Be Bright
Kim Mingyu | Jeon Wonwoo | de el el | Meanie | GyuWon | SEVENTEEN
Genre romance asam manis like always
Ratingnya T lebih dikit mungkin :'v
Plagiat? Kesenangan boleh dipikul, dosa jinjing sendiri /?
WARNING !
.
Delusi berlebihan bukan tanggung jawab saya :'v
.
.
[Chapter 2]
.
Susah payah Mingyu berdiri setelah menyingkirkan kelinci-kelinci yang menyerangnya (ini karena Mingyu membawa baskom berisi makanan) setelahnya dia memandang Wonwoo yang memasang tampang mengintrogasi. Entah kenapa, Mingyu merasa dirinya sedang berada dalam masalah sekarang. Bukan, bukan karena bola-bola berbulu yang sekarang sedang berdesakan menyerbu beberapa wortel dan sawi yang ia bawa, tapi karena pria berwajah galak di depannya ini terus memperhatikan gerak-geriknya.
"Kenapa kau disini?" Mingyu bertanya sambil menggaruk tengkuk, seperti biasa dia berusaha mencairkan suasana. Karena Mingyu merupakan bocah yang tak tahan kalau ada di situasi canggung dan hening, bawaannya ingin bicara dan mengoceh terus.
"Terbalik," namja yang berseragam rapi dan lengkap dengan blazer ini sedikit memiringkan kepalanya, masih memasang wajah judes. Ia menekankan nada pada pertanyaannya, "Harusnya aku yang tanya kenapa kau bisa disini?"
Mingyu memasang cengiran bodoh, agak tidak keren kalau dia sampai bilang dia terpaksa berurusan dengan kelinci-kelinci ini karena dapat hukuman dari Choi Songsaengnim. Entah kenapa Mingyu rasa mengatakan itu bukanlah hal yang tepat.
"Aku… ada sedikit urusan disini," Mingyu memicingkan mata dan menambahkan tawa renyah di akhir kalimatnya barusan.
Namun hal itu malah membuat Wonwoo semakin bertanya curiga, "Urusan apa sampai kau repot-repot memasukkan kepalamu ke dalam kandang?"
Dan memang pada dasarnya Mingyu agak susah mengontrol emosi, begitu pemuda berwajah datar ini bertanya demikian, ia lantas mengubah pandangannya menjadi sebal.
Rupanya Soonyoung tidak bohong kalau ia mengatakan bahwa Wonwoo adalah orang yang menyebalkan.
"Itu sebuah kecelakaan tahu! Dan juga, aku tidak memasukkan kepalaku dengan sengaja!" Mingyu meninggikan suaranya berharap Wonwoo akan berhenti mengintrogasinya dan memasang tatapan yang lebih bersahabat.
Dan itu cuma angan-angan Mingyu semata karena Wonwoo kembali melontarkan pertanyaan padanya, "Lalu? Kau masuk ke dalam sini juga bukan hal yang disengaja?"
Mulai kesal, Mingyu memilih mengalah dan mengiris sedikit pridenya untuk mengatakan pada Wonwoo kalau dia sedang dalam masa dihukum, "Oke oke, sebenarnya aku sedang dihukum, membersihkan dan memberi makan kelinci. Kau puas?"
Wonwoo menaikkan bahunya "Tidak juga."
Astaga, sekarang Mingyu bahkan sudah lupa bagaimana wangi ayam goreng di kedai stasiun, ia menyumpahi pemuda di hadapannya ini dalam hati.
"Kau sendiri? Untuk apa kesini? Kau punya obsesi aneh pada kelinci?" giliran Mingyu yang bertanya dengan nada mengejek, mengangkat sedikit dagunya saat Wonwoo kembali menghunuskan tatapan dingin.
"Ini jadwal piketku," Wonwoo mengedip, lalu melihat sekeliling di area kandang dan mengamati Mingyu yang sudah membawa berbagai macam peralahan kebersihan. Sepertinya dia tak perlu merasa khawatir sekarang.
Sebelum Mingyu sempat menimpali, Wonwoo sudah hendak berbalik, "Tapi kalau kau sekarang dihukum untuk membersihkannya sih, yasudah."
Bibir Mingyu terbuka sedikit, belum sempat ia berucap, Wonwoo sudah berjalan meninggalkannya. Dan entah kenapa, si bodoh ini malah menahan kepergian pemuda berwajah emo ini.
"Tunggu!"
Wonwoo berhenti, berbalik memasang wajah yang seolah bertanya 'kenapa?'
"Kau tidak mau membantuku?" Mingyu bertanya, meskipun sebenarnya ia tahu Wonwoo akan menjawab tidak untuk pertanyaannya tersebut.
"Tidak."
Nah, kan.
Sekarang ia tahu kenapa Seokmin selalu terlihat kesal kalau habis berbincang dengan pria yang punya kelas tepat di depan kelasnya tersebut.
"Kalau begitu, tolong aku!" kali ini Mingyu malah minta tolong.
Wonwoo mengerutkan kening, "Kenapa aku harus menolongmu?"
Mingyu menggigit bibir, agak ragu mengatakan alasannya, namun Wonwoo malah memberondongnya dengan berbagai pertanyaan yang seolah mengulitinya pelan-pelan.
"Kau tidak punya tangan?"
Mingyu ingin melemparkan si bola-bola bulu ini tepat ke arah wajah datarnya.
"Kau bisa memasukkan kepalamu ke dalam kandang sempit itu, harusnya kau bisa membersihkannya sendirian."
Kurang ajar.
"Jangan berbagi hukumanmu denganku."
Mingyu menatap Wonwoo yang tak memperdulikannya, namun saat kaki Wonwoo yang kurus hendak meninggalkan kandang, namja bergigi taring panjang itu berteriak.
"Aku takut kelinci!"
.
Mingyu ingin sekali memukulkan kepalanya pada tembok mengingat mulutnya yang agak susah dikontrol dan seenaknya sendiri bicara 'aku takut kelinci' pada pemuda judes yang punya mulut tajam di hadapannya ini, lebih-lebih saat Wonwoo memasang wajah menggelikan melihat Mingyu yang berperawakan tinggi dan besar itu ternyata takut kelinci.
Wonwoo sebenarnya tak terlalu akrab dengan biang onar di sekolahnya ini, tapi setidaknya dia tahu dengan siapa ia bicara sekarang. Lagipula, siapa juga yang tidak kenal langganan jemur di depan tiang bendera yang punya 9 nyawa seperti kucing itu? Mulai dari membolos, memecahkan kaca, merusak pintu kamar mandi, hingga langganan lini akhir ranking sekolah, tak mungkin tidak ada yang tidak kenal Kim Mingyu. Namanya bahkan sudah lebih tenar dari Lee Taeyong yang kabarnya barusaja dilirik perusahaan mode untuk jadi model iklan.
Mingyu hanya bengong saat ia melihat Wonwoo membersihkan baskom makan milik kelinci-kelinci gendut itu sebelum menggantinya dengan makanan yang baru ia cuci bersih. Wonwoo menggulung lengan seragamnya, menyapu kotoran-kotoran di kandang tersebut dan menaruhkan pada karung yang telah berisi kulit jerami.
"Buang!"
Seperti orang bodoh, Mingyu langsung menyahut karung tersebut dan membuangnya di tempat sampah besar yang memang diperuntukkan untuk kotoran-kotoran hewan. Ia kembali ke dalam kandang tersebut dan melihat Wonwoo mengelus kelinci-kelinci yang didominasi warna putih tersebut seperti mengelus kepala anak-anak kecil.
Mingyu bisa mendengar Wonwoo bergumam sembari mengusap-usap kepala kelinci yang tengah makan. Saat namja itu berdiri dan keluar kandang, Mingyu dengan sigap mengunci kandang tersebut agar kelinci-kelinci itu tak kabur atau jadi santapan anjing dan kucing.
Setelah mencuci tangannya di washtafel terdekat, Mingyu membuka pembicaraan kembali, kali ini dia teringat akan ayam goreng yang kuncinya ada di dalam pemuda yang irit bicara ini. Dalam hati ia bersumpah harus segera menyelesaikan tugasnya agar Soonyoung bisa cepat membawakan 2 lusin makanan favoritnya tersebut.
"Terima kasih sudah menolongku," Mingyu melontarkan senyuman lebar sementara dibalas Wonwoo dengan ucapan ketus.
"Aku tidak menyangka kau takut kelinci."
"Hei, setiap manusia punya ketakutannya sendiri tahu, itu alamiah," Mingyu mendecih sebal sebelum ikut mencuci tangannya yang kotor pada air yang mengalir di kran washtafel.
"Terserah."
Mingyu tak tahu bagian mana darinya yang salah namun ia terus diabaikan namja berambut hitam tersebut. Melihat Wonwoo yang tanpa permisi meninggalkannya, ia hendak mengejarnya dan mendiskusikan masalah foto tersebut agar ia dapat imbalan ayamnya lebih cepat. Namun urung ia lakukan karena Choi Songsaengnim keburu menggetok kepalanya, menyuruhnya cepat kembali ke kelas karena bel sudah berbunyi.
Mingyu tak akan menyerah hanya karena diabaikan. Baginya nyawa 2 lusin ayam goreng itu ada di tangan Wonwoo dan dia akan melakukan berbagai cara agar perjanjiannya dengan Soonyoung bisa cepat selesai, segera dia serahkan fotonya, segera ia dapat ayamnya. Mingyu tak bisa diam hanya dengan memikirkan wangi ayam yang baru diangkat dari penggorengan tersebut.
Soonyoung dan Seokmin sendiri tak peduli dengan cara apa Mingyu mau mendapatkan foto Wonwo. Tapi Soonyoung sendiri berfikir itu tak mungkin, jadi ia biarkan saja si bocah tiang tersebut berbuat sesuka hatinya sampai tenggat waktu, 2 hari lagi.
.
"Kau ini kurang piknik atau bagaimana sih?"
Mingyu tanpa permisi mengambil tempat tepat di depan Wonwoo yang sedang menikmati makan siangnya di kantin, sendirian.
"Kau tidak punya teman?"
Agak tidak sopan memang, tapi asal kau tahu, Mingyu itu tak punya filter di dalam mulutnya, bahkan delikan Wonwoo yang mengintimidasi tidak dihiraukannya sedikitpun.
"Tidak capek memasang wajah seperti itu? Kau harus sering-sering tersenyum kalau tidak mau cepat keriput!" dengan seenak jidat, Mingyu menyantap makannya tepat di depan Wonwoo yang kini diam, tak berselera lagi dengan tumis asparagus yang ada pada nampannya.
Bisik-bisik terdengar, Wonwoo mengamati sekitar dengan ekor matanya, ia merasa sedang diperhatikan sekarang, dan rasanya tidak nyaman. Kebanyakan mereka bingung dan terkejut, bagaimana bisa si dingin dan misterius Jeon Wonwoo bisa makan sebangku dengan si cerewet bermulut ember Kim Mingyu. Ini agak aneh.
Bukan hanya mereka yang sekarang tengah terang-terangan bergosip di sekitar Wonwoo, tapi Wonwoo sendiri juga tidak mengerti bagaimana bisa makhluk yang tak bisa diam seperti kinciran bambu ini bisa makan, dan sekarang malah mengajaknya bicara.
"Kau bisa pergi tidak sih?" Wonwoo berdesis sebal, membuka sedotan dan menusukkan pada susu rasa jeruk yang dingin tersebut.
Mingyu masih makan, kecap dan wijen berbekas pada sudut bibirnya dan dia tertawa kecil saat Wonwoo menyuruhnya pergi, "Kalau kau tidak suka dagingnya, sini untukku saja!"
Lagi-lagi Wonwoo tak bisa berbuat saat sumpit Mingyu mampir menusuk ayamnya yang masih utuh, membawanya ke dalam nampannya sendiri yang isinya sudah banyak berkurang.
"Kenapa kau menggangguku?" kali ini Wonwoo bertanya dengan tekanan, dia tak mau terlihat marah.
Mingyu berhenti menyesap sup, dan meletakkan sumpitnya, "Aku ingin kita ngobrol baik-baik kenapa kau malah marah begini?"
Asal kalian tahu, Wonwoo tidak suka berbasa-basi, "Aku tidak mau ngobrol denganmu!"
Mendengar jawaban Wonwoo yang pedas itu, Mingyu terkekeh, "Aku mau minta bantuanmu saja, setidaknya bersimpatilah denganku!"
"Aku juga tidak punya niatan berbagi simpati padamu."
Mingyu mencibir kesal, mulai tak berselera makan saat tahu Wonwoo masih menatapnya dengan matanya yang tajam, "Kau bahkan tidak tahu aku mau minta tolong apa!"
"Jangan ganggu aku!"
Mingyu menghela nafas sebelum menyampaikan maksud yang sebenarnya, "Tolong tersenyum untukku."
Saat mendengar kalimat tersebut keluar dari bibir Mingyu, namja berambut hitam itu mendelikkan matanya kaget, mulutnya sedikit terbuka.
"Aku sudah janji dengan Soonyoung untuk mengambil fotonmu dengan pose tersenyum, dia bilang akan membelikanku 2 lusin ayam, aku akan membaginya denganmu kalau kau mau membantuku. Sungguh!"
Pandangan kaget Wonwoo berubah marah saat si bodoh ini malah menjelaskan alasan dia meminta Wonwoo tersenyum, lebih-lebih Wonwoo tidak rela jika dia harus rela difoto demi 2 lusin ayam.
"Jangan libatkan aku dalam taruhan bodohmu," sembur Wonwoo marah.
Mingyu terbengong saat melihat Wonwoo malah terlihat marah, "Aku sudah baik hati mau berbagi denganmu tahu!"
"Aku tidak butuh!" Wonwoo benar-benar tidak berselera makan sekarang, tadi siang soal kelinci dan sekarang ia malah dilibatkan dengan perjanjian aneh tentang foto dan ayam goreng.
Entah Mingyu yang terlalu tolol atau bagaimana, namun dia malah menggenggam pergelangan tangan pemuda itu, Wonwoo berhenti, dirinya yang hendak meninggalkan ruang makan mendadak diam saat tangannya ditahan.
"Kalau begitu aku yang akan membuatmu tersenyum!" Mingyu melemparkan cengiran lebar sebelum Wonwoo menghentak tangannya, berbalik dan meninggalkan ruang makan dengan langkah memburu, tak meninggalkan kata apapun selain tatapan marah, menyisahkan Mingyu yang terkekeh pelan.
Tak tahu bagaimana, Mingyu tidak menyadari dirinya tengah tertawa dalam hati. Harusnya saat ini dia marah seperti biasa, harusnya juga Mingyu langsung menonjok wajah emo Wonwoo dan menghajarnya atau sekedar menyumpahinya.
Namun kali ini Mingyu tak tahu, dirinya menutup mulut, takut kalau kekehannya akan berubah menjadi tawa lepas.
Sebelum ia menyadari hal yang agak aneh darinya.
Tunggu, kenapa dia malah tertawa?
.
Wonwoo tak bisa berkutik saat langit meraung-raung ganas dengan tanpa belas kasihan menumpahkan air dan menyambar-nyambar listrik yang asyik bersahutan di antara awan yang gelap. Namja yang ujung sepatunya basah itu hanya bisa menunggu di koridor kelas, menghindari cipratan hujan dan memilih menekuk lututnya sembari berjongkok di depan pintu sebuah ruangan yang sudah kosong. Menunggu hujan reda lebih baik daripada pulang berbasah-basah karena halte bus agak jauh dari sekolahnya.
"Tidak pulang?"
Wonwoo hampir terjungkal saat tahu siapa yang bicara. Hampir saja ia melemparkan tas sekolahnya saat Mingyu dengan pakaian basah melontarkan cengiran tolol seperti biasa, mengambil tempat untuk duduk di samping Wonwoo yang memasang tampang 'untuk-apa-kau-disini?'.
"Minggir, kau basah," Wonwoo berucap risih sembari mengambil jarak agak jauh. Sadar bahwa Wonwoo telah menjaga jarak, dengan tidak sopannya Mingyu malah mendekat.
"Aku bilang minggir, aish!" tidak tahan karena manusia di sampingnya ini susah diberi tahu, Wonwoo dengan sekuat tenaga mendorong bahu Mingyu yang basah hingga terjungkal, dan sialnya, Mingyu lebih dulu mencekal pergelangan tangannya, membuat mereka berdua terjungkal bersamaan.
"Sebenarnya apa sih masalahmu denganku?" Wonwoo berteriak sebal, buru-buru dia berdiri dan meruntuki seragamnya yang basah karena jatuh tepat di atas pemuda yang terlihat seperti habis dicelup ke dalam kolam renang tersebut.
Mingyu terkekeh, "Kau tidak pernah bersenang-senang? Anak SMA mana yang tidak pernah main hujan-hujanan, Jeon Wonwoo?"
"Itu kekanak-kanakan," Wonwoo mendecih saat Mingyu susah payah bangkit dan mendempetkan tubuhnya yang tinggi mengintimidasi tubuh kurus Wonwoo.
Mingyu menekankan telunjuknya pada dahi Wonwoo yang tertutup poni, "Jangan sok dewasa. Bersikaplah normal sesuai umur!"
Dengan sebal Wonwoo menginjakkan kakinya dengan keras pada kaki Mingyu yang tertutup sepatu, "Kau sendiri yang seperti bocah tahu!"
"Wah, aku tidak tahu mulut kecilmu ini begitu suka mengomel seperti ibu-ibu!" Mingyu menaikkan sebelah alisnya memandang Wonwoo yang langsung mengalihkan pandangan, memfokuskan pengelihatannya pada bulir air hujan yang jatuh.
"Aku akan mengajarkanmu cara bersenang-senang, sini!"
Wonwoo terlonjak saat tahu tangannya ditarik, tubuh kurus itu tak bisa berbuat banyak saat Mingyu dengan santainya membawa mereka berdua ke lapangan, membiarkan tubuh mereka berdua terguyur hujan deras.
"Ya! kau gila?" Wonwoo menghentakkan tangannya, berusaha melepas genggaman tangannya dan mengumpat dalam hati saat dia merasakan air sudah menembus seragamnya.
"Sekali-kali kau juga perlu pergi dari duniamu yang suram!"
Wonwoo mulai kehabisan akal, asal kalian tahu, menghadapi anak bodoh lebih membuat emosinya terkuras daripada berhadapan dengan orang dewasa, "Kenapa kau repot-repot melakukannya? Lepaskan aku, nanti keburu basah!"
Jawaban Mingyu kali ini membuat Wonwoo tertegun, melebarkan pupil matanya dan menatap pria yang tersenyum menampilkan giginya tersebut dengan pandangan yang susah diartikan.
"Kan aku sudah bilang, aku akan membuatmu tersenyum sendiri!"
.
Mingyu tertawa saat Wonwoo menghujaninya tatapan marah setelah pria jangkung itu menghentakkan kaki, menyipratkan genangan air hingga mengenai wajah mulus Wonwoo. Keduanya terlibat kejar-kejaran panjang di bawah guyuran hujan yang masih enggan reda.
Seokmin mengedip beberapa kali, berdiri di bawah payung beningnya dengan tatapan aneh, "Aku yakin mereka tidak sedang syuting film India!"
Soonyoung mengikuti arah pandang Seokmin dan tertawa keras, adegan film bolywood yang suka berkejar-kejaran dalam hujan itu mendadak mampir di pikirannya.
"Sudah deh, biarkan saja dia. Lagipula sepertinya kau tidak perlu khawatir!" Soonyoung menepuk punggung Seokmin menyuruhnya segera melanjutkan langkah.
"Rasanya aku jadi merinding," Seokmin menuruti Soonyoung, keduanya berjalan beriringan menuju halte dan membiarkan kedua manusia yang masih betah berkejaran itu.
Wonwoo sendiri tak peduli, baru saat tangan kurusnya meraih kemeja Mingyu yang basah, dia mendorongnya, membuat Mingyu jatuh dan terguling di lapangan, Wonwoo memasang tampang puas saat ia melihat Mingyu merintih tapi masih tertawa.
Mata tajam itu mengedip, melihat seorang lelaki yang kini terduduk di depannya, memegangi dahinya yang nyut-nyutan dan perih, namun bibirnya masih bisa melemparkan tawa renyah. Sejenak dia menyadari, sudah lama dia tidak berlari-lari, sudah lama dia tidak mandi hujan, sudah lama dia tidak pernah mengejar orang, dan sudah lama dia tidak bermain seperti sekarang.
Mingyu kini memudarkan tawanya, matanya melebar saat dia melihat pria judes dihadapannya ini menarik kedua ujung bibirnya, mata tajamnya seolah menyipit, membentuk kurva setengah lingkaran, seperti bulan sabit. Dan suara tawa kecil terdengar di telinganya meskipun tersamarkan oleh suara hujan.
Demi Tuhan alam semesta, yang ada di hadapannya ini bukan sebuah ilusi.
Yang ia lihat sekarang adalah hal yang begitu nyata.
Jeon Wonwoo sedang tertawa.
.
Mingyu dan Wonwoo berhadapan, keduanya diam, sibuk dengan pikirannya masing-masing apalagi saat Wonwoo menyadari seragamnya sudah basah bahkan sampai ke bagian dalamnya sekalipun, ia mendesah kesal dan tak bisa membayangkan akan naik bus dengan kondisi begini. Namun Mingyu malah meliriknya sekilas sebelum menarik pergelangan tangan kurus tersebut, membawa tas ransel Wonwoo dan mereka berdua berjalan setengah berlari menuju parkiran. Wonwoo sendiri tidak tahu kenapa mulutnya lebih memilih diam daripada mengomeli Mingyu yang menarik paksa lengannya.
"Huh?"
Wonwoo tak paham saat Mingyu mengeluarkan hoodie berwarna hitam dari dalam ranselnya dan menyerahkannya pada Wonwoo
"Kau ikut ke rumahku saja," Mingyu mengambil helm dan mulai membuka pengaitnya, tak melihat Wonwoo yang memasang tampang terkejut.
"Kau gila?"
Mingyu agak kesal karena Wonwoo ini begitu keras kepala, diambilnya ransel Wonwoo dan meletakkannya di motornya sendiri, dia merebut juga hoodie yang ukurannya cukup besar itu sebelum memaksa Wonwoo untuk memakainya.
"Hei hei, aku bisa pakai sendiri, memangnya aku bayi?" Wonwoo menghentikan Mingyu saat namja itu malah menjamah lengannya, bermaksud untuk memakaikan hoodie kebesaran itu.
"Kalau bisa kenapa tidak kau pakai?"
"Kenapa aku harus pakai?"
Mingyu menusuk dahi Wonwoo dengan telunjuknya yang panjang sebelum dia menjelaskan dengan cepat, "Aku tidak bawa 2 helm, jadi kau pakai hoodie milikku, lalu kita ke rumahku, kau tidak mungkin naik bis dengan keadaan terendam seperti ini."
"Kenapa harus rumahmu?" Wonwoo tak tahu mengapa mulutnya malah bertanya pertanyaan yang konyol begini.
Mingyu berdecih sebelum memakai ranselnya, dia melihat Wonwoo yang selesai memakai hoodie yang besarnya membuat jari-jemari itu malah menghilang di balik lengannya, Mingyu memakaikan tudung menutupi kepala Wonwoo sebelum menyerahkan kembali ranselnya.
"Rumahku dekat."
Wonwoo sepertinya tidak punya pilihan selain mengikuti Mingyu pulang ke rumahnya, Mingyu naik ke atas motor disusul Wonwoo yang langsung menggenggam kedua sisi seragamnya.
"Aku mau kau pegangan."
Wonwoo memutar bola matanya malas, sebelum dia dengan berat hati melingkarkan kedua lengannya di perut rata Mingyu, dia tak mau ambil resiko kalau sampai jatuh dari motor besar berwarna hitam ini.
"Kau akan mati kalau kita sampai kecelakaan, Kim Mingyu!"
Mingyu tertawa, sebelum ia menghidupkan mesin motornya, membawa namja yang menutup mata dan menyembunyikan wajah di balik punggungnya ini menerobos hujan dengan kecepatan tinggi.
.
Wonwoo tertegun saat melihat rumah dengan 2 lantai yang nampak sederhana dengan cat yang didominasi warna putih dan abu-abu, taman yang ada di sekitarnya cukup luas dengan tanaman bunga mawar dan beberapa sayuran, Mingyu mengisyaratkan pada Wonwoo untuk mengikutinya setelah ia memarkir motornya. Tangan Mingyu yang sudah berubah pucat karena kedinginan membuka kenop pintu, mengucap salam dan terlihat rumah yang tidak ada penghuninya tersebut.
"Orang tuamu kemana?" Wonwoo bertanya, masih tak berani menyentuh lantai rumah, namun Mingyu sudah meninggalkannya duluan menuju ruangan kecil di pojok.
"Kerja," namja itu menjawab singkat dan kembali dengan dua buah handuk lebar, sebelum menyelimuti dirinya sendiri dengan handuk lembut itu, Mingyu lebih dulu membungkus tubuh menggigil Wonwoo dengan handuk tersebut.
Wonwoo mengangguk-angguk dan mengamati interior rumah yang nampak sederhana, keluarga Mingyu nampak hangat dan terlihat normal seperti biasa, bagian dalam rumah tersebut didominasi barang-barang yang terkesan modern namun tetap menampilkan nuansa sederhana. Langkah kecil Wonwoo mengikuti Mingyu menaiki tangga dan sampai pada sebuah kamar tidur yang tak jauh dari tangga.
"Masuklah, aku akan mengambilkanmu baju ganti," Mingyu membuka lemari pakaiannya, memilih milih baju sebelum menyerahkan sebuah sweater abu-abu dan celana training padanya.
Namja bermata sipit itu menelusuri pandangannya pada bagian dalam kamar tidur yang tak terlalu luas ini, degan dominasi warna hitam dan putih, sukses membuat Wonwoo bengong untuk beberapa saat.
"Mandi sana," Wonwoo mengerjap saat Mingyu menunjuk pintu kamar mandi yang ada di dalam kamar tersebut.
"Lalu kau?"
Mingyu tersenyum kecil, "Aku bisa mandi di bawah, kau mandi saja, kalau sudah selesai, aku akan masak beberapa makanan."
Wonwoo mengangguk, matanya mengedip lagi saat tangan lebar Mingyu mengacak rambutnya yang basah, "Aku turun dulu!"
Sembari menatap punggung lebar Mingyu yang makin menjauh, Wonwoo membuyarkan lamunannya sendiri. Mendengus karena ia malah bengong dan meruntuki dirinya sendiri yang bisa-bisanya diam saat rambutnya diacak-acak begitu.
Bukan hanya pipinya saja yang mendadak menjadi panas, namun seluruh tubuhnya mendadak merinding begitu dia mencium aroma khas yang menguar dari sweater milik lelaki jangkung yang takut kelinci itu.
.
Bau keju yang menyeruak menggelitik indra penciuman Wonwoo, dia berkali-kali membetulkan sweater kebesaran yang ia kenakan sekarang. Sementara bajunya dicuci, ia harus betah memakai pakaian yang membuat tubuhnya seolah tenggelam. Wonwoo sendiri tak menyangka bisa-bisanya Mingyu punya badan besar begini.
"Aku mau pulang," Wonwoo memajukan bibir bawahnya sebelum duduk di kursi ruang makan, memperhatikan migyu yang sudah mandi, mengenakan kaus dengan celana pendeknya.
Mingyu berbalik, menghidangkan sepiring spaghetti dengan saus daging dan keju, dia tertawa kecil saat tahu Wonwoo mengenakan baju miliknya, dugaannya memang benar, tubuhnya yang kurus itu langsung tenggelam, "Sepertinya aku harus menahanmu disini!"
"Yang benar saja, pulangkan aku setelah hujannya reda!"
Mingyu mengangkat alis, sebelum dia mengambil posisi duduk di depan namja yang tengah makan tersebut, dia memangku dagunya dengan tangan, "Kau tidak mau bersenang-senang lagi?"
"Sudah cukup kok," Wonwoo menjawab di tengah makannya, saus berwarna merah itu mengotori bibirnya hingga Mingyu terpaksa menyodorkan kotak tisu pada Wonwoo yang sama sekali tak menatap wajahnya tersebut.
"Kau harus banyak bersenang-senang, aku melihatmu tertawa tadi!"
Wonwoo tersedak membuat Mingyu kali ini berganti menyodorkan air mineral dalam gelas bening, "Pelan-pelan."
"Aku bisa membawamu jalan-jalan, besok Sabtu kan? Menginaplah disini dan kita bisa pergi pagi-pagi besok. Bagaimana?" Mingyu mengajukan tawaran, entah sejak kapan, Mingyu mulai menaruh rasa penasaran pada pemuda judes ini.
"Jangan konyol!" semburnya.
Mingyu mencibir sebelum akhirnya dia mulai ikut makan, "Tapi besok libur, kita bisa bersenang-senang di luar. Hei, jarang-jarang aku memberlakukan ongkos gratis begini!"
Wonwoo kali ini menghujam Mingyu dengan tatapan tajamnya lagi, "Aku akan menggorok lehermu dengan pisau kalau mengoceh terus.
Belum lama keheningan melanda keduanya, Mingyu sudah mendongakkan wajahnya lagi.
"Apa kau mau nonton film besok?"
Beruntung tidak ada pisau di area meja makan, Wonwoo hanya bisa berteriak keras seperti bison, "KIM MINGYU!"
.
Ini sudah jam 8 tapi hujan masih belum mau berhenti, Wonwoo menghela nafas panjang sebelum dirinya mengabari kedua orang tuanya kalau dia akan pulang malam, bagaimanapun juga, dia tidak mau menginap di rumah pria tolol macam Kim Mingyu.
Wonwoo menyamankan posisi berbaringnya pada ranjang empuk Mingyu memonopoli single bed dengan bedcover putih yang lembut tersebut, si pemilik ranjang juga tidak keberatan karena dia memilih duduk di sofa kecil, tak jauh dari ranjangnya sendiri. Sejak beberapa menit yang lalu Mingyu sibuk melamun, bibirnya entah kenapa menyunggingkan senyum kecil begitu ia mengingat hal tersebut, kalau ia memberitahukan hal ini pada Seokmin dan Soonyoung ia yakin kalau mereka berdua tidak akan percaya.
Dia melihat Wonwoo tertawa.
Bukan hanya senyuman, namun ia melihat namja judes yang suka mencela orang itu tertawa kecil dengan matanya yang menyipit.
"Astaga!" Mingyu mengusap wajahnya dengan tangan, tak mau ketahuan tertawa sendiri seperti orang bodoh (lupakan kenyataan bahwa Mingyu sudah bodoh sebenarnya).
Dari tadi ia tak mengerti mengapa bibirnya tak bisa berhenti tersenyum, mengingat mata yang melengkung tersebut membuatnya tak bisa menahan diri.
Mingyu berusaha mengontrol tubuhnya sendiri sebelum melirik Wonwoo yang sedari tadi tak bersuara. Namun, matanya mengerjap begitu dia melihat tubuh kecil Wonwoo tak bergerak, dengkuran halus terdengar dan Mingyu tak bisa menahan diri lagi saat melihat namja yang kini memutar tubuhnya, mencari posisi nyaman.
Wonwoo tertidur.
"Heol, tadi dia bilang tidak mau menginap," Mingyu menarik bed cover, kakinya mulai menaiki ranjang dan mengambil tempat tepat di samping Wonwoo setelah menyingkirkan handphone pemuda itu dan meletakkannya di atas nakas.
Mingyu memilih menyamankan tubuhnya, sempit. Tangannya mulai membentangkan bed cover, menyelimuti tubuh mereka berdua, lagi-lagi Mingyu tak bisa mengendalikan senyumnya saat tahu Wonwoo berguling, meletakkan tangan kirinya pada perutnya, menyembunyikan wajahnya yang halus.
Tangan lebar Mingyu mengacak rambut Wonwoo sebelum ia tanpa sadar mulai memejamkan mata, membiarkan rasa kantuk menyelimutinya.
Untuk saat ini dia tak peduli dengan nasib ayam gorengnya, ia tak peduli kalau Soonyoung akan mengatainya gila dan Seokmin yang jika tau hal ini bakal mentertawainya keras-keras, Mingyu tak tahu entah kenapa, ia berharap hujan akan terus berlanjut hingga ia membuka matanya saat terbangun.
Perasaan itu menyergap diam-diam.
Ia ingin menahan Wonwoo lebih lama.
.
.
TE BE CE
.
.
Maapkan daku kalau apdetnya agak lama, dan kemungkinan agak lama lagi karena gw mau mudik lebaran. TERIMA KASIH BAGI YANG SUDAH MEMFAVORITE, REVIEW, DAN LAINNYA, gw terharuu /nangis Bombay/ maafkan untuk segara kekurangan di chapter ini, gw akan berusaha lebih keras di chapter berikutnya. Btw, gw baper liat senyumnya Wonwoo ah, Mingyu juga aduh bikin gw delusi sepanjang hari :'v. Rencananya ini ff ndak panjang-panjang banget, karena gw nggak ahli bikin konflik hehe. Mohon maaf lahir dan batin untuk kalian semua, sampai jumpa di chapter depan ya…
DADAGHH
SALAM SUPER~
Raeyoo.
