Assassination Classroom © Yuusei Matsui

Unexpected © Akari Hikari & Atsui Tatsumi

Warning : typo (s), Out of Character, penuh dengan ketidakjelasan, dan kekurangan lainnya.

Kami tidak mengambil keuntungan apapun dari fanfic ini. Semua hanya sebatas kesenangan semata

Chapter 3—


"CIIIIEEEEEE!"

Sorak sorai memenuhi ruang kelas. Penuh dengan ledekan dan godaan yang ditujukan untuk si setan merah itu. Sedangkan Karma hanya membalasnya dengan senyuman tipisnya.

Semua.

Kecuali, si trap. Yang tengah terdiam membidik si setan merah melalui tatapan datarnya.

Kalau kau suka orang percaya diri gitu.. Maka aku tidak akan bisa jadi sosok keren di matamu... Kayano, batin Nagisa seraya memperhatikan tingkah laku perempuan itu melalui mata kebiruannya.

Kayano hanya tersenyum kecil ketika memperhatikan lelaki bersurai kemerahan itu. Tampak senang dengan apa yang barusan terlontarkan dari Karma.

"Kayano," Satu suara baritone dari pemuda jenius itu bersuara. Kayano mendongak. Di antara back ground kelas yang ribut, Karma menggunakan tangannya untuk menepuk pundak itu seraya mendekat. "... Siap-siap nanti ya," bisik Karma dan langsung direspon anggukan semangat. Suara itu pelan, tapi tidak cukup pelan untuk seorang Shiota Nagisa.

Apa maksudnya..?

Setelah Karma pergi meninggalkan Kayano, Nagisa memberanikan diri untuk bertanya pada gadis itu.

"Siap-siap apa, Kayano?" bisik Nagisa pelan.

Kayano menoleh dan tersenyum manis. "Apa, ya~? Entahlah~"

TWICH

"O-oh.. begitu," relung dada Nagisa terasa sakit. Dan yang lebih menyakitkan senyuman Kayano semakin cerah. Entah apa yang akan terjadi nanti, Nagisa tidak tahu. Nagisa menghela nafas berat. Ah, ini menjengkelkan. Rasanya ia semakin tidak ingin itu terjadi.

Aku harus menghentikannya sebelum Karma bertindak lebih jauh.

Tapi, bagaimana?

Dan satu kalimat lurus nan jelas itu masih terputar di kepala Nagisa hingga bunyi bel sekolah pertanda usai berbunyi. Kepalanya tidak bisa mengeluarkan sebuah solusi, justru berdenyut memohon istirahat. Nagisa menghela nafas panjang dan segera memasukkan semua bukunya ke dalam tas. Pertanyaan itu terus berputar hingga ia tidak dapat berkonsentrasi saat pelajaran Koro-sensei tadi.

"Nagisa," Kayano kembali memanggil pria bluenette itu.

"Y-ya?" Ia agak tergagap mengingat siulet hijau itu ada di pikirannya sedari tadi.

"Mau pulang bareng lagi?" tawar gadis itu dengan riang. Senyuman manis terukir di bibirnya.

Nagisa terdiam beberapa saat sebelum mengangguk meng-iyakan. Jika kamu bukan perempuan yang ditembak Karma-kun..

Bel pulang berbunyi terdengar seperti lonceng kematian bagi Shiota Nagisa.

"Ayo, semuanya kutunggu di lapangan, ya?" Si rambut merah berucap dengan smirk khasnya.

Entah terkena mantera apa, semua anak mengikuti. Menuju lapangan seolah terkena hipnotis mereka membuat lingkaran dengan Karma yang berada di tengah.

"..Itu ada apa?" Menteri pertahanan Jepang itu menunjuk lewat kaca tipis.

"...Tenang saja, Karasuma. Bocah-bocah itu tidak akan membuat masalah," si pirang menyahut dan berlalu tetapi, mata safir itu mengunci pandangan ke gerombolan tersebut.

Nagisa mengigit bibir bawahnya. Meski tidak mau, namun kedua kakinya telah berdiri di sisi belakang lingkaran. Kedua manik azure-nya mencari gadis bersurai hijau itu yang entah dimana.

Kemana dia? Kemana!?

Benaknya mulai dipenuhi pertanyaan. Hatinya mulai resah ketika ia belum menangkap sosok tersebut. Seluruh lingkup penglihatannya diedarkan.

"Kenapa kita harus mengikutinya sih?" Yoshida melipat tangannya di dada tetapi tidak beranjak dari tempatnya.

"Aku ingin menyatakan cintaku untuk seorang perempuan.." suara berat remaja nanggung membuat Nagisa berhenti pada pencariannya.

"Dia seseorang yang berharga untuk diriku,"

"Orang yang mempunyai hati yang baik meskipun ia tak bisa mengatakan melalui mulut kakunya. Tetapi, dia selalu membuktikan dengan tindakannya," Karma menarik nafas, "Seseorang dengan senyuman lebar dan penuh semangat dengan hal yang disukainya."

Anak kelas 3 smp itu agaknya tecengang. Siapa sangka seorang pembuat onar bisa se'romantis' itu demi gadis yang disukainya? Cinta memang membutakan.

Nagisa kembali menggigit bibir bawahnya. Hatinya dipenuhi oleh rasa ketidaksukaan. Kedua tangannya terkepal erat hingga buku-buku jemarinya memutih.. Kilatan matanya menajam. Ah, dia benar-benar ingin menghentikannya. Dia tidak ingin Karma mengambilnya!

"O-oi? Nagisa?" bisik Sugino yang berada di sebelahnya dengan takut.

"Ya..?" Menjawab tenang tapi, tidak menukar kontak mata.

"Kau … menyeramkan."

"Diamlah, Sugino-kun," kata Nagisa tegas. Cukup untuk si surai biru tua menutup mulut.

"...Aku ingin menyatakan di hadapan kalian semua bahwa aku mencintai gadis ini," Karma mulai mengambil langkah untuk mendekat. Berjalan menuju arah timur.

Bak magnet kedua bola azure itu mengekor. Bersamaan itu ia menemukan sosok yang ia cari sedari tadi.

Kedua iris azure itu terbelalak melihatnya. Terlebih lagi ketika Karma menyunggingkan senyuman tipisnya ke arah sana. Nagisa menggeram di dalam hatinya. Rasanya sesak dan Nagisa tidak tahan lagi.

Sugino yang berdiri di sebelah pria blunette itu semakin bisa merasakan aura gelap Nagisa. Ia merinding dan secara refleks menggeser tubuhnya untuk menjauhi pemuda itu.

Begitu pula dengan Okajima, Maehara, dan Isogai yang berdiri di sekitar Nagisa. Bulu kuduk mereka terasa berdiri ketika menyadari aura gelapnya.

Tidak perlu insting pembunuh mereka untuk menyadari hawa bahaya dari pemuda manis itu. Bahkan orang bodoh bisa mengerti, kecuali dia punya penyakit air head akut.

Nagisa menatap Karma dengan tatapan membunuhnya. Ia menarik nafas panjang sebelum melangkahkan kakinya ke dalam lingkaran itu. Sosoknya menjadi pusat perhatian seluruh penghuni 3-E.

"Hm?" Alis Karma terangkat sebelah. Bibirnya kembali mengukir seringaian khasnya. Dengan penuh penekanan di setiap kata, ia bertanya, "Ada apa ini, Nagisa-kun?"

Tanpa berkata lebih lanjut, itu sama artinya dengan, 'kenapa kamu mengangguku?'

"..." pemilik helaian biru halus itu tak menjawab.

"Wah~ seram sekali wajahmu, Nagisa-kun," senyum itu masih terukir sempurna tanpa kecacatan .

"Sudah cukup, Karma-kun."

"Wah, jahat sekali. Melanggar HAM lho. Padahal aku hanya ingin mengutarakan apa yang kurasa. Bukan seperti orang yang tidak paham dan menyangkal perasaannya sendiri."

Lagi-lagi Nagisa tidak menjawab. Hanya menatapnya penuh dengan kekesalan.

"Hahaha, sekarang kau tidak bisa membalas ucapanku, ya?" tanya setan merah itu. Karma tertawa, tampak menikmatinya. Angin berhembus kencang, membelai punggung mereka dengan kasar.

"... Kau benar-benar memancing emosiku," ucap Nagisa dingin. Pria blunette itu terlihat beda dari biasanya.

"Hmm," Karma berdengung, senyum percaya diri masih terpangpang. Sikap arogan itu masih belum luput dari orang yang punya buntut Akabane di belakang namanya.

"...Kau tidak boleh memilikinya! Karena aku menyukainya!"

Suara riuh terdengar. Berbagai macam wajah terkejut menghiasi mereka. Para penghuni kelas 3-E itu berbisik-bisik, mempertanyakan siapa yang dimaksud oleh Nagisa.

"Hee?" Seringaian setan merah itu semakin lebar. Terpampang jelas wajah liciknya.

"Karena aku menyukai Kayano Kaede!" Nagisa mendeklarasi mendorong bahu Karma dan menggandeng tangan Kayano erat.

"HEEEEEEE!?"

"JADI SELAMA INI BENAR!?"

"DUGAAN KITA BENAR!"

Suara riuh kembali terdengar. Kali ini semakin riuh dan terdengar beberapa sorakan dan seruan untuk Nagisa. Bahkan Koro-Sensei sampai ikut-ikutan dari pinggir lingkaran.

Sedangkan Kayano sudah bagaikan kepiting rebus. Wajahnya benar-benar merah. Terlebih lagi genggaman erat dan wajah serius Nagisa yang membuat detak jantungnya berpacu abnormal.

"... Oh kau memang suka Kayano-chan. Tapi, bagaimana perasaan Kayano-chan?" Karma tersenyum sinis.

"E–eh!?" Kayano tersentak, semakin memerah. Kedua manik hazelnya menatap kedua manik azure yang menatapnya dengan lembut.

"Kayano," Nagisa berkata dengan lembut. Jelas berbeda dengan ia yang sebelumnya. "Katakan apa yang kau rasakan."

Kayano diam menatapnya sesaat. Genggamannya kian mengerat, seolah memberi ketenangan bagi gadis bersurai hijau itu.

"... Aku suka Nagisa," dia berkata pelan, "Suka.." lagi, dengan nada yang lebih pelan, "... Sangat menyukai Nagisa!" Dan kali ini berseru disertai dengab rona merah yang sudah menjalar cepat.

"Aku sangat menyayangi, Nagisa!"

"Ah," kedua manik azure itu tampak terkejut.

"Hee?" Si setan merah tampak semakin tertarik.

"Oh jadi kalian jadian nih? Selamat deh," Karma tersenyum tipis, bukan senyuman mengejek. Tetapi, kemudian mendekat ke arah Nagisa. "...Dasar kegeeran memangnya siapa yang pengen ngerebut Kayano-chan darimu, bodoh," dan kini seringaian itu menampakan dirinya secara penuh.

"Eh?"

Karma menarik pergelangan tangan Okuda yang tengah berdiri di sebelah Kayano. Sebuah kecupan ringan mendarat di pipi gadis itu.

"E–eh!? Ka-Ka-Karma-kun!?" Okuda menatap Karma dengan pandangan tidak percaya. Wajahnya semerah tomat kelewat matang. Sungguh malu dengan perlakuan lelaki itu.

"Untuk apa aku ngambil Kayano-chan? Kalau aku ingin mempunyai Okuda-san?" Dia menjulurkan lidahnya pengartian meledek. Mengabaikan wajah si biru.

"Jadi, Okuda-san.. Mau ya?"

"HEEEE!?"

"ASTAGA KUKIRA BAKAL ADA CINTA SEGITIGA!"

"GA NYANGKAAA!"

"YEEYYY DAPET PAJAK JADIAN DOUBLE DEH~!"

Okuda dapat mendengar kembali betapa riuhnya teman-teman sekelasnya. Demi apapun dia malu tingkat akut. Terlebih lagi ketika mendapat tatapan dari sepasang manik jingga di depannya.

"Tu-tunggu...! Aku kan belum jawab.." suara Okuda Minami dikalahkan oleh suara ribut teman sekelasnya.

Karma hanya terkekeh menikmati perilaku gadis raven di dekatnya.

"Jadi, aku diterima enggak?" Karma mengatakan dengan suara cukup pelan-sebenarnya teredam karena suara warga kelasnya, tidak mendapat jawaban dari dua belah bibir Okuda. Tetapi yang didapat hanyalah genggaman tangan Okuda kepadanya semakin erat. Juga dengan wajah memerah dia mengangguk, cukup membuat setan merah itu tersenyum puas.

"CIIIEEEEE~~~"

"PAJAK JADIAN DOUBLE PLUS PLUS NIH!"

"SELAMAT YAAA!"

Kali ini si setan merah melayangkan kembali tatapan jahilnya pada si blunette.

"Aku tidak menyangka kalau Nagisa bisa cemburu juga," ucapnya dengan nada jahil khas miliknya.

"Diamlah, Karma-kun," Nagisa memandang ke arah lain. Wajah manisnya diselimuti rona merah.

….

Nagisa menghela nafas, mengutuk acara barusan. Mesipun ada sisi di hatinya dimana ia bersyukur dirinya bisa jukur kepada gadis yang kini ada disebelahnya

"Nagisa," Kayano memanggilnya pelan. Iris hazelnya menatap iris azure. "Jadi yang waktu itu kau bicarakan ... Itu ... Umm …"

"..Ya-yang mana ya?" Nagisa mengerling agaknya mengorek-ngorek ingatan di brankas. Lebih lamban dikarenakan malu.

"Yang kau bilang kalau kau disuruh menjagaku," jeda sesaat sebelum gadis itu melanjutkannya, "sebenarnya itu keinginanmu kan?"

"Y-ya.. maaf ya. Kau marah?" Nagisa menggaruk pipi kanannya. Dilihatnya Kayano Kaede itu menggeleng.

Dan lalu perempuan itu nyengir iseng, "Jadi, Nagisa nikung temen sendiri nih?"

"E-eh enggak kok! Yang kumaksud orang itu adalah aku!"

"Jadi... kau benar-benar menyukaiku," Kayano tersenyum lembut.

"Kenapa kau mengira kalau Karma akan menyatakan cintanya padaku?" tanya Kayano penasaran.

"A–ah, itu ..." Nagisa mengusap tengkuknya kikuk. Agak bingung bagaimana ia harus menjelaskannya.

"Habisnya berhari-hari dia selalu mendekatimu.." ia menggembungkan pipi kanannya.

Sebenarnya masih ada lagi sih, Nagisa menambahkan dalam hati teringat soal permulaan bagaimana Karma mendekati si kepala hijau. Tapi, tetap membungkam mulut.

"...Jadi, yah kupikir.." Ia tak melanjutkan melihat langit senja. Rona merah di pipinya tersamar oleh warna oranye-selagi itu ia bersyukur.

"Kau ...cemburu?" Kayano mengerjapkan matanya. Kemudian tertawa geli ketika pria blunette itu terlalu malu untuk mengakuinya.

"Ha.. Habisnya!" Nagisa menarik pergerlangan tangan di gadis di kuncir dua itu. Tidak terlalu kencang tapi, cukup untuk mereka berdua berdekatan.

Entah berapa detik, Kayano menemukan dirinya tengah dicium oleh pemuda trap di hadapannya.

Ini bukan ciuman seperti waktu itu. Sangat berbeda seperti sebelumnya. Entah mengapa Nagisa menyukainya.

Itu bukan ciuman sekedar menenangkan Kayano bukan.

Bahkan durasinya tidak sepanjang 15 hits.

Hanya beberapa detik, namun sukses membuat keduanya bersemu merah seperti tomat kelewat matang.

"...Ma-maaf," Nagisa memandang ke arah lain.

"Aku hanya berfikir bagaimana memperlihatkan kau itu miliku dan.." memutus ucapan, terlalu malu.

"Ahahaha," Kayano tertawa pelan meski rona di wajahnya tidak kunjung hilang. "Ternyata Nagisa punya sisi seperti ini juga, ya."

Nagisa mengerutkan keningnya.

"Apa maksudmu?" Nagisa tidak paham.

"Sisi seperti ini darimu. Aku enggak nyangka cowok imut sepertimu juga bisa posesif," ujar Kayano dengan tampang tak berdosa. Gadis itu mengulum senyuman manis.

Nagisa tercengang. "I-imut?"

"Iya!" Kayano mengangguk.

"...Aku kan juga laki-laki meskipun, aku ini ehm.. cantik atau bertampang uke," Lagi, ciuman dilancarkan oleh Nagisa. Cukup membuat Kayano Kaede kaget.

"..Iya kan, Kaede?" Menyebutkan dengan nama kecil si perempuan dengan senyuman penuh.

Belum sempat Kayano menjawab, Nagisa kembali menghapus jarak mereka. Kembali merasakan sensasi kelembutan bibir gadis tersebut.

Wajah Kayano memerah. Terlebih lagi ketika Nagisa menghujani kecupan dibibirnya. Detak jantungnya berpacu sangat abnormal. Kayano merasa kalau dirinya meleleh karena lelaki blunette itu.

Beberapa detik hingga Nagisa memberi ruang diantara mereka, namun dahi mereka masih bersentuhan. Nagisa dapat merasakan hembusan nafas Kayano yang terengah. Wajah Kayano yang masih merona dan terlihat malu tampak lucu baginya.

"...Ayo pulang, Kaede," Nagisa tersenyum lembut seraya menggandeng Kayano Kaede.

"Ngh!" Kayano mendorong pundak sosok biru itu pelan. Dia memalingkan wajahnya. "Mou! Kau membuatku malu!" Ia berteriak rona kemerahan itu semakin merayap.

"...Eh ma-maaf," Nagisa mengerdipkan matanya bingung juga bercampur bersalah.

Justru Kayano semakin cemberut, "Dasar Nagisa bodoh!"

Nagisa tertawa geli melihat Kayano yang salah tingkah. Nagisa kembali menggenggam jemarinya. Jemari mereka kini saling berkaitan. Kayano akhirnya kembali menatapnya, meski rona kemerahan tak sepenuhnya hilang dari wajahnya.

"Ayo, pulang," Nagisa kembali melangkah dengan senyuman cerah di bibirnya.

"Iya." Kayano membalas senyumannya.

.

.

END

.

.

Author's Note:

Halo, minna-san! Maaf menunggu lama! Akhirnya apdet juga fiuhhh. Oke jadi langsung saja, bagaimana komentar kalian tentang chapter akhir ini? Ditunggu review nya ^^

Sampai jumpa~