Tittle: GET DOWN (Meanie)
Cast: Jeon Wonwoo
Kim Mingyu
Others
Genre: Yaoi, bdsm/?
Rated: M
Disclaimer: Plot ceritanya murni punya author, Wonwoo juga punya author.
Summary: Jeon Wonwoo, harus hidup menderita dengan statusnya sebagai istri Kim Mingyu.
Warning: (Special Chapter) FLASHBACK ON
DON'T LIKE DON'T READ AND REVIEW PLEASE
.
.
.
.
Mingyu membalik lembar majalah yang ada di hadapannya, metanya dengan serius menatap halaman demi halaman. Majalah yang ada ditangannya adalah sebuah majalah pria dewasa, dimana para model yang berpose di dalamnya dipotret hanya mengenakan pakaian dalam, baik pria maupun wanita.
Sejenak, mata tajam pria bermarga Kim itu terpaku. Tatapannya mengitari gambar yang terpampang di depannya. Jika kau berfikir itu gambar seorang model wanita seksi dengan kulit kecoklatan berdada besar dan berpinggang ramping, maka fikiranmu salah. Kerena faktanya, gambar itu adalah gambar seorang pria muda berkulit putih pucat yang sedang duduk sambil membuka lebar pahanya. Si model menumpukan tangannya di lutut, sementara mulutnya menggigit ujung jari telunjuknya, matanya menatap sayu kekamera. Pose yang sungguh erotis.
Mingyu merubah posisi duduknya. Ini pertama kalinya ia merasa tak nyaman dengan pose seorang model pria. Lalu, Mingyu membalik lagi halamannya.
Kali ini si model-pria yang tadi- duduk menyandar pada tembok sambil mengulum es krim batang cokelat yang lelehannya mengalir sepanjang lekuk leher sampai dadanya, menimbulkan warna yang kontras dengan kulit putih pucatnya yang basah. Backgroundnya di kolam renang, dan sekali lagi, model pria itu hanya memakai celana dalamnya saja.
Mingyu mereguk paksa ludahnya sendiri. Ia merasa celananya mulai sempit dan sesak. Matanya menatap intens nipple pink kecoklatan itu. entah mengapa ia merasa terangsang.
Pria tampan itu segera membalik halaman majalah itu lagi, dan kali ini, ia merasa napasnya sesak. Matanya menatap nyalang gambar di depannya. Terpesona dengan pose luar biasa berani si model yang baru dilihatnya itu. padahal Mingyu sudah dua tahun langganan majalah itu, dan baru kali ini ia melihat model pria berkulit putih pucat dan berwajah emo itu.
Mingyu melirik celananya yang mengembung. Astaga, dia ereksi hanya karena objek dua dimensi. Shit. Bagaimana tidak ia terangsang, si model imut itu melirik nakal menantang kamera sambil membuka lebar kedua pahanya, sedangkan celana dalamnya menyangkut di ujung kaki kirinya. Sementara juniornya yang mungil itu menyembul di antar selangkangannya.
"Bitch. Sialan. Akan kumakan kau!" Maki Mingyu. Tangannya beralih membuka resleting celana jeansnya. Mengeluarkan juniornya sendiri yang menegang sempurna. Untung sekarang dia ada di kamar tidurnya yang kedap suara.
Mingyu menggenggam erat juniornya, mulai mengocoknya berirama. Matanya terpejam erat membayangkan wajah emo si model itu. ia mulai berfantasi liar.
Bagaimana bibirnya meraup kasar bibir mungil dan pink sang model, memelintir nipple pink kecoklatan itu, bagaimana ia menglum junior mungil itu, dan bagaimana ia rasuki hole menggoda itu.
"Arghhh! Eunghh!" Mingyu melenguh beberapa saat setelah nya. Napasnya tersenggal. Dia menatap tangannya yang basah oleh precumnya sendiri.
Fuck off. Hanya dengan memikirkannya saja, sudah berhasil membuat Mingyu orgasme seperti ini. Pesona yang luar biasa. Mingyu membalik kasar halaman itu, membaca bagian belakangnya. Daftar model yang ada di majalh itu. dan dia terpaku pada sebuah nama, Jeon Wonwoo.
Mingyu mengelap tangannya dengan tisu. Membersihkan sisa-sisa cairan kentalnya. Kemudian meraih ponselnya, menelpon seseorang.
"Halo, Lee Chan, cari model bernama Jeon Wonwoo yang ada di majalah 'Playboy magazine' edisi XX" Ujar Mingyu, kemudian menutup sambungan telepon.
"Tunggu saja, akan kujadikan kau tawanan cintaku, Jeon Wonwoo." Mingyu menyeringai lebar.
.
.
.
"Halo? Ada apa?"
"Oh begitu. Bagus, aku akan segera kesana. Awasi dia terus."
Mingyu melompat dari ranjangnya. Meraih mantel cokelatnya, dan menyambar kunci mobilnya. Meninggalkan ruangan itu.
.
.
.
Bar itu ramai seperti biasanya. Music berdentum keras memekakan telinga. Bau alkohol dan bau seks menguar bersamaan asap rokok dan opium. Dance floor penuh oleh ratusan insan yang sibuk menggerakkan tubuh mereka, saling bergesekkan satu sama lain. Sementara di ujung sana DJ dengan semangat mengangguk-nganggukkan kepalanya mengikuti dentuman music.
Si sebuah sofa merah memanjang yang agak jauh dari dance floor, seorang pemuda manis duduk sambil menyandar. Matanya terpejam. Tangan kanannya menggenggam botol wine sedang tangan kirinya di genggam oleh seorang pria tampan yang menatapnya lapar.
"Wonie-ya, sudah ya, ayo kita pulang." Ajak si tampan lembut.
"Aku tak mau, Gukkie hyungh- aku benci dengan CEO sialan itu!" Tolak si manis sarkatis.
"Ada apa? Bukankah ini maumu sendiri jadi model majalah dewasa?" Sinis Yongguk.
"Ini kemauan bajingan itu! gara-gara dia terus-terusan berhutang dan berjudi, aku jadi harus menjual foto bugilku untuk dapat uang! Ini demi Eomma!" Rancau pemuda manis itu, Jeon Wonwoo.
"Ya sudah, tapi sekarang kita pulang, ya sayang~ kau sudah mabuk~" Yongguk mengecup pipi putih Wonwoo. Sedang yang di kecup hanya mereguk kembali winenya.
"Kau sudah minum alkohol terlalu banyak, sini, berikan botolnya!" Ujar Yongguk, jengkel. Tentu saja, siapa yang mau melihat kekasihnya mabuk-mabuk seperti ini, sedang ia tahu Wonwoo punya masalah pencernaan.
"Akh! Hyung! Tidak!" Wonwoo menjauhkan botolnya sambil berdiri sempoyongan, Yongguk bangkit, menahan pundak kanannya dan berusaha meraih botol wine itu.
"Berikan padaku, Wonie-ya. Kau tidak boleh seperti ini." Yongguk masih berusaha sabar.
"Tidak!"
PRANG!
Dan akhirnya, botol wine itu pecah berkeping-keping karena Wonwoo yang setengah mabuk tidak sengaja melepasnya hingga jatuh kelantai. Dan cairan wine berarna merah tua itu mengguyur kemeja putih dan tipis yang dipakai pemuda emo itu.
Tak jauh dari situ, seorang pria tampan bermantel cokelat berdiri memeperhatikan sepasang kekasih yang bertengkar kecil itu. matanya menatap lapar pada si emo yang kini kemeja tipisnya basah kuyup oleh wine, sehingga siluet tubuhnya terlihat jelas, dan bahkan nipplenya tercetak jelas.
Mingyu meraih saku mantel cokelatnya, mengeluarkan ponselnya. Membaca kembali pesan yang diberikan bawahannya.
-Jeon Wonwoo, lahir 17 Juli 1996, baru beberapa bulan bekerja sebagai model bugil majalah dewasa, tinggal di Changwon. Ayahnya merupakan pegawai anda, Tuan Kim, yang sudah meminjam begitu banyak uang kepada perusahaan dengan alasan membiayai pengobatan istrinya yang sakit-
Mingyu menarik smirknya. Matanya masih menatap intens pada Wonwoo yang sekarang dipapah Yongguk keluar dari bar itu.
"Aku akan mendapatkanmu, Jeon."
.
.
.
.
"Aku pulang. . ." Ucap seorang pemuda bersurai hitam, memasuki sebuah rumah mungil yang rapih dan nyaman. Maatanya menyapu seluruh sudut ruang tamu. Tadi ia di telpon Eommanya untuk pulang, karena ada hal penting. Namun, kini ia mendapati Eommanya duduk menekuk wajahnya dengan aura yang suram.
Sementara di seberang Eommanya, duduk Appanya, dengan raut yang kaku. Sedang di sofa yang lain lagi, seorang pria muda berjas hitam dengan garis putih, duduk dengan wajah yang cukup tenang. Pria yang tampan.
"Ada apa, ini. . . Eomma?" Tanya pemuda itu, Jeon Wonwoo. Eommanya tetap menunduk.
"Duduklah dulu, Wonu-ya. Appamu yang akan bicara." Sekilas, Nyonya Jeon melirik suaminya.
Pria berwajah kaku yang mengenakan kemeja biru tua itu mulai bicara, saat anak sulungnya itu duduk di sebelah Eommanya.
Sejenak, Tuan Jeon memasang senyum formal, sebelum ia berkata dengan nada yang dibuat ceria, "Wonu-ya, kenalkan. Ini adalah Tuan Kim Mingyu, calon suamimu." Ujar Tuan Jeon santai.
JDERRR!
Bagai petir disiang bolong, Wonwoo mendapati petir itu menggelegar di telinganya. Padahal diluar cerah, dan petir itu hanya ia yang mendengarnya. Tubuhnya serasa lemas.
"Su-suami. . .?" Desisnya pelan.
"Ya, benar. Kalian akan menikah minggu depan." Lanjut Appanya, menyulut rokok dan dengan tenang menikmatinya.
Wonwoo menatap pria tampan yang duduk tak jauh darinya, pria itu tersenyum. Wonwoo bergidik ngeri melihatnya. Entah mengapa, pria bernama Kim Mingyu itu terlihat mengerikan baginya.
Wonwoo bangkit sambil menunduk. "Tidak, Appa. Aku tidak mau. Maafkan aku!" Ujar Wonwoo dengan suaranya yang serak dan dalam, kemudian dia berjalan cepat meninggalkan ruang tamu. Menuju kamarnya.
"Yak! Jeon Wonwoo!" Teriak Appanya, menggelegar. Wajahnya memerah, ia sangat marah.
Mingyu bangkit dari duduknya. "Dengar Jeon, bagaimanapun caranya, anakmu itu harus menikah denganku. Kalau tidak, Segera lunasi semua hutangmu atau kepalamu sebagai bayaran hutangmu padaku." Ujar Mingyu, wajahnya datar. Tapi ucapannya terdengar sangat mengerikan bagi siapapun yang mendengarnya.
Nyonya Jeon mulai menangis, ketika Mingyu meninggalkan rumah itu. sebentar lagi suaminya akan mengamuk.
.
.
PLAK!
"ANAK DURHAKA! TIDAK TAHU DIRI!"
Wonwoo memejamkan matanya, merasakan pipinya yang serasa terbakar akibat tamparan Appanya yang sangat keras. Bahkan sudut bibirnya sampai berdarah.
"Aku tidak mau. Aku tak mau menikahi pria itu." Tegas Wonwoo.
"BAJINGAN KAU!"
Bugh!
Bahkan kali ini, Appanya meninju Wonwoo sampai puteranya itu tersungkur dan Eommanya menangis sambil memeluk anaknya.
"Cukup! Yongtaek! Kau tak bisa seperti ini pada Wonwoo! Kau tak boleh memaksanya!" Jerit Nyonya Jeon, histeris.
"HALAH! KAU JUGA SAMA SAJA!" Tangan tuan Jeon sudah terangkat untuk menampar istrinya, namun dengan cepat Wonwoo bangkit dan menglangi. Sehingga akhirnya, Wonwoo yang ditampar lagi.
"Cukup Appa! Kau boleh memukulku! Tapi kau tak boleh memukul Eomma!" Teriak Wonwoo dnegan suara serak.
"Aku hanya memintamu untuk menikah, Jeon Wonwoo! Seharusnya kau menurut! Anak macam apa kau ini?!" Bentak pria itu lagi.
"Kau menjualku, Appa! Kau menjualku untuk membayar hutangmu! Harusnya aku yang Tanya, AYAH MACAM APA KAU INI?!" Balas Wonwoo berang.
Tuan Jeon bergetar karena emosinya sendiri. Wajahnya merah padam, raut mukanya mengerikan.
"Tutup mulutmu, anak durhaka!"
"Aku tau kau menolak karena kau ingin bersama si brengsek Bang Yongguk, kan? Apa yang kau harapkan dari orang sepertinya?" Sinis Tuan Jeon.
"Setidaknya dia tak menujual anaknya." Desis Wonwoo.
"Cih. Seharusnya kau bersyukur aku menikahkanmu dengan Tuan Kim, dia adalah orang yang sangat kaya, hidupmu pasti sejahtera bila menikah dengannya. Sedangkan Bang Yongguk? Apa yang kau harapkan darinya? Dia bahkan tak mampu membiayai hidupnya sendiri!"
Wonwoo menggeram rendah. Ia tak terima kekasihnya di rendahkan seperti itu oleh Appanya sendiri.
"Diamlah, Appa! Seharusnya kau berusaha melunasi hutangmu itu! salahmu sendiri meminjam banyak uang untuk berjudi, dan sekarang, kau menyuruhku melunasinya? Biadab!" Maki Wonwoo. Ia sudah tak peduli dengan tata krama atau sopan santun baginya.
"Ohhh begitu? Coba lihat. Anakku Jeon Wonwoo yang manis dan penurut sudah berani melawan Appanya sendiri. Lihat, beginilah hasilnya kalau kau berdekatan dengan brandalan sampah seperti Bang Yongguk itu!"
.
Sementara di balik pintu depan, seorang pemuda tampan mengenakan kemeja putih dengan celan jeans hitam, menyandarkan tubuhnya di pintu. Tangannya mencengkeram erat dada kirinya sendiri. Sakit hati. Ia memang orang miskin, hidupnya belum mapan. Ia hanya seorang fotografer lepas yang bekerja di sebuah percetakan local. Tapi, salahkah, ia mencintai Jeon Wonwoo?
Yongguk berbalik, melangkah meninggalkan rumah itu. pulang dengan air mata yang menggenang.
.
.
.
Wonwoo hanya terdiam dengan raut wajah kusut di depan cermin. Membiarkan seseorang yang entah siapa, merias wajahnya dan menata rambutnya.
"Astaga, kau menggemaskan sekali. Pantas Mingyu menyukaimu." Ujar orang itu. Entahlah, Wonwoo tak peduli pada pria pendek bersurai jingga itu.
"Oh ya, namaku Lee Jihoon. Setelah kau menikah nanti, kita akan tinggal serumah. Aku adalah pelayan pribadimu." Ujar pria itu lagi, tersenyum sangat manis kearah cermin. Dan Wonwoo dapat melihatnya jelas lewat pantulan di depannya.
"Hmm." Sahut Wonwoo ala kadarnya. Fikirannya sedang kacau sekarang. Sudah tiga hari ia bertengkar dengan Yongguk. Terakhir, Yongguk bersumpah padanya, bahwa jika Yongguk tak dapat memilikinya, maka tidak seorangpun didunia ini yang boleh memiliki Jeon Wonwoo.
Dan, Wonwoo benar-benar takut. Tidak, bukan takut Yongguk membunuh pria bernama Kim Mingyu itu, ia justru akan berterima kasih kalau yongguk melakukannya.
Ia khawatir Yongguk akan datang suatu saat nanti dan mengajaknya bunuh diri bersama. Hei, ia ini masih mau hidup selayaknya orang lain. Ia belum mau mati.
"Sudah selesai~" Ucap Jihoon, sambil meletakkan sisirnya di meja. Wonwoo menatap lagi bayangan dirinya. Seperti dugaannya. Tampan, manis, menggemaskan, dan cantik diwaktu yang bersamaan. Itulah dirinya yang ia dengar dari orang-orang.
Selang beberapa jeda, seorang pria lainnya menyembul dari pintu masuk ruangan itu.
"Acaranya akan segera mulai." Ucap Orang itu.
"Oh begitu, baiklah." Sahut Jihoon, lalu orang itu pergi lagi.
"Wonu-ya, ayo, pernikahanmu akan segera mulai." Dan Wonwoo hanya mengangguk kemudian mengekori Jihoon keluar dari ruangan itu.
.
Halaman itu sangat luas, mungkin luasnya seluas kebun raya. Dengan rumput hijau yang membalut seluruh sudut halaman itu. sedangkan dekorasinya dibuat secantik mungkin dengan pita dan juga jajaran kursi yang berbaris rapih.
Ditengah-tengah, terdapat sebuah karpet merah nyentrik yang membelah halaman itu, dan diujung karpet terdapat sebuah podium kecil. Dengan karangan bunga cantik yang besar mengitarinya. Pita-pita merah juga tersemat di rangkaian bunga itu.
Seorang pria tua berjubah berdiri di podium menghadapi sebuah kitab yang cukup tebal, sedang di hadapannya, berdiri seorang pria tampan bersurai cokelat yang sudah mengenakan tuxedo putih.
Wonwoo mereguk paksa ludahnya sendiri. Mengedarkan pandangannya. Dapat dilihatnya di kursi tamu, Eomma, Bohyuk-adiknya- dan bahkan sahabat baiknya, Jisoo dan Jeonghan datang untuk melihatnya. Menyaksikan Jeon Wonwoo menikah. Dengan seseorang yang bahkan belum dikenalnya.
Tuan Jeon menggamit lengan anaknya, dan mulai berjalan menuju altar. Wonwoo menunduk. Tak sanggup membalas tatapan asing dari tamu-tamu yang juga tak dikenalnya.
Akhirnya, janji itu terucap. Kim Mingyu berjanji didepan Tuhan atas Jeon Wonwoo, dan begitupun sebaliknya. Mereka mengikat hubungan dengan sepasang cincin bertahtakan berlian biru dan sebuah ciuman manis diakhir ikrar mereka.
.
.
.
Dan, itu adalah awal dari semua petaka itu terjadi. Wonwoo harus rela menyandang marga Kim didepan namanya. Dan harus rela, hidup menderita sebagai istri Kim Mingyu, yang ternyata sangat posesif dan temperamental. Dan satu lagi, Mingyu adalah orang yang sangat sulit ditentang keinginan nya, dan sangat sulit melepaskan apa yang sudah didapatkannya.
To Be Continued OR END?
Note: ini chapter special yang author siapin buat permintaan maaf author karena telat update tolong pengertiannya. Dan ini juga jawaban buat kalian yang bertanya-tanya siapa itu Get Down, dan diharap setelah tau tetep mau review ya ^^ oh ya, author minta votingnya, kalian setuju kalau get down ada sessions 2-nya? Atau mau bikin ff meanie yang beda lagi? Tolong dijawab
KECEPATAN UPDATE TERGANTUNG BANYAKNYA REVIEW
