Be Bright
Kim Mingyu | Jeon Wonwoo | de el el | Meanie | GyuWon | SEVENTEEN
Genre romance asam manis like always
Ratingnya T lebih dikit mungkin :'v
Plagiat? Kesenangan boleh dipikul, dosa jinjing sendiri /?
WARNING !
.
SODARA-SODARA ADA ADEGAN BERBAHAYA DIBAWAH SINI MOHON MAAF AKU KHILAF !
.
.
[Chapter 5]
.
Ruam kemerahan tercetak jelas di perpotongan leher Wonwoo membuat pria pucat tersebut tak mampu membuka mata, tangannya mencengkram kaus bagian lengan milik Mingyu dengan erat, enggan melepaskannya bahkan saat tanda kemerahan itu sudah tercipta beberapa buah di sekitar tulang selangka miliknya, menodai leher hingga hampir menyentuh dagu.
Mingyu berkali-kali mengumpat saat Wonwoo mendesahkan namanya, Demi Tuhan Semesta Alam yang murah hati telah menciptakan makhluk seperti Jeon Wonwoo, Mingyu tak bisa berhenti menggerakkan tangannya untuk menelusuri tiap lekuk tubuh kurus tersebut. Mingyu duduk, menyandarkan kepalanya pada dashboard, meraih tangan Wonwoo, mendudukkannya tepat di paha kokohnya, membelai pundak dan paha telanjang Wonwoo yang ada dipangkuan.
Membuat namja emo itu meletakkan dagunya di pundak Mingyu, dekat telinga, menghembuskan nafas tak beraturan, mendesahkan nama si jangkung dengan mulutnya yang berdosa, membuat Mingyu sukses turn on dalam waktu singkat.
Mingyu tak akan pernah bisa menggambarkan sensasi yang ia terima saat ini.
Dan itu menyiksa, Wonwoo yang menggeliat karena bibir Mingyu di sekitar telinga kirinya membuat tubuh kurus itu sukses menggesek apapun yang ia punya dengan badan tegap Mingyu yang menegang dengan cepat. Punggungnya jadi seperti papan.
"Jangan… menatapku begitu, aku malu," Wonwoo menenggelamkan wajahnya, saat sebelumnya mereka beratatapan dengan senyuman tipis di bibir si dominan.
Mingyu mengusap punggung Wonwoo yang halus, melihat kemeja putih yang kini melorot sampai bahu, "Tumben. Jeon Wonwoo biasanya paling galak kalau begini."
Suara pekikan kecil yang berat terdengar saat Wonwoo mencubit keras pinggang Mingyu dan dihadiahi erangan tertahan. Mingyu memohon agar Wonwoo melepaskan cubitannya degan mengiba.
"Beruntung aku tidak memutus lehermu, kau ini menyebalkan," lagi-lagi Wonwoo memukul, dengan tenaga seadanya yang langsung ditahan oleh telapak Mingyu yang lebar.
Mingyu terkekeh, "Jangan begitu, aku suka!"
Wonwoo mengerjap heran, "Suka apa?"
Tawa kecil muncul dari bibir Mingyu sebelum ia mencium Wonwoo tepat di bibir, sebentar, kecupan yang ringan hingga Wonwoo tak sempat lagi mengelak darinya, "Aku suka, kau seksi kalau begini."
"Demi tuhan Kim Mingyu! Kau yang membuatku hampir telanjang," pekik Wonwoo kesal, kemeja kebesaran yang susah payah ia jaga agar tak melorot itu berpadu dengan kakinya yang mulus, dirinya tak mengenakan celana, hanya celana dalamnya yang tersisa. Memaksa Wonwoo berusaha keras membuat Mingyu menjaga tangannya agar tak menjamah area tersebut.
Sumpah Wonwoo belum siap kalau harus disentuh di sana.
"Dan kau tidak menolaknya," Mingyu menampilkan smirk yang membuat gigi taringnya terlihat, hingga Wonwoo tak sabar untuk menariknya hingga copot sekalian.
Namja putih susu itu mengerang kesal, ini kali pertama Wonwoo tak mau berdebat dengan Mingyu, kalau urusan di atas kasur seperti ini, sepertinya Mingyu yang harus menang.
"Aaa… ahh Gyuuh," Wonwoo mendesah hebat saat Mingyu untuk kali pertama menyentuh pertahanan terakhirnya. Ia mencengkram pundak tegap Mingyu dengan kuat, mengeluarkan desahannya di telinga Mingyu yang menyebabkan reaksi aneh, terutama pada area selangkangan yang entah sejak kapan jadi terasa tidak nyaman.
"Aku tidak mau memaksa, Wonwoo," Mingyu berbisik, sedikit mendesis karena tubuh keduanya bergesekan lagi, makin cepat, membuat Mingyu hampir tak bisa menahan Wonwoo untuk menghempaskannya ke kasur, melucuti semua bajunya, dan menuntuskan apa yang harus ia selesaikan. Terutama pada bagian selatannya.
Wonwoo melenguh, bibir tipisnya terbuka, mengecap leher Mingyu yang sudah basah atas liurnya. Berbeda dengan Mingyu yang tampak lebih berpengalaman – dengan segala adegan blue film yang ia tonton. Seluruh tubuh Wonwoo bergetar, ia tak bisa menahan friksi kenikmatan yang membelai tiap inchi kulitnya, gerakannya canggung, takut-takut, tapi meminta. Tak bisa berhenti.
"Ingin aku lanjutkan?" Mingyu berbisik lagi, berjengit saat Wonwoo melenguhkan nafasnya yang berat saat jemari Mingyu sukses menyibak kemejanya, membelai kulit pinggang Wonwoo dengan perlahan.
Entah kenapa, Wonwoo kemudian mengangguk, "I..iya."
Wonwoo menggigit bibir dan memeluk leher Mingyu dengan erat, pahanya diusap pelan, dan Mingyu tersenyum saat Wonwoo tampak tak sabar, namja tinggi itu tak percaya Wonwoo akan mengucapkan kata iya dan bahkan tak akan menolaknya.
"Aku tidak akan berhenti, oke?"
Mendengar bisikan halus itu, Wonwoo sontak mengangguk untuk kali kedua, membuang semua ego dan sikap tsunderenya yang cenderung malu-malu. Untuk saat ini saja Wonwoo akan melepas topeng datarnya yang menyebalkan. Entah kenapa, batin Wonwoo mendorong tubuhnya sendiri untuk melakukannya, karena ia yakin, untuk sekarang, Wonwoo tak perlu menutup-nutupinya lagi.
.
Dalam hidupnya, bisa dihitung jari kapan saja Wonwoo bangun siang. Dan hari ini termasuk hari yang cukup mengherankan, karena alarm otomatis dalam otak Wonwoo seakan mati. Sudah jam 8 tapi namja kurus itu masih menggelungkan tubuhnya pada bed cover abu-abu muda, menyembunyikan ujung jemari kakinya dari hawa dingin di pagi yang mendung itu. Bahkan Mingyu yang notabene lebih suka bangun siang sudah tidak ada pada tempat tidurnya lebih dulu dari Wonwoo. Agak aneh.
Mingyu bukannya sedang berusaha menghilangkan kebiasaan buruknya (yaitu bangun siang), tapi ia terbangun tepat saat fajar hanya karena perutnya lapar. Setelah mengganti seluruh benda yang melekat pada kasurnya (bisa terhitung seprei, beserta sarung bantal dan gulingnya) dan memasukkan benda-benda bernoda itu pada mesin cuci, Mingyu sedikit terheran karena ia bisa melakukan itu semua tanpa membangunkan pacarnya.
Wonwoo baru bangun saat perutnya yang mulai memberontak itu makin menjadi ketika mencium wangi caramel dari dapur. Matanya terbuka malas, tubuh yang lelah dan mendadak terasa seperti patah itu diregangkan sebisanya. Belum apa-apa, Wonwoo sudah berteriak kencang melihat bayangan tubuhnya yang terlihat mengerikan terpantul dari cermin di dekat almari.
"KIM MINGYU!"
Wonwoo sontak berdiri, namun dia dengan cepat jatuh bebas ke lantai beludu karena bagian belakangnya terasa patah dan sensasinya perih menyengat.
"Jeon Wonwoo jangan mengomel pagi-pagi, kau mau makan tidak?" Mingyu balas berteriak dari dapur dengan suara keras saat mendengar Wonwoo sudah meneriakkan namanya bahkan saat namja kurus itu baru membuka mata.
"Sakit tahu, kau apakan saja aku semalam?!" Wonwoo mengomel lagi, karena tak kuat berdiri, tubuh yang mengenakan pakaian berantakan itu malah hampir merangkak seperti setan menuju dapur, bagaimapun, Mingyu harus tanggung jawab dengan apa yang dia perbuat pada tubuhnya.
Kepala Mingyu menyembul dari balik pintu dan tertawa kecil saat tahu Wonwoo sudah terkapar di atas karpet, dengan rambut dan baju yang amburadul. Wonwoo mendelik kesal, hampir saja dia menangis saking jengkelnya karena Mingyu melemparkan senyuman mengejek.
"Heol, kau mau menyalahkanku untuk yang tadi malam?" Mingyu berjongkok di depan Wonwoo dan mengusap pipinya yang lembut.
Wonwoo hampir saja menggigit telunjuknya ketika Mingyu mencubit pipinya, "Aku tidak bisa jalan!"
"Kan aku sudah bilang cukup sekali, siapa juga yang minta lagi hm?" Mingyu bertanya lagi dengan nada menggoda membuat Wonwoo seketika memerah, kemudian dia mendorong dada bidang Mingyu dengan cepat, memilih tak melanjutkan debatnya.
"Aku tidak," elaknya sembari membuang muka.
"Ayolah, siapa yang tadi malam memaksaku?" Mingyu mengacak rambut Wonwoo dengan gemas membuat sang pemilik menepis kasar tangannya.
Wonwoo mengerang kesal dan memilih mendorong-dorong lengan Mingyu dengan tenaganya yang makin menipis, "Pergi deh, aku mau tidur lagi!"
Mingyu bergeming, memilih membawa Wonwoo dengan mengangkat pinggangnya cepat lalu mendudukkannya di atas kasur, "Mandi dulu sana!"
"Aku tidak bisa jalan bodoh!" Wonwoo mengumpat kesal, "Kau tidak tahu tulang belakangku hancur, lagipula rasanya masih perih."
Telapak tangan Wonwoo menutupi wajah manisnya saat ia mengucapkan kalimat terakhir, mengubur rasa malunya dalam-dalam, "Aku mau tidur lagi."
"Aku tidak menyangka kemampuan mengomelmu masih sangat baik, padahal siapa juga yang berteriak-teriak semalaman."
Mingyu tertawa dan memilih menggendong tubuh ringan Wonwoo di atas punggungnya, membawa kekasihnya menuju kamar mandi utama. Mata tajam itu bisa melihat genangan air berwarna putih di dalam bathtube membuat matanya yang semula sayu dan berat jadi terbuka lebar.
"Jangan menggodaku pagi-pagi oke?"
Mendengar Mingyu yang mewanti-wantinya, Wonwoo mendengus kesal, "Menggoda apanya, pikiranmu saja yang mesum!"
Sebelum kejadian tadi malam terulang lagi, Wonwoo cepat-cepat menyuruh Mingyu pergi dan hampir menyemprotnya dengan shower ketika namja jangkung itu masih bergeming, delusi liar di pikirannya itu harus segera dihilangkan sebelum dirinya terpaksa jadi santapan pagi pacarnya sendiri.
.
Wonwoo tak tahu bagaimana bisa Mingyu membuat pai apel dengan taburan gula halus dalam waktu singkat dan ketika dia selesai mandi, bau harum apel tersebut sudah menguar memenuhi area dapur. Berkat berendam dan relaksasi selama hampir 30 menit, Wonwoo merasa air dengan sabun yang menjadi tempatnya berendam itu melakukan tugasnya dengan baik, mengambil beberapa penat yang membuat Wonwoo jadi terlihat lebih segar.
"Pagi!" Mingyu berjengit saat merasa Wonwoo menarik lengannya, memaksanya menoleh dan memberikan ciuman singkat di bibir tebal tersebut.
"Tumben," Mingyu balas tersenyum, mengacak rambut Wonwoo yang memang belum disisir dan melanjutkan menggoreng beberapa buah sosis dengan bentuk mirip gurita.
Wonwoo berdiri di samping Mingyu menyandarkan kepalanya dan langsung dibalas dengan rangkulan oleh lengan Mingyu yang kokoh, Wonwoo mengendikkan bahu sebagai jawaban atas ucapan Mingyu barusan.
"Sudah bisa jalan?"
Namja itu mengangguk kecil, merebut spatula kayu dari tangan Mingyu dan membolak-balik beberapa buah sosis gurita yang berenang di minyak panas.
"Masih sakit?"
Kali ini mengangguk, "Sedikit."
"Duduk saja, biarkan aku yang masak," Mingyu mengambil alih spatulanya lagi, Wonwoo malah mengeleng dan dengan cepat melingkarkan lengannya di pinggang Mingyu, menempel erat seperti koala yang melingkar pada batang pohon.
"Manja sekali," Mingyu menggoda Wonwoo yang tiba-tiba sedang dalam mood manjanya seperti sekarang, akhirnya ia terpaksa tetap bekerja dengan Wonwoo yang masih betah menempel padanya. Agak sedikit memperlambat gerakannya di dapur sih, tapi Mingyu tidak bisa untuk menolak.
Bukan tanpa alasan tapi Wonwoo sedang ingin manja-manjaan hari ini, hitung-hitung sebelum dia kembali ke rumah. Dia masih ingat kemarin Bohyuk meneleponnya dan mewanti-wanti agar pulang sore ini, kalau tidak Wonwoo bisa dijemput paksa oleh adiknya. Meskipun agak aneh karena Bohyuk sendiri pasti juga tak tahu rumah Mingyu berada di daerah mana.
"Enak?" Mingyu masih bertanya meskipun ia tahu Wonwoo tak akan pernah menolak untuk semua makanan yang ia buat.
Benar saja, Wonwoo mengangguk kecil sembari melahapkan potongan pai apel ke mulutnya yang tak begitu besar.
"Nanti pulangkan aku," Wonwoo menusuk lagi remahan pai dengan garpunya sembari menatap Mingyu yang tengah meneguk segelas susu putih, "Bohyuk sudah marah-marah karena sudah 2 hari aku tidak pulang."
Agak tidak rela sih, tapi akhirnya Mingyu memutuskan untuk menyanggupi, "Sore nanti."
"Hmm hmmm…" Wonwoo bergumam-gumam kecil, masih menikmati hidangan selanjutnya yaitu sosis goreng dengan potongan roti dan keju.
Mingyu selesai makan lebih dulu ketika ia melihat Wonwoo tengah melamun, gelas susunya masih tak tersentuh sedangkan Mingyu sudah beres dengan semuanya. Pelan-pelan ia membelai pipi kekasihnya tersebut dan bertanya, "Apa yang kau pikirkan?"
Wonwoo menoleh, "Kau."
"Kenapa memikirkanku?" Mingyu mengangkat alis.
"Mana aku tahu!" Wonwoo menjawab ketus dan meneguk susunya hingga berkurang seperempat gelas.
Jalan pikiran Wonwoo itu aneh, tapi Mingyu tak keberatan. Dengan cepat Mingyu menundukkan tubuhnya, sekedar memberikan ciuman yang cukup untuk mengisi suasana paginya saat itu, Wonwoo tak menolak, karena dia tak punya alasan.
"Saranghae!"
Perut Wonwoo rasanya tergelitik ketika Mingyu mengucapkan kalimat singkat itu disela ciumannya, saat Wonwoo menarik diri, dengan cepat ia memukul pinggang Mingyu sembari melemparkan pandangan kesal. kesal karena Mingyu selalu sukses membuat Wonwoo malu.
"Dih," Wonwoo menggumam kecil diikuti kekehan Mingyu yang menyebalkan, namun namja jangkung itu tak bisa menahan dirinya untuk tidak mencium bibir Wonwoo sekali lagi saat tahu jemari kekasihnya yang pucat itu menggenngam telunjuknya erat, mendesah pelan namun telinganya masih bisa mendengar apa yang Wonwoo ucapkan.
"Aku juga."
.
Mingyu tak kecewa saat hari senin itu ia gagal memberikan foto Wonwoo pada Soonyoung dan Seokmin. Sedangkan Seokmin sendiri tak bisa menahan rasa herannya ketika ia melihat Mingyu yang jalan pikirannya aneh itu tiba-tiba seperti kehilangan minat pada kedai ayam goreng yang membuatnya hampir jadi setengah sinting.
"Kau gagal? Serius?" Seokmin mengintrogasi Mingyu saat mereka bertiga ada di gazebo dekat dengan kolam yang jadi habitat beberapa ekor angsa, mendengar Mingyu mengangguk,Seokmin lantas bertepuk tangan seperti orang idiot, "Jeon Wonwoo memang benar-benar keren."
"Maaf ya, Soonyoung," Mingyu nyengir lagi menatap Soonyoung yang sibuk dengan laptopnya, berusaha mengedit layout dari beberapa halaman di buku tahunan, mendengar Mingyu yang minta maaf dia lantas mengangguk, "Aku memang tidak berharap banyak padamu sih."
Cengiran namja jangkung itu makin melebar, bukannya dia mau menyembunyikan hubungannya dengan Wonwoo sekarang, tapi karena Mingyu itu paham Wonwoo bukanlah tipe orang yang suka mengumbar hubungan pribadinya di sekolah. Lagipula, Wonwoo masih galak seperti biasanya, kalau Mingyu dengan seenak jidat melakukan hal-hal yang aneh, Wonwoo bisa-bisa menendang Mingyu dan menjadikannya santapan angsa.
"Parah sekali ya, memang seburuk itu?" Seokmin bertanya dan ikut merebahkan diri bersama Mingyu, Soonyoung sendiri memilih untuk menyibukkan dirinya dengan tugas yang menumpuk, tapi telinganya yang tajam masih mendengar apa yang dibicarakan dua sahabatnya.
Bingung apa yang harus ia jawab, Mingyu hanya mengangkat bahu.
"Bagus deh kalau nyerah, dari awal memang harusnya kau jangan dekat dekat dengannya," Seokmin membuat gesture yang aneh, namun Mingyu hanya bisa menyembunyikan tawanya saat melihat sahabatnya itu memasang wajah serius.
"Tumben menyerah, biasanya kau bakal minta perpanjangan waktu, terus memohon-mohon demi ayam goreng disana. Kenapa? Sudah bosan makan ayam?" Soonyoung memilih bergabung dan mengesampingkan tugasnya yang membuat lelah.
Mingyu lagi-lagi bingung harus menjawab apa, kalau dibilang dia bosan dengan ayam, tentu saja jawabannya tidak. heol, mana mungkin dia bisa melupakan begitu saja rasa ayam goreng yang bumbunya meresap sampai ke tulang-tulang itu.
Tapi, dibandingkan ayam goreng, Mingyu tahu, 'rasa' dari Wonwoo itu bisa lebih dari sekedar kata memabukkan.
"Hanya ingin sih," akhirnya Mingyu menjawab seadanya diikuti dengan kerutan di dahi Soonyoung dengan tatapan kurang puas, ayolah, ini bukan Mingyu yang otaknya sinting seperti biasa.
Seokmin menendang tubuh besar Mingyu dengan mendesis, "Dasar plin-plan."
Mingyu tak tahu alasan apa yang membuat Seokmin menuduhnya sebagai seorang yang plin-plan, tapi kalau dia butuh sesuatu untuk disalahkan, Seokmin harusnya menyalahkan Wonwoo yang bisa membuatnya jadi begini.
.
Sepasang mata tajam itu menelusuri lingkungan sekitar dengan tangannya yang membawa tas kertas berwarna biru muda, dia berjalan sendirian menelusuri area kolam angsa, dan matanya menajam saat tahu 3 orang siswa dengan santainya merebahkan diri sambil tertawa-tawa di area gazebo. Wonwoo menangkap bayangan seorang siswa dengan seragamnya yang berantakan seperti biasa, dan rambutnya yag berwarna caramel gelap itu terlihat sangat jelas.
Wonwoo ingin menyelesaikan ini dengan cepat. Digenggamnya erat tas yang ada pada tangan kirinya sebelum melangkah cepat menuju 3 orang yang sepertinya sama sekali tak menyadari kehadirannya tersebut.
Bruk!
Mingyu terkejut dan setengah terlonjak saat merasa sesuatu menimpa wajahnya. Seokmin dan Soonyoung ikut terkejut, dengan refleks cepat mereka menoleh. Sedikit horror saat melihat Wonwoo dengan tatapan datarnya memandang tajam, lebih tajam saat bertemu mata hazel Mingyu yang balas menatap matanya, meminta penjelasan pada kekasihnya yang seenak hati melempar benda lunak itu di atasnya.
"Wonwoo?" Seokmin mengedip cepat, hendak bertanya ada apa tapi buru-buru Wonwoo berbalik, melengos dan pergi begitu saja setelah tas tersebut sudah sampai di pangkuan Mingyu.
Dan sepertinya Mingyu enggan melepaskan Wonwoo kali ini, alhasil, namja itu mengejar Wonwoo yang terus berjalan menjauh, mudah saja karena langkahnya yang panjang dan tangannya dengan cepat mencengkram lengan kurusnya.
"Ada apa?" tanya Mingyu.
"Mau menggembalikan milikmu," jawab Wonwoo pendek, "Aku mau kembali ke kelas."
Mingyu mendengus kesal, "Setidaknya kalau mengembalikan, kau harus bilang terima kasih dan menyerahkannya dengan baik. jidatku sakit tau!"
Posisi Mingyu dan Wonwoo tak jauh dari tempat dimana Soonyoung dan Seokmin berada, keduanya masih bisa mendengar jelas apa yang Mingyu dan Wonwoo bicarakan, mereka berdua sama-sama memasang wajah bingung, dan Soonyoung bersumpah akan meminta penjelasan dari Mingyu setelah urusan si jangkung itu selesai.
"Terima kasih, maaf perihal jidatmu itu," Wonwoo mencibir sebelum memilih berbalik, berniat kabur dan cepat-cepat kembali dengan novel detektivnya di dalam kelas.
"Kau ini kenapa sih? Ayolah, aku tidak bisa dicueki begitu saja di sekolah," Mingyu merajuk kesal, ditariknya lagi lengan Wonwoo hingga namja itu terhempas hampir menubruk dadanya yang bidang.
"Iya iya kau tahu," Wonwoo mendesis sebal, "Tapi jangan disini!"
"Memang kenapa?"
Wonwoo mendengus kesal sembari berucap lirih, "Aku malu!"
Hingga akhirnya tawa berderai-derai itu muncul dengan tidak sopannya dari mulut si lelaki berambut coklat itu dengan tidak sopannya membuat Wonwoo mendelik kesal. sekarang ia jadi merasa jengkel punya pacar yang kelewat 'cerah' seperti Mingyu.
Sementara di lain sisi Seokmin lebih serius menguping pembicaraan Wonwoo dan Mingyu dengan wajah penuh keingintahuan, sedangkan Soonyoung kini malah mengalihkan fokusnya dari adegan Wonwoo dan Mingyu pada tas kertas yang tadi dilemparkan Wonwoo hingga sekarang tergeletak tak berdaya di sampingnya.
Demi Tuhan Soonyoung tak bermaksud lancang tapi dia begitu penasaran saat beberapa isinya berceceran keluar, dan ketika tangannya diulurkan untuk memungut benda tersebut, matanya yang sipit membuka lebar seketika.
Soonyoung benar-benar tak sabar mau menunggu dan lebih memilik berteriak memecah obrolan Mingyu dan Wonwoo, mengangetkan Seokmin yang melamun.
"YA ! KALIAN BERDUA!"
Wonwoo dan Mingyu menoleh, sementara Seokmin yang meskipun tak terhitung dalam ucapan 'kalian berdua' itu juga ikut-ikutan menoleh dalam diam.
"Aku penasaran sekali hubungan apa yang kalian jalani sekarang," Soonyoung berdiri dengan memicingkan mata, mengundang tatapan mata bingung pada Mingyu dan Seokmin.
Kalau Wonwoo, topeng aspalnya masih bekerja dalam hati tapi dia berubah panik saat tahu Soonyoung membawa tas kertas biru muda tersebut.
"Kalian pacaran ya?" Soonyoung menatap Mingyu penuh selidik sementara Seokmin terlihat mau tertawa mendengar hipotesis konyol Soonyoung yang menurutnya agak kelewatan itu.
Mingyu diam dan mengernyitkan dahinya, Wonwoo juga, memilih berdiri dan menyembunyikan tubuhnya dibalik tubuh tegap Mingyu.
"Soonyoung kau itu kelewatan, mana mungkin…"
Ucapan Seokmin terpotong saat Soonyoung mengeluarkan sebuah kemeja putih dari dlam tas tersebut, "Kalian berbagi pakaian?"
Baru saja Mingyu akan menjawab, berbagai isi tas itu terungkap dan terlihatlah beberapa pakaian milik Mingyu. Soonyoung sebenarnya tak mau menuduh, tapi rasanya feelingnya mengatakan kalau Mingyu memiliki sesuatu yang dia tutupi.
"Soonyoung kau berlebihan," Seokmin mendesah kesal, kadang Soonyoung agak tolol juga kalau menyangkut beberapa masalah.
Mingyu yang mau bicara kini disela lagi, "Makanya aku tanya," Soonyoung masih menatap Wonwoo dan Mingyu bergantian dengan tatapan mengintrogasi.
"Err…" Mingyu menggaruk tengkuk kemudian menarik tangan Wonwoo dan menyuruh namja itu agar tak bersembunyi di punggungnya, dengan cepat dirangkulnya pundak Wonwoo dan menampilkan cengiran kuda seperti biasa, ia tertawa kecil berbanding terbalik dengan Wonwoo yang menundukkan wajah, berharap dia tak akan mengumbar hubungannya sekarang.
"Kita memang pacaran kok!"
Kim Mingyu bedebah !
.
Hanya untuk hari ini Soonyoung rela membawa Seokmin dan Mingyu bolos jam pelajaran sejarah dan melipir menuju atap sekolah yang sepi. Setelah sukses dibuat bengong karena berita yang menurutnya terlalu mendadak dan terlalu tidak mungkin itu, Wonwoo langsung kabur begitu mendengar bel masuk sementara ketiga biang onar ini tak peduli dengan Jung Songsaengnim dan tugas presentasi kerajaan lampau tempo hari.
Mingyu yang pacaran dengan Wonwoo itu lebih penting daripada berita histori yang ketinggalan jaman itu, dan Soonyoung juga Seokmin bersumpah harus mendengar rincian ceritanya.
Hampir setengah jam Mingyu menceritakannya, dari awal taruhan atas ayam goreng yang ia buat tempo hari sampai malam yang penuh dengan keringat di rumahnya, membuat Seokmin dan Soonyoung lantas mengumpat.
"KAU BARU PACARAN DENGANNYA TAPI KAU LANGSUNG ….AH SUDAHLAH!" Soonyoung memekik begitu tahu Mingyu yang agak sinting ini menceritakan kejadian tempo hari.
"Kim Mingyu kau benar-benar sinting!"
Nyatanya itu benar.
"Hei kalian tidak boleh menyalahkan perasaanku dan Wonwoo tahu," Mingyu menendang Seokmin yang kesal dan hampir saja dia menoyor kepala Soonyoung.
"Aku tidak menyalahkan perasaanmu, aku hanya menyalahkan otakmu!" Seokmin mendengus.
Mingyu berdalih lagi, "Lagipula itu bukan pemerkosaan."
"Mau perkosaan atau tidak, tapi menghafal rumus kalkulus saja kau belum becus, sudah berhubungan badan dengan anak orang!" Soonyoung kesal. Walau bagaimanapun, bocah itu masih menyandang status sebagai warga negara yang baik. menurutnya melakukan hal semacam itu harusnya saat sudah menikah.
"Jangan sangkut pautkan ini dengan kalkulus dong, kau sendiri cuma dapat nilai 45," Mingyu kesal karena otaknya yang bodoh ini dibawa-bawa lagi.
Mengakhiri debat bodoh mereka, Soonyoung dan Seokmin memilih melanjutkan interview. Obrolan itu berlanjut hingga bel pulang sekolah berdering memecah sore yang hangat.
.
"Wonwoo, kau marah?" Mingyu bertanya sembari membawa sebotol minuman isotonic ditangannya, Mingyu melihat Wonwoo berada di dalam kandang kelinci dan membersihkan beberapa sampah yang berserakan disana.
Wonwoo bisu, tak mau menjawab pertanyaan kekasihnya.
"Kau malu kalau pacaran denganku?"
Kali ini Wonwoo menoleh melihat wajah bersalah Mingyu, "Bukan begitu," Wonwoo menghela nafas panjang dan meletakkan kelinci-kelinci kecil agar menjauh dari kaki-kakinya, "Bukan malu begitu."
Mingyu memberanikan diri untuk masuk ke dalam kandang yang entah kenapa ia merasa bola-bola bulu itu berkembang biak makin banyak. Ditariknya lengan Wonwoo dan mengulurkan sebotol minuman isotonic dingin begitu melihat pelipis Wonwoo yang berkeringat. Hari ini memang jadwal piketnya, jadi Wonwoo sudah sibuk di dalam kandang kelinci ini sejak bel pulang sekolah berbunyi.
"Aku hanya malu, kalau banyak orang yang menggodaku saat tahu aku berpacaran denganmu. Lagipula, aku ini tidak sepertimu," Wonwoo membuka botol minuman isotonic tersebut sembari meneguknya beberapa kali, "Kau itu begitu 'cerah', aku capek mendengar mereka bergosip tentang bagaimana Jeon Wonwoo yang suram bisa punya pacar sepertimu. Meskipun kau ini bodoh dan menyebalkan, setidaknya kau itu masih lebih terkenal daripada aku."
Wonwoo tidak bohong karena sejak pengakuan Mingyu tadi siang, berita tentang hubungan mereka langsung menyebar lebih cepat dari penyakit cacar. Sudah beberapa kali ini dia dengar teman-temannya sendiri menggosipkan hubungannya.
"Berhenti memikirkan hal yang tidak penting dong," Mingyu berjinjit menghindari beberapa kelinci yang kini malah merambat ke arah kakinya menggesekkan bulu-bulu mereka pada ujung sepatu Mingyu membuat namja itu tak tahan untuk menendang pantat hewan tersebut.
"Kau bisa enak bilang jangan memikirkannya, tapi memangnya kau ini aku? capek tahu digosipkan begitu, kesannya aku yang salah bisa pacaran dengamu," Wonwoo menyerocos sebal membuat Mingyu terkekeh, Wonwoo memang suka berlebihan kalau menanggapi sesuatu.
"Iya iya aku mengerti jangan jadi marah padaku dong, kan sudah kubawakan minum hmm," Mingyu berdalih mengambil hati Wonwoo dan menampilkan senyumannya, meskipun begitu Wonwoo masih menampakkan wajah kesalnya.
"Aku sedang kesal denganmu, jangan pasang wajah menjijikkan begitu deh!" Wonwoo kesal, dia mengganti baskom kosong itu dengan baskom yang sudah penuh dengan beberapa selada dan wortel, membuat kelinci-kelinci tersebut melompat-lompat dan Mingyu sukses menyumpah-nyumpah dalam hati.
"Ayolah, nanti pulang sekolah kita mampir beli es krim, bagaimana?" Mingyu mulai merayu.
Wonwoo bergeming, masih betah dengan kepala batunya.
"Makan malam dirumahku deh, aku akan buat pasta dan katsu. Kalau kau mau, kita juga bisa membuat pudding mangga, bagaimana?" Mingyu mengucapkan tawaran lain, dan langkahnya mendekat ke arah Wonwoo, hendak merangkul pinggang kurus kekasihnya namun batal saat Wonwoo menoleh dengan pandangan mata tajam, ditangannya ada seekor kelinci besar yang siap dilemparkan jika tangan Mingyu menjamah tubuhnya.
"Oke oke, turunkan benda berbulu itu Jeon Wonwoo," Mingyu mulai panik. Gawat kalau sampai hewan bertelinga panjang itu terlempar kearahnya.
Mingyu menarik nafas lega saat Wonwoo menurut, diturunkannya kelinci berbulu putih dan hitam itu dan melangkahkan kakinya keluar kandang, membuat gesture agar Mingyu diam dan tidak mengikutinya. Alhasil namja jangkung itu bengong dan memasang wajah memelas pada Wonwoo yang masih bersikap ketus.
Namun wajah minta dikasihani Mingyu berubah horror saat Wonwoo menutup pintu kandang, menguncinya dari luar.
"He..hei!" Mingyu berteriak.
"Aku kesal sekali denganmu tahu! kalau moodku sudah membaik nanti aku buka," Wonwoo mengacungkan kunci yang ada di tangan kanannya sebelum tersenyum menyebalkan, membuat wajah Mingyu cengo untuk beberapa detik.
"Tapi kapan? Ayolah Wonwoo, aku akan lakukan apapun tapi jangan disini, kan aku sudah bilang padamu, aku ta- astaga!"
Ucapan Mingyu terpotong saat melihat kelinci melompat-lompat di sekitar kakinya.
"Aku takut kelinci!"
Wonwoo mengangguk paham, "Makanya aku mengurungmu disana, siapa tahu bisa jadi lebih akrab."
Mingyu tak tahu kalau Wonwoo punya sedikit jiwa psiko di dalam tubuhnya.
"Jeon Wonwoo!"
Wonwoo kini tertawa, puas dan sangat puas saat melihat wajah ketakutan Mingyu, bisa dibilang moodnya sudah membaik sekarang, tapi mengerjai Mingyu itu kesempatan langka. Karena biasanya Wonwoolah yang akan dikerjai.
"Hmm?"
"Keluarkan aku baik-baik selagi aku masih sabar oke? Kau mau lihat pintu besi ini rusak?" Mingyu menaikkan alis.
Dan Wonwoo menjawab tangkas, "Aku akan melaporkanmu pada Choi songsaengnim kalau begitu!"
Sial!
"Ya ampun, kau ini pacarku atau bukan sih?" Mingyu mengeluh kesal.
"Aku mau beli minum dulu, kalau kembali, aku akan bukakan pintunya," Wonwoo melambaikan tangan dan bersiap menuju kantin yang tak terlalu jauh dari sana.
"Kalau kau kembali? YA! JANGAN NGAWUR!" Mingyu berteriak dengan suara baritonennya yang keras.
"Betah-betah disana ya," Wonwoo kabur, setengah berlari sambil tertawa-tawa meninggalkan Mingyu yang semacam tahanan dengan 24 ekor kelinci yang seolah menguliti tubuhnya. Kalau itu bukan Wonwoo, sudah ditendangnya pintu berwarna hijau itu dan melontarkan sumpah serapah.
Gawat, Mingyu bisa mati berdiri kalau tidak segera keluar.
"YA! JEON WONWOO!"
.
.
END
.
.
Mingyu itu pandai memasak, tapi Wonwoo hanya bisa membuat makanan jadi seperti arang
Mingyu itu tegap dan berisi, tapi Wonwoo kurus layaknya lidi
Mingyu itu sabar sekali kalau menghadapi Wonwoo, tapi Wonwoo itu tukang ngomel
Mingyu itu bisa olahraga, tapi Wonwoo itu malah tak suka berkeringat
Mingyu itu tahan dengan segala kondisi cuaca, tapi Wonwoo malah gampang sakit
Mingyu itu cheesy, tapi Wonwoo kakunya kadang melebihi triplek
Mingyu itu good kisser, tapi Wonwoo yang selalu kalah kalau mereka berciuman
Mingyu itu mencintai Wonwoo, tapi Wonwoo…
Tentu saja juga mencintainya.
.
.
.
UDAH BENERAN TAMAT
.
MAAFKAN INI APDETNYA NGARET /sembah sujud/ karena tugas gw seminggu ini numpuk cem gunungan. MAAFKAN DAKU KARENA HARUS BENERAN TAMAT DI CHAPTER INI HUEHEHEHEH. Tapi memang kalau dibuat panjang panjang gw kaga jago bikin konflik, dan takutnya gw bakal jarang apdet dan ceritanya jadi kaga seru lagi. OIYA TANGGUNG JAWAB BUAT YANG MINTA MEREKA NAENA KAN JADI NAENA BENERAN AH /pundung/ gw nggak bisa buat adegan gituan meskipun gw dah cukup umur sih wkwk. Terima kasih bagi yang setia memfollow, favorite dan review, tolong tuliskan komentar sodara sekalian di kolom review ya, gw seneng banget tiap baca review kalian ~
Sampai jumpa di ff lainnya, sekali lagi terima kasih
Dadaaghh!
Salam Super~
Raeyoo.
