Tittle: GET DOWN (Meanie)
Cast: Jeon Wonwoo
Kim Mingyu
Others
Genre: Yaoi, bdsm/?
Rated: M
Disclaimer: Plot ceritanya murni punya author, Wonwoo juga punya author.
Summary: Jeon Wonwoo, harus hidup menderita dengan statusnya sebagai istri Kim Mingyu.
Warning: (Special Chapter) FLASHBACK ON
DON'T LIKE DON'T READ AND REVIEW PLEASE
.
.
.
.
.
Mingyu mengepalkan tangannya erat. Menatap tajam pria tampan di depannya itu. giginya bergemeletuk menahan emosi. Wajahnya sudah merah padam.
"Brengsek, kau Bang Yongguk!" Maki Mingyu lagi.
Yongguk tersenyum meremehkan. "Siapa? Aku? Brengsek? Coba kita hitung dari awal, supaya ketahuan siapa yang brengsek disini." Ujarnya menantang.
Kepalan tangan Mingyu semakin mengeras, bahkan sampai buku-buku tangannya memutih.
"Aku dan Wonwoo berpacaran selama dua tahun, sebelumnya, kami adalah teman masa kecil yang bahkan sudah sejak balita berjanji akan menikah. Lalu, setelah dewasa Ayahnya yang brengsek itu meminjam banyak uang padamu, dan tak sanggup membayarnya. Kemudian, kau mengajukan penawaran. Hutang yangbanyak itu lunas, asalkan Jeon Wonwoo menjadi istrimu. Yang sama artinya, kau menjadikan Wonwoo alat pembayaran. Setelah kalian menikah, aku berusaha menerimanya. Tapi yang kudapat, kau memperlakukan Wonwoo seperti hewan peliharaan. Setahun lebih aku bersabar dengan kelakuanmu. Kufikir kau akan membaik, tapi kau justru semakin sering menyiksanya. Akhirnya, aku putuskan untuk merebutnya darimu, bagaimanapun caranya. Dan sekarang, kau lihat? Maksudku, kau lihat video itu? bukankah ia sangat menikmati kebersamaannya denganku? Jadi, siapa yang brengsek disini?" Tanya Yongguk, setelah panjang lebar menjelaskan argumennya, menaikkan sebelah alisnya. Berdiri dengan pongahnya sambil berkacak pinggang.
"Shit! Siapa yang peduli dengan hal itu? faktanya, KAU MENCULIKNYA!" Balas Mingyu.
"Begitu? Bukankah kau dulu juga mencurinya dariku? Sudah selayaknya aku mendapatkan apa yang seharusnya jadi milikku."
"BAJINGAN KAU!"
BUGH!
Mingyu tak tahan lagi mendengar semua ocehan Yongguk, dengan sarkatis ditinjunya wajah tampan Yongguk.
BUGH!
Yongguk membalas, dan akhirnya mereka bergumul baku tonjok.
BUGH! BRUGH! BUAGH! BUGH!
"BAJINGAN KAU BANG YONGGUK!"
"DASAR KEPARAT KAU KIM MINGYU!"
"KURANG AJAR, KUBUNUH KAU!"
"KUKIRIM KAU KENERAKA!"
"HENTIKAN! KUMOHON HENTIKAN! HIKSS. . . YONGGUK HYUNG, MINGYU-YA! CUKUP! HIKSS!" Wonwoo menjerit dengan tangisnya yang histeris. Hatinya sakit meliahat dua orang itu berkelahi di hadapannya.
Yongguk menghentikan tinjunya pada Mingyu yang aa di bawahnya. "Kau dengar? Ia bahkan terlalu baik untuk bajingan sepertimu." Desis Yongguk, bangkit. Mengelap sudut bibirnya yang berdarah.
Yongguk berjalan mendekati Wonwoo, melepas ikatannya. Dengan lembut, Yongguk mengangkat dagu pemuda manis itu, mengusap air matanya dengan kedua ibu jarinya. "Jangan menangis, Wonie-ya, percayalah, aku akan melepaskanmu dari makhluk brengsek ini!"
Mingyu membuang muka. "Cih, drama roma picisan macam apa ini?!" Hardiknya jengkel.
Yongguk berjalan mendekati Mingyu, tanganya merogoh saki celananya dan mengeluarkan sebuah pisau lipat tajam dari sakunya. Menyeringai layaknya iblis, "Bagaimana? Mau coba pisau kecilku ini mengoyak nadi lehermu?" Tanya Yongguk dengan suara yang dalam.
Mingyu mengeluarkan pistolya. "Kalau kau mendekat, kuledakkan kepalamu sekarang juga!"
"Aku tak takut, bodoh! Mati dan hidup bagiku sama saja!" Yongguk tertawa hambar. Dan Mingyu berdecih lagi.
Yongguk terus melangkah maju, sampai kepalanya menempel dengan moncong pistol Mingyu, dan pisau lipatnya berada tepat diatas nadi leher Mingyu, bergerak sedikit saja, keduanya akan sama-sama mati.
"Katakan 'Halo' pada malaikat, Kim!"
"Kau yang akan melakukannya!"
"TIDAK!"
CRASH!
DOR!
"ARGHHH! S-SHHAKIT!"
BRUGH!
Dua tubuh itu ambruk seketika. Darah mengucur memenuhi lantai. Bang Yongguk tergeletak dengan luka tembak di bagian samping kepalanya, darah segar menyembur keluar dari lubang itu, dan bahkan menyembur dari mulutnya juga.
Mingyu tercengang, ia duduk memangku tubuh lemah sosok manis itu. Wonwoo terkulai dengan luka tusuk di bahu kirinya.
Sedetik saat Yongguk hendak menusuk Mingyu, Wonwoo berlari dan mendorongnya, membuat Yongguk justru menusuk bahu kirinya, dan segera saja Mingyu menembak kepala Yongguk.
"Astaga, Wonu-ya. . . bertahanlah, sayang. . . bertahan. . " Mingyu menangis sejadinya. Hatinya sesak. Wonwoo menatap nanar Mingyu, tangannya terulur mengusap air mata pria itu, hatinya bergetar. Satu yang baru ia sadari, ia mencintai Kim Mingyu.
"Jangan khawatir, Gyu. . . aku takkan mati dengan mudah, aku akan bertahan untukmu." Lirihnya, dengan seulas senyum tipis yang berhasil menyayat hati seorang Kim Mingyu.
Mingyu semakin terisak.
.
.
.
.
DORR!
"ARGH!"
DRAP DRAP DRAP!
Seungcheol berlari saat mendengar suara tembakkan itu. hatinya berkecamuk. Pasti sudah terjadi sesuatu yang mengerikan di ruangan itu. mata bulatnya menatap sendu pintu rapuh di depannya. Ia mencium bau anyir darah, bahkan sebelum ia membuka pintu.
Seungcheol memutar knop pintu, dan masuk kedalam. Seketika ia terbelalak.
"Astaga! Jeon Wonwoo!" Teriaknya histeris, ia segera menghambur mendekat.
Di ruangan itu terdapat tiga orang, dua orang Seungcheol mengenalnya. Sedangkan yang tergelatak bersimbah darah tanpa bernapas lagi itu, Seungcheol juga mengenalnya. Dia Bang Yongguk, rekan bisnisnya. Kini Seungcheol mengerti semua yang terjadi.
"H-hyungh . . ." Mingyu menatap Seungcheol dengan air mata bercucuran.
"Ayo bawa Wonwoo kerumah sakit!" Ajak Seungcheol.
Keduanya segera membopong Wonwoo. Meninggalkan ruangan itu dengan mayat Yongguk yang tergeletak di lantai. Meninggalkan kenangan mengerikan yang terjadi disitu. Meninggalkan sebuah kisah tragis sebuah percintaan.
.
.
.
.Mingyu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi dibelakangnya. Sesekali terengar hembusan napas lesu dari mulutnya. Mengusap wajahnya kasar, dan kembali memejamkan mata. Mulutnya bergumam memanjatkan doa.
"Tuhan. . . selamatkan dia. . . selamatkan istri dan anakku. Atau, tukarlah naywaku dengan nyawa mereka."
"Mingyu-ya!" Seungcheol menepuk lembut pundak Mingyu yang terduduk di lobi rumah sakit. Di depan ruangan gawat darurat.
Seungcheol menyodorkan satu cup espresso regular padanya. "Minumlah dulu. Kau harus tenang. Percayalah, semuanya akan berakhir baik."
"Aku cemas Hyung."
"Iya, aku juga cemas. Tapi kalau kau cemas, siapa yang yang akan menguatkan Wonwoo yang sedang berjuang didalam sana?" Tanya Seungcheol lembut.
Mingyu hanya tersenyum tipis sambil mereguk kopinya. Setidaknya cairan hangat dan kental yang membasahi tenggorokkannya itu mampu sedikit meredam gelisahnya. Seungcheol yang duduk di sebelahnya juga hanya bisa mendongak, menatap langit-langit rumah sakit dengan tatapan menerawang.
"Oh ya. . . Bang Yongguk itu. . . dia masih hidup?" Tanya Mingyu kemudian.
Seungcheol terdiam. "Dia ditemukan mati ditempat saat itu. kau hebat juga, tembakanmu tepat sasaran." Sahut Seungcheol dengan seulas senyum tipis. Sedang Mingyu tersenyum masam.
"Baguslah. Dia memang pantas mati dan berada di neraka." Sungut Mingyu, masih jengkel. Karena Yongguk lah Wonwoo dirawat sampai seperti ini.
.
.
.
.
Mentari pagi baru saja menampakkan sinarnya. Ruang rawat rumah sakit itu sepi. Hanya ada dua orang didalamnya. Yang satu, terbaring lemah dengan alat-alat rumah sakit yang menyangga hidupnya. Tidak, dia tak koma. Dia hanya masih tertidur efek bius yang kemarin diberikan saat operasi karena bahunya yang terluka da nada sedikit masalah dengan jaringan uratnya yang terkoyak sehingga dokter harus mengoperasinya.
Sedangkan sosok yang satunya, berkulit tan, tertidur dikursi samping ranjang itu. kepalanya ia rebahkan diranjang itu. sejenak kemudian, pria tampan itu terbangun dari tidurnya yang memang tak begitu nyenyak karena mengkhawatirkan sosok yang terbaring itu.
Mingyu menatap sendu Wonwoo yang masih eblum sadar dari kemarin. Wajahnya kembali kusut. Ia benar-benar cemas, meski Dokter bilang Wonwoo akan baik-baik saja dan kandungannya pun tidak terganggu. Hanya saja. . .
Mingyu mengusap wajahnya kasar. Memikirkannya saja membuat hatinya kembali kacau dan kalut.
Mingyu merunduk, mengusap sayang surai hitam itu. mengecup kening Wonwoo lembut, kemudian kedua matanya, hidung bangirnya, dan terakhir Mingyu mengecup hangat bibir merah itu sejenak, sebelum kembali duduk sambil menggenggam erat tangan pucat yang terkulai itu.
"Bangunlah, demi aku." Bisik Mingyu pelan. Setetes air mata terjauh membasahi tangan yang digenggamnya itu.
.
.
.
Wonwoo mendapati dirinya di tempat yang asing lagi. Semuanya gelap. Dan ia mendapati dirinya tertidur tapi tak nyanyak. Ia merasakan seseorang yang sering datang kedalam mimpinya itu datang lagi. Kali ini, orang itu menungguinya.
Orang itu menciumnya lagi. Mengusap hangat surai hitamnya dnegan lembut, mengecup keningnya, lalu turun pada kedua matanya yang tertutup dan hidung bangirnya. Lalu terakhir, sosok itu mencium lembut bibirnya.
Wonwoo merasakan tangannya digenggam erat oleh orang itu. ia juga mendengar orang itu berbisik pelan, suaranya sungguh familiar baginya. Tapi ia tak mengingatnya. Ia merasakan tangannya ditetesi air mata hangat orang itu, ia harus bangun, ia harus bangun. Harus. Ia harus melihat siapa orang yang selama ini datang kemimpinya. Ia sangat mencintai dan merindukan kehadiran orang itu.
Harus!
.
.
Mingyu mengerjap-ngerjap merasakan genggamannya pada jari-jari kurus Wonwoo mulai terbalas. Ia terbelalak. Wonwoo mulai bergerak. Secara perlahan mata tajam itu kembali terbuka. Pandangannya tertuju pada Mingyu yang terlihat menahan tangis bahagianya.
"Akhirnya kau sadar, syukurlah. . ." Ujar Mingyu, dan setetes air mata kembali mengalir.
"Min-gyuh. . . kenapa kau menangis? A-apa Gukkie-hyung menyakitimu. . .? dia melakukan apa?" Tanya Wonwoo, tangannya yang lemah bergerak menghapus air mata Mingyu, menangkup pipinya dengan sebelah tangan.
Mingyu menggeleng. Ia jadi terharu. Wonwoo memperdulikannya. "Tidak, sayang. Dia sudah mati sesaat setelah melukaimu." Sahut Mingyu lembut.
Wonwoo mengalihkan pandangannya. Ada yang berdenyut nyeri didadanya mendengar kabar kematian Yongguk. Mingyu menangkap perubahan raut wajah itu.
"Kau tak apa, Wonu-ya?" Tanya Mingyu, dan Wonwoo menggeleng lemah.
Beberapa detik kemudian, Wonwoo teringat. Ia harus menanyakan sesuatu.
"Mingyu-ya,. . . a-apa kau yang selama ini menciumku saat aku pingsan. . .?" Tanya Wonwoo ragu.
Mingyu tersenyum malu. "Kau mengetahuinya? Ya, aku memang suka diam-diam menciummu saat kau tidur atau pingsan." Ujarnya, kali ini dengan senyum manis.
Wonwoo terdiam. Jadi. . . selama ini. . . orang yang dicintainya itu Kim Mingyu? Wonwoo mencoba merasakannya. Kejadian terakhir yang ia ingat sebelum ia masuk rumah sakit, ia berusaha menolong Mingyu dari Yongguk yang ingin menghujamnya dengan pisau tajam. Entahlah, yang Wonwoo fikirkan saat itu, lebih baik ia yang terluka daripada Mingyu yang terluka.
"Kenapa, apa ada sesuatu yang ingin kau katakan?" Tanya Mingyu kemudian.
"Mingyu-ya. . ."
"Hm?" Mingyu menunggu kalimat Wonwoo selanjutnya.
"A-aku. . ."
"Kau? Kau lapar?" Tanya Mingyu, namun Wonwoo menggeleng.
"A-ku. . . aku mencintaimu." Lirih Wonwoo. Pelan, sangat pelan. Bahkan hampir tak terdengar. Tapi pagi yang hening membuat Mingyu menangkap jelas kalimat yang dikatakan Wonwoo padanya.
"K-kau mencintaiku?" Ujar Mingyu bergetar. Wonwoo hanay mengangguk pelan.
Mingyu menangis. "Aku juga snagat mencintaimu, Wonu-ya. Terima kasih telah bertahan untukku."
.
.
.
Seungcheol dan Jeonghan berjalan sambil bergandengan menyusuri lorong rumah sakit. Mereka menjinjing kantong plastic berisi buah dan makanan lainnya yang biasa dibawa saat menjenguk orang sakit.
"Wonu-ya~ aku datang!" Ujar Jeonghan bersemangat. Ia tersenyum hangat mendapati Wonwoo yang terbaring di ranjangnya. Selang infus masih terpasang, dan Mingyu duduk disampingnya.
"Jeonghan hyung!" Wonwoo terlihat senang.
"Wah, aku merindukanmu sekali, Wonu-ya!" Ujar Jeonghan ceria.
Sementara Mingyu bangkit dari duduknya, membiarkan Jeonghan duduk ditempatnya dan dia memilih duduk bersama Seungcheol di sofa rumah sakit. Membiarkan dua sahabat lama itu berbincang satu sama lain.
.
.
.
Seorang pria muda yang duduk dengan santai di meja makan, kembali menyeruput Americano nya. Sedangkan brownies keju disampingnya baru dimakan sedikit. Matanya fokus menatap Koran yang ada digenggamannya.
Membalik halaman, Jisoo mengerutkan keningnya membaca sebuah judul berita. 'PENCULIKAN ISTRI SEORANG PENGUSAHA KAYA, BERAKHIR TRAGIS'
Jisoo mulai fokus membaca artikel itu. beberapa menit hening. Hanya terdengar hembusan napasnya yang tenang. Sekitar tiga menit, Jisoo menghembuskan nafas lega. Tapi disatu sisi wajahnya juga mendung.
"Syukurlah, Wonu sudah ketemu. . . tapi. . ." Matanya menatap nanar gambar artikel itu. gambar hitam putih yang menunjukkan seorang pria tewas ertelungkup dengan darah yang berceceran disekitarnya. Setetes air mata jatuh membasahi pipi pemuda tampan itu.
"Kuharap kau tenang di sana, Yongguk Hyung. Seharusnya kau tidak begini." Lirih Jisoo miris. Fikirannya kembali kemasa lalu.
Biar bagaimanapun, Yongguk juga merupakan sahabat baiknya. Dia sosok Hyung yang baik dan tenang bagi Jisoo. Namun tidak menyangka, cinta membutakan seorang Bang Yongguk.
.
.
.
.
"Mingyu-ssi, aku pamit dulu, ya. Ini sudah sore. Lagipula Wonu juga sudah tertidur. Biarkan dia istirahat." Ucap Jeonghan, dengan senyum manisnya.
"Ya, aku mengerti. Kalian hati-hatilah di jalan." Ujar Mingyu.
"Baiklah, kami pulang dulu. Sampai nanti." Pamit Seungcheol, sambil menggandeng Jeonghan meninggalkan ruang rawat inap itu.
Selang berapa lama, seorang dokter datang untuk mengecek keadaan Wonwoo. Seorang dokter muda yang waktu itu juga menangani pendarahan Wonwoo. Dokter itu dengan serius memeriksa dan sesekali mencatatnya.
Mingyu hanya menatapnya datar dari sofa.
"Tuan Kim?"
"Ya, Dokter?"
"Bisa ikut saya sebentar?" Tanya Dokter itu dengan wajah murung. Membuat Mingyu was-was.
"Baiklah."
Dokter bername tag 'Li Wenhan' itu berjalan meninggalkan ruangan itu. dengan Mingyu yang mengekorinya keluar dari ruangan.
.
.
.
"Wonu-ya. . . eum. . . aku ingin bicara sesuatu. . ." Lirih Mingyu dengan terbata. Wonwoo menaikan sebelah alisnya, tak biasanya Mingyu seperti itu. biasanya mereka dia akan langsung bicara saja.
Saat itu mereka tengah sarapan di sebuah kafe yang berada dekat dengan Rumah sakit, mampir sebentar saat perjalanan pulang. Karena keadaan Wonwoo yang sudah boleh dibawa pulang.
"Eh? Bicara saja." Sahut Wonwoo seadanya.
"Bagaimana. . . kalau. . ."
"Kalau?" Wonwoo bertambah heran.
"Kalau, kalau saja. . ."
"Kalau saja, kenapa?" Kejar Wonwoo mulai jengkel.
"Bagaimana kalau. . . kalau kita gugurkan saja. . . janinmu. Sebelum usianya empat bulan. . ." Lirih Mingyu, pelan, sangat pelan dan dalam. Hampir saja Wonwoo tak mendengarnya, kalau saja sosok manis itu tidak menajamkan pendengarannya sejak tadi.
Wonwoo tertegun. Memastikan telingannya tidak salah dengar dan berfungsi dengan baik. Sebenarnya Wonwoo berharap telinganya terganggu dan ia salah dengar akan ucapan Mingyu barusan. Sayangnya, Mingyu justru menatap dalam Wonwoo menuntut jawaban. Membuat Wonwoo kecewa.
"A-apa?" Wonwoo terbata. Ia merasa sakit hati. Ada sesuatu yang mencelos dan rasanya sakit sekali.
Mingyu menyuruhnya menggugurkan janjinnya? Calon bayi mereka? Buah hasil hubugan mereka selama ini? Kenapa? Bukankah itu darah daging mereka sendiri?
"K-kau. . ." Mata Wonwoo mulai memanas.
"K-kau meragukan-ku. . .?" Lirih Wonwoo, sakit hati. Apa karena kemarin ia tidur bersama Bang Yongguk, dan Mingyu meragukan janin itu? oh ayolah, Wonwoo hanya pernah melakukan itu dengan Mingyu dan Yongguk. Dan ingatkan Mingyu kalau saat ia diculik Yongguk bayi itu sudah ada didalam perutnya.
"Bu-bukan begitu!" Mingyu mulai panic. Apa lagi saat melihat wajah kecewa Wonwoo mulai mengeluarkan air mata.
"Lalu. . . ke-kenapa? Ini anakmu, Kim Mingyu!" Wonwoo mulai terisak.
"Se-sebenarnya. . ." Mingyu merasa lidahnya kelu untuk mengatakan yang sebenarnya.
.
.
.
.
To Be continued OR END?
Review Please
Note: sebenernya author rada ragu gimana gitu buat update kali ini. Soalnya chap 12 dan 13 ini itu klimaksnya, semuanya terbongkar. Siapa itu gert down yang sebenernya masih mau author rahasiaiin :') tapi author harap readersnya gak pada kabur setelah rasa penasarannya terjawab ya, ini ff bakal ada 1 atau 2 chap lagi buat nyeleseiin satu masalah lagi, baru abis itu END. Dan mungkin bakal segera rilis get down sessions 2 kalau keadaan memungkinkan. Makasih buat yg setia nungguin ini ff sampai sejauh ini dan apalagi yang selalu review setiap chap nya, *deep bow* jangan bosen-bosen buat ngasih masukan ya ^^ Yang minta dipanjangin, maafin ya, aku gak sanggup bikin lebih dari 2K+ kalau perchap nya kepanjangan, aku suka ilfeel dan ujung-ujungnya writer block. Maaf ya.
KECEPATAN UPDATE TERGANTUNG BANYAKNYA REVIEW
