Tittle: GET DOWN (Meanie)
Cast: Jeon Wonwoo
Kim Mingyu
Others
Genre: Yaoi, bdsm/?
Rated: M
Disclaimer: Plot ceritanya murni punya author, Wonwoo juga punya author.
Summary: Jeon Wonwoo, harus hidup menderita dengan statusnya sebagai istri Kim Mingyu.
DON'T LIKE DON'T READ AND REVIEW PLEASE
.
.
.
.
"Se-sebenarnya. . ." Mingyu merasa lidahnya kelu untuk mengatakan yang sebenarnya.
Wonwoo menatap dalam mata Mingyu dengan isakan tertahan. Menuntut jawaban Mingyu. Sementara yang di tatap semakin gugup. Mingyu mengusap tengkuknya, mencoba meredakan kegugupan. Beberapa kali ia mereguk paksa ludahnya sendiri. Entah mengapa ia merasa begitu mencekam. Padahal kafe itu cukup ramai.
"Sebenarnya?hiks-" Tanya Wonwoo, isakan kecil kembali lolos. Dan demi apapun Mingyu merasa tak sanggup untuk mengatakannya. Tangannya bergerak menghapus jejak air mata Wonwoo.
"Huft. . . bukan karena aku meragukanmu, Wonu-ya. . . tapi. . ." Mingyu kembali menarik napas, mempersiapkan kalimatnya. Ia berharap Wonwoo tidak shock setelah ia memberitahunya kabar dari Dokter Li Wenhan.
"Dokter Li bilang, ada kista yang cukup besar di dekat mulut Rahim-mu, dan itu membahayakanmu, Wonu-ya. Kista itu akan semakin membesar seiring membesarnya kandunganmu, dan itu bisa berakibat fatal. Kau akan sering merasa sakit karenanya, aku tak ingin kau tersiksa, Wonu-ya. . ." Jelas Mingyu, berusaha setenang mungkin.
Wonwoo terhenyak. Dia bungkam seketika. Hening mendominasi mereka. Setetes air mata mengalir melintasi pipi pemuda manis itu. merasakan sesak yang membuatnya tak sanggup berkata apapun.
"Dan, satu-satunya cara untuk menghilangkan kista itu adalah mengoperasinya, yang secara tidak langsung juga mengoperasi janinmu,. . . demi Tuhan, aku tak pernah meragukanmu sedikitpun, aku percaya, sangat percaya, janin itu darahku." Mingyu menyelesaikan penjelasannya. Dan detik berikutnya Wonwoo membuang muka.
Kenyataan pahit yang harus ia telan mentah-mentah. Wonwoo masih larut dengan fikirannya. Dan Mingyu juga terdiam, menanti respon Wonwoo.
"Tidak, Kim Mingyu. Sampai bayi ini lahir, aku takkan mengoperasinya. Aku tak peduli aku mati atau bagaimanapun. Bayi ini tak salah. Kau tak bisa menyuruhku untuk membunuhnya." Tegas Wonwoo kemudian.
Mingyu mengalihkan pandangannya. Sudah ia duga Wonwoo akan menolak idenya-yang berdasarkan saran dokter Li-
"Oh ayolah, Jeon Wonwoo, aku tak ingin kehilanganmu. Kita bisa membuatnya lagi jika kau mau, sayang, fikirkan baik-baik." Mingyu berusaha membujuk.
"Tidak. Kubilang tidak, ya tidak."
Dan Mingyu bersumpah ia ingin mati saja mendengarnya.
.
.
.
.
Sepanjang perjalanan pulang, Wonwoo hanya diam. Ia bahkan tak membalas pandangan Mingyu sedikitpun. Dan sampai rumah, ia berjalan duluan mendahului Mingyu. Masuk kekamar lamanya. Dan mengunci diri di dalam sana.
Mingyu mendesah bingung. Harus bagaimana? Ia tidak ingin kehilangan Wonwoo. Persetan dengan janin itu. bukan Mingyu tak menyayanginya, tapi Wonwoo jauh lebih berharga dari apapun.
Kenapa kau tak bisa mengerti, Wonu-ya? Batin Mingyu prihatin.
.
.
.
Wonwoo masuk kekamarnya mendahului Mingyu. Ia menutup rapat pintu dan menguncinya. Melemparkan tubuhnya keranjang, tengkurap. Dan menangis sejadinya. Hatinya sakit sekali mendengar ucapan Mingyu tadi.
"Dan satu-satunya cara menghilangkan kista itu adalah dengan mengoperasinya, yang secara tak langsung juga mengoperasi janinmu. . ." Ucapan Mingyu mengiang ditelinganya.
"Hiks, kenapa?!" Isak Wonwoo pilu.
"Mengoperasi janinmu. . ." dua kata itu berputar-putar di dalam kepalanya.
Mengoperasi janinmu,
Mengoperasi janinmu,
Menggugurkan janinmu,
Membunuh calon anakmu.
Dan isakan itu semakin deras dan kencang meninggalkan mulut mungil Jeon Wonwoo.
Dengan gemetar, Wonwoo mengusap perutnya yang masih rata itu.
"Eomma akan melindungimu, baby-ya. . . hiks, bahkan jika Appamu menginginkan kematianmu. . . hiks." Lirihnya pelan.
Wonwoo menenggelamkan wajahnya di bantal, kembali menangis. Hingga bantalnya basah kuyup air mata.
.
.
.
.
Mingyu melangkah masuk kekamarnya. Membuka kemejanya, dan melemparnya kedalam keranjang pakaian kotor. Hanay menyisakan kaus dalam hitam di tubuhya. Berjalan menuju kamar mandi setelah melepas sepatunya.
Masuk kebilik shower, Mingyu menyalakan shower. Dan seketika air dingin mengguyur tubuhnya. Pria tampan itu mendongak, memejamkan matanya. Membiarkan aliran air dingin yang deras itu menghujam permukaan kulit wajahnya. Mencoba mendinginkan kepalanya yang luar biasa panas karena memikirkan nasib Wonwoo dan kandungannya.
Perlahan Mingyu mendudukan dirinya dilantai marmer itu. persis dibawah aliran shower yang setia mengguyurnya dengan air –sangat-dingin terus menerus.
"Aku mencintaimu, Jeon Wonwoo. . ."
"Aku juga mencintai bayi kita. . ."
"Tapi demi Tuhan, aku lebih mencintaimu dari siapapun di dunia ini, harusnya kau mengerti. . . sedikit saja, jalan fikiranku, sayang. . ."
Mingyu terus bergumam di tengah aliran shower yang deras mengguyur tubuhnya. Menatap nanar lurus kedepan dengan pandangan kosong. Membiarkan air matanya ikut mengalir bersama air shower yang melintasi tubuhnya.
"Mengertilah. . ."
.
.
.
.
Jihoon mengangkat tangannya, beralih mengetuk pintu didepannya. Pemuda mungil itu mendekatkan telinganya kepintu, mencoba mendengar balasan akan ketukannya. Namun hening.
TOK TOK TOK
"Wonu-ya!" Panggilnya agak kencang.
Namun tetap hening.
"Wonu-ya, waktunya sarapan!" Ulangnya lagi.
Kali inipun, yang didapatnya hanya keheningan.
"Jeon Wonwoo!" Jihoon mulai tak sabar.
Karena Wonwoo tak juga menjawab, Jihoon memutuskan untuk membuka pintu dengan kunci cadangan.
"Wonu. . . " Ucapan Jihoon terputus.
Matanya menangkap seseorang yang tengah terduduk di dekat kaki ranjangnya sambil memeluk lututnya sendiri. Sosok itu membelakanginya. Kepalanya tegak lurus, yang menandakan ia tengah menatap lurus kedepan. Dan ruangan itu sangat hening.
Tap tap tap
Jihoon melangkah sambil membawa nampannya. Menghampiri Wonwoo dengan senyum ceria.
"Wonu-ya. . ." Jihoon tertegun.
Wonwoo tampak sangat blank. Wajahnya kosong, dan ia menatap jauh menerawang dengan matanyanya yang sayu dan sembab sementara jejak air mata telihat jelas dikedua pipinya.
"Wonu-ya, kau baik-baik saja?" Jihoon meletakkan nampannya di meja. Dan beralih menghampiri Wonwoo.
Wonwoo menoleh dengan gerakan pelan yang sangat kaku. Jihoon sampai ngeri melihatnya.
"Jihoon-nie. . ." Lirihnya pelan.
"Kau kenapa?" Bingung Jihoon.
Wonwoo menggeleng.
"Makan ya? Kau belum amkan sejak semalam." Ujar Jihoon. Wonwoo kembali menggeleng.
"Kenapa? Kau harus makan agar keadaanmu segera pulih."
"Percuma." Sahut Wonwoo pelan.
"Heh? Apanya yang percuma?" Heran Jihoon.
Wonwoo bangkit, mendekati bingkai jendela, menatap keluar sana. Menatap hamparan rumput hijau yang terbentang luas di halaman belakang.
"Percuma, aku ingin mati saja." Lirih Wonwoo datar.
Jihoon berjengit. "Astaga Jeon Wonwoo, ada apa lagi dengan dirimu?" Jihoon meraih tangan Wonwoo, membalikan pria emo itu untuk menatapnya.
"Mingyu ingin aku menggugurkan kadunganku." Pelan, sangat pelan, bahkan Jihoon hampir tak mendengarnya. Untung saja ruangan itu sepi.
Jihoon mendesah pelan. Ia sudah tahu hal itu dari Mingyu semalam..
"Tapi bukan berarti kau harus mati, Wonu-ya." Jihoon mencoba memberi penjelasan.
"Tidak, jihoon-nie. Aku tak ingin membunuh bayiku." Sahut Wonwoo.
"Ini demi kesehatanmu. Setelahnya, kau bisa mengandung lagi."
"kecil kemungkinannya, Lee Jihoon." Wonwoo menunduk muram. Wajahya luar biasa kusut.
"Wonu-ya, mengertilah. Ini tak seburuk yang kau fikirkan. Mingyu hanya ingin kau tetap hidup. Percuma kalau bayi itu lahir kedunia dan hidup sementara Eommanya mati, takkan ada yang mengasuhnya."
"Jadi maksudmu bayi ini tak berharga?" Gusar Wonwoo.
"As-astaga, bukan seperti itu! kenapa kau berfikir begitu!" Jihoon ingin menangis saja rasanya. Menyesali kalimatnya yang salah arti bagi Wonwoo.
Wonwoo kembali berbalik. Menarik napas dalam. Kembali mengelus sayang perutnya.
"Aku tak peduli. Pokoknya aku akan tetap mepertahankan bayiku." Tandas Wonwoo. Jihoon berjengit.
"Kau tak mengerti, jeon Wonwoo. . ." Gumam Jihoon, snagat pelan. Bahkan hanya Jihoon sendiri yang mendengarnya.
.
.
.
Mingyu menyeruput americanonya lagi. Mengalihkan pandangannya kedepan sana. Kepekarangan rumahnya yang luas, dengan berbagai macam tumbuhan dan bunga. Mingyu menyandarkan tubuhnya pada kursi kayu yang didudukinya. Saat ini ia beradi di teras rumahnya, duduk dengan secangkir kopi diatas kursi-kursi kayu jatinya yang kokoh dan nyaman.
"Aku harus bagaiamana?" Gumamnya pelan. Kembali memikirkan Wonwoo. Bagaimanapun, ia harus bisa membujuk Wonwoo agar mau mengugurkan kandunganya. Harus.
.
.
.
.
*4 bulan kemudian*
Hari demi hari, waktu berlalu denagn cepat. Tanpa terasa, kandungan Wonwoo sudah memasuki bulan keenam. Perutnya semakin membesar, dan itu cukup menyusahkannya untuk berjalan. Setiap hari Mingyu berusaha membujuk Wonwoo untuk menggugurkan bayinya, namun Wonwoo bersikeras tak mau.
Mingyu menatap keluar jendela dari ruang kerjanya. Di laur hujan deras. Dan udara terasa sangat menusuk kulit, meski ia sudah menyalakan perapian dan juga pemanas ruangan. Langit mendung begitu kelam. Sesekali terdengar suara Guntur bersahutan. Suasananya sungguh mencekam. Padahal ini baru jam tiga sore.
Perlahan, Mingyu merasakan sebuah tangan melingkari perutnya. Dan ia juga merasakan sebuah tubuh yang merapat dengan tubuhnya, meski sulit karena perut orang itu sedang membesar. Mingyu melirik tangan kurus dan putih pucat itu. tersenyum simpul.
"Kenapa tak tidur, hm?" Tanya Mingyu, sambil berbalik. Membalas pelukan Wonwoo.
"Petirnya mengganggu fikiranku." Wonwoo menyamankan kepalanya di dada bidang Mingyu.
"Lalu?" Mingyu menciumi puncak kepala Wonwoo yang pas berada didepan hidungnya.
"Temani aku." Sahut Wonwoo, sambil semakin menenggelamkan kepalanya dipelukan Mingyu.
"Kkk~ baiklah, ayo kita tidur." Mingyu merangkul pundak Wonwoo untuk berjalan menuju kamar mereka.
Sejak kehamilan Wonwoo yang semakin membesar, Mingyu memutuskan mereka pindah kamar kelantai bawah. Agar tidak menyulitkan Wonwoo untuk naik turun tangga. Dan lagi pula, Mingyu sering merasa kasihan melihat Wonwoo. Berjalan saja rasanya dia kerepotan karena perutnya yang besar. Mingyu sendiri bingung, bagaimana bisa kandungan berusia enam bulan sampai sebesar itu?
Pernah suatu ketika Wonwoo tertidur, piyama tersingkap dan memperlihatkan perutnya yang memelar sampai kulit-kulitnya begitu tipis. Mingyu bergidik ngeri melihatnya. Apalagi karena kulit Wonwoo yang teramat putih pucat, bagian dalam perutnya seolah terlihat jelas, urat-urat yang bergaris dan aliran darah yang mengalir terlihat jelas, karena kulitnya yang semakin transparan.
"Gyu~" Wonwoo menghentikan langkahnya.
"Hm?" Mingyu menoleh, menatap Wonwoo yang terdiam.
"Gendong~" Blush. Wonwoo merona sendiri karena ucapannya. Mingyu terkekeh geli.
"Baiklah~ ayo kita tidur~" Mingyu menyelipkan tangannya dileher dan pinggang Wonwoo, lalu menggendongnya ala bridal style. Dan mereka kembali berjalan.
Jujur, sekarang mingyu agak kewalahan jika Wonwoo minta gendong, tapi ia tak menolaknya. Berat badan Wonwoo naik drastis, bahkan lebih berat dari Mingyu.
"Kita sampai~"
Mingyu dengan pelan dan lembut merebahkan tubuh Wonwoo diranjang. Kemudian kembali melangkah menutup pintu kamar mereka. Dinyalakannya pemanas ruangan sampai suhunya cukup hangat. Sementara Wonwoo sudah menarik selimut sampai sebatas leher. Mingyu menghampiri.
Duduk ditepi ranjang, kemudian ikut merebahkan tubuhnya. "Tidurlah." Ujar Mingyu. Wonwoo merapatkan tubuh mereka. Kemudian si tampan melingkarkan tangannya di perut Wonwoo yang mulai memejamkan matanya. Keduanya mulai terlelap.
Sementara hujan deras masih mengguyur kota itu, dan petir menyambar-nyambar dengan kilat yang saling bersahutan. Tapi kali ini, mereka tidak kedinginan. Karena kehangatan cinta menyelimuti mereka.
.
.
.
Mingyu menyandarkan tubuhnya kesandaran ranjang dibelakangnya. Mengusap wajahnya pelan. Matanya terasa berat. Tapi entah mengapa ia terbangun. Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Hujan sudah rea sejak tadi sore. Matanya menatap sosok yang terlelap sambil meringkuk memeluk tangan kanannya. Tersenyum tipis.
Tangan kiri pria tampan itu terulur, mengelus sayang surai hitam itu. kemudian, beralih mengusap perut buncit istrinya itu.
"Baby-ya, maafkan Appa. . . bukan Appa tak sayang padamu. Tapi kau harus mengerti keadaan kami. . . sayang. . ." Bisik Mingyu, ia merunduk. Mencium hangat perut yang membuncit itu.
.
.
.
"Wonu-ya!" sapaan serempak dari dua orang pria itu menghentak Wonwoo dari aktifitasnya membaca majalah. Ia menoleh, tersenyum hangat. Ingin bangkit namun terlalu susah.
"eh, duduk saja. Biar kami yang menghampirimu!" Sergah Jeonghan sambil menghampiri Wonwoo.
Jeonghan dan Jisoo mendudukkan dirinya di kanan dan kiri Wonwoo.
"Kemarin aku diajak Seungcheol menemaninya ke Holand, dan aku punya sesuatu untukmu." Ujar Jeonghan, menaruh kantung kertas berwarna baby blue di meja.
"Hm? Apa itu hyung?" Tanya Wonwoo cukup penasaran.
Jeonghan membuka kantung kertas itu. mengeluarkan sebuah sweater mungil bergambar kincir angina raksasa berwarna krem pastel.
"Lihat, ini untuk baby-mu. Aku suka sekali, makanya aku beli untukmu!" Ujar Jeonghan, senyumnya mengembang lebar.
"Wah! Its really cute!" Komentar Wonwoo, dengan senyum manisnya. Matanya menatap hangat sweater yang kini dipangkuannya itu. Namun detik berikutnya, senyum manis dan hangat itu lenyap. Tergantikan oleh wajah murung.
Jeonghan yang memperhatikan perubahan drastic raut wajah Wonwoo itu terlihat cemas, "Ada apa? Kau tak suka? Maafkan aku." Sesal Jeonghan dengan rasa bersalah. Sementara Jisoo sejak tadi hanya menyimak percakapan mereka.
"Tidak hyung. Bukan itu. aku suka sekali sweater mungil ini." Gumam Wonwoo sambil menunduk. Membayangkan bayinya nantti memakai sweater lucu itu.
"Lalu? Kenapa wajahmu murung begitu?" Heran Jeonghan.
Wonwoo menarik napas berat. "Sebenarnya sejak awal Mingyu ingin aku menggugurkan bayi ini." Lirih Wonwoo.
"A-apa?" Jeonghan terlihat menutup mulutnya. Jisoo juga tampak terhenyak.
"Lho? Memangnya kenapa?" kali ini Jisoo yang bertanya, karena Jeonghan masih tercengang dengan wajah shock.
"Ada kista yang terus membesar seiring membesarnya kandunganku, tepatnya di bawah dinding Rahim bagian luar." Jelas Wonwoo, raut wajahnya semakin murung.
Jeonghan kehabisan kata-kata. Ia merasa ikut sakit hati dan sedih mendengarnya.
"Wo-wonu-ya, itu kan. . . sangat berbahaya. . ." Lirih Jisoo. Sebagai dokter, ia tahu persis bagaimana keadaan itu.
"Itulah sebabnya, Mingyu ingin aku menggugurkannya. Tapi aku menolak. Aku tak tega hyung. Biar bagaimanapun, dia hidup. Dia anakku!" Sahut Wonwoo, menatap bergantian wajah kedua sahabatnya.
"La-lu. . . Wonu-ya, apa kata Doktermu?" Jeonghan terlihat mulai berkaca-kaca. Ia pasti putus asa sekali jika berada diposisi Wonwoo.
"Dokter Li juga begitu, menganjurkanku untuk menggugurkannya. Ia bahkan memberitahuku cara pengguguran alternative tanpa jalur operasi aborsi." Wonwoo terlihat agak terisak. Suaranya mulai serak.
Jeonghan merangkul sosok manis itu yang sekarang menunduk dengan air mata berlinang. "Wonu-ya, kami disini. Kami akan berdoa semoga kau selamat, dan semoga bayimu juga selamat. Percayalah, Tuhan takkan sejahat itu padamu." Uajr Jeonghan, mengusap lembut punggung Wonwoo.
"Hiks, tapi aku takut hyung. A-aku takut. . ." Lirih Wonwoo dengan isakannya.
Jisoo iba melihatnya, dengan lembut ia juga ikut memeluk Wonwoo dari samping. "Ssst, kami bersamamu, Wonu-ya. Kau tak perlu takut. Kita sudah lalui semuanya sejauh ini. Kau hanya perlu bertahan sebentar lagi." Jisoo juga merasakan matanya mulai memanas. Ini pasti sangat sulit bagi Wonwoo.
"Terima kasih, hyung. Kalian benar-benar sahabatku."
"Kita ditakdirkan untuk selalu bersama, Wonu-ya."
.
.
.
.
Mingyu memasuki rumah mewahnya dengan menjinjing sebuah kantung plastic berlabel salah satu supermarket terbesar di Seoul.
"Wonu-ya!" Panggilnya.
"Wonu dikamarnya, Tuan Kim." Sahut Jihoon kalem.
Mingyu langsung berlalu menuju kamar mereka. Dibukanya knop pintu perlahan. Dan didapatinya orang yang dicarinya itu. Wonwoo yang sedang duduk menyandar diranjang sambil menonton dvd yang diputarnya. Mingyu masuk.
Sejenak pria tampan itu melirik tontonan Wonwoo. Dan seperti dugaannya, Wonwoo pasti menonton itu. CD untuk orang hamil dan bayi. Dan kalau Mingyu tak salah ingat, itu adalah Mozart for babbies. Semacam film documenter yang sukses membuat Wonwoo menangis haru berlinang air mata, sedang Mingyu tertidur pulas dibahunya.
"Wonu-ya~" Panggil Mingyu lembut, pria tampan itu menghampiri Wonwoo. Beringsut naik keatas tempat tidur sambil menggantung kakinya yang masih memakai sepatu.
"Hm?" Wonwoo melirik sekilas. Mengusap air matanya dan kembali fokus dengan tontonannya.
"Hari ini waktunya check kandungan, sayang~" Sahut Mingyu.
Wonwoo terdiam. Mengingat-ngingat. Kemudian dia mengangguk.
"Ayo, kita kerumah sakit." Mingyu mengulurkan tangannya. Dan Wonwoo menyambutnya.
Sebelum pergi, Mingyu memakaikan sebuah mantel panjang dan lebar untuk Wonwoo. Diluar udaranya cukup dingin. Mereka berjalan dengan perlahan-karena Mingyu tahu Wonwoo sangat kesusahan berjalan- menuju mobil.
Mingyu menstater mobilnya. Meluju menuju rumah sakit.
.
.
.
"Wah! Lihat, tangan-tangannya bergerak!" Mingyu dengan antusias menatap layar USG di depannya. Sementara Wonwoo hanay tersenyum karenanya. Dokter Li tersenyum, tangannya tetap bergerak memegangi alat USG.
"Apa gendernya?" Tanya Mingyu.
"Sepertinya laki-laki." Sahut Dokter Li.
Mingyu memperhatikan dengan cermat layar USG itu. sampai kemudian ia menyadari sesuatu. "Tunggu, kenapa tangannya ada empat?" Mingyu menajamkan pengelihatannya.
Dokter Li tertawa mendengarnya. "Bayi anda kembar, Tuan Kim." Sahut Dokter muda dan tampan itu.
Sebenarnya, ini pertama kalinya Mingyu mengantar Wonwoo check kandungan. Karena biasanya Wonwoo ditemani Jihoon atau pelayan yang lain. Dan sebenarnya, Wonwoo sudah tahu kalau bayi mereka akan kembar. Karena itulah, perutnya lebih besar dari kebanyakan.
"KEMBAR?!" Mingyu tercengang mendengarnya.
Wonwoo terkikik geli mendengarnya.
.
.
.
Mingyu menatap lekat sosok yang terbaring menyamping dihadapannya.
"Maafkan aku. Aku begitu egois. Tapi kau harus mengerti, aku hanya ingin kita tetap bersama selamanya. Aku menikahimu karena aku menyayangimu dan ingin selalu bersamamu, bukan karena kau bisa memberiku keturunan atau tidak."
"Kau melakukannya dengan baik, Jeon. Aku tak menyangka akan seperti ini.. ."
"Berjuanglah, untuk dua malaikat kecil kita. Aku akan selalu ada untukmu."
Mingyu mengecup kening Wonwoo. Menyelimutinya dengan selimut beludrunya yang tebal. Kemudian melingkarkan tangannya pada pinggang sosok yang terlelap itu. meneruskan rajutan mimpi yang kemarin malam.
.
.
.
.
Mingyu membalik berkas-berkas ditangannya dengan wajah gelisah. Setelah kematian Yongguk, semua partner bisnisnya yang dulu dirampas Yongguk, kini berbalik memintanya untuk kembali bekerja sama. Dan itu cukup membuat Mingyu pusing.
Tadinya ia hendak menunda dulu proyek Jeju-do nya itu. setidaknya, sampai Wonwoo melahirkan. Karena demi apapun, otaknya tak bisa konsentrasi dengan benar. Yang ia fikirkan hanya Wonwoo, Wonwoo, Wonwoo, dan bayinya.
Padahal tiga bulan terakhir Mingyu sudah bekerja di rumah saja, tapi ternyata, dia tetap harus kekantor. Dan beginilah jadinya.
Tumpukan berkas itu sudah selesai ia tanda tangani. Dengan cepat Mingyu menyambar jasnya dan juga tas kerjanya. Dengan cepat ia berlalu dari ruangan itu.
Mingyu berjalan dengan langkah tergesa, ia bahkan tak sabar menunggu pintu lift terbuka dan membawanya kelantai dasar.
Setelah sepuluh menit, Mingyu berhasil memecah rekor tercepat sampai kebasement kantornya. Dengan segera ia membuka pintu mobilnya.
Di basement itu sepi, hanya ada ia dan seorang wanita berseragam kantor yang ketat dan minim-yang entah siapa- dan Mingyu tak peduli padanya.
Pria tampan itu menstater mobilnya dan melajukan mobilnya dnegan cepat.
.
Dijalan, Mingyu mengawasi jalan didepannya dengan baik, meski tangannya tengah mendial nomor seseorang.
"Halo? Kau sudah makan sayang?"
"Hm. . . kau ingin kubelikan apa? Aku sedang dijalan pulang sekarang~"
"Kkk~ begitu ya, baiklah. Aku mencintaimu Kim Wonwoo~" Mingyu terkikik geli kemudian memutus sambungan telofon.
Sebelum sampai rumahnya, Mingyu menyempatkan diri mampir kesebuah super market sejenak.
Kaki-kakinya yang panjang dengan cepat menyusuri area perbelanjaan itu. sambil mendorong sebuah troli, Mingyu menyusuri jajaran rak-rak yang berbaris rapih dihadapannya. Tangannya dengan cepat mengambil bahan-bahan yang dibutuhkannya. Tadi di telefon, Wonwoo memintanya agar dimasakan beberapa masakan Prancis dan Itali. Karena itulah, Mingyu belanja terlebih dahulu.
Setelah hampir dua puluh menit berputar-putar dengan trolinya yang kian lama kian penuh, Mingyu mendorong belanjaannya menuju kasir. Membayarnya.
.
.
.
Ferrari merah itu kembali melaju membelah jalanan Seoul yang selalu padat dan sibuk seperti biasanya. Kecepatan mobil itu cukup kencang, mungkin karena pengemudinya yang sudah tak sabar ingin segera sampai.
Tap tap tap
"Aku pulang~"
"Gyu!"
Mingyu tersenyum melihat Wonwoo yang datang menghampirinya.
"Mau temani aku masak?" Tanya Mingyu, mengusap sayang surai kelam itu. Wonwoo mengangguk lucu.
Keduanya berjalan menuju dapur beriringan. Mingyu memeluk erat pinggang Wonwoo. Tampak sangat ingin melindunginya.
"Hmm . . . tunggu sebentar. . ." Mingyu mengedarkan pandangannya. Kemudian ia menarik sofa panjang yang ada di sudut ruang makan, membawanya kedekat counter dapur. Wonwoo hanya memperhatikannya dengan bingung.
"Nah, duduklah disini. Kau tidak boleh kebanyakan berdiri." Mingyu menuntun Wonwoo duduk di sana, sementara yang ia tuntun hanya bersemu malu.
Mingyu mulai memakai apronnya. Menggulung sampai sebatas siku lengan kemejanya, dan menanggalkan dasinya. Mulai berkutat dengan bahan-bahan makanan.
Wonwoo duduk manis sambil menopang dagu, memperhatikan dengan baik punggung tegap pria tampan itu.
"Gyu?"
"Hm?" Mingyu menoleh. "Ada apa?"
"Tak apa, hanya ingin kau menoleh saja. Hehehehe." Wonwoo memasang wajah geli dengan senyum lebar dan hidung yang mengkerut lucu. Sementara Mingyu geleng kepala mendengarnya.
.
.
.
Cukup lama Mingyu memasak, hampir dua jam lebih. Dan seperti biasa, kalau Mingyu sudah berkutat dengan makanan, dia seakan lupa kalau yang ada didunia ini bukan Cuma dia. Saking asiknya, gunung meletus ditelinganya pun mungkin tak akan terdengar.
Kecuali. . .
"Mingyu-h. . . eungh. . ."
Mingyu dengan cepat melepas spatulanya, menoleh. Dan didapatinya Wonwoo yang tertidur di sofa. Ternyata Wonwoo mengerang pelan saat tidur. Tapi kemudian tak terdengar apapun. Mingyu tersenyum. Menghampirinya.
Mengusap sayang rambut hitam Wonwoo. Menepikan poninya kesamping. Mengecup hangat kening Wonwoo, yang kemudian turun kedua matanya, hidung bangirnya, dan terakhir bibirnya yang mungil.
"Aku mencintaimu, Jeon Wonwoo." Bisik Mingyu, sebelum kembali meneruskan acara memasaknya.
.
.
.
To Be continued OR END?
Note: huwa maaf telat update lagi, author terserang virus mager karena begadang nungguin Wonu di rumah sakit :3 *abaikan* maaf ya yang ingin gak feel gitu. Dan buat dua chap terakhir ini alurnya dicepetin banget, soalnya biar bisa ampe Wonu lahiran. Itu yang masih bingung get down nya siapa, get downnya itu Yongguk, dan author minta maaf buat bikin Yongguk kaya gitu *deep bow* tapi makasih ya, terhura liat yang review sebanyak itu *hiks* jadi makin semangat bikin season 2 nya, tapi yang minta ampe kaya cinta fitri itu tolong dikondisikan ya -..-
REVIEW PLEASE
