Moving On Goes Foward

Berdasarkan kisah nyata.

Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto. Alur cerita ini milik pengalaman saya sendiri.


Sudah dua minggu telah berlalu, dan Hinata akhirnya merasa ia bisa kembali melanjutkan hidupnya dengan tenang. Luka di hatinya belum sembuh, air mata belum puas ditangisi, namun hari ini, ada harapan baru: ia merasa ada tenaga untuk bangkit.

Hinata tidak bodoh. Ia tahu bahwa ia bukan satu-satunya orang yang mengalamai sakit hati yang berat, dikecewakan cinta pertama, ditinggal oleh seseorang setelah menjalani hubungan jarak jauh yang setia. Ia tidak pernah sedikitpun berpikir untuk menyelingkuhi Gaara walaupun mereka hanya ketemu tiga kali dalam empat tahun terakhir mereka bersama. Hinata tahu bahwa ia orang yang tidak mudah melupakan seseorang, akan tetapi ia sadar bahwa ini adalah saatnya ia mulai menghadapi kenyataannya, bahwa Gaara tidak akan kembali. Ia telah menjelaskan hal itu dengan tegas.

Hinata memandang keluar jendela. Ia melihat mobil dan orang berpapasan di jalan, semuanya terlihat normal, seolah mereka tidak tahu apa artinya perpisahan. Ia melihat pasangan yang berpegangan tangan, saling bercanda dan tertawa bersama.

Hinata bertanya-tanya, apa mereka pernah mengalami apa yang sedang ia rasakan saat ini?

Sambil mendesah, ia menutupi kordennya. Tidak ada gunanya merenung berhari-hari, ia harus mulai bangkit lagi.

Dengan tenang ia mulai merapikan kamarnya. Setelah mengepel lantainya, ia bergegas mengisi kardus dengan semua barang yang mengingatkannya akan Gaara. Hadiah ulang tahun, barang yang mereka beli saat kencan bersama, semua gaun yang ia kenakan untuk Gaara. Saat menyentuh foto album yang terisi kenangan saat-saat bersama, Hinata tertegun. Dengan lembut ia membuka albumnya dan melihat setiap foto dengan saksama. Kenangan manis pun mengisi pikirannya, dan ia kembali di Suna, di tempat ia mengunjungi Gaara dua kali. Tawa mereka terngiang di telinganya diikuti oleh kata-kata kasih sayang.

"Kita tidak cocok... Ini adalah selamat tinggal. Tidak ada lagi kesempatan untukmu."

Hinata mencoba menahan tangisannya saat ia memasukkan foto albumnya ke dalam kardus dengan cepat. Ia tidak ingin melihat wajah Garaa lagi. Tidak sekalipun ia ingin mendengar suaranya yang hanya mengingatkannya akan rasa sakit yang ia berikan.

Dengan berat hati, Hinata membawa kardusnya ke lantai bawah tanah. Ia tahu melakukan ini tidak masuk akal, tapi ia sadar ia tidak bisa hidup terus.

Hari ini pekerjaan berjalan mulus, bahkan kelas di sekolah malam terasa mudah dan santai. Hinata merasa ingin menghibur dirinya, oleh karena itu ia memesan crepes dengan pisang dan coklat. Sambil memakan crepes yang panas, ia berjalan pulang. Langit sudah gelap, dan salju mulai turun, membuat semua orang di kota berjalan lebih hati-hati. Hinata terhenti di depan beberapa toko untuk menikmati hiasan dan lagu-lagu natal. Banyak orang yang sudah mulai membeli hadiah untuk teman dan keluarga, dan Hinata dengan sendu memandangi punggung para pasangan yang melewatinya.

Pasti suatu hari aku akan baik-baik saja. Suatu hari aku akan mengingat hari ini dan tidak merasa sakit lagi. Mungkin aku sudah bahagia. Mungkin... akan ada orang lain di sisiku...

Hinata dengan cepat menggelengkan kepalanya.

Aku sebaiknya tidak memikirkan hal seperti itu sekarang. Aku belum siap, aku masih sayang Gaara, aku masih merasa hanya dialah orang tepat untukku. Aku tidak ingin berpacaran dengan siapapun sampai aku melupakan Gaara sepenuhnya. Kan... kasiah pacarku kalau aku masih sayang orang lain...

Setelah sampai di apartemennya, Hinata menghidupkan lampu di kamar tamu dan menggantung jaketnya. Ia meletakkan hapenya di atas meja, sambil memanaskan air untuk teh.

Matanya kembali memandang hapenya, dan sebuah keinginan yang tidak baik, mulai merasuki pikirannya seperti racun. Hinata telah berhasil menjauhkan semua barang yang mengingatkan akan Gaara, menghapus nomer hapenya, bahkan memblok lelaki itu di semua jaringan sosial yang ia punya. Hanya ada satu hal yang ia belum bisa kuasai, dan hal itu adalah keinginannya untuk ngecek profil Gaara.

Hinata mengingatkan dirinya bahwa melihat profil Gaara adalah hal paling sia-sia dan merusak prosesnya untuk maju. Namun apa daya? Ia tidak bisa menghentikan rasa ingin tahunya. Dengan cepat ia menyambar ponselnya dan membuka facebook.

Facebook tidak ada yang baru. Foto profil Gaara yang dulunya adalah fotonya bersama Hinata di kencan terakhir mereka di Disneyland, telah diganti dengan tokoh favoritnya dari game kesukaannya. Bahkan latar belakangnya adalah logo dari game itu. Satusnya sudah diganti ke single beberapa hari yang lalu.

Rasa sakit karena diingatkan akan keputusan Gaara, membuat Hinata merasa ia kembali ke awal. Inilah akibat dari perbuatannya karena tidak bisa menghentikan rasa ingin tahu. Dengan cepat ia membuka twitter Gaara, mengetahui ia mungkin akan kembali menangis malam ini.

Ada twitter baru.

Hari ini aku memasuki toko pakaian cewek bersama pacarku. Disana aku dipandangi ibu-ibu yang mengira tatoo di dahiku sangat aneh. Terkadang orang tidak bisa sadar bahwa mereka melotot terlalu lama, lol.

Ponsel Hinata terjatuh ke lantai.

'Hari ini aku memasuki toko pakaian cewek bersama pacarku.'

Hinata menunggu air matanya tumpah.

'...pacarku.'

Hinata terdiam, menunggu dirinya terjatuh dan menangis meraung-raung.

Belum dua minggu putus ia sudah punya pacar baru...

Suasana di kamarnya menjadi hening. Terlalu hening bahkan.

Aku, aku disini, menangis tiap hari, merasa sakit hati dan luar biasa sedih. Tidak tahu sampai kapan aku seperti ini, dan dia sudah punya pacar? Sudah kencan lagi?

Karena tangisannya tak kunjung datang, Hinata merasa panik. Ia harus melakukan sesuatu. Tanpa berpikir panjang, ia mengambil jaketnya, dan meninggalkan ponsel dan dompet di atas meja. Dengan cepat ia berjalan keluar setelah mengunci apartemennya. Ia memasukkan kedua tangannya ke saku celana, dan mulai berjalan di atas salju yang menutupi kota. Kotanya sepi dan tenang, hampir tidak ada orang yang terlihat berjalan selain Hinata.

Ini tidak adil! Kenapa aku harus merasakan dunia ini seolah mau berakhir dan Gaara malah bersenang-senang bersama cewek lain? Lagian apa dia tidak merasa sedih sedikitpun? Apa dia tidak menangisi perpisahan kita sedetikpun?

Hinata merasakan kesedihannya mulai tertukar dengan emosi lain.

Empat tahun, kamisama! Empat tahun aku setia kepadanya. Empat tahun aku mencurahkan perhatianku sebanyak mungkin. Memang kami terpisah jarak jauh, tapi itu tidak berarti aku berusaha sebisa mungkin. Kami telah putus dan sekarang ia bisa bertindak seolah-olah aku tidak nyata.

Langkah Hinata tiba-tiba terhenti.

Mungkin... selama ini hanya akulah yang serius...

Hinata mengangkat wajahnya, pandangannya melewati salju yang lebat, ke pepohonan taman kota yang gelap. Ia tidak sadar bahwa ia telah berjalan cukup jauh. Suara mobil-mobil di jalan terdengar jauh sekali. Ia merasa berada sendirian di dunia ini, namun untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Hinata merasa ini adalah hal yang benar.

Jika memang seperti itu... aku senang, aku senang bahwa kamu telah pergi. Aku mungkin tidak sempurna, aku mungkin bukan orang yang tepat untukmu, dan aku sadar kami terlalu beda dalam banyak hal, begitu pula dalam mengutarakan pendapat. Jika kamu tidak bisa menerimaku apa adanya, kamu tidak pantas mendapatkanku.

Hinata mengangkat wajahnya lebih tinggi untuk memandang bintang-bintang di langit.

Aku, benar-benar mencintaimu. Oleh karena itu aku tidak akan menodai cinta ini dengan kebencian dan rasa sesal. Tidak, aku akan mengumpulkan semua perasaanku, dan mencurahkannya ke diriku sendiri. Karena aku telah membiarkanmu menyakitiku, menginginkanku untuk berubah, untuk mengikuti jalan yang kamu putuskan untukku. Kesalahanku yang terbesar adalah, memberikanmu kekuasaan atas hati dan jalan hidupku. Aku adalah aku, dan tidak kamu atau lelaki yang lain, akan mengubah hal itu.

Hinata mencakup kedua tangannya, dan menutuk kedua matanya. Dalam hati ia membisikkan doa yang tulus, untuk pertama kalinya untuk dirinya sendiri.

Gaara, kau adalah cinta pertamaku. Aku tidak menyesal telah bertemu denganmu. Walaupun cinta ini harus berakhir dengan rasa sakit hati dan air mata, aku akan menerimanya. Aku telah belajar banyak hal, dan pengalaman-pengalaman itu terlalu berharga untuk disesali. Kita tidak akan bertemu lagi, kau dan aku akan terpisah selamanya. Aku akan mengambil seluruh waktu yang dianugrahkan untukku, agar aku belajar untuk menjalani hidupku dengan mandiri. Aku berjanji untuk tidak berpacaran dengan siapapun sampai aku sembuh dari patah hati ini. Aku akan bangkit dan maju. Dan setelah itu... suatu hari... pasti...

Hinata membuka kedua matanya. Salju kembali turun, dan walaupun tangannya terasa terbakar oleh suhu dingin di sekitarnya, Hinata merasa tenang. Akhirnya ia merasa ada sedikit harapan untuknya. Harapan bahwa suatu hari ia akan bahagia, dengan orang baru di sisinya. Orang selanjutnya, ia janji, akan jadi orang yang akan sayang dan menerima dirinya apa adanya.

Hinata berbalik dan menuju ke apartemennya. Besok ia ingin potong rambutnya. Ia pernah dengar kalau hal itu bisa menyembuhkan setengah rasa patah hati yang diakibatkan oleh cowok.


Halo semuanya, Angel disini. Wah sudah dua tahun saya tidak update. Sayangnya keadaan saya tambah berat, dan hal itu benar-benar membuat saya kehilangan semangat saya untuk menulis. Bukan saja saya kehilangan pekerjaan saya beberapa hari yang lalu, bulan maret tahun ini saya kehilangan kakek saya yang amat saya sayangi, yang selama ini saya anggap ayah saya sendiri. Setelah kematian kakek, nenek saya pindah ke tempat jauh dan saya kehilangan tempat yang bisa saya panggil rumah. Saya sekarang hidup sendirian, di sebuah di kota di Jerman.

Untungnya saya telah memutuskan untuk terus berusaha ke depan, saya merasakan keinginan untuk menulis lagi. Saya setidaknya ingin selesaikan semua fanfiction disini, terutama CIHE dan Jar or Memories. Silahkan RnR bagi yang berkenan.