Tittle: GET DOWN (Meanie)
Cast: Jeon Wonwoo
Kim Mingyu
Others
Genre: Yaoi, bdsm/?
Rated: M
Disclaimer: Plot ceritanya murni punya author, Wonwoo juga punya author.
Summary: Jeon Wonwoo, harus hidup menderita dengan statusnya sebagai istri Kim Mingyu.
DON'T LIKE DON'T READ AND REVIEW PLEASE
"Aku mencintaimu, Jeon Wonwoo." Bisik Mingyu, sebelum kembali meneruskan acara memasaknya.
.
.
.
.
*DUA BULAN KEMUDIAN*
Mentari baru naik sepenggalah, sinar hangatnya samar-samar mulai memanas. Pagi baru saja mulai beranjak, meninggalkan kedamaian pada embun-embun yang mulai mengering. Sementara bangunan kokoh dan mewah itu tenang dan damai seperti biasanya. Butler dan maid berkeliaran di sekitar rumah itu.
Sementara halaman belakang yang luasnya sama dengan kebun raya itu agak sedikit bising. Karena ulah dua pria dewasa yang sedang ada dibawah pohon itu. keduanya tampak sibuk.
Palu, gergaji, obeng, dan berbagai macam perkakas besi berserakan disekitar situ. Dengan satu kotak berbentuk peti berukuran sedang yang terbuka lebar-wadah perkakas itu- dan papan-papan kayu jati yang sudah di vernis bergeletakan disekitarnya.
"Pegang yang sebelah situ." Suruh si tampan berkulit tan yang memakai kaus polos tanpa lengannya.
"Sudahlah Tuan, biar saya saja yang mengerjakannya." Yang berpakaian butler tampak cemas.
"Berisiknya dirimu Lee Seokmin! Ikuti saja perintahku!" Geram Mingyu, sambil mengangkat palunya. Tidak, dia tak berniat melempar Seokmin dengan palu, itu hanya refleks semata.
"Ba-baiklah." Seokmin kemudian mengikuti kemauan Tuannya itu.
DOK DOK DOK!
TRAK!
Suara hantaman palu dipapan jati itu terdengar bergema keseluruh sudut halaman belakang. Sementara peluh mulai mengucur deras dipelipis Mingyu. Tapi pria tampan itu tak peduli. Wajahnya tetap semangat dan serius. Niatnya benar-benar menggebu-gebu.
Mingyu sedang membuat box bayi untuk calon bayinya yang diperkirakan dokter akan lahir dua minggu lagi. Sebenarnya Wonwoo sudah menyarankan agar mereka membelinya saja ditoko, tapi Mingyu bersikeras ingin membuat sendiri. Dan lagi pula, Mingyu punya alasan khusus,
"Bayi kita ini kembar, sayang. Dan aku ingin agar keduanya berada dalam satu ranjang mungil yang sama!"
Kalau sudah begitu, siapa yang bisa menghentikan keinginannya? Tak ada. Satupun taka da yang bisa menolak keinginan Kim Mingyu.
Mingyu dengan semangat membuatnya. Sebenarnya ranjang mungil itu hampir jadi.
Mingyu menghantamkan pukulan terakhirnya, dan selesailah sudah proses dasar pembuatannya. Mereka hanya perlu memvernisnya sekali lagi dan mengecatnya. Lalu mengeringkan catnya. Sedangkan untuk kasurnya, Wonwoo sudah membelinya di online shop.
"Lee Seokmin! Ambil catnya!" Suruh Mingyu, menatap puas hasil kerjanya. Sementara tangannya mulai sibuk memvernis kembali rangka box itu. sedeharna memang, tapi lihat dari sisi keistimewaannya. Mingyu membuatnya sendiri untuk anak pertamanya. Dengan sepenuh hati. Itulah mengapa raut pria tampan itu terlihat sangat puas.
Tak seberapa lama, Seokmin kembali dengan membawa dua kaleng cat kayu ukuran sedang, dan juga kuasnya.
"Buka tutupnya." Suruh Mingyu lagi.
Seokmin hanya menurut. Tangannya bergerak cepat membuka tutup kaleng cat itu.
Mingyu mulai mencelupkan kuasnya kedalam cairan kental berwarna cokelat keemasan itu. tangannya mulai bergerak lincah dengan semangat melapisi papan kayu jati itu dengan cat. Setiap lekukannya secara arah. Seokmin membantunya mengecat sisi yang lain. Mereka terlihat benar-benar tekun.
Box bayi itu berukuran dua hampir tiga kali lipat lebih besar dari ukuran biasanya. Karena seperti ucapan Mingyu, aka nada dua bayi yang mengisinya.
"Ya! Lee Seokmin! Oles yang rata!" Protes Mingyu, melihat hasil kerja Seokmin yang menurutnya kurang rata.
Seokmin mengangguk patuh. "Baik!"
Keduanya kembali terlarut dengan pekerjaan mereka.
Sementara mentari semakin tergelincir naik dan sinarnya semakin terasa menyengat kulit. Angin semilir bertiup karena halaman belakang itu sangat rindang. Jam menunjukkan pukul sebelas siang.
"Huwa! Akhirnya selesai!" Mingyu menatap takjub hasil kerjanya.
Ranjang mungil itu sudah selesai. Hanya perlu menjemurnya sebentar untuk mengeringkan catnya yang masih basah. Mingyu mengelap peluhnya. Tak sia-sia dia kerja dihari Minggu seperti ini. Senyum kepuasan tampak memancar dari wajahnya yang berpeluh.
"Kerja bagus, Lee Seokmin!" Ujar Mingyu. Seokmin hanya menampilkan cengiran khasnya.
"Ayo kita jemur ini!" Ajak Mingyu.
"Ayo!" Seokmin sudah bersiap mengangkat ranjang mungil itu. sebelum tiba-tiba Jihoon berlari cepat mengahampiri mereka
Pria mungil itu tampak tergesa-gesa. Kaki-kaki pendeknya berlari cepat menuju Mingyu dan Seokmin. Surainya yang berwarna jingga seperti permen kapas bergoyang lucu selama ia berlari.
"Tuan Kim!" Panggil Jihoon, napasnya tersenggal.
"Heh? Ada apa?" Mingyu heran melihat Jihoon yang seperti dikejar setan.
"Wonu- hosh. . . hosh. . . Wonu kontrasi Tuan! Sepertinya akan segera melahirkan!"
"APA?!" Mingyu terbelalak mendengarnya.
"Ya! Lee Seokmin, jemur ranjang ini sampai kering! Dan nanti baa saja kedapur!" Suruh Mingyu, Seokmin hanya mengangguk.
Pria tampan itu langsung berlari tanpa pedulikan apapun lagi. Sangat cepat. Ia merasa panic dengan jantungnya yang berdebar luar biasa cepat. Peluhnya semakin deras mengucur.
Mingyu membuka pintu kamarnya lebar-lebar dan dilihatnya Wonwoo yang sedang terbaring sambil memegangi perutnya. Mulut mungilnya mengeluarkan rintihan pelan diselangi dengan erangan.
"Kim Wonwoo!" Mingyu dengan cepat menghampiri Wonwoo.
"Gyu-hhh sakit. Perutku serasa melilit." Isak Wonwoo. Mingyu bertambah panic mendengarnya.
Dengan cepat ia menggendong Wonwoo ala bridal style. Membawanya dengan langkah cepat emnuju mobilnya.
Mingyu menstater mobilnya, dan mulai melaju. Kecepatannya diatas rata-rata dia berkendara. Wajahnya begitu cemas. Apalagi saat mendengar rintihan Wonwoo yang semakin sering terdengar.
"Tunggu sebentar, Wonu-ya, kita hampir sampai." Mingyu merasakan sekujur tubuhnya bergetar karena panic.
"Mingyu-h. . ." Lirih Wonwoo. Mingyu menoleh, dan mendapati jok yang diduduki Wonwoo basah dengan bercak-bercak darah. Sepertinya air ketubannya sudah pecah.
.
.
.
DRAP DRAP DRAP!
"DOKTER! SUSTER! TOLONG!" Teriak Mingyu sambil menggendong Wonwoo memasuki rumah sakit.
Para perawat yang ada langsung datang menghampirinya dengan ranjang rumah sakit. Kemudian mereka mendorong Wonwoo menuju ruang operasi.
Selangkah sebelum Mingyu masuk, seorang suster mencegahnya.
"Maaf tuan, silahkan tunggu diluar." Ujar suster itu sambil menutup pintu rapat-rapat.
Mingyu meremas rambutnya sambil menatap cemas pintu ruangan yang sudah tertutup. Operasi sesarnya sudah mulai dilakukan. Jauh dari perkiraan dokter, Wonwoo melahirkan lebih cepat.
Mingyu terduduk sambil mengaitkan kedua tangannya. Mulai berdoa. Ia benar-benar takut sekarang. Semua kemungkinan buruk meghantui fikirannya. Ia takut. Takut kehilangan Wonwoo. Takut kehilangan bayi mereka.
Kista yang ada dibagian luar dinding Rahim Wonwoo, ukurannya sudah sangat besar. Dan Dokter pernah bilang, kalau itu akan menyusahkan proses persalinan. Bahkan jika lewat jalur operasi sekalipun hal yang paling fatal bisa terjadi. Ibunya yang meninggal, atau bayinya, atau mungkin keduanya.
Dan, disinilah Mingyu merasa paling takut seumur hidupnya.
.
.
.
"Gyu, kau harus sabar. Kita harus terus berdoa." Jeonghan menepuk-nepuk punggung Mingyu yang menyandar sambil memejamkan matanya erat.
Mingyu masih diam. Mulutnya terus bergumam memanjatkan doa.
Sudah lebih dari lima jam sejak Wonwoo dibawa kerumah sakit. Ini lama sekali. Dan Mingyu benar-benar khawatir. Hatinya tak karuan dan fikirannya kacau.
Jeonghan menguap. Ia merasa sangat mengantuk sebenarnya, karena kemarin dia begadang mengurus jobnya. Dan belum tidur sampai sore itu.
"Hyung, aku benar-benar takut."
"Percayalah, semuanya akan baik-baik saja, Gyu. Wonu itu sangat kuat, dia pasti bisa melaluinya dengan baik. Lagipula didalam ada dokter Li dan Jisoo yang membantunya bersalin walau lewat operasi."
"Hugh. . . aku merasa kepalaku hampir pecah." Lirih Mingyu.
Jeonghan tersenyum tipis menanggapinya. Lalu ruang tunggu itu kembali sepi. Mingyu kembali khusuyuk menggumamkan doanya. Jeonghan juga ikut berdoa dalam hati. Keduanya menatap pintu yang tertutup rapat itu dengan pandangan harap-harap cemas. Ini pertama kalinya keduanya dalam keadaan seperti itu.
.
.
.
Ruangan yang remang-remang itu hanya diterangi oleh lampu operasi besar yang ada diatas mereka. Bau obat dan darah menguar bercampur satu. Peralatan medis berserakan diatas sebuah meja dorong. Semua yang ada disitu diam, fokus dengan perkerjaan masing-masing. Suara denting alat medis yang beradu membuat keadaan semakin mencekam. Bunyi mesin penunjuk detak jantung seolah-olah menjadi harmoni yang menggetarkan.
Jisoo mengelap peluhnya. Wajahnya yang tertutup masker terlihat begitu serius. Tangannya memegangi beberapa alat-alat medis. Sementara di seberangnya juga ada Dokter Li Wenhan yang serius bukan main. Peluh mengucur deras dipelipis keduanya.
"Dokter, detak jantungnya melemah!" Seru seorang perawat.
Kedua Dokter itu menatap layar monitor yang ada disebelah mereka.
"Bertahanlah, Jeon Wonwoo." Ucap Jisoo dalam hati.
.
.
.
Jam menunjukkan pukul enam petang. Dan pintu ruang operasi itu belum juga terbuka.
Drap drap drap!
Langkah pelan itu terdengar menggema di koridor atas yang merupakan tempat bersalin itu. seorang pria tampan memakai setelan santai menyusuri lorong sambil menjinjing sebuah plastic berlabelkan salah satu minimarket yang ada didekat rumah sakit.
Pria tampan itu menghampiri dua orang lainnya yang terduduk lemas di ruang tunggu.
"Mingyu-ya! Jeonghannie!" Seru Seungcheol, tidak terlalu kencang. Namun terdengar sangat jelas.
Mingyu dan Jeonghan menoleh pelan. Mingyu haya menatapnya datar, mulutnya tetap bergumam berdoa. Sedang Jeonghan menyambutnya dengan senyum hangat.
Seungcheol mendudukkan dirinya disebelah Mingyu.
"Kufikir ada baiknya kau minum dulu, Gyu. Kudengar kau sudah sejak siang tadi ada disini."
"Hm. Terima kasih, hyung." Sahut Mingyu datar. Tangannya meraih uluran sekaleng kopi regular dan sebungkus roti sobek dari Seungcheol.
"Ini, kalian makanlah dulu." Seungcheol kemudian memberika kantung plastiknya pada Jeonghan.
"Aku tak lapar, hyung." Desah Mingyu terdengar putus asa, mereguk kopi dingin itu. membiarkan aliran kopi yang dingin membekukan fikirannya yang panas sejak tadi.
Seungcheol tersenyum, mengerti apa yang Mingyu rasakan. Kemudian menepuk-nepuk punggung yang lebih muda.
"Tidak, Gyu. Aku tahu kau sangat cemas, aku juga begitu. Tapi kau juga harus mengisi energimu. Jangan sampai kau lemah saat Wonu membutuhkanmu." Ujar Seungcheol.
"Benar, gyu. Kau harus tetap makan dan sehat." Jeonghan menimpali.
"Aku tidak bisa enak-enakan makan saat Wonu berjuang mati-matian disana." Desis Mingyu.
Jeongahan dan Seungcheol berpandangan, kemudian sama-sama mengangkat bahu. Mingyu kembali terdiam. Begitupun Jeonghan yang bungkam karena tak ingin berdebat. Sedang Seungcheol hanya berjalan-jalan tak jelas mengitari koridor.
Ckelek. . . kriet. . .
Suara derit pintu yang pelan itu berhasil menginterupsi kegiatan ketiga pria itu, ketiganya menoleh bersamaan. Menatap Dokter Li Wenhan yang keluar ruang operasi dengan wajah berkeringat dan raut murung.
"Dokter? Bagaimana keadaannya?" Mingyu langsung bangkit dan menghampirinya.
Dokter Li menatap Mingyu. "Bayinya selamat. Ibunya juga. Tapi masih belum bisa dijenguk." Ujar Dokter itu, dengan senyum tipis dan berlalu meninggalkan ketiganya.
Mingyu terbelalak. Seketika rasa bahagia dan senang menghambur memenuhi dirinya. "Hyung! Wonu selamat, hyung!" Girangnya dengan air mata yang menggenang, menghambur memeluk Seungcheol.
"Syukurlah. . ." Jeonghan menarik napas lega.
"Yak! Kim Mingyu! Sesak!" Seungcheol berusaha melepaskan pelukan Mingyu.
Saat mereka sibuk menggumamkan kata syukur, Jisoo keluar dari dalam ruang operasi. Wajahnya tenang seperti biasanya. Sorot matanya memancarkan keteduhan.
"Jisoo-ya, bagaimana keadaannya?"
"Hm. . . karena bayinya premature jadi sementara mereka dirawat dalam incubator terlebih dahulu. Wonu baik-baik saja, tapi dia masih belum sadar efek bius operasi. Aku salut, dia berhasil melewati masa kritisnya. Padahal tadi dia sempat meregang nyawa." Jelas Jisoo panjang lebar.
Seungcheol, Mingyu, dan Jeonghan tercengang mendegarnya. Jeonghan sampai menutup rahangnya yang jatuh.
"Oh ya, tapi kenapa tadi Dokter Li terlihat murung?" Tanya jeonghan kemudian.
Jisoo tersenyum tipis. "Tadi ada sedikit perdebatan kecil antara kami. Dia taka pa. Mungkin hanya lelah." Sahut Jisoo.
"Sudah ya, aku masih ada yang harus dikerjakan." Pamit Jisoo meninggalkan kawan-kawannya.
Mingyu kembali mengulas senyum lebarnya. Dia merasa hatinya yang terhimpit kini benar-benar lega dari sesaknya rasa cemas.
.
.
.
*seminggu kemudian*
"Wonu-ya aku datang~" Mingyu memasuki ruangan sambil menjinjing beberapa kantong plastic. Menutup perlahan pintu ruang rawat inap itu.
Didapatinya Wonu yang terbaring menyandar sambil mendekap hangat salah satu bayi mereka.
"Gyu. . . apa kau sudah tentukan nama untuk mereka?" Tanya Wonwoo, setelah Mingyu duduk di dekat ranjangnya.
Mingyu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sejak kemarin Wonwoo terus menanyakan hal itu padanya. Sebenarnya dia agak kesulitan memberi nama bayi mereka, karena mereka kembar.
"Aku sudah tentukan." Mingyu menatap box bayi didekatnya.
"Oh ya? Siapa? Cepat beritahu aku!" Wonwoo benar-benar antusias.
"Hm, untuk yang sedang kau gendong itu namanya Kim Minwoo, sedang yang terlelap itu namanya Kim Kyungwon." Sahut Mingyu kemudian.
Wonwoo terdiam. Tapi detik berikutnya dia tersenyum manis. "Nama yang bagus." Pujinya, dan Mingyu hanya nyengir.
"Annyeonghasaeyo~ Kim Kyungwon-nie, ini Appamu. . . calam kenal. . ." Mingyu berkata sambil meniru suara anak kecil, yang sukses membuat Wonwoo geli setengah mati.
Mingyu mengamati Kyungwon. Bayi mungil itu memiliki wajah perpaduan keduanya. Hidungnya seperti Mingyu, matanya seperti Mingyu, bibirnya juga, namun raut wajahnya persis Wonwoo. Bahkan sepertinya dia mewarisi ke-emo-an sang Eomma.
Sedangkan Minwoo, wajahnya juga perpaduan keduanya. Matanya seperti Wonwoo, hidungnya bangir persis Eomamnya, bibirnya mungil seperti Eommanya, dan raut wajahnya persis Mingyu. Minwoo terlihat lebih menggemaskan dari Kyungwon, karena tidak ada aura emo sama sekali/?
Mingyu tersenyum senang. Dalam hati ia bersyukur. Akhirnya, Tuhan memberikan kebahagian untuk keluarganya. Masa kelam sudah sirna, kini saatnya menuju masa depan yang cerah. Sekarang, saatnya lah mereka memulai lembaran baru. Kehidupan berkeluarga yang sesungguhnya.
END
Omake
Minggu pagi yang cerah. Mentari baru saja mulai menampakkan sinarnya. Kilaunya yang hangat menembus celah-celah gorden kamar dari sebuah rumah mewah dan megah. Tapi sama sekali tidak mengusik dua sosok yang sedang terlelap sambil berpelukan itu.
Ruangan itu hening. Sampai derit pintu terbuka dan menampakan dua sosok mungil berwajah mirip yang keduanya mengenakan baju kodok dengan warna yang berbeda. Dua bocah mungil itu berjalan bersamaan. Menghampiri ranjang.
Tap tap tap
Kriet
Salah satu dari bocah mungil itu menaiki ranjang dengan agak kesusahan karena tubuhnya yang baby fat.
"Eomma! Eomma!" ucap bocah berwajah imut yang mengenakan baju kodok dengan border 'Kim Minwoo' di dada kirinya itu.
"Eomma! Appa! Banun!" Ujarnya dengan aksen cadel yang khas. Minwoo menggoyang-goyangkan bahu Wonwoo yang masih terlelap.
"Appa! Gyu Appa!" Kali ini Minwoo berusaha membangunkan Mingyu yang sama lelapnya seperti Wonwoo.
Sementara Kyungwon, hanya memasang wajah emonya sambil mengulum dot susunya. /persis Wonu pas bocah/
"Appa! Eomma! Banun! Katanya mau antelin Minu dan Kyungie-hyung kekebun binatang!" Seru Minwoo lagi, masih tercadel cadel.
Merasa tak digubris, Minwoo merasa sedih dan murung. Bibir mungilnya mulai bergetar, oh tidak. Dia akan menangis sebentar lagi.
"Huweee Eomma Appa jahaat!"
Wonwoo melonjak kaget dari tidurnya mendengar tangisan Minwoo yang menggema diseluruh kamar mereka.
"Baby Woo? Ada apa? Kenapa Minu menangis, hm?" Wonwoo menguap. Tangannya terulur memeluk Minwoo.
"Huhuhuhu Eomma jaahat, Minu mau kekebun binatang~" Isaknya. Wonwoo mengusap air mata yang berlelehan dipipi chubby Minwoo.
"Bangunkan Appamu." Suruh Wonwoo.
"Bagaimana calanya, Eomma?" Tanya Minwoo setelah tangisnya reda.
"Gigit telinganya." Wonwoo tersenyum usil.
"Ayo, Kyungie juga bangunkan Appa!" Wonwoo menatap Kyungwon yang memasang wajah datar. Wonwoo jadi ingat dengan foto masa kecilnya.
Akhirnya, kedua bocah itu naik mendekati Mingyu. Keduanya mendekatkan wajahnya ketelinga sang Appa. Sementara Wonwoo setengah mati berusaha menahan kikikan gelinya.
"AAAA TELINGAKU!" Mingyu terbangun dengan teriakan histersis dan gerak yang refleks, sampai tak sadar ia agak mendorong kedua bocah itu dan suaranya yang nyaring mengaggetkan mereka.
"Bhuahahahaha!" Wonwoo tertawa geli sambil memegangi perutnya.
"Huwee! Gyu Appa jahaat!
"Huhuhuhu Kyungie Benci Appa!"
Dan akhirnya, pagi yang tenang itu rusuh oleh keluarga kecil Kim itu, lebih tepatnya oleh sikembar Minwoo dan Kyungwon.
FINISH
Note: Huwaaa akhirnya selesai juga *elap keringet* lega banget akhirnya selesai walau endingnya gaje. Untuk Get Down seasons 2 harap menanti ya. Soalnya author masih bikin konsepnya. Dan tolong dong walau ini chap ending tetep di review, tetep kasih feedback yah, karena Author sangat membutuhkannya T_T
REVIEW PLEASE
