"Kau pilih!" Wanita itu menjejerkan kertas - kertas yang sedari tadi ia genggam di atas meja yang memisahkan keduanya. "Mana menurutmu yang paling cantik?"
Luhan memperhatikan deretan kertas tersebut yang berisikan gadis - gadis dengan wajah mereka yang begitu sempurna. Namun satu hal yang menjadi pertanyaannya, untuk apa Nyonya Oh melakukan ini semua.
"Foto ini, untuk apa saya memilih di anatara mereka?"
"Mereka adalah anak gadis dari teman - temanku dan rekan kerja suamiku. Dan aku ingin salah satu dari mereka menikah dengan Sehun. Pilihlah yang mana menurutmu paling cantik."
Luhan mampu merasakan dengan jelas udara di sekitarnya kian menipis hingga ia dapat merasakan sesak yang teramat sangat pada paru - parunya. Hatinya bergetar perih hingga tanpa sadar pandangannya menjadi buram.
"Wae? Kau berpikir aku akan setuju kau menikah dengan Sehun?" Kedua belah bibir tipisnya bergetar ingin mengatakan sesuatu. Namun ia pun sadar, ia tak memiliki sebaris kalimat apapun yang pantas ia gunakan untuk menjawab pertanyaan wanita paruh baya di hadapannya. Alhasil, ia hanya mampu menundukkan kepalanya, menghindari tatapan wanita itu yang terasa begitu merendahkannya.
"Sehun adalah anak laki - laki satu - satunya di keluarga ini. Ia akan menjadi pewaris tunggal Oh Cooperation dan ia pun memerlukan seorang anak untuk meneruskan usaha keluarga ini. Kau laki - laki dan kau pikir kau bisa memenuhi itu semua, huh?"
Luhan semakin menundukkan wajahnya, berusaha tetap mengunci pandangnnya pada bulu - bulu karpet yang begitu lembut membalut kaki telanjangnya. Bukan hanya untuk menyembunyikan air matanya, namun ia tak akan mampu melihat tatapan penuh kebencian, penghinaan dan rasa jijik yang begitu menusuknya. Sepasang mata tajam itu tau benar bagaimana menghinanya bagaikan ia seekor anjing liar jalanan.
"Ada apa lagi? Pilihlah! Aku bingung memilih yang mana. Mereka begitu sempurna."
Luhan mengalihkan pandangannya pada deretan foto tersebut. Namun sialnya, genangan air matanya membuat pandangannya menjadi buram, di tambah lagi dengan dadanya yang terasa begitu sesak. Dan Luhan tak perduli lagi, ia hanya memilih secara acak.
"Oh! Krystal Jung. Ku akui pilihanmu sangat bagus. Dia cantik dari keluarga terpandangan dengan keluarga yang lengkap. Dia pintar dal-" Luhan berusaha mengalihkan fokusnya pada apapun hingga ia tak mendengarkan apapun yang Nyonya Oh ucapkan.
"Pergilah! Aku muak meliahtmu terus berdiri di hadapanku." Luhan membungkukkan tubuhnya dan segera berlalu pergi menuju kamarnya bersama Sehun di lantai atas, meninggalkan Nyonya Oh yang tengah menyeringai menang atas apa yang ia lakukan pada pemuda malang itu.
.
.
.
Oh Zhiyu Lu
Present
.
.
.
Only You Who I Have
.
.
.
For
HunHan Indonesia
Big Event Part II
.
.
.
Author : Oh Zhiyu Lu
Main Cast : Sehun, Luhan
Main Pair : Hunhan
Light : Chaptered
Rated : Mature
Genre : Drama, Hurt & Comfort
Disclaimer : Certa, alur dan karakter tokoh asli milik author. Tokoh milik agensi dan jika terdapat kesamaan, bukanlah faktor kesengajaan.
.
.
.
Chapter 2
.
.
.
Sebenarnya, hingga saat ini pun Luhan tak begitu mengerti bagaimana hukum takdir berkerja. Banyak sastrawan yang mengibaratkan nasib seseorang bagaikan sebuah roda yang terus berputar dalam buku - buku karangan mereka. Ada kalanya di atas dan ada kalanya di bawah. Jika seperti itu, bukankah seharusnya kebahagiaan itu menghampiri hidupnya?
Sejak kecil, ia tak pernah benar - benar mendapatkan dafinisi kebahagiaan secara utuh. Tidak, Luhan bukanlah manusia dengan keinginan yang muluk. Kebahagiaan menurutnya hanya cukup dengan hidup tenang dan sederhana bersama orang - orang yang ia sayangi. Dan yang terjadi, ia terus kehilangan orang yang ia sayangi.
Ketika berusia empat tahun, Luhan kehilangan ayahnya yang pergi dengan setumpuk utang yang menggunung. Tak lama setelah itu, ia kehilangan adik kecilnya yang bahkan rupa wajahnya sajapun ia tak tahu bagaimana. Yang terakhir dan yang menjadi takdir paling memilukan baginya adalah ketika sang ibu juga ikut menyusul mereka pergi ke sisi Tuhan.
Ya... Luhan benar - benar berharap itu adalah yang terakhir. Karena, jujur Luhan tak tau bagaimana dengan nasibnya ketika Sehun juga pergi dari hidupnya. Ia telah bergantung begitu erat pada Sehun. Pria itu bagaikan oksigennya. Dan tentu saja seseorang tak akan bisa bertahan hidup tanpa oksigennya.
Luhan tak akan perduli jika seluruh dunia membencinya atau bahkan tak menginginkan keberadaannya. Ia hanya butuh Sehun dan seluruh sifat pria itu yang selalu membuat Luhan bertahan.
Namun, tak ada yang tau bagaimana perasaan manusia ke depannya. Terkadang seseorang bisa sangat mencintaimu dan terkadang kau bisa menjadi sesuatu yang paling ia benci. Dan itulah yang ia takuti. Seluruh keluarga Sehun sangat membencinya. Mereka selalu berusaha melukai Luhan secara fisik maupun batinnya, berharap Luhan menjauh dari hidup Sehun.
Mereka memang tak melakukan apapun yang dapat membuat Sehun membencinya. Mereka hanya mengatakannya secara tersirat, bahwa mereka tak ingin mengotori tangan suci mereka untuk mendepak Luhan pergi dari hidup Sehun, mereka ingin Luhan sadar dan pergi dengan sendirinya.
Dan ya... beberapa kali Luhan pernah jatuh dalam titik batasnya dan mengatakan secara tersirat bahwa ia tak pantas untuk pria sesempurna Sehun dan ini bukanlah posisi yang pantas untuk ia tempati. Namun Sehun selalu punya cara sehingga membuat Luhan malah jatuh semakin dalam pada cintanya.
Ia takut mereka mulai muak melihat Luhan yang tak kunjung pergi. Dan ia takut, mereka melakukan sesuatu yang bisa membuat Sehun membenci dirinya. Ia akan lebih baik pergi secara diam - diam daripada melihat Sehun menatap dirinya dengan pandangan yang sama yang selalu mereka berikan padanya. Ia tak akan pernah sanggup. Namun bagaimana mungkin ia bisa pergi meninggalkan Sehun yang setiap hari selalu membuatnya semakin bergantung pada pria itu. Luhan tak akan pernah rela melakukannya.
"Kau memikirkan ibumu lagi?" Luhan tersentak ketika merasakan sebuah jemari kokoh nan hangat yang berusaha menghapus lelehan air matanya dari kedua sisi pipi tirusnya.
Dengan cepat Luhan menggelengkan kepalanya dan menggantikan pekerjaan Sehun yang menghapus air matanya. Ketika pandangan Luhan terjatuh pada sosok Sehun yang tengah tersenyum dengan lembut padanya, tanpa Luhan sadari ia juga ikut tersenyum membalas Sehun.
Sehun menghela napasnya sekali dan memeluk tubuh Luhan dari belakang dengan erat. Memberikan suhu hangat dari tubuhnya pada tubuh Luhan yang mulai mendingin karena terlalu lama berdiri di balkon kamar mereka.
"Ibumu sudah tenang di sana. Tak ada yang perlu ia khawatirkan karena anak kesayangannya ini aman berada di tanganku. Jadi, jangan mengusik kebahagiaan ibumu di sana dengan tangisanmu ini, hum?"
Luhan terkekah geli ketika Sehun yang tengah menyandarkan dagu runcingnya pada bahu sempitnya, berbisik dengan nada usil di depan telinganya. Dalam hati ia meminta maaf pada sang ibu yang telah damai di kehidupan barunya. Ia selalu menggunakan alibi ini ketika ia kedapatan oleh Sehun tengah menangis. Dan begitulah seterusnya, ketika Luhan tengah menangis atau tanpa sadar ia meneteskan air matanya tanpa sebab, ia selalu mengatakan ia tengah merindukan ibunya.
Ingat, Luhan pria yang terlalu baik hingga ia pun tak akan mau mengatakan apapun yang dapat merusak hubungan Sehun dengan keluarganya. Dan sebagai imbalannya, ia yang harus tersakiti dengan sikap mereka.
"Apakah salah jika seorang anak merindukan ibunya? Kau bisa mengatakan itu karena ibumu masih berada di sampingmu Tuan Oh. Kau akan tau rasanya merindukan ibumu ketika ia tak ada dalam hidupmu."
"Lalu ibuku kau anggap apa Oh Luhan?" Luhan membuang padangannya hingga Sehun semakin terkekeh dengan reaksi Luhan. Yang Sehun kira Luhan memalingkan wajahnya karena tersipu, padahal Luhan tak ingin Sehun melihat tatapannya yang berubah sendu. Ucapan Sehun begitu tinggi untuk ia raih. Ia tau Sehun begitu mencintainya, namun entah mengapa semuanya terasa mustahil untuk meletakkan marga pria itu di depan namanya.
"Aigoo... kau dan sikap malu - malumu itu membuatku semakin mencintaimu." Sehun semakin mengeratkan pelukkannya sambil menggerakkan tubuh Luhan dalam pelukkannya dengan brutal. Membuat Luhan melupakan kesedihannya dan tergantikan dengan sebuah tawa yang begitu lepas.
"Ngomong - ngomong, kau belum menjawab pertanyaanku tadi?"
Luhan tersenyum kecil sambil menyandarkan kepalanya pada bahu tegap sehun, "Tentu saja aku menganggap ibumu sebagai ibuku. Tapi aku tak akan pernah bisa melupakan kenanganku bersama ibuku Sehun-ah."
Luhan memejamkan matanya sembari mengarahkan kepalanya ke arah kiri, memberi Sehun akses lebih ketika pria itu tengah membubuhi bahu bagian kanannya dengan kecupan - kecupan lembut.
"Tak masalah jika kau merindukan ibumu. Hanya saja, jangan teteskan airmatamu itu. Melankolis memang, tapi hatiku sakit melihatmu menangis dengan tatapan terlukamu itu."
Luhan terus memejamkan matanya menikmati kecupan Sehun yang terus beranjak naik menuju leher jenjangnya. Dan juga, sekalian menahan air matanya yang terasa ingin keluar.
"Eumh… Sehun!" Luhan berusaha melepaskan pelukkan Sehun pada tubuhnya ketika tangan kanan pria pucat itu mulai mengelus perut ratanya dengan gerakkan – gerakkan sensual. Luhan bingung, apakah ia harus bersyukur atau merasa kesal. Di sisi lain, sentuhan Sehun padanya terasa begitu memabukkan hingga dirinya pun melupakan tentang kesedihannya. Namun di sisi lain ia juga merasa kesal. Luhan berani bersumpah, mereka baru saja bercinta habis – habisan semalam. Apakah libido pria itu memang terlalu besar hingga ia tak mampu menahannya?
"Bisakah kita melakukannya malam ini? Aku merindukanmu." Luhan benar – benar kehilangan akal sehatnya ketika tangan Sehun yang semula berada di perutnya, kini telah beralih memelintir salah satu pucuk dadanya.
"Sehunhh~~" Luhan ingin menolak. Tapi memang seolah terprogram, tubuh Luhan seakan – akan selalu menyambut sentuhan Sehun, tak perduli seberapa keras pun akal sehatnya menolak. Bahkan tanpa ia sadari, ia membusungkan dadanya meminta lebih pada tangan kasar Sehun yang tengah memelintir pucuk dadanya dengan lembut.
Ketika sebuah bitmark baru saja Sehun ciptakan pada sisi bahu kanan Luhan, pria itu mampu kembali meraih kesadarannya. Dengan cepat ia menahan tangan Sehun dan membawanya menjauh dari tubuhnya.
Luhan menggeleng sembari tertawa kecil mendengar decakkan kesal dari bibir Sehun yang berada tepat di belakang telinganya. "Bukankah besok kau ada perjalanan bisnis ke Jepang? Apa kau lupa?"
"Aku ingat Luhan. Tapi, ayolah! Pesawatku akan berangkat siang. Dan satu ronde saja malam ini tak akan mengganggu perjalanan bisnisku besok. Kau tak prihatin dengan-" Kedua belah pipinya bersemu merah merasakan sesuatu yang keras ketika Sehun menggesekkan penisnya pada belahan pantat Luhan, "-penisku? Aku akan pergi ke Jepang selama empat hari. Setidaknya malam ini akan menjadi obat rinduku selama empat hari itu. Bisakah?"
Luhan yang tak kunjung menjawab membuat Sehun menjadi penasaran dan mengambil tindakkan dengan membalikkan tubuh Luhan menghadap dirinya. Dan apa yang ia lihat tak mampu membuatnya menahan senyuman gelinya. Luhan yang memerah tersipu malu adalah salah satu sisi dari Luhan yang begitu ia cintai.
"Bisakah kita me-"
Sehun tak mampu menahan keterkejutannya ketika secara tiba – tiba Luhan menarik tengkuknya guna mempersatukan bibir keduanya. Namun tak berselang lama, Sehun tersenyum diantara lumatan bibir Luhan pada bibirnya dan segera membalasnya dengan tak kalah ganas.
"Apakah aku pernah bisa menolak sentuhanmu?" Luhan melepaskan tautan keduanya sambil tersenyum menggoda pada sang dominan. "Kau pasti tau jawabanku Oh Sehun."
.
.
.
Masih dengan bibir keduanya yang saling berpagut panas, Sehun menjatuhkan tubuh keduanya di atas ranjang, menimpa Luhan yang masih terus berusaha mengimbangi lumatan Sehun dengan kedua tangannya yang terus menyalurkan kenikmatan duniawi pada helaian rambut hitam Sehun.
Yang bertubuh lebih kecil melenguh kecewa ketika sang dominan melepas tautan keduanya. Tanpa ia sangka, Sehun menarik tangannya hingga ia terduduk dan dengan tergesa – gesa pria itu membuka baju Luhan dan kembali menindihnya disertai pagutan - pagutan panas keduanya.
Rasa manis yang bercampur candu dalam mulut Luhan tak membuatnya bosan barang sedikitpun. Sekalipun kedua belah bibir itu telah membengkak merah, Sehun tak berhenti jua dalam aktifitasnya. Hanya satu, dan itupun ketika Luhan mencengkram bahunya dengan kuat, memintanya untuk memberikkan ia waktu untuk memenuhi kebutuhannya akan oksigen. Sehun melepaskan pagutannya dan beralih menjilati sepanjang jalur saliva keduanya yang mengalir dari dagu hingga tulang selangka milik sang submissive.
Luhan hanya mampu menghirup oksigennya dengan bebas dalam beberapa detik, dan selanjutnya diisi dengan desahan dan lenguhan nikmat sebab Sehun yang terus membuat beberapa ruam – ruam merah pada leher jenjangnya. Memberikan akses lebih pada sang dominan dengan ia memiringkan kepalanya.
Ketika Luhan menundukkan kepalanya, Ia mendapati Sehun tengah mengecupi pucuk dadanya dengan lembut, menghasilkan sengatan – sengatan yang terus bergetar hingga ke bagian selatannya. Luhan sekilas bertanya – tanya sejak kapan kancing piyamanya terlah terbuka. Namun apakah ia sempat memikirkan hal sepele seperti itu ketika pucuk dada sebelah kanannya tengah di hisap diselingi giigitan kecil dan yang sebelah kiri tengah dicubiti Sehun dengan jari kasarnya yang kokoh?
"Eumhh~~ Sehuuunh~~" Kedua jemarinya meremat surai hitam Sehun dan terus menekan kepalanya ketika sang pemilik menggaruk nipple Luhan dengan gigi – giginya yang tajam.
Luhan tak bermaksud melakukannya, namun kenikmatan yang Sehun berikan melalui sentuhan –sentuhannya membuat Luhan terus menggeliatkan tubuhnya hingga tanpa ia sadari lututnya yang menekuk, menggesek penis Sehun yang masih tertutup celana piyamanya.
Sehun menggeram bagaikan binatang buas setelah ia melepaskan hisapannya pada pucuk dada Luhan. Tubuhnya ia bawa naik hingga ia bisa melihat wajah memerah Luhan yang telah tertutupi kabut nafsu. Rautnya yang semula tertutupi nafsu, berubah sendu ketika melihat mata rusa Luhan yang menatapnya dengan sangat dalam. Membuat jantungnya bergetar lirih merasakan kebahagiaan yang meletup letup dalam dirinya.
"Aku mencintaimu Luhan. Jangan pernah pergi meninggalkanku. Apapun yang terjadi ke depannya, kumohon tetaplah bersamaku."
Luhan tersenyum haru pada sang kekasih. Kedua tangannya ia kalungkan pada leher Sehun dan menatap tepat pada mata tajamnya, "Aku tak akan pernah pergi dari hidupmu sekalipun kau yang menyuruhku untuk pergi. Aku akan terus menempel padamu sekalipun kau menyebutku sebagai parasit dalam hidupmu. Aku mencintaimu Oh Sehun."
Sehun kembali mempertemukan bibir keduanya dengan telak. Di sisi lain, Luhan kembali tersenyum sembari membalas lumatan Sehun pada bibirnya.
.
.
.
Sehun menurunkan tubuhnnya sembari terus memberikan kecupan – kecupan lembut sepanjang perut rata Luhan dan berhenti pada pusarnya. Lidah panjang hangatnya bergerak melingkar menjilati pusar Luhan. Tak sampai di sana, ia menurunkan jilatannya sepanjang garis perut Luhan hingga pada pangkal kemaluannya dan mendapati Luhan tengah membusurkan tubuhnya sebagai reaksi atas tubuhnya.
"Anghhh... Sehuniehh~~..." Luhan tak mampu menahan lenguhannya ketika Sehun menggenggam penisnya dengan erat. Jari telunjuknya menggesek lubang kejantanan Luhan dengan lembut yang membuat Luhan menaikkan pinggulnya, berharap Sehun memberikan kenimatan lebih.
"Ah!" Luhan benar – benar terkejut hingga matanya melebar ketika jari tengah Sehun tenggelam total pada lubang analnya. Luhan benar – benar tak tahan. Dari sekian banyak kegiatan seksnya bersama Sehun, bagian inilah yang paling ia sukai. Melihat kepala Sehun berada di antara selangkangannya, rambut hitam lembabnya yang menjuntai dan penisnya yang menegang sempurnya keluar masuk dari dalam mulut Sehun dengan gerakkan yang cukup cepat. Terlebih lagi, Sehun kembali memasukkan jari tengah dan jari telunjukkan ke dalam lubang Luhan sembari menggaruk dinding rektumnya dengan begitu sensual. Yang dapat Luhan lakukan hanya melenguh dan terus mendesah meluapkan kenikmatan yang mendidih dalam tubuhnya sambari terus menenggelamakan kepalanya pada bantal.
Luhan yang tak mampu meraih Sehun, hanya dapat mencengkram seprai dengan erat sebagai pelampiasannnya. Jari – jari kakinya mengkriting dengan perutnya yang terasa semakin mengejang saat Sehun beralih mengulum kedua bola kembarnya dan mengurut penis Luhan dengan gerakkan yang semakin kencang.
"Ahhhh..." Adalah Luhan yang melenguh nikmat penisnya mengalami ejakulasi dengan spermanya yang mengotori perutnya.
Sehun mengolesi seluruh permukaan penisnya dengan sperma Luhan hingga licin mengkilat. Mungkin ada baiknya ia membuat penisnya menegang sempurna sebelum memasukki lubang anal Luhan selagi Luhan menstabilkan deru napasnya.
"Tidakkah kau ingin segera memasukki aku, Tuan Oh?" Sehun menyeringai dan memberikkan satu kecupan singkat pada Luhan. Tangannya ia ulurkan untuk menyeka keringat di kening Luhan dan menyimpan surai karamelnya di balik telinga si manis.
"Apa lubangmu benar – benar menginginkan penisku?"
"Yeah,,, lubangku benar – benar sudah gatal ingin digaruk urat – urat penismu Oh Sehun. Jadi,,, apa lagi ya-emph!" Sehun benar – benar merasa bibir kekasihnya ini semakin kurang ajar dalam berkata – kata. Bahkan hanya dalam satu kalimat saja mampu membuat libidonya naik hingga ke ubun – ubun dan berujung pada penisnya yang semakin memanjang.
Kedua belah bibirnya terlihat seolah memakan bibir Luhan bulat – bulat. Menyesap seluruh candu dari bibir tersebut untuknya. Lidah panjangnya menorobos masuk ketika Luhan membuka giginya dan mengajak sang penghuni saling bergulat.
Di bawah sana, Sehun melingkarkan kedua kaki Luhan pada pinggangnya. Penisnya ia gesek – gesekkan pada cincin mengkerut Luhan, menggoda sang empunya hingga akhirnya Luhan mengambil tindakkan dengan mencubit pinggang Sehun dan Sehun terkekeh kecil diantara pagutann keduanya.
Jleb!
"EMPHH!" Sehun memejamkan matanya dengan erat merasakan sakitnya tancapan kuku Luhan pada kedua sisi bahunya. Tapi ia lebih memilih untuk menahannya, sebab ia pun tau, kekasihnya sedang menahan sakit yang lebih daripada dirinya.
Sehun kembali melumat bibir Luhan dan meraih penisnya untuk ia beri pijatan lembut guna mengalihkan Luhan dari rasa sakitnya pada lubang analnya.
Setelah beberapa detik berlalu dihabiskan dengan pagutan keduanya, Sehun merasakan Luhan menggerakkan pinggulnya meminta Sehun menggerakkan penisnya.
Bahkan dengan hal kecil saja, Luhan mampu membuat Sehun tertawa bahagia. Benarlah jika Sehun mengklaim bahwa Luhan adalah sumber kebahagiaannya.
Sehun menarik penisnya hingga sebatas kepalanya dan langsung menancapkannya dengan kuat searah dengan prostat Luhan yang telah ia kenali dengan baik di mana posisinya berada.
"Anghhhhh~~~"
Dan benar saja, Sehun mendorong dada bidang Sehun dengan kuat hingga ia bisa melepaskan lenguhan nikmatnya. Tumbukkan Sehun pada prostatnya benar – benar kuat, telak dan tepat hingga seluruh tubuhnya merinding nikmat.
Selanjutnya Sehun kembali menggerakkan penisnya dengan lebih cepat dan tegas tanpa membiarkan prostat Luhan bebas dari tumbukkan ujung penisnya.
Luhan mendongakkan kepalanya menenggelamkan kepalanya pada bantal, membiarkan Sehun menjelajahi seluruh leher jenjang Luhan yang dihiasi keringat hingga terlihat mengkilat.
Kenikmatan yang Sehun berikan tersebar di seluruh tubuhnya. Telinganya yang dikulum Sehun, pucuk dadanya yang dicubiti, penisnya yang bergesekkan dengan perut Sehun dan tentu saja dinding serta prostatnya yang dimanja penis panjang, bersar dan berurat milik sang kekasih, membuat Luhan benar benar tak tahan.
"Maaf sayang. Bukankah akan lebih nikmat jika kita sampai bersama?" Tatapan sayunya bercampur delikkan tajam ketika Sehun menutup lubang penisnya ketika ia sedang bersiap mengeluarkan hasil ejakulasinya. Membuat ereksinya semakin membengkak bahkan membiru ketika Sehun terus meningkatkan kecepatan tubukkannya pada prostat Luhan.
"Ouwhh~~ shit!" Luhan mengetatkan dinding analnya saat merasakan penisnya benar – benar penuh dengan cairan semennya. Dan hasilnya, ia malah semakin ingin keluar. Dinding analnya yang ia ketatkan, malah membuat dirinya benar – benar mampu merasakan bagaimana kuatnya urat – urat penis Sehun menggaruk dindingnya.
Dengan tempo yang semakin cepat dan lubang yang semakin sempit-
"AHHHHHHHHH~~"/"ARGGGH!"
-Sehun menembakkan spermanya pada lubang anal Luhan bertepatan dengan ibu jarinya yang membuka lubang penis Luhan. Luhan mendesah begitu kuat diiringi dengan geraman nikmat Sehun merasakan pelepasan yang terasa begitu sempurna.
Luhan yang terlalu sibuk mengais oksigen untuk paru – parunya sampai menghiraukan Sehun yang masih memompa penisnya pelan mengeluarkan sisa spremanya pada lubang Luhan.
Sehun meraih selimut di ujung ranjang dan segera merebahkan tubuhnya di samping Luhan setelah menyelimuti tubuh keduanya.
"Sehun,,, don't forget about your penis."
Sehun terkekeh kecil sambil mengeratkan pelukkannya pada tubuh Luhan, menghirup feromon Luhan yang menguar dari ceruk lehernya.
"Kalau aku mengeluarkan penisku, spermaku akan keluar."
Luhan memutar bola matanya dan mengedikkan bahunya acuh, "Terserah, aku terlalu lelah untuk melayanimu jika seandainya penismu menegang lagi."
"Tak akan. Aku tau kau sangat lelah. Istirahatlah!"
Luhan menganggukkan kepalanya patuh dan menyamankan tubuhnya pada pelukkan Sehun. Matanya terasa memberat saat Sehun mengecup surainya dengan lembut.
"Saranghae Luhan." Adalah kata terakhir yang mampu Luhan dengar dari Sehun sebelum nyawanya melayang menuju dunia mimpi.
"Nado Saranghae Oh Sehun."
.
.
.
"Suamiku sudah mengirim uang mukanya di rekeningmu, kau bisa melihatnya sendiri. Dan sisianya akan aku kirim begitu semuanya berjalan sempurna. Aku tak ingin terjadi kesalahan apapun, sekalipun hanya seujung kuku. Karena aku telah membayarmu dengan sangat mahal. Kau akan tau sendiri apa yang akan terjadi padamu jika kau melakukan kesalah kecil. Kau tau siapa akukan? Aku bisa melakukan apapun dengan hanya menjentikkan jariku. Ingat itu!"
Wanita itu menekan tombol merah pada layar ponsel pintarnya dengan ibu jarinya yang begitu lentik dan indah dihiasi cat kuku merah maroon.
"Apa kau yakin dengan yang satu ini?"
Wanita itu menyeringai dengan begitu seramnya. Mata tajamnya yang berhiaskan eyeliner tak ia alihkan pada sebua foto dengan ukuran besar yang terpajang pada dinding kamarnya.
"Aku telah merencanakan semuanya dengan rapi, bahkan sampai detil terkecilnya. Aku yakin, bahkan melihat wajahnya sajapun, Sehun tak akan sudi."
.
.
.
To Be Continue
Ga Hot? Encehnya ga panjang?
Maaf Zhi ga punya nyawa lagi bikin adegan ranjang secara eksplisit. Jadi harap maklum untuk adegan di atas. Yang itu cuma pelengkap cerita, dan demi kelancaran alur-nya saja. Mungkin ke depannya ga ada adegan 'itu' lagi. Karena untuk chapter selanjutnya akan lebih menitik fokuskan pada masalah – masalah yang akan dihadapi Luhan.
Yappp!
Kalu mau baca monggo, tak mau baca tak apa, Zhi Cuma mau minta maaf karena up date-nya lama.
"Nih bocah PHP tingkat dewa. Buat 3 cerita baru, tapi satupun belom dilanjut."
"Dihh... sok buat FF baru, yg lain belom dIlanjut."
Ayooo... ngaku pasti ada yg mikir gitu tah? Zhi minta maaf sebesar – besarnya. Laptop Zhi kebanting dan keyboardnya rusak ga bisa dipakai. Harus diperbaiki dulu dan cari alat penggantinya yang rusak itu lama.
"Kan bisa pakai Hp?"
Zhi udah cobak ngetik di HP, tapi apa daya jari Zhi yang besar – besar. Baru ngetik satu kalimat, typonya ampir di seluruh kata. Dan itu buat mood Zhi jelek banget. Setiap ngetik selalu ada typonya.
Mau baca, silahkan. Mau review, follow, fav, syukurlah. Mau siders aja, tak apa, mau baca aja udah lebih dari cukup kok.
Last!
Turut berduka cita untuk salah satu author favorit saya, DeathSugar. Saya mohon do'anya. Semoga beliau dilancarkan segala urusannya, amal ibadanya diterima Yang Maha Kuasa dan segala dosa – dosanya dihapuskan.
Rasanya nyesek, ga nyangka dia pergi begitu cepat. Serasa kehilangan teman seperjuangan. Selamat jalan Kak Leon...`
.
.
.
Soon : Let's Stop It!
