Be Bright
Kim Mingyu | Jeon Wonwoo | de el el | Meanie | GyuWon | SEVENTEEN
Genre romance asam manis like always
Ratingnya T lebih dikit mungkin :'v
Plagiat? Kesenangan boleh dipikul, dosa jinjing sendiri /?
WARNING !
.
Cerita ini murni dari delusi liar raeyoo yang haus cinta akan Mingyu dan Wonwoo /?
.
.
[Chapter 4]
.
"Wonwoo!"
"…"
"Ayo kita pacaran!"
.
Setelah kalimat yang (seharusnya) romantis itu terlontar dari mulut penuh dosa Kim Mingyu yang sedang ditindihnya sekarang, Wonwoo mendadak mendelik, dibalik jantungnya yang terasa dipacu keras seolah habis diberi alat kejut, Wonwoo memasang wajah marah, berbanding terbalik dengan pipi lembutnya yang memerah panas. Namja berwajah galak itu menggerakkan tubuhnya, berusaha melupakan semua rasa sakit yang mendera akibat jatuh dengan tumbukan keras barusan. Namun memang pada dasarnya Mingyu yang keras kepala, lengannya yang kuat enggan menyingkir dari pinggang ramping Wonwoo.
"Lepaskan aku!" Wonwoo mendesis kesal tanpa mengindahkan ucapakan Mingyu barusan, tubuhnya bergerak tak nyaman dengan tangan memukul pundak tegap pria di bawahnya tersebut.
"Jawab pertanyaanku dulu," Mingyu menampilkan gigi taring yang semakin hari semakin terlihat menyebalkan di mata Wonwoo, "Ayo pacaran denganku!"
Kesal karena mereka berdua mulai jadi pusat perhatian, dan adegan ini agak tak pantas mengingat beberapa anak kecil terlihat mondar-mandir di dekat mereka. Wonwoo sudah mau mencekik leher Mingyu kalau pemuda jangkung itu tidak mengancamnya.
"Lepaskan aku," Wonwoo menggeliat sembari meninggikan suaranya, nadanya mengancam, "Aku akan mencekikmu kalau kau tidak mau melepaskan ini."
"Aku akan menciummu kalau kau tidak segera menjawab pertanyaanku," Mingyu melontarkan senyuman lagi, menggoda pria yang tak biasanya banyak bicara ini. Mingyu baru tahu kalau menggoda Wonwoo itu menyenangkan, "Bagaimana?"
Sontak, hal tersebut membuat Wonwoo bengong, hanya untuk beberapa detik sebelum ia merasakan telapak tangan Mingyu bergerak dan mampir di tengkuknya, mendadak Wonwoo hampir memekik saat dirasa bagian belakang kepalanya didorong, membuat wajah keduanya berhadapan lebih dekat, hampir menyentuhkan hidung dan bibir mereka berdua. Untuk kali ini Wonwoo baru menyadari selain bodoh, si tiang ini juga spesies manusia mesum.
"Aku hitung nih," untuk kesekian kalinya, Mingyu menyunggingkan smirk. Wonwoo bersumpah dia akan menggorok leher pria ini begitu dia menemukan pisau.
Wonwoo panik, namja berwajah datar itu gelisah, apalagi saat Mingyu mulai menghitung, mulai dari angka 3, 2, dan saat hitungan 1 hampir terlontar dari bibir Mingyu, Wonwoo refleks membenturkan dahinya pada dahi Mingyu keras-keras.
"Aduh!"
Mingyu mengaduh, tanpa disadari rengkuhan pada pinggang Wonwoo melonggar membuat namja yang lebih pendek itu cepat-cepat menyingkir sebelum Mingyu menarik tangannya dan membuat dirinya terkurung lagi.
Wonwoo menjauh, mengambil posisi duduk, tak peduli dahinya yang sekarang lebih nyut-nyutan dari pergelangan kaki, namja emo itu lantas ngomel-ngomel seperti biasa, "Kau mau mati ya?"
Sementara si tinggi hanya diam dan sibuk meratapi tulang dahinya yang serasa retak karena Wonwoo membenturkannya cukup keras. Sama seperti Wonwoo, dia juga mengambil posisi duduk sambill sesekali mencuri pandang dan balas mendesis kesal karena dahinya sekarang jadi berdenyut.
"Rasakan tuh," Wonwoo mengomel lagi, ia berdiri dan secepatnya kabur dari arena es yang luas. Berbanding terbalik dengan suhu ruangan yang rendah, pipi Wonwoo justru terasa sangat panas, bahkan baju tebal yang ia kenakan tak mampu mengendalikan suhu tubuhnya saat ini. Rasanya tangannya gatal untuk memplester mulut Mingyu dengan lakban.
Duak!
Belum sempat satu langkah Wonwoo berjalan, tubuh kurus itu kembali terjatuh, pantatnya membentur lapisan es dengan keras membuatnya mengaduh. Untuk sesaat Wonwoo meruntuki dirinya sendiri yang nyatanya tak bisa berjalan di atas es yang licin tersebut. Kalau boleh sih, Wonwoo lebih memilih merangkak atau ngesot saja agar bisa secepatnya kabur dari sosok namja di sampingnya.
Wonwoo masih menyumpah dalam hati saat tubuh kurusnya itu kembali terhempas dengan tidak enaknya di atas es. Selanjutnya ia melihat Mingyu yang tertawa kecil, berdiri dan berjalan dengan ringan kehadapan Wonwoo yang memasang wajah kesal.
"Sakit?"
Dengan suara keras Wonwoo menyemprot namja jangkung yang tawanya jadi lebih kencang, "Sudah tahu sakit masih nanya!"
Mingyu mengulurkan tangan, meraih telapak Wonwoo dengan paksa membuat namja itu berdiri sebelum dengan cepat menopang pinggang ramping Wonwoo dengan tangan kanannya. Tak ada ucapan terima kasih, yang ada namja itu malah memasang death glare, kesal karena dengan begini Wonwoo akan terlihat lebih kecil dan lemah dibanding Mingyu.
"Mau aku gendong juga?"
Mendengar tawaran konyol tersebut Wonwoo lantas mengumpat dalam hati, dengan kasar ditendangnya tulang kering Mingyu sambil mencerocos, "Kau gila, tidak mau!"
Takut Wonwoo akan menghujaminya dengan pukulan keras, kali ini Mingyu memilih mengalah, ditariknya lengan kurus Wonwoo dan menuntunya keluar area ice skatting. Namja itu tersenyum kecil malihat Wonwoo dengan wajah merahnya. Hari ini Mingyu banyak melihat sisi Wonwoo yang lain, siapa sangka si emo yang punya mulut pedas ini bisa juga tersipu dan mendadak jadi seperti ibu-ibu yang doyan mengomel seperti sekarang.
Namun yang membuat Mingyu masih bingung sampai sekarang, bagaimana bisa Wonwoo yang semula sangat dia hindari dan ia jadikan target hanya untuk taruhan ayam gorengnya dengan Soonyoung dan Seokmin bisa mengambil penuh perhatiannya.
Kali ini, mau tak mau Mingyu mengakuinya.
Soal jatuh cinta pada namja kurus ini, Mingyu benar-benar tidak bisa berbohong.
.
"Kau tidak mau menjawabnya?" Mingyu bertanya saat mereka sudah sampai di bangku taman, hari sudah gelap dan perut mereka sudah meraung, minta makanan.
Wonwoo kali ini mau pura-pura bodoh saja, sembari menyeruput lime float dingin, Wonwoo tak mau menoleh menatap wajah Mingyu yang entah kenapa bisa membuatnya serasa pacu jantung, dan ini menjengkelkan.
"Apa?"
Oke, Mingyu tahu kalau sekarang Wonwoo sedang pura-pura bodoh.
"Aku suka padamu," Mingyu menarik lengan Wonwoo memaksa pemuda itu untuk berhadapan dengannya, dengan menatap mata coklatnya, Mingyu berharap kalau Wonwoo bisa menangkap kesungguhan dibalik ucapannya barusan.
"Hah?"
Masih pura-pura bodoh rupannya.
"Aku… jatuh cinta," Mingyu mengangguk kecil, menggoyangkan lengan Wonwoo, "Padamu!"
Wonwoo susah payah mengendalikan jantung dan perutnya yang perlahan terasa melilit.
"Kau bilang apa sih?"
Sekarang selain pura-pura bodoh, Wonwoo juga pura-pura tuli.
Mingyu yang jengkel kali ini dia berteriak dengan suara baritonenya yang keras, mengundang setiap pasang mata di sekitar tempat mereka duduk sekarang, "Jeon Wonwoo ayo kita pacaran!"
Mata tajam Wonwoo mendelik seketika dan tangannya tanpa sadar menggeplak kepala Mingyu, "Jangan keras-keras bodoh!"
Kekehan kecil terlontar dari mulut Mingyu dan ia merasakan kemenangan karena pada khirnya Wonwoo berhenti pura-pura, "Siapa suruh jadi mendadak tuli."
"Oke, Kim Mingyu, tolong jangan mengatakan kalimat 'aku mencintaimu' atau 'ayo kita pacaran' seolah itu kalimat yang lazim diucapkan, maksudku yah, jangan main-main kalau kau tidak mau menimbulkan salah paham. Oke?"
Wonwoo memilih bersikap bijak, jujur saja ia sendiri agak ragu karena namja yang jadi pujaan para wanita di sekolah ini tiba-tiba bilang suka padanya dengan ucapan seringan bulu. Wonwoo tak mau jadi kepedean atau bagaimana, yang pasti menyiasati sikap Mingyu yang bisa saja hal ini adalah sebuah candaan belaka.
"Aku serius!" Mingyu bersikukuh, melihat mata tajam Wonwoo dengan tatapan sungguh-sungguh.
"Aku juga serius," Wonwoo memutar bola matanya malas, Mingyu benar-benar bocah yang agak susah ditebak, selain sifat kepala batu yang hampir mirip dengannya itu, Wonwoo jadi kesal.
"Kau tidak menganggapku serius," Mingyu mengubah nada bicaranya. Hilang sudah kekehan dan senyum menyebalkan yang selalu tersemat di bibirnya tersebut.
Dan kali ini Wonwoo mendadak gelisah, matanya mulai memilih melihat objek lain selain pria tinggi di hadapannya ini, bibirnya juga mendadak berhenti menyedot lime float yang tinggal setengah di gelasnya.
Mingyu meletakkan tangannya di pipi Wonwoo, memaksanya menoleh, untuk kali ini Mingyu tak mau diabaikan, kali ini saja dia ingin Wonwoo mendengarnya dan mengerti kalau dia benar-benar serius dengan apa yang sudah dia ucapkan.
"Aku memintamu jadi pacarku karena aku menyukaimu, dan aku mau kau percaya karena ini memang bukan bohong. Aku serius,"
Bola mata Wonwoo beregerak gelisah, kali ini Wonwoo tidak bisa mengeluarkan kata-kata makian, mulutnya kelu, bagaimanapun, namja dihadapannya ini membuat otaknya perlahan kosong.
"Aku tidak bisa merangkai kata, kau tahu kan nilai tata bahasaku jelek," Mingyu mengeluh membuat Wonwoo perlahan menunduk sebentar untuk mengendalikan bibirnya yang tak bisa menahan senyum, "Tapi aku serius, sungguhan."
Wonwoo merasakan Mingyu membelai pipinya yang semakin panas, wajahnya terangkat lagi saat Mingyu menarik nafas panjang, mengeluarkan segala keberanian dan keluh kesahnya.
"Karena itu," Mingyu memberi jeda sebelum melanjutkan ucapannya, "Ayo kita pacaran."
Kali ini Wonwoo mengusap wajah, sebelum dia menyingkirkan telapak tangan Mingyu yang masih betah di pipinya, dia menutup wajahnya sendiri, menggeram kesal.
"Ugh," geraman itu terdengar membuat Mingyu sedikit heran, menyangka Wonwoo kesal padanya. Tapi ayolah, Mingyu sudah kehabisan cara karena yang dia pikirkan sekarang bukan acara tembak-menembak yang romantis. Mulutnya hanya tidak bisa menahan diri setiap dia melihat Wonwoo.
"Menyebalkan…" Wonwoo masih menutup wajahnya, gelas lime float miliknya kini tergeletak di sampingnya, Mingyu mengedipkan matanya, masih menunggu Wonwoo melanjutkan kalimatnya, "… kau itu sungguh menyebalkan!"
Dan akhirnya Wonwoo membuka tangannya, "Kenapa kau membuatku tidak bisa untuk menjawab tidak sih?"
"…"
"…"
Memang pada dasarnya saja Mingyu yang agak lemot, namja itu malah berkedip cepat, menunggu otaknya yang masih berputar mencari maksud kalimat Wonwoo barusan.
"Jadi?"
"Terjemahkan saja kalimatku barusan," Wonwoo meraih gelas lime floatnya dan menyedotnya hingga berkurang banyak.
Membuatku tidak bisa untuk menjawab tidak?
Tunggu, bukankah itu artinya iya?
Iya?
Demi Tuhan Wonwoo bilang iya.
Rasanya Mingyu ingin salto sekarang!
"Kau bilang iya?" Mingyu bertanya dengan senyum yang mulai tercetak jelas di wajahnya, "Serius kau bilang iya?"
Wonwoo mendesis kesal, suara Mingyu itu terlalu keras.
"Terserah," sahutnya judes, kini lime float miliknya jadi lebih menyenangkan dibandinkan wajah berbinar-binar milik Mingyu.
"Tinggal bilang iya saja apa susahnya sih?" Mingyu mendecak sebal, menoleh untuk melihat Wonwoo yang malah membuang pandangannya, masih asyik dengan si minuman dingin berwarna hijau muda.
"Salah sendiri bodoh," Mingyu tahu nilai tata bahasanya jelek, dan otaknya itu juga tak seberapa memadai dari otak milik Wonwoo yang tergolong masuk kategori superior, namun kali ini Mingyu tak keberatan kalau Wonwoo mengatainya bodoh.
Terlihat diam selama berberapa saat, Mingyu yang masih berusaha menstabilkan deru jantungnya, dirinya kini menarik paksa gelas es yang sudah hampir habis tersebut, tangannya lantas menarik lengan Wonwoo, memaksa tubuh itu berhadapan sebelum membawanya dalam sebuah pelukan. Membuat Wonwoo tanpa sadar merasa nyaman dipeluk tubuh besar yang seolah mengurungnya tersebut.
"Jangan berontak lagi," Mingyu bergumam, mengeratkan lingkaran lengannya pada pinggang Wonwoo, merapatkan tubuh.
Wonwoo masih diam, masih tak ada niatan untuk membalas pelukan Mingyu untuknya, "Kau itu menjengkelkan ya?"
"Kau lebih menjengkelkan Jeon Wonwoo."
Kini suara tawa Wonwoo yang jarang terdengar itu mendadak memenuhi indra pendengarannya karena namja itu berucap tepat di telinga kiri Mingyu, menggelitik cuping telinga tersebut dengan nafasnya yang hangat.
"Berhenti membuatku malu," Wonwoo bergumam kesal, tangannya yang bebas menepuk punggung Mingyu dengan keras.
Mingyu tertawa kecil, kemudian merundukkan wajahnya, hingga bibirnya berdekatan dengan telinga Wonwoo yang memerah, "Peluk balik dong!"
Namja yang lebih pendek itu bergeming, masih enggan menggerakkan tangannya, "Tidak mau."
Mendengar Wonwoo yang keras kepala, Mingyu hanya bisa tertawa, namun tawanya terhenti beberapa detik kemudian saat dia merasa tangan kurus Wonwoo melingkari pinggangnya, begitu erat.
"Sudah lepaskan, aku mau minum lagi."
Mingyu melepaskan pelukannya sebelum dia tersenyum kecil, Wonwoo meraih gelas esnya lagi, meneguknya hingga tandas.
"Wonwoo," Mingyu menggoyangkan lengan namja yang saat ini sudah resmi jadi pacarnya tersebut.
"Hmm?"
Mingyu berdiri, menghadap Wonwoo yang masih duduk di bangku taman, mendongakkan wajahnya menatap Mingyu, "Izinkan aku menculikmu lagi."
"Hah?"
"Menginaplah lagi di rumahku hari ini."
Wonwoo memiringkan kepalanya, "Jangan sampai aku jadi tahanan abadi di rumahmu tahu!"
"Aku tidak janji mau mengembalikanmu,"
"Ya!"
Mingyu nyengir lebar, membuat Wonwoo menendangnya dengan keras.
.
Wonwoo menggeleng kecil saat Mingyu menawarinya makan malam sebelum pulang, namja itu menolak dengan alasan dia ingin makan di rumah saja. Mingyu akhirnya menyanggupi sementara dia mengingat masih ada chicken katsu yang siap digoreng ada dalam kulkasnya yang selalu penuh itu. Lagipula, Wonwoo sepertinya sudah lelah. Saat Mingyu menggandeng tangannya, Wonwoo bahkan tak menolak dan hanya mengikuti Mingyu dengan langkah malas, matanya sudah berat saat angin dingin menerpa keduanya.
Alhasil setelah makan, Wonwoo memutuskan untuk mandi. Mengembalikan stamina selain dengan cara makan, mandi juga merupakan langkah yang tepat.
"KIM MINGYU!"
Wonwoo berteriak nyaring seperti parkit saat keluar dari kamar mandi, handuk melingkari pinggangnya, mengabaikan rambut hitam itu yang masih basah.
"Apa?"
Sebuah celana kain terlempar hingga sukses mendarat di kepala Mingyu, Wonwoo masih kasar seperti biasanya, dan entah kenapa Mingyu suka. Kekasih barunya itu bisa terlihat sangat manis walau saat marah.
"Berikan aku celana!" wajah merah itu menggeram saat melihat pria jangkung dengan kaus oblong dan celana boxer itu terkekeh menyebalkan, menelusuri tubuh putih Wonwoo yang kini marah-marah di depan pintu kamar mandi.
"Ini?" Mingyu melambaikan celana kain miliknya yang barusan Wonwoo lemparkan ke wajah Mingyu barusan.
Wonwoo mendesis sebal, antara malu dan geregetan karena pacarnya ini sungguh tidak punya rasa peka dan hobi sekali menjahili orang, "Kau kira pinggangku selebar itu, itu bukan kedodoran lagi tahu!"
Ah, Mingyu lupa kalau Wonwoo pinggangnya ramping.
Tapi memang hanya celana ini yang dia punya, yang lain hanya boxer dan jeans. Wonwoo bisa menendangnya kalau sampai Mingyu harus bilang bahwa mereka harus berbagi boxer juga. Memalukan.
"Bajunya juga kebesaran, mau yang lain!"
Banyak sekali protes yang melayang dari mulut Wonwoo yang tiba-tiba jadi cerewet dan hobi mengomel itu. Sekilas Mingyu menyadari kemeja warna putih yang menjadi seragamnya tahun lalu, dia bahkan tak menyangka seragam sempit itu jadi kelewat longgar kalau Wonwoo yang memakainya.
"Yasudah, jangan pakai celana," Mingyu mengusak rambutnya yang basah, dia melangkah menuju cermin dan mengamati wajahnya yang terlihat lebih segar.
"Kau ini benar-benar sinting," Wonwoo berteriak lagi, kesal. Pinggangnya yang masih berbalut handuk dan kemeja yang bahkan ujung lengannya bisa melebihi jemarinya itu.
Mingyu berbalik, menyandar pada meja belajarnya dan melihat Wonwoo dari ujung kepala hingga kaki, "Jangan lihat macam-macam!" Wonwoo menyembur kesal.
Saat merasa kepalanya diusak pelan-pelan, Wonwoo batal mengomel karena Mingyu kini sedang mengeringkan kepalanya dengan handuk yang ia bawa, "Sejak kapan kau jadi punya hobi mengomel?"
"Sejak aku bertemu spesies sepertimu!"
Wonwoo yang kesal masih menatap lurus-lurus ke dada Mingyu yang bidang.
Entah kenapa, namja berambut hitam legam itu mendadak melamun, tak menyadari kalau Mingyu diam-diam menatapnya setelah menghentikan gerakan tangannya di kepala Wonwoo yang rambutnya sudah mulai kering.
Dengan gerakan cepat, Mingyu menunduk, menempelkan bibir tebalnya pada bibir Wonwoo yang terkatup rapat, menyadarkan namja itu sepenuhnya dari lamunan.
Hanya beberapa detik, sebelum Mingyu tahu kalau Wonwoo mendelik dan bakal mengomelinya lagi.
"Ya!"
Kalau biasanya tawa ringan akan muncul dari bibir Mingyu, kali ini Wonwoo bersumpah akan benar-benar memplester mulut tak berfilter itu karena sudah melemparkan seringaian mesum.
"Kau ini benar-benar!" Wonwoo tak bisa lagi menutupi rasa panas yang menjalar dimulai dari telinganya, bahkan kini lehernya mulai dirambati warna merah, menjalar membuat Wonwoo jadi merasa malu untuk kesekian kali.
"Kau harus mulai terbiasa," Mingyu tertawa ringan, sebelum menahan lengan Wonwoo agar namja itu tak kabur darinya, "Karena aku bisa saja melakukan lebih."
"Otakmu itu dari agar-agar ya? Hentikan pikiran mesummu tahu! Kau membuatku merinding, mengerikan," Wonwoo bergidik.
Mingyu mendekat lagi dan Wonwoo bersumpah dia bisa berteriak lebih kencang dari yang terjadi di taman hiburan saat dia bisa merasakan Mingyu membuang handuk yang melingkari pinggangnya, hingga kemeja putih yang menutup sampai paha itu terlihat, mengekspose kulitnya yang lembut.
"Mesum," Wonwoo tak sanggup menolak lebih lagi saat tangan lebar Mingyu mengusap punggungnya, mendekatkan tubuh mereka hingga mengikis jarak. Daripada disebut tidak bisa, lebih tepat kalau Wonwoo sedang tidak ingin menolaknya.
Namja tinggi itu mengangkat alis, kemudian Wonwoo tanpa sadar menutup matanya saat dia merasa Mingyu mendekat. Deru nafas masing-masing terdengar hingga akhirnya bibir mereka berdua bersentuhan, tanpa penghalang. Wonwoo tak tahu kalau berciuman itu akan seperti ini rasanya, mereka berdua diam selama beberapa saat, Mingyu membuka sedikit matanya sebelum menutupnya lagi, menekan tengkuk Wonwoo dan mulai menggerakkan bibirnya, perlahan, lembut dan memberikan rasa nyaman yang menyergap perasaan Wonwoo.
Wonwoo merasakan aura si dominan begitu kuat dari tubuh kekasihnya tersebut, bibirnya bergerak, canggung, pelan-pelan dan nampak tak yakin dengan segala apa yang dia lakukan. Mingyu tak mempersalahkannya, dengan lumatan lembut yang membuat Wonwoo tanpa sadar memilih melingkarkan lengannya pada leher sang kekasih, Mingyu menaikkan ritmenya, membawa Wonwoo untuk terbiasa dengan apa yang mereka lakukan sekarang.
Tak mau menghilangkan kepercayaan diri Wonwoo, Mingyu tersenyum kecil di dalam ciumannya. Membelai pipi tirus Wonwoo yang memaksa namja itu membuka bibirnya, pelan-pelan. Merasakan lidah bertekstur lembut milik Mingyu yang memaksa masuk, Wonwoo tak bisa mengendalikan tubuhnya. Lemas, semuanya tubuh Wonwoo terasa lemas hingga Mingyu terpaksa menopangnya dengan kedua tangan pada pinggangnya, menarik dan menuntun tubuh tersebut hingga mereka berdua terjatuh di atas ranjang. Mingyu menjatuhkan Wonwoo di pangkuannya, masih enggan melepaskan tautan bibir keduanya bergerak lembut, tak mau terburu-buru.
Mingyu mengumpat dalam hati saat Wonwoo mendesah.
Demi Tuhan Jeon Wonwoo yang mulutnya pedas itu mengeluarkan desahan, suaranya halus, ringan seperti bulu, menelusup pendengarannya dengan tanpa permisi, kalau boleh dibilang suara Wonwoo itu rendah, dan seksi.
"Mmph…" Wonwoo menggeliat kecil, merasakan hisapan yang lebih kuat pada bibir dan lidahnya, rasanya separuh isi otaknya hilang menguap bersamaan dengan panas yang menguar.
Tiba-tiba tubuh Wonwoo terasa ringan, Mingyu menghempaskannya, tepat di tengah-tengah kasur saat kemudian Mingyu memutus ciumannya, meninggalkan bekas saliva yang menyebar. Wonwoo mengatur nafas, Mingyu mengusap poninya, memberikan ciuman ringan di bibirnya yang bengkak.
"Apa kau sudah sering berciuman dengan orang lain?" Wonwoo bertanya ditengah nafasnya yang pendek-pendek.
Mingyu menggeleng kecil, "Kau mau bilang aku good kisser hm?"
Wonwoo mendesis kesal, "Tidak."
"Aku tidak pernah, kau ini yang pertama."
Dengan sedikit gerakan mata kecil, Mingyu tahu kalau Wonwoo mengisyaratkan tatapan tak percaya.
"Aku memang tidak pernah berciuman dengan orang lain sebelum denganmu memang, tapi kalau melihat, aku sering."
Perlahan Mingyu melihat dahi Wonwoo berkerut sebelum ia meringis kecil ketika Wonwoo menghujamkan tinju pada perutnya, "Dasar mesum, pasti kau punya koleksi lengkap blue film!"
"Jangan sampai aku praktekkan padamu sekarang," Wonwoo mendadak lemah dengan gigi taring vampire tersebut, Wonwoo menggeliat malas.
Mingyu tetap berada di atas tubuh terlentang Wonwoo, masih enggan beranjak, menikmati suasana yang tenang.
"Ngomong-ngomong," Wonwoo mengedipkan maatanya menarik perhatian Mingyu hingga mereka berdua beradu pandang, "Kau masih mau mendapatkan fotoku untuk ayam goreng dari Soonyoung dan Seokmin?"
Mingyu bergumam-gumam sebelum dia menggeleng kecil, kini membawa tangannya menelusuri kaki telanjang Wonwoo yang tak bercelana, Mingyu bersumpah dia akan berhenti saat Wonwoo menyuruhnya, dan sialnya namja itu sama sekali tak melarangnya.
"Tidak? kenapa?"
Mingyu tersenyum untuk kesekian kalinya hari ini, membuat debaran dan gemuruh pada diri Wonwoo tak dapat dihindari.
"Aku hanya tidak rela saja…"
Mingyu menggantung ucapannya, sebelum bibirnya mendarat tepat di perpotongan leher kekasihnya yang mengeluarkan bau harum.
"… karena kau milikku sekarang, aku jadi tidak mau berbagi meskipun itu hanya senyumanmu pada Soonyoung dan Seokmin."
.
.
TBC
.
.
HELLO BEYBEH YUHUUU
AKU TAK KUAT MENGETIK INI DISAAT HARI PERTAMA SEKOLAH UDAH ADA TUGAS PRAKTIKUM /ngambang di kali/
Maafkan dengan kekurangannya, maafkan daku karena gw juga merasa ini kurang panjang, tapi gw malah bingung mau nge cut dimana ('-')/ makasih yang setia menunggu, memberi masukan, komentar, mendukung dan segala sesuatunya yang membuat gw jadi terharu.
Untuk segara kekurangannya gw mohon maaf ya, jangan pundung gw huweh!
OIYA HAPPY BIRTHDAY BUAT BEBEB WONWOO KESAYANGAN CARATS maap agak telat heheh!
KESAYANGAN SEVENTEEN
KESAYANGAN EMAK BABE
DAN TENTU KESAYANGAN AA MINGYU EKHEM
/THROW CONFETTI/
Mohon maafkan daku karena ini ngesot-ngesot (?) ke rate M, TEMEN KESAYANGAN GW YANG MINTA KARENA KATANYA BUAT SEPESIAL ULTAH BEBEB WONU apalah dayaku yang tak bisa menolak karena aslinya gw juga demen /yha PADA AWALNYA MAU NGASIH ADEGAN NAENA TAPI TAKUT KETERUSAN DAN KHILAF GAJADI DEH :'v
Chapter depan gw akan berusaha lebih keras dan lebih baik lagi.
A(n)JU NAISSS
Terima Kasih mumumu
Babay
Salam super !
raeyoo
