumnya. Membuat tubuh kurus itu semakin memanas dan menggelinjang hebat.

"Arghh. . . anghhh fas-terhhh ahhh hyung-hhh!" Wonwoo bahkan merasakan matanya berair. Ia tak pernah merasakan kenikmatan seperti ini yang sampai membuatnya terbang melihat bintang. Ini permerkosaan, tapi kenapa Wonwoo begitu menikmatinya? Shit.

"Anghh! Unghh! Ahhhhhhh!" Wonwoo melenguh panjang mencapai klimaks pertamanya. Pria tampan itu tersenyum puas saat cairan kental Wonwoo menyembur di dalam mulutnya. Dengan lembut diraihnya dagu Wonwoo. Mereka kembali berciuman panas, dengan cairan kental Wonwoo yang mendominasi cumbuannya, menimbulkan bunyi kecipak erotis.

Si dominan kembali membaringkan tubuh kurus Wonwoo, perlahan, ia menggenggam juniornya sendiri. Mengocoknya pelan. Sementara Wonwoo masih mengatur napasnya setelah klimaks. Rambutnya basah kuyup, keringat bercucuran dipelipisnya. Napasnya tersenggal, namun pancaran napsu tersirat jelas di matanya.

Pria tampan itu dengan perlahan melebarkan paha Wonwoo. Mengecup ringan permukaan hole pemuda manis itu hingga Wonwoo mendesah pelan. Perlahan, jari panjang pria tampan itu masuk kedalam hole Wonwoo, membuat si manis kembali mendesah ringan.

Pria tampan itu kembali mengulum bibir Wonwoo, bersamaan dengan dua jarinya yang menyusul masuk dan mencoba melonggarkan hole sempit itu. Wonwoo mendesis disertai ringisan. Dia tak pernah seperti ini saat melakukannya dengan Mingyu. Tak pernah tau kalau foreplay akan membuatnya segila ini. Shit, Wonwoo mengutuk tubuhnya yang tak bisa kompromi dengan otaknya. Dia ingin berontak, namun tubuhnya tak sanggup melepas kenikmatan ini begitu saja.

Setelah Wonwoo kembali rileks, si tampan kembali menarik ketiga jarinya. Kemudian memposisikan juniornya yang menegang dan menebal di depan hole Wonwoo yang berkedut. Memasukkan perlahan kejantanannya yang besar itu. Wonwoo meringis. Air matanya jatuh mengalir pipinya.

"Maaf, hyung janji ini takkan sakit setelahnya. . ." Ujar si tampan, mengusap air mata Wonwoo yang sukses membuat hati pria manis itu bergetar. Dilemma.

Perlahan, derit tempat tidur mulai terdengar seiringan dengan genjotan yang dilakukan pria tampan itu, sementara desahan erotis yang nyaring mulai memenuhi ruangan itu,

"Angh! Akh! Angh! Hh-yunghhh shh!" Desah Wonwoo dengan air mata yang semakin berhamburan. Tubuhnya tak sanggup menahan kenikmatan seperti itu. ini terlalu memabukkan. Menyakitkan namun luar biasa nikmat di saat yang bersamaan, sensasi yang tak pernah Wonwoo rasakan sebelumnya.

Malam panjang, berakhir dengan lenguhan panjang kedua insan itu.

.

.

.

Wonwoo menyeka air matanya. Tubuhnya menyandar pada sandaran ranjang. Tubuhnya telanjang, hanya terbalut selimut yang tak begitu tebal. Sementara seorang pria tampan tertidur pula memeluk pinggangnya.

"Hiks. .. maafkan aku Mingyu-ya. . . maaf. . ." Lirih Wonwoo. Sebisa mungkin menahan isakannya. Ia benar-benar merasa hancur sekarang. Ia baru saja bersetubuh dengan orang yang bukan suaminya, dan Wonwoo merasa dirinya benar-benar rendah. Ia merasa seperti pelacur.

Ruangan itu remang-remang. Suasananya benar-benar hening. Hanya isakan pelan Wonwoo yang agak tertutup oleh dengkuran halus si tampan yang tidur disampingnya. Wonwoo menatap wajah disebelahnya. Sosok yang setelah sekian lama hadir kembali kedalam hidupnya.

Cinta pertama yang bahkan ia cintai sejak kanak-kanak. Wonwoo tau ia akan jauh lebih bahagia bersama pria itu daripada bersama Mingyu. Namun, ia sedang hamil. Dan ia tak ingin anaknya nanti menjadi korban kisah cinta segitiga ini.

"Hyung. . . kenapa kau seperti ini?" Lirih Wonwoo. Mengusap pelan surai hitam itu. Wonwoo tau, pria itu sangat mencintainya, dan sialnya, cinta itu berubah menjadi obsesi petaka yang membuatnya harus memiliki Wonwoo. Tidak peduli mantan kekasihnya itu sudah berkeluarga atau tidak.

.

.

.

.

Sehari setelah Mingyu menemukan sweater dan gelang Wonwoo, pria tampan itu tampak putus asa. Wajahnya blank, tatapannya kosong. Kemarin ia sudah melapor penemuannya pada polisi. Dan para polisi itu segera menyelidikinya, namun sampai detik ini, ia masih belum mendapat laporan apa-apa. Mingyu sudah menyuruh semua anak buahnya untuk mencari. Ia bahkan menyewa agen khusus untuk menyelidiki kasus ini agar Wonwoo segera di temukan.

Mingyu mengusap wajahnya kasar. Ia merasa benar-benar bingung. Tangannya terulur meraih Americano hangat yang ada di nakas, mereguknya sejenak. Mencoba mencari jalan keluar dari masalah buntu ini.

PRANG!

Tiba-tiba saja, kaca jendela kamar Mingyu pecah. Membuat pria itu terlonjak dari lamunannya. Dengan kalang kabut Mingyu bangkit, menatap nanar pecahan kaca yang berserah di hadapannya.. dan dia mendapati sebuah gulungan kain disana. Jangan bilang kalau itu kain berlumur darah lagi. Tapi, kain itu berwarna hitam.

Ceklek.

"Tuan? Anda tak apa? Tadi saya dengar suara barang pecah." Ucap Jihoon, masuk ruangan, Mingyu mengacuhkannya.

Tangan kekar itu terulur meraih kain itu. melepas pita yang mengikatnya, dan dia mendapati sebuah batu dan flashdisk di dalamnya. Mingyu mengangkat sebelah alisnya.

"Lee Jihoon, tolong ambilkan laptopku, bawa kesini." Suruh Mingyu datar. Jihoon hanya mengangguk dan segera menjalan kan perintah.

Mingyu duduk di ranjang, sampai lima menit kemudian Jihoon masuk membawa laptop Mingyu, menyerahkannya.

"Kau bereskan pecahan kaca yang berserakan ini, dan segera suruh Seokmin untuk mencari pengganti kaca yang pecah ini, dan memasangnya." Suruh Mingyu datar. Jihoon meringis, betapa lesunya Mingyu.

Mingyu menyalakan laptopnya. Memasang flashdisk temuan itu di sana. Dan mulai membukanya.

Flashdisk itu hanya berisi sebuah video. Satu buah klik dan video itu terputar di hadapan Mingyu. Belum sampai semenit, Mingyu membuang muka. Oleh telinga pria tampan itu terdengar suara retakan hatinya sendiri yang seolah berkeping, hancur lebur. Itu video Wonwoo bercinta dengan bajingan itu. demi Tuhan, Mingyu merasa emosinya naik sampai kekepalanya, bahkan begitu meluap-luap sampai tubuhnya bergetar tak sanggup menahan luapan emosinya sendiri.

Marah, kesal, kecewa, sedih, dan sakit hati bertubruk satu memnuhi ruang dalam diri Kim Mingyu.

BRAK!

Mingyu membanting laptopnya sendiri dengan sangat kencang. Sampai layar benda itu pecah dan terbelah menjadi dua.

Jihoon menoleh cepat, terkejut dengan suara yang ditimbulkan Mingyu. Terkejut melihat laptop Mingyu yang hancur di lantai. "Tu-tuan?" Jihoon berjengit.

"ARGH!" Mingyu mengacak rambutnya frustasi. Ia merasa harga dirinya sudah dinjak-injak. Harta berharganya di jamah orang lain.

Jihoon bungkam. Menunduk. Tangannya mengepal erat kain hitam yang tadi tergeletak di lantai.

"Tu-tuan, ini,. . . di kain ini terdapat alamat. . ." Lirih Jihoon. Tak ingin jadi sasaran keamarahan Mingyu.

Mingyu mengulurkan tangannya, dan dengan cepat Jihoon menyodorkannya.

Mingyu membaca dengan seksama alamat itu. tunggu, alamat ini cukup jauh.

.

.

.

Jeonghan menyeka air matanya lagi. Tissue sudah bertebran di sekitarnya. Ia terus menangis sejak beberapa jam yang lalu. Sementara Seungcheol menatapnya prihatin.

"Jeonghan-ah, jangan menangis lagi, matamu sudah merah. Kau bisa sakit nanti." Lirih Seungcheol, merangkul bahu si cantik.

"Hiks, aku tak bisa, Seungcheol-ah. . . Wonwoo. .. hiks. . . dia pasti sangat menderita bersama bajingan itu. . . hiks. . . sahabat macama apa aku ini. . ." Isak Jeonghan, sesekali menyeka air matanya.

"Sssht. . . ini bukan salahmu. Tidak ada yang bisa di salahkan disini. Sebaiknya kita berdoa, agar Wonwoo segera ketemu dan dalam keadaan baik-baik saja." Seungcheol memeluk hangat, mencoba menyalurkan ketenangan. Sementara Jeonghan hanya mengangguk pelan.

.

.

.

Bangunan bergaya eropa itu tak terlalu besar. Pekarangannya tertata rapih dan terlihat nyaman. Rumah itu adalah tempat tinggal Hong Jisoo, Dokter muda yang kini berdiri menyandar di dekat jendela. Menyandarkan bahu kirinya pada kusen jendela, menatap keluar dengan hampa. Tangannya meremas bandul kalungnya. Bergumam pelan,

"Tuhan, selamatkan Jeon Wonwoo, lindungi dia dan berkati dia." Bisiknya pelan. Terus menggumamkan doa. Hatinya berkecamuk. Dan fikirannya kacau. Ia hanya bisa berdoa dan membantu mencari sebisanya.

.

.

.

Mingyu mengenakan jaket kulit hitamnya. Menyelipkan sepucuk pistol di balik sakunya. Celananya terbalut celana jeans hitam mengkilat yang ketat. Penampilannya terlihat seperti anggota mafia. Jihoon terkesiap saat melihatnya, dengan derap langkah yang berat karena sepatu kulitnya.

Kalau menurut Mingyu dia terlihat seperti mafia, maka menurut Jihoon, Mingyu sangat keren seperti member boygroup yang akan promosi comeback dengan konsep seksi. /astaga/

"Lee Seokmin, siapkan mobilku." Suruh Mingyu, pada Seokmin yang juga terkesiap di sebelah Jihoon.

Mingyu mengusap wajahnya sejenak. Ia sudah putuskan, ia akan mendatangi alamat itu. Wonwoo harus secepatnya kembali padanya sebelum ia menjadi gila.

"Tuan, mobilnya sudah siap." Ucap Seokmin setelah beberapa menit. Mingyu langsung bangkit, berjalan keluar dengan diiringi tatapan sendu Jihoon.

Bagaimana kalau Mingyu terluka juga? Jihoon sudah cukup sakit hati dengan hilangnya Wonwoo. "Hati-hati, Tuan Kim." Lirih Jihoo, bagaimanapun ia sudah menganggap Mingyu keluarganya sendiri. Seburuk apapun perbuatan Mingyu.

Mingyu menstater Ferrari merahnya yang mengkilat. Memacu kecepatan. Membelah jalan raya yang cukup padat. Matanya sesekali melirik pada peta digital yang menunjukkan rutenya. Fokus pada perjalanannya, dia harus segera sampai.

Alamat itu cukup jauh, sampai memakan waktu hampir dua jam. Karena letaknya yang berada di ujung kota Seoul, sebuah daerah yang cukup terpencil. Mingyu mengelap peluhnya. Sejenak ia menepi. Melihat sekelilingnya.

Jajaran apartemen kelas bawah berjajar di tepi jalan, diselingi dengan flat-flat kumuh yang berdempetan satu sama lain. Mingyu berjengit, istrinya dibawa ketempat sekumuh ini? Bagaimana dengan kandungannya? Kandungan Wonwoo sangat sensitive dan rawan. Memikirkannya, membuat Mingyu mendengus kasar. Ia hampir gila karena hal ini.

Tak mau buang waktu, Mingyu turun dari mobilnya. Mulai menyusuri gang-gang sempit yang sepi itu. hanya ada anak-anak yang bermain disekitar situ. Mereka menatap Mingyu dengan tatapan kagum, seolah melihat idol yang ada ditv. Salahkan penampilan Mingyu yang terlalu tampan.

Mingyu terus berjalan, ia agak pusing juga dengan jalan yang berbelok-belok dan gang yang seolah taka da habisnya. Mengurut pelan pelipisnya sambil tetap menatap digital maps di ponsel sudah dekat.

Mingyu menatap bangunan di depannya. Sebuah apartemen kecil dengan cat yang pudar. Terlihat bobrok. Mingyu kembali mencocokan alamatnya. Benar, ini sudah sesuai. Dia hanya perlu naik kelantai tiga dan menemukan ruangannya.

Maka tanpa ragu, Mingyu mulai menyusurinya. Ia menaiki tangga, karena apartemen rendahan itu bahkan tak punya lift. Mingyu berdecih dan mengumpat-ngumpat sepanjang menaiki tangga. Apartemen itu sangat sepi. Tak ada seorangpun yang berpapasan dengannya. Hawanya begitu mencekam dan udaranya benar-benar buruk. Bau rokok yang bahkan menyatu dengan oksigen biasa.

Sampai di lantai tiga, Mingyu menyusuri lorong gelap itu. mencari ruangan yang ditujunya. Dan didepan sebuah kamar bercat cokelat tua, Mingyu berhenti. Telinganya menangkap suara yang amat dikenalnya, merintih kesakitan.

"Argh! H-hyung. .. s-sakit. . . perih. ."

Mingyu merasakan emosinya hampir meledak, , telinganya memerah mendengar rintihan itu.

Dengan wajah memerah, Mingyu mendobrak paksa pintu itu.

BRAK!

"Akhirnya kau datang juga, dasar lamban." Sebuah suara berat menyambutnya. Bahu Mingyu bergetar mendengarnya. Matanya memerah melihat bagaimana Wonwoo diperlakukan.

Pria tampan di depan Mingyu itu memegangi sebuah cambuk dengan rokok yang terselip dibibirnya. Tubuhnya terbalut kaus tanpa lengan berwarna hitam. Memakai jeans hitam belel yang kumal. Mingyu berjengit, memandang jijik makhluk didepannya.

"Ming-gyuh. . ." Lirih Wonwoo. Mingyu mengalihkan pandangannya.

Jeon Wonwoo, sosok manis itu terikat tak berdaya di tempat tidur. Tangannya di ikat dengan ujung tempat tidur. Ia hanya mengenakan kemeja putih tipis kebesaran yang sudah luruh. Bercak darah melumuri kemeja itu. bahkan bagiannya sudah terkoyak di beberapa bagian. Sementara kakinya hanya dibalut oleh celana dalam hitam.

"BAJINGAN! Beraninya kau menyiksa istriku?!" Bentak Mingyu kalap.

"Kenapa? Bukankah kau sendiri sering mencambukinya?" Balas pria itu, meremehkan.

.

.

.

.

Seungcheol berjalan masuk kerumah Mingyu, dan Jihoon yang kebetulan sedang di teras menyambutnya.

"Mingyu, ada?" Tanya Seungcheol tanpa basa-basi.

Jihoon terdiam. Ia mendesah pelan. Sementara Seungcheol menatap heran pemuda mungil didepannya. Pemuda bersurai jingga itu terlihat cemas, pipinya sembab dan kantung matanya agak membengkak, sepertinya dia habis menangis.

"Ming-mingyu. . ." Lirih Jihoon.

"Ada apa, Lee Jihoon-ssi? Kemana perginya Mingyu?" Tanya Seungcheol kemudian. Bingung dengan sikap Jihoon.

"Mingyu. . . dia mendapat kiriman teror juga."

"Eh? Apa?"

"Mingyu dikirimi alamat penculik itu dan sebuah video porno penculiknya dengan Wonwoo. . ." Lirih Jihoon dengan suara bergetar.

"APA?!" Seungcheol tercengang mendengarnya. I-itu artinya, Wonwoo diperkosa? Seketika Seungcheol bergidik ngeri. Ia tahu Mingyu juga sering memaksa Wonwoo, tapi ini berbeda. Astaga, Seungcheol tak bisa bayangkan bagaimana tersiksanya Wonwoo. Dia pasti merasa sangat terpukul dan hina. Wonwoo adalah tipe orang tertutup yang sangat membatasi interaksi dengan orang luar. Seungcheol yang sahabat baik Mingyu saja tak pernah bercakap banyak dengan pria emo itu.

Hening beberapa saat. Seungcheol tenggelam dengan fikirannya. Sampai ia berucap,

"Baiklah, kau tahu dimana alamatnya?"

Jihoon merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah kain hitam yang waktu itu ditemukannya. Menyodorkannya.

Seungcheol meraihnya, membacanya sekilas. "Baiklah, aku akan menyusulnya!" Putus Seungcheol.

"Ta-tapi, itu berbahaya Tuan." Lirih Jihoon, ia hanya tak ingin akan semakin banyak korban.

"Tidak. Keadaan Wonwoo lebih berbahaya sekarang ini. Ia harus segera diselamatkan." Tandas Seungcheol mantap.

Memasuki kembali mobil sportnya, dan mulai berlalu. Meninggalkan Jihoon yang hanya menunduk dengan fikirannya.

.

.

.

.

To be continued OR END?

Review Please

Note: Maaf author baru update, banyak banget halangannya minggu ini. Mulai dari authornya yang sibuk, terus jaringan internetnya gangguan, dan terakhir ada kesalahan teknis yang menyebabkan ini diundur updatenya. Maaf, beneran minta maaf T_T bukan maksud hati author nggantung kalian, author juga tau gimana gak enaknya nunggu :') ini udah mau END lho, mungkin tinggal dua atau tiga chapter lagi, nanti kalau banyak yg minat, author bikinin GET DOWN sessions 2

KECEPATAN UPDATE TERGANTUNG BANYAKNYA REVIEW